Artikel Terbaru

Apa pun yang Anda Perlukan

Help-One-Another-Faith-Stock-PhotosSaya bekerja sebagai konsultan di sebuah perusahaan. Tugas saya adalah membantu direktur dan para wakil direktur senior merumuskan dan menerapkan strategi baru mereka.

Pekerjaan itu sungguh pekerjaan yang penuh tantangan.

Pada waktu yang bersamaan, Ibu saya sedang mengidap kanker tahap akhir.

Saya bekerja sepanjang hari dan mengendarai mobil sejauh 600 km untuk pulang ke rumah dan menemaninya setiap malam. Hal itu memang melelahkan dan menimbulkan stress, tetapi saya memang menghendakinya.

Tekad saya adalah terus mengerjakan tugas konsultan saya dengan sebaik-baiknya di siang hari, meskipun malam harinya saya menjalani kehidupan yang berat.

Saya tidak mengganggu direktur saya dengan menceritakan keadaan saya, tetapi saya rasa seseorang di perusahaan perlu tahu apa yang sedang saya alami. Jadi, saya menceritakan keadaan tersebut kepada wakil direktur bidang Sumber Daya Manusia. Saya memintanya untuk tidak menceritakan hal itu kepada siapapun.

Beberapa hari kemudian, sang direktur memanggil saya ke kantornya. Mula-mula saya mengira beliau hendak membicarakan suatu perkara yang sedang kami tangani. Ketika masuk ke kantornya, dia mempersilahkan saya duduk. Dia duduk di hadapan saya, di balik meja kerjanya yang besar. Dia menatap mata saya dan berkata, “Saya dengar Ibumu sedang sakit parah.”

Saya benar-benar terkejut dan langsung menangis. Dia tetap memandang saya, menunggu sampai tangis saya mereda. Lalu, dengan lembut dia mengucapkan sebuah kalimat yang tak akan pernah saya lupakan, “Apapun yang kamu perlukan.”

Itulah. Sikapnya yang penuh perhatian dan kesediaannya untuk tetap membiarkan saya menghadapi derita saya sambil sekaligus menawari saya segalanya adalah kualitas belas kasih yang selalu saya ingat terus sampai sekarang.

 *(Martin Rutte)

Telah di baca sebanyak: 1722
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *