training motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaNews Feedtraining motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaComments Subscribe to training motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaSitemap

Warisan Untuk Anak Cucu

“The greatest legacy is that which benefits the widest number of people for the longest period without limit to value.” – Warisan terhebat adalah sesuatu yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia dan berlangsung selamanya.”
Steven Cat, artis penyanyi USA

Bila berpikir tentang warisan untuk anak cucu, kebanyakan dari kita akan berpikir tentang mewariskan harta benda atau barang-barang berharga. Siapapun ingin meninggalkan warisan yang berlimpah kepada generasi penerusnya. Namun sesungguhnya ada hal-hal yang lebih penting dibandingkan harta untuk diwariskan kepada anak cucu kita.

Salah satu warisan yang tak ternilai harganya adalah kemerdekaan yang kita nikmati saat ini. Kemerdekaan ini direbut oleh para pahlawan bangsa dengan pengorbanan yang sangat besar termasuk harta benda, tetesan darah dan keringat. Berkat perjuangan para pahlawan tanpa pamrih itulah kita dapat mewarisi kemerdekaan dan mereguk kebebasan seperti sekarang.

Tanpa kemerdekaan kita tak akan dapat bebas untuk melakukan aktifitas, berpendapat, berkreasi, memiliki kesempatan hidup layak dan lain sebagainya. Kemerdekaan ini memungkinkan kita semua untuk melakukan sesuatu yang inspriratif dan mampu menjadikan masa depan lebih baik. Oleh sebab itu, manfaatkanlah kesempatan ini dengan menjalankan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya dan jujur, sehingga terhindar dari berbagai bentuk penjajahan model baru; misalnya penjajahan budaya ataupun produk-produk dari negara lain yang belum tentu lebih baik dari milik bangsa sendiri.

Selain kemerdekaan, ada beberapa jenis warisan yang sangat penting untuk anak cucu. Salah satu yang paling penting adalah nilai dan pelajaran hidup. Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa nilai-nilai dan sistem kepercayaan warisan dari orang tua lebih penting daripada uang atau aset-aset berharga lainnya.

Taipan saham terkaya di dunia, Warren Buffet, merupakan contoh orang tua yang memilih untuk mewariskan nilai-nilai mulia ketimbang harta yang berlimpah. Warren Buffet sengaja mendonasikan USD 31 milyar untuk kemanusiaan melalui yayasan Bill & Melinda Foundation untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada para putra-putrinya. Ia ingin ketiga anakknya, yaitu Howard Graham Buffet, Peter Buffet, Susie Buffet, mewarisi sifat-sifat mulia yang ia miliki, karena ia meyakini bahwa kemuliaan sikap dapat diandalkan (oleh keturunannya) untuk hidup lebih semangat dan optimis menatap kehidupan namun tetap rendah hati.

“I Want to give my kids just enough, so they would feel that they could do anything, but not so much, that they would feel like doing nothing. – Saya ingin memberi anak-anak saya secukupnya, sehingga mereka dapat menyadari bahwa mereka dapat melakukan apa saja, tetapi tidak terlalu banyak (yang dilakukan), sehingga mereka merasa tak melakukan apapun,” katanya.

Sifat-sifat mulia memang menjadi komoditas penting, yang memudahkan seseorang mencapai kesuksesan di bidang apapun secara alamiah dan bertahan lama. Kemuliaan sifat seseorang akan menjadikan dirinya menjalankan tanggung jawab dengan hati, sebaik mungkin dan tanpa pamrih. Pastikan untuk menanamkan sifat-sifat mulia kepada generasi penerus, sebagai aset penting bagi mereka (generasi penerus) untuk menjalani hidup dengan baik dan meraih kesuksesan.

Wariskanlah pula sikap mandiri, berani dan semangat bekerja. Bayangkan para pejuang dahulu yang berani bertaruh nyawa untuk mengusir penjajah walaupun hanya dengan sebilah bambu runcing. Oleh sebab itu, tanamkanlah nilai-nilai keberanian, kemandirian dan semangat kerja sebab itulah modal penting generasi penerus untuk meniti kehidupan dan meraih sukses di masa depan.

Berikanlah bekal ilmu pengetahuan yang cukup kepada putra dan putri kita dengan menyekolahkan di sekolah-sekolah formal. Selain itu, berikanlah contoh sikap sebagai orang tua yang senang belajar, misalnya dengan gemar membaca atau belajar dari orang-orang yang sudah berpengalaman. Mewariskan sikap yang gemar belajar ini akan menjadikan generasi muda memiliki ilmu pengetahuan yang luas, mampu menetapkan visi sekaligus melakukan langkah-langkah yang tepat dan bijak serta perhitungan matang sehingga impian-impian mereka segera terwujud.

Wariskanlah nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual, agar generasi penerus kita mampu bertindak positif dan konstruktif, bijaksana, memiliki kepekaan sosial, tidak serakah, dan lain sebagainya. Nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual yang tertanam kuat akan menjadi panutan hidup mereka. Keluhuran sikap yang didasari oleh nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual dapat memastikan generasi penerus meraih mampu sukses dengan cara yang benar dan menjalani hidup dengan lebih baik.

Sebelum kita terlalu tua, mari segera mengumpulkan warisan-warisan penting tersebut di atas bagi anak cucu kita, sebab waktu kita sangat singkat. Janganlah terjebak dalam kesenangan-kesenangan kecil sehingga kita kehilangan banyak waktu dan melupakan hal-hal yang sangat penting untuk bekal para generasi penerus. Rasanya sangat menyedihkan jika riwayat kehidupan kita tidak meninggalkan rekam jejak sifat dan sikap yang mampu membuat generasi penerus benar-benar mengingatnya dan menjadikannya model untuk menjalani kehidupan dengan baik dan sukses. Sungguh menyenangkan jika sepeninggal kita nanti ada seseorang berkata, “Selamat jalan. Hidupmu telah memberi teladan yang luar biasa dan manfaat bagi banyak orang dan tak akan terlupakan.”

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best seller.
Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com

Bankir Cantik di KRL Ciujung


Rabu sore 12 November saya naik KRL ekonomi AC Ciujung dari Tanah Abang menuju Serpong. Saya berdiri di gerbong paling belakang, dekat pintu. Ransel saya taruh di tempat bagasi, dan saya mencoba menyamankan diri dalam posisi berdiri.
Kereta belum bergerak. Seorang perempuan muda yang duduk dekat saya berdiri asyik bertelepon. Rupanya dia memanggil temannya untuk datang ke gerbong tempat dia duduk. Dan tak lama kemudian datang seorang perempuan lain, dugaan saya usianya lebih tua. Yang datang ini mengenakan blazer warna kuning kunyit (saya nggak tahu, itu seragam atau bukan).
Karena tak mendapat tempat duduk, pandatang baru ini berdiri di depan temannya, tepat di samping saya berdiri.
Tepat pukul 17.10 kereta yang lumayan penuh, tidak terlalu berdesakan, meninggalkan Tanah Abang.

Tak lama kemudian kedua perempuan itu terlibat diskusi heboh, seolah tak ada orang lain di sekitarnya. Dari apa yang mereka diskusikan, saya menduga mereka bekerja di satu bank. Yang satu bercerita dengan bangga bahwa dalam beberapa hari terakhir dia panen nasabah deposito baru, dengan total angka ratusan miliar. Saya sepenuhnya percaya. Tadi pagi harian Kontan bercerita jumlah rekening tabungan dan deposito di atas dua miliar membengkak. Total jenis rekening ini tercatat naik Rp70 triliun dalam sebulan menjadi Rp673 triliun dari total dana perbankan di Indonesia yang sebesar Rp1.600 triliun.

Perempuan yang berblazer juga bercerita mengenai pekerjaannya.
Saya mencoba tidak terganggu oleh obrolan mereka. Toh ini tempat umum. Kalau pun mereka ngomongin rahasia dapur mereka, ya silakan sajalah. Toh mereka memang mau begitu.
Tetapi akhirnya saya tersengat mendengar sharing si mbak berblazer, lebih dalam kapasitas saya sebagai salah satu nasabah bank. Saya coba rekonstruksi obrolan mereka, walau tentu saja tidak tepat benar.
“Tahu nggak lu, kapan hari gue salah blokir kartu (saya nggak pasti kartu kredit, kartu debit, atau kartu ATM) nasabah,” katanya sambil ketawa cekikikan.
“Loh, kok bisa sih,” kata perempuan yang duduk.
“Si ibu itu kan punya dua kartu. Begitu dia minta satu kartunya diblokir, eh yang gue blokir kartu yang satunya,” kata si mbak berblazer.
“Terus?”
“Seminggu kemudian si ibu telepon. Dia tanya kok kartunya yang satu keblokir.”
“Lu jawab apa?”
“Dia kan nggak ngerti. Saya jawab gini, ‘Bu, maaf, waktu saya panggil nama ibu di komputer, saya langsung blokir begitu saja. Saya nggak tahu kalau ibu punya dua kartu.”
“Si ibu marah?”
“Nggak tuh, malah dia minta maaf. ‘Maaf ya mbak, ngerepotin’, dia bilang gitu.”
Kedua perempuan itu pun tertawa berderai.
Sedih rasanya mendengar sharing itu. Begini rupanya cara perempuan muda ini bekerja. Pertama jelas si blazer kuning kunyit melakukan kesalahan, dan kesalahannya menurut saya fatal, bukan hanya karena dia memblokir kartu yang tidak seharusnya diblokir, tetapi justru tidak memblokir kartu yang seharusnya diblokir. [Saya menulis ini justru karena hari ini, Jumat 14 November 2008, di harian Kompas ada surat pembaca yang berisi keluhan bahwa orang sudah memblokir kartu ATM-nya, tetapi pembobolan masih terjadi]. Kedua, dia tidak mengakui kesalahannya di depan nasabah, bahkan membohongi si nasabah.

Rasa sedih belum hilang, dan kepala dipenuhi aneka macam tanda tanya ketika kereta berhenti di Stasiun Pondok Ranji. Kedua perempuan itu turun, dan saya mencari-cari tempat kosong, untuk menaruh pantat sekadar membuang penat.

*) Her Suharyanto; her@jurutulis.com; www.jurutulis.com

Don’t Judge a Book by It’s Cover

Case-1:
Tugas utamaku adalah mengantar jemput bos kemanapun dia pergi. Karena itulah aku sering mengendarai mobil mewah milik bos, kadang berdua dengan bos namun tidak jarang sendirian. Kejadian seperti ini sudah sangat sering, yaitu tatkala aku disuruh untuk menjemput bos dari sebuah pertemuan di sebuah hotel bintang lima di Jakarta.

Seperti biasa, meluncurlah aku dengan segera ke sana. Memasuki gerbang hotel, selalu aku mendapati pemandangan yang luar biasa. Mata kepalaku sendiri melihat bagaimana para satpam dan petugas parkir berebutan menarik perhatianku. Ada-ada saja ulah mereka, dari sekedar memberikan hormat, beramah-tamah, bahkan banyak yang berlomba-lomba menyapaku dengan panggilan agung: BOS. Dalam hati aku hanya bisa tersenyum geli saja. Belum tahu mereka bahwa mobil ini bukan punyaku.

Namun kejadian seperti ini sering juga terjadi. Entah alasan tertentu, secara mendadak aku disuruh untuk mengantarkan sesuatu ke bos. Lokasinya juga di hotel. Untuk mengejar waktu, aku pun naik motor bututku, karena lebih fleksibel, cepat, dan bisa menyiasati kemacetan. Di sini sebuah pemandangan yang sangat ironi aku dapatkan. Memasuki gerbang hotel, jangan pernah berharap akan mendapatkan perlakuan istimewa yang sama sewaktu naik mobil. Jangankan disapa, dilirik pun tidak. Bahkan aku sering diminta putar lewat pintu belakang untuk parkir.

Case-2:
Aku adalah seorang wanita biasa, hidup di lingkungan sederhana, dan tentunya penampilanku standar-standar saja. Layaknya impian dan harapan teman-teman sebayaku, aku juga mempunyai asa yang sama untuk sekali-kali menikmati kemewahan dan indahnya diperlakukan istimewa.

Mimpiku sepertinya terjawab kala suatu hari seorang pria mengajakku untuk menemaninya makan malam di sebuah restoran eksklusif seraya ketemu klien bisnisnya. Wah … ajakan tersebut langsung aku sambut dengan antusias. Akalku mengatakan, selangkah lagi impianku akan tercapai. Namun ada satu kendala, aku tidak mempunyai pakaian yang layak untuk dipakai. Aku pun menceritakannya kepada pria tersebut, dan untungnya dia mengerti kondisiku. Atas kebaikan hatinya dia pun memberikan sejumlah uang kepadaku untuk berbelanja.

Butik X adalah tempat yang sudah lama aku incar untuk berbelanja di sana. Selama ini aku hanya bisa melihatnya saja dari luar. Yah … aku mengerti kondisiku. Namun hari ini aku punya uang, jadi bukankah ini sebuah kesempatan istimewa bagiku untuk mampir dan berbelanja di sana?

Dengan penuh rasa percaya diri aku menginjakkan kakiku ke sana. Dan .. segera mataku takjub dan terpikat melihat gaun-gaun indah yang terpampang di sana. Mulailah aku melihat-lihat. Namun tidak sampai 5 menit aku tenggelam dalam keasyikkanku, seorang pramuniaga dengan pandangan aneh dan curiga mendekati.

Aku berpikir dia datang untuk membantuku mencarikan gaun spesial untuk malam itu, maka aku pun bertanya: maaf, yang ini berapa harganya.
Tapi … tahu jawaban apa yang aku dapat? Ini harganya mahal … sangat mahal.

Aku menjawab: mahalnya itu seberapa?
Dijawabnya kembali: pokoknya mahal sekali.

Tertegun aku mendengarnya. Tapi aku tidak diam begitu saja. Aku pun berkata: mungkin benar harganya mahal, tapi aku punya uang untuk membelinya.

Dan sebuah pernyataan yang menyinggung perasaanku membuat aku tidak tahan untuk keluar: Maaf, butik kami tidak cocok untuk orang seperti Anda. Ini butik eksklusif, ternama, dan hanya layak dikunjungi oleh golongan tertentu. Silakan keluar sebelum kehadiran Anda menganggu kenyamanan tamu kami yang lain.

Saat aku pulang dengan simbahan air mata dan menceritakan semuanya kepada pria yang mengajakku dinner, diapun marah dan tersinggung. Beruntung dia mempunyai kolega, dan dia merekomendasikan diriku untuk ke sana. Ibarat panas setahun yang terhapus oleh hujan sehari, demikianlah perasaanku ketika sampai ke sana. Aku diperlakukan dengan baik, penampilanku diubah, dan dalam sekejap aku bertransformasi dari wanita biasa menjadi wanita berkelas.

Ketika aku melewati butik tempat aku ditolak, timbul rasa isengku untuk melihat reaksi mereka. Aku pun masuk, dan … ajaib sekali. Dengan segera mereka mendatangiku, menyapa dengan ramah, memberi hormat, dan dengan segala kata-kata manis berusaha untuk menahanku supaya berbelanja di sana. Namun karena rasa sakit hatiku masih ada, aku pun bertanya: apakah Anda masih ingat aku?

Mereka menggeleng. Dan dengan penuh kemenangan aku menjawab: akulah wanita biasa yang kalian tolak kemarin.

Dengan lega, akupun keluar … meninggalkan mereka hanya bisa melonggo tak bersuara.

Case-3:
Aku hanyalah seorang pria kebanyakan. Kesukaanku adalah berpenampilan sederhana. Kalau jalan-jalan ke mal, seringnya pakai kaos, kadang berkerah kadang tidak dan dipadu celana casual dengan alas kaki sandal biasa. Apakah karena aku tidak sanggup berpenampilan eksklusif? Bukan, aku bisa saja. Namun semuanya itu sengaja aku aku lakukan hanya karena satu alasan saja: agar aku bisa jalan-jalan dan belanja dengan nyamanan.

Aku sering geli melihat sebagian orang yang tampilannya super luks: rambut tertata licin entah menghabiskan berapa gram foam atau minyak rambut, memakai kemeja yang kancingnya dibuka satu, di lehernya terpampang seuntai kalung sebesar rantai, serta bersepatu mengkilap. Pokoknya khas profesional muda yang berhasil. Kegelianku bertambah saat melihat mereka harus menolak tawaran-tawaran dari pramuniaga yang berseliweran di mal. Dari tawaran kartu kredit, kursi yang katanya bisa pijat sendiri, brosur pameran, alat penghemat listrik, dan beraneka promosi lainnya.

Bandingkan diriku yang berpenampilan seadanya, sangat jarang aku disodorin barang-barang semacam itu. Namun aku tidak merasa rendah diri, tidak pernah merasa dicuekin, malah aku menikmatinya karena aku bisa dengan bebas berlenggang ria semauku.

Pernah suatu hari, karena mendesak banget aku harus mampir ke supermarket di sebuah mal. Waktu itu aku baru dari sebuah acara formal, sehingga penampilanku boleh dikatakan agak berkelas. Karena berpikir efisiensi waktu, aku pun langsung meluncur ke sana. Dan … aku benar-benar merasa gerah dengan mereka-mereka yang mengeroyokku. Bukannya aku meremehkan mereka, bahkan kadang aku salut dengan perjuangan mereka untuk merintis karir. Tapi karena waktuku tidak banyak, ditambah rasa capek karena seharian beraktivitas, maka kehadiran mereka aku rasakan sebagai gangguan atas kenyamananku berbelanja.

Dan aku bertanya-tanya, kenapa di tempat yang sama sewaktu aku berpenampilan biasa aku tidak pernah diserbu, sedangkan saat aku berpenampilan sedikit wah langsung dikeroyok? Hmm … akal sehatku semakin memahami, bahwa penampilan sudah menjadi tolak ukur bagi sebagian orang untuk melihat status seseorang.

* * *

Don’t Judge a Book by It’s Cover. Begitulah case pertama yang aku dapatkan sewaktu perjalanan 2 hari kemarin ke puncak. Sopir kantor menceritakannya sampai detail begitu kala aku menanyakan suka-duka menjadi seorang sopir. “Wah … ternyata begitu yah, perlakuan yang berbeda-beda terhadap orang. Naik mobil mewah dipanggil Bos, sedangkan naik motor butut, tidak dianggap sama sekali,” katanya dengan polos.

Aku hanya bisa berkomentar pendek: beginilah dunia ini melihat sekelilingnya. Namun berbagai pertanyaan berputar di pikiranku yang membuatku tidak habis pikir: sedemikian jauhkah orang melihat atribut sebagai sebuah status? Kenapa penampilan luar kadang dijadikan sebagai kiblat akan keberadaan dan bentuk perlakuan terhadap seseorang? Benarkah seseorang dengan penampilan necis selalu dipandang dibandingkan dengan orang yang penampilannya biasa-biasa saja?

Don’t Judge a Book by It’s Cover. Kala tenggelam dalam perenunganku, entah dari mana selembar adegan dalam film Pretty Woman dengan Julia Roberts dan Richard Gere hadir begitu saja. Aku mencoba menarasi ulang agedan tersebut berdasarkan imajinasiku menjadi case-2, yang ingin menyampaikan bahwa sudah separah itulah sekeliling melihat kita dalam sebungkus penampilan. Dan aku memang geram waktu melihat mata-mata yang langsung jelalatan kala mendapati seseorang dengan penampilan metereng, tetapi tatapan sinis diarahkan kepada seseorang yang berpenampilan sederhana. Namun aku tidak kuasa untuk menahan dan mengubahnya. Yang bisa aku lakukan hanyalah diam seribu bahasa.

Don’t Judge a Book by It’s Cover. Itulah pengalaman pribadiku dalam case-3. Dan aku tidak tahu harus bertanya kepada siapa lagi, dan mengapa semua itu terjadi. Yang dapat aku lakukan hanyalah mengelus dada, dan berharap semoga suatu hari kelak semuanya itu berlalu seiring berhembusnya angin malam. Aku tidak mungkin bertanya lagi pada alam, soalnya konon dia udah pindah hehehe … dan biarlah lirik Ebiet G. Ade dalam lagunya Berita Kepada Kawan menginspirasi diriku untuk bertanya juga kepada rumput yang bergoyang.

Tapi dari kesemuanya, tidak fair aku memukul rata bahwa semua orang bersikap seperti itu. Aku masih percaya tindakan seperti itu hanyalah tindakan segelintir orang saja. Banyak dari mereka-mereka yang masih jernih mata hatinya, dan mereka benar-benar tulus dalam berperilaku. Dan aku yakin mereka juga mengenal ini: tidak pernah menghakimi seseorang berdasarkan bungkusnya saja …

*) penulis dapat dihubungi langsung di bun.hendri@gmail.com

Mutiara Pembelajar #2

mutiara-pembelajar-1

Resep Saya

“The illiterate of the 21st century will no be those who cannot read and write,but those who cannot learn, unlearn, and relearn.”
Alvin Toffler

“Pak Harefa, Anda berulang kali menawarkan resep sukses dari para pakar pengembangan diri. Tetapi saya belum pernah membaca pengakuan Anda mengenai resep sukses yang mana yang Anda yakini, yang Anda pergunakan untuk diri sendiri. Bolehkah saya tahu?” tanya seorang kawan pembaca setia kolom ini. Ia seorang manajer di sebuah perusahaan swasta terkemuka, yang menangani departemen sumberdaya manusia (saya lebih suka kalau departemen semacam ini diubah konsepnya menjadi departemen pengembangan harkat dan martabat manusia).

“Oh tentu saja boleh,” jawab saya nyaris spontan. “Resep sukses yang saya pergunakan dalam hidup saya adalah yang paling banyak diyakini manusia di muka bumi.”

“Apa itu, pak?” suaranya antusias.

“Ijinkan saya mengajukan tiga pertanyaan yang membantu Anda untuk mengingat kembali bahwa Anda pun meyakini resep sukses yang satu ini, karena memang terbukti sangat powerful,” kata saya berteka-teki.

“Mengapa banyak orangtua berjuang keras untuk menyekolahkan anak-anaknya?”

“Karena pendidikan itu penting.”

“Bagus. Lalu mengapa tiap negara memiliki Menteri Pendidikan (dan Kebudayaan)?”

“Ya, untuk membantu pimpinan pemerintahan mengurusi soal pendidikan yang penting itu,” suaranya mantap.

“Benar sekali. Dan mengapa sejumlah sarjana ngotot melanjutkan studi ke jenjang magister atau master, bahkan sampai ke tingkat doktoral; sementara sebagian sarjana yang lain rajin berburu program sertifikasi profesional?”

“Ya, saya kira, karena mereka ingin mengembangkan diri. Atau ingin meningkatkan kariernya, mengejar cita-cita sesuai dengan makna sukses bagi dirinya,” jawab kawan tersebut sambil mencoba menebak arah pemikiran saya.

“Benar. Semua jawaban Anda benar. Sebagian besar orang, sangat sadar bahwa jalan menuju kehidupan yang lebih baik itu adalah pendidikan dan pembelajaran. Itulah sebabnya banyak orangtua bekerja keras untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah terbaik. Mereka ingin anak-anaknya kelak berhasil menjadi orang sukses. Itulah sebabnya setiap negara menugaskan seorang menteri untuk membangun presiden atau perdana menteri mengurusi soal-soal pendidikan dan kebudayaan. Sebab tiap negara ingin menjadi negara yang maju dan berpengaruh di kancah internasional. Itulah pula sebabnya, sejumlah sarjana mengejar pendidikan yang lebih tinggi atau mengambil program sertifikasi. Jadi, pendidikan atau belajar telah dipahami hampir semua orang sebagai the master key to success,” tegas saya.

“Tapi pak, sejumlah tokoh yang saya kenal karena keberhasilannya, ternyata bukan sarjana. Bill Gates, Larry Allison, Michael Dell, dan yang membuat facebook, semuanya bukan sarjana. Anda juga pernah menulis sekitar 15 tokoh yang meraih keberhasilan tanpa pendidikan formal dalam buku Sukses Tanpa Gelar, termasuk Susi Pudjiastuti, Kusnadi, Steve Geppi, Andrie Wongso, dan sebagainya,” bantah kawan saya itu. Ia tak puas dengan jawaban yang baginya terlalu sederhana. Mungkin ia berpikir bahwa resep sukses itu mestinya harus “luar biasa”.

“Lho, tadi Anda bertanya mengenai resep sukses yang saya yakini. Yang saya yakini ya itu tadi. Untuk sukses itu orang perlu belajar. Itulah intinya. Itulah akar semua resep sukses lainnya. Artinya, dengan “belajar” semua kunci sukses yang lain akan berguna; namun jika “tidak belajar” maka kunci sukses dari mana pun tidak akan berguna sama sekali,” ujar saya mengingatkan. Kalau bertanya resep sukses yang saya yakini, mestinya saya boleh bicara sesuka saya, bukan?

Namun, sadar bahwa kawan saya itu merasa kurang puas, maka saya melanjutkan, “Kita perlu membedakan antara belajar dengan pendidikan formal. Tanpa pendidikan formal, tanpa sekolah sampai tingkat universitas, orang memang bisa berhasil. Namun itu karena ia menemukan cara belajar yang lain, cara belajar di luar sekolah, cara belajar di kehidupan nyata. Thomas Alva Edison hanya bersekolah formal 3 bulan. Namun ia belajar dengan sangat giat dan gigih dalam asuhan Nancy Elliot ibunya. Bill Gates, Larry Allison, Michael Dell, dan Mark Zuckerberg yang menciptakan facebook, memang bukan sarjana dalam arti tradisional. Tetapi saya kira tidak ada yang menganggap mereka sebagai orang yang tidak berpendidikan. Sebab pendidikan juga memiliki dimensi luar sekolah, luar universitas, yakni pembelajaran dalam konteks kehidupan nyata.

Kalau kita meminjam istilah-istilah konvensional seperti pendidikan, maka ada kategori pendidikan formal, yakni dunia persekolahan dan universitas; lalu ada pendidikan non-formal, yakni dunia kursus dan pelatihan; dan ada juga pendidikan informal, yakni lewat interaksi sosial di masyarakat. Mereka yang tidak punya kesempatan dalam pendidikan formal, jika kuat belajar lewat jalur non-formal dan informal, juga bisa berhasil seperti halnya tokoh-tokoh yang sukses tanpa gelar itu. Jalan keberhasilan tanpa gelar itu saya sebut jalan kreativitas. Sebab, hemat saya, kreativitaslah yang bisa mengalahkan pendidikan formal.
Lalu, kalau kita menggunakan istilah-istilah abad ke-21 seperti pembelajaran, maka kunci utama untuk sukses itu adalah learn, unlearn, dan relearn sebagaimana disebutkan futurolog kondang Alvin Toffler puluhan tahun silam,” begitu penjelasan saya panjang lebar.

“Maksudnya apa itu, pak? Apa bedanya learn, unlearn, dan relearn?” minat kawan saya muncul kembali. Wajahnya nanpak serius dan siap menerima kata-kata yang akan saya ucapkan.

“Sudah saya jelaskan dalam buku saya yang ke-37. Judulnya MINDSET THERAPY: Terapi Pola Pikir –— tentang Makna Learn, Unlearn, dan Relearn (Gramedia, 2010). Itulah yang saya sebut the master keys to success. Anda baca saja dulu, nanti kita diskusikan lagi ya,” saya menutup percakapan tersebut.

*) Andrias Harefa WTS. Penulis 38 Buku Best-Seller. Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 Tahun. Pendiri www.pembelajar.com. Profil lengkap bisa diakses di www.andriasharefa.com

Sukses

“Hen, menurutmu apa sih definisi dari sukses itu?”

Itulah sebuah pertanyaan singkat dari rekan kerjaku beberapa waktu yang lalu. Sebuah pertanyaan yang kelihatan sepele. Namun, justru karena ke-sepele-annya itu, pertanyaan tersebut sanggup membuat keningku berkerut dan otakku berputar mempertanyakan: iya yah, apa sih ukuran sukses menurutku … Belum sempat aku merangkai sebuah jawaban, rekanku bertanya lagi. “Trus, menurutmu sekarang kamu sudah sukses atau belum?”

Sukses. Apakah pengertian dari sukses itu? Iseng saya buka dictionary online, terpampanglah pengertian dari sukses itu. Mau tahu apa kata orang-orang seberang tentang sukses? Nih … baca sendiri yah :)

suc·cess (sak-sĕs’) pronunciation
n. (1) The achievement of something desired, planned, or attempted; (2) The gaining of fame or prosperity; (3) The extent of such gain; (4) a level of social status; (5) the opposite of failure.

Hmm … tidaklah penting apa kata mereka-mereka tentang sukses. Kalau kita kembalikan kepada orang kita, sukses selalu diartikan dengan dua hal. Apakah itu? Yap … materi dan jabatan. Tidak percaya? Coba deh lihat di sekeliling kita.

Saat seseorang ketahuan punya tabungan atau deposito atau simpanan duit dalam jumlah digit yang banyak, pasti deh terdengar celutukan: ‘wah … si dia udah sukses yah sekarang’. Apalagi kalau kita tahu si ‘orang berduit ‘ tersebut tiap bulan bolak-balik belanja atau jalan-jalan ke luar negeri, makin kencang deh gosipan kita hehe …

Contoh lainnya. Saat kita melihat tetangga kita tiba-tiba pindah rumah ke salah satu perumahan yang super-duper elit, maka secara sadar atau tidak akan keluar komentar: ‘wiuhhh … hebat yah tetangga sebelah kita, sudah sukses besar rupanya …” Pendapat yang sama akan terdengar juga waktu kita melihat garasi tetangga kita tiba-tiba ada isinya atau isinya berubah menjadi merek lain yang lebih keren. Atau saat main ke rumah teman, set sofanya baru, TV-nya berubah menjadi model flat dengan ukuran inch-nya gede, ruang tamu serasa berada di kutub karena hembusan AC anyar, dan banyak lagi hal-hal kecil lainnya yang dapat menjadi indikator bahwa dia sudah sukses.

Semua contoh di atas berbicara tentang materi. Kalau jabatan? Kayaknya udah pada tahu semua deh. Tampilan necis, jas mengkilap, dasi licin, sepatu kinclong, ditambah selembar kartu nama dengan tulisan jabatan/titel yang hebat, maka konotasi pertama yang muncul adalah: sukses. Setuju khan? Jadi tidak salah dong kalau dikatakan dewasa ini materi dan jabatan begitu dikejar dan diagung-agungkan orang.

Dan apakah efek sampingnya? Orang-orang jadi gila kerja, mati-matian memaksimalkan waktu seolah-olah satu hari 24 jam itu tidaklah cukup. Mengejar karir setinggi-tingginya dengan harapan semakin tinggi jenjang karirnya, semakin besar pula materi yang bisa di dapat. Ambil program studi sebanyak-banyaknya, dengan impian semakin banyak titel yang mengekor di belakang namanya, semakin banyak juga rezeki yang mengekor hidupnya juga. Bahkan yang ekstrim, ada yang memanfaatkan fasilitas KKN demi status ‘sukses’ tersebut.

Apakah salah mereka-mereka yang berprinsip demikian?

Hmm … Aku bukan tipe orang yang menyepelekan kerja keras. Tidak! Malah sebaliknya, aku setuju sekali dengan kerja keras, karena melalui kerja keraslah kita bisa bertahan, bertarung dan menjadi pemenang dalam dunia yang super-kompetisi ini. Tapi bagaimanakah porsi kerja keras tersebut, itulah yang kadang aku pertanyakan.

Aku juga bukan orang yang memandang rendah jenjang karir. Kalau mau jujur, aku juga pengen mempunyai jabatan yang tinggi pula. Khan enak berjabatan tinggi. Datang dan pulang kantor bisa seenaknya, dapat banyak tunjangan, punya anakbuah yang siap diprintah sana printah sini, tak ketinggalan tiap bulan rekening pribadi bertambah drastis. Asyik khan :)

Jangan pernah juga menuduh bahwa aku orangnya anti pendidikan. Menurutku pendidikan itu sangat bagus, malah kalau bisa kejar dan capailah dia setinggi bintang di langit. Pendidikan itu bagus sekali sebagai bekal yang sangat berharga untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan melangkah maju dalam meraih kesuksesan.

Kalau begitu, kenapa ada kesan aku mengatakan orang-orang yang berprinsip demikian salah?

Keseimbangan. Itulah yang aku harapkan ada dalam hidupku. Bolehlah aku kerja keras, tapi janganlah gara-gara itu, aku lantas menelantarkan kesehatan tubuhku. Jangan demi menggapai karir tinggi, aku mengabaikan waktu dan perhatianku pada keluarga. Demikian pula karena alasan pendidikan, aku kehilangan sentuhan dan singgungan dengan lingkungan dan sesama.

Banyak contoh yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana sebuah keluarga retak hanya karena ambisi untuk sukses secara material. Ku dengar juga berita perceraian karena perselingkuhan akibat impian mendapatkan karir tinggi dengan cara pintas. Kubaca juga banyak eksekutif muda yang harus terikat dengan konsumsi vitamin atau obat kesehatan karena terlalu forsir dalam bekerja. Tak ketinggalan banyak juga yang akhirnya ketar-ketir saat ingat usia mereka sudah bertambah, tapi belum juga ada pendamping sah dalam mengarungi kehidupan ini.

Jadi kalau ukuran sukses seperti itu yang harus digapai, aku menyerah deh. Lebih baik tidak sukses, tapi secara fisik dan jiwa tetap bugar dan bahagia.

* * *

Kembali ke pertanyaan awal, apakah definisi sukses menurutku? Aku hanya bisa bertutur: setiap pagi bisa bangun, bernafas, beraktivitas secara positif, melakukan hal yang berguna, kumpul dan main dengan keluarga, malam hari tidur dengan nyenyak … itulah sukses menurutku.

So … terlalu rumitkah mauku itu?

*) penulis dapat dihubungi langsung di bun.hendri@gmail.com

Meretas Belenggu “Hypnotizability”

“Pak Adi, nama saya Agus. Saya punya masalah dengan diri saya. Sudah satu bulan ini saya mengalami kecemasan yang datangnya tiba-tiba. Kalau malam tidur sebentar-sebentar terbangun.. sudah terapi ke psikiater dan dapat obat yang diminum tiap malam. Keceriaan saya hilang dan sering keluar keringat dingin. Saya sudah coba hipnoterapi tapi saya tidak bisa dihipnosis. Hal ini justru menambah kecemasan saya karena terbayang saya tidak bisa sembuh. Apakah ada saran dari Bapak mengenai hal ini?”

Demikianlah email dari seorang rekan yang saya terima beberapa hari lalu. Penasaran dengan apa yang terjadi dengannya, khususnya dalam konteks hipnoterapi saya membalas emailnya berikut ini, “Siapa yang menerapi Pak Agus? Apa yang ia lakukan dan sudah berapa sesi?”

Jawabnya, “Saya sudah coba tiga terapis yang berbeda di kota saya. Ketiganya gagal menghipnosis saya, dan setelah saya tanya ternyata katanya memang ada 10% dari manusia masuk kategori tidak bisa dihipnosis. Hal ini membuat saya menjadi kecewa dan akhirnya yang saya terima adalah terapi sugesti yang menyugesti diri saya untuk bisa menghilangkan perasaan dalam pikiran saya. Sampai saat ini masih ada perasaan mengganjal dalam hati saya dan tidak tahu apa itu.”

Ini sungguh berita menarik yang layak untuk dibahas. Apakah benar klien ini tidak bisa dihipnosis? Apakah benar ada 10% manusia yang masuk kategori tidak bisa dihipnosis?

Sebelum saya teruskan mari kita bahas dulu arti kata hypnotizability yang menjadi judul artikel ini. Hypnotizability terdiri atas dua kata yaitu hypnosis dan succesptibility yang artinya kemampuan untuk mengalami kondisi hipnosis atau hypnotic trance, biasanya dengan cara self-hypnosis atau dengan bantuan orang lain sebagai operator (hipnoterapis).

Lalu, apakah definisi hipnosis?

Ada sangat banyak definisi yang dikemukakan oleh para pakar. Saat ini definisi yang paling banyak dipakai dan diterima dalam dunia hipnoterapi adalah definisi yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Amerika yaitu hipnosis adalah penembusan faktor kritis dari pikiran sadar dan diikuti dengan diterimanya suatu sugesti atau pemikiran tertentu.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi dan menentukan kemampuan seseorang untuk mengalami kondisi hipnosis. Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi atau dilakukan oleh hipnoterapis yang menangani Pak Agus. Saya akan memberikan uraian agar kita sama-sama dapat lebih memahami hipnotizability.

Saya juga beberapa kali menjumpai klien yang mengatakan bahwa ia telah pergi ke beberapa hipnoterapis dan tidak ada satupun yang berhasil menghipnosis dirinya. Dari banyak kasus yang saya temukan “ketidakberhasilan dihipnosis atau menghipnosis” sebenarnya hanya ada dua kemungkinan.

Kemungkian pertama ada pada diri klien. Klien sebenarnya tidak mengerti apa itu kondisi hipnosis. Klien punya persepsi yang salah mengenai kondisi hipnosis. Umumnya klien berpikir bahwa kondisi hipnosis sama seperti yang ia lihat di televisi yaitu subjek “dihipnosis” dan langsung menjadi “tidak sadar”. Berpegang pada pemahaman ini saat klien dihipnosis ia berharap mengalami yang seperti di televisi. Saat ia tetap sadar, tetap bisa mendengar, tetap bisa berpikir maka ia merasa hipnoterapisnya tidak cakap sehingga tidak bisa menghipnosis dirinya.

Pernah juga saya bertemu dengan klien yang mengatakan bahwa kondisi hipnosis itu sama dengan tidur, badannya lemas atau rileks. Ini juga pemahaman yang salah. Hipnosis bukanlah rileksasi fisik. Hipnosis adalah rileksasi pikiran. Jadi, walaupun badannya tidak rileks, asalkan pikirannya sudah rileks, maka klien sudah berada dalam kondisi hipnosis.

Bila ini yang dialami klien maka dapat disimpulkan terapis tidak melakukan edukasi yang cukup pada klien. Solusinya adalah terapis perlu menjelaskan dengan detil apa itu kondisi hipnosis sebelum melakukan induksi atau terapi.

Ada juga klien yang tetap bersikeras pada pemahamannya yang salah mengenai kondisi hipnosis. Saya pernah mengalami hal ini. Klien sudah saya jelaskan dengan sangat detil apa itu kondisi hipnosis, apa yang akan ia alami atau rasakan, bahwa ia tetap sadar, bisa berpikir, mendengar, dan menjawab semua pertanyaan saya, namun klien memilih tetap berpegang teguh pada pemahamannya yang salah. Nah, kalau sudah begini terpaksa terapi tidak bisa dilanjutkan.

Alasan lain klien tidak bisa dihipnosis adalah karena takut. Takutnya bisa macam-macam. Namun umumnya semua ini karena persepsi atau informasi yang salah atau kurang pas yang klien dapatkan selama ini mengenai hipnosis atau hipnoterapis.

Perasaan takut yang umum dialami klien adalah hipnosis menggunakan kuasa gelap, hipnosis melanggar kehendak bebas seseorang karena pikiran klien dikuasai oleh hipnoterapis, takut rahasianya terbongkar, takut tidak bisa keluar dari kondisi hipnosis, tidak nyaman berdua dalam satu ruangan dengan terapis yang baru ia kenal, klien tidak percaya pada kemampuan dan atau integritas terapis, takut dipermainkan seperti yang ia lihat di tv, takut sembuh (secondary gain), dan masih banyak takut lainnya.

Bisa juga klien secara bawah sadar menolak menjalani terapi karena ia datang bukan atas kesadarannya sendiri namun atas dorongan, rayuan, bujukan, paksaan, atau bahkan ancaman orang lain. Kalau ini yang terjadi maka ia sangat sulit atau tidak bisa masuk ke kondisi hipnosis.

Secara umum saat seseorang dalam kondisi hipnosis maka akan muncul fenomena tertentu pada fisik dan atau pikirannya. Fenomena yang terjadi di fisik antara lain REM (Rapid Eye Movement) atau gerakan bola mata ke kiri/kanan, menelan ludah, wajah pucat, napas melambat, detak jantung melambat, tubuh terasa hangat, produksi air mata (lakrimasi) meningkat, dan bagian putih mata menjadi merah. Sedangkan yang terjadi pada pikirannya antara lain ammnesia, analgesia, anestesi, halusinasi (visual,auditori,kinestetik), munculnya Ego Personallity (Ego State, Part, Introject, dan Alter), regresi, revivifikasi, katarsis atau abreaksi, dan distorsi waktu.

Sekarang saya akan bahas kemungkinan kedua yaitu hipnoterapis. Bila membaca informasi di atas yang berbunyi, “………ternyata katanya memang ada 10% dari manusia masuk kategori tidak bisa dihipnosis….” dapat disimpulkan bahwa hipnoterapis yang menerapi Pak Agus mengacu pada SHSS atau Standford Hypnotic Susceptibility Scale yang merupakan hasil riset Weitzenhoffer dan Ernest Hilgard. Sebenarnya SHSS ada tiga macam yaitu Forms A, B, dan C atau SHSS: A, SHSS: B, dan SHSS:C.

SHSS menyatakan bahwa manusia terbagi menjadi tiga kategori yaitu 10% sangat mudah dihipnosis, 85% moderat, dan 5% yang sangat sulit dihipnosis. Ini adalah informasi yang banyak dijadikan pegangan oleh hipnoterapis, baik yang di luar negeri maupun di Indonesia. Setiap kali klien tidak bisa masuk kondisi hipnosis atau tidak bisa dihipnosis maka terapis akan menggunakan dalih kliennya masuk kategori yang 5%.

Jika mengacu pada SHSS maka yang dikatakan oleh terapis ini benar. Bukankah SHSS menyatakan ada 5% populasi yang sangat sulit dihipnosis? Nah, bisa saja si klien masuk kategori ini.

Pakar lain menyatakan bahwa hipnotizability dipengaruhi oleh tipe sugestibilitas. Manusia terbagi menjadi dua tipe yaitu yang physically suggestible dan emotionally suggestible. Yang mudah dihipnosis adalah yang tipe pertama. Sedangkan tipe kedua adalah yang bersifat analitikal dan sulit untuk dihipnosis. Di dalam emotional suggestibility ada sub-tipe lagi yang dikenal dengan tipe intellectual. Ini adalah tipe yang sangat-sangat kritis atau analitikal sehingga sangat sulit untuk dihipnosis.

Pertanyaan yang sangat menggelitik saya dulu waktu baru belajar hipnosis dan hipnoterapi adalah apakah SHSS ini benar-benar valid dan bersifat absolut? Artinya, ini sudah harga mati?

Ernest Hilgard adalah tokoh hipnoterapi dan peneliti yang sangat saya hormati. Saya tidak dapat posisi mengatakan bahwa hasil riset Beliau tidak valid. Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa beberapa pakar lain punya pandangan berbeda mengenai hipnotizability.

Setidaknya ada dua pakar yang juga sangat saya hormati menyatakan bahwa sebenarnya semua orang bisa masuk kondisi hipnosis. Kedua pakar ini berbeda pendapat dengan Hilgard dengan alasan bahwa semua riset yang dilakukan Hilgard menggunakan relawan mahasiswa (volunteer) sebagai subjek penelitian dalam setting laboratorium. Data yang digunakan bukan berasal dari klien yang datang ke terapis untuk menjalani hipnoterapi. Jadi, kesimpulannya Hilgard melakukan riset tidak dalam konteks hipnoterapi klinis.

Jadi, sebaiknya saya mengikuti pendapat siapa?

Seiring waktu berjalan, dengan jam terbang dan pengalaman yang semakin banyak, belajar langsung ke berbagai pakar terkenal di luar negeri, membaca lebih banyak buku dan jurnal, saya sampai pada satu kesimpulan yang mengubah paradigma saya. Sekarang saya yakin seyakin-yakinnya, dan ini didukung bukti empiris, bahwa semua orang (100%) bisa masuk ke kondisi hipnosis asalkan ia bersedia dan mengijinkannya. Dan ini sama sekali tidak membutuhkan terapis yang cakap. Intinya, asalkan klien bersedia dan mengijinkannya maka ia pasti bisa masuk ke kondisi hipnosis, tanpa terapis perlu melakukan apapun. Lebih spesifik lagi yang sangat mempengaruhi hipnotizability hanya tiga yaitu motivasi, keyakinan, dan ekspektasi.

Bila anda ingin mendalami riset hipnotizability maka ada banyak studi mengenai level dan kemampuan mencapai kondisi kedalaman hipnosis yang disusun menjadi skala tertentu. Yang cukup terkenal adalah skala yang disusun oleh Liebault (1892), Bernheim (1895), White (1930), Davis dan Husband (1931), Shore dan Orne (1962), dan LeCron-Bordeaux (1949).

Berangkat dari keyakinan bahwa setiap orang bisa masuk ke kondisi hipnosis bila ada motivasi, keyakinan, dan ekspektasi, tanpa dipengaruhi apakah ia masuk kategori yang mana menurut SHSS atau apakah ia tipe physically atau emotionally suggestible, maka saya mengembangkan teknik induksi yang bersifat universal, cocok untuk tipe klien apa saja, dan mampu membantu klien agar punya motivasi, keyakinan, dan ekspektasi yang kuat untuk bisa masuk ke kondisi hipnosis dengan cepat, mudah, dan pasti.

Dengan menggabungkan berbagai pengetahuan yang didapat dari guru-guru saya seperti Anna Wise, Tom Silver, dan Sean Adam, saya mengembangkan teknik induksi dengan menggunakan prinsip psycho-somatic dan somato-psychic yang secara klinis terbukti mampu membawa klien tipe apa saja masuk ke kondisi profound somnambulism atau lebih dalam lagi dengan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi.

Sejak tahun 2008 saya sudah tidak lagi pernah menggunakan SHSS sebagai acuan. Saya menggunakan skala Davis & Husband yang terdiri atas 30 kedalaman trance. Dan seiring waktu berjalan, dari hasil riset dan temuan kami (QHI) pada bulan September 2010 saya menyusun skala sendiri yang diberi nama QHI Hypnotic Depth Scale yang terdiri dari 40 level. Dengan menggunakan skala ini kini kami dapat dengan jelas mengetahui kedalaman trance yang telah dicapai oleh subjek atau klien. QHI Hypnotic Depth Scale selain terdiri dari level kedalaman trance juga secara detil menjelaskan berbagai fenomena yang bisa muncul atau dialami oleh klien baik secara fisik maupun mental.

Jadi, kalau saya boleh memberikan saran pada rekan-rekan sejawat saya, sesama hipnoterapis, hati-hati dengan hal yang kita pelajari atau yakini benar. Pemikiran pakar yang kita pelajari akan membentuk perspesi, yang selanjutnya mempengaruhi kinerja kita. Tidak ada benar atau salah dalam hal ini. Yang ada adalah akibat atau hasil yang akan kita dapat.

Ctrl + Z

Oleh: Hendri Bun

Aku yakin hampir semua tahu apa itu Ctrl+Z. Pengguna produk Microsoft pasti familiar dengan itu. Anda yang sering bekerja di program Office bisa dipastikan hampir setiap hari menekan tombol itu.

Yap … Ctrl+Z yang juga akrab disapa Undo adalah feature yang sangat membantu. Tatkala dengan tidak sengaja kita menghapus sebagian teks di Word, dengan mudah dan cepat kita bisa mengembalikannya hanya tekan Ctrl+Z. Saat iseng mengotak-atik rumus di Excel, trus error, Ctrl+Z seakan menjadi penyelamat kita yang tepat waktu. Atau ketika secara tidak sengaja kita men-delete file di Desktop, yang semula kita pikir itu hanyalah Short Cut, asalkan kita belum terlanjur mengotak-atik yang lain, maka Ctrl+Z menjadi senjata ampuh untuk untuk mengembalikan file tersebut.

Singkat kata, Ctrl+Z sangat membantu di kala kita melakukan sebuah kesalahan di dunia komputer, baik sengaja maupun tidak disengajakan.

Namun, Ctrl+Z tidak selalu berhasil. Bukan karena kesalahan sistem, tapi lebih karena kesalahan user alias kita sendiri. Pengalamanku pernah membuktikannya. Waktu itu aku sedang mempersiapkan bahan training yang rencananya akan digunakan keesokan harinya. Alhasil seharian aku duduk manis depan lapty, mempercantik, menambah fitur, dan merancang seindah mungkin bahan tersebut supaya memikat mata yang memandang. Dan … mendekati jam 16.30 selesai juga.

Nah … saat iseng-iseng mereview lagi hasil kerjaanku, datang rekanku minta tolong untuk rapiin bahan presentasi. Karena memburu waktu pulang, aku pun berpikir praktis. Ah … pakai aja template bahan tadi, biar cepat selesai, demikian pikirku. Namun, aku melakukan kelalaian dan kesalahan, yaitu aku lupa tekan menu File -> Save As … Akibatnya bisa ditebak, bahan training yang aku kerjakan seharian hilang tak berbekas alias ketimpe bahan presentasi tersebut. Sambil berdoa dalam hati, aku tekan Ctrl+Z berulang-ulang, tapi tidak ada hasilnya.

Dan … sambil merenungi nasibku yang malang itu, terpaksa aku berlembur ria mengerjakan ulang bahan training tersebut sambil geleng-geleng kepala seakan tidak percaya, kok bisa gitu loh. Aku yang kata teman-teman orang yang paling teliti bisa melakukan kesalahan dan kekonyolan seperti itu juga. Tetapi itu sebuah hikmah. Semenjak itu aku pun memberi perhatian lebih pada layar kiri atas lapty, memastikan bahwa nama file yang aku edit saat itu adalah yang benar sebelum aku menekan Ctrl+S alias Save.

* * *

Kadang aku berpikir, seandainya hidup ini bisa di Ctrl+Z juga, kira-kira apa yah yang akan terjadi? Hmmm … menarik sekali membayangkan dan mengimajinasikannya.

Saat dengan tidak sengaja aku menyenggol gelas minum di mejaku, trus pecah dan airnya meluncur leluasa hingga menggenangi kertas dokumenku, menggeliat dengan manis membasahi kalkulator hingga rusak, betapa bahagianya aku saat itu seandainya bisa di Ctrl+Z.

Tatkala aku sedang melaju di jalan, mendekati perempatan dengan lampu lalu lintasnya sudah kuning, namun aku melihat kendaraan di depanku terus melaju dan aku pun mengencangkan gas kendaraanku tidak mau ketinggalan dalam rombongan besar itu. Sayang, saat aku lolos dari perempatan, pak polisi sudah menunggu aku dengan senyum dan penuh wibawa … Ah … coba waktu bisa di Ctrl+Z …

Ketika sedang rapat, secara iseng aku menyelutuk dengan maksud guyon supaya suasana tidak tegang, namun disalah artikan pimpinan rapat. Alhasil aku pun dikecam, diceramahin habis-habisan, dan diberi tugas ekstra sebagai penebus keisenganku … Aku berandai-andai, coba aku bisa menekan tombol Ctrl+Z …

Minggu malam, ada siaran langsung sepakbola big match yang sayang untuk dilewatkan. Maka dengan sengaja aku bergadang sampai subuh hanya mempelototi 24 pemain memperbutkan sebuah bola. Padahal aku sadar bahwa besok aku harus berangkat ke kantor lebih awal karena ada tugas yang harus diselesaikan. Alhasil, karena tidur kemalaman, aku pun bangun kesiangan … dan bisa ditebak, kerjaanku molor dan agenda hari itu berantakan. Coba … sekiranya aku bisa tekan Ctrl+Z kembali ke malam sebelumnya, dan tidur lebih awal …

Waktu di sebuah persimpangan yang memaksa aku memilih ke kanan atau ke kiri, aku juga berharap bisa memakai Ctrl+Z. Ketika pilihanku ternyata salah, dengan mudah aku bisa kembali ke posisi awalku untuk memilih jalan satunya lagi … i wish, i can press Ctrl+Z …

* * *

Namun itulah hidup. Tidak segampang dan semudah kita menekan Ctrl+Z. Waktu terus berlalu dan mustahil kita bisa mengembalikannya. Ada pepatah yang mengatakan: Yesterday is the past. Tomorrow is the future. Today is a gift and that’s why we call it the present. Aku menyukai maknanya.

Kita hidup di hari ini, sekarang, dan saat ini juga. Apapun yang kita katakan, kerjakan, dan karyakan selalu mengundang resiko. Untuk itu, bersikap bijaksanalah dalam melakoninya.

*) penulis dapat dihubungi langsung di bun.hendri@gmail.com