training motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaNews Feedtraining motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaComments Subscribe to training motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaSitemap

Masa Depan Anak dalam ‘Mindset’ Orang Tua

Oleh : Supandi, s.pd. Mm

“Sikap hidup seseorang sangat dipengaruhi oleh prinsip hidup yang dianutnya”

Masih melekat di dalam pikiran saya sebuah keyakinan yang begitu hebat yang pernah dilontarkan oleh ibu saya empat puluhan tahun yang lalu. Sebuah keyakinan yang mengobarkan energi positif terhadap diri beliau yang kemudian saya rekam dalam pikiran bawah sadar saya sebagai salah satu warisan yang sangat berharga, sekaligus sebagai ilmu dari sekolah kehidupan.

Salah satu nasihat yang mengandung makna dan keyakinan yang sangat dalam yang pernah beliau sampaikan kepada kami kurang lebihnya berbunyi demikian, “Pokoke kowe kabeh kudu pada sekolah. Senajan wong tuamu wong sing ora duwe, tapi Gusti Allah sugih. Aku yakin kowe kabeh bisa sekolah. Aku ora kepengin anak-anakku ngemben pada sengsara uripe”. Yang artinya, pokoknya kamu semua harus tetap sekolah. Walaupun orang tuamu orang yang tidak punya, tetapi Allah SWT Maha Kaya sehingga saya yakin kalian semua bisa sekolah. Saya tidak ingin anak-anakku hidup sengsara.

Tentunya bentuk keyakinan di atas beliau lontarkan tidak didorong oleh sekadar komitmen tanpa dasar. Ada semacam emosi positif yang membakar tekad di dalam dirinya. Tekad yang terhimpun di dalam pikiran super (super mind) melalui sebuah proses perpaduan antara beberapa unsur kepentingan; seperti rasa kasih sayang kepada anak, rasa ingin membahagiakan anak, dan keinginan agar anak-anaknya hidup sukses. Unsur-unsur kepentingan tersebut kemudian bereaksi dengan nilai-nilai spiritual sehingga tersimpul dalam sebuah keyakinan.

Keyakinan merupakan keadaan pikiran yang bisa dirangsang atau diciptakan oleh perintah peneguhan secara terus menerus sampai meresap ke dalam pikiran bawah sadar. Keyakinan adalah sebuah keadaan pikiran yang bisa dikembangkan sesuai dengan kemauan kita, melalui cara pengulangan perintah kepada pikiran bawah sadar dengan segenap perasaan emosi positif, sehingga pikiran bawah sadar akan menerimanya, dan digunakan sebagai landasan tindakan untuk menjadikannya sebuah kenyataan (Wuryanano: 2004).

Keyakinan akan memberikan kehidupan, kekuatan, dan tindakan kepada impuls pemikiran kita. Keyakinan akan memberikan kekuatan untuk mengubah getaran pemikiran biasa, dari pikiran manusia yang serba terbatas menjadi suatu padanan spiritual yang bersifat tanpa batas.

Pemikiran spiritual tanpa batas muncul ketika terjadi dominasi suara Tuhan yang melekat di hati seseorang. Adapun suara Tuhan dihasilkan dari hasil meditasi melalui pengamalan-pengamalan yang berkaitan dengan proses pendekatan diri kepadaNya. Proses yang mengarah kepada upaya pendekatan diri kepada Tuhan itulah yang akan membentuk keyakinan seseorang. Pada gilirannya keyakinan tersebut akan berjalan sinergis dengan prinsip hidup.

Contoh yang saya ilustrasikan tentang keyakinan dan prinsip hidup ibu saya di atas merupakan salah satu dari sekian banyak prinsip hidup dan keyakinan yang dimiliki oleh orang-orang pada umumnya, termasuk mungkin diri Anda.

Ada satu sisi yang sangat penting Anda sikapi dalam memegang teguh prinsip hidup Anda yaitu visi hidup yang didasarkan atas prinsip-prinsip kebenaran. Dengan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient) yang Anda miliki, Anda harus bisa menentukan prinsip hidup yang sesuai dengan fitrah manusia; yaitu fitrah kebenaran, fitrah yang didukung penuh oleh ridlo Tuhan yang bisa membawa diri dan keluarga menuju ke arah kebahagiaan hakiki, serta memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Prinsip hidup semacam ini harus menjadi pijakan dasar untuk menentukan kebijakan dalam menentukan sikap hidup.

Prinsip hidup yang bersumber dari sesuatu yang tidak fitrah umumnya akan berakhir dengan kegagalan—baik kegagalan lahiriah maupun kegagalan batiniah. Dunia telah membuktikan bahwa prinsip hidup yang bertentangan dengan suara hati, terbukti hanya mengakibatkan kesengsaraan atau bahkan kehancuran. Terlebih di jaman modern sekarang ini. The power of visi hidup, prinsip hidup, dan sikap hidup yang didasarkan pada nilai spiritual harus benar-benar dipegang teguh demi untuk mencapai tujuan hidup jangka panjang.

Mengarahkan masa depan anak merupakan salah satu bentuk pencapaian tujuan jangka panjang. Bagaimana bentuk masa depan anak di masa yang akan datang sangat dipengaruhi oleh visi, prinsip, dan sikap hidup orang tuanya. Orang tua harus jeli dalam menyeting masa depan anak. Hindari cara-cara yang dewasa ini sering menjangkiti kehidupan manusia-manusia modern yaitu adanya kecenderungan manusia tertarik kepada hal-hal yang serba instan. Ingin memeroleh kekayaan dengan cepat, ingin meraih popularitas dengan cepat, meraih kekuasaan dengan mudah dan cepat, dan lain sebagainya.

Apabila konsep ini diperkenalkan dan dipertontonkan kepada anak dalam usahanya meraih masa depan, maka akan berakibat pada pembentukan pribadi yang rapuh. Mereka akan hidup tanpa digerakkan oleh visi hidup yang agung yang berorientasi pada nilai-nilai spiritual bagi kehidupan yang jauh ke depan. Mereka bagaikan akan mengarungi lautan luas tetapi tidak mengenal ke mana seharusnya perahu diarahkan. Mereka nantinya tidak memiliki daya atau powerless dalam bekerja dan tidak memiliki semangat juang yang tinggi dalam berusaha.

Fenomena di atas tentu pada saatnya nanti akan menjadi sebuah realita yang tidak kita harapkan. Semua orang tua sudah barang tentu mendambakan anak-anaknya tumbuh menjadi manusia yang tangguh, sholeh/sholehah, memiliki prinsip-prinsip kebenaran yang kokoh, serta sukses dunia akhirat. Jalan menuju masa depan atau cita-cita anak terbuka lebar. Walaupun kerapkali terhalang oleh tembok yang begitu kuat, namun dengan keyakinan dan langkah pasti tembok-tembok tersebut akan bisa kita lewati.[sup]

* Supandi, S.Pd. MM di Cilacap, 10 Agustus 1965. Alumnus Universitas Alamat Muhammadiyah, Purworejo 2002 (S-1) dan Magister Manajemen Unsoed, Purwokerto 2007 (S-2) mengajar sebagai guru di SMP Negeri 2 Binangun. Pemilik moto hidup “Lakukan perubahan!” ini tinggal di Puri Mujur 163, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Ia sendiri sudah memiliki minat dan kegemaran menulis sejak masih SMP. Saat ini, Supandi sedang menyusun sebuah buku motivasi. Ia dapat dihubungi melalui telepon: 0282-494921, Hp: 081391274742, atau pos-el: supandi_mm[at]yahoo[dot]com.

Telah di baca sebanyak: 53

Bahan Bakar Pekerjaan Anda


Oleh: Andrew Abdi Setiawan

Apa yang membuat seseorang rela bekerja dalam situasi yang sulit, penuh risiko, bahkan terkadang tidak menguntungkan bagi dirinya? Apa yang membuat seseorang tahan banting ketika harus menghadapi tantangan pekerjaan yang maha berat? Itu bukan lagi soal bakat, itu bukan lagi soal talenta, tapi soal gairah! Gairah lebih penting dibandingkan suatu program atau agenda pekerjaan. Gairah menciptakan dan memelihara api semangat untuk bekerja. Dengan kata lain, gairah adalah bahan bakar pekerjaan Anda, dan saya pula!

Apa itu gairah? Apakah gairah adalah keinginan? Masih belum pas! Gairah adalah keinginan yang AMAT BESAR! Izinkan saya menggambarkannya sebagai berikut: Satu kali seorang pemuda yang sombong datang kepada filsuf Socrates. Dengan wajah menyeringai ia berkata, “Socrates yang mulia, aku datang kepadamu untuk mendapatkan pengetahuan.”

Karena melihat kesombongannya, Socrates menuntunnya ke dalam air laut setinggi pinggang. Ia bertanya, “Katakan sekali lagi, apa yang kamu inginkan?”

“Pengetahuan,” jawab pemuda itu.

Ia lalu mencengkram pemuda tadi dan menenggelamkannya selama 30 detik. “Apa yang engkau inginkan?” tanya Socrates.

“Pengetahuan!” jawab pemuda itu sambil terbatuk-batuk.

Socrates kembali menenggelamkannya, kali ini lebih lama. Sewaktu pemuda tersebut muncul di atas air, Socrates bertanya, “Apa yang kamu inginkan?”

“Pengetahuan,” kata pemuda itu sambil menarik napas sebelum ia ditenggelamkan lagi.

Untuk terakhir kalinya, Socrates kembali menenggelamkannya dan lebih lama lagi waktunya. “Apa yang kamu inginkan?” Socrates bertanya saat pemuda itu muncul di atas air lagi.

Dengan batuk-batuk dan megap-megap, ia menjawab, “Udara . . . udara! Aku membutuhkan udara!”

Lantas Socrates berkata kepadanya, “Jika kamu menginginkan pengetahuan seperti kamu membutuhkan udara, maka kamu akan mendapatkan pengetahuan itu.”

Gairah adalah keinginan yang AMAT BESAR sebesar kebutuhan kita untuk menghirup udara setiap saatnya.

Seorang penulis dan editor, Norman Cousins, berkata, “Kematian bukanlah kerugian terbesar dalam hidup. Kerugian terbesar adalah apa yang mati dalam diri kita sementara kita masih hidup.” Tanpa gairah, maka pekerjaan kita akan bersifat rutinitas dan ritualitas. Amat membosankan! Tanpa gairah, maka pekerjaan kita akan mati terlebih dahulu sebelum kita mati. Amat ironis!

Bagaimana caranya membangkitkan dan memelihara gairah dalam bekerja? Renungkan ini, masalah apakah yang ada di tempat usaha/kantor yang paling membuat Anda prihatin? Apa dampaknya bila masalah tersebut dibiarkan terus-menerus? Kemudian, bayangkan dan rasakan bila Anda bisa menjadi salah satu alat yang dipakai Tuhan untuk menjawab masalah tersebut. Be available untuk membawa solusinya. Yang terakhir, senantiasalah bergaul dengan rekan-rekan yang memiliki keprihatinan yang sama. Mengapa? Sederhana, yaitu agar gairah bekerja Anda, khusus dalam menyelesaikan suatu masalah tetap terpelihara. Selamat bergairah![aas]

* Andrew Abdi Setiawan, seorang rohaniwan di kota Surakarta. Ia sedang menggeluti pelayanannya sebagai seorang WTC—writer, trainer/teacher, counselor. Tulisan “Mitos-mitos Hidup Lajang” tadi merupakan salah satu cuplikan dari sebuah buku saku yang segera diterbitkan oleh Penerbit Kanisius dalam waktu dekat. Selain itu, lewat Penerbit Kanisius, ia sudah menerbitkan buku tentang spiritualitas Kristen dalam Lebat tetapi Tak Berbuah. Untuk berhubungan lebih lanjut, silakan kirim pos-el ke: becomingwtc[at]gmail[dot]com.


Telah di baca sebanyak: 35

Menjalani Peran sebagai Ibu Rumah Tangga sebagai Pilihan Hidup



Seorang mahasiswi yang telah menyelesaikan studinya dan menikah, sempat curhat via fasilitas chatting di situs jejaring sosial facebook. Ia mengeluh karena capek-capek menjalani kuliah dan menyelesaikan S1-nya tetapi menjadi percuma dan sia-sia belaka. Karena ia hanya menjadi seorang ibu rumah tangga saja. Baginya seakan-akan ilmu dan pengetahuan yang telah susah payah diraihnya selama lebih kurang 4 tahun menjadi sia-sia. Perasaannya memuncak seolah-olah dunia seperti mau kiamat.

Banyak di antara kita dibesarkan dalam sebuah keluarga tradisional ala pedesaan di tengah pola kehidupan yang agraris. Hidup normal di antara keluarga inti yang terdiri dari seorang ayah, ibu, dan anak-anak sebagai anggota keluarga. Seorang ayah bekerja dengan pergi ke kantor, sedangkan yang lainnya ke sawah, atau ke pasar, atau tempat lainnya dalam mencari nafkah. Sedangkan ibunya mengurusi rumah dan segala atributnya—mulai dari menyiapkan makanan, merapihkan rumah, membayar tagihan-tagihan, dan seabrek kegiatan domestik lainnya.

Tata keluarga yang demikian memungkinkan terjadinya bias gender karena menganggap bahwa yang berhak keluar rumah untuk sekadar mengaktualisasikan diri adalah pria. Sedangkan wanita dunianya adalah hanya sekitar dapur, sumur, dan maaf kasur.

Mind set yang demikian masih mendarah daging dalam sebagian pemikiran orang-orang yang hidup di alam modern ini. Walaupun jaman telah meng-global, tetapi ada saja yang mengkungkung diri dengan pemikiran tersebut.

Seiring dengan perkembangan kehidupan, tingkat melek huruf dan lama bersekolah penduduk berjenis kelamin perempuan semakin meningkat. Dunia kerja tidak lagi didominasi oleh pria. Bahkan dalam pekerjaan yang cenderung secara tradisional merupakan wilayah laki-laki telah terjamah oleh pelaku yang berjenis kelamin perempuan, seperti supir, dll.

Laki-Laki Penanggung Jawab Pencari Nafkah

Secara normal dan didukung oleh banyak doktrin keagamaan sebenarnya laki-laki-lah yang memiliki tanggung jawab dalam mencari nafkah untuk bekal melangsungkan kehidupan sebuah keluarga.

Untuk itu beberapa keluarga memprioritaskan anak laki-laki dalam mendapatkan kesempatan meraih pendidikan terbaik guna menyiapkan diri mereka menjadi calon kepala rumah tangga. Dari sinilah wacana pengarusutamaan gender (gender mainstreaming) mendapatkan tempat dalam pembahasaannya.

Seandainya toh ada wanita yang bekerja maka bukan merupakan tanggung jawabnya dalam mencari nafkah. Tetapi hanya sebagai tambahan penghasilan bagi keluarganya karena didukung oleh pihak laki-laki atau sang suami. Walaupun tidak dipungkiri banyak yang penghasilannya lebih besar wanita dari pada laki-laki karena berbagai hal, seperti ruang lingkup pekerjaannya, latar belakang pendidikan dan pengalaman, dan banyak hal lainnya. Hal ini biasanya kalau tidak dikelola secara fair dalam hubungan antara suami isteri akan menjadi kerikil dalam hubungan harmonis antara mereka. Hal tersebut mengakibatkan banyak pasangan yang sebelumnya sama-sama bekerja akan memutuskan untuk salah satu saja yang bekerja. Dan hampir dipastikan yang terkalahkan adalah pihak si isteri. Hal ini bisa terjadi karena adanya kekhawatiran dominasi laki-laki menjadi runtuh. Penghormatan terhadap kepala rumah tangga terancam gara-gara wanita berpenghasilan mandiri.

Menjadi Wanita Pekerja

Wanita boleh bekerja menjalani aktifitas sehari-hari di luar rumah sesuai dengan perjanjian dengan sang suami. Pada dasarnya apabila suami tidak mengijinkan, beberapa doktrin keagamaan cenderung melarangnya apabila wanita tetap melakukannya ia dianggap tidak menghormati keputusan suaminya. Bila diijinkan ada baiknya wanita tetap pada koridor, bahwa pencari nafkah utama adalah pria, sedangkan ia hanya sebagai tambahan. Sehinggan sang suami tidak merasa direndahkan eksistensinya.

Konsekuensi dari seorang ibu bekerja adalah meninggalkan anak dalam waktu yang lumayan lama. Anak lalu diasuh oleh seorang baby sitter atau pembantu rumah tangga. Kalau seorang wanita menjadi guru masih lumayan, banyak waktu tersisa yang dapat dijalaninya dengan si buah hati. Bagaimana dengan para wanita pekerja kantoran yang berangkat pagi dan pulang ke rumah menjelang malam?

Pada dasarnya saya sepakat dengan wanita yang memilih untuk tetap bekerja di luar rumah setelah menikah. Bahkan saya cenderung mewajibkan para wanita itu dapat bekerja. Hal ini dikarenakan bila sang suami sudah tiada, maka ia akan mengandalkan siapa lagi dalam mendapatkan penghasilan yang memadai untuk melangsungkan kehidupannya? Tunjangan pensiun yang tidak seberapa itu? Belas kasih dari keluarga besar? Uluran tangan dari negara? Boro-boro, iya enggak?[]

Menjadi Ibu Rumah Tangga sebagai Pilihan Hidup

Life is all about choice. Hidup itu bicara tentang pilihan. Menjadi ibu rumah tangga bisa menjadi semacam pilihan tanpa paksaan bagi sebagian besar wanita dalam sebuah keluarga. Ia—sebagaimana digambarkan oleh sebuah iklan televisi—adalah ahli akuntansi terbaik dalam sebuah keluarga. Seorang ibu dapat menjadi guru les bagi anak-anaknya yang dapat mengalahkan guru formal yang sudah terkategori profesional sekalipun. Ia adalah koki terbaik yang pernah ada. Ia adalah house keeper andalan yang setia dengan pekerjaannya. Ia adalah ojek terbaik dalam antar jemput anak sekolah, hehe…

Kehidupan yang rutin itu di mana saja dan kapan saja tetap mempunyai potensi yang dapat membuat kondisi seseorang mengalami kebosanan. Termasuk menjadi ibu rumah tangga, dimana kehidupannya yang dihadapi itu-itu saja sepanjang hidupnya. Apabila mau diuangkan (baca: dihargai secara professional) sebenarnya ibu rumah tangga adalah profesi tak ternilai penghargaannya. Agar tidak menjadi bosan/jenuh seorang ibu rumah tangga bisa mengaktualisasikan dirinya dalam banyak hal. Dunia arisan, dunia majelis taklim, dan dunia sosial lainnya sebenarnya memungkinkan kehidupan seorang ibu rumah tangga dapat lebih berwarna. Bahkan dapat melebihi warna pelangi terindah yang pernah ada dalam sejarah umat manusia. Untuk itu bersiap-siaplah ia keluar dari zona kenyamanan (comfort zone).

Banyak aktifitas yang dapat dijalani, baik profit maupun non-profit. Ia dapat menjadi penulis freelance. Ia juga dapat menjalani peran sebagai guru les bagi anak-anak tetangga kanan-kiri yang kurang mampu secara ekonomi secara gratis atau free of charge. Waktu luangnya bisa dimanfaatkan dengan mendesain buku-buku cerita. Ia juga bisa menuliskan pengalaman hidupnya sebagaimana pernah dikatakan oleh penulis novel laris JK Rowling. Tulislah apa yang Anda ketahui, ucapkan, lakukan, dan rasakan.

Lagian perasaan tersisih, perasaan melihat orang lain lebih bahagia dari dirinya adalah karena cuma saling memandang. Dalam istilah bahasa Jawa disebut sebagai sawang sinawang. Siapa bilang menjadi ibu rumah tangga itu kampungan? Siapa bilang menjadi ibu rumah tangga kurang berpengalaman? Siapa bilang menjadi wanita sebagai pekerja kantoran itu berarti hebat? Jaminan menjadi langsung kaya raya? Ya, coba kita wawancarai atau survei sebagian dari teman atau tetangga yang menjalani aktifitas seperti itu. Apakah ia dapat menjamin bahwa dirinya bahagia? Bukankah kebahagiaan itu bersifat abstrak? Bukankah kebahagiaan itu bicara soal hati? Soal bagaimana seni dalam memberikan sebagian dari yang kita miliki untuk orang lain? Karena bagaimana pun kebahagiaan itu ada dan tanpa syarat. Karena kebahagiaan itu pilihan. Termasuk menjalani peran menjadi ibu rumah tangga. Bukankah begitu kawan? Wallahu a’lam[tan]

* Tanenji adalah seorang Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan beberapa perguruan tinggi swasta di Bogor, Depok, dan Jakarta-Timur, dapat dihubungi melaui email: tanenji@yahoo.com atau ponsel 0812 876 3133. Beberapa artikel lepasnya tentang secuil dinamika kehidupan dapat diakses di www.andaluarbiasa.com/tag/tanenji.


Telah di baca sebanyak: 27

Membayar Pajak Itu Mudah. Kalau Bisa Dipermudah Mengapa Dipersulit?

“I am proud to be paying taxes in the United States. The only thing is – I could be just as proud for half the money.” — Arthur Godfrey, entertainer

Beban pajak adalah sesuatu yang wajib harus dibayar oleh masyarakat wajib pajak sesuai dengan penghasilan yang diterima atau diperoleh pada periode atau masa tertentu. Apakah sebagai pekerja, jasa profesional dan sebagai entrepreneur, maka atas income yang diperoleh terutang pajak.

Pertanyaannya ke mana dan bagaimana caranya untuk mudah membayar pajak?

Direktorat Jenderal Pajak selaku institusi yang diberi mandat oleh pemerintah untuk memungut pajak sudah memberikan ruang dan instrumen seluas-luasnya kepada masyarakat untuk membayar pajak. Loket-loket di bank persepsi, bank devisa, dan kantor pos sudah tersedia untuk menerima pembayaran pajak dari masyarakat. Akan tetapi keluhan umum adalah bahwa membayar pajak tidak mudah termasuk antri loket, mengisi formulir yang ribet, serta kode jenis pajak yang tidak mudah dipahami oleh kalangan awam.

Misalnya pengusaha yang memiliki pekerjaan bebas dan penghasilan dari business income yang melakukan usaha di bidang perdagangan eceran yang mempunyai tempat usaha (outlet) lebih dari satu dan berbeda alamat serta domisili, sudah diatur untuk menyisihkan sebagian sebesar 0,75 % dari omset setiap bulan untuk dibayar sebagai angsuran pajak di muka ke kas Negara melalui bank persepsi yang ditunjuk oleh pemerintah. Hanya saja, bagi wajib pajak harus meluangkan waktu atau menyuruh pegawai atau orang lain untuk antri di loket. Keluhan umum adalah jam buka loket yang terbatas sampai jam 11 pagi setiap hari kerja dan hanya dilayanai oleh satu loket setiap hari.

Perlu dipikirkan oleh pemerintah supaya masyarakat bisa membayar pajak setiap waktu 24 jam tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Bahkan saat liburan atau sedang santai berolahraga dan kongkow bisa melakukan pembayaran pajak melalui internet banking. Tetapi dibutuhkan investasi sistem dan teknologi informasi dan pelatihan SDM yang mumpuni agar masyarakat dipermudah untuk membayar pajak.

Tugas pemerintahlah untuk menginvestasikan sebagian dana yang telah diterima dari masyarakat untuk dialokasikan membangun infrastruktur yang dapat memudahkan masyarakat untuk membayar pajak. Sehingga hasil pajak dapat dirasakan secara langsung bagi kemudahan masyarakat untuk membayar pajak.

Jangan ada muncul adagium yang umum mengenai pelayanan birokrasi yang sudah lumrah, yaitu kalau bisa dipersulit mengapa harus dipermudah? Harus dikembalikan alur pikiran dari perlakuan aparat pajak terhadap masyarakat wajib pajak untuk posisi yang setara. Tanpa kontribusi nyata pembayaran pajak yang dilakukan oleh Wajib Pajak, maka fungsi dan tugas pemerintah dalam pengelolaan pajak yang diemban oleh Direktorat Jenderal Pajak tidak berjalan dengan sukses.

Supaya masyarakat tidak enggan melaksanakan kewajiban perpajakannya, maka pemerintah perlu melakukan terobosan dalam pengembangan sistem dan prosedur yang dapat mempermudah pembayaran pajak. Semisal dan semudah orang membayar listrik, telpon, dan beban rutin melalui ATM tanpa dibatasi ruang dan batas waktu. Tidak seperti sekarang ini masih dibatasi jumlah outlet perbankan dan kantor pos serta jangka waktu.

Seandainya wajib pajak diberikan kebebasan penuh untuk membayar pajak seiring dengan filosofis self assessment yang dianut oleh pemerintah dalam paradigma pemungutan pajak, niscaya penerimaan pajak akan semakin bertumbuh sejalan dengan peningkatan jumlah masyarakat yang telah memiliki NPWP yang konon sudah menembus angka 16 juta per Agustus 2009.

Okelah, tidak semua pemilik NPWP telah memiliki penghasilan yang sudah mencapai batas ambang treshold untuk dikenakan pajak, yaitu sebesar Rp 15.840.000,- pertahun. Tetapi mengingat potensi aktivitas bisnis baik yang telah memiliki wadah usaha maupun yang masih undercover atau underground economy sangat potensial sebagai sumber penerimaan pajak.

Perlu dipikirkan bentuk kerjasama yang saling menguntungkan antara bank persepsi penerima setoran pajak dari masyarakat dan pemerintah selaku pengemban amanah yang menerima pajak. Sehingga kalangan perbankan tidak setengah hati dalam menjalankan pola yang menampung dana pajak yang sangat besar dan bisa mencapai target 1.000 triliun rupiah di tahun 2015. Dengan mengendapkan beberapa saat saja dana pajak tersebut di rekening penampungan perbankan maka sudah menjadi alternatif pendanaan jangka pendek bagi perbankan.

Tentu saja alternatif lainya seperti memberikan fee based income bagi mereka bisa menjadi cara untuk dapat mengakomodasikan kepentingan bersama. Pada hakekatnya institusi perbankan yang telah diatur sedemikian rupa untuk menerima setoran pajak dari masyarakat juga bertindak selaku badan usaha yang mempunyai tanggungjawab kepada pemilik. Tanpa ada imbalan atau manfaat yang diterima maka kemudahan yang ingin dinikmati masyarakat pembayar pajak masih dalam batas impian belaka.

Bila perlu masyarakat diberi akses sebebas-bebasnya dengan memiliki rekening khusus bagi tempat penampungan pembayaran pajak dan di online selama 24 jam, sehingga ada motto pembayaran pajak “kapan saja di mana saja” dapat dilaksanakan dengan berhasil. Kemudahan pembayaran pajak juga akan mendapat apresiasi dari masyarakat yang merasakan adanya peningkatan kualitas pelayanan dari pemerintah cq. Direktur Jenderal Pajak dan jajarannya.

Dibutuhkan terobosan yang cepat dan jitu untuk memberikan best service kepada wajib pajak selaku pemegang kuasa yang telah memberikan kepercayaan kepada Ditjen Pajak untuk mengelola pajak yang dibayarkan untuk kemakmuran bersama. Jadi tidak ada kesan bahwa pembayaran pajak masih dimonopoli oleh kalangan berpunya yang dianggap sebagai warga kelas atas yang merasa telah membayar pajak dalam jumlah besar walaupun masih dipertanyakan apakah sudah memenuhi ketentuan.

Seandainya masyarakat memiliki akses dan kemudahan untuk membayar pajak maka yakinlah penerimaan Negara dari sektor pajak akan dapat menjadi tumpuan bagi kelangsungan kehidupan kenegaraan kita. Tidak boleh ada kesan yang muncul “kok membayar pajak aja susah”. Apakah adagium ini akan terus berlangsung di tengah kondisi perekonomian yang serba tidak pasti ini?

Di samping aspek kemudahan membayar pajak maka seyogyanya kepada masyarakat yang jujur dan setia serta tepat waktu membayar pajak layak diberikan apresiasi. Karena berkat pajak yang disetor ke kas Negara maka roda pemerintahan termasuk pembelanjaan birokrasi juga berlangsung dengan lancar. Sudah saatnya perlakuan kepada wajib pajak layaknya sebagai loyalty customer sebagaimana diterapkan oleh perusahaan jasa terhadap pelanggannya. Sehingga minat dan kesediaan untuk membayar pajak semakin meningkat dan dijauhkan dari rasa keengganan baik disengaja atau tidak. Kalau masyarakat mogok membayar pajak, apa yang terjadi dengan roda pemerintahan? Akan terjadi kekacauan birokrasi dan pelayanan serta dapat mengganggu integritas sebagai bangsa yang mandiri.

Dengan pajak dapat meningkatkan kemandirian dalam pembiayaan APBN supaya mengurangi ketergantungan kepada pembelanjaan defisit yang selama ini diterapkan seperti berutang ke asing dan domestik, penjualan BUMN yang tidak selamanya dapat dijalankan.

Marilah wahai masyarakat pembayar pajak selalu memberikan respon yang membangun supaya Anda juga diberi kemudahan dalam membayar pajak. Segera lunasi pajak Anda tetapi bagaimana untuk mengawasi penggunaannya masih merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk menetapkan mekanisme yang dapat diakses oleh masyarakat. Dengan mengetahui alur pengunaan pajak yang dipungut dari masyarakat bisa menjadi penyemangat untuk mendorong agar wajib pajak mau dan tepat waktu membayar pajak.

*)

Telah di baca sebanyak: 57

Rasa Syukur


Pernahkah Anda merasa keterpurukan dalam hidup dan kehidupan yang teramat sangat? Pernahkah Anda merasa keberuntungan teramat jauh dari jangkauan impian Anda? Pernahkah Anda merasa gagal menaklukkan kehidupan ini? Pernahkan Anda merasa orang lain lebih beruntung daripada Anda? Pernahkah Anda merasa puluhan tahun berkutat di perantauan, bekerja sepenuh hati pergi pagi pulang petang dan berpenghasilan tetap pas-pasan? Bukan pas-pasan dalam kamus seloroh, yakni uangnya pas untuk beli rumah, pas beli mobil, pasti untuk biaya hidup mewah 7 turunan.

Pernahkan anda merasakan bahwa selama ini banting tulang tetapi hanya dapat merasakan RS-7 (rumah sederhana sempit sehingga selonjor saja susah sekali)? Pernahkah Anda merasakan iri hati melihat kolega yang sepertinya baru kemarin sore meniti karir langsung kehidupannya cemerlang tanpa beban? Gonta-ganti mobil semudah makan bakso? Padahal Anda bertahun-tahun setia dengan pekerjaan hanya dapat menaiki sepeda moror roda dua, butut pula? Yang memungkinkan kepanasan dari terik matahari dan kehujanan setiap saat?

Pernahkah Anda merasa motivasi anda berada di titik nadir? Pernahkah Anda merasa sia-sia apa yang Anda geluti selama ini? Pernahkan Anda merasa penghasilan Anda tidak pernah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari? Gajian tanggal 25, tanggal 2 dapat uang tanggal 5 habis? Sudah bosankah Anda berhutang ke sana kemari gali lubang tutup lubang?

Yang Anda perlukan sebenarnya cuma meningkatkan rasa syukur bahwa Anda telah diberikan kehidupan oleh Tuhan yang maha segalanya. Tengoklah apakah Anda memang satu-satunya orang yang paling sengsara dalam kehidupan ini? Ups! Tidak. Ternyata penilaian Anda keliru besar. Nyatanya banyak orang yang lebih sengsara daripada Anda. Lihatlah Anda dengan kesehatan yang prima! Seluruh anggota tubuh lengkap sempurna. Maukah Anda menjual kornea mata dengan harga Rp 1 milyar? Oh tidak! Anda akan bersikeras mempertahankan karunia itu.

Kalau Anda merasa tidak beruntung dalam kehidupan ini, pernahkah Anda mengoptimalkan dream mapping Anda? Pernahkah Anda mengubah mind-set dan paradigma terhadap seluru persoalan kehidupan?

Anda bilang bahwa anda pergi pagi pulang petang? Apakah Anda telah menggunakan rumusan bekerja keras, cerdas, dan ikhlas? Wah, ternyata Anda hanya mengandalkan rasionalitas belaka. Anda hanya bekerja keras, tetapi tidak cerdas. Anda tidak menggunakan efisiensi dan efektifitas dalam bekerja. Anda juga belum ikhlas, bekerja tanpa pamrih. Anda hanya bekerja untuk uang. Padahal rumusan manapun menafikan kalau seseorang hanya bekerja untuk uang. Ingat rumus Robert T. Kiyosaki, uanglah yang mesti bekerja untuk Anda. Satu lagi, dalam pekerjaan ada niat. Apakah niat Anda sudah benar? Apakah Anda niatkan pekerjaan Anda untuk beribadah kepada-Nya?

Ketika merasa iri terhadap kemewahan kolega Anda maka sebenarnya penyakit hati telah menyelimuti kehidupan Anda. Iri diperbolehkan untuk persoalan ilmu dan ibadah seseorang.

*) Tanenji, Dosen dan Sekretaris Laboratorium Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Alumni Writer Schoolen “Menulis Buku Best-Seller” ini dapat dihubungi langsung di tanenji@yahoo.com


Telah di baca sebanyak: 38

Cara Cerdas Melakukan Penyimpangan

Oleh: Supandi

“Pak …” sapa seseorang kepada saya di ruang guru. Spontan saya menoleh ke asal suara panggilan tersebut.
“Anda memanggil saya” jawab saya.
“Iya pak. Bapak masih ingat saya? Tanyanya.

Sambil menjabat tangannya, saya perhatikan wajah si tamu tersebut. Sekilas nampak asing. Tetapi setelah saya perhatikan dengan saksama wajahnya, seketika saya teringat dan yakin bahwa saya pernah melihatnya beberapa tahun yang silam.

Dari pengakuannya, benar bahwa dia adalah salah seorang siswa saya sepuluh tahun yang lalu. Obrolan panjangpun terjadi di antara kami. Ada kebanggaan yang saya rasakan setelah dia menceritakan tentang kesuksesannya. Hidup saya terasa bermakna setelah saya mengetahui bahwa dia sekarang sudah menjadi seorang pejabat teras di Departemen Luar Negeri. Seorang siswa yang ketika masa sekolahnya nampak biasa-biasa saja, kini telah menjadi seorang pejabat yang sukses.

Dari obrolannya saya juga bisa menikmati alur pembicaraan yang begitu mengalir, padat, dan bermakna. Seakan saya sedang ngobrol dengan orang yang jauh di atas saya tingkat intelektualitasnya. Hampir-hampir tidak menyadari bahwa dia adalah murid saya. Berwibawa, banyak pengalamannya, rapi, dan bersih. Sungguh tidak disangka bahwa seorang anak yang pada saat menjadi siswa termasuk anak yang pendiam ternyata menyimpan sebuah misteri. Diam-diam menghanyutkan, karena ada visi pribadi didalam pikirannya.

Kesempatan ngobrol yang cukup lama, terasa sangat singkat. Yang demikian itu dapat Anda rasakan jika Anda berkesempatan ngobrol dengan orang-orang sukses, orang-orang bijak, ataupun para intelek.
Ada satu konsep tentang kesuksesan yang bisa saya ambil dari prinsip hidup yang diaplikasikan dalam langkah hidup dia selama ini. Konsep tersebut dikemas dalam sebuah slogan yang sarat dengan makna. Bunyi slogan tersebut berbunyi “be the unique” (Jadilah orang yang berbeda). Menjadi orang yang berbeda merupakan sebuah urgensi. Mengapa demikian? Karena sebagian besar orang berpikir apa adanya. Artinya mereka menjalankan kehidupan ini sebagaimana adanya, bebas dari tirani prinsip, visi, dan misi yang jelas.

Orang dengan tipe apa adanya memiliki konsekuensi mudah hanyut ke dalam konformitas. Konformitas adalah perilaku seseorang yang cenderung sama atau seragam dengan perilaku kelompoknya. Ketika sebagian anggota kelompok memiliki kebiasaan berperilaku positif, maka akan sangat bermanfaat bagi seseorang. Dalam skala yang luas, konformitas saya maknai sebagai bentuk komunitas manusia dengan jangkauan wilayah yang tidak terbatas. Dari beberapa survey yang dilakukan oleh para pakar menunjukkan bahwa sebagian besar orang berpikir dan bersikap seadanya. No action think only.

Perbedaan individual dalam konformitas dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu kelompok non conformist dan kelompok conformist. Kelompok non conformist dalam mensikapi fenomena yang berlaku dalam kelompoknya lebih independent. Sedangkan kelompok conformist menerima norma yang berlaku di kelompoknya apa adanya. Mereka memiliki need for affiliation yang besar.

Seseorang dengan tipe conformist memiliki keengganan untuk menghindar dari konformitas. Mereka takut jika harus membelot dari kelompoknya. Dengan entengnya mereka masuk kedalam dan mengekor perilaku yang dilakukan oleh orang-orang yang ada didalam, tidak peduli apakah itu perilaku positif atau perilaku negatif. Alasannya cukup sederhana, yaitu khawatir jika dia dianggap melakukan penyimpangan dari kebiasaan yang sudah ada.

Menjadi the unique (berbeda dengan orang lain) merupakan sesuatu yang urgen. Dengan menjadi orang yang memiliki tipe the unique, maka Anda akan memiliki visi pribadi yang handal. Sikap ini merupakan cara yang cerdas untuk melakukan penyimpangan dari konformitas ketika mereka membiasakan diri dengan perilaku yang kontradiktif dengan suara hati dan panggilan jiwa.

Sebagai penutup, saya mohon maaf kepada Anda, pembaca yang budiman, atas ilustrasi yang saya gambarkan diatas tentang murid saya, karena cerita tentang murid saya diatas semata-mata hanya obsesi saya belaka. Obsesi untuk memiliki murid yang memliki paradigma the unique. Murid yang memiliki cakrawala pandang berbeda dengan sebagian besar teman-temannya. Ketika teman-temannya belum memiliki konsep diri yang jelas, dia mampu tampil dengan visi pribadi yang terarah. Dia mampu mengumpulkan energi positif, tekun menghadapi kesulitan, dan tampil sebagai pribadi yang berprestasi. Dia mampu membangun konsep masa depan yang jelas.

*) Supandi, Alumni Writer Schoolen “Menulis Buku Best-Seller” angkatan 16. Dapat dihubungi langsung di supandi_mm@yahoo.com

Telah di baca sebanyak: 47

Cerita dari Selembar Brosur Tua

Oleh: Anita Hia

Cerita ini bermula dari selembar brosur lusuh yang saya temukan di kamar mama. Sore itu, saya baru pulang kerja. Seperti biasa, setelah meletakkan tas kerja dan barang-barang bawaan, saya langsung menuju kamar mandi untuk mencuci kaki dan tangan, kemudian menuju kamar mama untuk menyapa mama yang terbaring di ranjang. Sekadar informasi, sudah tiga tahun terakhir ini mama tidak dapat berjalan. Walaupun tidak dapat berjalan, beliau masih bisa merangkak di lantai untuk keluar dari kamarnya menuju ruang keluarga sekadar untuk menonton TV atau berbaring sejenak di sofa hitam favorit keluarga. Tapi tiga bulan terakhir kondisinya semakin parah, sehingga mama hanya bisa berbaring di tempat tidur.

Saya masuk ke kamar mama dan menyapa mama dengan ciuman. Mama membuka matanya sejenak, kemudian kembali terpejam. Ketika saya menanyakan kabarnya, beliau hanya bergumam tidak jelas sambil mengeluh capek. Saya pun duduk di pinggir ranjang mama. Melihat mama yang kelelahan, saya hanya bisa terdiam tanpa dapat melakukan apapun. Tiba-tiba mama minta dikipasi. Karena tidak ada kipas, saya menyambar selembar kertas lusuh yang tergeletak di atas ranjang mama. Saya menggunakan kertas itu untuk mengipasi mama. Tidak lama, mama tertidur. Tanpa sadar perhatian saya tertuju pada brosur tersebut.

Ternyata brosur berwarna hitam dan memuat beberapa foto orang yang sudah sangat renta itu berisi puisi dalam bahasa Mandarin di sebelah kiri dan di sebelah kanannya adalah terjemahan dalam bahasa Indonesia. Puisi itu berjudul DI SAAT DAKU TUA

Berikut kutipan puisinya:

DI SAAT DAKU TUA
Di saat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu,
maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.

Di saat daku menumpahkan kuah sayuran di bajuku, di saat daku tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu,
Ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya.

Di saat saya dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankanmu,
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku,
Di masa kecilmu, daku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah saya ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.

Di saat saya membutuhkanmu untuk memandikanku,
Janganlah menyalahkanku. Ingatlah di masa kecilmu, bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi?

Di saat saya kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern,
Janganlah menertawaiku. Renungkan bagaimana daku dengan sabarnya menjawab setiap “mengapa” yang engkau ajukan di saat itu.

Di saat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan,
Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku. Bagaikan di masa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.

Di saat daku melupakan topik pembicaraan kita,
Berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya. Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku, asalkan engkau berada di sisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.

Di saat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih.
Maklumilah diriku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu di saat engkau mulai belajar tentang kehidupan.

Dulu daku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini, kini temanilah daku hingga akhir jalan hidupku, berilah daku cinta kasih dan kesabaranmu, Daku akan menerimanya dengan senyuman penuh syukur, di dalam senyumku ini, tertanam kasihku yang tak terhingga bagimu.


Sejenak, saya terpekur menatapi lembar brosur tua tersebut, kemudian saya membaca kembali sambil mencari nama penulis puisi tersebut. Tapi saya tidak dapat menemukan nama penulisnya. Yang saya temukan adalah tulisan “tidak diperjual-belikan”.

Membaca kalimat tidak diperjual-belikan, saya yakin, tujuan penulisan dan penyebaran brosur itu pasti untuk amal atau sekadar untuk mengingatkan siapa saja yang membacanya, agar jangan menyia-nyiakan orang tua yang telah melahirkan, merawat, dan mendidiknya hingga besar dan menjadi individu yang mandiri.

Jika saja saya menemukan brosur itu di saat yang berbeda, mungkin brosur itu tidak akan terlalu menyita perhatian saya. Mungkin saya akan merasa sedikit bersimpati dan merasa bahwa itu adalah sebuah puisi yang bagus. That’s it. Hanya itu. Tapi karena saya membaca puisi itu di hadapan mama yang tergeletak tak berdaya di atas tempat tidur, di mana setiap kebutuhan mama selalu tergantung pada orang yang ada di sampingnya, mulai dari makan, duduk, membalikkan badan, apalagi membersihkan diri sendiri, semua harus dibantu oleh orang lain, maka efek puisi itu begitu besar terhadap saya. Saya sampai menitikkan air mata ketika membaca puisi tersebut. Saya merasa inilah saatnya bagi saya untuk membalas semua budi baik yang telah mama lakukan pada saat saya masih kecil. Sanggupkah saya membalas semua budi mama pada saya?

Yang pasti brosur lusuh itu telah membuka pikiran saya. Saya masih punya kesempatan yang begitu besar untuk membalas kebaikan yang telah mama berikan. Walau tidak sanggup membalas semuanya, paling tidak saya mencoba melakukan semaksimal mungkin yang saya bisa. Jadi, betapa bersyukurnya saya yang masih tinggal serumah dengan mama, karena itu berarti saya punya kesempatan yang begitu besar untuk melayaninya, seperti dulu beliau melayani saya.

Saya ingat beberapa tahun yang lalu, waktu itu ayah mertua saya dirawat di rumah sakit. Kebetulan yang menjaganya adalah ibu mertua. Kecuali pada hari sabtu dan minggu, suami saya akan menggantikan ibunya menjaga ayahnya.

Entah karena memang sudah waktunya atau apa, pada saat itu, ayah mertua saya agak rewel, sehingga membuat suami saya kesal. Setiap beberapa menit suami saya menelpon dan dengan kesal mengeluhkan ayahnya yang rewel, tidak mau makan, dan tidak mau minum obat. Pada saat itu, saya hanya mengingatkan dia untuk sabar menghadapi ayahnya. Karena ayahnya sudah dirawat begitu lama di rumah sakit, wajar jika dia agak kesal dan capek.

Dua hari berselang, tepatnya pada hari selasa pagi, pada saat kami semua akan pergi kerja, ibu mertua mengabarkan ayah sedang kritis, dan beberapa jam kemudian, ayah mertua meninggal dunia. Mendengar ayah mertua meninggal, saya hanya termenung. Tetapi suami saya sangat terpukul dan berulang kali menyesali ketidaksabarannya menghadapi ayahnya pada detik-detik terakhirnya.
Akhirnya yang tersisa hanya penyesalan yang selalu datang terlambat. Suami saya selalu berpikir seandainya pada saat itu dia punya sedikit saja kesabaran, pasti dia akan menanggapi kerewelan ayahnya dengan cara yang lain. Tapi apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur. Kita tidak mungkin dapat memutarbalikkan waktu untuk memberi kita kesempatan yang sama.

Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa air tidak mungkin mengalir ke atas. Air senantiasa mengalir ke bawah. Arti peribahasa itu adalah bahwa kasih sayang orang tua kepada anak adalah sesuatu yang wajar, yang memang sudah kodratnya. Kasih sayang orang tua kepada anak itu tiada batasnya. ”Bagai sang surya menyinari dunia”, begitu seorang penulis lagu menggambarkan kasih sayang orang tua kepada kita. Tidak ada batas ruang dan waktu, begitu abadi dan tanpa syarat. Sedangkan kasih sayang anak kepada orang tua itu sangat terbatas. Bahkan, ada anak yang menghitung untung-ruginya dengan orang tua. Sehari-hari, kita juga sering menemukan, entah di media cetak atau elektronik, berita mengenai anak yang melakukan perbuatan-perbuatan tak terpuji terhadap orang tuanya.

Betapa bersyukurnya saya, punya kesempatan yang begitu besar untuk membalas jasa mama. Walau hanya sekadar meluangkan sedikit waktu yang tersisa. Semua itu akan sangat terasa karena mama pernah berkata pada saya bahwa waktunya yang tersisa sudah tidak banyak. Dan mama juga pernah mengatakan, “janganlah selalu memberi saya uang, karena saya sudah tidak dapat lagi menggunakannya, tetapi berilah saya sedikit dari waktu kalian untuk mengobrol dengan saya.” Mendengar kata-kata mama tersebut mengingatkan saya akan betapa pendeknya waktu saya yang tersisa untuk mama, karena sebagian besar waktu yang saya memiliki saya gunakan untuk bekerja. Kalau dipikir-pikir, saya masih memiliki waktu yang begitu panjang untuk bekerja, lalu kenapa saya selalu terlalu sibuk untuk sejenak berhenti dan mendengarkan, menghibur dan bernostalgia bersama mama?

*) Anita Hia, alumni Menulis Buku Best-Seller. Dapat dihubungi langsung di anita.hia@gmail.com

Telah di baca sebanyak: 46

Menangani Keluhan Pelanggan

Artikel ini membahas prosedur umum untuk menangani keluhan pelanggan di perusahaan besar atau kecil, manufaktur atau jasa, sektor swasta atau pemerintah. Ini merupakan sebuah pendekatan bagaimana memperlakukan keluhan pelanggan secara konnsisten di sebuah perusahaan untuk memastikan bahwa keluhan itu ditangani dengan efektif untuk keuntungan pelanggan dan perusahaan.

Definisi
Keluhan adalah satu pernyataan atau ungkapan rasa kurang puas terhadap satu produk atau layanan, baik secara lisan maupun tertulis, dari pelanggan internal maupun eksternal.

Manfaat Prosedur Penanganan Keluhan
• Tersedia prosedur yang jelas ketika terjadi keluhan
• Menciptakan pemahaman dan keyakinan cara menangani keluhan
• Membantu mengatasi rasa “bersalah” secara pribadi bagi orang yang menangani keluhan
• Menerima keluhan sebagai umpan-balik yang berharga, bukan sebagai kritik
• Menghasilkan catatan yang dapat digunakan untuk menganalisa kemungkinan peningkatan layanan

Langkah yang Diperlukan
1. Bentuk pendekatan umum untuk penanganan keluhan
Ini memerlukan persetujuan dari semua pihak terkait di perusahaan, dari staff hingga pimpinan perusahaan. Pastikan bahwa semua orang di perusahaan mempunyai pandangan yang sama terhadap pelanggan. Ini harus tertanam ke dalam budaya perusahaan dan terutama menjadi tanggung jawab managemen senior.

Ingat! Ketika pelanggan mengadukan keluhan, harapan mereka:
• Ada yang melayani keluhannya
• Didengar dan dipercaya
• Diperlakukan dengan adil dan efisien
• Terus diberitahu kemajuan penanganan masalah
• Diberikan kompensasi bila perlu

2. Sediakan form standar untuk keluhan
Ini merupakan alat bantu berharga yang berisi informasi berikut ini:
Rincian tanda terima
• Tanggal diterima
• Diterima oleh
• Divisi/dept

Rincian pelanggan
• Nama, alamat
• Telepon, fax, nomor HP, emai

Rincian tindakan
• Tanggal selesai
• Sign-off
• Penanggung jawab

3. Pastikan keluhan dianalisa dengan benar
Pada saat menerima keluhan, penerima harus melihatnya sebagai kesempatan kedua untuk memuaskan
pelanggan. Staff penerima harus:
• Bersikap sopan dan berempati pada pelanggan
• Memastikan semua rincian keluhan telah dicatat dalam form keluhan
• Yakin bahwa informasi yang dicatat adalah factual
• Tidak mengakui kewajiban atau kesalahan pada tahap ini

Penerima keluhan, bila perlu bersama manager-nya, harus memutuskan apakah ini merupakan keluhan besar atau kecil berdasarkan temuan informasi yang tepat, dan analisa fakta yang ada. Keluhan kecil dapat disebabkan oleh salah tafsir, kesalahpahaman, kesalahan rincian informasi, atau kecerobohan kecil. Keluhan besar dapat meliputi pelanggaran hukum pidana, hal-hal yang berakibat buruk pada kesehatan dan keselamatan, atau masalah keuangan.

4. Membangun kepemilikan dan tanggung jawab
Staf harus diberdayakan untuk mengambil tindakan yang tepat jika keluhan telah diakui kebenarannya
dengan jelas, berada dalam wilayah tanggung jawabnya, dan dapat segera diselesaikan. Jika keluhan tidak dapat diselesaikan oleh penerima, rincian pelanggan dan keluhannya harus dicatat dalam form yang telah tersedia untuk itu, dan segera mengirimkannya ke bagian atau tingkat tanggung jawab yang relevan.

Pelanggan harus diberi tahu siapa yang berhubungan dengan keluhannya dan jawaban akan diberikan secepat mungkin dalam batas waktu tertentu. Sangat menjengkelkan bila pelanggan harus berhubungan dengan organisasi yang tidak jelas tanggungjawabnya, atau di ping-pong dari satu orang ke orang lainnya.

5. Menentukan prosedur eskalasi
Bila keluhan merupakan masalah besar, manager harus memutuskan tindakan yang tepat, dan hal ini dapat meliputi:
• Berkonsultasi dengan otoritas yang lebih tinggi
• Membuat laporan kejadian secara rinci
• Menghubungi pengacara perusahaan
• Menghubungi polisi

6. Penyelesaian keluhan
Tindakan tepat untuk penyelesaian keluhan akan menjadi jelas setelah tingkat keseriusan dipahami dengan baik, dan analisa fakta dilakukan dengan benar. Penyelesaian masalah bukanlah waktu untuk negosiasi atau barter dengan pelanggan yang memiliki keluhan asli, bukan mengada-ada atau mencari kompensasi. Jika ada keterlambatan dalam menyelesaikan keluhan, pelanggan harus dihubungi secara berkala dengan interval waktu yang disetujui bersama.

7. Pastikan form keluhan pelanggan ditandatangani
Ketika masalah telah diatasi untuk kepuasan pelanggan, penerima atau superior harus menandatangani form keluhan pelanggan dan menyatakan masalah selesai untuk analisa kecenderungan keluhan selanjutnya. Bisa jadi tidak ada penyelesaian yang memuaskan, bila pelanggan menuntut sesuatu yang “tidak masuk akal” atau “di luar” batas ketentuan perusahaan. Bila ini terjadi, mungkin perlu untuk:
• Beritahu pelanggan bahwa apa yang diinginkannya diluar kemampuan perusahaan
• Pastikan langkah apa yang dapat diambil selanjutnya
• Dan nyatakan bahwa hal ini akan dilaporkan ke managemen senior

8. Putuskan tindakan korektif internal
Setelah berurusan dengan keluhan, putuskan apakah sistem, peralatan atau peningkatan kemampuan personil membutuhan penanggulangan. Uruslah keperluan perbaikan proses internal atau pelatihan sesegera mungkin setelah ada keluhan.

9. Bangun evaluasi kepuasan pelanggan
Setelah selang waktu yang tepat, misalnya dua minggu, hubungi kembali pelanggan untuk memastikan bahwa keluhannya telah diselesaikan dengan memuaskan – dan untuk memastikan bahwa mereka masih menjadi pelanggan yang loyal.

10. Analisa keluhan secara periodik
Semua form keluhan harus disimpan oleh orang yang ditugaskan untuk itu, seorang manager harus bertanggungjawab untuk memantau sifat dan tingkat keluhan secara teratur. Hasil analisa ini, dan rincian tiap tindakan korektif, harus dilaporkan ke managemen senior secara teratur.

Hal-hal yang Perlu Dikalkukan dan yang Tidak Boleh Dilakukan
Perlu dilakukan:
• Membuat “layanan pelanggan” sebagai bagian dari budaya perusahaan
• Berdayakan staff untuk menangani keluhan
• Jaga hubungan dengan pelanggan untuk memastikan bahwa keluhan mereka ditangani dengan memuaskan
• Analisa pola keluhan dan ambil tindakan perbaikan. Terima dan perlakukan keluhan secara positif
Kesopanan, cepat tanggap dan sentuhan pribadi sangat penting. Pelanggan yang mengeluh dan mendapatkan ketiga hal tersebut biasanya akan tampil sebagai pelanggan yang lebih puas dari sebelumnya. Dan mereka akan bercerita kepada orang lain.

Tidak boleh dilakukan
• Menyalahkan pelanggan
• Mengatakan “ini bukan bagian saya”
• Menerima keluhan secara “pribadi” atau membela diri
• Menggunakan pekerjaan administratif untuk menolak memberikan tanggapan yang cepat terhadap
keluhan

Sikap seenaknya, lamban, dan tidak memperlakukan pelanggan secara pribadi akan membuat anda kehilangan bukan hanya pelanggan yang bersangkutan, tetapi juga banyak pelanggan yang lainnya – berita buruk akan menyebar dengan cepat.

*)Virja Dharma Gita; Trainer and Business Coach “Target Sales Academy”. Email:targetsa@yahoo.com

Telah di baca sebanyak: 106

Cerita Pagi dari Bangku Sekolah

Dari jaman sekolah doeloe rasanya senang sekali apabila Bapak atau Ibu guru kita mengumumkan bahwa ada kegiatan rapat dewan guru sehingga para siswa diminta belajar di rumah masing-masing. Teriakan hore secara koor bergema di ruang kelas tanpa komando. Budaya itu diyakini masih ada dan berlaku sampai sekarang pada level atau jenjang pendidikan manapun dan di mana pun.

Bahkan saya sendiri menjelang akhir pekan rasanya kok plong bangets ya? Apa karena akan terbebas dari rutinitas tugas? Hehehe… Sebuah seloroh pernah saya ungkapkan kepada para mahasiswa bahwa sesekali mahasiswa membuat pengumuman yang berbunyi demikian “Sehubungan para siswa/mahasiswa mau rapat, para guru/dosen dipersilakan mengajar di rumahnya masing-masing. Wkwkwkwk…”. Barangkali saja ada guru/dosen yang senang mendengarnya karena terbebas dari belenggu rutinitas. Ups! Yang satu ini tolong jangan diekspos ya, entar dikira Anda dianggap tidak taat aturan dalam soal penghormatan pada guru/dosen.

Saya pernah mengumumkan suatu hari bahwa perkuliahan dipercepat dari jadwal yang seharusnya karena ada tugas/dinas ke luar kampus. Tak pelak teriakan hore secara koor yang sama bergema dari mulut para mahasiswa. Saya akhirnya memutuskan menunda keluar ruang kelas. Saya mengurungkan niat mengakhiri pecepatan perkuliahan dengan mengatakan bahwa selama ini berarti dalam mengikuti pembelajaran dijalani dengan terpaksa atau penuh tekanan. Mereka mengelak dengan tuduhan tersebut. Namun saya beranalogi bahwa seandainya menjalani perkuliahan dengan gembira atau fun mengapa teriakan yang terucap bukan kalimat yang sebaliknya. Yakni sebuah kalimat yang menggambarkan rasa kecewa karena dtinggal dosennya dalam proses belajar di kelas.

Yang jelas guru atau dosen yang baik adalah mereka yang kehadirannya dinantikan oleh para siswa atau mahasiswanya. Ia akan dirindukan bila tidak masuk/hadir di sekolah atau kampus. Apabila yang terjadi sebaliknya, berarti ada yang salah dengan proses belajar-mengajar yang selama ini terjadi.

Seorang pendidik mestinya mempunyai kepribadian yang menarik, supel dalam menjalani aktifitas pembelajaran. Ia juga menggunakan paradigma pendidikan demokratis dalam menekuni peran profesional seorang pendidik –untuk hal ini selanjutnya baca “Paradigma Pendidikan Demokratis karya Prof. Dr. Dede Rosyada, MA–. Ia juga harus menjadi orang yang pertama yang mengamalkan dan mengimplementasikan hal-hal yang diajarkan kepada para muridnya.

Pernah pada suatu siang seorang mahasiswa mengirimkan sebuah pesan pendek bahwa ia sedang bete mengikuti perkuliahan yang diasuh oleh seorang dosen. Katanya: “Panas euy, bete, jenuh, mendengarkan ceramah si dosen, sudah tua lagi”. Selang beberapa detik kemudian saya menjawabnya:”Bukankah kita juga akan menjadi tua? Berarti kita akan membetekan juga dong…”. Ya, mestinya seorang guru/dosen harus dapat mendesain pembelajarannya secara komprehensif dengan perencanaan yang matang. Kombinasi berbagai metode dan strategi pembelajaran dapat dilakukan agar prosesnya belajar di ruang kelas dapat berjalan secara menyenangkan dan sukses mencapai tujuan yang ditentukan dan diharapkan.

Metode ceramah memang murah meriah, dan bersifat massif. Tetapi ceramah yang monoton juga dapat membuat kejenuhan yang dirasakan oleh para peserta didik. Di samping mempunyai kelebihan, metode ceramah juga mempunyai sedikit-banyak kekurangan. Kekurangan inilah yang mestinya dapat didukung dengan penggunaan kombinasi metode semacam diskusi, tanya-jawab, demonstrasi, karya wisata, resitasi, dll. Sudirman N, et. all. dalam buku Ilmu Pendidikan menjelaskan secara gamblang berbagai kelebihan dan kelemahan metode-metode mengajar. Hal ini juga dapat diperkuat dengan penggunaan strategi, pendekatan, dan teknik pembelajaran yang berpusat pada aktifitas siswa. Buku 101 Strategi Active Learning karya Melvin L. Sibermen dapat memberikan inspirasi para pendidik untuk mengarahkan pembelajarannya menjadi lebih menarik.

Sebagai seorang guru, dosen, atau sebutan lain yang aktifitasnya sejalan, sudah seharusnya mengembangkan paradigma baru dalam proses pembelajaran. Guru bukanlah satu-satunya sumber belajar. Artinya bagaimana dapat mendesain agar peserta didik tetap dapat belajar kendatipun kita absen dalam proses pembelajaran dengan berbagai alasan yang tentunya dapat dipertanggungjawabkan. Wallahu a’lam.


*) Tanenji, Dosen dan Sekretaris Laboratorium Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini dapat dihubungi langsung di tanenji@yahoo.com

Telah di baca sebanyak: 39

Melejitkan Karir


Oleh: Supandi

Di dalam lingkungan pergaulan Anda, terutama di lingkungan kerja, Anda sering dihadapkan pada sebuah perbuatan amoral yang dilakukan oleh pimpinan Anda. Kondisi tersebut biasanya akan memancing reaksi para bawahanya, termasuk diri Anda. Hasrat moral pada akhirnya akan memacu emosi Anda untuk melakukan komplain terhadap kenyataan yang ada, karena bertentangan dengan suara hati Anda.

Contoh yang paling popular adalah perilaku seorang pimpinan yang cenderung mudah mengikuti arus sistem yang bobrok, seperti tindakan korupsi berjamaah. Kekuatan sistem yang ada sering memicu sang pemimpin mengorbankan idealisme dan ketahanan keimanan yang dimilikinya. Runtuhnya idealisme seorang pimpinan mendorongnya tergelincir dalam arus tindak penyelewengan.

Sebagai sesama manusia, Anda merasa tidak tega jika tetap membiarkan perilaku pemimpin tersebut. Anda terpanggil untuk memberi peringatan kepada dia agar tidak terjerumus dalam tindakan yang tidak terpuji dan merugikan pihak lain.

Diakui atau tidak, Anda sebenarnya mengetahui dengan jelas tindak penyelewengan yang dilakukan oleh pimpinan Anda tersebut. Dengan demikian, ketika panggilan moral mengusik hati Anda untuk berbuat baik, maka Anda memberanikan diri untuk melakukan reaksi yang bersifat mengingatkan kepada pimpinn Anda. Hal ini dilakukan sebagai perwujudan bentuk kasih sayang Anda kepada dia.

Anda tidak salah dengan reaksi Anda, asalkan dilakukan dengan cara yang santun, atas dasar kasih sayang, serta ketulusan hati. Tindakan Anda didasarkan pada sebuah pemahaman bahwa seandainya Anda tidak mengigatkan, dikhawatirkan Tuhan sendiri yang akan mengingatkannya. Bila ini terjadi, maka tidak ada seorangpun yang mampu menghadapi peringatan dari Tuhan. Banyak potret yang terjadi di masyarakat, yakni bentuk-bentuk peringatan dari Tuhan yang sangat mengerikan, yang pada akhirnya berakibat pada kondisi kehidupan seseorang yang unhappy ending (berakhir dengan kehidupan yang tidak bahagia).

Namun realita yang terjadi, bentuk peringatan yang Anda berikan, sering beresiko pada terancamnya karir Anda. Anda akan ‘dikucilkan’ oleh pimpinan Anda, bahkan akan dihambat karir Anda karena Anda dianggap telah mengusik kenyamanan sang bos. Selanjutnya, Anda akan dihadapkan pada kondisi karir yang statis, tidak berkembang, dan mandul. Prinsip human ralation, bahwa diantara sesama manusia harus amar ma’ruf nahi munkar ternyata pupus oleh ambisi kotor sang pimpinan.

Potensi diri yang Anda miliki juga sulit untuk dikembangkan. Mengapa demikian? Karena celah menuju eksplorasi potensi diri menjadi sangat sempit. Bisa terjadi, di dalam diri Anda akan muncul sebuah perasaan sakit hati.

Orang adalah apa yang dia pikirkan. Jika Anda selalu berpikir positif, maka impuls-impuls positif akan selalu memacu adrenalin Anda untuk melakukan tindakan-tindakan yang positif. Kaitannya dengan perasaan sakit hati yang berkecamuk di hati Anda, saya menyarankan kepada Anda untuk bisa mensikapinya dengan cara melakukan kompensasi yang cerdas. Anda harus bisa membimbing hati Anda untuk bersikap positif dalam memperlakukan emosi dendam Anda. Caranya adalah dengan mencari peluang yang terbuka lebar. Peluang yang dimaksud adalah keadaan dan kesempatan yang bisa Anda bidik sebagai sarana untuk mengembangkan kompetensi yang Anda miliki.

Jalan hidup manusia adalah seribu jalan. Demikian bila diibaratkan. Demikian pula, celah untuk mengembangkan karir akan selalu ada. Jika Anda mampu mengambil dan memanfaatkan celah tersebut, maka sangat mungkin bahwa Anda akan menjadi manusia yang survival (tetap eksis) dengan kreatifitas Anda. Anda akan bangkit dari sisi yang lain. Andapun akan menjadi figur karismatik yang bangkit dari tabir yang sebelumnya tidak diperkirakan oleh orang lain.

Contoh berikut barangkali bisa memperkuat argumentasi di atas.

Seorang guru yang terhambat karirnya, dia bisa melakukan manuver jitu untuk melejitkan karirnya. Dia bisa mengambil peluang melalui moment yang rupanya sering dijadikan momok oleh para guru. Moment yang dimaksud adalah ‘menulis’. Sementara guru yang lain menganggap bahwa ‘menulis’ merupakan kemustahilan, justru dia mampu membuktikan bahwa menulis bagi dia adalah sebuah keniscayaan. Jika langkah ini dia ambil, maka tak hayal lagi, dia akan tampil menjadi seorang guru yang menyandang predikat the unique (berbeda dengan guru yang lain), atau the first (yang pertama), atau bahkan dia akan menjadi the best (guru terbaik). Karirnya akan berkibar, melambai-lambai laksana lambaian tangan seorang juara.

Akhirnya saya ucapkan salam sukses, dan Good luck, and never give up (selamat bekerja, dan jangan pernah menyerah).

*) Supandi. Guru SMP Negeri 2 Binangun Kabupaten Cilacap, Pengurus Agupena Kab. Cilacap, Pengurus ISPI Kab. Cilacap, Ketua MGMP Bahasa Inggris Kab. Cilacap, Alumni Writer Schoolen Angkatan 16. Phone: 081391274742, Email: supandi_mm@yahoo.com

Telah di baca sebanyak: 49

Next Page »

Top