Kolom Alumni

Berhenti Saat Berjalan

Oleh: Endra Handiyana

Kuputar gas sepeda motorku dengan tenang. Ku melaju dengan kecepatan hampir mencapai 80 km/jam, namun tetap lengkap menggunakan helm standar untuk alat keselamatan. Tak terasa aku sudah melewati beberapa kota dalam perjalanan hari ini. Ups…..tiba-tiba di depan sana terlihat perempatan dengan ramainya kendaraan yang berlalu lalang.

Terpaksa aku harus menurunkan kecepatan dan sesampainya disisi perempatan, lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Aku terhenti sesaat dengan sangat terpaksa demi mematuhi peraturan lalu lintas agar tidak terkena tilang oleh bapak polisi yang terhormat, selain itu juga tetap menjaga keselamatan dalam berlalu lintas. Aku terhenti karena sebenarnya secara naluri warna lampu tersebut mengingatkanku akan apa yang harus aku lakukan. Warna merah menunjukkan kalau aku wajib berhenti, sedangkan warna kuning pertanda bahwa aku harus berhati-hati baik saat mau berhenti maupun saat mau menjalankan lagi sepeda motorku. Sedangkan warna hijau menandakan bahwa aku diharuskan untuk melanjutkan perjalananku. Di bawah alam bawah sadar, arti warna lampu tersebut haruslah kita ketahui kalau mau perjalanan kita selamat, tidak ditilang oleh polisi, tidak berbenturan dengan pengendara dari arah lain ataupun sekedar membuat situasi yang semula lancar menjadi macet.

Di atas lampu yang menyala tersebut terlihat sebuah monitor yang menunjukkan perhitungan waktu secara mundur. Satu persatu angka terlihat semakin mendekati angka satu. Aku teringat akan sesuatu hal, pada perlombaan lari pasti hitungan start akan dimulai dengan hitungan mundur. Semakin mendekati angka satu adalah semakin mendebarkan rasanya. Proses permulaan perlombaan akan segera dimulai. Tak ubahnya juga kehidupan kita. Kita hidup sudah dibekali kepastian mau berumur sampai berapa lama. Proses menjalani hidup ini akan mengurangi sisa hidup kita satu demi satu yang terkadang tidak pernah kita sadari. Waktu yang berjalan begitu konsisten tanpa bisa siapapun menghentikannya, termasuk diri saya. Begitupun juga diperempatan lampu merah itu, setelah mencapai angka satu maka warna merah akan berganti dengan warna hijau yang berarti bahwa kita harus mengambil keputusan untuk melanjutkan apa yang seharusnya kita lakukan.

Kondisi berjalan adalah suatu kondisi yang sangat dinamis, di mana suatu saat kapan saja baik arah maupun kecepatan dapat berubah. Namun mungkin kita bertanya dalam hati, mengapa semua itu bisa terjadi? Pertanyaan yang cerdas yang perlu kita mengulasnya bersama-sama.

Saat saya masih duduk dibangku sekolah dulu, guru saya pernah menjelaskan pelajaran mengenai ilmu fisika yang mempelajari masalah gerak. Guru saya menjelaskan bahwa pergerakan suatu benda dipengaruhi oleh beban, arah, kecepatan serta kecepatannya. Dengan jarak tempuh yang sama, waktu pemberangkatan yang sama, namun jika kecepatan, arah, berat beban yang dibawa serta percepatannya berbeda, maka bisa dipastikan bahwa pada saat tiba ditempat tujuan tidak akan secara bersamaan.

Arah turunan akan lebih cepat dilalui dari pada arah tanjakan. Percepatan konstan pasti akan berbeda jika dibandingkan dengan adanya percepatan ataupun perlambatan. Semua hal akan mempengaruhi proses berjalan ini, kondisi jalan, cuaca juga keramaian pengendara di jalan raya bahkan sesuatu yang sedang kita fikirkan pun juga berpengaruh.

“Ehm….. Rasanya saya tambah bingung, kok yang dibahas malah lampu lalu lintas dan kondisi jalan?”, mungkin seperti itu gumam Anda dalam hati. Ups…tidak perlu bingung, saya tak akan mengajak Anda untuk menjadi bingung, tetapi malah sebaliknya yaitu membiarkan kebingungan tersebut yang akan membimbing pergerakan langkah Anda. Kebingungan yang ada jangan dijadikan masalah, namun malah jadikan pemicu semangat Anda untuk tetap menatap sesuatu yang ada di depan Anda.

Saat kita melangkah, namun saat itu kebingungan sedang mengejar-ngejar kita, bisa jadi Anda tak tahu mau melangkahkan kaki kemana lagi. Mau berbelok ke kiri belum tentu sampai ke tempat tujuan, mau berbelok ke kanan belum tentu tidak nyasar, lurus apalagi belum terbayang ada apa di ujung jalan sana. Mau menggunakan kecepatan tinggi atau rendah, Anda juga belum tahu. Saat-saat seperti itulah yang sebenarnya merupakan titik puncak keberanian buat Anda untuk mengambil keputusan berhenti sesaat. Seperti halnya berhenti karena adanya instruksi nyala lampu lalu lintas tadi.

Stop!. Berhenti sejenak. Lupakan perjalanan Anda. Tanya kenapa Anda arus berhenti. Perjalanan hidup memang dihiasi begitu banyak permasalahan. Kalau tidak begitu maka tidak menjadi indah ceritanya. Baik perjalanan dalam karir, perjalanan dalam bisnis, perjalanan dalam menempuh cita-cita bahkan perjalanan dalam menjalin cinta sejati Anda. Semua tidak lepas dari permasalahan. Ada kalanya permasalahan tersebut ringan untuk ditanggung namun ada kalanya berat untuk diterima, sehingga harus menguras banyak energi untuk menyelesaikannya. Namun yakinlah, semakin sering Anda menghadapi masalah serta dapat menyelesaikannya, maka hal tersebut semakin mendewasakan jalan fikiran Anda.

Ada kalanya saat menemui sejumlah permasalahan kita tidak harus terus menerjangnya, namun perlu berhenti sesaat untuk melakukan evaluasi diri. Bahkan bisa jadi mundur beberapa langkah untuk menyusun strategi baru untuk menyelesaikannya. Pelajari semua hal yang sudah terlewati. Lakukan segala sesuatu secara bijak, serius serta sepenuh hati. Rasa ikhlas yang mendasari segala perbuatan Anda akan menghantarkan Anda pada hasil yang tak pernah Anda bayangkan sebelumnya. Hasil akhir yang luar biasa dahsyat, yang mungkin Anda belum sempat memikirkannya sama sekali.

Alkisah Hasan mempunya beberapa potong ubi dan dia ingin memberikannya kepada Sang Guru. “Guru, ini saya bawakan beberapa potong ubi untuk Sang Guru, saya ikhlas kok dan semoga bermanfaat guru.”

Hasan menyerahkan beberapa potong ubi tersebut kepada Sang Guru dengan penuh rasa keikhlasan.

“Baiklah, terima kasih Hasan. Karena kamu sudah berbuat ikhlas,aka terimalah seekor kambing ini sebagai ucapan terima kasihku.” Sang Guru menyerahkan seekor kambing kepada Hasan sebagai ucapan rasa terima kasihnya.

Dalam perjalanan pulang, Hasan bertemu dengan Parno -teman sekampungnya-.

“Eh San, dapat kambing dari mana?” apa Parno kepada Hasan.

“Tadi diberi oleh Sang Guru karena saya sudah memberinya beberapa potong ubi degan ikhlas.” Hasan menjawab apa adanya.

Parno yang memang mempunyai pemikiran yang serakah, mulailah bergerilya akal bulusnya. “Kalau memberi ubi saja kepada Sang Guru dapat kambing, kalau saya memberi duren kira-kira akan dapat apa ya?” Mulailah pikiran Parno berputar mencari ide.

Bergegaslah Parno ke rumah Sang Guru. “Sang Guru, ini saya bawakan lima buah duren buat Sang Guru, saya ikhlas kok Sang Guru, benar-benar ikhlas sekali”, ungkap Parno sambil memberikan duren kepada Sang Guru.

Sang Guru terharu melihat sikap Parno tersebut, kemudian beliau berpikir kira-kira apa yang bisa dia berikan sebagai ucapan terima kasihnya kepada parno. “Baiklah Parno, terima kasih banyak. Karena kamu sudah berbuat ikhlas, maka terimalah ubi ini sebagai ucapan terima kasih saya.” Sang Guru memberikan ubi pemberian Hasan kepada Parno.

Kisah di atas adalah sebuah gambaran kecil bagaimana keikhlasan akan memberikan sesuatu hasil yang tiada pernah kita bayangkan sebelumnya. Demikian juga dalam setiap pekerjaan kita, dalam setiap hal yang kita lakukan hendaknya selalu diiringi oleh perasaan ikhlas dan sepenuh hati. Selain itu, perlu juga sikap tanpa pamrih dalam melakukan segala sesuatu, segala hal dilaksanakan sebagai nilai ibadah. Kalau saja sikap tersebut sudah menyatu dan mengakar dalam diri kita masing-masing, niscaya hasil yang akan kita dapatkan akan terasa sangat dahsyat. Proses berfikir, bertindak dan berevaluasi bergabung menjadi satu kesatuan yang dilandasi rasa keikhlasan.

Coba Anda perhatikan dengan cermat, ada kalanya saat kita sedang enak-enaknya berjalan, menikmati segala kesuksesan yang telah kita dapatkan, namun tiba-tiba saja kita harus berhenti. Apakah hal tersebut tidak mengagetkan kita? Suatu kesuksesan yang telah ada harus musnah dalam sesaat karena adanya kegagalan yang datang menyapa tanpa permisi. Kegagalan tersebut langsung masuk menyerbu indahnya bangunan kesuksesan kita. Apakah hal tersebut tidak mengagetkan?

Sebagai seorang yang bijak, Anda harus berpikir bahwa sukses dan gagal adalah biasa. Adanya kesuksesan karena adanya kegagalan. Seseorang dikatakan sukses bukannya dari berapa kali dia bisa meraih kesuksesannya. Akan tetapi seseorang yang bisa dikatakan benar-benar sukses adalah seseorang yang berapa kali mampu bangkit dari kegagalannya. Sekali lagi kalau saja kita bisa menerima dan menikmati proses berhenti tersebut dengan ikhlas dan sepenuh hati, maka proses berhenti tersebut merupakan sebuah tolok ukur untuk kita bisa meraih keberhasilan yang lebih besar lagi.

Sejenak coba Anda perhatikan, bus angkutan penumpang akan berhenti sesaat di terminal menurunkan atau menaikkan penumpangnya. Demikian juga kereta api akan berhenti sejenak di stasiun untuk melakukan hal yang sama. Bukankah saat berjalan lagi dari berhenti tersebut ada peluang untuk membawa penumpang yang lebih banyak lagi? Tak jauh berbeda dengan kita, saat berhenti gunakan secara benar sebagai proses evaluasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

Begitulah cerita kehidupan mengungkap dan mengukuhkan dirinya sebagai aktor yang tak pernah tahu skenario dari sang sutradara. Namun marilah kita hayati lagi bahwa proses pemberhentian sesaat adalah proses untuk melakukan evaluasi diri, sehingga bisa mengerjakan hasil yang lebih dari sekedar yang kita inginkan. Untuk terakhir kalinya, sudah siapakah Anda untuk berhenti saat berjalan?

Endra Handiyana, Alumni Pembelajar Writer School ”Cara Gampang Menulis Artikel dan Buku Best-Seller batch V”, Site Technical Development PT PAMAPERSADA NUSANTARA

Telah di baca sebanyak: 1215
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *