Andrias Harefa

Ayyu Qaumin Antum

Manusia macam apakah kamu nanti? Sebuah pertanyaan kritis yang menantang Anda untuk selalu mawas diri, yang mempersoalkan esensi jati diri Anda untuk menjadi orang sukses.

1“Jika negeri-negeri Persia dan Rum sudah kamu taklukkan, manusia macam apakah kamu waktu itu? Para Sahabat menjawab: Kami akan mengatakan apa yang diperintahkan Allah. Lalu Nabi menimpali, atau barangkali yang lainnya. Kalian akan bersaing antara satu dengan yang lain, saling dengki, benci-membenci, kemudian kamu bertindak sewenang-wenang kepada golongan miskin dan lemah yang kehilangan rumah, lalu kamu tempatkan golongan yang satu di atas golongan yang lain, “ demikian salah satu hadis Nabi Muhammad SAW yang diucapkan pada umat Islam di Madinah belasan abad lalu.

Ketika mengutip hadis tersebut dalam khotbah Idul Fitri dan Kualitas Hidup dalam Menyongsong Kebangkitan Nasional Kedua, Dr. M. Yunan Yusuf mengingatkan, “Bila dibandingkan dengan Imperium Romawi dan Persia yang menjadi dua adikuasa ketika itu, kaum Muslimin adalah bangsa kecil yang belum berkembang, under-developed country.”

Ayyu qaumin antum, manusia macam apakah kamu nanti? Sebuah pertanyaan kritis yang menantang setiap insan untuk selalu mawas diri. Pertanyaan cerdas yang mempersoalkan esensi dari semua keberhasilan (achievements), maupun pencapaian sejumlah tujuan tertentu (accomplishments). Sebuah pertanyaan yang membuat bulu kuduk saya berdiri dan menghantui pemikiran saya berbulan-bulan lamanya.

Membuat bulu kuduk berdiri? Menghantui pemikiran?

Ya. Bagaimana tidak, sejak memutuskan untuk mengembangkan karier sebagai konsultan dan instruktur di bidang pengembangan harkat dan martabat manusia, obsesi utama saya adalah membantu setiap peserta di kelas saya untuk mengembangkan potensinya. Asumsi dasarnya ialah melalui pengembangan dan pelipatgandaan potensi-potensi yang selama ini tersembunyi dalam diri mereka, diharapkan mereka mampu meningkatkan kualitas hidup sebagai manusia yang utuh. Peningkatan kualitas hidup tersebut harus tercermin dalam peningkatan karier profesi, kesejahteraan dan ketentraman hidup. Apalagi, buku teks yang selalu dibagikan pada peserta jelas-jelas “menjanjikan” hal-hal tersebut (saat itu, periode 1991-1998, saya adalah instruktur/trainer berlisensi Dale Carnegie Training). Judul buku-buku seperti Petunjuk Menikmati Hidup dan Pekerjaan Anda, Petunjuk Hidup Tentram Bahagia, Cara Memperoleh Kawan dan Mempengaruhi Orang serta Petunjuk Berbicara Efektif dengan Cepat dan Mudah, dan lain-lain, menimbulkan harapan-harapan tertentu bagi peserta pelatihan.

Pertanyaan yang mengusik perenungan saya adalah: apabila banyak hal yang diinginkan orang dalam kehidupan ini telah berhasil dicapainya, berdasarkan keterampilan-keterampilan yang diperoleh lewat pelatihan, maka manusia macam apakah mereka waktu itu?

Para alumni pelatihan yang saya bawakan (dulu maupun sekarang) umumnya memiliki kelebihan dalam hal kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi dan human relations serta people skills lainnya. Ditambah dengan sikap-sikap positif dan knowledge yang mereka miliki, maka kemungkinan untuk mengembangkan karier, menambah penghasilan dan meningkatkan taraf hidup mereka menjadi sesuatu yang secara relatif “lebih mudah”. Hal mana terbukti dengan banyaknya kesaksian alumni yang berhasil mencapai cita-cita mereka di kelak kemudian hari (tidak sedikit di antara mereka yang berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan pada saat pelatihan masih berlangsung). Simak saja kesaksian-kesaksian peserta yang ditulis oleh almarhum Dale Carnegie (1988-1955) dalam buku-bukunya yang selalu best seller. Puluhan atau mungkin ratusan kesaksian yang dikutip itu dilengkapi dengan data-data pemberi kesaksian, sehingga terbuka untuk dikonfirmasikan kepada yang bersangkutan. Itu masih tidak termasuk (yang jumlahnya mungkin jutaan orang), kesaksian-kesaksian dari mulut ke mulut yang tak pernah dibukukan.

Masalahnya, harus diakui bahwa keterampilan-keterampilan yang diajarkan melalui pelatihan ini bisa saja disalahgunakan oleh mereka yang melalaikan nilai-nilai moral, keadilan, kebenaran, kesucian, ketaatan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keterampilan tersebut ibarat senjata ampuh yang dapat dipergunakan sesuai dengan keinginan manusia yang memakainya. Keterampilan komunikasi dan human relations, misalnya, bisa dimanfaatkan untuk memanipulasi orang lain, mengeksploitasi buruh, mendiskreditkan orang-orang tertentu, dan seterusnya.

Syukur Alhamdullilah dan Haleluya, bahwa latihan keterampilan-keterampilan itu selalu disertai dengan sosialiasi nilai-nilai universal yang baik, luhur dan mulia. Kejujuran, ketulusan, keajegan dalam bersikap positif dan adil terhadap diri, orang lain dan pekerjaan selalu ditekankan ulang pada setiap sesi-sesi pelatihan. Dengan demikian dapat diharapkan sosialisasi nilai-nilai luhur dan mulia itu dapat mereduksi ekses-ekses (akibat negatif) yang tidak kita harapkan.

Perenungan saya akhirnya bermuara pada harapan, bahwa rekan-rekan instruktur (belakangan ini lebih populer dengan istilah pembicara, trainer dan motivator) tak menjadi bosan menekankan pentingnya sikap-sikap positif yang didasari oleh nilai-nilai luhur, agung dan mulia, yang seyogyanya menyertai peningkatan keterampilan dan penambahan pengetahuan di kelas-kelas pelatihan. Sebab tanpa nilai-nilai luhur mulia yang melandasinya maka ayyu quamin antum?

*) Andrias Harefa
Author: 40 Best-selling Books; Speaker-Trainer-Coach: 22 Years Plus
Alamat www.andriasharefa.com – Twitter @ aharefa

Telah di baca sebanyak: 1864
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *