Agoeng Widyatmoko

Berkompetisi Yuk!

Dalam sebuah obrolan dengan salah seorang pemimpin redaksi sebuah majalah ternama, ada satu ungkapan dia yang membuat dahi saya berkerut. ”Saya lagi bingung. Saya merasa gak ada musuh! Jadi, saya malah takut kalau tidak ada ancaman…”

Waw? Saya jadi bertanya. Kok bisa? Bukankah kita bisa hidup lebih tenang kalau tidak ada musuh? Ternyata, jawaban teman saya ini sungguh menggelitik nalar saya.

”Sekarang majalah saya ada di level paling atas. Nah, kalau nggak ada musuh atau kompetitor yang selevel, kami jadi merasa sombong. Akibatnya, kita bisa jadi lengah dan kehilangan motivasi untuk menghasilkan media yang berkelas bagi pembaca kami!”

Pikiran saya langsung melayang pada sebuah kisah yang saya alami beberapa tahun silam. Karena takut pada anjing, begitu mendengar anjing menggonggong, saya akan lari ketakutan. Kebetulan, waktu itu saya sedang santai berjalan di sebuah taman. Tiba-tiba, ada anjing yang menggonggong, dan, ternyata tak cuma menyalak, ia juga mengejar saya tanpa sebab. Maka, dengan sekuat tenaga, larilah saya. Dan, ketika melihat sebuah tembok, tanpa ba bi bu lagi, saya langsung meloncatinya. Waw! Saya berhasil lolos dari kejaran anjing itu. Yang membuat saya heran, tembok yang saya loncati dengan mudah itu ternyata tingginya hampir dua kali lipat tinggi badan saya! Bagaimana bisa? Ternyata, dalam keterdesakan, muncul kemampuan di luar batas yang biasa saya miliki, untuk meloncati tembok itu.

Kembali pada kisah obrolan saya dengan pemimpin redaksi media itu, saya melihat bahwa ternyata dia punya pandangan lain tentang pentingnya kompetitor. Ia mungkin melihat bahwa musuh atau saingan dia itu sebagai sang anjing yang mengejar saya. Dia merasa perlu ”dikejar anjing” agar bisa mengeluarkan potensi yang mungkin masih tersembunyi dalam sumber daya yang dimiliki di kantornya. Ia butuh ”kepepet” agar bisa melejitkan potensi yang mestinya masih bisa terus ditingkatkan dari majalahnya.

Saat ini, majalah yang dikomandoinya memang sedang leading di pasaran. Bahkan, unggul jauh dari jumlah oplah dibanding pesaing nomor dua. Nah, menurut rekan saya itu, kondisi tersebut membuat dia gamang untuk memutuskan mencari hal-hal baru untuk memanjakan pembacanya. Dia mengatakan, akan jauh lebih mudah jika ada pesaing yang benar-benar kompetitif sehingga semua kemampuan bisa terasah lebih maksimal.

Mungkin, cara pandang rekan saya itu beda dengan kebanyakan orang. Bagi sebagian orang, kompetitor atau saingan adalah musuh yang harus dibasmi. Misalnya, kalau kita punya usaha cuci motor di sebuah tempat dan kebetulan sukses, maka, tak lama di daerah tersebut kemudian bermunculan usaha sejenis. Nah, kebanyakan orang mungkin akan berpikir, wah, jadi ada saingan ya? Nanti konsumen akan berkurang dong?

Tapi, bagaimana jika pola pikir rekan saya tadi yang kita gunakan? Yang akan muncul di otak kita adalah ungkapan-ungkapan seperti: Wah, ada pesaing nih. Asyiik. Orang pasti jadi makin banyak yang tahu daerah ini sebagai lokasi cuci motor yang paling lengkap. Lantas, gimana caranya supaya saya bisa lebih unggul dari yang lain ya? Bagaimana kalau saya berinovasi dengan membuat cuci model salju. Bagaimana kalau saya memberikan layanan minuman ringan gratis pada yang cuci motor. Bagaimana kalau saya beri cuci gratis setiap tujuh kali cuci. Nah, karena ada pesaing, jadi banyak inovasi promosi yang muncul dari benak kita bukan?

Dengan pola pikir yang berbeda, kita akan mendapatkan hasil yang berbeda pula. Jika sebelumnya, kita berpikir bahwa adanya kompetitor akan mematikan usaha kita, maka dengan cara pandang yang positif, hadirnya kompetitor justru akan menguntungkan kita. Jadi, siapkah Anda berkompetisi hari ini?[awid]

* Agoeng Widyatmoko dalah konsultan independen bidang UKM yang aktif menulis buku-buku motivasi usaha kecil dan peluang usaha. Beberapa bukunya kini menjadi best seller, diantaranya: 100 Peluang Usaha, Peluang Usaha untuk Anak Muda, dll. Ia juga mengenalkan konsep ”The Power of Kepepet” untuk melejitkan potensi pribadi. Untuk menghubunginya dapat melalui email agoeng.w@gmail.com.

Telah di baca sebanyak: 1016
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *