BERTINDAK



Leadership is action, not position. Kepemimpinan adalah tindakan, bukan jabatan. Begitulah sebuah poster yang pernah saya terima dari seorang kawan yang bermukim di Surabaya. Dicetak di atas kertas warna putih dan merah ukuran 54 x 62 sentimeter, tulisannya dengan huruf serba besar dan warna kontras hitam dan putih. Wow!

Kawan saya itu bukan politisi dan tidak dalam situasi memerlukan dukungan untuk menjadi pejabat publik. Ia seorang konsultan dan menangani perusahaan-perusahaan swasta dalam upaya meningkatkan kualitas produk dan layanan dalam arti luas. Ia tidak memiliki klien dari lingkungan pemerintah atau pun BUMN. Namun agaknya dia ikut geram menyaksikan para pemimpin negeri ini terlalu sering berwacana dan sangat kurang bertindak.
“Isu soal kenaikan harga bahan bakar minyak bisa dijadikan contoh nyata. Begitu serunya perdebatan para pejabat publik, sehingga harga-harga sembako naik, sementara keputusan atau tindakan sang pemimpin tak kunjung jelas sampai berbulan-bulan. Rakyat jadi menderita, karena pemimpin tidak amanah,” ujarnya berapi-api, bagai pengamat politik karbitan yang datang dari dunia antah berantah.

Saya menanggapi dengan tersenyum. Bukan senyuman sarat makna, sebab sejujurnya, saya tidak tahu harus berkata apa. Pikiran saya melayang pada buku Zaenuddin HM yang baru usai saya baca. Prolog buku ditulis wartawan senior Kompas Budiarto Shambazy. Epilognya ditulis Eep Saefulloh Fatah, pendiri dan CEO Polmark Indonesia. Tajuknya JOKOWI—Dari Jualan Kursi hingga Dua Kali Mendapatkan Kursi (Ufuk, Cetakan II, April 2012).
Ada pernyataan Jokowi dalam sebuah wawancara khusus dengan BBC Indonesia, yang menempel dalam ingatan saya. Bunyinya, “Kita harus berani membuat terobosan. Jangan rutinitas, jangan monoton, harus selalu ada pembaruan, ada inovasi,” kata pemimpin kota Solo sejak 2005 itu. Lalu Zaenuddin HM menjelaskan dalam bab khusus tentang Lima Terobosan Penting Jokowi sebagai Prestasi sepanjang 31 halaman (hlm.25-56).
Salah satu terobosan spektakuler yang mengesankan saya secara pribadi adalah soal keberhasilan Jokowi merelokasi pedagang kaki lima (PKL) tanpa penggusuran dan kerusuhan. Bukan saja karena saya memang belum pernah tahu (membaca) bahwa ada proses relokasi PKL yang semanusiawi dan seindah itu, tetapi juga karena rangkaian tindakannya sangat sistematis sehingga bisa ditiru—dengan atau tanpa modifikasi.

Berguru pada Jokowi, saya menyimpulkan sepuluh tindakan yang bisa dilakukan pemimpin kota manapun untuk menangani relokasi PKL secara manusiawi. Tindakan pertama, membentuk tim kecil untuk menyurvei keinginan warga kota sekaligus mengumpulkan data-data mengenai nama dan jumlah PKL di kota tersebut, termasuk lokasi-lokasinya.
Tindakan kedua, memilih dan menentukan lokasi mana yang tersulit untuk ditangani dan mulai dengan memikirkan strategi mengatasi bagian yang paling sulit ini lebih dulu. Dalam kasus kota Solo, target utama adalah daerah Banjarsari, kawasan elite yang dihuni 989 pedagang yang bergabung dalam 11 paguyuban.

Tindakan ketiga, mengajak dan mengundang para pedagang yang akan di relokasi untuk jamuan makan secara berulang-ulang, sampai muncul semacam kesepahaman batiniah bahwa upaya relokasi adalah baik untuk kepentingan masyarakat kota tersebut, termasuk kepentingan para pedagang itu sendiri. Perlu dicatat bahwa dalam jamuan makan yang dilakukan Jokowi, tidak ada pembahasan dan diskusi formal. Hanya saja, kedua belah pihak sudah saling tahu bahwa undangan makan dan obrolan ngalor-ngidul itu menjadi sarana membangun kesepahaman bersama. Jokowi berusaha berempati dan memahami harapan-harapan yang tak terkatakan dari pada pedagang yang diundangnya. Dan tidak tanggung-tanggung, jamuan makan itu diadakan 53 kali, tanpa adanya pembahasan formal.

Tindakan keempat, dengan tegas dan santun mengumumkan sikap pemkot pada jamuan makan yang ke-54. Karena pada dasarnya sudah saling tahu apa yang diinginkan, maka ketika Jokowi mengatakan, “Bapak-bapak sekalian, terima kasih sudah mau hadir disini. Bapak-bapak akan kami pindahkan tempat usahanya”, hal itu tidak menimbulkan gejolak lagi.
Tindakan kelima, mendukung kepindahan tersebut dengan janji akan mengiklankan Pasar Klitikan—tempat relokasi pada pedagang tersebut—lewat televisi dan media cetak lokal selama empat bulan. Tindakan ini akan mengurangi rasa khawatir para pedagang bahwa di lokasi baru dagangannya tidak akan laku karena orang tidak tahu mereka pindah.

Tindakan keenam, Jokowi menepati janjinya. Bayangkan, para pedagang pindah dengan sangat meriah. Mereka mengenakkan busana khas adat Solo dengan senyum bahagia, membawa tumpeng sebagai lambang kemakmuran, dikawal prajurit keraton dengan pakaian lengkap. Relokasi 989 PKL itu disiarkan langsung oleh televisi lokal dan beritanya dimuat koran-koran terbitan Solo selama beberapa bulan, sehingga seluruh masyarakat mengetahuinya.
Tindakan ketujuh dan kedelapan, pemerintah kota Solo memperlebar akses jalan, serta membuka satu trayek angkutan kota ke lokasi baru tersebut. Kedua hal ini tentulah membesarkan hati pada pedagang bahwa dukungan pemkot Solo sangat bersungguh-sungguh dan bukan sekadar manis di mulut saja.

Tindakan kesembilan, walau pedagang meminta kios diberikan secara gratis, namun akhirnya disepakati bahwa tiap pedagang harus membayar retribusi Rp 2.600 per hari (dikalikan jumlah 989 dikalikan 365 hari setahun). Dalam hitungan Jokowi, investasi pemkot Solo sebesar Rp 9,8 miliar bisa kembali. Patut dicatat bahwa DPRD juga menyetujui hal ini.
Tindakan kesepuluh, setelah sukses menangani yang paling sulit, barulah menangani yang jumlah pedagangnya lebih kecil di lokasi lainnya. PKL di Stadion Manahan, sekitar 180 pedagang, dibuatkan shelter dan gerobak. Di Solo hari-hari ini sudah lebih dari 52% PKL—yang jumlah totalnya 5.718 orang—sudah berhasil direlokasi ke tempat yang lebih baik.
Begitulah. Jika kepemimpinan adalah tindakan, maka tak pelak lagi Jokowi adalah pemimpin. Ia adalah salah satu dari 98 walikota dan 403 bupati, serta 33 gubernur, dan seorang Presiden. Ditambah para wakilnya, jumlah pejabat di perintahan itu berlipat jadi dua. Lalu berapa di antara mereka yang menghayati “kepemimpinan sebagai tindakan”?
Jokowi telah menghidupkan mimpi para PKL di Solo untuk hidup yang lebih baik. Ia juga menghidupkan kembali mimpi saya tentang pemimpin yang bertindak. Ia saya masukkan dalam kelompok elite dimana sedikit nama telah tersimpan: Dahlan Iskan, Kuntoro Mangkusubroto, Mahfud MD, dan Sri Mulyani.

Live your dream, choose the real leader! Salam proaktif.

*) Andrias Harefa, WTS adalah writer: 38 Best-selling Books; Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun, Pendiri www.pembelajar.com; Twitter @aharefa


Telah di baca sebanyak: 964

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

Top