THE FORENSIK OF FORGIVENESS, Part One
December 28, 2011 by admin
Filed under Kolom Bersama
Banyak dari peserta saya, sebagian besar malah….sangat susah untuk memaafkan peristiwa / kejadian atau kesalahan masa lalu dan hal ini bisa berbagai macam bentuk, spt amarah terpendam, kekecewaan terpendam, kesedihan terpendam, benci, dendam dll. Hebatnya lagi semuanya ini bisa tersimpan tahunan, puluhan tahun bahkan sampai sdh kembali ke Tuhan tetap menyimpan emosi spt itu !
Yuuk mari kita renungkan bukankah sebagian karakteristik Tuhan adalah Memaafkan, Mengasihi dan Menyayangi?…bagaimana sikap Tuhan terhadap mahluk ciptaannya yg tadinya diciptakan dalam kondisi suci…..ketika kembali dalam kondisi belepotan kotoran yang disimpan dalam bentuk emosi2 negatif spt itu ! Sedangkan sebagian besar kotoran ini adalah dampak dari emosi2 antar manusia !
Masih kental dalam ingatan saya ketika masih kecil pertama kali mandi sendiri keluar dari kamar mandi..di cek sama sang ibu..masih ada kotoran / belum bersih disuruh kembali utk mandi kedua kalinya !………bayangkan kalau kita kondisi kotor begitu menghadap Tuhan…apa kira2 sikap Tuhan?……bukankah ini urusan antar manusia !…..dalam Islam disebut “Hablu Minanas”……lha Tuhan tidak bisa bela’in kita…selama kita tdk saling maaf dan memaafkan dengan tulus…inget ya dengan tulus!
Gini dech…bahasa gampangnya…selama kita bersikap, berperilaku yg merugikan diri sendiri dan orang lain (karena yg dinilai adalah reaksi / sikap kita dan bukan problem itu sendiri ! ) maka itu tidak bisa dihapus dengan segala macam bentuk ritual pengaduan kita pada Sang MAHA PEMAAF untuk dimaafkan. Yang di Maafkan oleh Tuhan adalah keteledoran kita, kealpaan kita, kekilafan kita, EGO kita ! dan berikut janji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama ! namun untuk urusannya kepada sesama manusia ini bersubstansi RELEASE EMOTION, HUMAN BEING CONNECTION, PERSONAL RESPONSIBILITY and HUMAN BEING AWARENESS !, menurut hemat saya caranya ndak ada lain tetap harus MINTA MAAF DAN MEMAAFKAN secara TULUS DAN BUKAN SIMBOLIK, serta dilakukan sesegera mungkin !
Seperti Quotes of the day dibawah ini :
“The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong” . Gandhi
Yuuk kita sama2 merendahkan hati kita untuk memaafkan dan minta maaf kepada sesama….semangat berbagi dengan kerendahan hati.
True self Navigator, Baginda Dirga Pawana Ismangil,
Formulator TS-CODE Cracking Multidimensional Success Code,
CEO The Next Dimension Life Style Institute,
CEO The Next Dimension Consulting Group,
Founder The Next Dimension Universe of Resonance Code Network.
Find me at http://www.facebook.com/baginda.dirga
Email : baginda.dirga@gmail.com
Don’t Judge a Book by It’s Cover
November 14, 2011 by admin
Filed under Kolom Bersama
Case-1:
Tugas utamaku adalah mengantar jemput bos kemanapun dia pergi. Karena itulah aku sering mengendarai mobil mewah milik bos, kadang berdua dengan bos namun tidak jarang sendirian. Kejadian seperti ini sudah sangat sering, yaitu tatkala aku disuruh untuk menjemput bos dari sebuah pertemuan di sebuah hotel bintang lima di Jakarta.
Seperti biasa, meluncurlah aku dengan segera ke sana. Memasuki gerbang hotel, selalu aku mendapati pemandangan yang luar biasa. Mata kepalaku sendiri melihat bagaimana para satpam dan petugas parkir berebutan menarik perhatianku. Ada-ada saja ulah mereka, dari sekedar memberikan hormat, beramah-tamah, bahkan banyak yang berlomba-lomba menyapaku dengan panggilan agung: BOS. Dalam hati aku hanya bisa tersenyum geli saja. Belum tahu mereka bahwa mobil ini bukan punyaku.
Namun kejadian seperti ini sering juga terjadi. Entah alasan tertentu, secara mendadak aku disuruh untuk mengantarkan sesuatu ke bos. Lokasinya juga di hotel. Untuk mengejar waktu, aku pun naik motor bututku, karena lebih fleksibel, cepat, dan bisa menyiasati kemacetan. Di sini sebuah pemandangan yang sangat ironi aku dapatkan. Memasuki gerbang hotel, jangan pernah berharap akan mendapatkan perlakuan istimewa yang sama sewaktu naik mobil. Jangankan disapa, dilirik pun tidak. Bahkan aku sering diminta putar lewat pintu belakang untuk parkir.
Case-2:
Aku adalah seorang wanita biasa, hidup di lingkungan sederhana, dan tentunya penampilanku standar-standar saja. Layaknya impian dan harapan teman-teman sebayaku, aku juga mempunyai asa yang sama untuk sekali-kali menikmati kemewahan dan indahnya diperlakukan istimewa.
Mimpiku sepertinya terjawab kala suatu hari seorang pria mengajakku untuk menemaninya makan malam di sebuah restoran eksklusif seraya ketemu klien bisnisnya. Wah … ajakan tersebut langsung aku sambut dengan antusias. Akalku mengatakan, selangkah lagi impianku akan tercapai. Namun ada satu kendala, aku tidak mempunyai pakaian yang layak untuk dipakai. Aku pun menceritakannya kepada pria tersebut, dan untungnya dia mengerti kondisiku. Atas kebaikan hatinya dia pun memberikan sejumlah uang kepadaku untuk berbelanja.
Butik X adalah tempat yang sudah lama aku incar untuk berbelanja di sana. Selama ini aku hanya bisa melihatnya saja dari luar. Yah … aku mengerti kondisiku. Namun hari ini aku punya uang, jadi bukankah ini sebuah kesempatan istimewa bagiku untuk mampir dan berbelanja di sana?
Dengan penuh rasa percaya diri aku menginjakkan kakiku ke sana. Dan .. segera mataku takjub dan terpikat melihat gaun-gaun indah yang terpampang di sana. Mulailah aku melihat-lihat. Namun tidak sampai 5 menit aku tenggelam dalam keasyikkanku, seorang pramuniaga dengan pandangan aneh dan curiga mendekati.
Aku berpikir dia datang untuk membantuku mencarikan gaun spesial untuk malam itu, maka aku pun bertanya: maaf, yang ini berapa harganya.
Tapi … tahu jawaban apa yang aku dapat? Ini harganya mahal … sangat mahal.
Aku menjawab: mahalnya itu seberapa?
Dijawabnya kembali: pokoknya mahal sekali.
Tertegun aku mendengarnya. Tapi aku tidak diam begitu saja. Aku pun berkata: mungkin benar harganya mahal, tapi aku punya uang untuk membelinya.
Dan sebuah pernyataan yang menyinggung perasaanku membuat aku tidak tahan untuk keluar: Maaf, butik kami tidak cocok untuk orang seperti Anda. Ini butik eksklusif, ternama, dan hanya layak dikunjungi oleh golongan tertentu. Silakan keluar sebelum kehadiran Anda menganggu kenyamanan tamu kami yang lain.
Saat aku pulang dengan simbahan air mata dan menceritakan semuanya kepada pria yang mengajakku dinner, diapun marah dan tersinggung. Beruntung dia mempunyai kolega, dan dia merekomendasikan diriku untuk ke sana. Ibarat panas setahun yang terhapus oleh hujan sehari, demikianlah perasaanku ketika sampai ke sana. Aku diperlakukan dengan baik, penampilanku diubah, dan dalam sekejap aku bertransformasi dari wanita biasa menjadi wanita berkelas.
Ketika aku melewati butik tempat aku ditolak, timbul rasa isengku untuk melihat reaksi mereka. Aku pun masuk, dan … ajaib sekali. Dengan segera mereka mendatangiku, menyapa dengan ramah, memberi hormat, dan dengan segala kata-kata manis berusaha untuk menahanku supaya berbelanja di sana. Namun karena rasa sakit hatiku masih ada, aku pun bertanya: apakah Anda masih ingat aku?
Mereka menggeleng. Dan dengan penuh kemenangan aku menjawab: akulah wanita biasa yang kalian tolak kemarin.
Dengan lega, akupun keluar … meninggalkan mereka hanya bisa melonggo tak bersuara.
Case-3:
Aku hanyalah seorang pria kebanyakan. Kesukaanku adalah berpenampilan sederhana. Kalau jalan-jalan ke mal, seringnya pakai kaos, kadang berkerah kadang tidak dan dipadu celana casual dengan alas kaki sandal biasa. Apakah karena aku tidak sanggup berpenampilan eksklusif? Bukan, aku bisa saja. Namun semuanya itu sengaja aku aku lakukan hanya karena satu alasan saja: agar aku bisa jalan-jalan dan belanja dengan nyamanan.
Aku sering geli melihat sebagian orang yang tampilannya super luks: rambut tertata licin entah menghabiskan berapa gram foam atau minyak rambut, memakai kemeja yang kancingnya dibuka satu, di lehernya terpampang seuntai kalung sebesar rantai, serta bersepatu mengkilap. Pokoknya khas profesional muda yang berhasil. Kegelianku bertambah saat melihat mereka harus menolak tawaran-tawaran dari pramuniaga yang berseliweran di mal. Dari tawaran kartu kredit, kursi yang katanya bisa pijat sendiri, brosur pameran, alat penghemat listrik, dan beraneka promosi lainnya.
Bandingkan diriku yang berpenampilan seadanya, sangat jarang aku disodorin barang-barang semacam itu. Namun aku tidak merasa rendah diri, tidak pernah merasa dicuekin, malah aku menikmatinya karena aku bisa dengan bebas berlenggang ria semauku.
Pernah suatu hari, karena mendesak banget aku harus mampir ke supermarket di sebuah mal. Waktu itu aku baru dari sebuah acara formal, sehingga penampilanku boleh dikatakan agak berkelas. Karena berpikir efisiensi waktu, aku pun langsung meluncur ke sana. Dan … aku benar-benar merasa gerah dengan mereka-mereka yang mengeroyokku. Bukannya aku meremehkan mereka, bahkan kadang aku salut dengan perjuangan mereka untuk merintis karir. Tapi karena waktuku tidak banyak, ditambah rasa capek karena seharian beraktivitas, maka kehadiran mereka aku rasakan sebagai gangguan atas kenyamananku berbelanja.
Dan aku bertanya-tanya, kenapa di tempat yang sama sewaktu aku berpenampilan biasa aku tidak pernah diserbu, sedangkan saat aku berpenampilan sedikit wah langsung dikeroyok? Hmm … akal sehatku semakin memahami, bahwa penampilan sudah menjadi tolak ukur bagi sebagian orang untuk melihat status seseorang.
* * *
Don’t Judge a Book by It’s Cover. Begitulah case pertama yang aku dapatkan sewaktu perjalanan 2 hari kemarin ke puncak. Sopir kantor menceritakannya sampai detail begitu kala aku menanyakan suka-duka menjadi seorang sopir. “Wah … ternyata begitu yah, perlakuan yang berbeda-beda terhadap orang. Naik mobil mewah dipanggil Bos, sedangkan naik motor butut, tidak dianggap sama sekali,” katanya dengan polos.
Aku hanya bisa berkomentar pendek: beginilah dunia ini melihat sekelilingnya. Namun berbagai pertanyaan berputar di pikiranku yang membuatku tidak habis pikir: sedemikian jauhkah orang melihat atribut sebagai sebuah status? Kenapa penampilan luar kadang dijadikan sebagai kiblat akan keberadaan dan bentuk perlakuan terhadap seseorang? Benarkah seseorang dengan penampilan necis selalu dipandang dibandingkan dengan orang yang penampilannya biasa-biasa saja?
Don’t Judge a Book by It’s Cover. Kala tenggelam dalam perenunganku, entah dari mana selembar adegan dalam film Pretty Woman dengan Julia Roberts dan Richard Gere hadir begitu saja. Aku mencoba menarasi ulang agedan tersebut berdasarkan imajinasiku menjadi case-2, yang ingin menyampaikan bahwa sudah separah itulah sekeliling melihat kita dalam sebungkus penampilan. Dan aku memang geram waktu melihat mata-mata yang langsung jelalatan kala mendapati seseorang dengan penampilan metereng, tetapi tatapan sinis diarahkan kepada seseorang yang berpenampilan sederhana. Namun aku tidak kuasa untuk menahan dan mengubahnya. Yang bisa aku lakukan hanyalah diam seribu bahasa.
Don’t Judge a Book by It’s Cover. Itulah pengalaman pribadiku dalam case-3. Dan aku tidak tahu harus bertanya kepada siapa lagi, dan mengapa semua itu terjadi. Yang dapat aku lakukan hanyalah mengelus dada, dan berharap semoga suatu hari kelak semuanya itu berlalu seiring berhembusnya angin malam. Aku tidak mungkin bertanya lagi pada alam, soalnya konon dia udah pindah hehehe … dan biarlah lirik Ebiet G. Ade dalam lagunya Berita Kepada Kawan menginspirasi diriku untuk bertanya juga kepada rumput yang bergoyang.
Tapi dari kesemuanya, tidak fair aku memukul rata bahwa semua orang bersikap seperti itu. Aku masih percaya tindakan seperti itu hanyalah tindakan segelintir orang saja. Banyak dari mereka-mereka yang masih jernih mata hatinya, dan mereka benar-benar tulus dalam berperilaku. Dan aku yakin mereka juga mengenal ini: tidak pernah menghakimi seseorang berdasarkan bungkusnya saja …
*) penulis dapat dihubungi langsung di bun.hendri@gmail.com
Telah di baca sebanyak: 65Ctrl + Z
November 1, 2011 by admin
Filed under Kolom Bersama
Aku yakin hampir semua tahu apa itu Ctrl+Z. Pengguna produk Microsoft pasti familiar dengan itu. Anda yang sering bekerja di program Office bisa dipastikan hampir setiap hari menekan tombol itu.
Yap … Ctrl+Z yang juga akrab disapa Undo adalah feature yang sangat membantu. Tatkala dengan tidak sengaja kita menghapus sebagian teks di Word, dengan mudah dan cepat kita bisa mengembalikannya hanya tekan Ctrl+Z. Saat iseng mengotak-atik rumus di Excel, trus error, Ctrl+Z seakan menjadi penyelamat kita yang tepat waktu. Atau ketika secara tidak sengaja kita men-delete file di Desktop, yang semula kita pikir itu hanyalah Short Cut, asalkan kita belum terlanjur mengotak-atik yang lain, maka Ctrl+Z menjadi senjata ampuh untuk untuk mengembalikan file tersebut.
Singkat kata, Ctrl+Z sangat membantu di kala kita melakukan sebuah kesalahan di dunia komputer, baik sengaja maupun tidak disengajakan.
Namun, Ctrl+Z tidak selalu berhasil. Bukan karena kesalahan sistem, tapi lebih karena kesalahan user alias kita sendiri. Pengalamanku pernah membuktikannya. Waktu itu aku sedang mempersiapkan bahan training yang rencananya akan digunakan keesokan harinya. Alhasil seharian aku duduk manis depan lapty, mempercantik, menambah fitur, dan merancang seindah mungkin bahan tersebut supaya memikat mata yang memandang. Dan … mendekati jam 16.30 selesai juga.
Nah … saat iseng-iseng mereview lagi hasil kerjaanku, datang rekanku minta tolong untuk rapiin bahan presentasi. Karena memburu waktu pulang, aku pun berpikir praktis. Ah … pakai aja template bahan tadi, biar cepat selesai, demikian pikirku. Namun, aku melakukan kelalaian dan kesalahan, yaitu aku lupa tekan menu File -> Save As … Akibatnya bisa ditebak, bahan training yang aku kerjakan seharian hilang tak berbekas alias ketimpe bahan presentasi tersebut. Sambil berdoa dalam hati, aku tekan Ctrl+Z berulang-ulang, tapi tidak ada hasilnya.
Dan … sambil merenungi nasibku yang malang itu, terpaksa aku berlembur ria mengerjakan ulang bahan training tersebut sambil geleng-geleng kepala seakan tidak percaya, kok bisa gitu loh. Aku yang kata teman-teman orang yang paling teliti bisa melakukan kesalahan dan kekonyolan seperti itu juga. Tetapi itu sebuah hikmah. Semenjak itu aku pun memberi perhatian lebih pada layar kiri atas lapty, memastikan bahwa nama file yang aku edit saat itu adalah yang benar sebelum aku menekan Ctrl+S alias Save.
* * *
Kadang aku berpikir, seandainya hidup ini bisa di Ctrl+Z juga, kira-kira apa yah yang akan terjadi? Hmmm … menarik sekali membayangkan dan mengimajinasikannya.
Saat dengan tidak sengaja aku menyenggol gelas minum di mejaku, trus pecah dan airnya meluncur leluasa hingga menggenangi kertas dokumenku, menggeliat dengan manis membasahi kalkulator hingga rusak, betapa bahagianya aku saat itu seandainya bisa di Ctrl+Z.
Tatkala aku sedang melaju di jalan, mendekati perempatan dengan lampu lalu lintasnya sudah kuning, namun aku melihat kendaraan di depanku terus melaju dan aku pun mengencangkan gas kendaraanku tidak mau ketinggalan dalam rombongan besar itu. Sayang, saat aku lolos dari perempatan, pak polisi sudah menunggu aku dengan senyum dan penuh wibawa … Ah … coba waktu bisa di Ctrl+Z …
Ketika sedang rapat, secara iseng aku menyelutuk dengan maksud guyon supaya suasana tidak tegang, namun disalah artikan pimpinan rapat. Alhasil aku pun dikecam, diceramahin habis-habisan, dan diberi tugas ekstra sebagai penebus keisenganku … Aku berandai-andai, coba aku bisa menekan tombol Ctrl+Z …
Minggu malam, ada siaran langsung sepakbola big match yang sayang untuk dilewatkan. Maka dengan sengaja aku bergadang sampai subuh hanya mempelototi 24 pemain memperbutkan sebuah bola. Padahal aku sadar bahwa besok aku harus berangkat ke kantor lebih awal karena ada tugas yang harus diselesaikan. Alhasil, karena tidur kemalaman, aku pun bangun kesiangan … dan bisa ditebak, kerjaanku molor dan agenda hari itu berantakan. Coba … sekiranya aku bisa tekan Ctrl+Z kembali ke malam sebelumnya, dan tidur lebih awal …
Waktu di sebuah persimpangan yang memaksa aku memilih ke kanan atau ke kiri, aku juga berharap bisa memakai Ctrl+Z. Ketika pilihanku ternyata salah, dengan mudah aku bisa kembali ke posisi awalku untuk memilih jalan satunya lagi … i wish, i can press Ctrl+Z …
* * *
Namun itulah hidup. Tidak segampang dan semudah kita menekan Ctrl+Z. Waktu terus berlalu dan mustahil kita bisa mengembalikannya. Ada pepatah yang mengatakan: Yesterday is the past. Tomorrow is the future. Today is a gift and that’s why we call it the present. Aku menyukai maknanya.
Kita hidup di hari ini, sekarang, dan saat ini juga. Apapun yang kita katakan, kerjakan, dan karyakan selalu mengundang resiko. Untuk itu, bersikap bijaksanalah dalam melakoninya.
*) penulis dapat dihubungi langsung di bun.hendri@gmail.com
Telah di baca sebanyak: 51Kesadaran
October 10, 2011 by admin
Filed under Kolom Bersama
Saya menulis kata “KESADARAN” distatus handphone, beberapa menit kemudian saya menerima beberapa pesan sedikit menggoda dari teman berkomentar, “Jadi selama ini pingsan ya? Baru bangun? Koq baru sadar? Dan seterusnya.
Ya betul sekali. Saya setuju dengan para sahabat kalau saya baru saja terjaga dari tidur panjang dan sekarang sudah sadar. Betul saya baru sadar!
Kesadaran yang saya maksud di sini adalah apa yang saya sebut kesadaran sejati. Yaitu tahu ketika sesuatu sedang dilakukan, dapat merasakannya dan terkendali dengan baik.
Kesadaran berarti bangun dan terjaga.
Anda, saya dan kita semua setiap hari sibuk mengejar karier, berbisnis dan menjalankan aktivitas hidup masing-masing. Kita larut dan tenggelam dalam rutinitas ini, bahkan sebagian besar kegiatan itu dijalankan tanpa sadar seolah-olah sudah terprogram dengan baik dan tubuh hanya bagaikan robot untuk menjalankan semua itu. Hidup yang sudah benar-benar terpola.
Satu contoh yang simpel, bernafas. Setiap detik kita bernafas menghirup oksigen dan kita tahu bahwa kita harus bernafas kalau tidak artinya mati. Tapi apa kita masih sadar ketika menarik setiap oksigen yang masuk melalui tarikan nafas? Atau ketika nafas dihembus keluar? Berapa banyak di antara kita yang masih sadar atas rutinitas ini? Mungkin sebagian kecil dari kita tahu, tapi lebih sering tidak menyadarinya, kapan tarikan dan hembusan nafas itu terjadi. Kita tidak mau tahu apalagi peduli karena bernafas sudah berjalan dengan baik, otomatis. Nanti ketika masalah datang baru diperhatikan. Sama seperti sebuah mesin, bila dia bisa berjalan lancar ya sudah biarkan saja, tapi bilamana bermasalah baru kita berusaha mengatasinya.
Contoh lainnya adalah ketika bangun tidur dipagi hari, hal pertama yang saya lakukan adalah mandi. Meskipun saat itu kondisi saya masih mengantuk dan setengah sadar atau sedikit oleng karena belum sadar betul tapi untuk aktivitas mandi tidak mungkin terlewatkan. Mungkin ada di antara kita yang tidak mandi pagi? Bagi kita orang Indonesia rasanya mustahil… Apakah kita pernah menyadari hal ini? setidak-tidaknya bertanya pada diri sendiri berapa lama sudah aktivitas mandi pagi ini saya jalankan? Apakah kita melakukannya dalam kondisi sadar? Atau bagaikan robot yang sudah terprogram dengan pasti?.
Tentu masih banyak lagi aktivitas kita sehari-hari lainnya yang terjadi dalam kondisi tanpa sadar dan terjadi begitu saja, bahkan saat melangkahkan kaki pun kita tidak sadar kaki kiri atau kaki kanan, tertawa dan bicara juga sering kali tak sadar. Semua terjadi begitu saja, berlalu dan hilang. Lalu berapa banyak kegiatan sehari-hari yang disadari? Saya belum dapat menemukan data statistik ini atau mungkin juga belum ada penelitiannya, tapi saya pernah mencoba untuk menghitung dalam satu hari berapa banyak perbuatan yang saya sadari. Hasilnya lebih banyak yang tidak disadari dari pada yang disadari. 97% terjadi begitu saja. Ini kenyataannya.
Ketidaksadaran disebabkan pikiran bercabang karena sudah terbiasa berpikir dari satu persoalan ke persoalan lainnya. Pikiran selalu berubah-ubah dan dengan mudah lompat-lompat, berselancar, berkelana dan terbiasa bebas (tanpa terkontrol) mencari sesuatu yang menyenangkan sehingga sukar untuk dikendalikan, akibatnya kita tidak fokus, emosional, stres, gelisah dan lain sebagainya.
Kita terlalu mencintai pikiran-pikiran itu.
Pikiran adalah milik pribadi. Sesuatu yang menjadi milik pribadi maka kita yang punya hak penuh atas barang tersebut. Terserah mau kita apakah barang tersebut, apakah mau kita kendalikan atau dibiarkan bebas sebebas-bebasnya dan kitalah yang menentukannya. Karena kita adalah tuan atasnya. Demikian juga terhadap pikiran, meskipun sifat pikiran seperti di atas selalu berubah-ubah, lompat-lompat, berselancar, bebas dan mencari sesuatu yang menyenangkan bukan berarti kita tidak bisa mengontrol pikiran itu. Kita bebas memerintahkan pikiran, menyuruh dia melakukan apa yang kita mau, dan sebagai hamba maka pikiran itu harus mau tunduk menuruti tuannya.
Cara terbaik untuk mengendalikan pikiran adalah pertama-tama menyadari bahwa pikiran itu liar, lalu meditasi untuk melepaskan semua pikiran liar itu. Dengan meditasi kita melatih mengendalikan pikiran, bila pikiran sudah terkendali maka kesadaran muncul.
Ciputra, pengusaha properti terpandang pernah berkata setiap saat dia berpikir dan dia merasa sial karena tidak bisa berpikir selama tidur. Ini pengakuan sangat jujur, yang menunjukkan bukti bahwa pikiran itu memang liar dan tidak kenal lelah bekerja.
Kesadaran bukan sekedar penting bagi diri sendiri tetapi dalam banyak kesempatan juga berguna bagi lingkungan di mana kita ada. Ketika kesadaran itu terpelihara dengan baik dan melekat pada diri maka kita akan tampil menjadi pribadi yang berbeda. Mengapa ini bisa terjadi? karena kesadaran membawa kita kepada toleransi, empati, belas kasihan, tenang, bahagia dan rendah hati.
Pribadi yang beda itu mungkin saja, kalau dulu emosional maka sekarang lebih dapat mengendalikan emosi karena menyadari kondisi emosional tersebut. Apabila kita menyadari saat ini kita sedang dalam kondisi emosi tentu kita bisa langsung mengendalikannya, tetapi sebaliknya bila kita tidak menyadarinya maka emosi itu akan terus berlanjut dan berkembang. Gampangnya begini, Anda berjalan di bawah terik matahari yang sangat panas pada siang hari, bila Anda tidak menyadari terik matahari itu panas maka Anda akan terus berjalan sampai Anda menyadari terik matahari itu panas menyengat. Pada saat menyadarinya maka tubuh akan minta untuk berteduh atau menghindari teriknya panas dan disaat panas muncul, rasa haus dan keringat juga datang.
Saat ketenangan berdiam dalam diri maka perasaan menjadi nyaman, damai dan bahagia. Tubuh lebih relaks dan sistem sirkulasi darah dalam tubuh bekerja lebih baik. Sehingga segala energi negatif seperti emosi, egois, kebencian akan sirna terkikis energi positif yang timbul. Bahkan penyakit pun menjauh.
** Toni Tio dapat dihubungi di: cornelius.tonitio@gmail.com
Telah di baca sebanyak: 28Mengembangkan Budaya Saling Mendukung
September 12, 2011 by admin
Filed under Kolom Bersama
Salah satu kendala atau hambatan yang dialami oleh suatu oragnisasi atau institusi dalam mencapai tujuan yang akan dicapai adalah belum terciptanya kebiasaan “saling mendukung” diantara para pegawainya. Mereka masih terkungkung oleh kepentingan individu dalam menjalankan tugasnya masing-masing. Adanya job distribution (pembagian tugas) menjadi alasan pribadi untuk menjalakan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya sendiri. Ironisnya, masing-masing dari individu yang sudah merasa menjalankan tugas sesuai dengan beban yang disandangnya, mereka menganggap tidak lagi membutuhkan campur tangan dari rekan sekerjanya. Akibatnya kualitas pencapaiannya tidak maksimal.
Seorang guru yang berhasil menemukan metode pembelajaran baru dengan mengaplikasikan pendekatan mengajar yang lebih atraktif, kemudian metode tersebut ditulis dalam bentuk laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), kurang mendapat respon positif dari rekan guru yang lain. Demikian pula ketika seorang guru menjuarai lomba Penulisan Karya Ilmiah PTK, atau prestasi lainnya, mereka tidak tertarik untuk memberikan apresiasi atau sekedar ucapan selamat.
Seorang siswa yang selalu berprestasi di kelas hanya ditanggapi dingin oleh teman-temannya. Mereka terkesan tidak menganggap perlu untuk mengetahui lebih jauh bagaimana dia bisa berprestasi.
Pemandangan seperti itu masih terlihat kental di lingkup kehidupan kita. Mereka tidak menganggap penting untuk mengetahui bagaimana achievement (prestasi) itu bisa diraih oleh temannya. Bahkan ada beberapa rekan yang merasa tidak senang dengan prestasi yang diraih oleh temannya. Sifat individual masih mendominasi pikiran mereka. Mereka acuh tak acuh, apalagi jika mereka menganggap prestasi tersebut tidak mendatangkan keuntungan secara langsung kepada mereka.
Dengan atau tanpa disadari, sebenarnya sikap seperti itu justru bisa berdampak kurang baik bagi mereka. Mereka akan menjadi pribadi yang close-minded baik terhadap prestasi orang lain, terhadap informasi terkini maupun terhadap perubahan (change). Sebagai konsekuensinya, mereka akan mengalami kehidupan yang statis (tidak ada kemajuan). Potensi diri yang telah dianugerahkan oleh Tuhan kepadanya akan tersumbat, karena pikiran yang tertutup. Bahkan mereka menganggap dirinya tidak memiliki potensi.
Setiap manusia adalah luar biasa. Mereka telah dikaruniai potensi yang luar biasa dahsyat oleh Sang Mahapencipta. Tuhan menciptakan kita dalam sebaik-baik bentuk, dengan sebaik-baik kondisi dan dengan sebaik-baik sarana. Tuhan telah memberi aset kepada setiap manusia yang bisa dijadikan modal dalam meraih prestasi.
Anda adalah apa yang Anda pikirkan. Pikiran positif akan menghadirkan kekuatan positif dalam diri Anda. Pikiran positif akan mendorong Anda untuk bersikap dan bertindak secara positif. Keuntungan yang bisa Anda peroleh dari berpikir positif adalah Anda akan melakukan hal-hal positif, dan pada akhirnya Anda akan memperoleh hasil yang positif pula.
Belakangan, saya mendapat pelajaran berharga tentang indahnya budaya saling mendukung. Pelajaran berharga tersebut berawal dari sebuah kata-kata bijak yang berbunyi “jika Anda ingin sukses, bergaulah dengan orang-orang sukses. Jika Anda ingin menjadi orang baik, bergaulah dengan orang-orang yang baik. Kepribadian seseorang sangat ditentukan oleh dengan siapa dia bergaul”.
Saya selalu mencoba untuk melebarkan sayap dengan terus mencari dan menjalin hubungan dengan mereka. Dan ternyata hasilnya sungguh luar biasa. Kesan yang dapat saya tangkap dari hasil interaksi saya dengan mereka adalah saya menemukan sebuah ketulusan dalam hal mendukung setiap ide kreatif, memberikan saran dan memberikan dukungan moril secara tulus ikhlas. Kesan tersebut saya peroleh ketika saya mencoba meminta endorsement atas buku yang saya tulis. Responnya sungguh luar biasa. Apresiasi nan tulus dan apa adanya mereka berikan setelah membaca buku saya. Inilah bentuk ketulusan apresiatif yang sangat berharga buat saya. Ketulusan untuk mendukung hasil karya saya yang notabene orang yang belum mereka kenal.
Seandainya sikap saling mendukung bisa berjalan lebih efektif di lingkungan Anda, saya yakin embrio kesuksesan yang diperoleh oleh teman-teman Anda akan merembet ke teman-teman yang lain. Mengapa demikian? Karena bagaimanapun juga kesuksesan yang diraih oleh seseorang selalu meninggalkan petunjuk. Bahwa orang-orang yang berhasil mencapai kesuksesan, pasti telah melakukan hal-hal spesifik dalam mencapai prestasi tersebut.
Proses menularnya embrio kesuksesan tentunya harus diawali dari ‘rasa penasaran dan rasa keingintahuan” Anda terhadap kesuksesan yang telah diraih oleh orang lain. Kesuksesan tidak akan menular kepada orang yang memiliki closed-minded (pikiran tertutup).
Pikiran yang tertutup harus segera dibuka. Biarkan sebagian orang di sekitar Anda lebih memilih menutup diri pikirannya. Biarkan mereka berbeda dengan Anda, karena Anda adalah pribadi yang unik. Anda lah yang paling tahu tentang diri Anda, tentang pikiran positif, tentang sikap positif dan tentang keputusan positif yang Anda ambil. Orang lain tidak berhak mengintervensi keputusan yang Anda ambil. Keputusan untuk membuka pikiran Anda semata-mata buah dari keputusan yang Anda ambil.
Pentingnya membuka pikiran yang berefek pada sikap “keingintahuan” Anda akan mendatangkan energi baru dalam diri Anda untuk menyamai prestasi yang telah diraih oleh rekan Anda, atau bahkan dalam level yang lebih tinggi.
Ki Hajar Dewantoro, seorang tokoh pendidikan, yang juga seorang pahlawan pendidikan nasional mengajarkan kepada kita bagaimana memberi dukungan, bersikap dan merespon kesuksesan yang telah diarih oleh orang-orang sukses. Beliau memberikan tips cerdas yang dikenal dengan “prinsip 3N”, yaitu Niteni (mengamati), Niroake (meniru), Nambahake (memberi nilai tambah).
Niteni (mengamati). Jika orang lain bisa melakukan suatu hal maka kita pun memiliki peluang yang sama besar untuk melakukan hal tersebut. Kalau suatu hal mungkin bagi orang lain, maka hal tersebut juga mungkin bagi kita.
Niroake (meniru). Selama kita memiliki hasrat yang membara untuk terus mengamati, merespon hasil karya orang lain, meniru dan memodifikasikan sesuatu yang telah diarih oleh orang lain, maka kita pun memiliki peluang yang sama untuk dapat melakukannya.
Nambahake (memberi nilai tambah). Langkah ini bisa kita ambil dengan cara menduplikasikan, lalu memodifikasikan model kesuksesan yang berhasil dilakukan oleh orang lain, dengan sasaran yang lebih sempurna.
Selamat mengeksplorasi potensi luar biasa yang Anda miliki dan salam sukses.
*) SUPANDI, S.Pd.,MM.adalah Guru SMP Negeri 2 Binangun-Cilacap, Alumni Writer Schoolen angkatan 17, Supandi dapat dihubungi melalui: supandi_mm@yahoo.com
Telah di baca sebanyak: 23Essay untuk Pejabat Trias Politika
September 6, 2011 by admin
Filed under Kolom Bersama
Tok….tok….tok….Hai para pengelola negeri, ijinkanlah kami rakyatmu mengetuk pintu hati nuranimu. Mohon dibukakan barang sedikit agar kalian melihat kenyataan hidup yang dialami rakyatmu ini. Kini kami menjerit karena harga-harga pangan melejit. Kami harus berencana lebih teliti sebelum membeli daging sapi atau daging ayam atau bahkan sekedar telor ayam karena harganya melambung. Di beberapa tempat, kenaikan hingga dua kali lipat mungkin kalian anggap biasa. Tapi bagi kami, bagaimana bisa meningkatkan gizi anak-anak kami?
Seperti biasa, setiap menjelang lebaran harga naik seolah tanpa kontrol. Kejadian yang merupakan suatu keniscayaan di setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri. Hukum pasarkah yang berlaku? Dimanakah peranmu, hai, para pengelola negeri? Mengapa kalian bergeming saja melihat kejadian yang selalu berulang itu? Bukankah kalian berkuasa, bahkan berkewajiban, melindungi kami rakyatmu dari hisapan pasar yang bersifat rakus? Apakah kalian terlalu sibuk memikirkan partai, kelompok, kepentingan kalian sendiri sehingga lupa akan amanah yang kami berikan padamu untuk mengelola negeri ini berikut kehidupan kami? Lebih memilih membereskan kekacauan di dalam kelompok kalian sendiri dibanding keresahan yang dialami rakyatmu?
Kamipun tidak habis pikir, negeri yang dianugerahi Sang Pencipta dengan bentangan pantai terpanjang ini harus impor garam? Kamipun bingung, dengan lahan yang sedemikian luas mengapa kelapa, teh, kopi dan cabai mesti didatangkan dari negara tetangga? Kami juga masih tidak mengerti, daging sapi, daging ayam dan telur pun harus diimpor? Apakah ada dari kalian para pengelola negeri ini yang diuntungkan dengan adanya bisnis imporisasi produk-produk itu? Ataukah kalian beralasan karena produksi dalam negeri tidak mencukupi sehingga harus bertransaksi dengan dollar? Seandainya alasan itu benar, sekali lagi seandainya benar, mengapa bukannya kalian memberdayakan kami supaya bisa bertani dan beternak dengan lebih efektif sehingga kebutuhan dalam negeri bisa tercukupi?
Semoga ketukan kami kalian dengar, hai, pengelola negeri. Janganlah kau ubah sifat utamamu sebagai pengelola menjadi penguasa, budak nafsu kuasa, yang cenderung mencaplok segala demi keuntungan diri.
Tok…tok…tok….Hai para wakil rakyat, perkenankan kami rakyat yang kalian wakili mengetuk pintu lubuk hatimu. Kalian disebut wakil rakyat yang terhormat, maka sudilah mendengarkan keluh kesah kami supaya tetap menjadi terhormat di mata kami. Kami sering bertanya-tanya, apakah bangsa ini menderita kepribadian ganda atau yang lebih terkenal disebut schizophrenia? Bagaimana tidak, bangsa yang menempatkan cita-cita mulia, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai salah satu pilar konstitusi, namun tidak ada keseriusan menggarap pendidikan. Bagaimana bisa mencerdaskan generasi muda negeri ini jika mereka harus bersesakan di ruang sempit untuk belajar karena ruang kelas mereka sudah tak beratap? Sesak batin kami ketika menunggu hingga 5 tahun namun tidak juga ada perbaikan bagi sekolah kami di Kediri? (kompas.com 26 Mei 2011). Semakin menyesakkan ketika menyadari ada lebih dari dua ratus ribu ruang kelas yang rusak (kompas.com 30 Maret 2011).
Dimanakah peranmu, hai, wakil rakyat yang terhormat untuk mewujudkan cita-cita luhur pendiri bangsa itu? Bukankah dengan fungsi legislasi kalian dapat membuat undang-undang yang bisa menetukan arah pendidikan negeri ini? Bukankah dengan fungsi anggaran kalian bisa ikut menentukan seberapa besar perhatian negeri ini pada pendidikan? Bukankah dengan fungsi pengawasan kalian dapat menjaga jalannya proses pendidikan agar tetap berjalan di rel yang benar?
Dada ini makin sesak dengan kenyataan adanya bau busuk yang terhembus keluar dari tingkah polah kalian. Anggaran pendidikan yang minim masih saja kalian tilep. Dana yang mestinya bisa membuat gedung sekolah berdiri kokoh, kalian sunat. Hasilnya, spesifikasi bangunan pun tersunatkan. Alih-alih bisa bertahan puluhan tahun, belum genap dua tahun atap sudah ambruk. Bagaimana kecerdasan bangsa bisa terwujud jika tilep menilep dan sunat menyunat uang negara masih kalian lakukan. Sungguh, mafia anggaran dalam kelompok kalian ternyata tidak kalah kejamnya dengan mafioso dari negeri seberang.
Semoga ketukan kami kalian dengar, hai, wakil rakyat yang (masihkah) terhormat. Jangan jadikan diri kalian menjadi budak partai politik yang melupakan kami rakyat yang kalian wakili.
Tok…tok…tok…Hai kalian yang duduk di singgasana di balik meja hijau menegakkan hukum di negeri ini, perbolehkan kami rakyat kecil mengetuk pintu kalbumu. Benar, kami memang rakyat kecil. Tidak punya kuasa. Tidak punya modal. Tidak punya pengaruh. Namun, kami yakin bahwa hukum di negeri ini berlaku bagi siapapun dengan adil. Bahkan dewi keadilan menegakkan keadilan dengan mata tertutup supaya lebih menggunakan mati hati. Hukum berlaku untuk siapa saja. Kami percaya dan mengamininya.
Tetapi, apa yang kami percayai itu seringkali tidak sesuai dengan kenyataan. Kami, rakyat kecil, banyak merasakan ketidakadilan. Kalian tegas terhadap kami, tapi lembek pada penguasa politik maupun ekonomi. Kalian tidak ragu menghukum pencuri ayam, namun untuk mengetukkan palu pada koruptor rasanya berat. Ketika kami berlawanan secara hukum dengan mereka yang berkasta tinggi, baik itu dari sisi kuasa ataupun ekonomi, kekalahan menjadi suatu keniscayaan bagi kami. Hanya mengelus dada dan menahan napas untuk meredam kejengkelan yang bisa kami lakukan.
Sang Dewi Keadilan, yang dengan mata tertutup menggenggam pedang dan neraca, mungkin kalian modifikasi demi kepentingan kalian sendiri. Penutup mata yang membuatnya tidak pandang bulu mungkin kalian ganti dengan yang transparan, yang membuat mata silau akan kuasa dan harta. Pedang yang digenggam sengaja hanya diasah bagian bawah, sehingga tajam bagi kami, tumpul bagi kaum elit. Neraca mungkin sengaja tidak dikalibrasi yang membuatnya akan selalu tidak seimbang, lebih condong pada yang berdompet tebal dan berkuasa. Mantra ‘hukum bagi semua’ kini tinggal mantra.
Semoga ketukan kami kalian dengar, hai, pemegang palu keadilan. Jangan jadikan diri kalian budak kuasa dan uang. Jadilah penegak keadilan bagi semua.
Masih banyak sebenarnya keluh kesah yang akan kami sampaikan. Masih banyak hal melenceng yang kami lihat dan yang akibatnya kami rasakan. Kepada siapa lagi kami mengadu kalau tidak kepada kalian pemegang kuasa di eksekutif, legislatif dan yudikatif? Namun kami tidak langsung mendobrak pintu nurani kalian dengan berondongan keluhan. Kami coba dengan ketukan pelan. Kami lontarkan jerit hati dengan lembut. Kami percaya, nurani kalian masih peka.
*) YB Riyanto. Alumni Writer Schoolen ini dapat dihubungi langsung di y.briyanto@gmail.com
Telah di baca sebanyak: 10Kacang Harus Melupakan Kulitnya
January 10, 2011 by admin
Filed under Kolom Bersama
Seorang partner saya pernah bertanya “Pak, kok diajarkan semuanya ? Apa Bapak tidak takut nantinya setelah Bapak mengajarkan semua ilmu yang Bapak miliki mereka malah lupa pada Bapak, seperti kacang lupa pada kulitnya?” Hal ini terjadi karena ia melihat materi NLP Practitioner yang saya ajarkan lebih banyak dan lebih dalam pembahasannya, dibandingkan training sejenis di Indonesia. Saya katakan kepadanya ada empat alasan kenapa saya selalu total dalam memberikan sesuatu.
Pertama saya memiliki guru-guru yang luar biasa dalam hidup saya, Tung Desem Waringin, Krishnamurti, RH Wiwoho, James Gwee, Tim Hallbom (NLP Institute California), William Horton. Psy.D (NFNLP Florida), John Grinder (NLP Academy –London), Anthony Robbins, Stave G James (America Alliance of Hypnosis), Karl Nielsen (NLP & Coaching Institute Berlin), T Harv Eker dan Barnie Wee (Mind transformation Singapore), mereka selalu menjawab semua yang saya tanyakan dan tidak pernah menyembunyikan apa yang mereka ketahui. Karena semakin banyak memberi maka gelas, semakin kosong dan semakin kosong sebuah gelas,maka semakin banyak “air” yang bisa mengisinya.
Kedua, saya adalah orang yang terus belajar dan berkembang. Setiap tahunnya saya pasti melakukan upgrade keluar negeri jadi ilmunya pasti terus berkembang, oleh karena itu semua peserta NLP Practitioner dan Master practitioner saya diwajibkan untuk ikut kembali materi atau kelas yang sama pada angkatan berikutnya secara GRATIS. Ini bermanfaat untuk melakukan upgrade ilmu dan mengasah kembali “gergaji.”
Ketiga, saya balajar NLP Practitioner dari dua lembaga yang berbeda (NLP Institute -California, Mind transformation – Singapore) dan saya belajar NLP Master Practitioner dari tiga lembaga yang berbeda (Mind Transformation – Singapore, NLP Academy –London, NFNLP-Florida) dimana sebagian besar materinya berbeda, jadi saya tidak akan pernah kehabisan bahan saat saya membagikannya.
Dan keempat, power of vibration. Saat saya total, sungguh-sungguh dan tulus memberi, para peserta pasti akan dapat merasakan hal tersebut. Ini terbukti dari tingkat closing yang 90% dan bahkan ada kelas NLP Practitioner yang 100% pesertanya joint ke kelas NLP Master Practitioner. Lebih “gilanya” ada peserta yang sudah daftar untuk kelas NLP Trainer Training yang baru akan diadakan 2012.
Kemudian kepada partner saya ini saya mengatakan. Bagi saya kacang lupa kulitnya adalah pribahasa yang kurang tepat. Sudah semestinya kacang haruslah melupakan kulitnya, kalau ia mau tumbuh dan berkembang. Kacang yang tetap tinggal didalam kulitnya tidak akan pernah menghasilkan kacang-kacang yang lain. Sebaliknya jikalau ia keluar dari kulitnya kemudian tumbuh dan berkembang, baru ia akan dapat menghasilkan kacang-kacang yang lain. Menjadi egois kalau membiarkan sebuah kacang tetap tinggal didalam kulitnya sehingga akhirnya membusuk atau justru digoreng.
Dalam hidup ini saya pernah melatih beberapa trainer yang kemudian menjadi trainer yang handal, apakah mereka mengingat saya atau tidak itu bukan urusan saya lagi. Ada diantara mereka yang menjadi Motivator No.1 Asia, ada yang bekerjasama dengan pembicara terkenal asal Amerika dan membuka cabang coaching di Indonesia atau ada juga yang akhir saya perkenalkan dengan partner saya Tung Desem Waringin kemudian akhirnya kita menjadi partner bersama.Mereka sekarang telah berkembang dan bermanfaat bagi banyak orang.
Melihat kiprah mereka, membaca atau mendengar cerita tentang mereka saya merasa ketambahan energy ,semangat untuk berbagi ,membantu dan membimbing. Karena NLP bukanlah teori, NLP adalah PERBUATAN. Jadilah kacang yang melupakan kulitnya atau dalam pandangan yang berbeda yakni tidak bergantung pada kulitnya tetapi menjadi kacang yang bisa tumbuh, berkembang, menghasilkan lebih banyak kacang-kacang yang lain.
*) Ongky Hojanto adalah penulis buku Best-Seller “The Secret To Be More Success”, partner Penulis buku “Financial Revolution in Action” bersama Tung Desem Waringin. Narasumber OBROLAN Pagi motivasi di Pacific TV dan narasumber di SMART FM Indonesia ini dapat dihubungi langsung di www.ongkyhojanto.com
Telah di baca sebanyak: 14Balon Meletus
January 10, 2011 by admin
Filed under Kolom Bersama

Balonku ada 5, rupa-rupa warnanya.
Hijau kuning kelabu, merah muda dan biru.
Meletus Balon Hijau…Dorrr, Hatiku sangat kacau.
Balonku Tinggal Empat, Kupegang Erat-erat.
(Lagu Balonku)
Teman-teman tentu tak asing dengan lagu di atas. Teman-teman pernah meniup balon sampai meletus? Kalau ya, berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai balon tersebut meletus? Kurang dari 1 menit, 1 menit, 2 menit , dll? Kalo teman-teman bisa meniup cepat, saya kasih hadiah balon dech, hehe..
Pengalaman unik dan menyenangkan terjadi ketika saya mengikuti acara motivasi di Pekalongan, di mana sang pembicara memberikan games “meniup balon sampai meletus”, gampang to??? Semua peserta pun langsung semangat 45 untuk meniup balon, termasuk saya. Belum ada 1 menit, bunyi door…door…door sudah terdengar beberapa kali memenuhi ruangan, suasana ramai sekali karena peserta cukup banyak. Setiap ada balon yang meletus, semua bersorak kegirangan. Semuanya saling memberi semangat, ada yang bersorak sorai, ada yang tepuk tangan, ada yang tertawa, hahaha.. pokoknya suasana ramai sekali. Akhirnya semua peserta berhasil, dan masih tertinggal satu peserta yang balonnya tak kunjung meletus yaitu saya, haha…malu rasanya, namun saya yakin 100 % ketika yang lain BISA, maka saya pasti BISA. Sekuat tenaga saya meniup balon, suasana semakin ramai karena peserta tambah semangat menyoraki saya, ayoooo…ayooo, tiuppppp…tiupppp..saya pun jadi tambah semangat, tak lama kemudian balon meletus. Dooorrr. Huuuhft,,,Benar-benar Lega rasanya.
BELIEVE
Kalau saya mengamati semua peserta berhasil meniup balonnya sampai meletus dalam kurun waktu kurang lebih 1 menit, namun kenapa saya menjadi yang terlama? Ternyata, akar masalahnya berasal dari diri saya sendiri. Ketika mentor memberikan games meniup balon, saya akui perasaan saya langsung takut dan ragu. Jantung ini berdegup kencang, saking tidak yakinnya. Bisa tidak yaa, Bisa tidak yaa….padahal “cuma” meniup balon, sebuah aktivitas yang sepele. Namun aktivitas yang sepele akan menjadi berat, ketika kita memang menyepelekan dan tidak antusias. Semangat menjadi kendur.
Setiap keyakinan akan mempengaruhi tindakan. Ketika keyakinan kita positif, maka pikiran akan positif, hal ini akan berdampak pada tindakan positif yang akan menghasilkan hal yang positif pula. Sebaliknya Ketika keyakinan ini negatif, maka hati menjadi berat, bingung, ragu, nggak mantep, pikiran pun kacau, stress, dan akhirnya berpengaruh pada tindakan dan hasil yang didapat. Contohnya seperti kejadian yang saya alami di atas. Ketika disuruh meniup balon, hati saya langsung berkata: Meniup Balon Susah, ya ternyata memang susah walaupun akhirnya berhasil ditaklukkan.
Believe Positif : Pikiran Positif + Tindakan Positif -> Hasil yang Positif
Believe Negatif : Pikiran Negatif + Tindakan Negatif -> Hasil yang Negatif
Rumus di atas saya yakini akan berpengaruh besar dalam kehidupan pribadi dan tingkat produktivitas kita, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, kantor, bisnis, relasi, teman, sahabat, pacar, dan lain-lain karena setiap hari kita berhubungan dengan orang lain dengan berbagai macam kepribadian dan kepentingan yang berbeda, namun alangkah lebih baiknya jika kita menyirami hati kita dengan keyakinan positif, memberikan pupuk berupa pikiran positif dan tindakan yang positif, dan ujung-ujungnya kita pun akan memanen hasil yang positif nantinya.
PLANNING
Walaupun kelihatan gampang, ternyata meniup balon membutuhkan “strategi” untuk mengatur ritme dan nafas. Tidak asal tiup, karena ketika kita asal tiup bukan balonnya yang tambah gede, namun kita malah kehabisan tenaga, hehe. Ambil contoh pengalaman saya bekerja membuktikan bahwa ketika kita bekerja asal-asalan, tidak terprogram dan tidak punya rencana maka hasilnya pun akan tidak maksimal. Sepertinya kita tiap hari bekerja, sibuk sana sini, tapi kok tidak pernah selesai.
Perencanaan sangat penting di sini. Right from the Beginning, artinya semuanya sudah direncanakan dan dipersiapkan dengan benar sedini mungkin. Perencanaan (baca: Strategi) adalah salah satu kunci keberhasilan untuk meraih Dream Kita. Dengan perencanaan berarti ada target yang harus diraih, ada step by step yang harus dilalui, ada proses dan prosedur yang bekerja, dan resiko yang ada pasti bisa disikapi dengan lebih mudah. Semuanya tergantung dari diri kita sendiri.
JUST DO IT
Nah ini yang sering dilupakan dan menjadi kendala terbesar. Sudah punya Believe yang benar, sudah yakin 100 %, punya target dan rencana, namun mau melangkah kok berat. Lalu apa solusinya? pertanyaan ini pernah saya lontarkan kepada seorang pembicara di kelas. Mau tau Solusinya apa mas? ya tinggal melangkah saja, Just Do It. Simpel memang jawabannya, tapi susah melaksanakannya. Namun saya sangat setuju dengan jawaban tersebut, Rumusnya cuma satu: Action, Action, dan Action. Percuma saja ketika kita sudah punya dream yang besar, rencana yang indah namun takut melangkah. Faktor Resiko sangat berperan di sini.
Banyak orang yang ingin sukses, ingin maju, ingin kaya namun tidak mau ambil resiko. Akibatnya mereka mengambil jalan pintas atau jalan di tempat tidak kemana-mana. Padahal semakin besar dream kita, semakin besar resikonya. Semuanya butuh proses, kalau kita terlalu lama berpikir, akhirnya malah tidak jadi melangkah. Ibarat orang mau mandi, ya action saja. Tinggal masuk dan langsung mandi jebar jebur. Kalo di kamar mandi sabun habis, pasta gigi habis, handuk ketinggalan, itu soal Proses. Tinggal beli sabun dan pasta gigi, ambil handuk lalu lanjutkan mandi lagi.
Action 1 -> Proses 1 -> Evaluasi 1 -> Solusi 1 -> Action 2 -> Proses 2 -> Evaluasi 2 -> Solusi 2 -> Dst.
Siklus APES (Action, Proses, Evaluasi, Solusi) inilah yang pasti kita hadapi setiap hari. Yang menentukan berhasil tidaknya Action kita ya diri kita sendiri, Tidak ada Kata Gagal, yang ada hanyalah Proses yang harus kita alami sebagai pembelajaran dan pengalaman untuk berbuat lebih baik lagi. Hari ini Harus Lebih Baik dari Hari kemarin dan Hari Esok harus Lebih Baik, Lebih Sukses dan Lebih Mulia dari Hari ini. So, Just Do It. Selamat Berkarya, Selamat Beraksi, Salam Sukses dan Optimis Selalu !!!
*) Pratama Puji Widiyanto lahir di Pekalongan, 2 Agustus 1988. Alumni S1 FE UNSOED Purwokerto ini punya hobi berorganisasi, berwirausaha, silaturahmi, belajar, membaca, menulis dan sepakbola. Milanisti dan Fans berat Chelsea ini punya BIG Dream jadi Pengusaha Sukses Dunia Akherat, amien. Kesibukannya saat ini adalah bekerja, berwirausaha batik dan kue imoet, serta menjadi anggota komunitas bisnis dan motivasi. Contact Person : pratamapuji.widiyanto@gmail.com – 085 6260 4580
Sakit Gigi dan Sakit Hati
January 3, 2011 by admin
Filed under Kolom Bersama
Setiap kita pasti pernah mengalami kedua hal di atas, yang tentunya respon dari setiap kita akan berbeda terhadap dua hal tersebut. Sakit gigi adalah sakit secara fisik yang dapat menyebabkan pikiran kita terganggu. Saya yakin Anda tidakakan bisa bekerja secara optimal disaat sakit gigi sedang dating menghampiri Anda. Jangankan bekerja secara optimal, mendengarkan suara yang keras, bunyi bisingpun mungkin akan membuat Anda yang lagi sakit gigi akan naik pitam. Untuk sakit yang jenis ini ada dokter spesialis yang akan membantu Anda menanganinya, sedangkan untuk sakit yang kedua adalah sakit hati. Sakit yang secara fisik tidak kita alami akan tetapi terjadi didalam pikiran kita sendiri. Walaupun tidak berhubungan secara langsung dengan cedera fisik, kerusakan fisik, atau masuknya virus dan bakteri kedalam tubuh, sakit ini bisa menyebabkan produktifitas kita menurun, emosi kita meningkatkan dan bahkan terkadang sensitive terhadap perkataan dan ucapan seseorang yang belum tentu bermaksud jelek. Sakit gigi adalah sakit yang berasal dari pikiran kita bisa juga menyebabakan fisik kita ikut-ikutan sakit.
Dalam ilmu NLP ( Neuro Lingustic programming) popular terdengar sebuah istilah “Mind and Body is One” karena tubuh dan pikiran kita adalah satu maka merubah salah satunya akan berefek pada perubahan kedua-duanya. Contohnya: gigi Anda sakit maka pikiran sulit bekerja secara optimal sebaliknya pikiran Anda sakit (sakit hati) maka tubuh Andapun sulit untuk bekerja secara optimal.
Kabar gembiranya oleh karena kedua hal tersebut (tubuh dan pikiran) adalah satu maka jika kita merubah salah satunya maka sebetulnya kita akan secara otomatis merubah kedua-duannya. Konsep ini akan sangat membantu kita untuk mengatasi tantangan-tantangan yang disebabkan oleh tubuh dan pikiran kita. Berikut ini beberapa contoh :
A. Perubahan Fisik menyebabkan perubahan Pikiran :
1. Takut (pikiran) menjadi berani.
Sebetulnya 80% dari ketakutan kita tidak akan pernah terjadi dalam bahasa ingris takut (fear) adalah singkatan dari False Evidence Appearing Real (kejadian-kejadian palsu yang kelihatannya nyata). Bisa kita ubah menajadi berani dalam waktu 5 menit dengan cara mengubah bahasa tubuh kita. Orang yang takut memiliki bahasa tubuh yang khas, tangannya dingin, nafasnya pendek-pendek, pandangan mata ke arah bawah, bahasa tubuh tertutup, bahu cenderung turun, suara pelan. Cobalah rubah total bahasa tubuh Anda caranya lompat-lompat, tarik nafas panjang, mata melihat ke atas, ucapkan kata-kata yang membangkitkan semangat “saya bisa, yes!” Bagaimana rasanya? Di mana perginya ketakutan Anda? – lenyap seketika, bukan.
2. Sedih (pikiran) menjadi tenang/gembira.
Saya yakin Anda pernah melihat seorang ibu yang membujuk anaknya yang sementara menangis untuk diam dengan cara mengalihkan fokus pandangan (fisik). Saat anak tersebut semnetara menangis biasanya sang ibu akan meminta anaknya untuk melihat cicak di atas rumah atau melihat burung di pohon, ajaibnya seketika juga biasanya tangisan sang akan akan berhenti. Ini disebabkan karena adanya perubahan fisik dari bahasa tubuh sedih berpindah ke bahasa tubuh gembira (melihat ke atas)
3. Latihan olahraga membuat fisik anda menjadi lebih bugar sehingga berakibat pikiran Anda akan lebih segar dan dapat berpikir dengan lebih baik, masih ingat semboyan “mensano intropore sano, kan.”
B.Perubahan Pikiran menyebabkan perubahan fisik / tubuh :
1. Sakit saat melahirkan (tubuh) menjadi Enjoy saat melahirkan.
Yang saya cerikatan berikut adalah pengalaman pribadi yang saya alami tetapi bukan dalam artian yang sebenarnya. Arti bukan saya yang melahirkan tetapi istri saya, he..he..he. Secara tidak sengaja teknik ini saya temukan. Sebelum kehamilan istri saya kami berdua selalu bermain berpura-pura kalau istri saya sudah hamil, jadi saat di kantor saya menelpon dan tanya keadaan kandungannya, saat sebelum tidur saya memegang perutnya seolah-olah ada bayi di sana dan akhirnya apa yang kami imani banar-benar terjadi. Istri saya hamil. Kemudian, menjelang kelahiran anak pertama kami, saya melatih pernapasan perut, kepada istri saya dan latihan membayangkan bahwa enaknya memiliki anak, di mana kita bisa bermain-main dengan anak-anak, rumah yang ramai dan betapa menyenangkannya menggendong anak. Latihan ini sebetulnya mengubah fokus (pikiran) dia saat dalam proses melahirkan, sehingga karena adanya ketenangan dan kepercayaan diri yang tinggi maka proses melahirkan menjadi lebih mudah dan lebih enjoy.
2. Saat kepercayaan diri (pikiran) berubah maka cara berbicara dan cara berjalan Anda akan berubah.
Bisa dicoba!
* Di udara Manado – Jakarta transit Makassar. Ongky Hojanto adalah penulis buku Best-Seller “The Secret To Be More Success”, partner Penulis buku “Financial Revolution in Action” bersama Tung Desem Waringin. Narasumber OBROLAN Pagi motivasi di Pacific TV dan narasumber di SMART FM Indonesia ini dapat dihubungi langsung di www.ongkyhojanto.com
Alotnya Mengubah Keyakinan
January 3, 2011 by admin
Filed under Kolom Bersama
Oleh: Asep Syarifuddin
BEBERAPA hari yang lalu, saya menemui dua orang sahabat yang secara kebetulan bekerja di kantor yang sama. Dua orang tersebut memiliki kesamaan terutama dalam postur tubuh. Yah… dua-duanya adalah overweight alias gemuk. Tapi saya sering bilang ke dia kurang tinggi, bukan gemuk. Sebab kalau tinggi badannya bertambah, maka tidak lagi terlihat gemuk. Sementara teman saya yang ketiga memiliki badan ideal dan agak kekar.
Iseng-iseng saya membuka pembicaraan ketika silaturahmi Idul Fitri. “Mas, kok badannya kian hari kian melar aja. Apa tidak terasa sesak dan mengganggu. Coba lihat bajunya sudah sangat ketat, stret. Kalau ada cewek pake baju stret dan badannya aduhai sih mendingan. Apa ada keturunan gemuk?”
Dengan santai teman saya yang satu menjawab, “Gemuk itu ciri-ciri orang yang makmur, berarti sudah sukses dalam hidup dan bisa dibilang produk yang berhasil. Kalau masih belum gemuk itu produk gagal. Lagian nama perusahaan dan PT tempat kita bekerja (dia mengutip namanya) juga menunjukkan ciri-ciri kegemukan,” katanya santai.
Jawaban kawan saya yang satu ini benar-benar dilandasi dengan keyakinan yang tinggi, penuh percaya diri dan kegemukan sama sekali tidak membawa konsekuensi beban apa-apa. Ketika saya tanya mengapa gemuk, dia hanya menjawab, “Saya tidak tahan untuk tidak mengkonsumsi makanan enak-enak seperti daging dan makanan yang gurih-gurih dan berlemak. Eman-eman (dalam bahasa Jawab, sayang-sayang),” tuturnya lagi.
Iseng-iseng saya meledek dia dengan kata-kata yang agak menyinggung. “Bukannya gemuk itu jelek. Coba bercermin berlama-lama, lihat dari ujung rambut sampai ujung kaki, wajah menjadi terlihat “tembem”, leher terlihat pendek, perut buncit dan kalau berjalan terengah-engah. Saya sama sekali tidak melihat daya tarik dari orang gemuk. Dan orang gemuk itu tinggi kemungkinan mengalami penyakit stroke yang bisa mematikan.” Mendengar ledekan saya dia hanya bergumam, “Apapun ledekan yang datang ke saya, sama sekali tidak membuat saya tersinggung, santai saja, gak ngaruh lagi. Dan soal penyakit stroke yang mematikan, itu kan urusan Tuhan,” tuturnya santai.
Sampai di sini saya melihat teman saya yang pertama memang tidak memiliki keinginan untuk berubah. Dengan kata lain, perbuatannya (mengkonsumsi makanan yang enak-enak) lebih banyak dikontrol oleh nalurinya ketimbang oleh pikiran logisnya. Buktinya saya berlama-lama duduk dengan dia dan menyinggung postur tubuh yang gendut dengan penilaian yang jelek, sama sekali tidak mau mengubah keyakinannya. Walhasil, makin hari teman saya yang pertama bisa jadi akan tetap mempertahankan kegemukan, atau bahkan lebih gemuk dan kecil kemungkinan bisa susut berat badannya. Kecuali ada peristiwa luar biasa yang memunculkan traumatis akibat kegemukan tadi.
Sementara teman saya yang kedua, mendengar ledekan-ledekan tadi muncul pertanyaan balik. “Apa berat badan saya masih ada kemungkinan untuk ideal dan bagaimana caranya. Selama ini saya tidak bisa mengontrol pola makan,” katanya. Saya hanya menjawab singkat, selagi ada niat maka peluang itu pasti ada. Untuk memiliki berat badan ideal, maka harus mengubah secara total keyakinan-keyakinan lama dan diganti dengan keyakinan baru. Saya menyarankan kepada dia untuk mengambil kertas dan balpoint, kemudian ditulis judul: From Gendut to Ideal. Buat dua lajur di kertas tadi. Lajur pertama berisi tentang keyakinan-keyakinan lama dan lajur kedua berisi tentang keyakinan-keyakinan baru.
Tulis keyakinan-keyakinan lama yang membuat kita tidak berdaya dan tidak berani berubah seperti: gendut itu ciri-ciri kesuksesan, gendut itu sehat, gendut itu makmur, gendut itu menambah percaya diri, gendut itu performa orang sukses. Sementara di lajur kanan dibuat kebalikannya seperti gendut itu sumber penyakit, gendut itu membuat minder, gendut itu ciri tidak punya uang untuk diet, gendut itu dekat dengan kematian dll.
Niatkan dan ijinkan dalam diri kita untuk mengubah keyakinan lama dengan keyakinan baru dan niatkan pula keyakinan baru tersebut bisa tertanam menjadi kebiasaan yang otomatis dan masuk ke alam bawah sadar. Saya berkata kepada dia lagi, kalau sudah diniatkan dan kita sendiri mengijinkan untuk mengubah keyakinan tadi, maka secara otomatis perilaku dan kebiasaan kita pun akan berubah. Makan menjadi teratur dan hanya makanan sehat yang dikonsumsi, tidak berlebihan, olahraga rajin untuk membakar kandungan lemak di dalam tubuh. Niat bisa mempengaruhi perilaku.
Sementara teman saya yang ketiga memang sudah memiliki kesadaran bahwa dia tidak mau gemuk, dia mau berat badannya ideal. Kalau makan agak banyak, dia merasa perutnya sesak dan itu benar-benar membuat dia tidak nyaman. Memang ada hal lain yang mendukung dari jenis pekerjaan yang dilakukan sehar-hari. Teman saya yang pertama dan yang kedua lebih banyak duduk di belakang meja, sedikit bergerak dan bisa jadi jarang olahraga. Sementara teman saya yang ketiga adalah orang lapangan yang banyak bergerak, keluar keringat dan sering jalan kaki.
Sampai di sini saya menilai, betapa setiap orang ketika memiliki keyakinan, maka keyakinan tersebut akan dilindungi mati-matian walaupun keyakinan tersebut sama sekali tidak menguntungkan dirinya. Itulah salah satu ciri dari pikiran bawah sadar, meyakini sepenuh hati tidak peduli itu salah atau benar, kalau dilakukan secara terus menerus maka akan melekat di dalam subconscious mind dan tidak akan berubah sebelum pemiliknya benar-benar berniat untuk mengubah.
Bagaimana dengan Anda, apakah Anda termasuk kelompok orang yang mudah berubah kebiasaan dan keyakinan diri yang tidak menguntungkan diri kita sendiri, atau masih menjadi bagian dari orang yang alot untuk berubah? Kita bebas untuk memilih apapun yang kita inginkan, termasuk memilih keyakinan. Namun setiap pilihan mengandung resiko, dan ketika pilihan sudah jatuh, maka kita tidak bisa memilih konsekuensi (akibat). (*)
*) Penulis adalah General Manager Harian Radar Pekalongan, bisa ditemui di asepradar@gmail.com atau http://langitbirupekalongan.blogspot.com
Telah di baca sebanyak: 19










