Kolom Bersama

Belajar Perubahan dari Paul S Otellini

Oleh: Erwin

Apakah Anda kenal dengan nama di atas? Paul S Otellini? Coba ditebak dulu, apakah dia seorang Presiden? Seorang jendral di Amerika? Atau seorang artis? Atau pencipta Otello, sejenis permainan seperti Domino dengan bulatan hitam putih?

Hehehe … Jawabannya semuanya salah. Dia adalah CEO dari Intel Corporation, Perusahaan IT yang awalnya memproduksi Memory Chips dan berubah menjadi Microprocessor yang telah menghebohkan dunia IT di Era Tahun 90an. Nah Anda tentu tahu kalau dulu kita beli komputer maka selalu ada tempelan “Intel Inside“ di Casing CPU nya. Yah itu menandakan bahwa processor komputer tersebut menggunakan Intel.

Bentar … bentar. Jangan komplain dulu. Benar, saya bukanlah orang IT, bukan juga ahli di bidang teknologi yang beginian. Namun saya sangat terinspirasi dengan membaca sejarah perubahan yang dilakukan oleh Paul Otellini. Dan tentu saja juga sangat menghormati kejiwa besaran Andy S Groove, Mantan CEO Intel yang sangat spiritual, kharismatik, dan yang memimpin Intel di masa lalu menjadi raja di bidang Microprocessor.

Ok. Siapa sebenarnya Paul Otellini ini? Dia adalah pria berusia 59 tahun, lulusan sarjana ekonomi dari Universitas San Fransisco. Dan mempunyai background kuat di bidang Accounting & Finance. Diangkat menjadi CEO di tahun 2005 menggantikan CEO sebelumnya Craig R Barret.

Saya jelaskan sekilas tentang budaya yang dulunya berakar di Intel. Dulunya Intel adalah perusahaan yang sangat fokus di microprocessor, apalagi semua perusahaan besar komputer menggunakannya, seperti IBM dan Dell Computer. Nah dikarenakan fokus Intel benar benar seperti itu maka terbentuklah kaum elit di Intel, yaitu para insinyur yang diakui menjadi “The First Class“ di Intel.

Nah, masuknya Paul Otellini sebagai CEO sudah mulai mengusik Para Insinyur “The First Class“ ini. Paul pernah berujar di umum, “Betul saat ini Amerika memimpin Industri IT, tetapi kepemimpinan ini tidak akan kekal. Lihatlah, saat ini pertumbuhan pemakaian internet di dunia terbesar sudah bukan Amerika, melainkan Asia.“ Dan disambung lagi dengan pernyataannya yang cukup kontroversial, “Bukan karena Amerika yang menurun, melainkan negara negara lain yang lebih agresif dibanding kita.“

Paul pun menggagas konsep “Multi Core Processor“, di mana Intel akan masuk ke berbagai bidang seperti untuk memory processor barang elektronik, kedokteran, HP, dan banyak bidang lain lagi. Untuk mewujudkan keinginannya itu, mulailah perekrutan besar-besaran dari luar. Posisi Marketing Director dipilih dari orang luar yang bukan orang Amerika, yaitu Eric B. Kim, seorang Executive Senior dari Samsung Corporation yang berkebangsaan Korea. Di sinilah muncul pergolakan dari dalam terutama dari Para Insinyur “The First Class“.

Bayangkan, sebuah perusahaan Intel yang notabene kebanggaan Amerika, di divisi pemasarannya dipimpin oleh seorang Korea. Bisa dibilang, CEOnya ini sableng dan nekat luar biasa.

Kenekatan Paul bukan hanya sampai di situ. Dia pun merekrut dokter senior, designer, dan beberapa mantan petinggi dari Nokia. Hal ini menimbulkan banyak insinyur yang mundur dengan sukarela dan pindah ke perusahaan saingan Intel, yaitu AMD. Masalah yang muncul bukan pada yang pindah, melainkan kepada “kaum pembangkang“, yaitu insinyur-insinyur yang tidak sukarela keluar namun bertahan di dalam perusahaan dan selalu berusaha menentang setiap kebijakan Paul.

Yang jadi pertanyaan besar adalah kenapa Paul berani untuk mengubah fokus perusahaan?

Alasan utama adalah selama beberapa tahun belakangan itu, pangsa pasar Intel sudah digerogoti oleh beberapa pesaing seperti AMD dan beberapa perusahaan junior yang saling berkolaborasi. Memang sih tidak terlalu signifikan, namun perlahan-lahan mulai turun.

Masalahnya adalah para insinyur ini tidak menyadari hal tersebut. Mereka tetap asyik untuk berinovasi menciptakan microprocessor yang lebih cepat dan lebih cepat lagi. Padahal sudah beberapa kali kecolongan. Pesaing yang duluan meluncurkan microprocessor terkini dan lebih cepat dan lebih canggih dari Intel. Nah bukankah biasanya bila kita asyik terhadap sesuatu maka kita tidak terlalu memperdulikan perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar kita?

Pergolakan puncaknya adalah di Santa Clara, 20 Oktober 2005, di dalam rapat eksekutif puncak Intel yang dihadiri oleh 300 manager Intel dari seluruh dunia, dan juga Mantan CEO kharismatik, Andy Groove. Seorang Andy Groove adalah seorang yang keras dan disiplin. Siapapun di jaman kepimimpinan dia tidak berani adu argumen dengan mantan CEO ini.

Yang melakukan presentasi bisnis adalah Eric B Kim, dilakukannya di hadapan semua manager dan eksekutif Intel berkulit putih. Kebayang hebohnya seperti apa?

Yang terjadi adalah hal yang luar biasa. Eric B Kim dengan dingin mempresentasikan strategi untuk merubah total semua hal yang dulunya dirintis Andy Groove, seperti produk, logo Intel, branding, merk pentiumnya, sampai ke budaya Intel sendiri.

Semua peserta waktu itu tidak ada yang berani berbicara, dan hanya diam hening mendengarkan presentasi tersebut karena mereka mengetahui bakalan terjadi perdebatan panjang antara Paul dan Andy Groove ini. Siapa sih yang mau berbagai hal yang telah dirintis selama puluhan tahun ini di tangan generasi mudanya akan dihancurkan total.

Di luar dugaan semua orang, ternyata Andy Groove tidaklah marah atau tersinggung bahwa hasil karyanya selama ini akan dibabat habis oleh Generasi CEO penerusnya. Malah beliau berujar, “Saya melihat program ini sebagai salah satu manifestasi terbaik yang saya pernah lihat di sini, yang menggabungkan nilai nilai Intel: pengambilan resiko, kedisiplinan, dan orientasi pada hasil. Saya mendukung sepenuhnya.”

Semua orang berdiri dan bertepuk tangan, dan hilanglah segala kecemasan dan keragu-raguan. Hasilnya, sampai saat ini Intel merupakan salah satu perusahaan IT yang tetap kuat dan gesit mendominasi pasar.

Apa yang bisa kita pelajari dari peristiwa di atas?

1. Manusia selalu berubah, jaman selalu berubah, pasar selalu berubah, dan tuntutan juga selalu berubah. Bersikaplah lebih Peka terhadap gejala-gejalanya. Jangan pernah ragu-ragu mengambil satu tindakan perubahan.
2. Seorang pemimpin sejati seperti Andy Groove sangat paham sudah saatnya berubah, dan beliau tidak memaksakan apa yang di jamannya sangat bagus namun mungkin tidak relevan lagi untuk sekarang ini. Beliau sangat ber-JIWA BESAR melihat perombakan total terhadap program yang dirintisnya.
3. Seorang Change Leader seperti Paul S Otellini haruslah risk taker serta berani membuat keputusan-keputusan yang tidak populer, namun sangat penting untuk perubahan menuju arah yang lebih baik.

Jadi, siapapun Anda, di manapun Anda, apapun posisi Anda sekarang ini, sejatinya Anda juga adalah seorang pemimpin untuk hidup Anda, karier Anda, dll.

Pertanyaannya adalah beranikah Anda berubah? Beranikah Anda menjadi Change Agent di hidup Anda sendiri, karier Anda, perusahaan Anda, serta lingkungan tempat tinggal Anda? Marilah kita sama-sama belajar dan melatih diri.

Enjoy your day and have a nice changing in your life.

*) Erwin. BBA di Preston University, saat ini aktif sebagai KISS Manager (training and development for support system MLM. Dapat dihubungi langsung di erso.kaizen@indosat.net.id

Telah di baca sebanyak: 1638
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *