Pitoyo Amrih

Belajar dari para Raksasa Dunia Maya (bag 1 – Google)


Seri Membangun Bisnis Dunia Maya (30)
Di tahun 1996, bahkan mungkin Lawrence Page dan Sergey Brin tak pernah berpikir bahwa di tahun 2009 mereka bakal memiliki lebih dari sembilan belas ribu karyawan tetap yang bekerja untuk mereka. Page dan Brin, yang saat itu masih kurus tinggi, dua orang yang sedang menekuni studi PhD di Stanford University, mungkin juga tak pernah menyangka, bahwa salah satu penelitiannya saat itu tentang metode piranti lunak mesin pencari di internet, akan merubah perilaku dunia dalam hal mencari sebuah informasi di dunia maya, juga perilaku para praktisi iklan bila ingin merambah dunia maya sebagai media advertising mereka.

Dan dari tangan mereka terciptalah Google. Sebuah terminologi yang saat itu konon katanya salah eja. Ada yang mengatakan bahwa maksudnya akan memakai kata “Googol”, sebuah kata yang secara harfiah bermakna bilangan satu diikuti seratus angka nol di belakangnya, sehingga diartikan secara konotatif yang mengekspresikan bahwa mereka akan menyediakan informasi yang sangat banyak! Ada juga yang mengatakan bahwa maksud mereka sebenarnya akan memakai kata “Goggle”, sebuah kata yang berarti alat bantu penglihatan agar dapat mengamati lebih baik. Tapi apa pun itu, kata “Google” awal sekali di daftarkan menjadi sebuah domain, adalah kata yang salah eja. Namun sejarah mencatat, bahwa dari kata yang salah eja inilah, tahun 2006, Oxford English Dictionary menambahkan kata kerja ‘google’ dalam kamus mereka, yang berarti mencari informasi di internet. Sehingga sejak itu istilah ‘googling’ –tambahan –ing sebagai bentuk present tense- menjadi umum di telinga.

Google adalah salah satu keajaiban dalam bisnis dunia maya! Empat tahun terakhir secara bertutut-turut, Google masih bertengger sebagai ‘number-one’ top-list dunia, sebagai website pada urutan teratas dalam hal jumlah kunjungan tiap harinya. Anda bisa bayangkan, sebuah website yang dikunjungi rata-rata sebanyak lebih dari seratus empat puluh juta unique visitor tiap harinya! Bisa disetarakan dengan jumlah penduduk sebuah negara!

Apa yang kita bisa pelajari dari mereka? Mungkin sebagian dari kita, apa yang dilakukan Page dan Brin adalah sebuah extra upaya, bertemu dengan kondisi beruntung, yang terlalu absurd bagi kita untuk bisa kita tiru. Anggapan yang menurut saya salah dan angapan inilah yang selama ini hampir selalu membelenggu kita bangsa Indonesia untuk maju. Seolah dari awal kita sudah mengkondisikan diri kita sendiri bahwa talenta kita berada di bawah talenta rata-rata penduduk negara maju.

Keistimewaan yang utama dari Page dan Brin, menurut saya, adalah pada kompetensi mereka dalam hal mencipta dan paham betul secara detail apa yang mereka kembangkan terhadap function engine yang kemudian mereka tawarkan sebagai alat bantu di dunia maya bagi siapa saja yang mencari informasi. Karena mereka adalah mahasiswa yang menekuni betul apa yang mereka lakukan, sehingga terciptalah tata cara sebuah indexing mesin pencari yang mereka bisa buktikan lebih efisien dan lebih akurat dalam me-rangking sebuah ‘kata kunci’ dalam hutan belantara dunia maya.

Padahal saat itu, ketika mereka mengembangkan Google, sudah banyak dikenal orang mesin pencari semacam Altavista, Hotbot, dan sebagainya. Tapi Page dan Brin tak berhenti, mereka tetap mendaftarkan domain mereka Google, dan dengan metode unik cara pencarian mereka, Page dan Brin mencoba menawarkan fungsi yang sama kepada khalayak pengguna internet. Dan di awal mereka mendaftarkan domain mereka google.com, tak lebih dari sekedar upaya mereka melakukan serangkaian test terhadap tesis studi mereka. Dari yang semula secara internal di standford.google.com menginduk ke universitas tempat mereka belajar, untuk memperluas studi kasusnya secara eksternal tidak hanya lingkungan kampus mereka.

Ketika itu memang sudah mulai terbentuk sebuah anggapan bahwa search-engine di satu sisi bagi khalayak pengguna adalah sebagai alat bantu pencari informasi. Tapi di sisi lain, bagi pelaku bisnis, search-engine bisa menjadi semacam marketing-tools untuk mempromosikan produk mereka. Sebuah anggapan yang sampai sekarang menjadi sebuah paradigma, sampai kepada pengertian bahwa bila ingin produk anda dikenal di dunia maya, maka banyaklah ‘berteman’ dengan search-engine.

Berawal dari anggapan itulah, situs-situs function-engine yang memang dari awal mengkhususkan diri sebagai search-engine sudah langsung memasang tarip atas jasa diri mereka sebagai salah satu marketing-tools. Sehingga untuk menggenjot pemasukan bagi mereka, para search-engine –selain sebagai search-engine- juga menciptakan tool-tool marketing yang lebih menarik –tinimbang hanya sebatas daftar pada mesin pencari- seperti pop-up banner, atau apa yang mereka istilahkan dengan ‘advertising funded search-engine’.

Page dan Brin tidak begitu saja mengikuti arus pelaku bisnis search-engine. Tampilan dan cara-cara mereka terkesan lebih konservatif. Penyampaian iklan mereka lebih banyak di dominasi oleh –apa yang mereka istilahkan- simple text ads. Sehingga apa yang mereka lakukan di awal sekali dulu, ditanggapi para khalayak –baik pengguna maupun pelaku usaha- lebih banyak sebagai upaya membantu tinimbang sebagai profit oriented bussiness. Para pengguna search engine tidak merasa terganggu, karena iklan-iklan yang muncul terlihat lebih ‘sopan’. Para pelaku bisnis juga merasa nyaman karena awareness terhadap mereka meningkat dengan cara-cara yang tidak dipaksakan. Jadilah mereka sebagai situs search-engine yang dengan cepat dikenal, banyak digunakan, dan dengan cepat pula para pelaku bisnis lebih suka melirik ke Google sebagai partner mereka.

Ketika bisnis mereka mulai tumbuh menjadi sebuah perusahaan yang mapan, membangun kantor, merekrut banyak software-engineer untuk menciptakan inovasi-inovasi baru dalam internet-ads, menyebar jaringan server ke seluruh dunia, apa yang menjadi keunikan mereka adalah ketika mereka berupaya membangun company-culture yang rada beda dengan kebanyakan perusahaan lainnya.

Di sebuah kawasan perkantoran yang mereka namai Googleplex, konon hampir tak ada kesan sebuah kantor konvensional layaknya kegiatan bisnis kebanyakan. Masuk lobi kantor mereka, justru sebuah piano yang terpampang, dan sebuah proyeksi hasil search-query sebagai latar belakangnya. Di hall yang sama, penuh dengan alat olah-raga dan steady-bike yang setiap saat bisa diakses semua karyawannya. Dan di hampir setiap sudut kantor banyak alat-alat hiburan seperti video-game, snack-room, meja ping-pong. Mengapa bisa seperti itu? Mungkin anda bisa sedikit mencari celah jawaban ketika kita mendengar komentar-komentar sang pendiri dalam beberapa wawancara, yang menyampaikan sebuah semangat semacam “..you can be serious without a suit..”, atau hal yang pernah dikatakan Brin, yaitu “..work should be challenging, and the challengge should be fun!..”. Kalau menilik definisi yang pernah disampaikan Andy F.Noya tentang definisi seseorang yang bahagia, adalah orang yang bisa mendapatkan uang untuk menghidupi diri dan keluarganya secara cukup dari pekerjaan yang dia senang melakukannya, maka mungkin Page dan Brin termasuk dalam definisi ini.

Dan kebesaran Google seakan belum juga menemui kejenuhan. Tahun ini saja, tercatat mereka bisa memperoleh revenue lebih dari 20 milyard dollar! Dengan market-share untuk bisnis sejenis lebih dari 50%, mengalahkan Yahoo! Search di urutan ke-dua di hanya 19%.

Kembali ke pertanyaan yang diatas sudah saya sampaikan, apa yang bisa kita pelajari dari mereka? Sebuah talenta yang diasah oleh sebuah kemauan untuk belajar dan ketekunan selalu akan berbuah sebuah kompetensi unik setiap individu. Saya yakin lebih dari dua ratus juta penduduk Indonesia, pastilah banyak yang memiliki talenta-nya masing-masing. Saya yakin banyak diantara mereka yang kemudian tekun mengasah kompetensinya, diantara lalu-lalang berita yang seolah mengindikasikan bangsa kita yang lebih suka demo, menghujat, mengeluh dan meratap pada keadaan maupun pada pemerintah penyelenggara negara.

Dan Page dan Brin, dengan kompetensi unik mereka, tidak serta merta memasang tarip kepada setiap orang yang membutuhkan hasil kreasi mereka. Semangat mereka di awal lebih kepada membantu. Itulah kemudian banyak orang berbondong justru memakai produk mereka! Dan ketika mereka besar dan mulai memiliki karyawan, mereka lebih menganggap karyawan mereka sebagai ‘partner’, yang untuk produktif juga harus diperhatikan kebutuhannya, tidak sekedar hanya sebagai pekerja.

Page dan Brin adalah kisah nyata sebuah kemungkinan. Satu hal yang juga bisa jadi terjadi pada semua orang dengan semangat, kemampuan dan kemauan layaknya mereka. Termasuk kita!

*) Pitoyo Amrih; www.pitoyo.com – home improvement, bersama memberdayakan diri dan keluarga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *