Kolom Alumni

Black Heart

Oleh: Henricus Poerwanto

Ada kemiripan antara murid sekolah dan karyawan. Entah itu karyawan pabrik atau pun karyawan kantor. Kemiripannya atau boleh disebut juga persamaannya adalah sangat dinantikannya waktu istirahat. Bila tiba waktunya, maka para murid berhamburan keluar kelas, masing-masing mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat. Begitupun para karyawan, mereka juga berhamburan keluar kantor atau pabrik. Para karyawan pun mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat.

Pada umumnya waktu istirahat digunakan untuk makan. Ada yang sekedar pindah ruangan saja, ke kantin umpamanya dan tak perlu keluar kantor, sebab kantin sudah tersedia di area kantor atau pabriknya. Tetapi tak sedikit karyawan yang merasa perlu pergi keluar area kantor atau pabrik untuk mencari makan, walaupun perusahaan telah menyediakan makan. Ada yang gratis, ada yang semi gratis. Kalau gratis, artinya karyawan tinggal menyedok nasi dan ambil lauk pauk lalu makan. Sedangkan semi gratis, seperti di sebuah bank nasional contohnya, hanya disediakan nasi putih saja. Jadi para karyawan tinggal membawa lauk pauk sendiri. Tetapi itu dulu. Entah sekarang. Sebab, bank itu kini sudah dibeli oleh bank besar asal Singapura.

Mencermati karyawan yang pergi makan ke luar kantor, cukup lumayan menarik. Sebab mereka sering pergi bergerombol. Nah, karena bergerombol, maka dengan mudah kita mendapat kabar-kabar angin maupun kabar-kabar kabur yang tanpa angin pun bisa datang tiba-tiba. Atau, kabar-kabar yang kabur tertiup angin.

Topik kabar pun beragam. Ganti judul boleh dilakukan sesuka hati. Hal ini yang mungkin sering disebut orang sebagai “pembicaraan di warung kopi”. Pada hal para karyawan itu sedang makan di warung Tegal. Walau ada juga yang sambil makan memesan minuman kopi. Bahasa gaulnya, nge-gosip.

Salah satu topik yang sering mengemuka adalah mengenai atasan (bos) mereka. Bos yang dimaksud bisa atasan langsung mereka. Bisa atasannya atasan mereka. Bisa juga atasan tertinggi (pangkat atau kedudukannya) dalam organisasi perusahaan.

Pada jam istirahat siang itu di warung Padang, Mariana, Sri, dan Dewi mengangkat topik tentang pak Hudaya, Kepala Bagian Pembelian, atasan mereka bertiga. Seperti sudah disebutkan di muka, tanpa anginpun, kabar bisa datang. tiba-tiba.

“ Eh…, denger-denger si Aditya bakal di pe-ha-ka bulan depan ya…” Dewi membuka percakapan”.

Secepat kilat tanpa menunggu jeda, Mariana sambil menyeka keringat dengan punggung tangan di dahinya karena kepedasan berucap, “ Iya.. ya.. apa si Hudaya itu gak mikir. Si Adit kan anaknya banyak. Mana dia baru melahirkan anak ke empat …”

“Tapi kita harus ingat …” Suara Sri yang dikenal kalem masuk ke tengah arena pembicaraan. “ … mungkin itu bukan kehendak pak Hudaya. Dari bos besar ‘kali…”

Dewi menyetujui ucapan Sri melalui anggukan kepala dan menambahkan, “Kita kan tahu jaman lagi susah begini. Penjualan kagak naik. Produksi dikurangi. Jadi, pekerjaan di Bagian Pembelian berkurang.

Dewi yang bak pemimpin rapat kemudian mengarahkan pembicaraan menelusuri tiap bagian di perusahaan tersebut. Mereka menemukan bahwa memang krisis keuangan global telah masuk ke semua lini. Tiap bagian diminta “menyumbang” sekurang-kurangnya seorang karyawan untuk di-sayonara-kan. Tentu saja hal ini merupakan pilihan yang sulit bagi para Kepala Bagian. Namun bagaimanapun harus ada sesuatu yang dilakukan. Dan para Kepala Bagian seperti Hudaya mendapat ujian berat. Bukan saja pemotongan gaji dirinya yang harus ia pertanggungjawabkan kepada anak-istri di rumah. Lebih dari itu, ia harus menentukan siapa di antara bawahannya yang akan diputuskan hubungan kerja.

Terjadi pergulatan batin dalam diri Hudaya. Ia mencoba menganalisa semua bawahannya satu per satu, dari segala sisi. Mulai dari kinerja mereka, kondisi keluarga mereka, beban kerja yang ditinggalkan karyawan pehaka, dan seterusnya. Pengambilan keputusan menjadi semakin sulit, sebab Hudaya harus memilih karyawan “terburuk” di antara yang rata-rata kinerjanya baik. Kepala Bagian Pembelian itu mencoba juga memahami kebijakan bos besar, bahwa memutuskan hubungan kerja pada dasarnya adalah untuk menyelamatkan bukan saja perusahaan, tetapi juga untuk sejumlah besar karyawan lainnya.

Hudaya harus mengesampingkan empatinya. Ia harus jernih berpikir. Ia harus mengutamakan kepentingan orang banyak. Kepentingan yang menyangkut nasib orang yang jumlahnya lebih besar. (the greatest good for the greatest number of people). Hudaya benar-benar mengalami ujian sebagai pemimpin. Salah satu syarat penting untuk menjadi pemimpin adalah berani mengutamakan kepentingan yang lebih besar, kepentingan orang banyak, kepentingan masyarakat luas. Dengan kata lain, seorang pemimpin harus berani mengorbankan kepentingannya sendiri dan keluarganya atau kelompoknya, walaupun sejak dulu ia didukung oleh keluarganya ataupun oleh kelompoknya. Ia harus berani mengambil keputusan yang tidak populer. Menurut istilah teman saya; seorang pemimpin harus memiliki sikap “black heart”. Artinya sang pemimpin harus tega membuat keputusan yang seolah-olah “menyakitkan korbannya”, tetapi menyelamatkan kepentingan yang jauh lebih besar. Bukan itu saja. Ia juga harus mampu menghadapi tentangan dan tantangan orang-orang yang kontra kepadanya.

Hudaya membuktikan itu semua. Setelah mencermati dengan matang, ia memilih dan menjatuhkan keputusan: Memutuskan Hubungan Kerja pada Aditya. Keputusan yang sulit, memang.

Seandainya Anda berada pada posisi Hudaya, beranikah anda mengambil keputusan semacam itu ???

*) Henricus Poerwanto, alumni Writer Schoolen Workshop Cara Cerdas Menulis Artikel Menarik Batch XI, saat ini bekerja di AGS Four winds Indonesia, perusahaan yang bergerak dalam bidang Moving Industry. Alumni Pasca Sarjana Universitas Katolik Indonesia Atmajaya ini dapat dihubungi langsung di logistic-jakarta@agsfourwinds.com

Telah di baca sebanyak: 1455
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *