Andrias Harefa

Bodoh


Sebuah cerita menelusup masuk ke BBM (Blackberry Mesenger) saya. Cerita lama yang berulang kali saya peroleh dari sejumlah kawan. Namun, ini kali ingin saya olah menjadi tulisan.

Disebutkan, seorang pria Tionghoa pergi ke suatu bank di New York City dan berniat
untuk meminjam uang sebesar US$ 5.000. Uang itu akan digunakan untuk perjalanan bisnis ke China selama dua minggu.

Bankir yang melayani pria tersebut mengatakan bahwa bank membutuhkan suatu jaminan untuk pinjaman tersebut. Pria Tionghoa itu setuju. Ia menawarkan mobil Ferrari baru yang diparkir di depan bank sebagai jaminan atas pinjamannya.

Bankir setuju menggunakannya sebagai jaminan. Setelah pria Tionghoa tersebut pergi, sang bankir dan pegawai-pegawai bank tersebut menertawainya. Mereka menganggap pria Tionghoa itu bodoh. Siapa yang tidak bodoh, jika menggunakan mobil Ferrari baru seharga US$ 250.000 sebagai jaminan terhadap pinjaman sebesar US$ 5.000 saja.

Seorang petugas kemudian memarkir mobil Ferrari tersebut ke dalam underground garage milik bank tersebut. Dua minggu kemudian, pria Tionghoa tersebut kembali. Segera ia membayar utang sebesar US$ 5.000 ditambah bunganya sebesar US$ 15.41.

Pegawai bank berkata, “Tuan, kami sangat senang bisa berbisnis dengan anda, dan transaksi ini berjalan dengan lancar. Tetapi terus terang saja, kami sedikit bingung. Ketika Anda pergi, kami mengecek informasi tentang Anda dan mengetahui bahwa anda adalah seorang miliarder. Mengapa Anda repot-repot meminjam uang sebesar US$ 5.000?”

Si pria Tionghoa membalas sambil tersenyum, lalu berkata “Dimana lagi tempat di New York City yang bisa digunakan untuk memarkir mobil saya dengan aman hanya dengan harga $15.41, selama dua minggu?”

Ceritanya berhenti sampai disitu. Lalu apa maknanya?

Setiap orang yang membaca cerita itu dapat beropini, dapat memberikan makna menurut selera, wawasan dan kaca matanya masing-masing.

Kawan saya, Her Suharyanto, misalnya. Trainer penulisan dan ghost writer jagoan pemilik situs jurutulis.com itu, memberi respons singkat “Pantesan kaya…” Ia mengangap pria Tionghoa itu menjadi kaya karena cara berpikirnya yang luar biasa itu. Sementara para bankir yang melayaninya terjebak dalam kotak pikiran standar sebagai orang bank. Mereka tidak menghitung biaya penitipan barang jaminan, tetapi hanya menghitung bunga pinjaman menurut standar konvensional.

Saya sendiri meletakkan cerita tersebut dalam konteks resep sukses. Jika pria Tionghoa itu mewakili figur orang sukses, maka salah satu resepnya adalah kemampuan untuk menerima diri dianggap “bodoh” (oleh para bankir) ketika justru sedang melakukan sesuatu yang pintar.

Saya perlu mengaku dengan jujur bahwa saya sendiri sangat tidak suka dianggap bodoh. Saya suka menampilkan diri sebagai orang yang pintar, bahkan sering sok pintar. Kalau tidak pintar, mana mungkin saya berhasil menulis 38 buku yang mayoritas best-seller, bukan? Kalau tidak pintar, mana mungkin saya bisa bertahan dalam profesi sebagai trainer dan pembicara motivasi selama 20 tahun terakhir, bukan? Kalau tidak pintar, mana mungkin saya memenangkan kontrak memberikan pelatihan selling skill di jaringan dealer mobil Toyota seluruh Indonesia sepanjang 1993-1997, bukan? Kalau tidak pintar, mana mungkin saya memberikan pelatihan kepemimpinan dan manajemen terapan kepada ribuan supervisor dan manajer di PT Charoen Pokhpand (2003-2005), ribuan lagi di Bank OCBC NISP (2005-2007), bukan? Kalau tidak pintar, mana mungkin saya berkesempatan memberikan sesi-sesi motivasi kepada hampir semua pekerja di perusahaan alat berat terkemuka seperti PT United Tractors (sejak 1992 sampai sekarang), bukan? Kalau tidak pintar, mana mungkin saya dipercaya melatih para internal trainer di berbagai perusahaan terkemuka; mendampingi ratusan orang belajar menulis lebih baik dan menuntaskan citacita mereka untuk menulis buku-buku populer; dan seterusnya.

Tetapi sesungguhnya di situlah kebodohan saya. Saya sering tidak mampu melihat peluang dan kesempatan di luar kotak berpikir sebagai trainer atau sebagai penulis. Saya terpenjara oleh sistem berpikir yang telah saya bangun bertahun-tahun, sehingga mudah menganggap orang lain yang berpikir di luar cara tersebut sebagai orang bodoh. Saya tak ubahnya seperti para bankir yang dengan gembira meminjamkan uang US$ 5.000 kepada seorang pria yang cukup “bodoh” untuk menjaminkan sebuah Ferrari baru.

Pada hal, andai saya bersedia untuk lebih membuka pikiran, mau menantang diri untuk thinking outside the box, maka boleh jadi saya bisa memasuki berbagai situasi lain diluar pekerjaan sebagai trainerpreneur dan writerpreneur yang sudah saya kembangkan selama ini.

Jadi, resep sukses kali ini adalah anjuran “jangan sok pintar, tetapi tetaplah merasa bodoh, dan bertanyalah untuk dapat memahami pola pikir orang lain yang Anda anggap lebih sukses dan lebih bahagia dari Anda”. Merasa bodoh itu penting, sepanjang hal itu mendorong kita untuk maju.

Bukan begitu?

*) Andrias Harefa; Penulis 38 Buku Best-Seller, Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 Tahun, Pendiri www.pembelajar.com

Telah di baca sebanyak: 2599
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *