Kolom Alumni

Benarkah Bekerja itu Pasti Nyaman?

Oleh: Eko Supriyatno

Sahabat saya Bonny yang sudah kerja lebih dari sepuluh tahun terus-terusan mengeluh soal kerjaannya. Bayangkan usianya kini sudah di atas 40 tahun. Bukan usia muda tentunya. Ia bercerita, bahwa sudah kerja begitu lama tapi tak kunjung nasibnya membaik. Ironisnya, bahkan saat ini ia merasa kelimpungan dan pontang panting untuk menutupi segala kebutuhan hidup dan keluarganya. Yang ada dalam kepalanya adalah sikap pesimis yang sagat besar. Ia tampaknya tidak menyadari bahwa pekerjaannya tidak membawanya dalam suasana nyaman. Mungkin juga ia menyadari, tapi ia tidak tahu harus berbuat apa. Yang mengherankan sampai hari ini, Ia masih ‘betah’ ngendon di perusahaannya. Suatu ketika dia mengatakan:”enggak bener tuh kerja ibadah, kerja ya cari duit”. Begitu kira-kira ia katakan. Agak miris juga sich, mendengar apa yang dia katakan. Cobalah anda bayangkan bagaimana rasanya bekerja dalam suasana seperti itu. Tidak nyaman bukan!

Tak jauh berbeda, kolega saya yang satu ini. Namanya Jaya. Ia seorang petinggi di perusahaan cukup terkenal. Ya, kelas menengahlah. Kalau saya ajak bicara seringkali isi kepalanya sesuatu yang negatif. Padahal ia sudah baca bukunya Rondha Byrne yang fenomenal itu (Secret). Seringkali ia mendapati kekurangan setiap kali gajian. Bahkan seringkali gajinya terlambat. Jadilah sang istri mulai ngedumel. Berulang kali Ia menyatakan keluhan atas pekerjaannya. Lagi-lagi sudah jelas pekerjaannya tidak membawa perbaikan dalam hidupnya. Alhasil, saya melihat Ia melakukan pekerjaan yang sesungguhnya tidak benar-benar ia sukai. Lantas, mengapa tidak keluar saja dari perusahaan? Jawabannya adalah karena tidak tahu harus kemana setelah keluar. Ringkasnya enggak berani drop dari kantornya. Padahal mereka adalah orang terpelajar dan usianya tergolong matang.

Biasanya dalam suatu percakapan ketika sedang menunggu Bus, Kereta api atau pesawat pertanyaanya adalah: ”Kerja di mana?” “saya kerja di perusahaan ABC”. Bisa menjawab singkat, bisa juga meneruskan dengan obrolan yang lebih panjang, tentang diri pribadi keduabelah pihak. Bahkan, ada orang yang “tidak bekerja” atau terkena pemutusan hubungan kerja, menganggur kata kasarnya, kalau tak mau memperpanjang cerita, ia akan terpaksa bohong mengatakan apa pekerjaannya.

Ya. Tidak bekerja, bagi orang dewasa, aib. Seseorang, lebih-lebih jika ia kepala keluarga, sangat malu jika tidak bekerja. Maka, bekerja, salah satu “gunanya”, menjaga martabat. Seseorang yang tidak punya pekerjaan padahal fisiknya sehat wal afiat, martabatnya jatuh. Khalayak masih sulit menerima kenyataan, ada orang segar-bugar, usia produktif, kok nganggur! Malu khan, Iya enggak!

Tuhan, Sang Pencipta sudah mengingatkan bahwa sebenarnya bumi ini disediakan supaya kita mendapat banyak kemudahan. Kemudahan dalam bekerja, kemudahan dalam perdagangan, kemudahan dalam jual beli, kemudahan bertransaksi. Jadi, selama mau berusaha, Sang Pemberi Rezeki menjadikan urusan pemenuhan kebutuhan hidup itu mudah. Hanya yang mempersulit diri, mengalami kesulitan. Atau, kesulitannya, menjadi “lahan amal” orang lain yang lebih beruntung. Sebenarnya, untuk apa kita bekerja?

Toto, seorang manajer HRD di perusahaan Jepang yang sudah mengabdi pada perusahaan yang sama selama 18 tahun (sekarang 20 tahun) adalah contoh yang bagus sekali. Dalam satu event family gathering tahun 2007 saya berdiskusi denganya. Saya ajukan satu pertanyaan: “Kenapa Bapak bekerja di bidang yang sama dan berlangsung delapan belas tahun”?. Ia katakan, “Saya menyenangi pekerjaan tersebut meskipun kadang pekerjaan tersebut mengandung resiko di ‘musuhi’ oleh departemen lain. Ia melanjutkan, seringkali sebagai seorang manajer HRD ia tidak dihargai oleh rekan kerjanya atau departemen lainnya. Bentuknya bisa berupa ancaman atau teror langsung kepadanya. Lalu, saya kejar dengan pertanyaan lain. Mengapa Pak Toto tetap senang? Menurutnya, saya senang jikalau orang bisa berubah karena saya. Tentunya berubah menjadi lebih baik, lebih disiplin dan lebih nyaman dalam pekerjaannya.

Anda bisa lihat perbedaan antara dua contoh di atas dengan contoh terakhir. Bonny dan Jaya adalah dua orang yang tidak memiliki kenyamanan bekerja. Sehingga keinginan kuat bekerjanya hanya karena soal uang. Sementara Toto adalah orang yang sangat clear visi bekerjanya. Nyaman. Buat Toto urusan rejeki adalah perkara yang mudah asalkan selalu menyenangi pekerjaannya. Bagi Bonny dan Jaya yang penting aman, setiap bulan dapat gaji, sementara buat Toto kenyamanan lebih penting.

Inilah yang saya sebut kekeliruan pertama, memandang orang bekerja pastilah nyaman. Karena dengan bekerja mendapat gaji atau penghasilan. Lalu, kenapa dua sahabat tadi tidak tentram dalam bekerja? Rupanya ada salah tafsir dalam memandang zona nyaman. Kebanyakan dari kita memandang sebuah kata ‘aman’ pastilah ‘nyaman’. Padahal kalau kita dalami, belum tentu aman juga berarti nyaman. Bagi Bonny dan Jaya Aman ternyata tidak menjamin rasa nyaman. Keluhan, kekecewaan, kegundahan, dan kegelisahan adalah bentuk-bentuk ketidaknyamanan. Inilah bukti konkret aman tidaklah selalu nyaman. Cara pandang seperti ini dalam Ilmu Logika disebut dengan kekeliruan non causa pro causa. Kekeliruan yang terjadi apabila kita menganggap sesuatu sebagai sebab, padahal sebenarnya bukan sebab. Atau bisa juga dikatakan bukan sebab yang lengkap. “Aman” bukanlah penyebab yang lengkap “Kenyamanan”.

Bagi Toto pekerjaannya yang mungkin kadang ada teror dari rekan kerja, kadang tidak ada rasa terima kasih atas jerih payahnya mengajukan kenaikan gaji bagi karyawan lain, namun baginya itu bagian dari perjalanan pekerjaan yang terus menerus dia senang menghadapinya. Mengasyikkan baginya. Ia tidak merasa tertekan. Ia happy, Ia fun. Ia bersyukur atas pekerjaannya. Ringkas kata Ia nyaman. Mengapa begitu? Ia bersyukur karena berkontribusi bagi rekan kerjanya. Ia gembira tatkala membantu sesama rekannya. Ia mendorong kenaikan gaji tidak hanya buat dirinya, tapi juga untuk rekannya dan bahkan depertemen selain HRD. Ia bahkan sangat sedih jika belum dapat atau tidak dapat menolong orang lain. Ia gelisah ketika pekerjaanya belum memberikan kontribusi positif bagi kinerja perusahaan. Ia gundah kalau performanya belum dioptimalkan bagi perusahaan.

Walt Disney, sang juragan walt Disney (1901-1966) pernah mengatakan “Anda akan mencapai suatu titik ketika Anda tidak bekerja demi uang”. Bayangkan! Seorang walt Disney saja yang sangat kaya raya tidak bekerja hanya demi uang. Bagaimana dengan kita?

Donald Trump, pendiri Trump Organization yang kita kenal sebagai raja property. Ia mengatakan bahwa uang bukanlah motivasi yang utama baginya. Uang buat Trump adalah sebagai cara untuk mencetak angka. Kesenangan sesungguhnya adalah terletak dalam permainannya. Pendek kata, buat Trump kesenangan dalam bekerja yang membuatnya merasa nyaman. Sehingga apapun kerikil dan aral yang melintang baginya hanyalah bagian dari permainan yang sangat meneyenangkan. Betul atau betul?

Kegembiraan, kesenangan, dan kenyamanan inilah yang saya sebut sebagai zona ilahiyah. Kita nyaman jika dalam pekerjaan yang kita lakukan dapat berkontribusi bagi keluarga kita, sahabat kita atau bahkan musuh kita sekalipun. Bukankah sifat-sifat di atas termasuk sebagian dari sifat Ketuhanan. Mari kita renungkan!!

*) Penulis adalah Master Terapi Bisnis, Kolumnis dan Trainer berbagai pelatihan. Alumni “Cara Cerdas Menulis Buku Best-Seller” Batch IX. Alumnus PPM. Email: eko_supriyatno2007@yahoo.co.id atau eko@terapibisnis.com Website: www.terapibisnis.com

Telah di baca sebanyak: 1300
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *