Andrias Harefa

Beruntung


Zulkifli dilahirkan di Palembang tahun 1956. Cita-citanya menjadi insinyur. Ia ingin masuk ITB. Untuk itu, kelas tiga SMA ia pindah dari Palembang ke Bandung. Menurut pikirannya, lulusan SMA dari Bandung akan lebih besar peluangnya masuk ITB ketimbang lulusan SMA dari Palembang. Terbukti ia lolos masuk ITB (langkah yang kemudian diikuti dua adiknya) dan jadi insinyur sipil lulusan perguruan tinggi kesohor itu.

Tahun 1980 ia menapaki kariernya sebagai insinyur sipil di Wiratman and Associates dan kemudian ke perusahaan lainnya. Dalam karier sebagai insinyur itu ia dan timnya pernah dikirim ke Jerman untuk mendesain pabrik metanol milik Pertamina yang akan dibuat di Pulau Bunyu dekat Tarakan, Kalimantan Timur. Namun tugasnya kemudian bukan hanya mendesain. Ia ditugaskan untuk membangun pabrik itu dan bermukim di Pulau Bunyu.
Ketika bertugas di Pulau Bunyu itu, Zulkifli muda sering merasa kurang aktivitas. Lalu ia membaca iklan Lembaga PPM di koran, yang menawarkan kursus jarak jauh dengan sistem moduler. Ia pun mengambil kursus untuk modul Cara Membaca Laporan Keuangan. Sebagai insinyur, kalau ia juga bisa membaca laporan keuangan tentu akan memberi nilai tambah, pikirnya.

Keinginan untuk bisa bekerja kembali di Jakarta membuatnya rajin membaca iklan lowongan di koran nasional. Ketika sebuah bank pemerintah mencari seorang insinyur berpengalaman untuk mensupervisi bangunan yang dibiayai oleh bank tersebut, maka lamaran pun dilayangkannya. Waktu tes, ia ditanya sedikit soal laporan keuangan. Bekal kursus jarak jauh ketika di Pulau Bunyu itu menolongnya memberikan jawaban. Maka, di tahun 1988, masuklah ia ke Bank Pembangunan Indonesia, Bapindo.
Mengawasi bangunan-bangunan yang dibiayai Bapindo hanya bebersapa bulan saja ia lakukan. Manajemen Bapindo merasa tugasnya terlalu ringan. Maka tanpa sempat dibekali dengan pelatihan yang memadai, ia langsung saja ditugaskan sebagai Account Officer. Ia hanya diberi sejumlah buku untuk dipelajari secara otodidak. Saat itu ia belajar membuat nota analisa untuk perkreditan dan sebagainya.

Awal 1990-an, ada peluang untuk studi lanjut keluar negeri yang dibuka bagi pegawai Bapindo. Ia mendaftar dan ikut tes, namun gagal karena tes TOEFL-nya jelek. Maka sejak itu setiap pagi ia mendengarkan kaset TOEFL di mobil dalam perjalanan ke kantor. Kesempatan tes berikutnya, TOEFL-nya masuk peringkat tinggi, sehingga ia dan tujuh temannya berhasil mengalahkan puluhan peminat lainnya. Maka berangkatlah ia ke Amerika.
Tahun 1994 pulanglah Zulkifli dengan tambahan gelar MBA dalam bidang Keuangan dari Washington University. “Karena saya insinyur dan MBA, maka saya mulai lebih diperhitungkan dalam pekerjaan,” katanya dalam sebuah kesempatan. Ia memang menjadi Kepala Cabang Bapindo di Jambi tahun 1998.
Arus gelombang reformasi, yang membuat Presiden Soeharto mundur dari jabatannya, juga berdampak ke dunia perbankan. Bank-bank pemerintah pun kalang-kabut kinerjanya. Empat bank pemerintah, Bapindo, BBD, Exim, dan BDN, mengalami proses merger di tahun 1999, menjadi Bank Mandiri. Dalam proses tersebut setiap pegawai dari bank legacy diberi dua opsi: ambil paket pensiun, atau ikut tes untuk setiap jabatan yang diinginkan. Posisi lama tidak dipedulikan lagi. Seorang Kepala Divisi dari BBD/Exim yang ingin bergabung dengan Bank Mandiri, misalnya, harus ikut psikotes, tes ini dan itu, wawancara, dan menunggu pengumuman. Kalau tidak lolos tes, maka ia bisa ikut tes untuk posisi di bawahnya. Begitu seterusnya.

Dalam situasi tak menentu di usia awal 40-an itulah Zulkifli membuat keputusan untuk balik lagi ke Jakarta. “Saya tidak memikirkan opsi pensiun. Ngapain saya pensiun di usia seperti itu? Saya pikir di saat ada permasalahan selalu ada peluang. Itu pegangan dalam hidup saya. Dan waktu itu saya ambil posisi di kantor pusat. Walau saya bisa tes untuk posisi kepala cabang, tapi saya pilih untuk tes di kantor pusat. Pikiran saya satu, saat keadaan tak menentu kita harus di kantor pusat. Dengan begitu kita dekat dengan pengambil keputusan. Kalau kita jelek kita dilihat, tapi kalau kita bagus akan ada kesempatan,” terangnya dalam suatu wawancara.
Pemikiran Zulkifli itu ternyata membawanya kepada berbagai peluang karier berikutnya. Namanya kemudian sudah mulai tercantum sebagai salah satu Direktur Bank Mandiri di tahun 2003. Ia menangani Distribution Network, Commercial Banking, mengawasi Bank Syariah Mandiri, dan sempat pula menjadi Direktur Technology and Operations selama beberapa bulan. Puncaknya, Juli 2010 Zulkifli Zaini dipercaya menggantikan Agus Martowardojo menjadi President Director and Chief Executive Officer Bank Mandiri.

Ketika ditanya apakah ia pernah punya target untuk menjadi Direktur Utama Bank Mandiri? “Saya tidak mencari posisi. Saya selalu bekerja simple sekali. Saya hanya bekerja untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh pemberi tugas lebih baik dari yang diharapkan si pemberi tugas. Jadi, kalau ada tugas yang diberikan untuk dua minggu, saya coba selesaikan dalam seminggu. Kalau saya diminta capai target 100, saya akan capai 130. Sewaktu jadi account officer di Bapindo, kawan-kawan saya pegang 10-an account, saya bisa menangani 30-40 account. Itu sebabnya kepada anak-anak ODP (Officer Development Program) di Bank Mandiri, saya berpesan yang penting itu tiga hal. Pertama, jaga integritas, jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. Kalau tidak jujur nanti susah sendiri. Kedua, jangan setengah-setengah dalam bekerja. Kalau bisa jadi nomor satu ngapain jadi nomor dua. Ketiga, biasakan menyelesaikan tugas lebih baik dari harapan si pemberi tugas. Kalau ini diperhatikan, insyaallah kariermu ada yang memikirkan,” jelasnya.

Boleh dikatakan bahwa Zulkifli adalah orang yang beruntung. Tak banyak anak negeri ini yang bisa sampai pada posisi dimana ia berada. Dan ia menjadi beruntung karena sejumlah hal, di antaranya karena ia berpikir (pindah dari Palembang ke Bandung agar lebih besar kemungkinan masuk ITB; pindah dari Jambi ke Kantor Pusat, agar lebih dekat dengan pengambil keputusan); ia belajar (ambil kursus cara membaca laporan keuangan; perbaiki TOEFL untuk studi lanjut meraih MBA); dan ia bertindak (menyelesaikan tugas lebih baik dari harapan pemberi tugas; jangan setengah-setengah).
Bukankah itu semacam formula keberuntungan?

* ANDRIAS HAREFA STW
Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun
Writer: 38 Best-selling Books
Beralamat di www.andriasharefa.com– Twitter @ aharefa


Telah di baca sebanyak: 2449
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *