Her Suharyanto

BERITA + DATA = KAYA

01 Pebruari 2007 – 07:55 (Her Suharyanto)   Diposting oleh: Editor

(Rate: 0 / 0 votes)
Serial News for Wealth

Dalam jurnalistik ada satu (dari sekian banyak) kriteria untuk menentukan apakah satu peristiwa layak berita atau tidak. Kriteria itu adalah besarnya dampak atau magnitude dari berita itu. Semakin berita memiliki dampak besar, semakin besar pula nilai berita itu. Maka berita Tsunami di Aceh di penghujung tahun 1994 atau gempa bumi di Yogyakarta dan Klaten tahun 2006 masuk kategori berita besar, karena besarnya dampak yang ditimbulkannya.

Dalam diskusi kita mengenai dampak ekonomi dari satu berita berikut apa hubungannya dengan kita, tidak bisa lain kita harus juga berpikir mengenai magnitude. Lebih spesifik lagi, pertanyaan yang pantas kita majukan adalah, apa dampak dari satu peristiwa terhadap ekonomi. Mau lebih spesifik lagi? Mari kita bertanya, apa dampak dari satu peristiwa terhadap pasar. Hanya dengan mengetahui dampak dari satu peristiwa terhadap pasar kita bisa mengambil manfaat dari peristiwa itu.

Penawaran dan Permintaan
Dalam bahasa teknis, berbicara mengenai pasar berarti kita berbicara mengenai permintaan dan penawaran. Kalau kita berbicara mengenai perubahan pasar, maka kita berbicara salah satu dari keduanya, atau kedua-duanya. Kita ambil saja contoh yang pernah dikemukakan sebelumnya. Fakta yang dikemukakan dalam satu berita adalah hujan deras yang mengguyur daerah pertanian di satu musim kemarau. Peristiwa alam ini secara alamiah akan berdampak pada sektor pertanian, yakni gagal panen untuk sejumlah tanaman, misalnya bawang merah dan tembakau. Jelas bahwa pasar bawang merah dan pasar tembakau akan terpengaruh, karena pasokan kedua produk pertanian itu akan berkurang. Karena pasokan kurang, walaupun permintaan tetap, bisa diduga bahwa harga kedua produk pertanian ini akan meningkat sesuai dengan hukum pasar.

Dalam contoh mengenai bencana seperti tsunami di Aceh atau gempa bumi di Yogyakarta, perubahan bisa terjadi di sisi penawaran, bisa juga terjadi di sisi permintaan. Untuk kebutuhan-kebutuhan yang tidak diproduksi oleh daerah itu sendiri, perubahan yang terjadi lebih pada sisi permintaan. Permintaan akan semen, besi untuk konstruksi, cat dan lain-lain untuk daerah Aceh bisa dipastikan meningkat setelah gempa, karena masyarakat membutuhkan bahan-bahan itu untuk membangun kembali rumah dan infrastruktur seperti jalan dan jembatan. Sisi penawaran semestinya tetap, karena dalam kondisi normal pun kebutuhan itu didatangkan dari luar. Tetapi karena sisi penawaran juga ditentukan oleh faktor lain seperti transportasi, maka bisa jadi sisi penawaran juga ikut terpengaruh. Itu yang membuat harga-harga semakin mahal di lokasi bencana.

Sedangkan kebutuhan yang diproduksi masyarakat setempat (masih dengan contoh kasus Aceh) seperti batako atau batu bata, bisa dipastikan berubah di kedua sisi, baik penawaran maupun permintaan. Penawaran akan berkurang, paling tidak untuk jangka pendek, karena banyak produsen yang mengalami hambatan produksi.

Logika sebab akibat seperti ini, terutama logika sebab akibat yang langsung, cukup mudah untuk dipahami, terlebih oleh mereka yang sudah terbiasa berkecimpung di bidang tertentu. Orang yang sehari-hari sudah berbisnis rokok atau tembakau lebih mudah memahami apa yang secara langsung memengaruhi pasar di bisnis itu. Demikian halnya mereka yang sudah berkecimpung di industri-industri lain seperti perbankan, media, farmasi, retail, sembako, pakaian dll.

Tetapi tidak cukup mudah untuk memahami logika sebab akibat yang bersifat tidak langsung, seperti logika bola karambol dalam tulisan saya sebelum ini. Paling tidak orang perlu duduk tenang untuk mulai berpikir, apa dampak langsung dari satu peristiwa, dan apa rentetan dampak ikutan yang akan terjadi di belakangnya. Pada hemat saya ini bukan satu ilmu dengan basis teori yang rumit, melainkan lebih merupakan keterampilan berpikir dengan pijakan logika dan ajal sehat semata. Paling-paling yang diperlukan adalah pengetahuan umum mengenai jaring-jaring penghubung antara satu industri dengan industri yang lain, satu sektor dengan sektor yang lain, satu konteks dengan konteks yang lain.

Menjadi Analis?
Keterampilan inilah sebenarnya yang dimiliki dan terus dikembangkan oleh para analis, entah analis pasar atau analis industri. Keterampilan pokok yang mereka kuasai adalah keterampilan memahami jaring-jaring sebab akibat dari satu peristiwa. Hanya saja, karena mereka memang bekerja sebagai analis professional, mereka memiliki perangkat kerja lain diluar berita sebagai indicator perubahan. Para analis bekerja berdasarkan data (sevalid mungkin) tentang suatu hal, dan menghadapkan data itu dengan perubahan yang sedang terjadi. Maka kemudian mereka bisa mengeluarkan hasil analisa yang lebih masuk akal, lebih detil dan lebih terukur.

Misalnya saja ada sebuah koran yang menulis headline besar “PT Abadi Sejahtara Menerbitkan Obligasi Rp500 Miliar”. Koran yang bersangkutan tidak menyebut sepatah kata pun mengenai tujuan dari penerbitan obligasi atau surat utang tersebut. Koran ini sibuk melaporkan bahwa suku bunganya 10%, jangka waktunya lima tahun, dan permintaan membeludak.

Di tangan masyarakat pembaca awam, berita ini tidak berbunyi apa-apa, selain bahwa PT Abadi Sejahtara mendapatkan kepercayaan dari para pemilik modal. Tetapi di tangan analis, berita ini punya makna berbeda, karena mereka punya data bahwa obligasi Rp500 miliar itu akan dipakai untuk membayar utang bank sebesar Rp 400 miliar yang bunganya mencapai 16% per tahun, yang semestinya akan jatuh tempo tiga tahun yang akan datang, dan sisasnya akan dipakai untuk mengakuisisi kebun sawit produktif milik satu perusahaan kecil. Analis juga punya data bahwa selama sembilan bulan pertama tahun ini perusahaan itu sudah mencatatkan laba bersih Rp 35 miliar. Analis juga tahu perusahaan itu sepenuhnya bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit.

Nah, anda langsung tahu kan, apa arti headline di atas begitu dilengkapi dengan data? Artinya bahwa tingkat produksi perusahaan itu pasti akan meningkat (tambahan lahan), harga jual bisa diharapkan meningkat (seiring dengan trend pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan bio diesel), dan beban bunga perusahaan itu akan turun dari Rp64 miliar menjadi Rp50 miliar walaupun total utangnya naik. Jangan kaget kalau analis itu kemudian memperkirakan laba bersih perusahaan itu akan meningkat 80%, sehingga investor direkomendasikan untuk membeli sahamnya.

Apa pesan yang ingin saya sampaikan? Penting bagi anda untuk memahami logika sebab akibat dalam dunia ekonomi, tetapi akan lebih besar manfaatnya kalau anda memiki data yang cukup akurat mengenai satu hal. Kalau dalam contoh terakhir anda memiliki data seperti yang dimiliki oleh analis itu, maka anda bisa membeli saham PT Abadi Sejahtera sebelum analis itu menulis rekomendasi untuk para kliennya, dan anda sudah bisa mengambil untung ketika sang analis menerbitkan rekomendasi beli dan para kliennya mulai berburu saham itu.[her]

* Her Suharyanto, penulis & editor ekonomi.

Telah di baca sebanyak: 1729
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *