Kolom Alumni

Cara Cerdas Melakukan Penyimpangan

Oleh: Supandi

“Pak …” sapa seseorang kepada saya di ruang guru. Spontan saya menoleh ke asal suara panggilan tersebut.
“Anda memanggil saya” jawab saya.
“Iya pak. Bapak masih ingat saya? Tanyanya.

Sambil menjabat tangannya, saya perhatikan wajah si tamu tersebut. Sekilas nampak asing. Tetapi setelah saya perhatikan dengan saksama wajahnya, seketika saya teringat dan yakin bahwa saya pernah melihatnya beberapa tahun yang silam.

Dari pengakuannya, benar bahwa dia adalah salah seorang siswa saya sepuluh tahun yang lalu. Obrolan panjangpun terjadi di antara kami. Ada kebanggaan yang saya rasakan setelah dia menceritakan tentang kesuksesannya. Hidup saya terasa bermakna setelah saya mengetahui bahwa dia sekarang sudah menjadi seorang pejabat teras di Departemen Luar Negeri. Seorang siswa yang ketika masa sekolahnya nampak biasa-biasa saja, kini telah menjadi seorang pejabat yang sukses.

Dari obrolannya saya juga bisa menikmati alur pembicaraan yang begitu mengalir, padat, dan bermakna. Seakan saya sedang ngobrol dengan orang yang jauh di atas saya tingkat intelektualitasnya. Hampir-hampir tidak menyadari bahwa dia adalah murid saya. Berwibawa, banyak pengalamannya, rapi, dan bersih. Sungguh tidak disangka bahwa seorang anak yang pada saat menjadi siswa termasuk anak yang pendiam ternyata menyimpan sebuah misteri. Diam-diam menghanyutkan, karena ada visi pribadi didalam pikirannya.

Kesempatan ngobrol yang cukup lama, terasa sangat singkat. Yang demikian itu dapat Anda rasakan jika Anda berkesempatan ngobrol dengan orang-orang sukses, orang-orang bijak, ataupun para intelek.
Ada satu konsep tentang kesuksesan yang bisa saya ambil dari prinsip hidup yang diaplikasikan dalam langkah hidup dia selama ini. Konsep tersebut dikemas dalam sebuah slogan yang sarat dengan makna. Bunyi slogan tersebut berbunyi “be the unique” (Jadilah orang yang berbeda). Menjadi orang yang berbeda merupakan sebuah urgensi. Mengapa demikian? Karena sebagian besar orang berpikir apa adanya. Artinya mereka menjalankan kehidupan ini sebagaimana adanya, bebas dari tirani prinsip, visi, dan misi yang jelas.

Orang dengan tipe apa adanya memiliki konsekuensi mudah hanyut ke dalam konformitas. Konformitas adalah perilaku seseorang yang cenderung sama atau seragam dengan perilaku kelompoknya. Ketika sebagian anggota kelompok memiliki kebiasaan berperilaku positif, maka akan sangat bermanfaat bagi seseorang. Dalam skala yang luas, konformitas saya maknai sebagai bentuk komunitas manusia dengan jangkauan wilayah yang tidak terbatas. Dari beberapa survey yang dilakukan oleh para pakar menunjukkan bahwa sebagian besar orang berpikir dan bersikap seadanya. No action think only.

Perbedaan individual dalam konformitas dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu kelompok non conformist dan kelompok conformist. Kelompok non conformist dalam mensikapi fenomena yang berlaku dalam kelompoknya lebih independent. Sedangkan kelompok conformist menerima norma yang berlaku di kelompoknya apa adanya. Mereka memiliki need for affiliation yang besar.

Seseorang dengan tipe conformist memiliki keengganan untuk menghindar dari konformitas. Mereka takut jika harus membelot dari kelompoknya. Dengan entengnya mereka masuk kedalam dan mengekor perilaku yang dilakukan oleh orang-orang yang ada didalam, tidak peduli apakah itu perilaku positif atau perilaku negatif. Alasannya cukup sederhana, yaitu khawatir jika dia dianggap melakukan penyimpangan dari kebiasaan yang sudah ada.

Menjadi the unique (berbeda dengan orang lain) merupakan sesuatu yang urgen. Dengan menjadi orang yang memiliki tipe the unique, maka Anda akan memiliki visi pribadi yang handal. Sikap ini merupakan cara yang cerdas untuk melakukan penyimpangan dari konformitas ketika mereka membiasakan diri dengan perilaku yang kontradiktif dengan suara hati dan panggilan jiwa.

Sebagai penutup, saya mohon maaf kepada Anda, pembaca yang budiman, atas ilustrasi yang saya gambarkan diatas tentang murid saya, karena cerita tentang murid saya diatas semata-mata hanya obsesi saya belaka. Obsesi untuk memiliki murid yang memliki paradigma the unique. Murid yang memiliki cakrawala pandang berbeda dengan sebagian besar teman-temannya. Ketika teman-temannya belum memiliki konsep diri yang jelas, dia mampu tampil dengan visi pribadi yang terarah. Dia mampu mengumpulkan energi positif, tekun menghadapi kesulitan, dan tampil sebagai pribadi yang berprestasi. Dia mampu membangun konsep masa depan yang jelas.

*) Supandi, Alumni Writer Schoolen “Menulis Buku Best-Seller” angkatan 16. Dapat dihubungi langsung di supandi_mm@yahoo.com

Telah di baca sebanyak: 3867
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *