Kolom Bersama

Bertamasya dengan Menulis dan Membaca

Oleh: Muh Nur

“Imajinasi lebih penting dari pengetahuan. Pengetahuan terbatas, sedangkan imajinasi seluas langit dan bumi”

Ada dua opsi yang ingin saya bahas dalam tulisan ini. Sesuai dengan tema yang saya ambil yang artinya kurang lebih adalah “Bertamasya dengan Membaca dan Menulis”, Saya ingin menelusuri apa yang sedang saya alami dan rasakan saat ini. Yang mana hal ini kerap terjadi dan timbul tatkala saya melaksanakan keduanya. Mungkin bukan hanya saya saja, tetapi sahabat-sahabat sekalian juga pasti dan pernah merasakan hal yang sama. Yaitu dengan menulis dan membaca kita merasa seakan bertamasya dengan kata-kata. Merasakan diri seakan pergi jauh kealam yang berbeda, yang belum kita jumpai sebelumnya.

Seperti halnya J.K Rowling yang telah membawa kita kealam supranatural dengan Harry Potternya, kita diajak untuk memasuki penjara Azkaban, sebuah kota kubu sihir yang mengerunkan, telah memenjarakan banduan paling kejam,Sirius Black, penyihir yang menyokong kuat raja kuasa jahat, Lord Valdemort. Dengan Ayat-Ayat Cinta, kita diajak oleh kang Abik menelusuri kota Kairo dengan keberagaman budaya dan literaturnya. Berpoleskan prosa cinta yang dibawa oleh tokoh Fakhri, seakan merasakan apa yang ia alami dalam kemelut cinta segitiganya. Dengan membaca buku Negeri 5 Menara, kita di tuntut untuk memahami tabi’at dan keseharian santri dan warga Ma’had yang selama ini masih jarang di jelaskan dengan bahasan yang sederhana dan cenderung diidentikkan dengan hal-hal yang sufisme. Bahkan menjurus kepada ektrimisme. Nah dengan Novelnya ini, Fuadi mengajak kita untuk lebih mendalami alam pesantren yang notabene dengan lika-liku kehidupan yang dirangkum dari pengalaman pribadinya selama menimba ilmu didalamnya.Dan masih banyak lagi buku-buku yang telah menghipnotis kita untuk terus berkelana dalam alam yang berbeda-beda pula.

MEMBACA DAN MENULIS, BERTAMASYA DENGAN KHAYALAN
Opsi pertama, Saya ingin menuturkan bahwa setiap kali kita membaca kita akan dituntut untuk menelusuri hal-hal yang membawa kita menelusuri dunia baru. Kita akan disuguhakan dengan pengalaman yang bermacam-macam. Baik itu Perjuangan, pengorbanan, pengkhianatan, senang, susah, cinta, benci, dan masih banyak lagi. Seakan kita merasakan apa yang penulis rasakan, apa yang dialami tokoh-tokoh dalam cerita, Protagonis dan Antagonisnya. sehingga kita tak jarang terpengaruh dengan sikap dan ambisi para tokohnya tersbut. Seperti apa yang di kisahkan Gol A Gong, penulis best seller Fiksi dalam bukunya Jangan Mau Tidak Menulis Seumur hidup, ia menuturkan bagaimana ia menghadapi para pembaca yang terhipnotis oleh Novel Serinya yang berjudul Balada Si Roy. Bahwa pada suatu waktu seorang pembaca mendatangi rumahnya, lantas mengetuk pintu rumahnya dan menyatakan bahwa ia adalah Si Roy. Pemuda bukit yang memiliki kebebesan ruang untuk hidup, Pemuda yang mengajarkan kita menyikapi hidup, dan belajar menjadi lelaki. Untuk seorang wanita yang tidak ingin menjadi korban rayuan lelaki, dan untuk cowok yang ingin menjadi lelaki sejati. Buku itu telah mempengaruhi sikap dan tindakan pemuda yang membacanya sampai harus mendatangi rumah sipenulis. Begitu tutur Gol A Gong. Nah, maka tidak salah ada ungkapan yang mengatakan “Pena lebih ampuhdari pada pedang dan gagasan bisa mengubah dunia. Buku dapat menggambarkan hati, jiwa, dan semangat pembacanya” Ucap Dr. Stephen R.Covey dalam komentarnya kepada buku Chiken Soup for the writer’s soul karangan Jack Canfield dkk.

Dan masih banyak lagi kisah-kisah para penulis yang menuturkan pengalaman ketika menghadapi pembaca yang demen akan karya-karya mereka.

Begitu besarnya pengaruh buku sehingga kita diajak untuk berkelana dan bertamasya. Berkelana dan bertamasya yang diidentikkan dengan hal-hal yang bersifat petualangan. Menjelajahi dunia imajinasi yang tak berbatas. Tak salah Albert Einstein mengatakan bahwa”Imajinasi lebih penting dari pengetahuan. Pengetahuan terbatas, sedangkan imajinasi seluas langit dan bumi.” Dengan membaca dan menulis kita berimajinasi bebas, tak pandang dinding batas.

Ketika saya bertanya dengan Guru saya Ust.Andi Wahyudi.Lc Perintis Grub Kajian Afkar Study Club (ASC) mengenai pandangannya tentang buku dan cara membaca. Ia berujar bahwa ketika kita hendak membaca sebuah buku, hadirkanlah hati kita, dan rasa keingintahuan yang dalam untuk membaca. Dan jadikanlah kegiatan membaca sebagai wadah berkomunikasi dengan pemikiran seorang penulis. Karena dengan rasa itu kita akan mendapatkan maksud dari apa yang kita cari dari buku tersebut. Terutama pandangan penulis mengenai suatu hal.

Saya sangat menggemari karya tulisan yang bersifat pengalaman pribadi karena didalamnya banyak saya temui pelajaran-pelajaran baru yang tidak saya temui sebelumnya. Berangkat dari hal yang pribadi akan menjadi hal layak untuk umum untuk dipelajari. Mengapa?

1. Karena dengan membaca pengalaman pribadi orang kita akan mengetahui sikap dan cara orang tersebut mengani sebuah permasalahan.
2. Kita mampu mengantisipasi hal-hal apa saja yang menjadi gendala dan cobaan dari orang yang telah mengalaminya langsung. dan itu akan membuka jalan keluar dan memberikan solusi agar lebih baik lagi dalam menyikapi sesuatu.
3. Kita dapat mengondisikan sikap dan perilaku di situasi tertentu dengan tepat, sehingga tidak terjadi kecanggungan dalam menentukan keputusan.

Dan masih banyak lagi manfaat-manfaat lainnya yang kita dapatkan dari membaca pengalaman pribadi orang. Terlebih orang tersebut adalah orang besar yang telah mengukirkan tinta emas kehidupan dan sejarah dunia. Memberikan kontribusi dengan pemikirannya untuk kepentingan universal. Sudah pasti hal itu takkan pernah dilupakan oleh banyak orang.

MEMBACA DAN MENULIS MERANCANG IMPIAN HIDUP
Sekali lagi saya ingin mengutip apa yang telah Jamil Azzaini katakan dalam bukunya Tuhan Inilah Proposal Hidupku, Beliau menuturkan,”Kalau untuk membuat acara yang digelar satu dua hari seperti ini saja membutuhkan sebuah proposal, mengapa untuk hidup yang berjalan puluhan tahun kita tidak membuat proposal? Mengapa kita membiarkan hidup kita mengalir tanpa arah, tanpa tujuan, dan tanpa cita-cita?. Kata-katanya ini sungguh menghipnotis saya untuk segera membuat skema rancangan hidup saya kedepannya. Saya termotivasi untuk terus berusaha dan bekerja meraih apa yang selama ini saya impikan. Proposal hidup telah mengarahkan saya kepada hal-hal yang positif yang hendak saya tuju. Ada aura yang terus menghidupkan lentera semangat saya agar mengikuti koridor cita-cita itu. Sehingga tiada salahnya ada ungkapan yang mengatakan “Menulis dan membaca akan menciptakan yang tiada menjadi ada. Dengan melihat maka Engkau berpikir, dengan berpikir maka Engkau akan berbuat, dan dengan berbuat maka Engkau akan ada (berwujud)” Esensi makhluk hidup dikatakan hidup tatkala ia bergerak dan berbuat. Begitu juga manusia, dikatakan hidup tatkala esensinya sebagai makhluk hdup digunakan dan dilaksanakan. Dan itu hendaklah dimulai dengan kegiatan Membaca dan menulis. Dengan membaca kita akan memasukkan berbagai energi posotif dari apa yang kita baca, terlebih tatkala kita dapat membaca alam sekitar kita yang berisikan berbagai macam misteri kehidupan (Miracle of Life) dan itu tidak mudah dilakukan. Paling tidak hanya sebagian kecil dari kalangan orang yang dapat melakukannya.

Pernahkah kita mendengar kisah Sir Isaac Newton, Tokoh paling berpengaruh urutan ke-II Versi Michael H. Hart dalam bukunya 100 Orang Paling Berpengaruh tentang bagaimana ia menemukan hukum alam yang kini telah menjadi sandaran kita dalam aspek keilmuan. Ia mencetuskan hukum itu tatkala ia sedang duduk dibawah pohon lantas sebuah apel jatuh dari pohon tersebut. Iapun berpikir “Apa yang menyebabkan buah tersebut jatuh dari pohon? Mengapa tidak melayang, atau jatuh ke atas?” dari bertanya dan berpikir ia akhirnya menela’ah lebih dalam lagi dan pada akhirnya ia mengetahui sebab-musababnya. Lantas ia pun mencetuskan sebuah hukum Tarik-menarik yang kini kita kenal dengan Hukum Newton.

Dari kisahnya ini saya ingin mengajak teman-teman berpikir kembali, seperti apa yang Jamil Azzaini tuturkan diatas. Bermula dengan bertanya, berpikir, dan berbuat, pada akhirnya kita dapat mengetahui jati diri kita. Dengan bertanya, kita dituntut untuk mengekplotasikan diri sebagai makhluknya yang berakal, Mengapa, siapa, dimana, dan bagaimana kita membuka tabir misteri kehidupan. Kita dituntut untuk mencari jati diri dimulai dengan Bertanya, sebesar apa eksistensi kita sebgai manusia. yang mana manusia itu harus memiliki maksud dan tujuan. Yang dilanjutkan dengan tahap kedua, yaitu Berpikir. Dengan berpikir, pertanyaan-pertanyaan tadi akan diolah dan ditindak lanjuti oleh yang namanya akal. Akal akan berkomunikasi dengan otak. Dan pada akhirnya otak akan merangsang anggota tubuh untuk berbuat sesuai perintah yang dititahkan. Dan tahap ketiga inilah yang akhirnya membuat kita itu ada (wujud). Kita akan berbuat apa yang menjadi rangsangan pikiran kita, pikiran kita tidak akan mendapatkan rangsangan kecuali apabila kita telah melihat, mendengar, dan merasakan. Dan inilah yang akan memandu kita untuk membaca alam sekitarnya.

Dalam hukum tarik-menarik, sedikit tidaknya saya pernah membaca dan mendengarkan bahwa apa yang telah kita pikirkan, dan terus menerus kita kuatkan serta pusatkan. Maka dibawah alam sadar kita, pikiran itu akan menebarkan aura magnetis yang ditebarkan kealam, dan secara otomatis apa yang kita tebarkan itu akan kembali kepada kita kembali. Istilah dalam hal ini dikenal dengan “SEMESTAKUNG” semesta mendukung. Itu sejalur dengan hadis qudsi yang mengatakan” Allah beserta prasangka hambanya,”. Dan ini lebih menekankan kepada kita untuk segera memperkuat prasangkaan-prasangkaan itu dengan menuliskannya dan terus berusaha. Pastinya prasangkaan itu hendaklah yang menebarkan aura positif, dan jangan sebaliknya. Karena semakin kita memperkuat prasangkaan itu maka kita akan lebih dekat dengan apa yang kita impikan dan cita-citakan.

Maka Menulislah dan Membacalah, dan hendaklah dimulai dari hal-hal yang kecil. Karena dari hal kecil itulah menjadikan sesuatu itu menjadi besar. Dan yakinilah bahwa Di dalam setiap orang ada sebuah cerita. Bahkan di dalam setiap orang ada banyak cerita. Maka tulislah itu karena beberapa tulisan terbaik, yang mudah dimengerti pembaca, muncul dari semua kejadian dalam kehidupan sehari-hari kita!

*) Muhammad Nur adalah Alumnus PP Ar-Raudhatul Hasanah Medan, Sumatera Utara. Kini dalam masa pengabdian di Ma’had sebagai guru Bahasa Inggris dan juga staf Pengasuhan Santri. Ia gemar dalam “menyelami” dunia kepenulisan, diskusi, dan kegiatan ekstrakulikuler di ponpes. Saat ini ia sedang mendalami dunia kepenulisan dan motivasi. Ia dapat dihubungi melalui via pos-el: muhammad.nur609[at]yahoo[dot]co[dot]id, muhammad.nur1809[at]hotmail[dot]com atau 081396856500.tulisannya dapat dilihat di http://elahmady1809.blogspot.com.

Telah di baca sebanyak: 1098
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *