Kolom Alumni

Bersandar Pada Knowledge


Oleh: Anom Prio Hatmoko

Bila ingat kata knowledge, saya jadi teringat perkataan salah seorang teman, guru, mentor, mantan bosku, dan juga orang yang telah menjerumuskanku ke dalam dunia learning and knowledge management. Dia mencoba meng-analogikan knowledge dengan cerita mbah maridjan, dengan tujuan agar aku bisa paham apa itu knowledge. Hingga aku mencoba untuk mencari beberapa referensi tentang knowledge dan juga tentang tokoh mbah maridjan ini, sebelum akhirnya menjadi tulisan ini.

Mbah Maridjan (nama asli: Mas Penewu Suraksohargo; lahir di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman pada tahun 1927) adalah seorang juru kunci Gunung Merapi. Amanah sebagai juru kunci ini diperolehinya dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Setiap Gunung Merapi akan meletus, warga setempat selalu menunggu komando dari beliau untuk mengungsi. Ia mulai menjabat sebagai wakil juru kunci pada tahun 1970. Jabatan sebagai juru kunci lalu ia sandang sejak tahun 1982. Sejak kejadian Gunung Merapi mau meletus tahun 2006, Mbah Maridjan semakin terkenal. Karena faktor keberanian dan namanya yang dikenal oleh masyarakat luas tersebut, Mbah Maridjan ditunjuk untuk menjadi bintang iklan salah satu produk minuman energi. Terlepas dari keterangan diatas banyak penduduk di sekitar lereng gunung merapi menganggap beliau sakti atau mumpuni alias mempunyai kelebihan tertentu.

Penugasan dari sang sinuwun (sebutan bagi orang yang dimuliakan dalam bahasa Jawa) atau pemimpin sebagai juru kunci dapat dipahami sangat dipegang teguh oleh mbah Maridjan, seperti nahkoda sebuah kapal. Seorang nahkoda kapal (yang berdedikasi dan loyalitas tinggi) tidak akan meninggalkan kapalnya dalam keadaan tak terkendali. Ia pasti akan memilih mati tenggelam bersama kapalnya. Dalam konteks semacam itulah mbah Marijan bersikukuh tidak mau meninggalkan teritorialnya yang diamanahkan oleh sang sinuwun saat itu. Pada saat gunung Merapi sedang “batuk-batuk” atau “mblêdhos” menurut beliau, merupakan pantangan. Dalam hatinya, ia memilih “seda” (Jawa: meninggal) di lereng Merapi terkena ‘wedhus gembel,/i>’ (jawa: awan panas) daripada ‘lari’ meninggalkan Merapi.

Akhir cerita, mbah Marijan tidak mau diajak mengungsi, meninggalkan gunung Merapi. Tindakan mbah Marijan menjadi berita besar karena ia dianggap menolak ajakan pemerintah. Bahkan, ada yang mengatakan ia provokator. Perintah dari anak sang sinuwun yang memberikan mandat dahulu atau Sri Sultan HB X yang sedang menjabat sebagai Gubernur DI Yogyakarta pun tidak diindahkan, demilkian pula perintah Presiden dan Wakil presiden.

Dalam konteks ini pun sesungguhnya telah terjadi benturan ataupun pertentangan antara pengetahuan formal yang dipelajari dari ‘barat’ dan telah diadopsi menjadi kurikulum pembelajaran di negeri ini dengan pengetahuan yang dimiliki oleh komunitas gunung Merapi dan mbah Marijan khususnya.

Menurut Bpk Leo Sutrisno, seorang Dosen Filsafat Ilmu Pasca Sarjana UNTAN (Universitas Tanjungpura) dalam tulisannya, masyarakat Indonesia kebanyakan yang telah terbiasa dengan pandangan ilmiah dan hidup dalam paradigma positivisme dan objektivitas pengetahuan dalam mencari suatu kebenaran. Semua aktivitas, prosedur dan temuan ilmiah diukur melalui tingkat objektivitasnya, tingkat kesesuaian dengan realitas. Semakin objektif berarti semakin mendekati kebenaran. (Masih masuk akal nalar masyarakat pada umumnya)

Padahal secara epistemologis, dasar dari pengetahuan itu sendiri adalah cara menemukan pengetahuan itu sendiri. Kita tahu, banyak cara menemukan pengetahuan. Pengetahuan yang ditemukan oleh para pengikut positivisme hanya salah satu jenis saja. Pengetahuan yang digunakan oleh para pengikut pandangan positivisme bersifat eksternal, bisa dibuktikan kebenarannya dengan cara mencocokkan/mengecek/memeriksa langsung dengan kenyataan/realitasnya. Misalnya, pada saat dikatakan gunung Merapi akan meletus 10 hari lagi (kata Sultan HB X) maka ditunggu saja selama sepuluh hari ke depan sejak pernyataan itu diungkapkan. Ternyata, walaupun sudah lewat 20 hari juga Merapi tidak meletus. Maka, pernyataan itu tidak benar. Akibatnya, banyak para pengungsi gunung merapi yang kembali ke rumah masing-masing.

Dari cerita diatas maka dapat disimpulkan, pengetahuan mbah Maridjan dibangun bukan dalam pandangan positivisme atau ilmiah. Karena itu, akan keliru jika ada usaha memeriksa kebenarannya dengan cara positivisme. Pengetahuan yang dikonstruksi oleh mbah Marijan bersifat personal/internal dan hanya dia dan komunitasnya yang paham atau mengerti tentang hal ini, karena tidak dinyatakan dengan teori-teori ilmiah maupun formula matematis dalam konteks yang lebih luas. Pengetahuan ini digolongkan ke dalam pengetahuan yang tak terungkapkan atau masih bersifat tacit yang didasarkan pada pengalaman, cerita-cerita para leluhur, dan masih banyak lagi pengetahuan yang bukan berasal dari pengetahuan yang explicit, padahal pengetahuan seperti inilah yang paling banyak belum terkuak dikarenakan eksklusifitas personal, kelompok maupun komunitas demi menjaga eksklusifitas mereka (Knowledge is My Power).

Ada beberapa referensi tentang knowledge yang ada, antara lain :

“Knowledge (pengetahuan) adalah pengalaman, yang lainnya hanya informasi”, – Albert Enstein.

Menurut referensi lain dari Meliono, Irmayanti, dkk. 2007. MPKT Modul 1. Jakarta: Lembaga Penerbitan FEUI. Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan termasuk, tetapi tidak dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip dan prosedur yang secara Probabilitas Bayesian adalah benar atau berguna.

Dalam pengertian lain di referensi tersebut juga dikatakan, pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan inderawi (Panca Indera), dengan berbagai metode, di antaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.

Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan indera atau akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.

Epistemologi, (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.

Pengetahuan yang lebih menekankan pengamatan dan pengalaman inderawi dikenal sebagai pengetahuan empiris atau pengetahuan aposteriori. Pengetahuan ini bisa didapatkan dengan melakukan pengamatan dan observasi yang dilakukan secara empiris dan rasional.

Pengetahuan empiris tersebut juga dapat berkembang menjadi pengetahuan deskriptif bila seseorang dapat melukiskan dan menggambarkan segala ciri, sifat, dan gejala yang ada pada objek empiris tersebut. Pengetahuan empiris juga bisa didapatkan melalui pengalaman pribadi manusia yang terjadi berulangkali. Misalnya, seseorang yang sering dipilih untuk memimpin organisasi dengan sendirinya akan mendapatkan pengetahuan tentang manajemen organisasi.

Selain pengetahuan empiris, ada pula pengetahuan yang didapatkan melalui akal budi yang kemudian dikenal sebagai rasionalisme. Rasionalisme lebih menekankan pengetahuan yang bersifat apriori; tidak menekankan pada pengalaman. Misalnya pengetahuan tentang matematika. Dalam matematika, hasil 1 + 1 = 2 bukan didapatkan melalui pengalaman atau pengamatan empiris, melainkan melalui sebuah pemikiran logis akal budi.

Pengetahuan tentang keadaan sehat dan sakit adalah pengalaman seseorang tentang keadaan sehat dan sakitnya seseorang yang menyebabkan seseorang tersebut bertindak untuk mengatasi masalah sakitnya dan bertindak untuk mempertahankan kesehatannya atau bahkan meningkatkan status kesehatannya. Rasa sakit akan menyebabkan seseorang bertindak pasif dan atau aktif dengan tahapan-tahapannya. (http://id.wikipedia.org/wiki/Pengetahuan)

Berdasarkan keterangan-keterangan diatas, dapat disimpulkan 2 macam pengetahuan berdasarkan sifatnya, yaitu Explicit Knowledge atau pengetahuan yang bersifat eksplisit dan Tacit Knowledge atau pengetahuan yang bersifat tacit.

Explicit Knowledge
Sifat knowledge ini mempunyai ciri, antara lain :
• Ditemukan dalam dokumen, basis data, file, artikel, dan sudah berbentuk sebuah media umum
• Relatif lebih mudah di komunikasikan atau disebar
• Relatif lebih mudah untuk di tranformasikan atau dirubah bentuk ke media lainnya
• Siap digunakan dan lebih menguntungkan untuk organisasi jika terorganisir atau diatur dengan baik.

Contohnya antara lain : buku, koran, majalah, rekaman dialog dan multimedia based learning (tape/kaset, video dan media pembelajaran lainnya)

Tacit Knowledge
Sifat knowledge ini mempunyai ciri, antara lain :
• Masih berada di kepala orang yang menguasainya
• Tidak berguna bagi organisasi kecuali dapat di share/ dibagi dan atau telah di captured dan atau ditranformasikan ke bentuk media
• Butuh usaha yang keras untuk merubah ke bentuk-bentuk explicit knowledge

Contohnya antara lain: pengetahuan cara membuat tahu atau produk kuliner tradisional Indonesia, bagaimana menjadi karyawan yang baik, bagaimana menjadi tukang ojek yang sukses, panduan menyelamatkan dari lahar gunung merapi, dan masih banyak lagi contoh-contoh tacit knowledge di sekitar kita.

Mungkin gampangnya dari semua cerita atau teori di atas bisa dianalogikan pada kejadian sewaktu belum ditemukannya alat korek api / geretan / pemantik, lalu datang seseorang dari suatu daerah yang lebih maju/modern dengan membawa alat yang bernama korek api, maka bagaimana reaksi masyarakat yang lain atau yang melihat? Mungkin mereka akan menganggap orang tersebut sakti mandraguna, karena bisa membuat api tanpa melakukan proses membuat api dengan proses yang sudah dapat dinalar manusia waktu itu.

Jadi kesimpulannya pengetahuan itu ada yang belum terkuak dan ada yang sudah terkuak dan bisa di nalar oleh manusia, Nah pengetahuan yang belum terkuak ini, bagi masyarakat kita sering dihubungkan dengan masalah supranatural atau Klenik. Padahal hal tersebut hanya sebuah pengetahuan yang saat itu belum terkuak atau belum masuk ke nalar manusia alias masih Ghaib.

* Anom Prio Hatmoko, Alumni “Cara Cerdas Menulis Artikel Menarik batch XII” ini dapat dihubungi di anomph@gmail.com

Telah di baca sebanyak: 1648
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *