Kolom Alumni

Berpikir Cukup Sekali Dalam Setahun

Oleh: Gagan Gartika

“Mengalihkan pikiran yang rutinitas, menjadi berpikir setahun sekali, merupakan cara menghemat berpikir. Sehingga kita bisa berpikir menjadi lebih produktif “.

Banyak sekali yang kita pikirkan, sehingga kepala jadi pusing. Apa apa terlalu dipikirkan serius, sampai kepala keliyengan. Dan otak kita penuh dengan berbagai sampah masalah.

Padahal masalahnya sederhana, tapi kok mikirnya terlalu berat. Memang saya merasakan, setiap orang, punya tingkatan masalah berbeda-beda, tapi ada yang dipikirkan terlalu berat, dan ada dengan biasa-biasa saja. Sehingga yang satu dengan masalah sederhana menjadi berat, sementara yang lain, masalah berat, namun mengatasinya dengan enteng-enteng saja. Perbedaan penanganan ini, disebabkan dari cara kita dalam menghemat berpikir. Bagi yang berpikir berat, masalah itu akan berlarut-larut, sebaliknya bagi yang sederhana, masalah akan cepat terselesaikan.

Saya ambil contoh, kejadian yang terjadi pada satu keluarga. Di mana kehidupan keluarga itu miskin, sehingga dengan kemiskinan tersebut, setiap anggota keluarga berusaha mendapatkan penghasilan dengan berbagai macam cara. Ketika anaknya ada yang kawin. Mereka bersyukur, karena beban keluarga sudah mulai berkurang. Anaknya, bisa lepas dan hibup bersama suami.

Namun perjalanan perkawinan, berjalan tak mulus, entah kenapa, mungkin karena percekcokan yang mengakibatkan perceraian tak bisa terselamatkan. Adanya, perceraian, keluarga miskin ini mengangap wajar dan biasa-biasa saja. Orang tuanya bilang, “mungkin karena sudah nasibnya kali, sehingga anak saya harus menjanda”. Sehingga menurutnya, kita tak harus terus memikirkan masalah perkawinan mereka, mendingan memikirkan untuk mencari makan.”Kalau memikirkan itu terus gimana mendapatkan makanan”, kata ibu yang sehari-hari sebagai tukang nasi uduk.

Berbeda dengan kejadian yang menimpa keluarga kaya, perceraian sering membuatnya, heboh. Gosip tersebar kemana-mana, pembagian harta gono-gini menjadi ramai, perebutan hak pengasuhan anak, terjadi saling tuntut menuntut di pengadilan. Perceraian semakin seru, karena kedua keluarga besan dan mertua, ikut terlibat, masyarakat sekampung tahu, bahkan jadi isu nasional., karena yang akan bercerai ini bekas anak mantan pejabat.

Sehingga masalah, yang seharusnya bisa diselesaikan secara musyawarah, telah melebar kemana-mana, dan sudah mulai melibatkan pihak lain. Sederet pengacara disiapkan untuk memenangkan perkara. Sehingga perang antar pengacara terjadi, dan semakin lama masalah tak selesai, biaya yang dikeluarkan semakin besar.

Kejadian ini banyak terjadi di masyarakat, apalagi dikalangan artis, sering terjadi dan bisa membuat heboh sekali. Tapi diluar itu, ada juga yang memandang persoalan menjadi biasa-biasa saja. Sehingga tak mengganggu kehidupan dan kegiatan lain.

Kejadian tersebut membuat mereka memboroskan pemikiran dalam hal-hal yang seharusnya cepat selesai. Sehingga seluruh waktu, tenaga dan pikiran habis untuk menyelesaikan masalah. Nah, inilah masalahnya, terkadang kita sering tak sadar menghadapi ini.

Begitu juga dalam masalah lain, misalnya, mengontrak rumah tinggal. Banyak orang berpikir setiap bulan, padahal ia bisa mengalihkan dengan cara berpikir cukup setahun sekali. Dengan demikian, kita bisa menghemat berpikir, yaitu dengan melakukan pembayaran setahun sekali, tanpa harus mengganggu kegiatan lain.

Sementara itu, bagi yang belum mampu perbulan, sebaiknya berusaha agar bisa membayar lebih lama, misalnya, per enam bulan dulu atau per berapa bulan.

Dengan begitu kita bisa menghemat berpikir, dan stock pemikiran yang ada kita bisa manfaatkan untuk hal-hal lain yang lebih produktif.

Memang ada sementara orang berpendapat, bahwa kalau pembayaran dilakukan perbulan, sisa uang bisa diputar untuk keperluan lain. Tapi pada kenyataannya, selagi kita memegang uang , uang tersebut bisa habis terpakai sendiri atau ada yang minjam atau bisa juga tertipu dalam bebisnis. Sehingga pikiran kita terus ngoyo, mengejar tambahan penghasilan untuk membayar kontrakan secara bulanan. Dengan begitu hidup menjadi terus dikejar dan ditunggu pemilik rumah kontrakan, sebab kalau telat bayar, bisa saja pemilik rumah memberi peringatan.

Seharusnya, kalau kita bisa menghemat berpikir, kita bisa lebih mempunyai tenaga simpanan, karena beban yang harus ditanggung per bulan telah dialihkan dalam setahun, sehingga untuk kontrakan, kita hanya berpikir setahun sekali. Dan penghasilan yang ada kita kumpulkan untuk persediaan di masa mendatang.

Saya sendiri mempunyai kebiasaan seperti itu, saat dulu hidup mengontrak, saya membiasakan bayar setahun sekali, sehingga pemikiran kita bisa dihemat. Begitu juga pembayaran sekolah dan iuran RT, saya langsung bayar per enam bulan, sehingga tagihan akan datang enam bulan sekali.

Memang pada saat awal saya merasa sayang membayarnya langsung besar, tetapi rasa tenang bisa mengalahkan itu semua. Awalnya memang susah, tetapi lama kelamaan menjadi terbiasa. Bahkan, saat akan bayar kontrakan, karena jumlah yang harus dibayarkan demikian besar, sering saya berhitung dulu, membanding-bandingkan dengan besar cicilan kalau mengambil rumah tipe RSS.

Dari hasil perhitungan, saya berpikir kenapa tidak dialihkan kepada uang muka pengambilan rumah. Karena setelah dihitung, uang cicilan mengangsur rumah perbulan, hampir sama dengan pembayaran kontrakan satu tahun. Dengan demikan saya lebih baik, membayar uang muka rumah, daripada mengontrak kelamaan, karena rumah bisa menjadi milik sendiri setelah lunas cicilannya.

Dengan demikian kita semakin hemat berpikir, sehingga kita tak lagi dikejar-kejar pemilik rumah, karena kita telah memiliki rumah sendiri, paling sekarang tinggal mengatur cara mencicilnya, dan itu bisa dilakukan dengan cara tadi, yaitu model penghematan pemikiran. Sehingga hidup kita menjadi tenang dan tak merasa dikejar-kejar hutang.

Begitu juga dengan membayar sekolah anak seperti itu, tiba-tiba tak terasa anak saya telah masuk perguruan tinggi lagi. Demikian pula dalam membayar rejening listrik, telephone, air, dimana perbankan telah membantu menghemat pemikiran dan waktu kita, menjadi dengan pembayaran satu bill, praktis dan tak menyita pikiran.

Dan dengan lama-lama membiasakan berpikir secara hemat, kita bisa mengalami kemajuan yang pesat, karena banyak pemikiran dialihkan kepada kegiatan yang lebih profuktif. Dengan begitu, kehidupan bisa dijalani dengan tenang dan penuh keberhasilan.

*) Gagan Gartika adalah Praktisi Silaturahmi Marketing (SiMark), Pengusaha di bidang Forwarding, Transportasi dan Pengurusan Jasa Kepabeanan pada PT. Kumaitu Cargo dan PT. Penata Logistic. Ia pemilik Lembaga Pendididikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidikan terakhir, S2 Manajemen dari Ibii. Selain itu pada dibidang pengajaran, mengabdi menjadi Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Jakarta. Email: gagan@kumaitucargo.co.id

Telah di baca sebanyak: 948
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *