Kolom Alumni

Bikin Outbound Lebih Outbound

Oleh: Augustinus Susanta

Sekelumit Kisah Refleksi Outbound
Awal Mei 2010, Saya mendampingi kegiatan latihan kepemimpinan, bagi 38 remaja yang rata-rata pelajar SMP dan SMA. Pada hari kedua, saya membawakan sebuah kegiatan outbound. Yang dimaksud outbound dalam peristiwa ini adalah 4 kelompok bermain di 4 pos, 4 permainan. Kecuali flying fox/ meluncur, ketiga permainan lainnya sangat sederhana, memanfaatkan ember, tali, bola, dan tutup mata. Ada yel-yel yang dikumandangkan setiap kelompok akan bermain. Ada poin yang bisa diperoleh dalam tiap pos, dan yang lebih seru, poin tersebut akan ditukarkan dengan makan siang peserta.
Hal yang membuat saya bergairah sekaligus bersukacita adalah ketika momen refleksi/ debriefing outbound, mengapa? Karena di saat itulah dapat dilihat sejauh mana makna outbound dapat dirasakan oleh peserta, minimal pada hari pelaksanaan. Berikut ini saya tampilkan sebagian hasil refleksi tertulis mereka yang sudah disalin ulang. Semua umpan balik tersebut ditulis malam hari, dalam suasana nyaman dan hening, ketika segala kelelahan outbound siang harinya sudah terpulihkan. Jika ada salah tulis atau struktur kalimat yang mungkin terbaca agak aneh, memang saya biarkan saja, supaya kita juga punya gambaran bagaimana mereka berekspresi.

Pertanyaan refleksinya begini:
Ingat kembali pengalaman saat outbound tadi, renungkan lagi. Berdasar pemikiran diri dan hasil sharing/ ngobrol dengan teman-teman, ketika berinteraksi dengan orang lain, terlebih dalam penyelesaian sebuah tantangan, Saya orang seperti apa sih? Egois, sabar, pasif, kreatif, memble, ambisius, pasrah, ikut-ikutan, memimpin, pengekor, trouble maker, atau seperti apa….

Beberapa jawabannya adalah:
• Menurut saya, saya adalah orang berani, Sabar, Humoris. Pada saat outbond tadi Saya juga merasa menjadi orang yang periang meski belum terlalu kenal dengan teman satu kelompok tadi.
• Saya termasuk orang yang takut akan tantangan, gampang putus asa, dan tidak penyabar. Tetapi saat saya outbound bersama teman-teman yang belum saya kenal saya merasakan perbedaan yang sangat besar dalam diri saya, saya jadi berani, semangat dan sabar menghadapai satu per satu rintangan. Satu persatu rintangan dapat saya taklukkan, karena saya percaya saya bisa dan sanggup melewatinya. Begitu juga dengan teman-teman dalam kelompok saya, tadinya saya lihat mereka biasa saja tetapi sebenarnya mereka adalah orang-orang yang kuat dan pemberani.
• Saya orangnya dibilang sabar tidak, dan dibilang egois pun tidak. Jadi menurut saya sendiri saya tidak bisa memastikan saya ini orangnya seperti apa.
• Saya orang yang kreatif, ambisius, tapi terkadang saya terbawa emosi, saya dapat memimpin teman-teman saya untuk menyelesaikan sebuah tantangan, dan saya tidak segan-segan untuk mengajari teman-teman saya, serta saya dapat memberi masukan atau ide untuk teman-teman saya.
• Pada saat outbound tadi jujur aku mau nangis karena takut ketinggian, tapi aku heran dengan teman-temanku, mereka cuek tentang tantangan ini dan mereka pun tidak ada yang takut contohnya pada saat flying fox aku bener-bener takut. Aku hampir aja mau nangis tapi aku tahan karna aku malu pada teman-teman akau karna mereka tidak takut. Tapi walaupun aku takut tapi aku tetap harus berani naik flaing fook walaupun tidak yg saya duga.
• Manakala, saya kadang tidak sadari, dalam melakukan tantangan kadang saya mempunyai rasa menang yang tinggi, sehingga ada suatu kata, mungkin… dengan intonasi yang agak tinggi. Sebenarnya, kata-kata tersebut bukanlah suatu emosi tetapi nafsu (semangat) yang tinggi. Dan saya rasa, saya mengeluarkan kata-kata tersebut baik untuk menjadi semangat.
• Setelah saya melakukan sebuah tantangan pada saat outbound yang sangat memicu adrenalin saya, untuk siap menjadi yang terbaik. Dan tak lupa juga dalam melakukan suatu tantangan memang, diperlukan adanya suatu kekompakan, konsentrasi, kerjasama yang erat dan yang pastinya saya harus semangat. Karena, dengan adanya rasa semangat yang tinggi, saya yakin, saya optimis, segala rintangan pasti bisa saya lalui dengan syarat adanya komitmen saya dan teman saya dalam 1 group.
• Setelah saya mengikuti acara outbond tadi, saya merasa bahwa saya itu orangnya dalam menyelesaikan sebuah tantangan Pasih, pasrah,, dan kurang berguna bagi teman-teman saya. Saya merasa bersalah karena hanya dapat menyusahkan teman-teman sekelompok saya ketika outbound.
• Menurut saya, saya itu cenderung lebih suka membantu orang lain. Kalau pada saat-saat tertentu dan mungkin menurut saya orang yang ada di dalam kelompok saya enak-enak, saya beda saja mengeluarkan ide-ide yang kreatif. Saya juga bisa menjadi pemimpin asalkan orang-orang yang saya pimpin bisa nurut dengan apa yang saya omongkan.
• Saya merasa bahwa outbound kali ini, saya lebih dekat dengan teman-teman yang tadinya tidak kenal menjadi kenal dan pada saat permainan dengan kelompok masing-masing saya diajarkan untuk bekerjasama, kompak, saling mendukung dan lain-lain. Saya merasa seperti orang yang ambisius ingin mengenal teman satu sama lain dan ingin lebih dekat lagi bersama teman.
• Saya salut kepada yang bernama Inez dia lebih memilih terjun daripada poin kita dikurangi. Kami selalu kompak di pertandingan apapun. Kami juga bangga karena para panitia selalu memuji kelompok kami. Walaupun kelompok kami mendapatkan poin yang tidak terlalu banyak tapi kita semua tetap bersemangat.
• Saya termasuk orang yang aktif saat outbound, tetapi saya juga termasuk dalam kategori orang yang penakut. Tapi saya tidak pernah menyerah untuk menghadapi semua itu, saya terus berusaha walaupun kadang hasilnya tidak seperti apa yang kita inginkan. Lebih baik berusaha dulu, dari pada memilih untuk menyerah di awal.

Saya terharu, trenyuh, kagum, sekaligus bangga membaca hasil permenungan mereka yang jujur. Bagi mereka, dinamika dalam outbound merupakan hal yang luar biasa, yang dapat diapresiasi dengan keragaman perasaan. Salah satu parameter “keberhasilan” outbound adalah ketika para peserta terinpirasi untuk melakukan refleksi tentang diri dan orang-orang di sekitarnya. Tentu saja ketika refleksi itu sudah muncul perlu direspon atau diteguhkan lagi melalui proses kelanjutannya.

Apa sih Outbound itu?
Outbound adalah metode pengembangan potensi diri melalui rangkaian kegiatan simulasi/permainan/ dinamika, yang memberi pembelajaran melalui pengalaman langsung. Kegiatan outbound dilaksanakan demi pengembangan dan pembelajaran peserta. Materi pengembangan bisa bermacam–macam, tergantung kebutuhan peserta. Demi pemudahan sering para penyelenggara outbound sudah mempunyai “paket manfaat” yang bisa didapat oleh peserta setelah mengikuti outbound, misalnya yang paling sering adalah untuk meningkatkan kerjasama tim. Ada pula outbound yang dirancang khusus untuk kelompok peserta tertentu dengan tema spesifik. Dalam hal ini, penyelenggara (bisa dari intern kelompok tersebut, maupun “menyewa” provider) merancang skenario outbound untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Materi pembelajaran/pengembangan diberikan pada peserta melalui metode “merasakan/ mengalami,” bisa dalam bentuk simulasi, permainan, dinamika, studi kasus, tantangan fisik, dan sebagainya. Prinsip metode ini adalah peserta merasakan langsung sebuah pengalaman untuk direfleksikan/ debriefing pada pemahaman (materi) tertentu. Sebuah/ rangkaian dinamika kelompok yang baik harus dipersiapkan dan dilaksanakan dengan efektif, serta diakhiri dengan proses pengambilan inspirasi/ manfaat dari dinamika tadi.

Keunggulan Metode Permainan/ Dinamika
Beberapa nilai lebih metode permainan/dinamika dibandingkan metode ceramah dalam penyampaian suatu materi/ pesan antara lain:
• Memori seseorang akan lebih lama merekam sesuatu jika dia pernah mengalaminya, dibandingkan hanya dengan membaca/ mendengarkan. Memori dalam hal ini tidak sekedar proses, namun juga refleksi/ evaluasi terhadap suatu praktik/ simulasinya. Confuciuspun berujar,” Saya mendengar dan saya melupakannya. Saya melihat dan saya akan mengingatnya. Saya melakukan, maka saya akan mengerti,”
• Pada dasarnya, seseorang senang bermain. Sering kali, makin tua seseorang, dia (tanpa disengaja) makin berpikir dirinya tidak pantas lagi untuk bermain. Ketika bermain, kita bisa melepaskan segala beban pemikiran kita dan berkonsentrasi dalam permainan. Hal ini menyebabkan permainan bisa digeluti secara fisik dan nonfisik, hal yang bagus untuk penyampaian sebuah ide/ materi.
• Dalam menyelesaikan suatu dinamika, tidak banyak waktu untuk berandai – andai atau memperdebatkan suatu teori/ teknik. Tantangan di depan mata, waktu terus bergulir, sementara dinamika harus diselesaikan dengan maksimal. Dibandingkan dengan penyelesaian soal teori di kelas, kita bisa lama berandai–andai, bahkan bisa sampai berdebat kusir panjang lebar. Kemampuan melihat dan memahami dinamika/tantangan memberikan kontribusi yang besar dalam upaya penyelesaiannya.
• Metode simulasi/ praktik/ bermain dapat menjadi selingan yang menyegarkan bagi mereka yang dalam keseharian lebih banyak menerima materi melalui cara ceramah/ membaca. Sesuatu yang baru/ lain pasti akan menarik perhatian, sesuatu yang menarik perhatian biasanya akan lebih berkesan.
• Dinamika kelompok menuntut seorang peserta berinteraksi dengan orang lain. Hal ini dapat mengasah kepekaan dan toleransi terhadap (ide/ pendapat) orang lain. Kemampuan berkomunikasi juga sangat menentukan dalam keberhasilan proses dinamika.

Antara Tujuan, Hasil, dan Permainan dalam Outbound
Segala keunggulan tadi tentu perlu ditunjang dengan beberapa rambu dalam pelaksanaan outbound, supaya tujuan kegiatan bisa terpenuhi, antara lain:
1. Outbound harus punya tujuan yang jelas,
2. Pilihan permainan/ dinamika yang tepat
3. Alur outbound sesuai dengan kaidah pembelajaran.
4. Kegiatan outbound harus difasilitasi oleh fasilitator yang tepat.

Pada akhir bahasan ini Saya tampilkan pula beberapa contoh prinsip skenario outbound yang efektif.
Jika outbound bertujuan mengembangkan kerjasama kelompok, artinya hasil utama yang hendak dicapai adalah peserta mendapatkan pengalaman yang memberi inspirasi untuk makin dapat menyelesaikan misi/tantangan/tugas melalui kerjasama yang efektif. Gambaran permainan yang cocok adalah permainan yang hanya bisa berhasil jika dilaksanakan seluruh anggota kelompok secara kerjasama.

Jika outbound bertujuan sebagai simulasi penyelesaian masalah, artinya hasil utama yang hendak dicapai adalah peserta memperoleh pengalaman yang bisa memberi inspirasi dalam pemecahan suatu masalah secara efektif. Gambaran permainan yang cocok adalah permainan yang membutuhkan analisis dalam pemecahannya. Sifat dinamika bisa individu maupun kelompok.

Jika outbound bertujuan melatih ketahanan mental, artinya hasil utama yang hendak dicapai adalah pengalaman peserta yang dapat menyelesaikan tantangan/ masalah dalam kondisi penuh tekanan (mental). Gambaran permainan yang cocok adalah tantangan/ permainan yang bersifat menguji keberanian/nyali peserta, terutama secara mental.

Jika outbound “hanya” bertujuan untuk menjalin keakraban/ hiburan, artinya hasil utama yang hendak dicapai adalah ketika menyelesaikan kegiatan, peserta bergembira, dan antar mereka makin saling mengenal dan akrab. Gambaran permainan yang cocok adalah permainan yang tidak terlalu berat/ beresiko, bersifat menghibur, dan mengakrabkan suasana.

Nah … sebenarnya sederhana dan simpel khan merancang outbound yang efektif. Selamat merancang outbound yang lebih outbound.

*) Agustinus Susanta, Penggiat Outbound dengan pengalaman pendampingan outbound pada lebih dari 153 kegiatan, 10 ribu peserta, dan 28 lokasi. Penulis 3 buah buku: “Merancang Outbound Training Profesional,” “Menguak Tabir Outbound,” dan “Outbound Way”

Telah di baca sebanyak: 2597
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *