JANGAN-JANGAN POSITIVE THINKINGLAH SUMBER MASALAHNYA (2)
August 18, 2008 by admin
Filed under Rab A. Broto
18 Agustus 2008 – 10:00 (Diposting oleh: Editor)
Entah kenapa yang selalu muncul pertama kali adalah skeptisisme saat berhadapan dengan positivisme yang hampir selalu berlebihan. Sesuatu yang selalu menekan tombol kritis pikiran sehingga menganggapnya sebagai kekonyolan karena benar-benar kelewatan dan menggelikan. Misalnya sikap para peyakin harta karun peninggalan rezim Sukarno atau juga klaim pencipta ’blue energy’ beberapa saat lalu.
Klaim yang sampai saat ini terbukti masih sekadar omong kosong. Tak ada tanda kemajuan apapun bahwa berbagai fotokopian sertifikat lecek yang konon keluaran lembaga keuangan Swiss yang ditandatangani salah satu Proklamator Kemerdekaan RI ini bisa diuangkan dan memberikan kesejahteraan yang nyata bagi mereka yang mempercayainya dan telah rela mengeluarkan uang.
Sebagaimana juga tak ada bukti dan kejelasan bagaimana rincian cara mengolah air agar bisa berubah menjadi bahan bakar mirip solar. Atau juga bagaimana sebuah kotak besi yang dicor beton berisi kumparan yang bisa putar dan trafo yang terhubung lewat sejumlah kabel atau kawat bisa menghasilkan listrik. Listrik yang dayanya konon bisa menerangi kompleks berisi ratusan rumah.
Klaim yang sejauh ini menghasilkan laporan kepada polisi atas dugaan terjadinya tindak pidana penipuan. Yang menjadi korban pun bukan manusia dan institusi sembarangan: rektor dan institusi lembaga pendidikan tinggi terkemuka yang sekali lagi bisa jadi terlalu percaya pada sikap positif yang terbukti menutupi kekritisannya. Untungnya langkah koreksi tepat telah dilakukan.
Dalam dua kasus tersebut yang jelas juga sudah terjadi penyetoran uang. Yang satu katanya untuk mengurus pencairan harta karun Soekarno, dan yang lain adalah untuk membangun instalasi untuk menyuling air menjadi bahan bakar minyak. Yang satu melibatkan dana recehan tapi disetor oleh puluhan ribu orang, sedangkan satunya dana ratusan juta dan semiliar yang disetor pengusaha dan lembaga.
Polanya sejak awal memang bersemu klenik dan mistis. Biasanya yang dibawa untuk menarik perhatian calon korban adalah alat atau barang hasil akhir yang terasa ajaib bisa dipakai untuk ini-itu. Biasanya pula disertai dengan cerita pemikat mempesona yang biasanya memang untuk membuat orang terlena dan lupa menanyakan hal rinci terkait apa dan bagaimana. Soal yang yang biasanya diulur-ulur penjelasannya.
Dalam tahap ini bisa jadi kebiasaan kita sebagai orang timur yang segan mencecar agar tidak dianggap barbar dan demi menghormati tamu juga ambil peranan. Sikap sopan santun yang jelas sangat positif dan perlu dipertahankan, yang sayangnya sering disalahgunakan para peyakin klenik dan cenderung berperan ganda sebagai penipu yang manipulatif, untuk menanamkan pengaruhnya.
Tujuannya agar korban percaya yang seiring berjalannya waktu baru sadar untuk menanyakan ini-itu secara lebih rinci. Pertanyaan yang biasanya dijawab seadanya, dan sering disertai kelitan-kelitan sekenanya. Apalagi bila kita sudah telanjur menyetor sejumlah uang, baik sebagai tanda bersimpati maupun ikut berpartisipasi yang memang sudah dilandasi motif ekonomi ikut mencicip untung.
Celakanya, dalam banyak kasus, sering setoran uang itu juga tidak disertai dengan rincian klausul hak dan kewajiban yang jelas terkait rentang waktunya. Jadi memang si korban sering nyaris sama sekali tak memiliki kemampuan atau kendali untuk minta sekadar pertanggungjawaban bahwa klaim yang dikatakan benar adanya. Dan minta duitnya dikembalikan pun jadi kemustahilan.
Jadi jelas polanya adalah iming-iming menarik yang sering dibumbui kisah berbau mistik. Bukti-bukti pendukung bahwa klaim itu benar disodorkan. Peminat diminta menyetor duit dengan janji akan diberikan imbalan besar. Realisasi janji ditunda. Korban semakin tak sabar dan akhirnya melapor ke polisi. Lalu ujungnya kusut karena aset si penipu sudah menguap tanpa bekas akibat modus penyamaran yang begitu canggih.
Untuk mencegah agar tidak menjadi korban permainan sikap positif yang selalu saja memakan korban ini apa lagi kalau bukan menyuburkan sikap kritis. Bahwa sikap positif dan dalih sopan santun bukan pendekatan yang tepat dan layak dilakukan bila menghadapi tawaran menarik tapi palsu ini. Berbagai usaha pengumpulan informasi sebenarnya bukan hal yang sulit dilakukan.
Ini termasuk untuk mengetahui sejarah dan latar belakang aktor intelektual atau sang penebar janji. Pastikan dia bukan pemain lama atau anteknya yang bisa jadi hanya berganti isyu atau tunggangan organisasi. Selain itu tentu saja bagaimana menggali informasi dan menimbang kebenarannya melalui cek dan ricek yang mesti terus dilakukan agar tidak hanya menjala angin setelah menebar duit.[rab]
* Rab A. Broto adalah konsultan, trainer, dan direktur Sekolah Penulis Pembelajar. Penulis buku “Psikologi Duit” (Bornrich, 2006) ini sejak kuliah menekuni ihwal pelatihan peningkatan motivasi berprestasi. Pemerhati jurnalisme yang tengah menulis buku tanggapan kritis tentang The Secret ini dapat dihubungi di: nauram@yahoo.com.
POTENSI DAN MANFAAT SELF-PUBLISHING
August 5, 2008 by admin
Filed under Edy Zaqeus
05 Agustus 2008 – 13:29 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich
Tren penerbitan mandiri (self/independent publishing) sudah tak terbendung lagi. Kini, semakin banyak saja individu atau lembaga dari berbagai strata sosial dan ekonomi memanfaatkannya. Keberadan mereka, di satu sisi sungguh-sungguh semakin menggairahkan dinamika penerbitan nasional. Namun di sisi lain, menjamurnya penerbitan mandiri juga berarti “tercuri”-nya sebagian dari ceruk atau potensi pasar penerbitan-penerbitan umum. Walau begitu, sejauh tren tersebut semakin memperkaya khasanah perbukuan nasional, rasanya patut disambut positif.
Mengapa self/independent publishing menggejala bahkan bisa dikatakan semakin ngetren? Barangkali, itu merupakan pendobrakan atas dominasi cara penerbitan sebelumnya yang masih didominasi oleh penerbitan-penerbitan umum. Begitu kran demokrasi dibuka lebar-lebar, soal penerbitan pun bukan sesuatu yang sakral lagi dan sekarang semua orang bisa melakukannya.
Pada prinsipnya, keuntungan terbesar yang bisa diraih manakala kita menjadi self-publisher adalah pada kebebasan untuk menentukan apa pun bentuk, rupa, dan isi buku yang kita terbitkan nantinya. Namun demikian, ruang bebas itulah yang sejatinya bisa kita tarik-ulur untuk mendapatkan berbagai potensi dan manfaat lainnya. Saya coba ulas secara singkat di bawah ini.
1. Penampung tema-tema buku di luar mainstream penerbitan. Bukan rahasia lagi, salah satu alasan self-publishing adalah kesulitan penulis untuk mendapatkan penerbit yang mau menerbitkan naskahnya. Terlebih bila naskah tersebut tidak memenuhi standar kualitas atau tidak segaris dengan kepentingan, visi, dan misi penerbit. Terkadang, naskah-naskah yang membahas tema sangat spesifik, naskah peka dan bertendensi kontroversi, naskah sangat unik, naskah pembelaan (buku putih), atau naskah propaganda, kurang diminati penerbit umum.
Di sinilah alternatif self-publishing menjadi solusi. Kalau kita menjadi self-publihser, kita bisa menerbitkan naskah jenis apa pun sepanjang itu memenuhi kepentingan dan kebutuhan kita. Soal kualitas isi, format, kemasan, redaksional, dan hal teknis lainnya, kita sendirilah yang menetapkan. Bagi kalangan tertentu, sifat merdeka self-publishing tersebut begitu dinikmati dan dirasa mendatangkan kemanfaatan yang tak terbandingkan.

























