Kolom Alumni

Memaknai Jargon ‘Take Action’

Oleh: Anang YB
Setahun lalu ada dua tetangga saya yang di PHK bersamaan. Keduanya bisa mendadak menganggur bersamaan karena memang bekerja di satu pabrik yang sama. Yang membedakan keduanyanya adalah warna seragam mereka. Tetangga yang satu kerah bajunya berwarna biru, sedangkan tetangga satunya lagi berkerah putih dan biasa terlilit dasi.

Biarpun tenggorokannya biasa terlilit dasi, tapi tetangga saya ini –saya biasa memanggilnya Pak Manuel- jauh lebih banyak bicara dibandingkan Mas Mancuk rekan sekantornya yang levelnya jauh di bawah Pak Manuel. Sayangnya, keduanya bernasib sama buruknya, yakni tak mendapat pesangon sepeser pun karena pemilik perusahaan kabur entah ke mana.

“Kini saatnya saya untuk take action,” kata Pak Manuel mantap. Saya langsung nyambung dengan perkataan dia karena saya tahu kalau Pak Manuel sudah lama ingin menjadi entrepreneur. Berulang kali hal itu dia sampaikan ke saya. Konon, ada belasan mailing list bertema bisnis dia ikuti. Benar saja, belum seminggu Pal Manuel menganggur, dia sudah meyambangi saya dengan setumpuk dokumen yang dia unduh dari internet.

“Jaman sudah berubah, Pak!” kata Pak Manuel. “Bisnis modern bisa dilaksanakan secara simple dan tak perlu modal yang besar. Yang penting positioning kita. Cukup kita pasang mata lebar-lebar dan cari tahu apa yang paling dibutuhkan masyarakat. Asal jeli, kita pasti dapat satu produk yang dijamin bakal diburu masyarakat. Saya jamin itu.”

Saya pun mengangguk-angguk. Pak Manuel lantas menunjukkan artikel tentang perjuangan pendiri Amazon dotcom, Google dan termasuk beberapa pebisnis lokal yang sukses besar setelah memanfaatkan dunia maya. Pak Manuel pun menceritakan ide bisnisnya yakni berjualan GPS (Global Postioning System). “Saya bersyukur dan berkeyakinan Indonesia tidak pernah lepas dari kemacetan di jalan raya. Ujung-ujungnya setiap orang bakal butuh piranti pemandu jalan. Jadi, sangat pas bila saya menjual GPS,” tutur Pak Manuel.

Pak manuel pun dengan penuh semangat menghabiskan waktu sebulan penuh untuk mencari agen GPS terbaik. Beberapa kali dia mencoba membuat deal dengan agen lokal namun selalu dibatalkannya. Entah karena dia anggap tidak bonafid, tidak memiliki itikat baik, dan seterusnya. Akhirnya menginjak bulan kedua, Pak Manuel pun mendapat mitra langsung dari Taiwan.

Tidak berhenti di situ, Pak Manuel pun lantas merancang website untuk usaha barunya itu. Biar pun tak punya latar belakang di bidang disain web, Pak Manuel terus asyik membuat toko online. Dicobanya menggunakan Joomla, Oscommerce hingga wordpress dengan sekian banyak plug-in pembuat toko online. Tak puas dengan itu semua, dicari dan terus dicobanya berbagai freeware yang bertebaran di internet. Suatu ketika saya bertanya mengapa dia tidak membeli disain toko online yang siap pakai? Dengan tegas dijawabnya bahwa kalau bisa membuat sendiri, mengapa juga musti mengeluarkan uang? Jawaban yang sama juga dilontarkannya ketika dia bermaksud menggunakan hosting dan nama domain gratis. Bahkan dengan bangga ditunjukkannya sekian banyak penyedia hosting gratis yang sekaligus menjanjikan bakal memberikan sekian dollar bila pemakai mampu mengajak orang lain untuk menggunakan hosting gratisan serupa.

Selama beberapa bulan tenggelam dalam keasyikan membuat toko online, membuat Pak Manuel mondar-mandir ke warnet. Kok tidak langganan internet di rumah pak? Tanya saya. Lho buat apa? Sahut dia. Efisiensi musti diterapkan sejak awal sebuah bisnis dibangun. Untuk apa saya berlangganan internet 1 GB kalau kebutuhan saya hanya beberapa megabyte? Jawab Pak Manuel yakin sekali.

Memasuki bulan keenam sejak menganggur, situs toko online Pak Manuel pun siap. Saya pikir bisnis barunya bakal segera grand opening. Nyatanya tidak. Saya perlu melengkapi toko online saya, katanya. Lagi-lagi dia menunjukkan satu tulisan yang dia comot dari internet. Semestinya sebuah toko online bisa menjadi one stop shopping, papar Pak Manuel. Pinginnya, saya akan melengkapi toko online saya dengan barang-barang selain GPS. Tak masalah, saya sudah punya nomor kontak agen alat survey, theodolith, compass, dan gadget sebangsa itu. Jadi launching situs saya –untuk sementara waktu- akan saya tunda. Tak masalah, lebih baik saya mundur satu langkah untuk membuat satu lompatan besar, betul kan? Tanya dia. Saya hanya bisa mengangguk sambil menarik napas panjang.

***

Bagaimana dengan nasib Mas Mancuk rekan sepabrik Pak Manuel yang sama-sama jadi Penganggur? Ah, kisah dia tidak begitu menarik. Yang saya dengar, sehari setelah di-PHK Mas Mancuk menjual motor bebeknya. Uang hasil penjualan motor dia belikan satu sepeda, satu buah blender, beberapa kotak Pop Ice aneka rasa dan perlengkapan membuat Pop Ice seperti gelas plastik, sedotan, agar-agar dan sebangsa itu.

Hanya dua hari Mas Mancuk menganggur. Pada hari ketiga sejak di-PHK, Mas Mancuk sudah memulai hidup baru sebagai penjual Pop Ice.

***

Satu tahun sudah terlewati sejak kedua tetangga saya itu di-PHK. Kini saya baru sadar ternyata saya terlalu menganggap remeh langkah Mas Mancuk. Jangan kaget bila warung Pop Ice Mas Mancuk makin ramai. Tak hanya satu, kini Mas Mancuk punya empat blender sekaligus. Tak hanya menjual Pop Ice, jus buah segar pun dia jual. Bila siang menjelang, pastilah warung itu menjadi ramai oleh anak-anak sekolah yang mampir untuk meneguk es sebelum pulang ke rumah. Warung Mas Mancuk pun menjual aneka kue basah, roti, dan aneka gorengan. Bahkan Mas Mancuk pun menjadi agen brownies dan roti tart. Bila pagi datang, berderet para pembuat kue menitipkan barang dagangannya pada Mas Mancuk. Hidup Mas Mancuk sudah berubah walau tidak sefantastis gambaran indah yang ditawarkan para pelaku internet marketer. Motor bebek sudah dimilikinya kembali. Anak satu-satunya pun tampak sehat dan paling hobi berkeliling dengan sepeda gunung hadiah ulang tahun dari kedua orang tuanya.

Oh ya, bagaimana dengan keadaan Pak Manuel sekarang? Tentu saja dia masih konsisten dengan kegiatan sehari-harinya: berbekal uang sepuluh ribu rupiah pemberian isterinya yang bekerja menjadi bidan, dia masih setia menyambangi internet dan duduk manis di sana selama dua jam!

salam,
Anang YB, Alumni workshop ”Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller batch VII”; www.jejakgeografer.com

Telah di baca sebanyak: 2307
admin
Admin Pembelajar.