Kolom Alumni

Bersekolah: Bermanfaat Tidak Sih?

Oleh: Tanenji

Hampir pada setiap semester saya menanyakan kepada para mahasiswa sebelum memulai perkuliahan Pengantar Ilmu Pendidikan tentang apa substansi dari manfaat sekolah yang pernah dijalani dari TK sampai pada semester awal menjalani status mahasiswa di perguruan tinggi.

Banyak ragam jawaban yang dilontarkan, dari yang paling serius sampai pada hal yang paling konyol sekalipun. Ini di antaranya:
1. Dapat membaca, menulis, dan menghitung.
2. Mempunyai sahabat/pacar.
3. Mendapatkan uang saku.
4. Bisa mengembangkan diri/ kepribadian
5. Mendapatkan pekerjaan.
6. Mengisi waktu luang.
7. Mendapatkan ijazah.
8. Bergabung dalam komuinitas inteletualk,
9. Dst.

Saya selanjutnya menanyakan kepada mahasiswa, seseorang (katakanlah saya, anda, orang tua, famili, tetangga, atau siapapun dengan alasan tidak sempat, tidak punya uang, tidak punya biaya, atau alasan apapun) bila yang bersangkutan tidak bersekolah, apakah tidak bisa atau susah mendapatkan dan meraih segala manfaat yang ada seperti tercantum di atas?

Ok, hal-hal di atas bisa diuraikan satu per satu secara jelas. Membaca, menulia, dan menghitung (calistung)? Banyak orang tidak bersekolah bisa calistung. Bahkan dekade 90-an ada juara/pemenang Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diselenggarakan TVRI-LIPI yang hanya sempat mengenyam kelas 4 Sekolah Dasar, mengalahkan puluhan remaja lainnya yang notabene pelajar SMA baik yang favorit maupun tidak terkategori favorit. Tahun 2007 saya sempat mengunjungi kampung suku Badui di bagian selatan Provinsi Banten. Suku ini terkategori ‘mengharamkan’ pendidikan a la sekolah. Tetapi ada seorang warga Badui luar yang dapat berbahasa Indonesia dengan fasih, juga dapat membaca huruf Latin dengan cara otodidak. Juga, anak saya sebelum masuk Taman Kanak-Kanak sudah dapat membaca. Artinya jikalau calistung diklaim sebagai hal yang merupakan manfaat substansial dari aktifitas bernama sekolah, rasanya banyak kemubaziran.

Mempunyai sahabat atau pacar? Apalagi alasan yang satu ini. Tidak mungkin-lah gara-gara seseorang tidak bersekolah lalu tidak mempunyai sahabat atau pacar. Naif.

Mendapatkan uang saku? Anak saya yang belum bersekolah setiap hari mendapatkan jatah untuk membeli kue atau jajanan (baca: uang saku). So, manfaat dari bersekolah hanya untuk mendapatkan uang saku? Sekali lagi, naif.

Bisa mengembangkan diri/kepribadian? Akan terjaminkah seseorang yang bersekolah dengan sendirinya dapat mengembangkan kepribadian yang utuh? Apakah seseorang yang tidak bersekolah lalu tidak dapat mengembangkan kepribadiannya? Ya enggaklah. Pasti bisa saja. Bahkan mungkin bisa jadi dapat lebih baik dibandingkan anak yang bersekolah. Mochtar Bukhari pernah mengatakan bahwa dalam masyakartat kita ada tiga pola. Yakni masyarakat yang mementingkan ijazah, sekolah, dan belajar.

Ketika jenis pandangan masyarakat terjebak pada formalitas ijazah maka banyak terjadi lembaga pendidikan yang merupakan pabrik ijazah. Ketika masyarakat mementingkan sekolah, maka banyak terjadi kemubaziran nasional. Karena sekolah hanya sekedar mengisi waktu luang. Seseorang yang tidak berminat pada sekolah tertentu dipaksa oleh sistem atau orang tuanya untuk menelan habis apa yang terjadi di sekolah. So, sekali lagi banyak kemubaziran nasional. Nah mestinya, yang dipentingkan adalah belajar. Belajar yang didefinisikan sebagai proses perubahan tingkah laku, baik kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), maupun psikomotorik (ketrampilan).

3 aspek atau ranah ini seperti didengungkan oleh Benyamin S. Bloom pakar pendidikan dari Amerika Serikat (AS), merupakan satu kesatuan yang utuh yang harus dicapai dalam seluruh proses belajar. 3 aspek ini oleh Andrias Harefa dipahami sebagai bagian integral dari seluruh proses pendidikan yang mencakup 3 hal: pengajaran (bagaimana membuat siswa pintar dan berpengetahuan), pembimbingan (bagaiamna membuat siswa mempunyai nilai atau sikap, dan pelatihan (bagaimana membuat siswa mempunyai ketrampilan).

Dan sudah semestinya belajar bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dan dengan siapa saja. Kata belajar bisa dengan siapa saja, meruntuhkan mitos bahwa belajar mesti dengan guru. Pola lama menyatakan guru adalah dan merupakan narasumber tunggal yang memonopoli pengetahuan dan kebenaran.

Nah, semestinya pula masyarakat kita harus dianjurkan untuk tetap belajar sepanjang hayat, seperti diamanatkan oleh Undang-Undand Sistem Pendidikan Nasinal Nomor 20 tahun 2003.

Manfaat lain dari sekolah sebagaimana digambarkan oleh mahasiswa saya adalah mendapatkan pekerjaan? Definisi kerja pada era modern sekarang ini memang memungkinkan pola rektruitmen tenaga kerja yang cukup rumit yang melibatkan banyak hal yang bersifat formalistik. Katakanlah seseorang harus memenuhi syarat tertentu, semisal mempunyai ijazah. Padahal ijazah adalah sebuah pernyataan atau pengakuan bahwa seseorang mempunyai kompetensi dalam bidang tertentu. Tetapi dalam realitasnya ternyata banyak yang memahami secara salah kaprah. Proses memperoleh kompetensi yang memerlukan waktu yang lumayan lama 3 tahun-an, diabaikan begitu saja, dan mementingkan formalitas yang bernama ijazah. Akhirnya banyak terjadi pemilik ijazah nyaris tidak mewakili bidang keahlian/ kompetensi tertentu.

Dan banyak orang tanpa latar belakang belajar di sekolah tidak hanya sekedar mendapatkan pekerjaan, bahkan dapat mempekerjakan para alumni orang sekolahan. Famili saya seorang teknisi yang bertanggung jawab secara teknis dalam bidang maintenance di sebuah apartemen mewah di utara Jakarta. Ia tidak menamatkan SMP-nya, dan bahkan ia membawahi beberapa pegawai/karyawan yang berlatarbelakang sekolah maupun dilpoma, bahkan sarjana teknik. So, manfaat sekolah kalau sekedar mendapatkan pekerjaan terlalu naif. Bahkan juga yang lebih seru banyak pengangguran yang berjudul sarjana ataupun tamatan sekolah.

Manfaat selanjutnya dari proses bersekolah yang diajukan adalah dapat mengisi waktu luang. Seperti dijelaskan di atas, apa mesti orang yang tidak bersekolah tidak dapat mengisi waktu luangnya? Bahkan bisa jadi mereka lebih jago dalam mengisi waktu luang daripada anak sekolahan. Banyak mereka yang bersekolah dapat mengisi waktu luangnya dengan berbagai hal yang positif dan produktif.

Mendapatkan ijazah, diusulkan sebagai manfaat bersekolah yang mungkin bisa jadi tak terbantahkan. Seperui diterangkan di atas, ijazah adalah bukti otentik bahwa seseorang mempunyai ketrampilan tertentu, atau mengikuti jenjang pendidikan tertentu. Anak non-sekolah juga bisa mendapatkan ijazah sebagai pengakuan dengan mendapatkan ijazah paket A, B, C yang bisa untuk melamar pekerjaan juga mendaftar menjadi mahasiswa di universitas baik swasta maupun negeri.
Bergabung dalam sebuah komunitas intelektual? Kata siapa orang tidak bersekolah tidak memungkinkan mempunyai pergaulan luas yang di antaranya dengan dan para pelaku komunitas intelekuatual? Riwayat oarang besar Indoensia banyak membuktikan bahwa tanpa pendidikan yang memadai mereka menjadi hebat. Nama Andrie Wongso, menjadi semacam ikon dalam hal ini di samping banyak tokoh lainnya lainnya. Ia sering disebut sebagai tokoh yang dikagumi yang SD saja tidak tamat.

Bubarkan Sekolah
So? Saya bertanya kepada para mahasiswa. Lalu apa substansi dari manfaat sekolah? Sedangkan manfaat sekolah yang diungkapkan gugur semua dan terbantah dengan berbagai bukti. Bagaimana kalau sekolah kita bubarkan saja? Karena sekolah telah mengebiri para siswa kita. Sekolah menjadi semacam penjara baru. Sekolah telah dan sedang menjadi tempat indoktrinasi berbagai produk politik aliran sejak dulu hingga orde reformasi ini. Bagaimana kalau kita tidak usah kuliah, tetapi saya jamin anda akan mendapatkan nilai yang memuaskan. Karena toh kuliah manfaatnya bisa diraih tanpa harus datang ke kampus?

Ok, saya mengemukakan pertanyaan lain. Bagaimana kondisi Bahasa Inggris anda? Berstatus baik, sedang, atau jelek? Beberapa mahasiswa menyatakan baik, tetapi mayoritas menjawab dengan mengatakan kualitas Bahasa Inggris-nya jelek. Apa upaya anda untuk memperbaikinya kembali? Jawaban yang ada di antaranya dengan otodidak, belajar kembali, practice, dan jawaban terakhir adalah mengambil kursus. Saya menekankan pada jawaban yang terakhir. Mengapa harus kursus? Jawaban yang ada adalah karena kursus dikatakan lebih intensif. Kursus pola belajarnya lebih fokus. Pokoknya kursus dianggap mempunyai banyak kelebihannya bila dibandingkan dengan belajar di sekolah. Ooh berarti memang sekolah itu pembelajarannya tidak intensif, juga tidak fokus. So, gurunya selama ini ngapain aja? Yang salah gurunya, metodenya, sarananya, soalnya, atau bukunya? Makanya memang sekolah harus dibubarkan. Kita ganti dengan kursus Bahasa Inggris, kursus matematika, kursus fisika, dll. Para mahasiswa saya diam, mungkin sambil memikirkan bahan untuk membantah pendapat saya.

Ok. Satu hal lagi, bila seorang pelajar kelas III (atau XII) sebuah SMA atau Madrasah Aliyah yang menginginkan tembus dan mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri favoritnya, apa yang harus ia lakukan? Dari jawaban yang beragam, terselip jawaban bahwa hal tersebut bisa dilakukan dengan mengikuti bimbingan belajar (bimbel). Alasan yang ada juga hampir mirip dan senada dengan kursus. Bimbel lebih intensif, juga lebih fokus dibandingkan dengan atau daripada pola belajar yang ada di sekolah. Pernyataan saya ulangi lagi. Sekolah selama tiga tahun ngapain aja? Sampai-sampai tidak bisa membekali siswanya untuk percaya diri (baca:pede) menghadapi soal soal UMPTN/SPMB Nasional? Mengapa keyakinan dan kebisaan siswa menjawab soal tersebut harus di-back-up dengan bimbel? Kalau begini caranya, memang sekolah bisa diusulkan untuk harus dibubarkan kok. Hehe.

Kelemahan sekolah
Para mahasiswa terdiam. Sekolah bagaimanapun punya kelemahan. Katakanlah, di sekolah berapa jam anak-anak berada di antaranya? Normalnya 7-8 jam. Kalau toh ada pendidikan yang berbasis boarding school yang mungkin mengklaim dirinya menjaga siswa 24 jam penuh, hal ini perlu dipertanyakan kembali. Karena bagaimanapun banyak waktu siswa yang tidak ter-cover oleh pengawasan sekolah atau pembimbing. Selebihnya anak-anak berada di masyarakat atau dalam lingkungan keluarganya. Saya menjelaskan bahwa Hillary Rotham Clinton, mantan ibu negera AS yang sekarang menjai menteri luar negeri di bawah Presiden Barak Hussein Obama, pernah menyatakan satu hal. Peryataan ini sebagaimana saya kutip dari Andrias Harefa. Hillary menyatakan bahwa sekolah memerlukan bantuan ‘orang sekampung’. Karena waktu yang lebih banyak di luar sekolah, makanya lingkungan keluarga, dan masyarakat harus membantunya agar apa yang diajarkan di sekolah dapat terinternalisasi dengan baik.

Coba bayangkan, ketika anak sekolah dicekoki doktrin tentang pendidikan nilai, katakanlah kejujuran, tetapi ia melihat praktik-praktik ketidakjujuran melanda di setiap lini kehidupan baik keluarga maupun masyarakat luas. Pendidikan nilai di sini lalu menjadi absurd. So, masyarakat luas diperlukan sekali bantuannya untuk menyukseskan apa-apa yang diajarakan pihak sekolah.

Rekonstruksi Sekolah
Bagaimanapun saya masih menyekolahkan anak saya, yakni di sebuah SD terpadu di bilangan Parung Kab. Bogor. Mengapa? Sekolah bagaimanapun kurikulumnya jelas. Pola yang akan diajarkan dapat ditelaah sedari awal. Kendatipun definisi kurikulum sendiri banyak tumpang tindih. Salah satu pakar kurikulum UIN Jakarta, M. Zuhdi, Ph. D., jebolan McGill University Monteral Kanada, pernah menyatakan bahwa kurikulum adalah apa yang penting untuk diajarkan kepada para siswa/pembelajar. Nah, siapa yang menganggap apa yang menjadi penting untuk diajarkan? Selanjutnya hal ini bisa dijelaskan bahwa dalam politik negara modern seringkali yang mempunyai otoritas untuk menentukan hal yang terpenting untuk diajarkan di lembaga persekolahan adalah pemerintah, sebagai pelaksana dari apa yang disebut sebagai organisasi masyarakat terbesar yang bernama negara. Banyak masyarakat yang menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan yang dikelola secara partikelir yakni sekolah swasta yang mempunyai ide-ide brilian dalam pengembangan proses belajarnya di samping sekolah yang berada di bawah kendali pemerintah. Walaupun hal ini juga tidaka atau belum menjadi suatu kemutlakan.

Banyak dari para orang tua tidak cukup pengetahuan dan ketrampilan untuk mengajarkan apa yang mungkin dan harus diwariskan kepada anak-anaknya sebagai bekal untuk mengarungi kehidupannya kelak. Orang tua juga tidak mempunyai cukup waktu untuk melakukan hal itu. Dan inilah yang sering dijelaskan dalam sejarah persekolahan sejak dari jaman Yunani kuno hingga dewasa ini. Dan dalam hal ini dikenal dengan istilah paedagogik, proses pembimbingan anak yang dilakukan oleh orang Yunani kuno yang kemudian diserahkan kepada seseorang yang dipercaya untuk mengisi waktu luang anak-anaknya. Jadi, sekolah pada awalnya adalah proses pengisian waktu luang anak-anak oleh para orang tuanya. Ketika jaman mulai berubah maka tugas ini diserahkan kepada orang lain yang disebut paedagog. Dari sinilah sejarah persekolahan berkembang hingga dewasa ini.

Sekolah juga merupakan wahan atau boleh juga disebut sebagai alat transformasi apa saja yang diselenggarakan secara masif. Transformasi nilai, pengetahuan, juga ketrampilan. Sampai sekarang sekolah masih dipercaya sebagai bagian dari proses pembudayaan, yang oleh John Dewey dikatakan bahwa di antara tujuan dan manfaat sekolah adalah sivilisasi atau proses pembudayaan.

So, sekolah bisa diibaratkan sesuatu hal yang dibenci di satu sisi, juga dirindukan. Tanya saja kepada 50 orang yang anda kenal. Sebagian hidupnya dipengaruhi oleh sekolahnya. Teman, tempat liburan, gaya hidup, dan pola lain yang terjadi dalam kenangan manis dan pahit di sekolahnya. Sekolah, agaimanapun tidak perlu dibubarkan. Sekolah bagaimanapun salah satu alat bentuk mobilitas vertikal bagi kebanyakan orang atau katakanlah orang-orang tertentu. Sekolah harus kita dukung sepenuhnya untuk merekonstruksi dirinya ke arah yang lebih baik.

* Tanenji, Alumni Writer Schoolen Workshop Cara Cerdas Menulis Buku Best-Seller batch V. Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini dapat dihubungi di tanenji@yahoo.com

Telah di baca sebanyak: 1421
admin
Admin Pembelajar.

Comments are closed.