Adi W Gunawan

Bisakah Hipnoterapis Menerapi Keluarganya Sendiri?


Ide menulis artikel ini muncul saat membaca respon seorang rekan di Facebook. Saat itu saya memposting tulisan “Apakah engkau sudah memaafkan orang yang menyakitimu? “Belum.” Musuh kita bukanlah mereka yang menyakiti kita, melainkan sifat membenci yang ada pada diri kita.”

Rekan ini menulis, “Pak kenapa kok saya belum bisa memaafkan juga ya? Padahal saya sudah diterapi berkali-kali, mengapa masih ada sisa perasaan jengkel? Apanya yang salah nih? Saya sangat tersiksa dengan rasa dendam ini.”

Selanjutnya ia menambahkan, “ Saya sudah menerapkan Hypno-EFT yang ada di buku Quantum Life Transformation. Sudah pake pertanyaan kritis di buku The Secret of Mindset, padahal saya orang yang mudah trance. Dan tiap sesi terapi saya dibantu suami. Kebetulan suami saya praktisi hipnoteapi (CHt) dan sudah banyak membantu orang lain. Tiap hari saya dicintai seorang hipnoterapis. Saya juga bingung Pak kenapa ya saya ini? Saya lalu curhat sama hipnoterapis lain. Katanya sebaiknya saya menerapi diri sendiri, jangan dibantu suami. Waktu saya menerapi diri sendiri dengan Hypno-EFT, belum satu putaran saya mual dan muntah-muntah. Tiap kali saya menerapi diri sendiri selalu terjadi seperti ini. Sepertinya bawah sadar saya memberi sinyal menolak diterapi.Sepertinya bawah sadar saya sangat mencintai dendam di hati saya. Seperti ingin melindungi saya dan ingin saya bahagia dengan memelihara luka di hati saya. Saya dari keluarga broken-home dan ini sangat mengganggu perasaan cinta saya pada suami, walaupun suami sangat baik dan setia.”

Saya menjawab, “Sebaiknya Ibu minta bantuan terapis lain. Ada satu hukum tak tertulis dalam dunia terapi, khususnya hipnoterapi. Seorang hipnoterapis tidak bisa menjadi terapis bagi pasangan atau anggota keluarganya sendiri. Pikiran bawah sadar seseorang sangat cerdas. Ia bisa menahan informasi yang dia tidak ingin diketahui oleh terapisnya (baca: pasangannya).”

Pembaca, saat menjawab pertanyaan rekan ini saya tentu tidak bisa menjelaskan secara lebih detil alasan di balik jawaban singkat yang saya berikan. Melalui artikel ini saya akan melakukan eksplorasi lebih jauh untuk menjawab pertanyaan “Bisakah Hipnoterapis Menerapi Keluarganya Sendiri?”

Jawaban singkat untuk pertanyaan di atas: Bisa.

Efektifkah? Nah, ini jawabannya, “May…. may be yes… may be no.” Lho, kok?

Ceritanya begini ya. Teknik terapi yang digunakan untuk menerapi klien atau anggota keluarga, termasuk pasangan, sebenarnya sama saja. Dalam hal ini saya berasumsi hipnoterapis memiliki kecakapan dan jam terbang yang cukup. Yang membuat proses terapi terhadap anggota keluarga, apalagi terhadap pasangan, menjadi berbeda adalah hal-hal yang berhubungan dengan:
1. Tingkat kepercayaan
2. Keterbukaan
3. Kesiapan mental klien dan hipnoterapis
4. Keterlibatan emosi

Sekarang mari kita bahas poin di atas. Pertama, tingkat kepercayaan. Saat melakukan terapi pertanyaan yang sangat menentukan adalah apakah klien, misalnya istri, mempercayai sepenuhnya kecakapan terapisnya (suami)? Apakah istri merasa aman? Hal ini sangat penting untuk dijawab dengan jujur. Bila seorang klien tidak percaya sepenuhnya pada kemampuan terapisnya atau tidak merasa aman mengungkapkan informasi yang ada di pikiran bawah sadarnya maka terapi telah gagal bahkan sebelum dimulai. Umumnya bila terapisnya adalah suami dan kliennya adalah istri tidak terlalu jadi masalah. Yang menjadi masalah adalah bila terapisnya adalah istri dan yang menjadi klien adalah si suami. Suami biasanya, walau tidak semuanya, tidak mengijinkan istri menerapi dirinya. Ini karena ego suami yang merasa dirinya lebih hebat dari istrinya.

Poin kedua adalah keterbukaan. Ini yang cukup sulit dilakukan. Seringkali masalah yang dialami ada hubungannya dengan pasangan, atau orangtua pasangan. Bila situasinya seperti ini saya meragukan klien cukup berani untuk berkata jujur.

Saat seseorang berada dalam kondisi hipnosis, sedalam apapun level hipnosisnya, ia tetap sadar sesadar-sadarnya dan mampu mengendalikan sepenuhnya baik pikiran, ucapan, dan responnya. Dengan demikian klien bisa berkata tidak jujur atau menyembunyikan informasi yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk menuntaskan masalahnya. Jika klien tidak mengungkapkan informasi tertentu dengan berbagai pertimbangan atau alasan, mungkin sungkan, tidak berani, atau takut, dan oleh karenanya informasi ini tidak bisa diproses maka terapi yang dilakukan pasti tidak efektif.

Ada kemungkinan akar masalah klien adalah kejadian yang sangat traumatik, yang dalam pandangan klien merupakan aib yang sangat memalukan, yang selama ini tidak pernah ia ceritakan kepada siapapun. Bila tidak siap maka klien tidak akan mengungkapkan hal ini kepada terapisnya yang notabene adalah pasangannya. Ini berhubungan dengan rasa aman secara psikis.

Poin ketiga adalah kesiapan mental baik pada diri klien maupun terapis dalam menyikapi berbagai data yang terungkap selama sesi terapi, khususnya data yang berasal dari memori yang ditekan selama ini (repressed memory). Bila misalnya klien mengungkapkan informasi yang sangat sensitif dan terapisnya tidak siap mendengar hal ini, karena yang menerapi kan pasangannya sendiri, maka ini bisa jadi masalah besar. Bisa-bisa setelah selesai melakukan terapi, terapisnya yang butuh diterapi karena mengalami goncangan psikis yang hebat. Contohnya?

Misalnya yang menjadi klien adalah si istri dan terapisnya adalah si suami. Bagaimana bila, walaupun sudah disepakati di awal, sebelum menjalani sesi terapi, bahwa baik klien maupun terapis akan sangat terbuka dan bisa memaklumi informasi apapun yang akan tergali saat terapi, klien menyampaikan bahwa ia dulu pernah mengalami pelecehan seksual atau sudah tidak gadis lagi saat menikah dengan pasangannya?

Bagaimana bila sekarang yang menjadi klien adalah si suami dan terapisnya adalah si istri dan saat proses terapi terungkap bahwa si suami punya PIL eh salah…maksud saya, WIL? Apakah terapis siap mendengar informasi ini dan melanjutkan sesi terapis secara profesional?

Contoh kasus di atas adalah kasus yang memang ekstrim. Saya sengaja menyampaikan hal ini sebagai bahan pemikiran. Bukan berarti ini tidak mungkin terjadi, lho. Jika, misalnya, yang saya ceritakan di atas sungguh-sungguh terjadi, apakah baik klien maupun terapisnya siap?

Dan ini membawa kita ke poin keempat yaitu keterlibatan emosi. Hipnoterapis yang baik, menurut hemat saya, adalah mereka yang mampu melakukan terapi tanpa sama sekali terlibat secara emosi atas apa yang dialami oleh klien. Saat emosi terlibat maka terapis sudah tidak lagi bisa netral dalam bersikap dan memproses berbagai informasi yang terungkap. Terapi sangat membutuhkan sikap dan emosi yang netral. Ini untuk menghindari terjadinya countertransference.

Keterlibatan emosi bisa juga terjadi pada terapis saat menangani klien, yang bukan pasangannya, bila ternyata apa yang dialami klien mirip atau sama dengan pengalaman traumatik yang dulu dialami si terapis, namun belum berhasil ia atasi.

Saya pernah membaca ada terapis, wanita, yang ternyata punya masalah dengan suaminya, dan saat ia menerapi kliennya yang juga seorang wanita, untuk masalah yang berhubungan dengan suami klien, tidak bisa bersikap netral. Hasil terapi justru semakin memperburuk hubungan klien dan suaminya karena terapis, saat klien dalam kondisi somnambulism, mensugestikan hal-hal atau pandangan yang sebenarnya mencerminkan kemarahan terapis pada suaminya. Ini sangat riskan.

Nah, bagaimana bila ternyata baik klien maupun terapisnya, ingat ya saya sedang membahas hipnoterapis yang menerapi pasangannya, ternyata mampu mengatasi keempat poin di atas?

Wah, kalau ini yang terjadi maka hasilnya akan sangat luar biasa. Selain klien sembuh dari masalahnya, hubungan mereka akan menjadi semakin erat, hangat, dan kuat. Pembelajaran yang dilakukan pada level pikiran bawah sadar klien, yang mendapat dukungan penuh dari (pikiran bawah sadar) terapis akan membawa mereka ke level kesadaran yang sangat tinggi yang meningkatkan kedewasaan sikap, mental, dan spiritual mereka secara luar biasa. Mereka sadar bahwa apa yang dialami di masa lalu adalah pembelajaran dan kebijaksanaan yang sangat berharga untuk kehidupan mereka. Pembelajaran ini hanya bisa didapatkan setelah luka batin itu diproses.

“Apakah pernah ada yang mengalami hal ini?”
“Hal yang mana?”
“Itu lho, baik yang positif maupun yang negatif?”
“Pernah.”

Pernah ada seorang rekan menghubungi saya minta terapi. Saat saya tanya apa yang terjadi ternyata ia menerapi klien yang mengalami kepahitan di masa kecilnya yang berhubungan dengan orangtuanya. Dan kasus klien ini mirip dengan yang ia alami saat kecil. Yang terjadi selanjutnya adalah saat klien mengalami ledakan emosi (abreaction), eh.. rekan terapis ini juga ikut menangis dan mengalami kembali pengalaman dan emosi negatif yang dulu ia alami. Jadi, baik klien maupun terapis sama-sama abreaction.

Sedangkan yang positif juga ada. Seorang rekan terapis saat memproses trauma istrinya dan mengetahui berbagai kepahitan yang dialami si istri saat kecil, tidak saja berhasil membantu istrinya sembuh, justru membuat ia semakin cinta pada istrinya dan memutuskan untuk membuat istrinya bahagia lahir dan batin. Mereka,suami istri, sepakat bahwa pengalaman buruk yang dulu dialami sang istri tidak boleh terjadi pada anak mereka. Mereka juga menyadari sepenuhnya walaupun anak masih kecil, anak tetap punya perasaan dan pemikiran yang harus dihargai dan dihormati.

Contoh di atas adalah kalau hipnoterapis menerapi pasangannya. Bagaimana kalau hipnoterapis, misalnya ayah atau ibu, menerapi anaknya?

Sama saja. Keempat poin di atas sangat perlu diperhatikan. Pada kasus yang anak alami, dari pengalaman saya menerapi banyak anak dan keluarga, saya mendapatkan hampir semua, sekitar 98%, masalah anak terjadi karena pola asah, asih, dan asuh yang salah yang anak alami di rumah. Dengan kata lain yang menjadi sumber masalah sebenarnya adalah orangtua.

Akan sulit bagi anak untuk secara terbuka mengungkapkan isi hatinya dan mengatakan bahwa orangtuanya adalah sumber masalahnya. Anak tentu merasa takut atau tidak aman. Sebaliknya bila orangtua tidak siap maka sebaik apapun ia berusaha emosinya pasti akan terlibat dan ia menjadi tidak objektif. Apapun kondisinya, terapi tidak akan bisa efektif.

Jadi, apa saran Pak Adi? Saran saya bagi anda, rekan sejawat saya, sesama hipnoterapis, sebaiknya bila anggota keluarga kita ada masalah, mintalah bantuan rekan hipnoterapis lain untuk mengatasi masalahnya.

* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pakar pendidikan dan mind technology dan neuro-feedback, pembicara publik, dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis empat belas best seller “Born to be a Genius”, “Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success”, “Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?”, “Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication”, “Becoming a Money Magnet”, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, dan “Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring”, “Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian”, “Kesalahan Fatal Dalam Mengejar Impian 2, dan “Five Principles to Turn Your Dreams Into Reality”, The Secret of Mindset, Quitters Can Win, dan Quantum Life Transformation. Adi dapat dihubungi melalui facebook: Adi W. Gunawan, email adi@adiwgunawan.com, www.adiwgunawan.com,www.quantum-hypnosis.com ,dan www.QLTI.com

Telah di baca sebanyak: 1892
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *