Kolom Alumni

Bos Marah: “Emangnya Gue Pikirin…”

Oleh: Henricus Poerwanto

Roda penjualan kendaraan bermotor sedang menurun tajam belakangan ini. Bukan cuma di Indonesia. Di seantero jagatpun demikian adanya. Akibatnya, banyak nama besar seperti General Motor (GM), produsen mobil terbesar di dunia, merengek minta bantuan keuangan melalui parlemen di negerinya, Amerika. Tercatat Chrysler pun mengikuti jejak GM. Sementara di bagian dunia lainnya, Toyota, raksasa otomotif saingan terdekat GM dan Honda siap siap mengurangi jumlah karyawannya.

Siapapun tahu bahwa merosotnya penjualan produk dan jasa kali ini, berawal dari krisis keuangan di negaranya Obama, Presiden kulit hitam pertama Amerika. Krisis kemudian berlanjut ke seluruh dunia, sehingga dikenal sebagai krisis ekonomi global (the economic down turn).

Dalam situasi seperti sekarang ini, orang bagian penjualan adalah yang paling dipusingkan. Di tengah menurunnya daya beli masyarakat, mereka mesti putar otak agar produknya laku. Disamping dikejar bos untuk memenuhi target yang sudah ditetapkan, orang bagian penjualan masih pula dikejar teman-teman dibagian produksi. Maksudnya, bila penjualan bisa melaju kencang, maka roda produksipun ikut berputar kencang. Itu berarti teman-teman dibagian produksi masih punya pekerjaan alias tidak menganggur.

Hendra, temanku – adalah salah satu diantara anggota tim divisi penjualan di perusahaan kami. Ia baru saja pulang dari perjalanan dinasnya, dua minggu keliling Indonesia Barat, wilayah penjualan kendaraan yang menjadi tanggung jawabnya. Ketika pagi-pagi masuk kantor, pria kurus berkaca mata itu sudah dihardik Pak Wiryono, pimpinan divisi Penjualan : “ Hendra, ngapain orang-orang itu berkerumun di show room?” Hendra tergagap. Segera ia mencari tahu apa yang terjadi dengan orang-orang yang berkerumun tadi. “ Mereka para salesman dealer kita, pak. Hari ini ada pelatihan untuk mereka”, Hendra menjelaskan kepada sang bos. “Minta mereka masuk kelas. Sekarang….” Bos menimpali. Hendra, sambil bingung atas kemarahan bosnya, taat saja menjalankan perintah, kendati ia sadar urusan pelatihan bukan menjadi tanggung jawabnya.

Pada kesempatan lain, giliran Tonny yang kena semprot sang bos. Dalam pameran otomotif disalah satu gedung bergengsi dikawasan Senayan, Jakarta, Tonny penanggung jawab stand perusahaan kami. Di depan lima atau enam orang pramuniaga tinggi semampai, rata-rata 165 cm, berkulit bersih, berkaki jenjang terbalut stocking, dengan rok pendek ketat warna merah bergaris putih – sekitar 20 cm di atas lutut, Tonny“dikuliahi” sang bos. Untungya, jam pameran belum buka. Jadi yang mendengar hanyalah para pramuniaga tadi. Walau diam mendengarkan sang bos, otak Tonny berpikir keras mencari apa akar penyebab marahnya sang bos. Tetapi sampai “kuliah” selesai, Tonny tak menemukannya. Sebab ia merasa semua tugas dan pekerjaan sudah dilakukan sebagaimana direncanakan.

Seminggu kemudian, saat pameran usai, tibalah waktunya berhitung. Berapa biaya yang telah dikeluarkan? Berapa banyak uang yang masuk ke kocek perusahaan?. Dan yang paling penting lagi adalah, adakah keuntungan hasil pameran tersebut?. Bicara soal hitungan, maka Tuty, manajer divisi keuangan kami yang paling berkompeten.

Dengan cermat, Tuty mengumpulkan semua laporan keuangan dari pelbagai divisi yang terlibat pameran. Bila terdapat bukti-bukti pengeluaran yang belum lengkap, ia tak segan melacak sampai ke sumber utamanya. Demikian pula bila down payment penjualan kendaraan belum masuk ke rekening perusahaan, Tuty tak sungkan mengejar tim divisi penjualan. Ia gigih, teliti, jujur dan cepat dalam bekerja. Itu sebabnya ia pantas “menjaga gawang” perusahaan. Tak kurang dari dua minggu, laporan keuangan pameran terbit sudah. Semua boleh tersenyum, hasil pameran surplus. Semua yang terlibat, puas. Hasil kerja mereka selama persiapan berbulan-bulan berbuah manis.

Tidak demikian dengan sang bos. Gurat kemarahan masih nampak diwajahnya ketika membaca laporan pameran Tuty. Bos memanggil Tuty ke ruang kerjanya yang berdinding kaca bening, sehingga tampak dari luar apa saja kegiatan mereka di dalam sana. Di situ Tuty menjelaskan posisi keuangan perusahaan secara menyeluruh dalam tahun berjalan, yang ternyata memang masih “merah” alias rugi. Bukanlah bos kalau ia tidak uring-uringan atas situasi tersebut.

Adalah Udoy nama panggilannya, Widodo nama lengkapnya, office boy jabatannya. Udoy adalah pekerja yang rajin dan jujur. Mungkin itu sebabnya ia bisa bertahan lama diperusahaan. Belasan tahun sudah ia bekerja diperusahaan kami. Ia mengenal semua karyawan, mulai dari tingkat yang paling rendah sampai pimpinan tertinggi. Bukan cuma kenal. Ia tahu persis makanan dan minuman kegemaran masing-masing karyawan. Ia juga tahu watak masing-masing karyawan dan pimpinan.

Suatu sore, ketika waktu kerjanya agak senggang, pak Wiryono ingin makan siomay. Ia minta Udoy membelikannya. “Udoy…, belikan saya siomay ya. Dua.” Ujar Wiryono sambil mengangkat jari telunjuk berbarengan dengan jari tengah tangan kanannya. Selembar uang berwarna biru pecahan lima puluh ribuan diberikan kepada Udoy. Ketika transaksi dengan penjual siomay selesai, Udoy kembali membawa pesanan Pak Wiryono dan memberikan uang sisa belanjanya. Pak Wiryono yang ketika itu sedang berada diluar ruang kerjanya, mengatakan agar siomaynya diletakkan saja di meja kerjanya. Tanpa menghitung lagi dengan teliti uang kembalian dari Udoy, pak Wiryono langsung memasukkan uang itu kekantong sakunya. Tetapi ia merasa uang tersebut masih tersisa banyak.

Saat kembali ke ruang kerjanya, didepan pintu masuk ia lihat siomay diatas meja. Seketika itu pula ia menampar dahinya sendiri. Plaak!! Lalu geleng-geleng kepala. Ternyata Udoy membelikan dua butir siomay saja. Betul-betul hanya dua butir!!. Atas pertanyaan pak Wiryono, mengapa membeli hanya dua butir siomay, Udoy menjawab: “Kan bapak bilang beli siomay dua. Bapak nggak bilang beli dua porsi….” Pak Wiryono tak bisa marah. Tak tahu harus berbuat apa.

Perilaku dan ucapan pak Wiryono sering membuat bingung karyawannya. Hendra bingung. Tonny bingung. Demikian juga Tuty serta Udoy. Tetapi kebingungan itu kerap terselesaikan bila mereka kumpul makan bersama di kantin. Sambil tukar pikiran. Tentang hasil pameran di Senayan yang surplus itu, Tuty berkomentar bahwa pameran tersebut menguntungkan. Akan tetapi ditilik dari sisi keuangan perusahaan secara menyeluruh, maka raport perusahaan masih “merah”. Itu yang bikin pak Wir murka. Sedangkan atas kasus Hendra tentang para salesman yang berkerumun di show room, Tonny mengartikannya bahwa pak Wir sebenarnya mau minta tolong. agar peserta pelatihan disuruh masuk ke kelas. Tetapi ia sungkan menyuruh Hendra. Karena pak Wir tahu betul itu bukan tugas Hendra. Oleh sebab itu, dengan dalih marah maka pak Wir “sah” menyuruh Hendra. Akan halnya kasus Tonny, Tuty berpendapat bahwa Pak Wir sekedar unjuk gigi didepan khalayak (baca: pramuniaga) bahwa dialah orang penting diperusahaan ini. Ia sekedar show off force saja.

Dari cerita diatas, dapatlah kita memahami pemeo terkenal dikalangan pelaku manajemen bahwa rule no 1: “Boss can do no wrong”. Rule no 2 :” If the boss is wrong, see rule number one”.

Jadi kalau kita kelak menghadapi situasi seperti diatas, tidak perlulah berputus asa. Tak guna juga sakit hati. Memahami adalah hal sikap yang paling bijak dan menguntungkan bagi kita. Kalau pun hal tersebut belum sepenuhnya dapat diterima, maka ketika bos marah, ucapkan : “ Emangnya gue pikirin…..” di dalam hati tentu saja.

*) Henricus Poerwanto, alumni Writer Schoolen Workshop Cara Cerdas Menulis Artikel Menarik Batch XI, saat ini bekerja di AGS Four winds Indonesia, perusahaan yang bergerak dalam bidang Moving Industry. Alumni Pasca Sarjana Universitas Katolik Indonesia Atmajaya ini dapat dihubungi langsung di logistic-jakarta@agsfourwinds.com

Telah di baca sebanyak: 2680
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *