Pitoyo Amrih

Bisnis di Internet adalah Hal Serius

Pada artikel saya beberapa waktu lalu, pernah saya sampaikan bahwa ketika kita menempuh bisnis di internet ‘pure play’ sekalipun, untuk target pasar domestik, tetap kita perlu memampang alamat darat kita di sana, nomor telepon detail kalau perlu. Hal ini memang sebuah hal yang juga cukup unik bagi negara kita, atau mungkin juga bagi negara-negara yang mana jumlah melek internet dibanding jumlah penduduk negara itu masihlah sangat-sangat kecil. Sehingga ketika orang mengakses sebuah website atau bahkan online store misalnya, orang masih sekedar melihat-lihat, bahkan juga mungkin hanya sekedar bertanya-tanya ‘apakah toko ini memang ada?’, ‘apakah kalau saya bayar barang memang akan dikirim?’, dan sederet pertanyaan ragu lainnya.

Bagi negara maju, dimana kebanyakan melek internet sudah lebih dari separuh populasi jumlah penduduk negara itu, justru belanja di internet sudah menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan kesehariannya. Mereka butuh baju, mereka tinggal cari toko baju on-line. Dan ketika mereka nemu website penjual baju, apalagi kalau brand toko itu sudah begitu dikenal, maka sepertinya tak ada sebuah keraguan untuk mempertanyakan bahwa apakah toko itu sebuah kenyataan. Anda bisa bayangkan sebuah toko dunia nyata, maka para netter negara maju itu bisa saya umpamakan, mereka masuk toko, langsung pilih-pilih apa yang mereka butuhkan, keluar toko bila memang tak ada yang cocok, atau beli bila memang sudah ketemu yang disukai. Sementara konsumen on-line kita masih berkebiasaan, masuk toko itu, lihat sana lihat sini sambil dibenak dipenuhi pertanyaan ‘apakah toko ini benar-benar ada?’, ‘apakah barang-barang ini memang dijual?’.

Sehingga tidak seperti kebanyakan toko on-line di negara maju itu, dimana kebanyakan sudah tidak lagi menganggap perlu memasang alamat darat mereka secara detail. Kalaupun ada biasanya hanya sekedar distrik tempat mereka berada, dan kota serta negara. Nomor telepon sebagian besar masih mencantumkan. Saya pikir hal ini bisa dimengerti, karena sebenarnya, ketika sebuah toko on-line itu semakin besar, pada dasarnya yang mereka butuhkan ‘hanyalah’ sebuah kemudahan akses di internet dan pengaturan distribusi atas apa yang mereka jual. Mereka tak lagi melihat perlunya orang tahu dimana mereka, selama mereka akan selalu berkomitmen untuk melayani pelanggan mereka sebaik-baiknya, dan dari kaca mata konsumen juga selama mereka selalu mendapat pelayanan yang memuaskan, rasanya para konsumen itu juga tidak melihat pentingnya untuk tahu alamat darat perusahaan online itu.

Tapi di sini beda! Bahkan toko online ‘brick and click’ yang memakai brand terkenal pun terkadang masih hanya sekedar menjadi pelengkap bagi bisnis mereka. Karena secara omset, sepanjang pengetahuan saya antara penjualan di internet dan penjualan di dunia nyata masih antara bumi langit. Seperti konon katanya, situs yang memakai nama Tanah Abang sebagai pusat grosir konveksi, kegiatan penjualan dan transaksi di internet masihlah amat sangat kecil dibanding dengan omset penjualan pasar realnya di tanah abang sono.

Sehingga seperti yang saya sampaikan di atas, bahkan para ‘pure-play’ pun merasa perlu –bila dia ingin membangun brand-image online store-nya- untuk memampang secara besar-besar alamat detail mereka di halaman situs mereka. Termasuk online store saya di http://webstore.pitoyo.com . Semula saya menuliskan alamat lengkap toko darat saya –atau lebih seperti gudang distribusi- di sebuah halaman tidak di halaman utama. Ada beberapa orang mengkritik saya. Ada yang bahkan menganggap saya sengaja menyembunyikan alamat lengkap toko darat saya, dan berprasangka yang macam-macam. Sejak itu, -seperti yang anda lihat bila anda akses ke online store saya- saya menuliskan alamat lengkap saya di halaman utama di baris paling bawah. Itupun masih ada yang mengkritik, kok tidak di atas, katanya. Tapi demi estetika tampilan halaman web saya tetap menempatkannya dibawah, karena bagaimana pun akan tetap dengan mudah terlihat.

Dan apa yang terjadi? Istri saya, sebagai orang yang memang menjalankan keseharian bisnis ini, sering sekali mendapat telepon, hanya sekedar meminta konfirmasi akan keberadaan online store pitoyo.com ini. Bahkan bila memang domisili konsumen tidak jauh dari tempat saya tinggal, ada yang tiba-tiba nongol di rumah, bertamu dan melihat-lihat ‘toko’ saya. Dimana istri saya tetap berusaha untuk berlaku bahwa ‘toko’ fisik pitoyo.com bisa juga melayani seperti layaknya toko nyata lainnya, walaupun kalau dilihat, penampilan toko fisik saya bukanlah seperti layaknya sebuah toko. Pertama karena itu sekaligus sebagai rumah tinggal saya. Dan kedua, saya tidak menganggap perlu men-setting toko fisik saya seperti layaknya sebuah toko, karena pada dasarnya dari awal saya bukanlah mencoba merintis sebuah ‘brick and click’, merintis usaha di dunia nyata dan di internet secara bersamaan. Yang saya rintis adalah ‘pure play’,.. saya hanya menjual di internet! Sehingga barang-barang di ‘toko’ saya tidak saya atur sedemikian rupa sehingga nyaman sebagai tempat belanja seperti layaknya sebuah toko nyata. Saya hanya mengatur agar barang-barang itu mudah diakses bagi pegawai saya.

Dan saya yakin ini memang sebuah tantangan bagi para pelaku ‘pure play’ di negara kita. Karena saya terkadang bisa membayangkan apa yang ada di pikiran mereka ketika mereka datang ke ‘toko’ nyata saya. Mungkin dalam benak mereka berpikir, lho kok tokonya hanya seperti itu? Karena hampir bisa dipastikan sebagian besar para konsumen kita masih melihat bahwa bila ada toko online menjual barang di internet, maka itu pastilah sebuah perusahaan ‘brick and click’.

Tapi mungkin itulah seninya, ketika kebetulan kita ikut terlibat dalam membangun sebuah image positif sebuah toko on-line di internet. Toko online kita hadir dimana para konsumen di internet itu sendiri masih belum begitu percaya akan ke-serius-an sebuah toko online. Lalu apa yang harus kita lakukan? Seperti yang selalu saya sampaikan kepada istri saya, kita harus selalu tetap konsisten dalam melayani pelanggan di internet, dan.. juga harus memiliki kesabaran dan jiwa besar untuk selalu berperan aktif dalam mendidik konsumen kita bahwa ‘we mean bussiness..’. Bahwa bisnis di internet adalah hal serius. Seperti seseorang yang membangun sebuah toko di dunia nyata, yang saya yakin mereka juga tak pernah main-main dalam berbisnis…

20 Oktober 2008
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com – home improvement
bersama memberdayakan diri dan keluarga

Telah di baca sebanyak: 866
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *