Kolom Alumni

3 Obor Dunia


Oleh: Gobin Vashdev

Kalau ditanya apakah peristiwa yang pasti terjadi di dunia yang serba tidak pasti ini? Mungkin hanya ada satu jawaban, yaitu bahwa yang pasti hanyalah berakhirnya hidup ini atau kematian.

Setiap bulan Agustus akan berakhir dan September mulai menggantinya, saya selalu teringat akan satu peristiwa beruntun yang terjadi dua belas tahun yang lalu. Dalam satu minggu di kedua bulan di atas, dunia sangat berduka, kita semua kehilangan bukan satu atau dua, melainkan tiga manusia yang telah memberikan inspirasi yang luar biasa kepada orang lain.

Mereka adalah: Lady Diana, yang pergi secara mendadak bersama kekasihnya pada tanggal 31 Agustus, Viktor E Frankl, pada tanggal 2 September, dan seorang lagi yaitu Bunda Theresa yang melepaskan ikatan jasmaninya pada tanggal 5 September di tahun yang sama, yaitu 1997.

Bagi saya pribadi, ketiga orang di atas bagaikan obor yang menerangi dunia ini, dan walaupun mereka telah pergi dan api di obor itu telah padam, namun cahayanya tetap menerangi dunia ini. Api obor di dalam hati mereka sewaktu hidup telah menyalakan obor-obor yang lain, telah memberikan inspirasi kepada mereka yang berdiam di planet bumi ini.

Pada kesempatan kali ini ijinkan saya berbagi pada Anda semua lewat tulisan, hal-hal yang saya dapatkan dari ketiga manusia yang luar biasa tersebut.

Lady Diana
Kita semua terhentak. Kepergian Putri Diana atau yang sering dipanggil Lady Di sangatlah dramatis, dugaan mengenai penyebab kecelakaannya-pun masih dipenuhi kabut misteri. Mungkin sekali misteri ini akan terkubur selamanya seperti yang terjadi dengan Presiden Amerika yang tertembak, John F. Kennedy.

Kematian adalah kematian, sama seperti kelahiran, keduanya adalah peristiwa penting, namun bagaimanapun juga, yang terpenting adalah apa yang terjadi diantaranya.

Mencermati apa yang terjadi dengan putri cantik ini, ada sesuatu yang menarik yaitu bagaimana perubahan dalam hidup ini terjadi. Lady Di yang dulunya seorang guru taman kanak-kanak yang sederhana, tiba-tiba menjadi seorang permaisuri dari pangeran yang akan mewarisi tahta kerajaan Inggris. Hidup di istana Buckingham bak cerita-cerita dongeng, dianugrahi dua orang putera, semua orang melihat mereka hidup berbahagia, sampai suatu hari terjadilah skandal yang menceraikan mereka.

Setelah perceraian, hampir tidak ada kegiatan Lady Di yang tidak menjadi sorotan, semua yang dia lakukan, bahkan hingga kehidupan pribadinya-pun menjadi kejaran kuli tinta sampai akhirnya Lady Di harus meninggal lewat kecelakaan setelah kejar-kejaran dengan paparazzi.

Banyak sekali yang kita bisa ambil dari kisah seorang Lady Diana, mungkin yang paling mencolok adalah bagaimana hidup ini bisa berubah dengan begitu cepat dan tak terduga, dari seorang yang tak dikenal, kemudian menjadi yang dikenal seluruh jagat ini, dan perubahan-perubahan drastis lainnya. Perubahan dahsyat yang dialami oleh putri cantik ini senantiasa mengingatkan saya bahwa kita harus selalu siap menghadapi perubahan yang terjadi di sekitar kita, dan mungkin yang lebih penting adalah kita harus bisa menerima perubahan sebagai suatu siklus hidup yang wajar di dunia ini.

Namun bagi saya, hal yang paling memberikan kesan adalah setelah perceraian itu terjadi, walaupun sempat diberitakan mengalami depresi dalam menghadapi perceraian akibat perselingkuhan suaminya, namun Diana tidak larut dalam kejadian pahit tersebut. Lady Di muncul kembali menjadi sosok yang berbeda, ia terlihat lebih tegar dan lebih kuat. Walaupun tidak mungkin bisa lepas dari bayang-bayang siapa dia sebelumnya, namun Diana membawa semangat yang baru. Kita bisa melihat dari kepeduliannya terhadap mereka-mereka yang membutuhkan, kepedulian tentang perdamaian dunia dan masih banyak lagi kegiatannya yang membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih indah.

Bangkitnya Diana menjadi pribadi yang lebih baik dari kondisi keterpurukan yang dia alami sebelumnya selalu menjadi motivasi saya disaat keberuntungan sedang tidak menemani, dan juga memberi saya harapan bahwa selalu ada kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi walau berada di tengah prahara dan keadaan diri tidak sama seperti dulu lagi; seperti kata bijak bahwa bukan berapa kali Anda jatuh, yang terpenting adalah berapa kali Anda bangkit dari kegagalan tersebut, dan selalu ingatlah bahwa masa depan tidak sama dengan masa lalu.

Viktor E. Frankl
Bila dibandingkan dengan Lady Di dan Mother Theresa, nama Viktor Frankl mungkin terasa asing kedengarannya. Ya memang tidak bisa dipungkiri, paling tidak di Indonesia, nama Viktor Frankl mungkin hanya beredar di kalangan sahabat-sahabat yang bergelut dalam bidang psikologi atau suka membaca buku-buku pengembangan diri (self help).

Viktor Frankl adalah seorang psikolog yang dipenjara dalam Auschwitz (kamp maut Nazi), di mana ia mengalami siksaan yang luar biasa setiap hari selama hidupnya di sana. Seluruh keluarganya kecuali saudara perempuannya meninggal di kamar gas, dan dia tidak pernah bisa tahu sampai kapan penderitaannya berakhir, apakah ia akan bebas dengan selamat atau nasibnya akan mengikuti anggota keluarganya yang lain.

Dalam keadaan yang sangat tertekan itu, Viktor Frankl dapat memanfaatkan apa yang disebutnya sebagai kemampuan manusia yang terbesar, yaitu kebebasan untuk memilih respon. Dalam kebebasan memilih inilah Frankl memanfaatkan kesadaran diri lewat imajinasi serta suara hatinya dan kehendak bebas dari pengaruh lingkungan yang lain, sehingga ia memiliki ”kebebasan” dari orang-orang Nazi yang menangkapnya.

Yang lebih hebatnya lagi, Viktor Frankl selalu dapat mencari makna yang positif dalam penderitaannya, dan kemudian setelah bebas dari kamp maut tersebut, Frankl menelurkan sebuah aliran terapi yang beranama Logoterapi. Logo berasal dari bahasa Yunani, yaitu “logos’ yang berarti makna, jadi logoterapi adalah psikoterapi yang berfokus pada upaya pencarian makna hidup.

Bagi saya, mencari makna dari suatu kejadian adalah hal yang harus dilakukan bila kita ingin selalu berbahagia dan bersyukur. Setiap teringat Viktor Frankl, saya selalu teringat pengalaman saya sewaktu mengikuti sebuah acara reality show Penghuni Terakhir, dalam acara itu saya bersama teman-teman yang lain tinggal di satu rumah yang terisolasi dari dunia luar, tanpa TV, tape, radio, apalagi handphone, bahkan buku, kertas, maupun alat-alat tulis juga dilarang.

Di dalam rumah yang terawasi setiap sudutnya dengan kamera 24 jam, kami -para penghuni- tidak mengetahui apa yang akan terjadi di menit kemudian, semua yang terjadi tidak dapat diprediksikan, bahkan tidak jarang kami dibangunkan di tengah malam untuk keperluan syuting. Satu hal lagi, di rumah tersebut tidak ada jam sehingga saya dan teman-teman disana tidak pernah tahu jam berapa pada saat dipaksa bangun, satu-satunya pedoman waktu kami hanyalah matahari.

Untuk beberapa hal, mungkin tinggal di rumah Petir lebih keras dan lebih ketat daripada tinggal di lembaga permasyarakatan, ini murni penilaian pribadi saya setelah berkesempatan untuk mengunjungi beberapa lembaga permasyarakatan dan rumah tahanan dalam rangka pelatihan stress management untuk para narapidana. Hukuman adalah suatu hal yang biasa, bahkan dari 14 minggu saya bertahan di rumah itu, pernah dua minggu saya dihukum tidak boleh keluar dari kamar yang saya tempati dan satu minggu dihukum hidup dalam sangkar ayam. Pindah tempat tinggal ke sangkar ayam ternyata sangat menancap dalam benak pemirsa, sampai-sampai setiap orang yang bertemu saya selalu bertanya,
“Bagaimana rasanya hidup di sangkar ayam?? Pasti sangat stress ya??..”

”Tidak”, jawab saya. “Saya sangat menikmati, saya memang kehilangan ruang tapi saya mendapat waktu yang banyak …”

Ya, memang agak janggal bila ada orang yang menikmati pada saat harus dikurung di ruang sesempit itu, namun itulah sebetulnya yang saya rasakan. Saya memang tidak leluasa bergerak, namun saya punya kesempatan yang menggunung untuk merenung, bermeditasi dan berdoa tanpa diganggu oleh orang lain, dan yang paling utama adalah lepas dari godaan pikiran sendiri untuk melakukan aktivitas yang lain.

Viktor Frankl selalu menjadi inspirator saya dalam menghadapi kejadian-kejadian sulit, saya tidak hanya harus berjuang menghadapi ketidaknyaman, namun yang lebih penting adalah berusaha menemukan makna di balik ketidaknyamanan itu. Seperti kata Frankl, “manusia seharusnya tidak bertanya tentang makna hidupnya, melainkan sadar bahwa dialah yang akan ditanyai”. Dengan kata lain, manusialah yang akan ditanyai oleh hidup, dan jawaban yang bisa diberikan hanyalah dengan bertanggung jawab terhadap hidupnya. Dalam Logoterapi, tanggung jawab merupakan esensi dasar dalam kehidupan manusia. Hidup ini penuh pilihan, dan kita selalu bisa memilih apa yang akan kita perbuat walaupun kita tidak bisa menentukan dengan pasti konsekuensi apa yang akan terjadi akibat pilihan kita tersebut. Namun seberapapun beratnya konsekuensi yang terjadi, kita juga selalu mempunyai kemampuan untuk memilih respon; dan seberapapun besarnya akibat dari pilihan yang kita buat, kita harus bertanggungjawab atasnya.

Kata tanggung jawab dalam bahasa Inggris adalah responsibility (baca: “response-ability”) yang artinya kemampuan untuk memilih respon. Dalam menghadapi ketidaknyamanan kita selalu punya pilihan, kita bisa mengeluh, menyalahkan orang, marah atau kita bisa memilih untuk tersenyum, menikmati prosesnya dan bersyukur menerima semua yang terjadi … semua itu adalah response yang bisa kita pilih. Walaupun secara emosional ini adalah hal yang dirasa sangat susah dan banyak orang mengatakan tidak bisa, namun saya percaya, sebagai manusia kita punya kemampuan secara sadar untuk memilih respon dan apapun nanti respon yang kita pilih, kita pasti mampu melakukannya, asalkan kita benar-benar mau.

Bila ada sebuah kejadian, kita bisa melihatnya sebagai masalah atau tantangan, kita bisa merasa tertekan atau malah tertantang, semua tergantung pada makna yang kita berikan dalam kejadian tersebut. Hal yang sama dilakukan oleh Lady Di, dia mengambil arti yang berbeda dari kebanyakan orang, arti yang sangat luar biasa dalam menghadapi perceraiannya, dia bangkit dan melihat bahwa inilah saatnya berkarya untuk dunia ini. Perceraian yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai petaka dan dijadikan sebagai ajang untuk menyalahkan pasangan serta melakukan pembenaran terhadap apa yang mereka lakukan setelahnya, oleh Diana dianggap sebagai pintu yang terbuka di mana dia bisa melayani dunia yang haus akan cinta ini. Bukankah ini suatu yang indah?

Mother Theresa
Kalau bercerita mengenai manusia mulia satu ini pasti tiada habisnya, seluruh dunia telah mengenal wanita berhati lembut sekaligus tegar ini, Mother Theresa telah menjadi ikon dunia untuk perjuangan kemanusiaan terutama bagi kaum papa. Wanita peraih nobel perdamaian ini selalu berkata bahwa apa yang diberikan untuk kaum papa tidak ada apa-apanya dibanding apa yang diterimanya dari mereka, kaum papa mengajarkannya bagaimana menghimpun kekuatan dan ketegaran dalam menghadapi kondisi sulit. Mereka adalah guru-guru kita.

Sebelumnya, ada satu pertanyaan yang menggantung di kepala ini tentang Mother Theresa, yaitu bagaimana beliau beserta suster-susternya bisa kebal dari penularan penyakit. Bagaimana mungkin?

Dalam konstruksi logika dan doktrin tentang kesehatan yang sebelumnya pernah saya pelajari, rasa-rasanya hal tersebut di luar penalaran. Apalagi sewaktu saya berkunjung ke tempat saudara-saudara kita yang kurang beruntung yg tinggal di TPA atau perkampungan yang jauh dari kondisi layak huni, atau ketika saya menghibur saudara-saudara yang menempati panti rehabilitasi karena terserang suatu penyakit kronis, sering kali terbersit dalam pikiran saya ketakutan akan tertular virus atau bakteri. Ketakutan ini semakin besar lagi sewaktu saya menghabiskan waktu berbulan-bulan lamanya berkumpul dengan ratusan jenasah dan sahabat-sahabat yang selamat dari peristiwa bom Bali lalu, ditambah lagi dengan keadaan yang begitu chaos dan tingkat ketegangan yang tinggi sehingga tak memungkinkan untuk mengkonsumsi makanan sehat dan beristirahat secara teratur.

Namun rasa penasaran ini berakhir ketika secara kebetulan saya mendengar sebuah artikel yang dibacakan di sebuah radio FM tentang sebuah penelitian yang dilakukan oleh psikolog dari Harvard, David McClelland dan Carol Kirshnit tentang hubungan antara empati dan kekebalan tubuh. Hasil penelitiannya sangat mengagumkan yaitu terjadinya kenaikan tingkat Immunoglobulin A
(IgA) yang di-tes dari air liur penonton yang menyaksikan film tentang Bunda Theresa atau film-film lain yang mengundang empati.

Mengaggumkan sekali bukan? Bagaimana tubuh secara otomatis akan memproduksi zat untuk menaikkan kekebalannya apabila kita memikirkan sesuatu atau seseorang secara empati.

Di dunia ini banyak yang kita tahu, namun lebih banyak yang kita tidak tahu. Banyak yang kita bisa lihat, namun banyak sekali yang kita tidak lihat, dan seberapapun sedikit yang kita lihat, kita selalu mempunyai pilihan dari sudut mana kita mau melihatnya.

Tiga inspirator dunia pergi secara hampir bersamaan, kita bisa melihatnya sebagai kehilangan yang besar untuk dunia, namun saya lebih senang melihatnya bahwa tiga manusia hebat ini pindah tempat ke dalam hati setiap orang selamanya.

*) Gobind Vashdev, Alumnus Workshop Menulis Buku Best Seller Batch V ini dapat dihubungi langsung di v_gobind@yahoo.com

Telah di baca sebanyak: 1521
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *