Agung Praptapa

Belajar Dari Penerbit


Kurang lebih dua minggu yang lalu saya memasukkan naskah calon buku saya kepada penerbit terkenal di negeri ini. Pagi tadi saya mendapatkan sms dari salah satu pimpinan penerbit tersebut yang kurang lebih isinya adalah sebagai berikut: “…., naskah perlu dilengkapi, banyak yang belum dipaparkan. Juga lebih dieksplisitkan global actionnya kalau mau pakai judul itu”. Dari sms tersebut saya mengambil kesimpulan bahwa buku saya belum bisa diterbitkan melalui penerbit tersebut apabila tidak saya lakukan penambahan dan perbaikan isi. “Ini pengalaman baru” demikian saya katakan dalam hati kepada diri sendiri. Pengalaman sebelumnya, saya melakukan presentasi tentang draft buku saya di depan penerbit, dan penerbit langsung menerima saat itu juga. Untuk calon buku yang satu ini mendapatkan pengalaman yang berbeda. Setelah menunggu hampir dua minggu akhirnya mendapatkan jawaban bahwa buku saya belum bisa diterbitkan. “Ha..ha…pengalaman ini dapat dijadikan bahan tulisan” demikian saya berkelakar dengan diri sendiri.

Terus terang saja saya berencana menerbitkan buku ke dua yang saya beri judul “ Local Wisdom Global Action”. Buku itu membahas bagaimana kita dapat memenangkan persaingan kerja dengan menggunakan formula sukses yang berasal dari kearifan lokal jawa. Sebagian besar isi buku tersebut telah saya publikasikan melalui pembelajar.com. Tema tersebut saya angkat sebagai salah satu bentuk keprihatinan bahwa beberapa produk asli Indonesia di klaim oleh negeri tetangga sebagai produk asli mereka. Saya khawatir, kalau kearifan lokal yang kita miliki tidak segera diabadikan dalam bentuk buku, bisa saja nanti konsep-konsep dari kearifan lokal tersebut dipelintir oleh mereka sebagai kearifan lokal mereka. Kekhawatiran yang terlampau berlebihan sebetulnya. Namun saya punya keyakinan bahwa tema-tema tersebut harus segera diangkat. “This is the time” pikir saya. Dalam draft buku saya tersebut, saya mengulas persaingan kerja dengan pendekatan manajemen modern, yang selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal yang universal.

Kembali kepada tanggapan yang diberikan oleh penerbit, ini merupakan pembelajaran bagi saya. Dengan masukan yang singkat padat dalam bentuk sms tersebut, saya nilai sebagai tembakan yang pas kena sasaran. Saya ingin menimba pengalaman. Saya sangat senang draft buku saya diberi masukan yang konstruktif. Dengan niat ingin bisa belajar lebih jauh, saya putuskan untuk menelpon penerbit tersebut.

“Buku Anda masih terlampau prematur” demikian kata penerbit tersebut. Ia menyebutkan topik-topik yang semestinya menarik untuk diangkat. “Buku Anda tidak berimbang antara aspek larangan dengan aspek anjuran. Terlampau banyak jangan begini jangan begitu. Positif dan negatifnya tidak berimbang” imbuhnya. “Betul juga…” demikian saya katakan dalam hati. Ini modal utama untuk perbaikan.

Jumlah halaman juga menjadi kendala dalam draft buku ini. “Kalau jumlahnya hanya sekian.wah … njilidnya harus dengan jilidan kawat…kan gak lucu” katanya. Memang benar. Draft buku saya hanya 63 halaman A4 dua spasi. Saya memang berniat menerbitkan buku yang tidak terlampau tebal, agar pembaca dapat menyelesaikan membaca buku tersebut dalam waktu singkat. Saya juga telah melakukan pengamatan ke toko buku tentang ketebalan buku, dan saya temukan tidak sedikit buku-buku yang hanya sekitar 60an halaman. Terus terang, saya memang tertarik untuk menerbitkan buku yang tipis-tipis saja. Tetapi saya tidak memperhitungkan sama sekali tentang teknis penjilidannya. Ternyata kalau buku terlampau tipis kualitas penijilidannya kurang bagus. Mungkin juga di punggung buku tidak cukup untuk menulis judul buku dan nama penulisnya. Kalaupun bisa mungkin terlampau dipaksakan, dengan huruf yang kecil-kecil.

Dalam percakapan melalui telepon dengan penerbit tersebut, saya diberi tahu tentang beberapa contoh artikel yang mungkin dapat dijadikan acuan, agar isi buku saya bisa memiliki greget yang lebih nendang. Saya juga diberitahu tentang pentingnya menempatkan paradoks dalam suatu tulisan. “Nah….ini dia…saya dapat ilmu!” demikian dalam hati saya bersorak.

Saya juga menyampaikan kemana sebenarnya arah fokus bahasan buku saya tersebut. “Jangan…itu mempersempit target pembaca!” katanya tegas. “Ha..ha…..satu lagi ilmu yang saya dapat” demikian saya katakan dalam hati. Saya dengan senang hati menerima sarannya. Dalam perhitungan saya, fokus pada masalah yang saya usulkan tersebut akan menciptakan segmen pembaca yang jelas. Namun kacamata penerbit mengatakan lain. Mereka sangat berpengalaman tentang hal itu. Dan ini pelajaran buat saya. Fokus itu baik, tetapi kepekaan terhadap pasar harus tetap dijaga.

Saya kemudian menyampaikan rencana saya untuk melakukan reorientasi pada buku saya tersebut. Saya dalam beberapa hari yang lalu, sambil menunggu tanggapan dari penerbit, memiliki suatu pemikiran bahwa kalau orientasi pembahasan buku digeser sedikit saja, efek pasarnya akan sangat dahsyat. “Kalau itu saya setuju….saya paham” kata beliau dari penerbit.

Sambil menyelesaikan tulisan ini saya memiliki beberapa ide agar buku saya nanti akan lebih joss…lebih cespleng! Saya memang harus menulis kembali buku saya tersebut, tidak masalah. Toh demi suksesnya buku tersebut. Saya tidak tahu mengapa tiba-tiba dalam hati saya muncul getaran semangat yang membara untuk menulis buku yang best seller. Saya yakin bisa. Lihat saja nanti!

Saya menulis pengalaman ini benar-benar untuk tujuan sharing. Saya pun ingin mendengar pengalaman orang lain dalam berinteraksi dengan penerbit. Penulis dan penerbit adalah mitra. Sebagai mitra kita harus menjadi satu tim yang solid untuk menyukseskan buku-buku yang diterbitkan.

Para sahabat, sharing Anda saya nantikan. Semoga tulisan ini bermanfaat. Sukses untuk kita semua.

*) Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga Direktur AP Consulting, yang memberikan jasa konsultasi bisnis dan training di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Kolumnis di pembelajar.com dan juga penulis buku “the art of controlling people”. Website: www.praptapa.com; Email: praptapa@yahoo.com.

Telah di baca sebanyak: 2974
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *