Emmy Liana Dewi

Bencana Asap di Riau: Dari Hot Spot Menjadi Hotline


Ketika saya sedang bepergian dan membawa laptop, saya akan mencari tempat yang mempunyai hot spot (saluran internet nirkabel). Saya sering mencari hot spot gratis baik di kafe, hotel, maupun bandara untuk membaca e-mail yang masuk maupun kirim e-mail yang penting, atau sekadar menyapa anak yang kuliah di Malaysia. Anak-anak saya kalau pergi juga demen sekali mencari hot spot.

Tetapi, kalau Anda sedang jalan-jalan ke Riau Daratan (Ridar) di musim kering, Anda tidak perlu repot-repot mencari hot spot, karena Ridar merupakan gudangnya hot spot yang jumlahnya bisa puluhan sampai ratusan. Hot spot di Riau gratis manis. Kalau musim kering dan panas sekali, akan muncul hot spot baru yang membuat penduduk di Ridar sampai ke Malaysia dan Singapura kalang kabut. Maklum host pot-nya berhubungan dengan sesuatu yang benar-benar ‘HOT’, yaitu api, yang menghasilkan bencana asap.

Hot spot atau titik api di Riau jumlahnya sampai dua ratus sekian (ini yang saya baca pada tahun yang lalu) yang menyebabkan negeri jiran, yaitu Malaysia dan Singapura ikut menderita terkena imbas bencana asap. Saya yakin, jumlah titik api jauh lebih banyak dari jumlah tersebut pada tahun 1997.
Pada tahun 1997, kami sekeluarga tinggal di Duri. Asap sedemikian tebalnya, sampai jarak pandang kurang dari sepuluh meter. Dan, langit serta pandangan di mana-mana bernuansa abu-abu pekat, disertai sebersit warna kemerahan karena matahari marah tertutup kabut asap. Asap yang pekat membuat mata perih, dan banyak orang mulai terserang ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), menderita bronkhitis kronis, batuk, dan demam.

Kalau bencana gempa, sekali atau beberapa kali menggoyang, ada bangunan yang hancur, ada yang meninggal tertimpa puing, dan yang selamat mencari tempat aman. Lalu berhenti. Atau bencana banjir yang menghanyutkan atau merusak harta benda. Tetapi, Anda masih bisa melarikan diri dan menyelamatkan diri di tempat yang kering. Kalau bencana asap: Tidak ada tempat aman untuk menghindarinya atau melarikan diri darinya. Semua daerah yang terimbas asap, sama rata semua menghirup udara yang penuh racun, baik manusia, burung, gajah, ikan, maupun hewan lainnya.
Satu-satunya jalan untuk menghindari asap, Anda harus pergi dari tempat tersebut dan mengungsi ke daerah lain yang bebas asap. Padahal, orang dari daerah lain yang tidak menghirup asapnya tidak mengerti kenapa Anda harus mengungsi dan meninggalkan untuk sementara waktu pekerjaan dan kehidupan rutin Anda. Mengungsi pun membuat kehidupan Anda porak poranda, karena Anda kehilangan mata pencaharian untuk waktu yang tidak menentu, dan setiap tahun akan mengulang hal yang sama.

Asap benar-benar bisa disebut the silent killer, sang maut yang pendiam dengan korban lebih banyak daripada korban flu khinzir atau virus H1N1. Berapa banyak korban jiwa yang telah melayang karena bencana asap di Riau? Berapa banyak hewan dan tanaman yang punah karena bencana asap itu? Tidak ada jejak ataupun laporan tertulisnya. Karena, belum ada lembaga pemerintah mana pun yang menganggap kebakaran hutan di Riau sebagai bencana yang serius seperti misalnya tsunami di Aceh, gempa bumi di Yogyakarta, atau banjir di Jakarta.

Jujur saya katakan, berbeda dengan banjir dan gempa bumi, pada bencana asap kita tidak kehilangan harta benda. Tetapi, karena bencana asap kita bisa kehilangan sebagian kesehatan kita dan umur kita secara pelan-pelan. Asap yang kaya oksidan mengurangi kualitas udara dan menganggu pernapasan kita. Bukankah oksigen yang berkualitas adalah satu syarat kehidupan yang sehat? Kalau diadakan penelitian, berapa banyak penduduk di Ridar yang terkena kanker paru-paru, bronkhistis kronis, maupun masalah yang berhubungan dengan pernapasan? Juga bagaimana ‘rentang usia’ masyarakat yang tinggal di dekat hutan-hutan gambut—yang membara pada saat musim kering—akan berkurang tanpa ada tindakan yang nyata dari Pemda maupun Pemerintah Pusat? Tanpa ada tindakan hukum yang nyata dan tegas terhadap pelaku pembakaran hutan?
Saya ingin berbagi pengalaman menghadapi bencana asap pada tahun 1997. Saya menemani Steffi, si bungsu kami yang saat itu berusia delapan setengah tahun, yang terpaksa mengungsi ke Batam karena kesehatannya begitu terganggu akibat asap yang sedemikian pekatnya. Bersama-sama balita dan orang ’sepuh’ yang mengalami masalah pernapasan, kami dievakuasi ke Batam yang kualitas udaranya jauh lebih baik. Rombongan kami ke Dumai naik bus, jalan sangat pelan menembus kabut asap. Lalu kami naik kapal feri ke Batam.

Satu feri isinya ibu-ibu dengan balitanya atau anak SD yang sakit. Sedih juga meninggalkan suami dan anak sulung yang sedang menghadapi ujian di sekolahnya. Pengungsian ini sampai menjadi berita di televisi dan koran, dan banyak orang mencemooh karena mereka tidak merasakan betapa sulitnya bernapas (terutama bagi orang dengan masalah pernapasan seperti asma, bronkhistis, ISPA) dalam bencana asap.
Murid-murid diliburkan dari sekolah untuk sementara waktu. Keluar rumah harus pakai masker. Otomatis kegiatan ada di dalam rumah. Beruntung kami tinggal di komplek perumahan sebuah perusahan minyak yang serba tertutup karena memakai AC central. Pun demikian, kualitas udara tetap di bawah rata-rata. Lalu, bagimana dengan mayoritas masyarakat yang rumahnya serba terbuka dan udara bebas mengunjungi ke setiap sela rumah mereka? Anak-anak banyak yang stres harus tetap tinggal di dalam rumah. Yang menjadi pertanyaan, sampai kapan sekolah diliburkan dan sampai kapan mereka tidak bisa bermain di luar rumah?

Kembali lagi ke masalah utama, yakni istilah hot spot. Ada teman kami yang naik helikopter dari Rumbai ke Dumai bercerita. Katanya, dari udara terlihat jalur-jalur penghasil asap, sehingga tidak tepat lagi disebut hot spots. Akan tetapi, itu lebih tepat disebut ‘hotlines’; bukan titik-titik api tetapi barisan-barisan api yang menyebabkan bencana asap. Mungkin juga karena titik-titik sumber api sudah membesar dan bergabung sehingga menjadi barisan sumber api penyebab bencana asap. Sehingga, dari atas terlihat seperti barisan berasap yang menyerupai jalur-jalur awan di daratan.

Cerita ini saya tulis, sepulang suami dan saya beserta rombongan kecil pergi dari Rumbai ke Dumai naik bus. Kami baru saja menghadiri pesta perpisahan dengan sahabat kami yang baru saja menyelesaikan tugas di sebuah perusahaan multi-nasional di Dumai. Sebuah perjalanan yang memakan waktu sekitar 5 jam (lebih bila ditambah waktu istirahat dan makan siang di Duri).
Dan, ketika memasuki daerah Dumai, kami kembali mengalami masalah asap. Asap di Dumai sangat pekat karena hutan gambut ‘terbakar’. Malam harinya asap tebal turun ke bumi, kami tidur dengan udara yang pengap, dan pagi harinya terbangun dengan menghirup udara bau sangit, mata pedih, dan napas pendek kekurangan oksigen yang bersih. Badan, pakaian, dan rambut semua ikut-ikutan bau sangit.

Kami hanya tinggal satu malam saja di Dumai. Perjalanan Rumbai-Dumai pergi-pulang melewati kabut asap telah membuat saya bernostalgia—mengingat ketika ikut dievakuasi karena asap tahun 1997 bersama si Bungsu kami. Beberapa hari kemudian saya jatuh sakit, menjadi korban asap di Dumai. Padahal, kami hanya menginap semalam.
Bila bencana asap tiba, siapakah yang semestinya disalahkan? Alam atau manusia? Telah berapa banyak nyawa yang hilang akibat bencana asap? Pak SBY… bantu kami di Riau untuk memecahkan masalah asap ini, please…!!

* Emmy Liana Dewi adalah seorang ibu rumah tangga, praktisi praktik holistik, pemerhati masalah lingkungan dan pendidikan. Emmy dapat dihubungi melalui Email: esuhendro[at]yahoo[dot]com.


Telah di baca sebanyak: 2622
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *