Kolom Alumni

Bahagianya Berbagi (Haji Orang Pinggiran Eps-3)

Setelah istirahat secukupnya di Jeddah, kami menuju Makkah Almukaramah. Bus masuk kota Makkah dan istirahat sejenak di Maktab 108. Maktab ini dikepalai oleh Syeikh Ibrahim Indragiri, orang Riau yang mukim di Makkah. Segera saya kirim pesan singkat kepada ”OM” (”OM” adalah kependekan dari Orang Melayu, sapaan akrab untuk karib saya di Pertamina EP, Bang Soeryadi Oemar), mengabarkan tentang Syeikh Ibrahim.

Ternyata, orang tua Syeikh Ibrahim Indragiri, Syeikh Muhammad Ali Indragiri, mantan Kepala Kepolisian Makkah, adalah kawan lama Datuk, orang tua OM. Pikir saya, hebat juga orang-orang Melayu ini (orang Melayu hebat lainnya, antara lain, Radja Ali Haji dengan Gurindam Dua Belasnya dan sang presiden penyair Indonesia, Sutardji Caldjoum Bachri).

Nikmatnya Teh Arab
Apa yang istimewa dengan berita di maktab ini? Saya minum teh yang demikian nikmat! Rasanya, seumur-umur, baru kali pertama ini minum teh, begitu nikmat, tiada terkira! Tak ada bandingannya! Dalam hati, saya berkata, “Betapa lezatnya teh Arab ini!” (padahal di Arab, mana ada kebun teh!). Saya ajak istri saya untuk juga meminumnya. Saya coba perhatikan merek teh itu. Eh…ternyata…mereknya LIPTON! Seketika itu, saya berdoa, ”Ya, Allah sebagaimana telah Engkau anugerahkan kenikmatan minum teh kepada kami, anugrahkan pula kepada kami kenikmatan makan dan beribadah di tanah suci ini.”

Mengapa urusan makan dibawa-bawa dalam doa tersebut? Kan, biasa juga, makannya banyak! Tiada lain, ada beberapa orang yang kami kenal, sepulang haji, badannya kurus kering. ”Tak enak makan. Tak selera,” katanya. Bagi saya yang cepat lapar, tetapi lama untuk merasa kenyang, bisa bahadur itu situasi! Kalau itu terjadi, rasa lapar tetap cepat datangnya, tetapi selera makan tak kunjung tiba, bisa-bisa mengganggu konsentrasi saat melaksanakan ritual haji! Di situlah, dalam situasi bagaimana pun, mengenai apa pun, perlu berdoa!

Masjidilharam, Toko-toko, dan Pedagang K-5
Kami melanjutkan perjalanan menuju jantung kota Makkah (bahkan jantung dunia), Masjidilharam. Begitu bus berhenti, pandangan terpaut dengan menara-menara indah. Tak salah lagi, ini dia Masjidilharam, yang di bagian tengahnya ada Kakbah, tempat kami menghadap ketika salat, selama berpuluh tahun. Kini, dia di depan mata.

Masjidilharam dengan menara-menara indah. Tampak jemaah sedang melaksanakan salat di pelataran masjid. Kakbah berada di dalam bangunan ini.

Tak terasa, air mata membasahi pipi, sementara bibir bergumam, “Tuhan, Kau perkenankan tubuh dan jiwa yang kotor penuh dosa ini, menghampiri rumah-Mu yang suci. Allahu Akbar! Tuhan, kami datang dari negeri yang jauh dengan dosa-dosa yang banyak dan perbuatan yang buruk, ampuni dosa-dosa kami dan keburukan amal-amal kami. Sungguh tiada yang mengampuni dosa, selain Engkau, wahai yang Mahakasih dari segala yang kasih. Semoga selawat tercurah atas Nabi Muhammad dan Keluarganya.”

Teringat kami akan orang-orang yang telah berjasa mengantarkan kami ke tempat suci ini. Air mata pun turun, menjadi-jadi. “Tuhan, berikan maghfirah-Mu untuk mereka. Berkahilah mereka dan keluarganya.”

Pimpinan rombongan, pembimbing haji kami -mengingat kami semua baru saja menempuh perjalanan jauh dan melelahkan- menyarankan agar kami semua istirahat siang dulu di penginapan tempat kami tinggal. ”Nanti sore, dalam kondisi segar setelah istirahat, baru kita masuk Masjidilharam.”

Karena rindu yang menggebu, setelah barang-barang kami letakkan pada tempatnya, saya ajak istri, juga sepasang suami istri, kawan satu rombongan, ”melanggar” saran ustaz tadi.

Ketika sebagian besar kawan-kawan menabung energi untuk tawaf nanti, berempat kami pergi menuju Masjidilharam.

Masjid, yang selama ini, kami menghadap –paling tidak- lima kali dalam sehari. Kami melakukan salat sunat.

Tak lama, waktu salat tiba, jemaah –dari pelbagai penjuru- mengalir deras menuju masjid. Telat sedikit saja, masjid penuh sesak, salat hanya kebagian di halaman masjid, atau malah di jalan aspal. Toko-toko yang mengepung masjid, segera setelah salat selesai, dibanjiri pembeli. Benar-benar sesak toko-toko itu, tak terlalu beda dengan sesaknya penumpang dalam KRL ekonomi Bogor-Jakarta di pagi hari, langganan saya dulu.

Ketika para hujjaj membelanjakan hartanya dengan menyerbu toko-toko di depan masjid itu , pada saat yang sama, para fakir miskin –yang umumnya berkulit legam- menengadahkan tangan di sekitar halaman masjid. Mereka tampak sepi pemberi. Kontras memang pemandangan ini!

Kata orang, sebagian besar pembeli berasal dari Indonesia. Saya tak bisa membuktikannya. Tak cukup waktu untuk menyurveinya

Tak hanya toko yang diserbu pembeli, para pedagang kaki lima, juga sibuk melayani para pembeli yang senantiasa melakukan bargaining, tawar-menawar, minta harga yang lebih rendah, seperti kebanyakan kita.

Para pedagang K-5 ini, selain sibuk dengan pembelinya, sibuk pula tengok kanan kiri, kalau-kalau ada petugas datang. Takut kena razia. Maklum, mereka berjualan di tempat “terlarang”, di kaki lima. Namanya juga berjualan di kaki lima, di mana pun, akan mengurangi ruas jalan. Dan, para petugas khawatir, apabila mereka mengganggu para tamu Allah dalam berjalan kaki, dari dan ke Masjidilharam. Walaupun kenyataannya, yang lebih membuat jalan lebih sempit lagi, adalah para pembeli. Ya, Bapak dan Ibu Haji itu! Kasihan, para pedagang kaki lima itu, mencari nafkah dengan hati tidak nyaman.

Pedagang K-5 itu, selain orang tua, juga banyak anak-anak di bawah umur. Setiap kali bertemu anak-anak kecil itu sedang menawarkan dagangannya, saya merasa haru. Tentu saja, mereka inginnya seperti anak-anak lain: bermain atau jalan-jalan bersama orang tuanya. Mereka harus berjualan untuk membantu ekonomi orang tuanya yang tak punya.

Pernah sutau hari, saya menyaksikan, ketika para pedagang K-5 itu sedang asyik dengan para pembelinya, tiba-tiba datang petugas keamanan. Semua pedagang berlarian. Seorang anak kecil usia SD atau SMP yang berdagang rupa-rupa peci haji, karena kekecilannya tak sempat mengemas dagangannya. Petugas dengan sigap dan gagah merampas seluruh dagangan anak itu. Anak itu berusaha mempertahankannya. Apa daya, dia hanya seorang anak kecil. Semua peci dagangannya dibawa pergi petugas. Si anak, kemudian, duduk termenung, kehilangan barang dagangannya. Saya hanya bengong.

Kejadian itu senantiasa terbayang di depan mata. Saya ingin menolong anak malang itu. Tetapi, bagaimana caranya.

Setelah beberapa hari dari kejadian itu, saya tanya seorang Indonesia yang telah lama bermukim di sana, “Apakah barang dagangan itu, bisa ditebus?” Dia bilang, “Jangan pernah berharap bisa kembali. Yang mengurusnya, untuk mendapatkan kembali barang tersebut, boleh jadi, akan mendapat kesulitan lain dari pemerintah setempat. Begitulah di sini, Pak.” Sedih saya menyaksikan hal ini. Saya pun menyesal, mengapa saat itu tidak segera memberi anak itu sejumlah uang, sekadar pelipur lara. Saya sering telat dalam berbuat kebaikan. Mungkin kebanyakan dosa.

Apel Yang Membahagiakan
Terbetik dalam hati, ingin berbagi dengan para pengemis serta pedagang kaki lima yang mangkal di jalan menuju dan di pelataran Masjidilharam. Saya dan istri, berusaha mendapatkan recehan uang riyal, tetapi tak berhasil. Akhirnya, kami memutuskan membeli buah-buahan saja: apel dan pir.

Bakda Asar, kami bawa ransel besar dan beli beberapa puluh kilo –mostly- apel. Kami bagi-bagikan pada para pengemis, pedagang kaki lima, anak-anak tuna wisma, dan buruh bangunan- yang terbengong-bengong menyaksikan kami. Beberapa jemaah haji yang sedang berjalan menuju masjid, juga berusaha meminta bagian. Mungkin mereka mengira, ini pembagian dari Raja Saudi, yang memang sering terjadi pada musim-musim haji. Padahal, ini pembagian dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat (tetapi, bukan Pikiran Rakyat, koran Bandung itu!).

Menjelang magrib, istri saya kelelahan, dia pulang ke penginapan. Saya melanjutkan aktivitas yang –mungkin menurut sebagian orang- sepertinya…tak lazim ini.

Ketika buah-buahan itu saya bagikan, awalnya, mereka tak mengerti, bengong, tetapi selanjutnya…saya dikejar-kejar. Saya minta mereka untuk tenang dan kembali duduk di tempat masing-masing.

Kepada yang dekat, saya berikan ke tangannya; yang agak jauh saya berikan dengan lemparan melambung, sehinga mereka mudah menangkapnya. Beberapa di antara mereka, nakal juga. Setelah mendapat bagian, datang lagi dengan menutup muka, seolah bercadar. Beberapa saya kenali, lainnya tidak. Saya dikerubuti oleh para tuna wisma dan pedagang kaki lima itu. Agak panik juga, tetapi menyenangkan. Kami bahagia, tiada terkira. Bisa sedikit berbagi, di tanah suci!

Kebahagian serupa kami peroleh ramadan, beberapa tahun lalu. Istri saya belanja beberapa kodi sarung. Setelah ibu-ibu dan anak-anak tetangga meninggalkan kediaman kami, sehabis salat tarawih; setelah anak-anak kami tertidur lelap karena mengerjakan tarawih atau –khususnya si bungsu- mengganggu yang tarawih; kami bersiap-siap keluar rumah.

Ketika itu, menjelang tengah malam, saya dan istri menemui para tuna wisma yang sedang siap-siap untuk tidur dan yang sedang tidur, di sekitar Terminal Merdeka, emper-emper toko, dan sekitar Stasiun Kereta Api Bogor. Kami minta mereka berkumpul di teras toko yang agak luas. Kami bagi-bagikan itu sarung. Terserah, sarung itu mau digunakan sebagai selimut, mau dipakai alas tidur, atau untuk apa pun. Yang jelas mereka memerlukannya. Buktinya, kami harus datang lagi ke tempat itu pada beberapa malam berikutnya, karena banyak yang belum mendapat bagian. Walau hanya sekadar sarung yang bisa kami berikan, bahagialah hati ini!

Ramadan tahun berikutnya, kebahagian yang lain menghampiri kami. Pada salah satu dari sepuluh malam terakhir, setelah berbicara panjang lebar dengan seorang bapak jemaah masjid, yang sejak belasan tahun terputus silaturahmi dengan ibunya, dan pada akhirnya ia mengisyaratkan menerima perdamaian, saya membatalkan itikaf. Bersama istri, menjelang tengah malam, kami bangunkan si ibu. Kami berbicara sedikit tentang keutamaan ramadan, tentang pentingnya silaturahim, dan bahaya memutuskannya. Isyarat bagus, kami tangkap. Sementara istri keep talking dengan si ibu, saya balik ke masjid menjemput sang anak (yang juga sudah tua). Kami pertemukan. Allah Maha Rahman Rahim; keduanya berpelukan. Pada Hari Idhul Fitri, keluarga besar itu tampak ceria; kami bahagia tiada terhingga!

Di Masjidilharam, laki-laki dan perempuan, pada banyak bagian dari masjid, berada dalam saf yang sama. Saat-saat menjelang waktu salat tiba, para askar, sibuk mengatur saf salat para jemaah. Sangat tidak jarang terjadi, kaum ibu salat bersebelahan dengan kaum bapak. Nyaris tanpa batas. Inilah, pekerjaan utama para askar: menertibkannya dengan cara –maaf- tidak halus.

Beberapa ibu-ibu, karena tempat yang mereka duduki terlalu berdekatan dengan laki-laki, tetapi berusaha tetap bertahan di tempatnya, ditarik-tarik tasnya atau jaketnya agar segera pergi dari tempat itu dan mencari tempat lain. Ibu-ibu dari Turki itu, tak begitu saja menyerah, karena memang tak mudah cari tempat lain, sementara waktu salat segera tiba. Pemandangan seperti ini, terjadi hampir tiap hari. Tidak adakah cara yang lebih baik untuk mengatasinya?

Memenuhi Panggilan dengan Ketabahan
Apabila kita datang ke masjid dini hari, beberapa jam sebelum azan subuh, kita akan melihat, di pelataran masjid dekat dinding-dinding toilet, banyak jemaah yang tidur di situ. Mereka, tentu saja, inginnya tidak tidur di tempat sejenis itu. Mereka juga lebih senang, kalau bisa tidur di penginapan. Tetapi, mereka tak cukup bekal. Mereka tidur di lantai dekat dinding toilet, di pelataran masjid, dan emper-emper toko.

Jika bapak-bapak dan ibu-ibu yang tidur di hotel atau penginapan saja merasa kedinginan, di musim dingin ini, mereka tentu lebih merasakan dinginnya malam kota Madinah. Pakaian mereka sangat sederhana, kusut, dan lusuh (waktu di Makkah, beberapa jemaah, kami lihat pakaian ihramnya terbuat dari kain kasar dan tidak cukup tebal). Walaupun demikian, wajah mereka ceria. Mereka datang dari pelbagai negara. Mereka datang memenuhi panggilan Ilahi untuk berhaji ke tanah suci. Dengan bekal ketabahan, mereka sampai di Makkah dan Madinah.

Saya membawa dua setengah stel kain ihram (lima lembar). Empat lembar dari Yayasan tempat kami dibimbing, satu lebar dikasih tetangga. Dua lembar kain ihram itu, saya berikan kepada dua orang yang baru bangun dari tidur di dekat dinding toilet, di pelataran masjid Nabawi. Saya berkata dalam hati, “Silakan saja, mau dipakai sebagai pakaian ihram, dipakai selimut atau alas tidur. Kau lebih perlu daripada aku.” Mereka tampak sangat senang menerimanya.

Pesan moral-3:
Telat sedikit saja berangkat ke masjid, dijamin tak mendapat tempat yang nyaman untuk salat. Karena ruang dalam sampai halaman masjid akan penuh sesak oleh jemaah yang datang lebih awal. Harus bersegera menuju masjid, jauh sebelum azan dikumandangkan. Situasi ini, mengajarkan kepada kita agar salat pada awal waktu, di mana pun kita berada.

*) Lahir di Bandung. Bersama istri tercinta, Sri Wardhani, di pinggiran kota Bogor, di mana ia dan keluarganya tinggal, mengasuh anak-anak yatim. Selain itu, suami istri ini aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial lainnya: khitanan massal, pembuatan MCK umum, mengusahakan biaya pengobatan dan perawatan orang-orang sangat miskin. Di kediamannya, sering dijumpai orang yang menginap atau sekedar istirahat menenangkan hati.

Karena tidak pergi-pergi haji, dan diduga tidak punya cukup uang untuk melaksanakan rukun Islam kelima itu, padahal ya, teman-temannya di tempat kerja berinisiatif: urunan, mengumpulkan uang untuk biaya hajinya. Jadilah ia kini: “Haji Kosasih”. Karena memang, ongkos hajinya dikasih. Jonih bisa dihubungi di Jl. Pagelaran, Gg. H. Lasim No. 9, Kampung Kereteg, Ciomas, Bogor atau melalui e-mail: bilisikap@gmail.com

Telah di baca sebanyak: 1357
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *