Andrias Harefa

Write and Grow Rich

Andrea Hirata nampaknya tak menduga bahwa karyanya akan tercatat dengan tinta emas dalam sejarah penulisan buku (sastra) di Indonesia. Sebab bukan dia yang mengirimkan naskah itu ke penerbit, melainkan temannya sesama karyawan Telkom.

Haidar Bagir, Presiden Direktur Mizan Publishing, yang membuat keputusan agar novel Laskar Pelangi diterbitkan oleh Bentang dari Yogyakarta, juga tak menduga karya Andrea Hirata itu akan mencatat rekor khusus dalam soal penjualannya. “Kami tahu buku itu bagus dan bakal laku, tapi tidak tahu bakal selaku ini,” katanya pada Kompas (12/10/08).

Apapun novel Laskar Pelangi, yang disusul Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov, mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Dan setelah film Laskar Pelangi yang ditangani Mira Lesmana dan Riri Reza juga meledak di pasaran, di tonton lebih dari 1,5 juta orang sepanjang Oktober 2008 (belakangan jumlahnya menembus angka 4 juta penonton), maka film berikutnya menjadi masuk akal untuk dibuat. Benar-benar luar biasa.

Apa yang saya pelajari dari fenomena tetralogi Laskar Pelangi? Untuk kepentingan tulisan ini, saya ingin menyebutkan dua hal. Pertama, novel ini tidak dirancang untuk menjadi best-seller. Suksesnya tidak merupakan hasil dari perencanaan dalam pengertian tradisional. Tak ada pembicaraan khusus antara penerbit dan penulis untuk mempromosikan novel ini secara besar-besaran. Andrea Hirata juga tidak melakukan apapun yang bisa dianggap spektakuler dan revolusioner, untuk membuat novelnya laku. Namun, kekuatan alam semesta agaknya bekerja sama dan membuat novel ini menginspirasi jutaan orang, termasuk penulisnya sendiri. Andrea Hirata telah membuat karya yang bahkan mengubah dirinya sendiri. Jika perjumpaannya dengan Ibu Muslimah dan Pak Harfan di tahun 70-an silam merupakan transformasi diri tahap satu (level pembelajaran), maka setelah novelnya meledak di pasaran, ia mengalami transformasi tahap dua (level kepemimpinan). Kemungkinan ia akan beralih profesi dan melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukannya sebelum ini. Jika langkah-langkahnya bijak, saya berkeyakinan ia akan mengalami transformasi tahap tiga (level keguruan).

Pelajaran kedua, Laskar Pelangi memberikan suntikan optimisme yang luar biasa bahwa di negeri ini orang bisa mengandalkan nafkah hidup dari menulis. Dalam ungkapan yang lebih bombastis, orang bisa menjadi kaya dengan menulis. Atau meminjam judul karya klasik Napoleon Hill (1937) Think and Grow Rich, kita bisa mengatakan write and grow rich.

Bagaimana tidak. Laskar Pelangi dijual seharga Rp 69.000,- atau Rp 138.000,- (hard cover berbonus CD). Sang Pemimpi dibanderol Rp 49.000,- dan Edensor dijual Rp 44.500,- per eksemplar. Dan sampai pertengahan Oktober 2008, Haidar Bagir memperkirakan ketiga novel tersebut sudah terjual sekitar 1,2 juta eksemplar. Artinya, kalau dihitung secara konvensional dengan royalti penulis yang 10% dari harga jual toko buku, maka Andrea Hirata sudah menjadi miliarder baru dalam kurun waktu tiga tahun (pertama terbit September 2005). Ini belum memasukkan keuntungan dari filmnya yang juga sukses dan terutama undangan bicara di berbagai tempat yang membuatnya mendapatkan honor-honor lain yang susah dilacak jumlahnya.

Seorang kawan yang melakukan perhitungan secara spekulatif mengatakan, bahwa dalam kurun waktu 5 tahun (2005-2010), uang yang mengalir ke kantong Andrea Hirata dari tetralogi Laskar Pelangi, akan melewati angka Rp 20 miliar. Jumlah yang fantastis, bukan?

Jika Andrea Hirata, penerbit Bentang, dan Haidar Bagir tidak menyangka bahwa novel Laskar Pelangi akan sefenomenal saat ini, maka lain lagi cerita buku Financial Revoution (FR) karya Tung Desem Waringin (TDW). Dalam konteks buku-buku panduan (how-to) atau swa-bantu (self-help), buku FR menarik untuk diperbincangkan, terutama dari aspek proses perencanaan penjualannya yang tidak galib. Kebetulan waktu terbitnya Agustus 2005, sebulan lebih awal dari Laskar Pelangi.

Untuk memastikan bahwa buku ini diterima oleh masyarakat, TDW selaku penulisnya memilih melakukan “revolusi” dengan caranya sendiri. Ia mengundang sejumlah wartawan untuk menyaksikan bagaimana ia berkuda menembus jalan Jenderal Sudirman sambil membawa kaver buku FR ditangannya, lalu mengadakan jumpa pers. Ia juga gencar mengiklankan buku dan seminarnya di harian Kompas untuk mendapatkan pesanan dimuka, sebelum buku itu sendiri terbit. Proses promosi itu sudah gencar dilakukan 2-3 bulan sebelum bukunya terbit.

Hasilnya? Buku tersebut mencatat rekor MURI sebagai buku yang paling banyak terjual pada hari pertama peredarannya di negeri ini: 10.511 eksemplar. Harganya dipatok Rp 85.000,- (softcover) dan Rp 125.000,- (hardcover). Lalu, data terakhir yang saya peroleh dari penerbit menunjukkan bahwa, sampai akhir September 2008 buku FR edisi hardcover terjual 55.072 eksemplar, dari jumlah totalnya 108.551 eksemplar. Pukul rata, selama 38 bulan penjualannya, FR terjual 2.850 eks/bulan (dalam kurun waktu yang hampir sama Laskar Pelangi terjual rata-rata 17.000 eks/bulan).
TDW tentu mendapatkan royalti di atas Rp 1 miliar dari buku FR itu. Namun, pendapatannya yang jauh lebih besar adalah undangan bicara sebagai efek dari publisitas yang gila-gilaan, sesuai dengan karakter dirinya yang “revolusioner”. Dibandingkan royalti yang diterimanya, publisitas buku itu telah mengalirkan puluhan kali lipat ke koceknya dari bisnis bicara.

Write and grow rich. Dua kasus yang saya sebutkan di atas menunjukkan bahwa mulai terbuka peluang untuk menjadi kaya lewat jalur kepenulisan. Tidak soal apakah itu lewat cara Andrea Hirata atau cara Tung Desem Waringin. Yang penting, kalau kompetensi sebagai penulis di asah terus, maka upaya menafkahi hidup dengan menulis telah menjadi pilihan yang masuk akal di negeri ini.
Anda tertarik?

Mau belajar menulis buku best-seller? Silahkan hubungi 021-32603383 atau klik www.proaktif.biz

Andrias Harefa
Penulis 30 Buku Best-seller — Pendiri WRITERSCHOOL

Telah di baca sebanyak: 1101
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *