Birokrasi yang Entrepreneur

Oleh: Dudy Saragih

Dalam pandangan masyarakat Indonesia pada umumnya, birokrasi yang ada selama ini belum mampu memenuhi harapan sebagian besar masyarakat. Birokrasi tidak berjalan secara efisien, lambat dan tidak efektif. Perilaku pegawai negeri yang sering kita dengar dan lihat: ke kantor hanya untuk mengisi daftar hadir, lalu pergi ke warung kopi, ada juga masih bertahan di kantor dengan mengobrol sesama pegawai. Hanya sedikit pegawai yang mempunyai inisiatif untuk menyelesaikan pekerjaan yang bertumpuk di mejanya dan lebih banyak pegawai hanya menunggu pekerjaan yang mempunyai duitnya atau menunggu diperintah atasannya. Itulah dosa birokrasi yang memunculkan biaya tinggi, semua biaya yang dipakai para birokrat ditanggung oleh rakyat. Jika perilakunya demikian, maka rakyat merasa terbeban. Muncullah pola 4D: duduk,datang, diam, dan duit. Bagaimana kita mau bersaing dalam era globalisasi ini. Semakin tahun dunia ini penuh dengan persaingan pasar yang akhirnya menuju pada kompetesi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, birokrasi adalah: 1).Sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai pemerintah dengan berpegang pada hierarki dan jenjang jabatan; 2).Cara bekerja atau susunan pekerjaan yang serba lamban,serta menurut tata aturan (adat dan sebagainya) yang banyak liku-likunya dan sebagainya. Dengan demikian, dalam kata birokrasi pemerintahan terdapat konotasi kata inefisiensi (pemborosan) dan inefektivitas (lambat)

Kasus lemahnya birokrasi tersebut sebenarnya sudah lama dibahas para pakar manajemen pemerintahan, bahkan di negara yang pertama kali secara kolosal menjalankan birokrasinya Weber, yakni Amerika Serikat. Pada tahun 1992 David Osborne dan Ted Gaebler me-review peran birokrasi di Amerika dengan menuntutnya melakukan reinventing. Tesisnya adalah pemerintahan baru yang berciri entrepreneur (kewirausahaan), dengan ciri adanya kompetesi, adanya wewenang kepada warga masyarakat untuk mengontrol birokrasi, berorientasi kepada hasil dan bukan kepada masukan, digerakkan oleh misi dan bukan oleh ketentuan dan peraturan, klien sebagai kustomer, lebih cenderung “mencegah” masalah sebelum muncul daripada “mengobati” setelah masalah muncul, tidak hanya membelanjakan uang tetapi juga mencari uang, mendesentralisasikan wewenang dengan mengedepankan pola yang partisipatif,menyukai mekanisme pasar, dan menjadi katalisator dari proses yang ada di dalam masyarakat-antarorganisasi dalam masyarakat…” (Riant Nugroho D : 2001, 187).

Para birokrat Indonesia harus berani mengambil sikap menjadi seorang entrepreneur. Artinya para birokrat negara harus berpikir dan mempunyai visi seperti seorang pengusaha. Bagaimana unit kerjanya dapat melayani pasar? Harus mampu memperhitungkan lost profit setiap proyek yang ditanganinya demi kesejahteraan masyarakat. Kata entrepreneur sendiri berasal dari bahasa Perancis yang dipakai juga dalam bahasa Inggris dan Indonesia yang mengandung arti wirausaha.

Menanamkan semangat wirausaha ke dalam birokrasi Indonesia sudah sangat mendesak sekali. Indonesia yang dilalui garis khatulistiwa, letak geografisnya di antara dua benua besar, Asia dan Australia, dan dua samudra besar, Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, merupakan wilayah yang sangat strategis sekali. Mempunyai tanah yang subur, memiliki banyak barang tambang dan mineral, hutan dan perkebunan/pertanian yang sangat luas. Banyak negara barat/maju yang mengincar kepulauan Indonesia untuk menanamkan modalnya melakukan kegiatan ekomominya.

Kekayaan alam melimpah ruah yang merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa untuk bangsa ini perlu diurus oleh orang-orang yang mempunyai semangat entrepreneur, semangat untuk membangun negara Indonesia yang tercinta ini untuk lebih maju dari sekarang.

Kata kunci dari semangat birokrasi yang entrepenerur adalah bagaimana pejabat negara dapat melakukan efektif dan efisien dalam setiap proyek pembangunan yang dilaksanakannya. Efektif mengandung arti dapat membawa hasil dan berhasil guna, sedangkan efisien dapat diartikan tepat atau sesuai untuk mengerjakan (menghasilkan) sesuatu (dengan tidak membuang-buang waktu, tenaga, dan biaya). Kedua kata kunci tersebut akan menuju persaingan yang sehat.

Salah satu wujud konkrit mewiraswastakan birokrasi dapat kita lihat antara lain dengan adanya Badan Layanan Umum (BLU) di sejumlah Departemen. Misalnya Badan Layanan Umum Transjakarta (Pemda DKI) yang melayani kebutuhan transportasi untuk masyarakat Ibukota Negara. Dasar hukum BLU adalah UU No.1 tahun 2004 tentang Perbendaharan Negara. Pasal 1 butir (23) mengatakan BLU adalah: instansi di lingkungan pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisensi dan produktifitas. Walaupun demikian pendapat BLU dapat digunakan langsung untuk membiayai belanja BLU yang bersangkutan. Pendapatan tersebut dapat diperoleh dari hibah,sumbangan, atau sehubungan dengan jasa layanan yang diberikan.

Pola-pola pembangunan yang menggunakan perjanjian BOO (Built Operate ad Own) dan BOT (Built Operate and Transfer) yang banyak digunakan intansi pemerintah merupakan bentuk konkrit yang lain dari mewiraswastakan birokrasi. Para birokratnya sudah mempunyai visi seperti pengusaha. Sudah memperhitungkan untung rugi suatu proyek pembangunan dalam arti dengan harga yang segini, mendapatkan keuntungan yang berlipat.

Betapa. lemahnya suatu organisasinya publik, jika pelaksananya mempunyai semangat yang luar biasa untuk membangun negara ini, menuju kemajuan bersama, maka segala kelemahan yang ada pada birokrasi pemerintahan, dapat dipikul bersama-sama untuk mengejar cita -cita negara, sesuai apa yang diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945 memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

*) Dudy Saragih, alumni workshop “Cara Cerdas Menulis Artikel Menarik batch XII” ini dapat dihubungi di dudysaragih@yahoo.com atau www.dudysaragih.blogspot.com

Telah di baca sebanyak: 1052

Comments

2 Responses to “Birokrasi yang Entrepreneur”
  1. Wah ini postingan yang sangat menarik sekali. Sangat berguna, terima kasih. Salam kenal :)

  2. abeth says:

    thx bgt! sangat membantu…. :)

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

Top