Wandi S Brata

Arsitektur Surga


Anda ingin lebih kreatif dan tampil impresif? Berpikirlah nyleneh, maka Anda akan mendapat keduanya.

Kedahsyatan berpikir nyleneh terletak pada daya kejutnya. Setelah itu, tergantung mau diteruskan ke mana dan seperti apa. Ada yang menggelutinya dengan serius dan mendapatkan kebijaksanaan karenanya. Tapi, ada pula yang hanya terperangkap pada kenylenehan itu dan tak mendapat apa-apa.

Berpikir nyleneh ini bisa kita terapkan di bidang apa pun, tapi paling mudah kita lakukan terhadap hal-hal yang terkait dengan agama. Kenapa? Karena di sana memang ada banyak hal yang aneh. Kerena keanehannya itu, kalau kita menggunakan akal sehat kita, dengan mudah kita menemukan suatu ketidak-masuk-akalan dalam suatu praktik keagamaan. Kalau kita tunjukkan keanehan itu, muncul konsekuensi tertentu. Pertama, orang terprovokasi untuk berefleksi dengan lebih serius terhadap praktek yang selama ini dijalani, dan menjadi lebih bijak serta mendalam karenanya. Kedua, orang akan tetap pada kebiasaan mereka dan menganggap kita orang aneh yang cuma suka mengusik.

Saya memang suka mengusik, seperti pernah terjadi di suatu hari. Hari itu hari kerja. Juga hari suci bagi umat kristiani. Beberapa karyawan menghadap saya, “Mas, kami minta ijin keluar, mau ke gereja sekarang.” Kami memang biasa memanggil mas dan mbak di antara kami.

“Lho, emangnya ada apa?”
“Gimana sih Mas Wandi ini?! Ini kan hari Kenaikan?”

“Hah, kenaikan apa?”
“Aduh, gimana sih Mas Wandi?!! Ya kenaikan Tuhan Yesus ke surga!”

“Lho, kalau dia naik ke surga, lantas ngapain kalian mau ke gereja. Mau nemui siapa kalian di sana?”

Ha ha ha… ini provokasi yang kaya sekali sebenarnya, tapi kalau hanya dianggap sebagai sesuatu yang nyleneh dan tidak ditindaklanjuti, ya tak akan menghasilkan kedalaman apa pun.

Masih terkait dengan surga, ketika Ayah meninggal, banyak orang yang mendoakan semoga beliau diterima di sisi Allah. Saya tak tahu apakah reaksi Ayah tertawa geli atau cemberut tak setuju, karena saya pernah memprovokasi beliau beberapa tahun sebelum meninggalnya.

“Pak, tahu nggak surga itu seperti apa?”
“Kamu serius nggak sih dengan pertanyaanmu ini?”

“Lho, emangnya kapan aku nggak serius? Bahkan kalau nggak serius pun aku serius banget dengan ketidakseriusanku ha haha… Jadi, tahu nggak?”

“Lha kalau Gusti Allah itu tan biso kinoyo opo, tak bisa digambarkan seperti apa, mestinya kediamannya juga tidak bisa kan?”

“Siapa bilang?! Aku bisa menduga dan membayangkannya. Bentuk bangunannya seperti pipa pralon puanjaaang buanget! Pintunya ada empat. Dua pintu besar ada di ujung-ujung pipa pralon tadi. Dua pintu kicil-kecil ada di tengah-tengahnya, cuma kayak lobang bor di tengah pralon tersebut, karena yang lewat di tengah hanya amat sangat sedikit sekali!”

“Ngaco kamu.”

“Lho, Gusti Allah itu mahamurah kan?! Karena kemurahanNya Beliau pasti memenuhi permintaan banyak orang yang meminta dengan tulus. Karena semua orang mati didoakan agar diterima di sisiNya, Gusti Allah menciptakan surga yang bentuknya seperti pipa pralon puanjaang agar Beliau bisa berada di tengah dan semua orang yang minta-minta atau diminta-mintakan tadi bisa ditempatkan di sisi kanan dan kiriNya.”

“Sontoloyo kamu!”

“Makanya, nanti jangan minta diterima di sisiNya. Kalau dituruti, Bapak akan berada jauh sekali dari Gusti Allah. Minta aja di belakangNya, pasti bisa deket banget denganNya, persis di belakangNya, karena tak ada orang yang minta ditempatkan di situ. Jangan minta di depan, nanti kalau ngantuk ketahuan.”

“Untung kamu batal jadi pastor!”

“Dan, satu hal lagi, Pak. Kalau memuji Dia, pujilah sekali saja sehari. Itu pun untukku sudah keterlaluan. Kalau bersyukur, bersyukurlah sekali saja untuk sesuatu yang Bapak syukuri. Setiap kali Bapak mengulang-ulang, itu memuakkan. Coba, bagaimana rasanya kalau aku memuji Bapak sebagai orang yang baik 50 kali dalam setengah jam? Muak kan? Mungkin Bapak malah menganggap aku sinting atau sama sekali tak serius. Jadi, jangan mengulang-ulang! Dan yang lebih penting, jangan pernah meminta. Katakan saja Bapak perlu sesuatu, sekali saja bilangnya, lalu diam seribu bahasa!”

“Gundulmu! Junjungan kita kan mengajarkan ‘Mintalah, maka kamu akan diberi!’ Kenapa kamu bilang jangan meminta?”

“Banyak sekali orang yang sebenarnya malas, dan menganggap Gusti Allah itu mesin otomat. Minta, minta dan minta… kayak pencet tombol ajaib lalu berharap yang diminta datang. Di dunia ini ada lebih dari 3 miliar orang. Kalau sehari mereka minta-minta pada Gusti Allah sekali saja, Beliau pasti pusing! Kalau Bapak juga ikutan seperti mereka, Bapak tidak memiliki keunggulan komparatif sama sekali, tidak punya daya saing apa pun. Bapak malah ikut-ikutan ngrepoti. Nah, kiat paling dahsyat agar diberi berkat oleh Allah adalah justru dengan tidak memintanya sama sekali! Gusti akan tahu, Bapak kok tak pernah minta-minta… kok lain sama sekali dari orang-orang itu… nah… karena itu Bapak akan lebih diperhatikan. Beliau mungkin akan bilang sama Malaekat Gabriel, “Hei Gabie, coba lihat Sirun itu… coba perhatikan, dia gak pernah minta apa-apa dan gak ganggu ketenanganku sama sekali… beda sama orang-orang… Dia cuma memuji dan bersyukur… juga tidak menjilat-jilat dengan mengulang-ulanginya… Perhatikan dia, penuhi kebutuhannya. Jangan sampai kesrakat!’ Nah, justru dengan tidak meminta itulah Bapak akan mendapat anugerah yang memang Bapak perlukan!”

Ayah mengulang komentarnya, “Sontoloyo.” Tapi, saya tahu, renungannya bergerak bebas ke banyak arah mulai hari itu.

Akhir tahun ini kami akan memperingati seribu hari meninggalnya. Saya tak akan mendoakannya agar RIP, requiescat in pace, semoga beristirahat di dalam kedamaian. Bukan. Bukan itu harapan dan keyakinannya. Karena itu, saya mengucapkan, “Selamat menjalani hidup, bekerja dan menikmati segala prosesnya di dunia barumu, Pak. Kalau diskusi-diskusi kita ada artinya, dan Bapak mau ngasih semacam sanggahan atau konfirmasi, kutunggu inspirasimu dalam mimpi.”

Disclaimer: Pesan utama artikel ini adalah ajakan menjadi kreatif dengan cara berpikir nyleneh. Maksudnya, biasakan mendekati sesuatu dengan perspektif dan cara berpikir yang tidak biasa. Dengan cara itu akan muncul banyak hal yang tak biasa dimengerti orang. Bahwa ajakan itu mengambil contoh yang menyentuh agama, itu cuma koinsidensi yang amat saya sengaja. Sebelum menganggap serius artikel ini, konsultasilah sama guru rohani Anda. Tolong sampaikan ini kepadanya, siapa tahu malah dia yang terprovokasi. Ha ha ha… ***

*) Wandi S Brata. Direktur Gramedia, dapat dihubungi langsung di wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 2132
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *