Agoeng Widyatmoko

Antara Perkawanan dan Bisnis


Dulu, saya sering sekali mendengar ucapan orang yang diucapkan dengan nada slenge’an. Ungkapan itu berbunyi: “Bisnis ya bisnis, teman ya teman…” Ucapan itu disampaikan saat seorang rekan menawar harga barang yang ditawarkan oleh rekan yang lain. “Kok mahal amat? Kita kan udah lama berkawan, diskon yang gede doong,” ujar rekan yang satu. Sambil meringis, rekan satu lagi segera menyahut, “Aku kan beli ini bukan pakai uangmu kawan, dan bukan pula dibayar dengan perkawanan. Tapi, murni pakai uang…”

Kadang, kita memang menemukan kondisi seperti kisah rekan saya di atas. Karena alasan pertemanan, sebuah bisnis atau usaha, bisa berjalan lancar, tapi juga sebaliknya. Kalau lancar, kadang orang kemudian mengindikasikannya dengan nepotisme. Kalau tidak lancar, kadang bisa merusak persahabatan. Nah, serbasusah kan?

Belakangan, saya getol memaksimalkan potensi orang-orang yang ada di sekeliling saya untuk membantu melancarkan usaha. Dalam artian positif tentunya. Rekan yang bisa urusan desain, saya maksimalkan potensinya untuk menggarap pekerjaan yang berbau desain grafis, mulai dari bikin iklan, brosur, hingga ke banner dan poster. Yang jago menulis, saya kerahkan untuk menulis di beberapa website dari klien-klien saya. Kemudian yang jago web dan program, saya serahi pula tanggung jawab untuk mengerjakan beberapa karya untuk klien-klien saya.

Sampai di sini, semua tak ada masalah. Semua senang. Saya mencarikan order dan proyekan, dan mereka mendapat banyak tambahan penghasilan tanpa harus pontang-panting mencari orderan pekerjaan. Klop! Maka, tak heran, sekian tahun lamanya, usaha ini berjalan makin mulus. Semua terpuaskan. Dari sisi klien saya pun, mereka merasa mendapatkan layanan yang cepat dan handal, serta tentunya berkualitas. Sebab, untuk satu hal ini—soal kualitas—saya bisa jadi seorang yang cukup galak.

Tapi, tahukah Anda, bahwa proses menjadi galak itu tak gampang loh. Dan, inilah yang akan saya bagikan kepada Anda sekalian. Saat awal menjalani bisnis jasa ini—saya bergerak di bidang jasa komunikasi, penulisan, dan event—semua memang tampak berjalan mulus-mulus saja. Rekanan yang saya dan istri pilih, mampu memberikan hasilnya yang maksimal. Dari soal desain, tulisan, hingga ke event yang kami kerjakan, seolah berjalan normal dan nyaris tak ada gesekan.

Padahal, sesungguhnya, me-manage orang lain—apalagi sudah kenal akrab dan dekat itu kadang susahnya minta ampun. Mau dikerasi, takut merusak persahabatan. Terlalu lembut, kadang justru melenakan. Nah, mencari jalan tengah inilah yang kadang perlu manajemen diri dan emosi yang mumpuni.

Pernah, suatu ketika ada klien yang komplain tentang hasil pekerjaan yang dilakukan. Seharusnya, ini hal yang biasa. Bukankah kritik dan masukan itu justru bagus untuk perbaikan? Tetapi, jika kemudian hal ini menyangkut dengan profesionalitas kerja rekanan yang sudah dekat (baca: sangat dekat) dengan kita, kadang untuk menyampaikan hal ini menjadi sulit. Sungkan, tak enak hati, takut merusak pertemanan, semua hal ini menjadi kendala yang jika tak segera diatasi, justru akan merusak pertumbuhan usaha itu sendiri.

Nah, berkaitan dengan hal ini, ada beberapa hal yang pernah kami lakukan. Barangkali, ini akan berguna juga bagi yang mengalami masalah yang sama.
1. Buat perjanjian hitam di atas putih. Meski teman dekat, adanya perjanjian tentang hak dan kewajiban yang tertulis dan disepakati bersama akan lebih memudahkan bagi kita jika kelak ada masalah.
2. Sejak awal, pisahkan antara urusan pekerjaan dan pertemanan. Sepakati pula hal-hal apa yang boleh dan tidak boleh dilanggar dalam kerja sama yang dilakukan.
3. Tegaskan porsi tanggung jawab masing-masing dalam kerja sama tersebut. Ini berguna untuk membatasi ranah-ranah pribadi yang mungkin saja akan banyak bersinggungan dalam proyek bersama tersebut.
4. Sepakati benar soal hak dan kewajiban. Ini menyangkut juga tentang porsi pembagian hasil kerja. Kadang, urusan uang bisa jadi masalah jika tak ada batasan yang jelas sejak awal. Banyak kasus terjadi, saat untung kecil masih tak ada yang peduli, namun begitu besar, jadi berkelahi. Nah, Anda tak ingin itu terjadi bukan?
5. Beranikan diri untuk marah, demi kebaikan bersama. Kadang, saat ada masalah, karena alasan pertemanan, yang harusnya diperbaiki, jadi berlarut-larut karena tak ada yang berani mengoreksi. Ada satu trik yang saya lakukan untuk mengatasi hal ini jika sampai (terpaksa) terjadi. Saya dan istri akan bertukar posisi untuk memarahi. Misalnya, saat yang perlu dikoreksi adalah rekan atau sahabat saya, maka jatah istri sayalah yang akan menegur. Begitu juga sebaliknya. Dengan begitu, rasa sungkan akan bisa lebih diminimalisir.

Setiap orang punya cara dan triknya masing-masing untuk mengatasi masalah dengan rekan usaha yang juga sahabat dekat. Tapi sebenarnya, yang penting lagi adalah komunikasi yang intens dan keberanian untuk bertindak profesional dalam segala situasi. Cara inilah yang menurut kami justru paling tepat untuk mengatasi perjalanan usaha bersama teman-teman hingga saat ini. Nah, bagaimana dengan Anda?

Agoeng Widyatmoko adalah penulis buku laris 100 Peluang Usaha. Ia kini juga menjadi konsultan usaha kecil keluarga dan UMKM. Untuk berkonsultasi, ia bisa dihubungi di 08128950818

Telah di baca sebanyak: 1004
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *