Andrias Harefa

CARA BAHAGIA


Saya dan istri menyaksikan wajah keduanya sumringah. Mereka menyapa semua orang dengan ramah. Hari itu adalah hari yang berbahagia. Lebih dari seribu lima ratus tamu datang untuk memberikan selamat. Ada berbagai rombongan yang datang dari luar kota, khusus untuk acara kali ini. Dari Bandung, Pekalongan, Semarang, Solo, dan entah dari mana lagi. Mereka menyewa bis khusus. Minggu siang di pertengahan bulan Juli itu, tempat parkir Balai Sudirman di wilayah Tebet, Jakarta Selatan, penuh. Petugas parkir nampak sibuk mengatur kendaraan yang datang.

Satu per satu tamu yang hadir menyalami mereka bergantian. Sebagian minta foto bersama. Sebagian lainnya mempersembahkan lagu-lagu nostalgia. Suasana nampak meriah. Ruangan penuh sesak karena tak semua tamu kebagian meja dan tempat duduk. Namun semua yang hadir menunjukkan ekspresi gembira. Suara tawa penuh canda terdengar dimana-mana. Makanan yang dihidangkan ludes tak berbekas, ketika tetamu mulai berpamitan. Sungguh sebuah pesta yang semarak.
Yang paling unik dari pesta tersebut adalah usia para tamu. Sebagian besar berusia di atas 60 tahun. Umumnya mereka anggota WULAN, perkumpulan nirlaba Warga Usia LANjut. Memang, yang mengadakan pesta adalah salah satu pendirinya, Januar dan Indira Darmawan. Itu sebabnya tetamu yang hadir umumnya berusia lanjut. Mereka adalah kawan-kawan lama yang sudah saling mengenal berpuluh tahun. Hubungan yang baik dalam rentang waktu yang panjang menunjukkan bahwa pasangan ini disukai handai taulannya.

Sudah jelas bahwa ini bukan pesta pernikahan. Tuan dan nyonya rumah hadir lengkap dengan kedua anak, menantu, dan para cucu. Yang perempuam semuanya berbaju warna kuning keemasan, sesuai tema pesta. Mereka mengadakan pesta syukur. Berbagi suka cita menyambut 50 tahun hidup bersama sebagai suami-istri. Meski mampu menikmati kemapanan sebagai kelas atas, pasangan ini justru memilih gaya hidup sangat sederhana. Walau keduanya juga menyandang gelar akademis tingkat doktoral dalam disiplin ilmu yang berbeda, mereka sungguh menampilkan kerendahan hati yang tulus. Tak ada hal yang nampak berlebihan. Semua terasa wajar, namun berkualitas. Dan yang juga mengundang decak kagum adalah kesehatan mereka yang relatif masih prima di usia menjelang 80 tahun.

Mungkin karena pasangan yang merayakan ulang tahun emas perkawinan ini adalah orang terdidik, maka sovenir yang diberikan kepada para tamu adalah dua buku. Buku yang satu, diterbitkan Gramedia Pustaka Utama dengan tajuk Profit and Beyond, berkisah tentang kiprah mereka dalam dunia bisnis, melakukan upaya developing ethical business leaders. Buku yang kedua, yang diterbitkan khusus untuk acara ini dengan judul 50 Tahun Bersama, berisi pandangan-pandangan pribadi keduanya tentang perkawinan, keluarga, bisnis, persahabatan, dan lain-lain. Keduanya hampir sama tebal, mendekati 300 halaman.

Di bagian pengantar buku 50 Tahun Bersama ada tertulis: “Bagi kami berdua, pernikahan merupakan wujud kerelaan hati dua pribadi yang berbeda untuk bersatu dan saling mengerti, bukan saling memaksa dan malah berusaha mengubah diri. Bagi kami berdua, pernikahan merupakan kehidupan baru untuk dua pribadi yang harus dijalani dengan hati yang selalu bergembira. Dalam kesusahan dan kesedihan yang kerap terasa pun, perasaan bahagia bisa diundang selalu ada, jika terus disyukuri bersama. Bagi kami berdua, pernikahan merupakan kolaborasi dua pikiran dan dua tenaga yang secara kompak harus dapat memberi dampak yang baik, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi lingkungan sosial, masyarakat luas, dan bahkan negeri ini. Bagi kami berdua, pernikahan merupakan kesepakatan dua orang teman hidup yang akan saling menemani memasuki usia lanjut dengan tetap mampu untuk mandiri, terhormat, dan bermakna”. Wow!

Tentang cara memperoleh kebahagiaan, mereka mengatakan, “Kesenangan hidup yang sebenarnya hanya dapat diperoleh ketika Anda bisa membahagiakan orang lain. Makin banyak yang dibahagiakan, makin banyak kesenangan dan kebahagiaan yang justru kembali kepada kita. Maka satu-satunya cara untuk memperoleh kesenangan dan kebahagiaan yang abadi adalah ketika Anda mampu membuat orang lain puas dengan dirinya sendiri. Itulah yang disebut sebagai contentment di dalam hidup kita”.

Menyaksikan dari dekat kehidupan Januar dan Indira Darmawan, yang merupakan kakak kandung dan ipar dari politikus dan ekonom senior Kwik Kian Gie, saya teringat sebuah buku karya John Powel yang bertajuk Happiness Is An Inside Job.
Dalam buku tersebut Powel menuturkan bahwa kata “bahagia” dan “kebahagiaan” diambil dari kata latin beatus dan beatitude yang berarti tantangan dan perolehan, yakni menjanjikan memberikan (secara tak langsung) kebahagiaan sejati kepada orang yang menyambut tantangan dan selangkah demi selangkah memperoleh sesuatu, mencapai sesuatu, atau menyelesaikan sesuatu.
Powel juga memaparkan Sepuluh Laku Hidup Bahagia sebagai berikut:
• Menerima diri apa adanya
• Menerima sepenuhnya tanggung jawab atas hidup kita
• Berusaha memenuhi segala kebutuhan kita untuk bersantai, berolah raga, dan makan
• Hidup kita harus kita jadikan wujud cinta kasih
• Kita harus menghirup udara baru dengan keluar dari kungkungan kemapanan yang nyaman
• Kita harus belajar menjadi “penemu jalan baik”
• Kita harus mengupayakan pertumbuhan, bukan kesempurnaan
• Kita harus belajar berkomunikasi secara efektif
• Kita harus belajar bersuka cita atas hal-hal baik dalam hidup
• Kita harus berdoa sebagai bagian dari hidup kita sehari-hari.

Yang paling menarik dari Powel adalah pernyataannya bahwa kodrat hidup manusia adalah hidup bahagia. Dengan kata lain, segala upaya untuk hidup bahagia adalah upaya memenuhi “panggilan kodrati” sebagai manusia ciptaan Tuhan.

Saya sungguh bersyukur diundang dalam pesta emas 50 tahun perkawinan Januar dan Indira Darmawan. Pesta itu sungguh menginspirasi. Ketika sebagian orang masih membicarakan kebahagiaan dalam konsep dan menjadi makelar-makelar kebahagiaan, saya menemukan contohnya yang nyata. Mereka mengajarkan bahwa kebahagiaan justru hanya bisa diperoleh dengan cara memberikannya kepada orang lain. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa diburu, dikejar, dan diraih seperti kita berburu harta dan karier. Ia bukan sesuatu yang bisa diperebutkan dengan persaingan sikut menyikut. Ia bisa diperoleh dengan cara diberi. Cara mendapatkan kebahagiaan adalah dengan memberikannya kepada orang lain. Sungguh luar biasa. Berilah, maka kamu akan mendapat.
Salam proaktif.

*)ANDRIAS HAREFA, WTS adalah writer: 38 Best-selling Books; Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun, Pendiri www.pembelajar.com; Twitter @aharefa atau @andriasharefa


Telah di baca sebanyak: 2013
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *