Kolom Alumni

Apakah Bunuh Diri Menular?

Oleh: Gobind Vashdev

Sudah sejak lama saya mengamati sekaligus bertanya-tanya tentang fenomena “menular” yang terjadi di sekitar kita. Mungkin kata “menular” identik dengan penyakit. Namun yang akan kita bahas kali ini bukan penyakit, tetapi lebih ke kejadian-kejadian yang kita lihat, dengar atau baca. Bila kita perhatikan akhir-akhir ini, terjadinya suatu kecelakaan pesawat tidak lama disusul lagi dengan kecelakaan pesawat lainnya. Sebuah pesawat swasta nasional mengalami kecelakaan di Solo beberapa tahun lalu, dalam kurang dari 2 x 24 jam, tiga kecelakaan pesawat terjadi lagi di negeri ini. Anda mungkin masih ingat beberapa bulan yang lalu, kecelakaan kereta api juga terjadi dalam waktu yang berdekatan.

Menariknya, kejadian yang berurutan ini tidak sekadar hanya berlaku pada kecelakaan saja. Pengambilan keputusan tentang hal-hal yang sangat personal seperti perkawinan dan perceraian juuga mempunyai efek yang menular. Pernikahan para selebritas dengan orang asing beberapa waktu lalu dan maraknya perceraian akhir-akhir ini mungkin menjadi contoh yang baik untuk itu. Fenomena kesurupan di Indonesia pun terjadi secara menular pada anak-anak sekolah dasar. Dan yang sangat menyesakkan adalah fenomena bunuh diri pada anak-anak atau remaja akhir-akhir ini.

Mungkinkah ini semua menular? Apa ini rasional? Apa yang menyebabkan ini semua? Mengapa ini semua bisa terjadi? Bukankah selama ini hanya penyakit fisik yang bisa menular?

Pada awalnya, hal-hal di atas saya anggap sebagai peristiwa kebetulan semata. Namun setelah kejadian demi kejadian berulang, pastilah ini bukan semata kebetulan.

Dalam pencarian jawaban, saya bertemu dengan pemikir cerdas, Malcolm Gladwell, lewat bukunya Tipping Point. Malcolm mengambil contoh dari penelitian yang dilakukan di Kepulauan Mikronesia, kepulauan di Laut Pasifik, mengenai bunuh diri pada anak-anak atau remaja usia 15-20 tahun.

Sebelum tahun 1960, belum pernah ada kejadian bunuh diri yang dilakukan oleh remaja di negara tersebut. Namun setelah peristiwa bunuh diri pertama terjadi dan diberitakan di media massa setempat, angka bunuh diri pada remaja langsung meroket. Sebagai perbandingan, angka bunuh diri di Amerika Serikat sampai akhir tahun 80-an adalah 22 dari 100.000 penduduk, sedangkan di Mikronesia angka bunuh diri sebesar 160 jiwa dari 100.000 penduduk. Ini berarti tujuh kali lipat, sebuah angka yang luar biasa tinggi.

Menariknya, mereka melakukan bunuh diri dengan cara yang hampir serupa. Para remaja di Mikronesia ini selalu mencari tempat yang sepi lalu mengambil tali dan membuat simpul jerat, tapi mereka tidak menggantung diri seperti umumnya di Indonesia. Mereka mengikatkan tambang ke sebuah dahan rendah atau daun pintu kemudian merebahkan tubuh ke depan sampai tambang itu menjerat leher dengan ketat dan memutus aliran darah ke otak.

Yang lebih menyedihkan dari epidemi atau kejadian menular, menurut antropolog Donald Rubinstain, yaitu semakin banyaknya yang melakukan bunuh diri. Sebelumnya hanya remaja, namun berkembang menjadi anak-anak berusia 8-9 tahun, bahkan akhir-akhir ini ditemukan mereka yang berusia 5- 6 tahun. Ini sangat memprihatinkan, apalagi sejumlah anak-anak selamat dari percobaan bunuh diri, ketika ditanyai, beralasan hanya coba-coba Mereka melakukannya karena melihat atau sering mendengar anak-anak yang melakukan bunuh diri.

Peranan Media
Seorang pelopor dalam bidang penelitian bunuh diri, David Philips, dari University of California di San Diego telah melakukan penelitian dengan mengkliping berita bunuh diri yang dimuat di media massa. Profesor tersebut menemukan bahwa ada korelasi positif antara pemberitaan media massa tentang bunuh diri dengan tingkat bunuh diri di daerah penyebaran media massa tersebut. Semakin besar jangkauan atau wilayah peredarannya, maka wilayah orang yang bunuh diri pun semakin luas. Misalnya pada saat Marilyn Monroe memilih untuk bunuh diri, maka pada bulan tersebut angka bunuh diri di Amerika Serikat meningkat sampai 12 persen.

Bila seseorang melakukan bunuh diri dengan menabrakkan mobilnya ke pohon, dan diberitakan di headline media massa suatu daerah, maka dalam sepuluh hari ke depan angka kecelakaan meningkat tajam dengan kasus serupa.. Angka kecelakaan menurun menjadi normal setelah sepuluh hari.

Berita di media seolah-olah memberikan sebuah inspirasi pada pembacanya. Inspirasi cara untuk menyelesaikan masalah, memberikan sebuah pembenaran bahwa suatu cara boleh ditempuh.

Menurut Philips, cerita tentang bunuh diri adalah semacam iklan alami tentang salah satu cara memecahkan masalah

Selain media massa, lingkungan sekitar kita juga sangat memengaruhi pengambilan keputusan kita. Misalnya, kita menerobos lampu merah karena melihat yang lain melakukan hal yang sama. Atau yang menarik lagi misalnya bila Anda berada di antrean lampu merah dan mobil Anda ada di urutan ke-empat atau kelima, lalu muncul seorang pengemis atau pengamen dan mendekati mobil yang berada di urutan pertama. Bila pengemudi tersebut memberi sejumlah uang recehan kepada pengemis tersebut, kemungkinan besar pengemudi yang di urutan kedua juga akan hal serupa.

Pengemis ini akan mendapat kemungkinan yang lebih besar lagi di mobil urutan ketiga dan seterusnya. Saya tidak tahu apa ini namanya. Namun bila saya melihat hal itu terjadi di depan saya, saya atau paling tidak teman yang duduk di sebelah saya juga akan ikut-ikutan. Kita semua seolah-olah mendapat izin untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan orang lain.

Efek penularan ini bukan sesuatu yang rasional atau terjadi secara sadar. Penyebarannya tidak bersifat persuasif, namun lebih samar daripada itu.

Kembali ke maraknya bunuh diri anak yang terjadi di sekitar kita sekarang ini, kita tahu bahwa ada banyak sekali faktor yang memengaruhi seorang anak untuk melakukan tindakan nekad tersebut Untuk itu, mungkin tip di bawah ini bisa dilakukan untuk menghindari bunuh diri terjadi pada buah hati kita.

1. Saringlah Informasi yang Masuk
Menghindarkan anak dari tontonan berita-berita kriminal yang marak di televisi adalah langkah yang baik agar anak berpandangan baik tentang dunia ini. Selain itu, menghindari berlangganan majalah, tabloid atau koran yang memuat banyak berita-berita gosip atau kekerasan adalah tindakan bijak lainnya.

2. Pilih Mainan yang Digunakan
Temani dan arahkan anak Anda untuk memilih permainan yang digemari. Akan baik sekali bila permainan yang Anda beli untuk si kecil adalah permainan yang mengasah kemampuan sensorik dan motoriknya.

Bila membeli DVD untuk video game, hindarkan permaianan yang mengandung unsur kekerasan.

3. Belajarlah Mendengar
Banyak masalah anak yang berasal dari kurangnya komunikasi dari orang tua kepada buah hatinya. Komunikasi merupakan kemampuan yang paling penting dalam dunia ini. Kita menghabiskan sebagian besar hidup kita untuk belajar membaca dan menulis. Kita juga menghabiskan waktu untuk belajar berbicara yang baik, namun bagaimana dengan mendengarkan?

Jika kita ingin berinteraksi secara efektif dan mengerti kebutuhan anak secara utuh, kita perlu mengerti apa yang diinginkan anak secara detail dan mendalam. Untuk ini, kita harus mendengarkan secara empati, melihat dengan kacamata si kecil.

Kebanyakan dari kita merasa lebih pintar dan lebih tahu apa yang dibutuhkan anak, sehingga kita jarang mau mendengar mereka secara mendalam. Kita sering sekali memotong perkataan mereka dan memberikan contoh masa lalu kita.

Coba kita tengok sebentar, ketika seorang anak ingin meminta pengertian dari ayahnya mengenai keengganannya untuk melajutkan sekolah, hampir semua ayah tak mencoba memahami alasannya. Alih-alih sang ayah langsung menimpali dengan menceritakan bahwa dirinya bisa sukses karena dulu ia rajin sekolah.

Ketidakpuasan anak karena tidak dimengerti akan membuat anak menjadi pasif dalam berkomunikasi dengan orang tua. Anak akan menjawab seperlunya dan ini akan menjadi cikal bakal tindakan-tindakan nekad sang anak, terutamapada anak laki-laki.

Statistik menunjukkan bahwa empat dari lima orang yang bunuh diri adalah pria.. Hal ini disebabkan pria lebih sedikit berbagi, tidak boleh menangis, dan lebih jarang berpelukan. Padahal curhat atau berbagi, berpelukan dan menangis adalah pelepasan emosi dalam bawah sadar yang sangat baik.

Akankah kita segera belajar untuk mendengar atau membiarkan segala sesuatunya terlambat?

*) Diambil dari buku Happiness Inside, karya gobind vashdev

*) Gobind Vashdev, Alumnus Workshop Menulis Buku Best Seller Batch V. Penulis Buku “Happiness Inside” ini dapat dihubungi langsung di v_gobind@yahoo.com

Telah di baca sebanyak: 1337
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *