KEKUATAN DARI KETERDESAKAN
November 13, 2012 by admin
Filed under Kolom Bersama
“Jika rasa sakit terhadap kondisi sekarang tidak kuat, orang tak akan beranjak untuk berubah” Anonim
Dalam kehidupan sering kita dihadapkan kondisi-kondisi yang tidak nyaman, yang memaksa kita untuk beranjak atau bergerak. Padahal kita mungkin sudah merasa sangat nyaman dengan kondisi tersebut. Kondisi nyaman diartikan juga sebagai kondisi yang sudah sangat diketahui, walaupun sebenarnya belum tentu “nyaman” buat yang menjalani. Adanya ancaman atau bahaya dari luar itu memaksa kita untuk segera bergerak atau bertindak.
Banyak contoh yang bisa menggambarkan kondisi tersebut, semisal ketika seorang dikejar anjing galak, orang tersebut berada pada kondisi bahaya. Saat itu, mekanisme tubuh bekerja dengan sendirinya, sehingga bisa menghasilkan energi yang mungkin pada saat kondisi normal tidak bisa. Dalam kondisi ini orang bisa menghasilkan energi ekstra yang digunakan untuk keluar dari kondisi kritis ini. Yang semula orang itu hanya bisa melompat 1 meter, kini secara tiba-tiba mampu melompat lebih dari 1,5 meter, untuk bisa lolos dari kejaran anjing tersebut.
Atau pernahkah Anda mendengar cerita atau melihat sendiri seorang ibu dengan kain yang membebat tubuhnya melesat dengan cepatnya dalam beberapa detik, demi menolong anaknya yang belum genap satu tahun bergelantungan di bagian atas tangga putar, lalu ketika tangan sang anak terlepas dari tangga putar, dengan cekatan si ibu menangkapnya dari bawah, sampai kain yang dipakainya robek-robek, dan akhirnya anaknya itu bisa diselamatkan.
Bahkan masih banyak lagi, ribuan atau jutaan peristiwa atau kondisi dimana sesuatu itu dihadapkan pada kondisi bahaya atau terdesak. Bisa keluar dari kondisi tersebut dengan mengeluarkan kemampuan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Ini yang sering disebut orang sebagai The Power of Kepepet. Keterdesakan dan ancaman dari luar yang membuat kita harus bergerak untuk mempertahankan diri.
Prof Yohanes Surya mengatakan kondisi ini sebagai titik kritis. Dalam bahasan yang lebih mendalam Profesor yang sudah mengantarkan beberapa siswa Indonesia meraih medali emas di ajang olimpiade fisika ini, menemukan teori yang dinamakan Teori Mestakung. Mestakung itu sendiri kepanjangannya dari Semesta Raya Mendukung.
Gambaran umumnya kurang lebih seperti ini, pada saat sesuatu sedang dihadapkan pada kondisi bahaya atau disebut kritis. Tuhan telah menyediakan semesta (yang dimaksud semesta dalam hal ini adalah sel-sel tubuh kita, pikiran, keluarga, teman, lingkungan dan alam sekitar kita) yang akan mengatur diri untuk membantu kita keluar dari kondisi ini. Ada tangan-tangan tak nampak yang akan membantu kita, mereka sering disebut invisible hand.
Teori Mestakung diturunkan menjadi 3 hukum yang sering di ringkaskan sebagai KRILAKUN (merupakan singkatan dari kata KRItis, LANGkah dan teKUN). Hukum ini berbunyi sebagai berikut:
1.Hukum Kritis
Pada setiap kondisi KRITIS ada jalan keluar. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan dalam agama bahwa “….. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5). Kita tidak sadar bahwa ketika kita sedang dihadapkan dengan kesulitan, percayalah bahwa kebahagiaan sebenarnya sedang menanti kita di ruang tamu. Tentunya kita akan bertemu kalau kita bisa dan berhasil menghadapi kesulitan. Tidak usah khawatirkan juga karena janji Tuhan juga, Dia tidak akan memberi beban di luar kemampuan hambanya.
2. Hukum Langkah
Ketika seorang MELANGKAH, ia akan melihat jalan keluar“. Bukankah ada pepatah dari luar juga mengatakan “if there’s a will there’s a way” yang kurang lebih artinya setiap ada keinginan pasti ada jalan. Imbasnya jadilah pribadi yang dalam segala sesuatu itu selalu melihat ada solusi dari setiap masalah. Berpikir dengan paradigm bahwa kalau sesuatu hal itu sulit, tapi masih bisa untuk dipecahkan. Tidak mudah, tapi bisa dilaksanakan. Jalan keluar dan pengertian itu akan kita dapatkan kalau kita terus berlatih keras, berpikir, rajin bertanya pada banyak orang, meminta bantuan dan nasehat orang bijak, membaca buku dan literatur, belajar dari orang yang berhasil keluar dari kondisi yang mirip dengan kondisi tersebut.
3. Hukum Tekun
Ketika seorang TEKUN melangkah, ia akan mengalami mestakung (semesta mendukung). Tekun disini diartikan sebagai usaha yang kontinu untuk menghasilkan yang terbaik. Dalam ketekunan ada semangat pantang menyerah ketika bertemu dengan kegagalan. Kalau apa yang dilakukan saat ini dianggap kecil oleh orang lain. Maka lakukan hal kecil ini dengan kesungguhan yang besar. Tinggal tunggu waktu mengenai hal-hal besar yang akan datang kepada kita. Dalam ungkapan Arab yang terkenal “Man Jadda Wa jadda” yang artinya “Barangsiapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil”.
Mengingat pentingnya kondisi keterdesakan yang membuat seseorang bergerak. Dan rela meninggal zona atau keadaan yang sudah dikenalnya atau sebagian orang mengatakan “nyaman”. Maka tak usah khawatir dan takut mengenai ancaman atau kondisi yang berbahaya yang mengancam kita. Nikmati setiap kesulitan dan keterdesakan yang menghadang. Karena didasari sebuah keyakinan bahwa setelah kita berhasil menghadapi dan melewati kondisi terdesak dan kritis itu, kita akan menjadi pribadi baru yang lebih hebat, kuat dan bijak dalam menghadapi kesulitan berikutnya. Wallahu’alam bishowab
* Guntur N dapat di hubungi di guntur11.blog@gmail.com atau kunjungi di www.gunturnovizal.tk
Telah di baca sebanyak: 800
Mulai Lagi Merancang Masa Depan
October 11, 2012 by admin
Filed under Kolom Bersama
Beberapa hari yang lalu saya mencari karet pipih yang lumayan besar dengan panjang dan lebar mirip papan tulis. Tapi agak sulit juga mencarinya. Setelah sekian lama berputar-putar akhirnya ketemu juga walaupun bukan karet yang dimaksud. Saya menemukan styrofoam yang berbentuk white board lumayan lebar 2,5 meter x 1,20 meter. Lumayan besar untuk ditempel di dinding kamar. Saya membeli dua, satu untuk saya dan satu lagi untuk anak saya.
Untuk apa saya membeli semua itu? Ya…. untuk membuat perencanaan, tujuan, impian, dream, keinginan, dll. Di dinding punya anak saya ditulis dengan huruf besar-besar KARYAKU. Sementara di styrofoam punya saya ditulis PAPAN VISI. Saya begitu bergairah untuk menggarap semua itu. Dalam benak saya terbersit harapan bahwa hidup saya akan menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang. Sementara untuk anak saya, saya berharap dia bisa mencapai impian-impian jangka panjang maupun jangka pendeknya.
Apa yang saya tulis di Papan Visi itu? Ya… persis impian-impian yang selama ini ditulis di agenda dan diary yang sulit dilihat setiap saat dalam jangka waktu cukup lama. Sehingga tidak bisa menjadi pemacu maupun pemicu untuk bergerak lebih fokus. Godaan pikiran kan sangat banyak, kita tidak bisa menetapkan fokus dalam jangka waktu lama apabila tidak ada yang mengingatkan, apakah gambar, omongan, ancaman atau hal-hal yang cukup menyentak yang mengkondisikan pikiran apabila tidak dilakukan akan mendapatkan kerugian, rasa sakit, kekecewaan atau apapun bentuk rasa tidak enak di masa yang akan datang.
Saya mulai menulis satu per satu rancangan masa depan mulai dari tujuan tahunan, 3 tahunan, 5 tahunan, 10 tahunan, 20 tahunan. Apakah terlalu panjang perencanaannya? Bagaimana kalau kita mati di tengah jalan? Mati emang menjadi sesuatu yang tidak bisa dielakkan. Tapi kalau kita merencanakan kematian di sela-sela Papan Visi tersebut, bisa jadi kita tidak akan melanjutkan rancangan tersebut. Kita harus siap mati kapan saja, tapi gak usah dibuat perencanaan secara tertulis. Paling bijak adalah, setiap hari kita mempersiapkan bekal yang lebih banyak untuk menyongsong kematian.
Saya mulai menulis tujuan-tujuan yang besar-besar. Untuk memudahkannya saya buat dalam beberapa kategori: Pertama tujuan-tujuan spiritual-keagamaan, kedua tujuan-tujuan finansial/keuangan, ketiga tujuan-tujuan bisnis/karier dan kepemimpinan, keempat tujuan-tujuan keluarga, kelima tujuan-tujuan pengembangan diri, keenam, tujuan-tujuan petualangan, ketujuh tujuan-tujuan kesehatan, kedelapan tujuan-tujuan sosial kemasyarakatan.
Untuk tujuan spiritual saya tulis sbb: mulai segala aktifitas dengan berdoa. Doa yang saya kutip dari Buku Adi W Gunawan adalah meminta kepada yang kuasa agar senantiasa mensucikan hati dalam berbagai niat, kedua menjernihkan pikiran dalam berbagai kondisi dan meminta untuk memudahkan jalan hidup apapun kondisi jalan tersebut.
Kemudian, tujuan-tujuan spiritual yang lebih kongkrit adalah; menjalankan ibadah di sepertiga malam terakhir secara rutin dan khusuk, menjalankan semua kewajiban secara ikhlas, naik haji ke tanah suci, mengkhatamkan al Quran setiap 3 bulan, menghafal ayat-ayat populer, belajar buku-buku keagamaan, dll.
Untuk tujuan kedua tujuan finansial/keuangan, saya tulis beberapa hal. Pertama, satu tahun dari sekarang atau lebih cepat lagi, saya memiliki deposito Rp 50 juta, kedua, tiga tahun dari sekarang atau lebih cepat lagi saya mempunyai deposito Rp 300 juta atau lebih, tiga tahun dari sekarang saya memiliki tanah seluas 1.000 meter atau lebih, lima tahun dari sekarang saya memiliki investasi saham Rp 500 juta atau lebih, selalu memiliki income yang tak terduga dan halal.
Tujuan bisnis dan karier dan kepemimpinan adalah, tiga tahun ke depan perusahaan yang saya pimpin menjadi market leader, laba yang diperoleh perusahaan saya meningkat 50% tiap tahunnya atau lebih besar lagi, saya memiliki tim yang sangat kompak, semangat yang tinggi dan memiliki fighting spirit handal, mental baja pantang menyerah, saya selalu berada dalam kondisi ideal untuk menarik peluang apapun dan selalu siap menjalankannya secara mudah dengan hasil luar biasa.
Tujuan keluarga; setiap liburan saya meluangkan waktu mengunjungi tempat-tempat yang nyaman, indah, sejuk, damai untuk melepas lelah, mendiskusikan segala hal untuk mencapai tujuan-tujuan lebih baik lagi, menjadwalkan untuk memberikan pendidikan yang positif bagi anak.
Tujuan pengembangan diri terdiri dari; meluangkan waktu untuk membaca 2 jam tiap hari, membeli buku-buku yang mendukung pengembangan diri, belajar Bahasa Inggris, menulis artikel rutin mingguan, menulis buku tahunan, mengikuti pelatihan NLP practitioner paling lambat satu tahun menatang dan dilanjutkan ke NLP master practitioner, mengikuti pelatihan hypnosis, hypnotherapy, multiple intelligences.
Tujuan-tujuan petualangan adalah: jalan-jalan ke tempat-tempat eksotis di seluruh Indonesia, tiga tahun yang akan datang atau lebih cepat jalan-jalan ke luar negeri seperti ke Jepang, Eropa, Amerika, Australia dll. Tujuan-tujuan kesehatan; terapi nafas setiap hari selama 30 menit, olahraga rutin seminggu sekali. Dan tujuan terakhir sosial kemasyarakatan adalah, menyumbang panti asuhan, dll.
Ketika saya menulis di Papan Visi tersebut ada passion yang sangat hebat untuk selalu
mewujudkan impian-impian tersebut. Dan dengan sendirinya manajemen waktu pun terkelola dengan rapi. Pikiran kita apabila diarahkan fokus tujuan yang lebih jelas akan mengikuti dengan sendirinya. Semoga impian-impian yang kita tulis bisa menjadi kenyataan yang bisa membawa kepada kebahagiaan hidup sekarang maupun yang akan datang. (*)
*) Ade Asep Syarifuddin adalah Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan. Bisa dihubungi di asepradar@gmail.com atau
http://langitbirupekalongan.blogspot.com.
Telah di baca sebanyak: 976
LUMUT – LUMUT EMOSI
October 10, 2012 by admin
Filed under Kolom Bersama
Seorang klien datang kepada saya untuk mengikuti sesi terapi. Dalam percakapan awal, ia mengatakan bahwa ia dulunya adalah seorang wanita yang penyabar akan tetapi pernikahan dengan suami yang pemarah selama 9 tahun mempengaruhi tempramen dia, sehingga saat ini menjadi orang yang mudah untuk marah. Walupun sudah berpisah dengan suaminya, ibu ini masih terus membawa tempramen tersebut seolah-olah menyalahkan sang suami yang telah “menjangkitkan” virus pemarah di dalam dirinya.
Sayapun menceritakan sebuah metafora yang saya beri judul tembok berlumut. Pada suatu saat seorang pembantu mengeluh kepada si empunya rumah, katanya : “ tuan, saya kecewa dan sedih, melihat tembok depan rumah kita yang kusam,kotor,hitam dan penuh dengan lumut. Sayang sekali, tembok tersebut telah berubah menjadi tembok yang penuh dengan kotoran dan menjijikan.”
“ Masa sih” jawab tuannya si empunya rumah. “ tembok tersebut, tetap tembok yang putih dan bersih seperti dahulu “ kata pemilik rumah lagi.
“ Tidak tuan, tembok tersebut sudah berubah, kalau dulunya putih, sekarang sudah menjadi kehitam-hitaman karena dipenuhi oleh lumut.”
Sambil tertawa si pemilik rumah tersebut berkata : “ tembok tersebut tetaplah tembok yang putih dan bersih. Lumut dan kotoran yang menempel di tembok itu hanyalah sementara, selama kita mau untuk membersihkan dan membuang lumut tersebut, kemudian mengecet kembali tembok itu, maka ia segera akan menjadi tembok yang putih dan bersih seperti dulu lagi. “ kata sipemiliki rumah.
“ Ya, betul juga tuan”
“ Saya setuju “
“ Sebetulnya tergantung kita ya, kapan akan membuang lumut yang menempel di tembok tersebut dan mulai untuk mengecet kembali.” Sahut si pembantu sambil menganguk-ngangguk tanda mengerti.
Setelah menceritakan kisah ini saya meminta feedback dari klien saya mengenai makna yang ia peroleh, kemudian dengan tersenyum ia mengatakan : “ Benar pak, sebetulnya semua tergantung saya, kapan akan membuang kebiasaan buruk ini dan mengecet kembali tembok sehingga akan menjadi putih lagi.”
Besok hari ketika bertemu kembali, wajah klien saya ini penuh dengan kebahagiaan, ia bercerita bahwa selama bertahun-tahun ia tidak dapat sholat dengan khusuk dan baru tadi pagi sholatnya begitu khosuk. Dan yang luar biasa lagi menurutnya, setelah keluar dari kamar tidur, ia terpeleset dan jatuh.
“ Terpeleset dan jatuh, kok luar biasa bu ? Tanya saya sambil bercanda.
“ Bukan terpeleset dan jatuh yang luarbiasa pak, tetapi cara saya bersikap saat jatuh tersebut yang luar biasa.”
“Saya terjatuh akibat lantai yang licin sehabis dipel oleh pembantu saya. Saat terjatuh sipembantu tersebut dengan ketakutan melihat saya, karena ia berpikir pasti akan saya omeli habis-habisan ,karena sudah tahu akan sifat saya.”
Kemudian, yang membuat dia terkejut adalah saat saya tanpa marah mengatakan : “ mbok, kalau mengepel kainnya jangan terlalu basah ya, khususnya di daerah depan kamar.” Sambil tersenyum.
“ Pembantu saya hanya melihat terheran-heran.”
*) Ongky Hojanto adalah penulis buku Best-Seller “The Secret To Be More Success”, partner Penulis buku “Financial Revolution in Action” bersama Tung Desem Waringin. Narasumber OBROLAN Pagi motivasi di Pacific TV dan narasumber di SMART FM Indonesia ini dapat dihubungi langsung di www.ongkyhojanto.com
Telah di baca sebanyak: 851
Wanita adalah Perkasa
September 3, 2012 by admin
Filed under Kolom Bersama
Kisah 1
Saya mungkin Desember akan ada di Australia. Biasa, kunjungan rutin. Anak saya yang pertama sudah permanent resident di sana. Jadi setiap tahun pasti gak dua kali saya berkunjung ke sana. Sedangkan anak kedua saya ada di Kelapa Gading. Pernah menjadi dosen di salah satu kampus daerah Kebun Jeruk, tetapi sekarang sudah berhenti dan fokus mengembangkan bisnis konsultan.
Jadi tiap hari saya sendirian di rumah. Makanya saya orangnya tidak bisa diam. Selalu mencari kesibukan. Apalagi sejak menginjak usia pensiun kira-kira 3 tahun yang lalu. Kerjaan saya yah itu, banyak reuninya.
Saya sudah menjadi single parent 21 tahun yang lalu. Suami saya meninggal saat anak bungsu saya baru berusia 6 tahun. Jadi selama itulah saya berjuang untuk membesarkan anak-anak saya sendirian. Jatuh bangun, banting tulang, belajar sana-sini demi anak-anak. Beruntung saya mempunyai kemampuan sehingga bisa berkarir di salah satu bank. Saya mengabdi selama lebih dari 20 tahun sampai pensiun. Melihat hasil dari perjuangan saya di mana kedua anak saya sudah bisa mandiri, saya merasa puas dan bangga. Tidak sia-sia, dan saya bahagia dengan hidup saya sekarang.
Kisah 2
Sudah memasuki tahun ke-5, suami saya tidak bisa bangun dari tempat tidur karena stroke. Suami saya kena stroke bukan karena pola makan, tetapi karena ada kelainan di jantung, bawaan sejak lahir. Dan rupanya bawaan ini ditularkan ke putri bungsu saya juga. Sempat 2 tahun lalu dia kena stroke. Tetapi beruntung cepat ditangani, jadi putri saya bisa sembuh total. Tidak kelihatan tanda-tanda dia pernah kena stroke.
Waktu suami saya kena stroke, pasti merasa terpukul. Kebimbangan, kecemasan, dan ketakutan menghantui saya. Terlebih setelah mengetahui suami saya lumpuh total, tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Bayangan suram akan masa depan muncul dengan cepat.
Tetapi apakah saya menyerah begitu saja? Tentu saja tidak. Saya tidak mau kalah dengan percobaan ini. Makanya saya tetap berjuang untuk orang-orang yang saya cintai. Saat ini suami saya sudah di rumah. Saya siapkan kamar khusus, lengkap dengan peralatan medis dan suster yang standby 24 jam. Supaya suami saya tidak merasa kesepian yang ujungnya mematahkan semangat dia, saya selalu buat suasana rumah meriah. Setiap pagi saya buka pintu kamar suami saya lebar-lebar, setel suara-suara baik itu televisi maupun radio, supaya suami saya tetap merasakan adanya kehidupan di rumah.
Banyak yang kasihan melihat kondisi suami saya, yang sebagian orang mengistilahkannya sebagai ‘tumbuhan hidup’, yang artinya punya kehidupan tetapi tidak bisa ngapa-ngapain lagi. Tetapi saya tetap melihat suami saya sebagai orang yang paling ganteng yang pernah saya miliki. Saya tetap memperlakukan suami saya sebagai pribadi yang paling berharga dalam hidup saya.
Satu momen yang menyadarkan saya bahwa suami saya tahu perhatian saya adalah setiap pagi sebelum saya berangkat kerja, saya mendekatkan pipi saya ke bibirnya, minta dicium. Percaya atau tidak, dia bisa merespon dengan memonyongkan bibirnya hingga menyentuh pipi saya. Bahkan dia punya rasa malu. Kalau saat saya minta dicium, di ruangan ada orang lain, dia tidak akan memonyongkan mulutnya. Baru kalau tinggal berdua dia melakukannya.
Pengalaman saya mendampingi suami saya –sampai sekarang—membuat saya sering diminta untuk sharing kepada sesama yang keluarganya mengalami stroke. Seringnya di rumah sakit. Tetapi tidak jarang di komunitas tertentu. Saya sadar, mungkin inilah tugas saya sekarang. Dengan pencobaan yang saya hadapi, saya dikuatkan untuk menguatkan orang lain. Itu yang menjaga semangat saya. Sampai kapan? Saya tidak tahu. Biarlah di Atas yang mengaturnya, yang penting saya mengerjakan bagian saya.
Kisah 3
Muscular dystrophy, itulah nama keren dari penyakit yang diderita anak saya. Bahasa yang lebih mudah dimengerti adalah penyakit penciutan otot. Penyebab penyakit ini adalah adanya kerusakan permanen pada otak kecil, yang menyebabkan saraf-saraf motorik terganggu. Penyakit ini belum ada obatnya, dan tidak ada satu rumah sakitpun yang bisa menyembuhkannya. Dan menurut literatur kedokteran, usia anak saya tidak akan berumur panjang. Kalau bisa mencapai usia 25 tahun saja sudah bagus.
Pertama kali saya mengetahui anak saya menderita penyakit ini saat dia berusia sekitar 7 tahun. Tanda-tanda adanya kelainan padanya sudah terlihat saat dia masih bayi. Saat masih usia 5 bulan, dia tidak kuat mengangkat kepalanya. Setiap kali ngangkat kepala, dia hanya bertahan sebentar lalu nyungsep lagi. Saat itu saya masih berpikir positif. Mungkin belum waktunya saja.
Kekuatiran saya mulai terasa saat dia berusia 9 bulan. Saat teman sebayanya sudah mulai merangkak dan belajar berdiri, dia belum bisa bangun dan duduk sendiri. Dia hanya duduk kalau dibantu. Ah, perasaaan gundah ini coba saya tepis. Bagaimana mungkin anak saya yang waktu lahir sehat, montok, dan lucu dengan beratnya mencapai 4 kg dan panjang 52cm mengalami kelainan?
Perkembangan selanjutnya semakin menekan perasaan saya. Saat berusia 1,5 tahun, anak saya tidak berkembang layaknya anak biasa. Ditelusuri oleh dokter, ketahuan bahwa anak saya punya masalah dengan syaraf. Berbagai cara sudah kami lakukan untuk menyembuhkannya. Dari pengobatan laser sampai fisioterapi yang memakan banyak biaya dan energi sudah kami lakukan. Sejumlah rumah sakit sudah seperti rumah kedua kami, tetapi tidak banyak hasilnya.
Apakah saya menyerah pada nasib dan keadaan? Tidak. saya punya cita-cita untuk menjadi orang sukses. Bersama-sama kami berjuang, makan asam-garam dan pahit-getirnya kehidupan, untuk menunjukkan kepada dunia bahwa selalu ada jalan bagi orang yang mau berusaha. Modal kami hanya tiga kata. Sabar, ikhlas, dan tawakal. Sabar karena hidup memang tidak pernah lepas dari masalah. Ikhlas artinya lapang dada menerima takdir Tuhan. Tawakal berarti berserah diri pada Sang Pencipta.
Bersyukur, saat ini anakku sudah menginjak usia 24 tahun. Dan hal yang membesarkan hati adalah anakku sudah bertumbuh menjadi orang “sukses”. Dia telah menjadi netpreneur yang prestasinya dalam dunia internet marketing serta bisnis online telah bergaung dan diakui banyak orang. Anakku juga dengan segala terbatasannya telah berhasil menulis sebuah buku, yang saya yakin bisa menguatkan orang-orang yang sependeritaan dengannya. Anakku juga banyak dipanggil untuk sharing kehidupannya di sejumlah acara televisi. Saya, sebagai ibunya, ikut bangga dengan semua prestasinya.
* * *
Wanita adalah perkasa. Itulah hal bisa saya simpulkan dari tiga kisah di atas. Kisah pertama adalah cerita salah satu alumni pelatihan saya saat kami berbincang mengenai rencana mengajak dia untuk melakukan kelas training. Kesaksian hidup bagaimana seorang Ibu mampu menghidupi 2 anak dan berhasil menghantarkan mereka menjadi orang yang sudah bisa hidup sendiri. Tentulah bukan perjuangan yang mudah, membesarkan 2 anak sendirian. Fakta bahwa dia tentu didukung oleh keluarga besar, itu tidak dipungkiri. Tetapi kesalutan saya akan perjuangannya, membuat saya hanya bisa berujar: wanita adalah perkasa.
Kisah kedua juga datang dari salah satu peserta pelatihan saya. Saat lunch break, kita ngobrol banyak hal, sampai kisah ini diceritakan. Salut saya dengan perjuangannya. Dia masih muda, awal 40-an. Masih cantik dan menarik. Orang yang pertama ketemu dengan dia mungkin tidak mengira bahwa dia menyimpan kisah inspiring seperti itu. Sikapnya yang tetap ceria seolah mampu menutupi bahwa dia punya sisi sedih yang harus dia lakoni. Seorang wanita yang tegar. Bahkan di sela kisahnya, dia sempat melontarkan lelucon. Dia sering digoda para pria untuk dijadikan pasangan hidup. Menanggapi hal itu, dia hanya menjawab seraya bercanda, boleh saja asal full package. Artinya kalau mau menikahi dia, berarti harus sepaket dengan suami-dua anak-suster-pembantunya.
Cerita ketiga lagi-lagi kisah alumni saya. Mungkin banyak orang yang hanya mengenal nama Habibie Afsyah. Tetapi yang saya lihat luarbiasa adalah ibunya yang bernama Endang Setyati. Semangat ibu Endang patut dicontoh. Bagaimana mendampingi anak yang difable –di mana mungkin sebagian orang merasa malu memiliki anak seperti itu—adalah sebuah contoh cinta sejati seorang ibu kepada anaknya. Kisah di atas yang saya kutip dari buku Bu Endang yang berjudul “Surga untuk Habibie” sangat menginspirasi saya. Pengalaman hidup Habibie yang juga dituangkan dalam buku “Kelemahanku adalah Kekuatanku” adalah motivasi yang patut dibaca. Di atas segalanya, saya tetap melihat ada seorang wanita perkasa yang tangguh sehingga keajaiban seperti ini bisa terjadi.
Bercermin dari tiga wanita di atas, tidak dipungkiri bahwa seorang wanita adalah perkasa bukan? Waktu saya chat dengan seorang teman dan saya menceritakan kisah-kisah di atas, dia memberikan sebuah quote. “Kids who grows up with mom always stronger and more success compare dad.” And i absolutelly agree!
Tim Pembelajar.com
Telah di baca sebanyak: 1001
Rumput Tetangga Selalu Kelihatan Lebih Hijau
September 3, 2012 by admin
Filed under Kolom Bersama
Rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau. Sering kita dengar peribahasa tersebut. Singkat tetapi bermakna dalam. Peribahasa yang selalu dilontarkan saat kita mulai merasa tidak puas dengan apa yang sudah kita miliki. Kiasan yang muncul saat ada perasaan iri dengan orang lain. Ungkapan yang dikatakan saat kita mulai tidak nyaman dengan segala sesuatu yang melekat dalam diri kita.
Kalau dipikir-pikir, kenapa bisa ada perasaan iri, tidak puas, tidak nyaman dalam diri kita? Mungkin jawabannya adalah sifat alami manusia yang selalu ingin lebih dibandingkan orang lain. Bagus kalau semangat lebih-nya itu diekspresikan dalam bentuk positif, karena itu akan membuat kita menjadi terlecut untuk meraih prestasi semaksimal mungkin. Tetapi kalau semangat itu adalah ekspresi negatif, maka cocoklah dengan peribahasa di atas.
Contoh sederhana. Suatu hari kita melihat garasi tetangga seberang kita yang sebelumnya kosong ada isinya. Artinya tetangga kita baru saja membeli mobil baru. Kalau kita bersemangat positif, hal itu akan menjadi lecutan semangat untuk bekerja lebih keras supaya terkumpul uang yang cukup untuk bisa membeli mobil juga. Tetapi kalau semangat sebaliknya yang muncul, maka barangkali muncul pikiran-pikiran dan kata-kata negatif sebagai bentuk iri hati. Hal yang sama kalau misalnya kita lihat rekan kerja kita berprestasi dalam bekerja, atau melihat tetangga pindah rumah ke lokasi yang lebih bagus, atau bisa juga iri melihat istri tetangga yang lebih cantik hehehe. Jadi penting untuk kita mengarahkan semangat kita, dan arahkanlah itu ke medan magnet positif.
Penyebab lain kenapa kita selalu melihat rumput tetangga lebih hijau adalah karena kita tidak mensyukuri apa yang sudah ada dalam diri kita. Ada satu ungkapan bijaksana yang mengatakan, selalu luangkanlah waktu untuk melihat ke bawah karena dari sanalah kita memahami makna dari bersyukur. Kita selalu dianjurkan untuk melihat ke atas, karena dengan melihat orang-orang yang dipandang lebih sukses dibandingkan kita, diharapkan muncul motivasi bagi kita untuk berjuang lebih keras. Itu bagus, dan saya mendukung itu. Tetapi perlu sesekali kita perlu melihat ke bawah, karena itulah momen belajar kita untuk mensyukuri hidup.
Jarang kita sadari bahwa kalau sekarang kita memiliki anggota tubuh yang sempurna adalah hal yang sangat disyukuri. Bandingkanlah dengan banyak orang yang karena suatu hal tidak memiliki anggota badan yang sempurna, seharusnya kita bersyukur bukan? Kalau saat ini kita masih sehat dan bisa beraktivitas, bersyukurlah karena banyak saudara kita yang berjuang –sebagian di ambang hidup dan mati– di rumah sakit. Sadarilah kalau kita masih memiliki atap untuk berteduh dari panas dan hujan, itu suatu hal yang harus disyukuri karena jutaan saudara kita tidak memilikinya. Kalau sekarang kita masih bisa bekerja dan mendapatkan gaji tetap bulanan, beryukurlah karena banyak yang harus berjuang untuk bisa menyambung hidup mereka hari demi hari.
Berbicara mensyukuri pekerjaan, ada satu pengalaman saya minggu kemarin. Hari itu sabtu, dan saya ada acara seminar yang digandeng buka puasa bersama dengan salah satu klien. Acaranya sih mulai jam 14. Tetapi karena saya harus memastikan segala sesuatu in-charge plus diminta datang untuk melihat gladi resik mereka, maka pagi sekitar jam 8 saya pun meninggalkan rumah. Acaranya di daerah Slipi, dan saya melewati daerah Puri sebagai jalan akses. Pas di kolong jembatan putaran balik, dari jauh saya melihat ada sekitar 4 orang lagi duduk di sana. Awalnya saya tidak memperhatikan mereka karena saya menganggap mereka adalah orang yang memang biasa mangkal di sana. Mendekati mereka, ekor mata saya menangkap satu benda yang mereka pegang. Apa itu? Sekop. Sambil melewati mereka pelan-pelan, saya melihat ke-4 orang itu membawa sekop masing-masing. Awalnya saya sedikit bingung, untuk apa mereka bawa itu. Namun setelah loading, saya baru menyadari bahwa mereka di sana bukan karena iseng. Tetapi mereka sedang menunggu pekerjaan. Iya, mereka adalah buruh bangunan harian, dan dengan bekal sekop yang mereka pegang, mereka siap diangkut kalau ada yang membutuhkan jasa mereka.
Seketika hati saya berdegup. Ada tamparan keras ke batin saya yang kadang masih mengeluh dan kurang bersyukur dengan apa yang sudah saya miliki. Pikiran saya langsung melayang dalam imajinasi, mungkin keempat bapak itu sedang berjuang demi uang makan keluarga mereka. Mungkin anak-anak mereka lagi menunggu bapak mereka pulang sambil membawa uang untuk mereka bisa makan. Bagaimana kalau hari itu mereka tidak mendapatkan kerja? Berarti mereka tidak mendapatkan penghasilan. Momen itu langsung membangkitkan semangat saya, yang semula rada ogahan karena harus dinas di hari Sabtu menjadi mengebu-gebu. Dan yang terpenting, rasa syukur saya akan apa yang saya miliki menjadi semakin kuat. Rasa syukur makin meningkat karena mendapat makan gratis sepanjang hari. Alhasil, meskipun saya kembali ke rumah jam 8 malam, tetap saya bersyukur untuk hari itu.
* * *
Jadi saat kita mulai melihat rumput tetangga lebih hijau, ingatlah bahwa kita juga bisa membuat rumput di rumah kita menjadi hijau. Caranya? Lihatlah apa yang kita punya sekarang, pelihara dengan baik, kasih pupuk yang secukupnya, dan syukurilah itu. Kalau kita melakukan hal itu, niscaya kita akan menjadi orang yang paling bahagia karena imun dengan virus negatif.
Tim Pembelajar.com
Telah di baca sebanyak: 1049
Semangat Idul Fitri, Semangat Memaafkan
August 22, 2012 by admin
Filed under Kolom Bersama
Saya coba tunjukkan sebuah penelitian akan efek dari memaafkan seperti yang saya kutip dari salah satu situs berita. Penelitian yang dilakukan di Universitas California, San Diego, AS ini melibatkan 200 orang. Mereka diminta untuk memikirkan sebuah pengalaman dicurangi atau dikecewakan atau dikhianati oleh sahabat mereka. Kemudian mereka dibagi menjadi 2 kelompok, masing-masing 100 orang. Kelompok pertama diinstruksikan untuk memikirkan bagaimana hal itu memicu mereka untuk marah. Sedangkan kelompok kedua diminta dan didorong untuk untuk memaafkan.
Setelah itu mereka diberi pengalih pikiran selama lima menit, lalu mereka diberikan kebebasan untuk boleh memikirkan kembali peristiwa tidak mengenakkan tersebut dengan cara masing-masing. Hasilnya, kelompok yang marah mengalami kenaikan tekanan darah pada sesi pertama dan efeknya tetap terlihat meski mereka sudah diberi pengalih untuk lebih tenang. Sedangkan kelompok yang memaafkan lebih tenang dan bahagia.
Poin apa yang mau disampaikan dari eksperimen di atas? Sederhana, memaafkan.
Beberapa sumber yang terpercaya mengatakan bahwa memaafkan itu sangat bagus untuk kesehatan. Resiko penyakit berat dan mematikan seperti jantung, stroke, bahkan kanker hampir bisa dipastikan tidak akan mendekati orang-orang yang mudah memaafkan. Berbicara mengenai kanker, saya pernah dengar kesaksian dari seorang rekan yang punya teman kena kanker. Teman ini secara medis sudah tidak bisa disembuhkan dan divonis hanya akan hidup dalam hitungan bulan. Kebetulan ada rekan lain yang mempelajari sebuah teori bahwa dalam banyak kasus, kanker sebenarnya dipicu oleh emosi negatif yang tertahan di dalam tubuh. Oleh rekan ini ditelusuri, dan benar bahwa selama ini dia masih menyimpan dendam dengan seseorang. Karena menyangkut hidup-mati dan akan menuju ke mana setelahnya, teman ini disarankan untuk melepaskan maaf. Hasilnya, sebuah mukjizat. Teman ini berangsur sembuh, sampai kankernya lenyap. Tidak bisa dijelaskan secara medis. Dan sekarang dia bisa beraktivitas normal, mematahkan vonis dari dokter.
Selain itu, orang yang memaafkan diyakini akan memiliki imunitas tubuh yang lebih baik, menurunkan tekanan darah, mengurangi kecemasan dan depresi, memberikan ketenangan pikiran, dan juga membuat tidur lebih nyenyak.
Sebaliknya, orang yang sulit memaafkan –yang sampai pada tingkat kronisnya memendam kemarahan– resikonya bertolak belakang dengan orang yang mudah memaafkan. Mereka diyakini rentan menderita banyak penyakit, dari ringan sampai kronis tentunya. Selain itu, hidup mereka juga tidak tenang, karena selalu saja ada hal yang membuat mereka mudah cemas, takut, dan kuatir, yang efeknya membuat mereka mudah tersinggung dan marah. Dalam pergaulan mereka juga pasti dihindari, pasalnya pasti tidak banyak dari kita yang mau dekat dengan seorang pemarah bukan?
* * *
Jadi, apakah ada tips yang bisa dilakukan supaya kita mudah memaafkan? Bagaimana cara praktis yang bisa dilakukan supaya kita tidak terjebak dalam kemarahan dan dendam yang tidak ada gunanya? Berikut ada tiga tips yang bisa dipraktikkan.
Pertama, terima situasinya dan lupakan kejadiannya. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tetapi kita mesti sadar bahwa sebuah kejadian hanyalah saat itu saja. Apa yang sudah terjadi di masa lalu tidak akan bisa kita ubah. Untuk itu, terimalah itu dengan lapang dada, dan ambillah respon positif untuk melupakannya. Lagian belum tentu orang yang bermasalah dengan kita masih memikirkan dan menyimpan kejadian itu. Jadi untuk apa kita selalu mengingatnya bukan?
Tips kedua, hilangkan kebiasaan untuk melontarkan kata-kata negatif. Kata-kata mempunyai efek yang luar biasa. Semakin sering kita mengatakan sebuah kalimat –entah itu terlontarkan atau hanya dalam pikiran (self talk)- maka semakin besar kemungkinan kalimat itu terjadi dalam hidup kita. Jadi saat kita mengalami perlakuan yang menurut kita tidak enak, hindarilah untuk mengatakannya secara negatif. Sangat berbahaya. Memberikan kalimat sebagai respon boleh saja, tetapi usahakanlah selalu yang positif. Sebuah kalimat sederhana seperti, “ingat saja, saya tak akan pernah melupakan apa yang sudah kamu lakukan hari ini,” adalah contoh kalimat negatif yang sangat tidak rekomen dan harus dihindari.
Kata-kata negatif juga bisa dalam bentuk kata-kata menghakimi diri sendiri. Hal ini terjadi terutama kita dalam pihak yang bersalah. Harus kita sadari tidak ada manusia yang sempurna. Tiap orang bisa berbuat salah, termasuk kita. Jadi kalau kita dalam posisi ini, berilah ruang yang sangat luas untuk memaafkan diri sendiri. Bersikap baiklah dan berilah cinta yang besar pada diri kita. Memilih untuk memaafkan diri sendiri akan membebaskan kita dari borgol masa lalu yang menghambat kita untuk maju. Jadi kalau kita pernah melakukan hal yang mengecewakan diri sendiri, maafkanlah.
Ketiga, lakukanlah apa yang disebut writing therapy. Caranya, utarakan semua kemarahan dan kekesalan yang dirasakan dalam bentuk tulisan, kemudian hancurkan. Kalau kita menulis di komputer atau laptop, just delete it! Kalau tulis tangan, remas-remaslah dan hancurkan. Menulis diyakini sebagai sebuah terapi yang jitu untuk memecahkan banyak persoalan hidup, termasuk sarana untuk memaafkan. Sebuah penelitian mengatakan, kalau kita luangkan waktu setiap hari untuk menulis paling tidak 20 menit, maka secara tidak langsung kita sudah menerapi diri sendiri untuk menjadi lebih baik. Kenapa bisa begitu? Karena menulis diyakini bisa membantu membersihkan pikiran. Menuangkan kekesalan dalam bentuk tulisan diyakini sama seperti kita mendatangi psikiater, karena metodenya sama, mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada di dalam diri kita. Jadi kalau ada cara yang mudah seperti ini, kenapa tidak dicoba?
* * *
Bertepatan dengan momen lebaran, yang kebetulan mengusung tema memaafkan, kiranya ucapan ‘mohon maaf lahir dan batin’ bukan sekadar kelatahan semata karena memang sudah begitu adanya. Semoga permohonan maaf yang disampaikan di hari yang fitri ini benar-benar tulus keluar dari hati. Dan kita yang menerima permintaan maaf itu juga sungguh-sungguh memberikan maaf dengan ikhlas. Karena dengan demikian, semangat kemenangan pastilah akan menjadi lebih indah dan semarak. Dan di atas semuanya, jadikanlah memaafkan sebagai sebuah gaya hidup bersama. Mau?
*) penulis dapat dihubungi langsung di bun.hendri@gmail.com
Telah di baca sebanyak: 467Kebiasaan
August 15, 2012 by admin
Filed under Kolom Bersama
Suatu hari ketika saya dalam bus hendak berangkat ke kantor, tanpa sengaja mendengar percakapan seorang yang duduk di samping saya melalui telepon selulernya (tentu ini bukan perbuatan sopan mendengar pembicaraan orang yang tidak ada hubungannya dengan saya) dengan nada sedikit tinggi dia berkata “Itu sudah kebiasaan, tidak bisa dirubah. Jadi terima saja apa adanya!” Saya sedikit kaget lalu melirik ke arah dia. Seorang gadis cantik, dari raut wajahnya jelas terlihat dia sedang marah dan menahan emosi. Wajahnya tegang dan bola matanya sedikit membesar, tangan kirinya menggenggam erat handphone yang menempel ditelinga.
Sebenarnya siapa yang peduli dengan ucapannya. Tidak ada yang istimewa, semua orang juga boleh berkata begitu. Tapi entah mengapa pikiran saya menangkap sesuatu yang tidak nyaman dan seperti ada sesuatu yang mengganjal dihati. Di sepanjang perjalanan pikiran saya terus terusik, digelitik oleh ucapannya itu, dan bertanya-tanya dalam hati “Apa iya, kebiasaan itu tidak bisa dirubah. Dan suka tidak suka orang lain harus menerimanya?” ehm… menarik juga untuk direnungkan.
Bagi saya pribadi arti kebiasaan adalah suatu tindakan atau perbuatan yang dilakukan berulang-ulang, terus menerus hingga masuk dalam pikiran bawah sadar lalu dapat bertindak secara spontan tidak perlu dipikirkan lagi.
Dari beberapa literatur yang saya baca, salah satunya adalah Hypnotherapy-the art of subconscious restructuring yang ditulis oleh Adi W. Gunawan, seorang pakar pikiran (the re-educator & mind navigator). Bahwa pikiran dibagi menjadi dua, yaitu: pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Peran dan pengaruh pikiran sadar terhadap diri kita adalah sebesar 12%, sedangkan pikiran bawah sadar mencapai 88%. Lalu kebiasaan ada pada kategori mana? Jelas ada di pikiran bawah sadar.
Meskipun kebiasaan ada dalam pikiran bawah sadar yang tidak gampang ditembus, tetapi bukan berarti tidak bisa untuk merubah kebiasaan. Ada banyak cara dan jalan menembus pikiran bawah sadar seperti banyak dibahas dalam buku hypnotherapy, tetapi saya punya cara sendiri untuk merubah kebiasaan. Khususnya kebiasaan buruk supaya saya bisa lebih baik lagi, karena yang buruk sudah pasti tidak baik, dan kita wajib senantiasa berusaha merubah atau membuang segala sesuatu yang buruk dan melakukan serta memelihara kebaikan.
Cara saya adalah dengan kesadaran. Artinya setiap kali kebiasaan buruk datang, saya sadari itu kebiasaan buruk. Hanya itu! Otak diprogram untuk selalu ingat “KESADARAN”, saat kebiasaan muncul pikiran otomatis berkata “sadar”. Dan ketika menyadarinya maka logika saya akan berkata “stop! Jangan teruskan” dan kalau saya serius ingin membuang kebiasaan buruk itu maka logika saya akan berkata “Ya, ini harus diakhiri karena ini kebiasaan buruk”. Bila cara ini secara konsisten diterapkan dan dipertahankan terus maka niscaya kebiasaan buruk itu pasti akan pergi alias hilang.
Di sini saya memberikan sebuah ilustrasi mengenai suatu kebiasaan.
Ada sebuah cerita sepasang suami istri yang sudah dikaruniakan tiga orang. Pasangan ini selama belasan tahun rumah tangga tidak pernah harmonis, dan satu-satunya yang menyebabkan kecekcokan dalam rumah tangga mereka adalah kebiasaan suami yang bila buka pintu lemari pakaian tidak menutupnya kembali, sedangkan si istri paling benci hal itu. Berulang kali dinasihati suami tetap lupa, lupa dan lupa menutup pintu lemari. Meskipun sepintas masalahnya sepele dan kecil tapi akibatnya fatal, keributan yang kecil berubah menjadi besar dan perceraian di depan mata. Ketika mereka konseling lalu diberikan solusi supaya menempelkan tulisan “habis buka, tutup kembali” di dua sisi pintu lemari bagian dalam dan luar. Dan setiap kali pintu lemari dibuka tulisan itu harus sangat jelas terbaca oleh suami. Apa yang terjadi? Dalam waktu dua Minggu suami sudah menjadi terbiasa menutup kembali pintu lemari yang dia buka. Tiga Minggu berikutnya tulisan tersebut hilang, dan kalau suami melihat ada pintu lemari yang masih terbuka secara spontan dia akan menutupnya meskipun bukan dia yang membukanya. Bisa dibayakan bagaimana akhir cerita itu. Sekarang keluarga ini bisa hidup harmonis, rukun dan damai.
Sebetulnya mungkin saja untuk merubah sebuah kebiasaan, bahkan saya katakan sangat-sangatlah mungkin itu terjadi. Yang perlu dilakukan, pertama mengakui kebiasaan buruk itu sendiri, kedua punya komitmen untuk merubahnya dan terakhir selalu menyadari kebiasaan itu. Saya percaya dalam waktu singkat bila ketiga poin ini dilakukan dengan baik maka sebuah kebiasaan khususnya kebiasaan yang buruk akan berubah dan tak mustahil hilang. Sebab dari latihan yang paling sederhana dan kecil akan berubah menjadi terbiasa, lalu apa yang sudah biasa dilakukan menjadi sifat, dan sifat menjadi karakter dan karakter bermutasi menjadi takdir….
Anda tidak percaya? Silakan coba….
* Toni Tio dapat dihubungi di: cornelius.tonitio@gmail.com
Telah di baca sebanyak: 1419
Australia, Indonesia formalizing military diplomacy
August 7, 2012 by admin
Filed under Kolom Bersama
Melbourne was still dark, under a light rain and with a temperature of 8 degrees Celsius, but these conditions did not stop thousands of Melbourne residents congregating at the Shrine of Remembrance, a national monument in the town center. It was 5 a.m. and a bugle sounded the start of proceedings.
It was April 25, 2012, the day Australia commemorates Anzac Day. On this day, people pause from their daily lives to remember the fall of 8,000 soldiers of the Australian and New Zealand Army Corps (ANZAC) at the Gallipoli landings in Turkey, 97-years-ago during World War I.
Nowadays, ANZAC Day has also become a day of public admiration for all Australian servicemen and women, past and present. That is the way Australians value their military services.
A number of young Indonesian Military (TNI) officers — Maj. Agus Yudhoyono; Maj. Frega Wenas and myself, Maj. M. Iftitah Sulaiman S. — have accepted the Australian government’s invitation to visit a number of military establishments as part of the annual Young Future Leaders 2012 program. Apart from being given the chance to see various attractions, there will also be interaction with Australian leadership candidates.
The question is why does Australia — a commonwealth country — want such close military ties, with the aim firmly on future leaders? What are the benefits for Australia and Indonesia?
On July 3, 2012, in a bilateral meeting between President Susilo Bambang Yudhoyono and Australian Prime Minister Julia Gillard in Darwin, an agreement was made to elevate the military relationship of the two countries in the region, especially in handling disasters.
In addition to Indonesia, Australia and the US, President Yudhoyono also proposed to the Australian PM the involvement of all ASEAN countries, Japan, India, Korea and China in disaster management training. The goal is clear: This will build trust throughout the region.
President Yudhoyono’s way of setting out diplomacy through people-to-people contact in order to guard the peace, as he stressed in the Great Hall of Australia’s Parliament House on March 10, 2010, has captured the attention of Gen. David Hurley, chief of the Australian Defence Force (ADF) as well as the Indonesian Military (TNI) chief Adm. Agus Suhartono.
This concept of diplomacy is not just up in the air, as personal relationships often streamline duties in the field, both in peace operations, as well as in humanitarian assistance. However, while personal relationships have endured between the two countries independently, there has not been an umbrella organization to formalize this.
Then, in 2011 the TNI and ADF agreed to form the Defense Alumni Association or Ikatan Alumni Pertahanan (IKAHAN) Indonesia-Australia, which was launched on March 22, 2011, in Jakarta.
IKAHAN membership is characterized as being open to all military personnel from the two countries that have undertaken personal exchange to the other country through visits, study or joint exercises.
A number of activities have been designed for IKAHAN. One of them is this Young Future Leaders Program. Another is a program that invites the 15 top graduates from the Indonesian Defense University and the Staff and Command Schools (Sesko TNI, Seskoad, Seskoau and Seskoal) to Australia to familiarize themselves with the Australian
military and culture.
IKAHAN’s presence as a diplomatic medium needs to be appreciated. Although Indonesia and Australia are neighbors, the divide between the two countries — particularly with regard to culture — runs deep.
Australia can learn a lot from Indonesia in interpreting the concept of Unity in Diversity, which has always made Indonesia successful in numerous UN missions.
On the other hand, the TNI can also gain benefit, especially with regard to the elevation of its professionalism. Besides having primary weapon platforms and systems that are modern, Australia has a lot of experience in many types of theaters since World War I through to contemporary operations in the Middle East. Through IKAHAN, the two countries can share information and experience.
Further to this, the TNI can also improve its personnel’s proficiency in English. At this time, English is still an obstacle for the majority of TNI soldiers in communicating in international forums, such as on UN military operations.
Today, the Indonesia-Australian military relationship has reached its peak in both countries’ history. The two countries obviously want these good relations to continue. As a consequence of peaceful times, the two countries can concentrate on growing the level of the economy in order to benefit their people.
IKAHAN today has become a new phenomenon in global military diplomacy. A number of countries have shown an interest in establishing a similar model — Australia-Indonesia young military officers’ relations — which has become the reference for armed forces leaders.
The writer is a 1999 Indonesian Military Academy alumnus and a member of IKAHAN.
*M. Iftitah Sulaiman S., Melbourne | Opinion | Mon, August 06 2012, 9:30 AM
Paper Edition | Page: 7
http://www.thejakartapost.com/news/2012/08/06/australia-indonesia-formalizing-military-diplomacy.html
Telah di baca sebanyak: 642
Titik Kulminasi
August 7, 2012 by admin
Filed under Kolom Bersama
Arti kata, Kulminasi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah (1) puncak tertinggi; tingkatan tertinggi; dan (2) titik tertinggi yang dicapai suatu benda langit dalam peredaran (semunya) mengelilingi bumi (seperti matahari mencapai titik kulminasi pukul 12.00). Pada saat titik kulminasi ini maka posisi matahari akan tepat berada di atas benda sehingga menghilangkan semua bayangan benda tersebut.
Bayang adalah wujud hitam yang tampak dibalik benda yang terkena sinar cahaya. Cahaya yang menerangi itu ibarat harapan, tujuan, cita-cita, atau mimpi untuk mencapai apa yang diinginkan. Tanpa cahaya sebuah benda tidak akan menghasilkan bayang. Harapan, tujuan, cita-cita, atau mimpi yang ingin diraih seseorang bergantung pada kesungguhan niat dan usaha. Ketika mimpi itu masih berupa “cahaya” atau baru diniatkan saja di kepala, maka ia akan merefleksikan bayang-bayang keberhasilan atau kegagalan. Bayang kegagalan akan “tertutup” keberhasilan jika niat yang kuat tersebut didukung oleh usaha dan kerja yang sungguh. Karena bayang-bayang kegagalan itu juga “sebenarnya” tidak akan pernah hilang. Tetapi kita sendiri yang “menutupi” dengan kerja keras.
Setiap langkah manusia di bawah cahaya matahari, atau diremangi sinar purnama, pastilah akan berbayang. Bayang-bayang ini selalu mengikuti setiap derap langkah yang dilalui. Begitupun keinginan, tujuan, dan usaha manusia selalu dibayangi oleh keberhasilan atau kegagalan. Keberhasilan dan kegagalan merupakan dua sisi mata uang yang peluangnya sama besar untuk hadir di akhir usaha manusia. Dua hal tersebut pasti terjadi, tidak dapat dielakan. Keberhasilan menjadi ruang kebahagian dan kegagalan menjadi ruang pembelajaran. Dua hal yang sama baiknya jika mau dan mampu disikapi dengan lapang dada. Gagal itu wajar. Karena itu, kegagalan tidak akan pernah hilang, sirna, atau lenyap. Sama seperti bayang-bayang yang selalu mengikuti derap langkah manusia. Justru, kegagalan itu melengkapi langkah menuju kesuksesan. Namun dengan usaha dan keyakinan sungguh, ruang keberhasilan dapat dilebarkan untuk mempersempit ruang kegagalan. Lalu bagaimana bayangan-bayang dan ketakutan gagal yang menghantui itu dapat berujung pada keberhasilan?
Karena sifatnya adalah bayangan, maka kegagalan akan selalu mengikuti dan menghantui niat dan usaha manusia. Bayangan yang hinggap di pikiran dan benak manusia hanyalah persepsi kekhawatiran: takut gagal, tak mau berusaha. Bayang-bayang atau ketakutan gagal akan berganti keberhasilan apabila manusia mengupayakan potensi sumberdaya yang dimiliki pada puncak optimal atau titik tertinggi, sehingga bayang “kegelapan” tersebut dapat digerakan menuju titik keberhasilan. Cahaya atau niat yang didukung potensi diri itulah yang harus digerakkan menuju puncaknya, agar dapat menutup bayang-bayang kegagalan.
Jika dilihat pada makna kulminasi tersebut, sinar matahari akan mencapai puncak tertinggi, dan pada titik ini bayangan benda akan hilang tertutup benda itu sendiri. Begitupun usaha manusia, jika sudah dilakukan dengan usahan maksimal (baca: usaha dengan upaya tertinggi), maka bayang-bayang atau perasaan takut gagal akan hilang “tertutup” optimisme seiring usaha yang dilakukan dan akan berganti keberhasilan. Di sinilah perlunya usaha maksimal agar bayang-bayang kegagalan dapat dihindari.
Hal yang perlu dipelajari dari kulminasi, yaitu: pertama, kultivasi atau olah semua rintangan yang dihadapi agar menjadi berkah keberhasilan. Kedua, miliki keyakinan bahwa Tuhan akan bekehendak baik atas usaha yang dijalani. Ketiga, naikan usahamu untuk meraih tujuan. Lalu keempat, siapkan hati agar dapat menerima segala hasil usaha dengan lapang dada.
Hilangnya bayangan tertutup benda itu sendiri terjadi pada saat matahari mencapai puncak tertinggi pada pukul 12.00, maka upaya yang dilakukan agar tujuan dan cita-cita berhasil adalah dengan mengoptimalkan usaha pada puncak tertinggi, semangat tertinggi, keyakinan tertinggi, dan keikhlasan tertinggi. Sehingga, bayang-bayang atau ketakutan akan gagal akan tergantikan optimisme keberhasilan.
Titik kulminasi dimaksudkan yaitu pertama kultivasi atau olah semua rintangan yang dihadapi agar menjadi berkah keberhasilan. Hadapi, olah, dan pukullah setiap rintangan yang menghadang. Prie GS, meluncurkan kembali buku trilogi Ipung #1, Ipung #2, dan Elegi Surtini dan Ayunda dalam satu buku “Hidup Ini Keras, Maka Gebuklah!” Di sinilah pentingnya kita harus menghadapi segala tantangan, cobaan, dan ujian dengan sabar; mengolahnya agar kelak bisa menjadi lebih kuat, lebih bijak, dan lebih kokoh lagi! Maka, setiap rintangan harus terus “dipukul,” dijalani, dan diusahakan dengan sekuat tenaga. Kepalkan dan genggam tangan seraya berucap, “Saya bisa!”
Kedua, miliki keyakinan dalam diri bahwa usaha yang dilakukan akan berbuah hasil. Hal terpenting adalah, kita, memiliki keyakinan bahwa Tuhan akan berkehendak baik atas usaha yang dijalani. Di sinilah peran doa yang mengkristal dalam setiap derap langkah untuk mencapai apa yang dicita-citakan.
Ketiga, naikan usahamu untuk meraih tujuan. Nasibmu ditentukan oleh cara kerjamu, maka berusahalah. Tanpa usaha, tidak akan pernah ada hasil. Tujuan yang hanya diimpi-impikan, bagaikan lamunan di siang hari. Untuk meraihnya maka diperlukan usaha dan perjuangan. Just Do It, lakukan saja. Karena Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang kecuali ia yang berkeinginan mengubahnya.
Keempat, siapkan hati untuk menerima apapun hasilnya. Kondisikan hati agar dapat selalu menerima keadaan dengan lapang dada, karena manusia berusaha Tuhanlah yang menentukan. Di sinilah kita diasah agar mampu membuat keadaan hati dan jiwa tetap tenang. Mengikhlaskan segala hasil yang akan didapat dari usaha yang telah dilakukan dan meyakini bahwa segala usaha baik, akan berbuah hasil yang baik.
Selamat mengoptimalkan potensi diri pada puncak tertinggi Anda di sanalah titik kulminasi akan muncul menutupi bayang-bayang kegagalan.
*Antoni Ludfi Arifin, senang dipangil ALA, lahir di Kotabumi Lampung Utara pada tanggal 11 Juni 1977.
Info selengkapnya di facebook: antoniludfi.arifin@facebook.com
Telah di baca sebanyak: 720
THE FORENSIK OF FORGIVENESS, Part One
December 28, 2011 by admin
Filed under Kolom Bersama
Banyak dari peserta saya, sebagian besar malah….sangat susah untuk memaafkan peristiwa / kejadian atau kesalahan masa lalu dan hal ini bisa berbagai macam bentuk, spt amarah terpendam, kekecewaan terpendam, kesedihan terpendam, benci, dendam dll. Hebatnya lagi semuanya ini bisa tersimpan tahunan, puluhan tahun bahkan sampai sdh kembali ke Tuhan tetap menyimpan emosi spt itu !
Yuuk mari kita renungkan bukankah sebagian karakteristik Tuhan adalah Memaafkan, Mengasihi dan Menyayangi?…bagaimana sikap Tuhan terhadap mahluk ciptaannya yg tadinya diciptakan dalam kondisi suci…..ketika kembali dalam kondisi belepotan kotoran yang disimpan dalam bentuk emosi2 negatif spt itu ! Sedangkan sebagian besar kotoran ini adalah dampak dari emosi2 antar manusia !
Masih kental dalam ingatan saya ketika masih kecil pertama kali mandi sendiri keluar dari kamar mandi..di cek sama sang ibu..masih ada kotoran / belum bersih disuruh kembali utk mandi kedua kalinya !………bayangkan kalau kita kondisi kotor begitu menghadap Tuhan…apa kira2 sikap Tuhan?……bukankah ini urusan antar manusia !…..dalam Islam disebut “Hablu Minanas”……lha Tuhan tidak bisa bela’in kita…selama kita tdk saling maaf dan memaafkan dengan tulus…inget ya dengan tulus!
Gini dech…bahasa gampangnya…selama kita bersikap, berperilaku yg merugikan diri sendiri dan orang lain (karena yg dinilai adalah reaksi / sikap kita dan bukan problem itu sendiri ! ) maka itu tidak bisa dihapus dengan segala macam bentuk ritual pengaduan kita pada Sang MAHA PEMAAF untuk dimaafkan. Yang di Maafkan oleh Tuhan adalah keteledoran kita, kealpaan kita, kekilafan kita, EGO kita ! dan berikut janji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama ! namun untuk urusannya kepada sesama manusia ini bersubstansi RELEASE EMOTION, HUMAN BEING CONNECTION, PERSONAL RESPONSIBILITY and HUMAN BEING AWARENESS !, menurut hemat saya caranya ndak ada lain tetap harus MINTA MAAF DAN MEMAAFKAN secara TULUS DAN BUKAN SIMBOLIK, serta dilakukan sesegera mungkin !
Seperti Quotes of the day dibawah ini :
“The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong” . Gandhi
Yuuk kita sama2 merendahkan hati kita untuk memaafkan dan minta maaf kepada sesama….semangat berbagi dengan kerendahan hati.
True self Navigator, Baginda Dirga Pawana Ismangil,
Formulator TS-CODE Cracking Multidimensional Success Code,
CEO The Next Dimension Life Style Institute,
CEO The Next Dimension Consulting Group,
Founder The Next Dimension Universe of Resonance Code Network.
Find me at http://www.facebook.com/baginda.dirga
Email : baginda.dirga@gmail.com












