Pitoyo Amrih

Belajar dari para Raksasa Dunia Maya (bag 2 – Yahoo!)

Seri Membangun Bisnis Dunia Maya (31)

Saya masih ingat dulu ketika pertama kali saya coba kutak-kutik menjelajah dunia maya, mungkin sekitar tahun 1997. Ketika itu memiliki alamat e-mail untuk seorang individu boleh dikata sebuah kepemilikan langka. Saat itu, yang seharusnya memiliki alamat e-mail adalah sebuah perusahaan yang berniat menjalin komunikasi di internet. Sementara bagi para individu, lebih kepada keinginan menaikkan gengsi. Karena alamat e-mail yang ada masih berbayar.

Waktu itu, saya termasuk yang juga tergoda gengsi, ikut ‘beli’ alamat e-mail dengan membayar tiap bulan. Walaupun cuman bertahan tidak sampai setahun, tapi itulah yang terjadi. Saat ini, lebih dari sepuluh tahun kemudian, mungkin kita akan tersenyum sendiri, punya alamat e-mail harus bayar? Hmm..

Dan di era tahun 1997 itu, adalah sebuah penyedia jasa internet yang berkontribusi merubah paradigma bahwa alamat e-mail bukanlah sebuah kemewahan yang mendaftarkan dirinya dengan nama Yahoo.com. Mereka memberi layanan web-base e-mail gratis bagi siapa saja. Memang saat itu kita tidak bisa serta merta memberi gelar Yahoo sebagai sang pelopor bagi e-mail gratisan. Karena ada juga Mailcity –yang saat ini lebur dalam perusahaan Lycos-, Hotbot, MSN. Tapi peran Yahoo tak bisa kita abaikan begitu saja, ketika kemudian dengan berjalannya waktu, Yahoo secara dramatis dari waktu ke waktu selalu menambah kuota mailbox-nya sampai dengan unlimited beberapa tahun terakhir ini. Sebuah gebrakan yang tentunya tak mudah. Dan Yahoo juga yang saya pikir ketika itu memulai menambah feature mail gratis-nya tidak hanya dalam bentuk web-base mail, tapi bisa di-set untuk ter-‘download’ dalam program POP3 maupun SMTP, kirim terima e-mail dengan menggunakan software mail-client. Sehingga kepemilikan alamat e-mail Yahoo tidak lagi terkesan murahan, tapi lebih personal.

Sang pendiri bernama Jerry Yang dan David Filo. Yang, adalah warga Amerika imigran asal Taiwan, sementara Filo adalah seorang yang dibesarkan di sebuah kota kecil di daerah Lousiana, Amerika. Mereka berdua dipertemukan sebagai dua orang peneliti paska sarjana di Universitas Stanford di bidang Electrical Engineering. Kabarnya mereka, ketika itu, di tahun 1990-an justru mulai tertarik dengan dunia internet dan berbekal keinginan mereka untuk membantu, mereka membuat program di bawah situs stanford.edu. Sebuah program untuk memberi petunjuk apa dan bagaimana memulai berselancar di dunia maya. Mungkin mirip sebuah function engine website portal, tapi terlihat lebih sederhana. Program yang di-upload di http://akebono.stanford.edu/yahoo.

Mereka memberi nama Yahoo, bermula dari singkatan atas kata itu : “Yet Another Hierarchical Officious Oracle”. Sebuah sebutan bagi program mereka, sekaligus konon katanya karena mereka juga suka dengan kata Yahoo itu sendiri, yang bermakna sebuah ungkapan ‘liar dan terbebaskan’ dalam bukunya Jonathan Swift yang berjudul Gulliver’s Travel.

Yahoo sendiri terdaftar sebagai domain resmi yahoo.com pada Januari 1995. Sejak itu, Yang dan Filo semakin menggilai dan semakin menekuni apa yang begitu mengasikkan bagi mereka. Meninggalkan keahlian formal mereka sendiri sebagai seorang Insinyur Listrik. Mereka semakin mempercantik layanan portal mereka. Sebuah halaman homepage yang memuat banyak hal dengan tampilan yang semakin dibuat mudah dan akrab bagi mata para peselancar dunia maya. Ada search engine, ada kolom update berita dari berbagai penyedia layanan berita, ramalan cuaca, ada game, semuanya dalam satu halaman! Maka portal mereka semakin banyak dikunjungi, dan semakin banyak perusahaan layanan internet kecil-kecil yang ingin ‘menginduk’ kepada mereka.

Istilah website ‘portal’ sendiri, layaknya sebuah pintu gerbang menuju ke segala macam halaman web lain tergantung apa keinginan para user. Pintu gerbang yang bisa dianalogikan sebagai ‘pintu masuk’ sebuah kawasan yang berisi segala macam informasi dan layanan internet. Ketika semakin banyak orang masuk melalui pintu gerbang itu, wajar kiranya, semakin banyak perusahaan kecil-kecil yang rela ‘menggabungkan diri’ masuk dalam ‘kawasan’ dalam lingkup portal itu.

Maka mulailah kerjasama itu. Perusahaan layanan e-mail yang kecil bernama RocketMail -dibanding raksasa Mailcity- yang bergabung dengan Yahoo dan menjadi Yahoo! Mail. ClassicGame.com salah satu pelopor game on-line saat itu, bergabung dengan Yahoo dan beralih rupa menjadi Yahoo! Games. Mereka pun berinovasi dengan Yahoo! Pager yang kemudian berubah nama menjadi Yahoo! Messenger dan begitu akrab bagi para pengguna internet dan ponsel.

Jerry Yang dan David Filo rupanya tidak hanya pintar dalam hal program-memrogram. Mereka juga begitu ringan tangan dalam semangat kebersamaan antara pelaku usaha dunia maya. Mereka sepertinya tidak melihat para pelaku lain di jagad internet sebagai seorang pesaing, mereka lebih melihat kompetitor bukanlah sebagai kompetitor, tapi rekan untuk berbagi. Hal ini bisa kita rasakan saat mereka melakukan hal-hal yang dianggap perlu untuk membuat Yahoo bisa bertahan dalam era ‘Dotcom Bubble’ di sekitar tahun 1999 sampai tahun 2002-an.

Pertumbuhan perusahaan Dotcom sejak awal 1990-an, membuat orang terutama di Amerika sana berlomba-lomba menjadi yang terdepan dalam menginvestasikan uang mereka di dunia maya. Begitu banyak perusahaan dotcom bermunculan dengan segala macam layanan. Baik yang berskala server dari garasi rumahan sampai perusahaan dotcom dengan nilai investasi jutaan dolar menguasai segala macam prasarana dan perangkat kerasnya. Tapi rupanya, pertumbuhan pasar tidak sepesat pertumbuhan modal. Khalayak ‘mengkonsumsi’ dunia maya dengan pertumbuhan wajar-wajar saja. Jadilah sang bubble di awal 2000-an. Perusahaan dotcom pun berguguran. Tapi Yahoo bukanlah salah satu diantaranya. Yahoo justru menggalang kerjasama dengan perusahaan dotcom untuk bisa bertahan.

Dan masa sulit itu telah lewat. Kini Yahoo telah menggelar kantor-kantor di banyak ibukota di seluruh dunia. Dan memperkerjakan hampir 15 ribu karyawan di seluruh dunia, dengan penghasilan lebih dari 4 milyard dollar setahun! Jadilah kini Yahoo.com duduk di urutan ke-dua selama beberapa tahun terakhir ditilik dari jumlah kunjungan per harinya yang mencapai 50 juta visitor!

Terlepas dari kontoversi dan masalah yang menimpa Yahoo sendiri sebagai perusahaan, terutama terkait dengan masalah privasi, sifatnya yang dianggap lunak terhadap ancaman spyware, serta beberapa anggapan yang melihat mereka kurang bisa mengakomodasi hal-hal yang bersifat budaya lokal seperti yang terjadi pada kasus mereka di Cina, yang jelas kita bisa banyak belajar dari sang pendiri, Yang dan Filo atas keyakinan pilihannya ketika dia meninggalkan profesi mereka sebagai peneliti dan memilih untuk tekun terhadap apa yang mereka senangi.

Juga semangat kebersamaan mereka, ketika menjadi salah satu pemilik penyedia layanan website yang selalu aktif menjalin kebersamaan dengan perusahaan dotcom lain –tinimbang sikap yang terlalu menganggap perusahaan dotcom lain sebagai pesaing- sehingga bisa melewati masa bergugurannya perusahaan dotcom kala itu.

Banyak orang bilang saat ini negara kita sedang menghadapi banyak masalah. Yang dan Filo memberi contoh kepada kita sikap kebersamaan untuk dapat melewati kesulitan. Bukannya saling curiga dan menyalahkan, sesuatu yang sepertinya masih biasa kita lakukan…

*) Pitoyo Amrih. www.pitoyo.com – home improvement, bersama memberdayakan diri dan keluarga

Telah di baca sebanyak: 1132
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *