Kolom Bersama

[Bukan Partai] Golkar

Oleh: Riyanto Suwito

Tulisan ini tidak bermaksud melakukan provokasi ataupun semacam gerakan oposisi terhadap partai politik yang bernama partai golkar atau golongan karya. Tulisan ini muncul juga (justru) di saat partai tersebut tengah mengalami keterpurukan yang cukup parah sebagai sebuah organisasi politik senior. Tentu bukan juga bermaksud untuk mendiskreditkan dan memojokkan yang bersangkutan.

Hal ini sebenarnya lebih didorong oleh berbagai kondisi dan keprihatinan yang terjadi dan tengah melanda bangsa Indonesia. Pertama, ada keprihatinan akan dampak krisis global yang akan menyebabkan banyak pengangguran baru – bahkan hal ini sudah terjadi di beberapa sektor industri dan di beberapa tempat di Indonesia. Ironisnya, di sisi yang lain ada banyak korporasi, industri, UKM ataupun pelaku bisnis perorangan kesulitan mencari tenaga kerja yang (sesuai) dengan keinginannya. Bahasa gampangnya, banyak orang menganggur – tetapi banyak orang kerepotan mengurus pekerjaannya.

Kedua, adanya ancaman krisis ekonomi global tidak membuat orang bersiap-siap untuk menghadapinya jika benar-benar terjadi. Bahkan terkesan masyarakat ini lebih sibuk mencari kambing hitam (atau gulai kambing hitam?) untuk merasa nyaman akibat dari berbagai kondisi yang terasa semakin menyesakkan. Ditambah lagi dengan berbagai persoalan lingkungan, sosial dan politik yang cukup semrawut (crowded).

Dari dua keprihatinan diatas, saya mengajak – khususnya bagi diri sendiri untuk keluar dari berbagai kesemrawutan (getting out of the crowd) tersebut untuk mencari suasana yang lebih nyaman dan tentunya lebih produktif. Nah, disinilah relevansi dari Golongan Karya (golkar) tetapi bukan merujuk pada Partai Golkar (PG). Ini adalah semacam gerakan baru untuk mendorong sebanyak mungkin manusia Indonesia untuk menjadi manusia karya – yaitu manusia yang memiliki motivasi tinggi untuk berkarya dan menghasilkan sesuatu.

Melalui sebuah media atau organisasi yang bersifat cair atau informal, gerakan ini dibangun untuk bisa saling berbagi dan memotivasi anak bangsa untuk berkarya sesuai minat dan bakatnya. Serta tentu saja untuk mengambangkan diri sebagai manusia Indonesia seutuhnya. Hal ini bisa saja dilakukan melalui sebuah forum on-line, media sosial dan lain-lain yang saat ini sangat banyak jumlahnya dan terjangkau oleh semakin banyak orang.

Karya adalah padanan kata dari kerja – sehingga golongan karya adalah kelompok atau golongan yang bekerja untuk menghasilkan sesuatu. Selama kata karya ini lebih diidentikkan dengan hasil kerja yang bersifat intelek dan bernilai tinggi. Misalnya, karya seni, karya tulis, karya ilmiah, dan sebagainya. Sehingga orang kebanyakan tidak banyak yang merasa perlu (atau terpanggil) untuk berkarya – tetapi lebih terpanggil untuk bekerja. Ini tidaklah salah – selama ada pemahaman yang sama – bahwa kerja ataupun pekerjaan adalah sebuah media untuk menghasilkan sesuatu atau berkarya.

Mungkin hal ini sulit untuk dipahami oleh para pembaca, tetapi bagaimana jika saya contohkan hal sebagai berikut: setiap lulusan perguruan tinggi, sekolah menengah ataupun lembaga lain yang dimaksudkan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang pada saatnya nanti akan berkarya nyata di masyarkat dengan bekal yang dimilikinya. Saat ini, bahkan sejak bertahun-tahun yang lalu selalu menjawab pertanyaan kemana mereka setelah menyelesaikan studi dengan kata-kata yang sudah tidak asing, yaitu ingin menjadi pegawai atau PNS (Pegawai Negri Sipil) – meski ada juga beberapa yang lain seperti lulusan sekolah profesi – semisal dokter, pengacara dan lain-lain.

Apakah hal tersebut merupakan kesalahan? Atau dosa? Tentu tidak sepenuhnya benar – tapi juga tidak sepenuhnya keliru. Tetapi disini kita tidak akan menyalahkan lembaga pendidikan – karena selama ini sudah banyak orang atau pihak yang menggugat keberadaannya. Lantas apa yang bias kita lakukan dengan kondisi semacam ini? Pemerintah sudah proaktif dengan mengembangkan perbagi program untuk pengembangan sumber daya manusia – bukan berarti tidak percaya dengan lembaga pendidikan formal – tetapi tentu saja lebih dimaksudkan utnuk meng-update software lulusan-lulusan sekolah yang selama ini dianggap sebagai “pengangguran” – meskipun jika ditanyakan pada yang bersangkutan, belum tentu mereka merasa seperti itu. Tetapi pada akhirnya hasilnya belumlah seperti harapan semua pihak, terlepas dari berbagai masalah dalam pelaksanaannya.

Kembali pada ide pokok diatas, kita harus keluar dari kondisi ini dengan menjadi seseorang atau sekelompok orang yang berkarya dan bercita-cita untuk menghasilkan suatu karya yang bermanfaat bagi kehidupan. Asumsinya, jika kita bercita-cita untuk berkarya maka pekerjaan, tugas ataupun bidang pekerjaan pilihan adalah merupakan media atau alat saja – bukan sebuah tujuan. Jadi jika ada orang ingin menjadi PNS, maka itu seharusnya berarti dia ingin berkarya nyata untuk melayani masyarakat dengan perantaraan/media pekerjaan sebagai pegawai. Jika ada orang yang ingin menghasilkan (karya) berupa anak-anak yang terdidik dengan baik – bisa saja guru merupakan media yang bisa dipilih, tetapi bisa juga menjadi penjual buku, penulis atau apa saja yang akan mendukung hasil tersebut.

Ini tampaknya klise sekali, tetapi masih jarang orang berpikir serius untuk mengatasinya alih-alih justru menyalahkan orang lain, lingkungan, pemerintah, orang tua, anak dan sebagainya. Saya jadi ingat, bapak Tanri Abeng – Menteri Negara BUMN era Gus Dur pernah bercerita bahwa salah satu kunci suksesnya adalah melakukan psikotest sejak SMP (Sekolah Menengah Pertama).

Dari hasil psikotes itulah beliau melanjutkan studi dan karirnya hingga berhasil. Artinya beliau telah menelusuri minat dan bakatnya semenjak dini dan menjadikannya sebagai dasar pengembangan dirinya untuk mempersiapkan diri sebagai manusia yang siap berkarya bagi bangsa dan negara. Dan tentu saja orang semacam itu siap bekerja untuk mencapai hasil karya sesuai cita-citanya. Bukan hanya bercita-cita untuk bekerja (setelah selesai sekolah) dan meyalahkan lingkungan atau Negara yang tidak menyediakan pekerjaan yang cukup.

Mudah-mudahan ini bisa menggugah moral kita sebagai bangsa yang (cukup) terpuruk dalam pergaulan dunia saat ini. Dan harapannya persoalan-persolan internal seperti pengangguran, produktifitas yang rendah bisa segera terselesaikan dan kita akan bersama-sama menuju kemakmuran tanpa harus terjebak dalam perdebatan ideology negara harus liberalisme atau kerakyatan, sosialis atau yang lainnya.

(Riyanto B. Suwito – entrepreneur, dosen, trainer dan penggiat pemberdayaan masyarakat. Saat ini aktif di PKPEK-Yogyakarta. Bisa dihubungi melalui hp: 081 227 12426, email:riyantosuwito@gmail.com atau berkunjung ke blog di: http://riyantosuwito.wordpress.com)

Telah di baca sebanyak: 1108
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *