Andrias Harefa

BEST


Bes ebes ebes! Semuanya serba the best, never settle for less, always do the best, until better get the best. Itulah ciri utama orang-orang sukses yang paling hebat, menurut kawan saya yang X-O-P (extra-ordinary-person). Orang sukses amat sangat yakin bahwa mereka adalah yang terbaik dalam bidang yang mereka kerjakan; baik dalam arti potensial (akan menjadi) maupun aktual (sudah jadi). Ini sesuatu yang tidak bisa ditawar. Lihat saja Hermawan Kartajaya sang pakar pemasaran Indonesia yang berkiprah di kancah dunia, Ary Ginanjar Agustian sang pakar ESQ yang merambah pasar ASEAN, Andrie Wongso sang Motivator Nomor 1 Indonesia, Jansen Sinamo yang menabalkan eksistensinya sebagai Guru Etos Indonesia, dan sebagainya. Semuanya yakin bahwa mereka yang terbaik di bidangnya. Kalau ada yang kurang setuju boleh saja. Tapi perasaan itu subjektif, tak bisa didikte dan diatur pihak lain. Setuju atau tidak setuju silahkan saja, toh tak ada pengaruhnya sama sekali.

Jadi, best yang pertama adalah Feel I am the best. Orang yang mau sukses harus bisa merasa bahwa dirinya adalah yang terbaik. Sikap gede rasa ini perlu dan bahkan amat vital. Namun tentu saja orang sukses tidak cuma mengandalkan perasaan sebagai yang terbaik. Jika sukses itu ibarat sebuah rumah megah, maka feel I am the best ini adalah atapnya yang menjulang ke langit. Dan namanya rumah, tidak hanya perlu atas yang indah saja, tetapi juga tiang-tiang penopang yang kokoh, bukan?

Rumah yang megah, memerlukan sejumlah tiang penopang. Demikian juga orang-orang sukses yang membangun perasaan yakin dirinya yang terbaik, menopang perasaan yang sujektif itu dengan sedikitnya empat tiang utama.

Tiang rumah yang pertama: prepare for the best. Ini menyangkut soal standar diri. Orang sukses menetapkan standar yang tinggi, mengharapkan yang terbaik. Ia tidak suka persiapan seadanya. Ia sering menolak melakukan tugas tanpa persiapan sama sekali. Baginya persiapan itu merupakan bagian tak terhindarkan dari kesuksesan itu sendiri. Siapa yang suka meremehkan persiapan akan gagal total. Itulah sikap orang sukses, mempersiapkan yang terbaik.

Tiang rumah yang kedua: do the best. Persiapan yang baik memungkinkan orang melakukan benar-benar yang terbaik. Ia tidak kekurangan ini dan itu; tidak lupa ini dan lupa itu; sebab memang sudah melakukan persiapan. Dengan demikian, ketika berhadapan dengan berbagai situasi sulit dan menantang di panggung-panggung kehidupan, ia tampil maksimal. Hal-hal yang terbaik dari dirinya, termasuk kearifan yang muncul dari pergulatan menaklukkan kesulitan dan tantangan hidup di masa silam, tampil prima dan berseri di panggung kehidupan yang nyata; bukan yang maya; bukan yang rekayasa pencitraan semata.

Tidak berhenti sampai di pelaksanaan, orang-orang sukses juga mengharapkan hal-hal terbaik datang memasuki kehidupannya. Inilah tiang penopang rumah yang ketiga: expect the best. Persiapan yang baik dan totalitas dalam melakukan tugas dan pekerjaan menimbulkan harapan bahwa mereka benar-benar berhak—earned the right—memperoleh yang terbaik. Orang sukses tidak suka memikirkan hasil yang “lumayan” atau “sedang-sedang saja”. Harapkan yang terbaik; harapkan yang terbaik; harapkan yang terbaik. Bukankah maling, copet, dan perampok saja mengharapkan hasil-hasil terbaik dari siasat dan strateginya? Lalu mengapa banyak orang yang melakukan pekerjaan halal dan terpuji mau cepat puas dengan hasil yang alakadarnya? Begitu kita-kira pikiran orang sukses.

Bahwa dalam kenyataannya apa yang mereka kerjakan tidak memberikan hasil seperti yang mereka inginkan, itu juga realitas hidup orang sukses. Dan menghadapi situasi-situasi yang tidak sesuai dengan keinginannya itu, mereka menyesuaikan diri, melakukan refleksi dan beradaptasi. Kegagalan-kegagalan mendorong mereka melakukan pencarian lebih lanjut, mencari guru-guru yang tepat. Inilah tiang penopang rumah yang keempat: learn from the best. Ya. Belajar dari yang terbaik.

Tentang hal yang terakhir ini seorang kawan yang cerdas menyindir dengan santun. Katanya, “belajar dari yang terbaik” itu cocok untuk pemula. Bagi orang yang sudah mahir dan bijak, belajar itu bisa “dari siapa saja”. Bahkan orang-orang yang paling hebat pun bisa belajar dari orang-orang yang gagal total. Maksudnya, menjadi jelas bahwa selalu ada cara lain di luar cara sukses, yaitu cara pasti meraih kegagalan.

Mau sukses? Feel I am the best; prepare for the best; do the best; expect for the best; and learn from the best. Bes ebes ebes, eh kok malah sukses. Mantaplah!

*) Andrias Harefa. Therapist Mindset; Penulis 35 Buku Best-Seller; Trainer Coach Berpengalaman 20 Tahun. www.andriasharefa.com

Telah di baca sebanyak: 1453
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *