Kolomnis

Antareja dan Durna di Singapura


“..bukumu ada di Perpustakaan sini, Pit… kamu musti lihat..”, begitu kalimat terlontar dari salah seorang sahabat yang tinggal di Singapura, ketika kami bertemu beberapa hari lalu saya berkesempatan beberapa hari tugas di negri itu. Di hari keempat saya di sana, sore hari kami pun menyusuri jalan Victoria Street, dari hotel ke arah utara. Sungguh kebetulan, hotel tempat saya menginap ternyata tidak begitu jauh dengan National Library Board of Singapore. Dan betul kata teman saya, kunjungan saya ke negri itu tidak boleh melewatkan agenda ‘menjenguk’ buku saya yang menjadi koleksi perpustakaan di sana.

Singapura adalah negri yang menarik. Sekitar setahun lalu juga saya pernah berkunjung ke sana. Tak banyak yang berubah. Semua tertata rapi. Segala infrastruktur dan prasarana kehidupan seolah ditata dan disiapkan begitu rupa dengan sempurna. Kereta MRT yang murah dan tak pernah terlambat. Lalu lintas yang terkelola kepadatannya. Taman kota yang selalu tertata rapi. Pejalan kaki yang ditempatkan lebih tinggi kedudukannya daripada pengguna jalan lainnya. Fasilitas yang juga selalu tersedia bagi para difabel. Saya yang kebetulan menginap di bilangan City Hall, dengan agenda seminar di gedung Suntec City, jarak yang harus ditempuh kurang lebih sekitar dua kilometer, tapi terasa nyaman dan tak terasa, ketika jalur jalan kaki ke sana menyusuri jalan bawah tanah bernama City-Link yang ditata bak super market dengan gerai-gerai toko aneka macam di kiri-kanan sepanjang perjalanan.

Belum lagi tentang aturan dan hukum yang dijunjung tinggi ditegakkan. Saya bahkan hampir tak pernah melihat lalu-lalang atau polisi penegak hukum di pinggir jalan. Tapi orang-orang itu begitu taat. Tak ada buang sampah sembarangan. Larangan merokok di tempat umum, membuat seorang perokok yang pernah saya jumpai seperti terpaksa malu-malu merokok di sudut pojok bangunan dan merasa kikuk bila ada orang melihatnya merokok. Tak ada corat-coret di dinding ataupun fasilitas umum yang rusak.

Hari-hari pertama menyusuri sampai sudut negri Singapura, mungkin banyak orang sepakat bahwa inilah mungkin negri yang sempurna, bisa menjadi contoh tentang sebuah kehidupan bagaimana sebaiknya ditata. Tapi entahlah, beberapa hari kemudian, saya merasakan ada yang kurang di sana. Tiap pagi berjalan kaki memperhatikan lalu lalang orang-orang itu, mereka seperti murung, seperti ada yang kurang dalam diri mereka.

Orang-orang itu saya perhatikan berjalan begitu cepat. Mereka seperti diburu waktu. Waktu tersedia seperti tak cukup untuk kehidupan yang mereka jalani. Sebagian besar dari mereka berjalan sambil mengenakan head-phone di kepala. Bahkan ada yang berjalan sambil menunduk jemarinya sibuk memainkan smart-phone. Atau saya juga sempat lihat seseorang berjalan sambil memandang komputer tablet yang memutar film. Hampir tak ada yang tersenyum, tak ada yang ketawa. Semua serius. Bila ada beberapa diantara mereka tersenyum lebar, biasanya bisa ditebak adalah para pelancong yang berlibur berkunjung ke negri itu.

Tapi mungkin karena itulah, orang-orang kemudian haus butuh sesuatu untuk mengisinya. Itulah mengapa, konon katanya, seni dan berkesenian adalah sesuatu yang diletakkan pada kedudukan yang tinggi. Seni pertunjukkan menjadi sebuah tontonan berkelas. Karya seni dianggap sebagai barang langka karena tak banyak orang yang merasa bisa menghasilkannya. Termasuk ketika saya melihat sendiri bagaimana mereka merawat buku sebagai salah satu karya seni sastra.

Perpustakaan itu begitu nyaman. Begitu sejuk oleh pendingin ruangan. Saya langsung menuju ke lantai sembilan dimana buku karya saya dikoleksi diletakkan di sana. Sebagai salah satu buku yang mereka sebut ‘reference-list’, adalah buku-buku yang hanya boleh dibaca di sana, tidak boleh dipinjam untuk dibawa pulang. Memasuki ruangan besar lantai sembilan, penuh berisi rak buku. Ada banyak orang di sana, tapi suasana begitu tenang, bahkan saya bisa mendengar langkah kaki saya sendiri di atas karpet ruang itu.

Terus terang saya merasa terhormat melihat buku saya ada di sana. Walaupun saya juga berusaha memberi pengertian kepada diri saya agar tidak terlalu berbangga, karena saya sadar cara menulis saya sebenarnya masih jauh dari sebuah kategori karya sastra yang baik. Tapi mungkin karena itulah, buku saya dianggap bisa menjadi pengisi ‘kekosongan’ kehidupan di sana. Sebuah kisah klasik dunia wayang yang ditulis dengan gaya bahasa kekinian secara detail dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Adalah dua buku saya, Antareja-Antasena dan Resi Durna, yang kebetulan mengisi perpustakaan itu. Di fasilitasi oleh sahabat saya yang tinggal di negri itu, saya pun berinisiatif untuk kemudian menyumbangkan novel dunia wayang karya saya yang lain untuk melengkapi koleksi di sana.

Saya tidak tahu, apakah kehidupan seperti negri Singapura sudah dikatakan sebagai contoh komunitas negri yang dewasa. Memiliki produkstifitas yang tinggi, juga kebersamaan dalam perbedaan berbagai ras dengan landasan saling menghargai yang begitu tinggi. Saya pun sempat menangkap momen yang menarik, ketika saya melihat seorang perempuan muslim bercadar melakukan transaksi jual beli secara biasa dengan sang penjual kedai makanan seorang pemuda etnis Cina. Sesuatu yang mungkin sulit ditemui di negri kita.
Kita harus banyak belajar tentang mereka, seperti mereka yang merasa masih butuh untuk belajar tentang kisah Antareja dan Durna.

*) Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com
Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga


Telah di baca sebanyak: 1644
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *