Edy Suhardono

(Bukan) Bernalar, (Tapi) Berakal


Konsep dan pengertian tentang sesuatu adalah hasil penalaran berpikir berbasiskan pengamatan inderawi (observasi empirik). Pola pemahaman berdasarkan pengamatan kejadian sejenis membentuk proposisi–proposisi; dan berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, lantas orang menyimpulkan sebuah “teorema baru” yang sebelumnya tidak diketahui. Siklus ini disebut proses menalar.

Me(makai)-nalar identik dengan memanfaatkan jejak probabilitas kejadian masa lalu, sebaliknya mencari akal adalah mengundang posibilitas masa depan. Kesuksesan selalu hal baru, tak pernah berulang; dan merupakan produk akal. Sedang pengulangan sukses tetaplah pengulangan, mudah disampaikan sebagai cerita tentang “peng-alam-an”; dan merupakan produk nalar. Dua cerita berikut menunjukkan beda antara bernalar dan berakal.

Nalar dan Akal
Suatu hari, Bernasdus, seorang anak berumur empat tahun, bermain vas bunga porselin yang sangat disakralkan oleh kedua orangtuanya, mengingat benda itu warisan kakek buyut Bernasdus. Kejadian dimulai ketika Bernasdus telanjur memasukkan tangan kanannya ke dalam vas dan tidak dapat menarik kembali keluar dari lubang vas. Ayahnya berusaha keras menolongnya, namun sia-sia karena tangan Bernasdus tetap terpasung di lubang vas. Muncullah konflik dalam diri sang ayah, yakni antara keinginan mempertahankan keutuhan vas yang sangat bernilai itu dan menyelamatkan tangan Bernasdus. Terpikir gagasan untuk memecah vas dengan risiko tangan Bernasdus terluka. “Coba, Nak. Masih ada cara. Buka genggaman tanganmu dan luruskan jari-jarimu seperti ayah contohkan; kemudian tarik…”

Di luar dugaan Bernasdus menjawab, “Tidak, Yah, aku tak mau melakukannya. Aku tak akan melepas genggaman tanganku seperti ayah contohkan, karena uang recehku akan tertinggal di sana.”

Mana nalar dan mana akal? Mungkin sebagian besar pembaca berpikir bahwa sang ayah lebih mempercayai dan memakai nalar masa lalunya, sebaliknya Bernasdus sedang menggunakan akal masa depannya. Cerita berikut mungkin membuat Anda berubah pikiran.

Suatu hari, seratus tahun silam, di sebuah kawasan persawahan Delanggu Jawa Tengah hidup suatu keluarga petani yang memiliki harta kekayaan berupa dua ekor sapi. Yang satu sudah berumur dan sering mengalami “dhèngkèlën”,*) yang lain masih muda, kuat, dan memiliki ketahanan fisik untuk membajak sawah. Sapi yang pertama sudah tak mungkin lagi dipasang-jalankan bersama sapi kedua, apalagi untuk membajak.

Ketika pasangan suami-istri petani sedang menghadiri perhelatan pernikahan salah satu tetangga, di luar kebiasaan sapi tua itu mampu berdiri tegak dan berjalan menuju rumpun rerumputan kalanjana yang tumbuh subur di dekat sumur belakang rumah. Karena jalannya yang gontai, di tengah keasyikan melahap makanannya, sapi tua itu terperosok dan secara pelan namun pasti masuk ke lubang sumur. Dengan segala upaya, sapi itu berusaha bertahan agar tak merangsak ke kedalaman sumur.

Tiba dari perhelatan, pasangan petani mendengar gaduh lenguhan sapi yang datang dari arah lubang sumur. Setelah memahami apa yang sedang terjadi, petani lelaki itu memutar akal. Timbul perasaan campur-baur antara rasa simpatinya pada sapinya yang naas itu tapi juga rasa jengkelnya bahwa ia harus menguras isi sumur yang tak seharusnya menjadi kubangan sapi, dan rasa sesal karena kelancangan sapinya yang hampir menghabiskan persediaan rumput untuk berjaga menghadapi tibanya musim kemarau.

Berpikir kecepatan kilat, akhirnya lelaki itu memutuskan untuk tak mempedulikan sama sekali baik sapi tua, rumput kalanjana, maupun sumurnya. Ia justru memanggil para tetangganya, menceritakan apa yang tengah terjadi dan meminta mereka beramai-ramai menguruk lubang sumur itu dengan tanah merah untuk mengubur sapi tuanya agar tak berlama-lama dalam penderitaan.

Begitu menerima hujan bongkahan tanah merah yang bertubi menghantam punggung dan kepalanya, sapi itu melenguh panik dan ketakutan. Namun sang petani dan para tetangganya seolah tak mengacuhkannya dan tetap mengayuhkan cangkul, mencungkil, dan melontarkan bongkahan tanah merah yang terkuak ke dalam lubang sumur. Tanpa disadari sang petani dan para tetangga yang kian getol menguruk lubang sumur, sapi tua itu secara refleks mengibaskan gumpalan tanah merah yang menghantam punggungnya. Gilirannya gumpalan demi gumpalan tanah merah itu bergeser dan jatuh ke samping dan bawah kakinya. Secara refleks pula, dan secara berganti-ganti, keempat kakinya menginjak gundukan tanah yang tumpah berjatuhan dari atas punggungnya.

Bak seorang manusia yang mengalami pencerahan, si sapi melakukan rentetan gerak, mulai dari mengibaskan gumpalan tanah merah yang menghantam punggungnya, menginjakkan keempat kakinya secara bergantian di atas gundukan tanah yang kian bertumpuk; sedemikian rupa sehingga ia seolah sedang menaiki tangga dan secara pelan namun pasti keluar dari keterpurukan dan penderitaan selama berada di dalam sumur. Reaksi refleks kepanikannya telah berubah menjadi solusi yang jenial. Gedebum gumpalan tanah merah yang awalnya bisa jadi sumber malapetaka malahan berubah menjadi berkah keselamatan.

Akal dan Adversitas
Mungkin begitulah kehidupan. Di saat kita berjumpa masalah dan kita bersikap menghadapi, tak menolak atau menyalahkan keadaan, semua potensi malapetaka yang dibayangkan dapat mencerabut hidup kita justru berubah menjadi ruahan berkah. Para spiritualis pun berujar, “Within the adversities that come along to burry us, there are potential to benefit and bless us!”

Sang ayah yang berusaha mengurai kesulitan Bernasdus, anaknya, atau sang petani yang memutuskan mengakhiri penderitaan sapi kesayangannya; keduanya lebih mengedepankan pemakaian nalar berbasis pembelajaran atas masa lalunya. Sang ayah dan sang petani, meski terkesan sama-sama berusaha menghindari pengalaman penderitaan dari diri “yang lain”; galibnya adalah melakukan penghindaran atas penderitaan diri “sendiri”. Bahwa keduanya mengangkat fakta tentang penderitaan diri “yang lain”, hal ini lebih menjadi ornamentalisasi dan penjudulan yang memungkinkan keduanya memperoleh landasan pembenaran tindakan.

Sebaliknya, tokoh yang sedang dalam keterpurukan, Bernasdus pada cerita pertama dan sapi tua pada cerita kedua, keduanya adalah pemantik akal untuk memahami ikhwal spiritualitas. Sejauh saya pahami dari tulisan-tulisan Anthony de Mello, spiritualitas adalah “a journey without distance”, di mana Anda menempuh perjalanan dari titik keberangkatan you are right now menuju titik tujuan you have always been yang memungkinkan Anda bertransformasi dari sikap batin mengabaikan ke “tahu-tahu sudah tahu”. Spiritualitas adalah sebuah kesadaran tentang proses menjadi, a matter of becoming what you already are.

Keinginan Bernasdus mendapatkan uang receh dengan nilai ekonomi jauh jauh lebih rendah dibandingkan vas bunga atau kepasrahan seekor sapi ke dalam gerak refleks tatkala berada di tengah kepanikan; keduanya dapat menjadi evidensi tentang lumpuhnya nalar di satu sisi, dan tegaknya akal, di sisi lain. Akal (budi) di tengah situasi dilematik adalah lahan subur bagi pertumbuhan spiritualitas. Situasi dilematik ala William Shakespeare (1564-1616) dalam Hamlet (1602) tetap aktual hingga detik ini: “To be, or not to be, that is the question: whether ’tis nobler in the mind to suffer the slings and arrows of outrageous fortune; or to take arms against a sea of troubles, and by opposing end them?”

Di tengah kesulitan, termasuk kesulitan menggunakan nalar, tinggal dua saja senjata kita: kreativitas dan nilai moral, yang selalu berlawanan dengan hasrat memapankan dan merasionalisasikan masa lalu. José Ortega y Gasset (1883-1955) dalam The Revolt of the Masses (1930), mengingatkan kita tentang dua hal ini. Ia menulis: “…those who make great demands on themselves, piling up difficulties and duties; and those who demand nothing special of themselves, but for whom to live is to be every moment what they already are, without imposing on themselves any effort towards perfection; mere buoys that float on the waves.” Saya kembalikan ke para pembaca untuk memutuskan, sejauh mana, dan pada saat mana, Anda mau memakai nalar saja atau mencari akal.***

*) Edy Suhardono, adalah Executive Director pada IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Email: iisa@visiwaskita.com. Artikel ini dimuat di Majalah Motivasi LuarBiasa, Edisi April 2009.

Telah di baca sebanyak: 1456
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *