training motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaNews Feedtraining motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaComments Subscribe to training motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaSitemap

Tips Anya

Dulu ia sering tampil di layar kaca. Maklum saja. Tiga kata yang paling banyak digunakan untuk menggambarkan pekerjaannya adalah: model, pemain sinetron, presenter. Tingginya sedang saja, sekitar 160-an sentimeter. Wajah yang bulat telur membuatnya enak dipandang. Apalagi gerak bola matanya acap dinamis. Gadis Tiara Sunsilk (2002), Duta Keluarga Berencana dari BKKBN (2007), Duta Koperasi dan UKM (2010), dan Duta Diabetes Anak (2011) adalah sebagian dari prestasi yang pernah diraihnya. Anak bungsu dari Budhi Wibhawa dan Titien Tjasmo ini diberi nama Anya Dwinovita Pahlawanti, karena lahir di Jakarta saat peringatan Hari Pahlawan, 10 November 1982.

Kini frekuensi penampilannya di layar kaca relatif berkurang, kecuali untuk peran sebagai presenter yang memang dinikmatinya. Dunia persinetronan sudah ia tinggalkan sejak 2006, entah karena apa. Ke mana waktu dan pikirannya teralih?
“Jadwal yang saya utamakan adalah jadwal presenter atau MC atau tugas Duta saya karena untuk melakukan pekerjaan tersebut saya wajib hadir secara fisik. Setelah itu jadwal dari bisnis saya, karena secara fisik bisa saya wakilkan, sedangkan pemikiran dan keputusan-keputusan bisa melalui e-mail, telepon, BBM, dan teknologi lainnya uang sudah tersedia untuk mempermudah hidup kita. Lalu, barulah ‘me time’, termasuk untuk keluarga dan kegiatan pribadi saya,” paparnya di Kompas Kita, 27 Maret silam.

Anya Dwinov memang sudah mengalami transformasi. Hasratnya yang menggebu untuk mandiri secara finansial, telah membawanya ke dunia bisnis. Saat ini ia sudah memiliki tiga restoran di Jakarta dan Bali, serta sebuah usaha di bidang jasa perjalanan. Hotel kategori small luxury merupakan impian berikutnya, sebab “Saya ingin memiliki hotel kecil di mana saya bisa tinggal di sana sehingga sesekali bisa menyapa dan bersosialisasi dengan tamu sendiri”.

Usahanya di bidang restoran bekerja sama dengan karibnya sesama selebriti, Olga Lydia. Menurut Anya, memilih mitra kerja sangatlah penting untuk mengurangi berbagai risiko dalam berbisnis. Karena itu ia menyarankan, “Pilihlah mitra kerja yang ritme kerja dan pemikirannya sejalan. Pemilihannya dapat dimulai dari kawan yang sudah Anda kenal lama dan dekat. Meski pun tidak selalu menjamin, minimal kita sudah mengurangi risiko terkejut oleh cara berpikir dan ritme kerja orang yang baru kita kenal.” Sebuah nasihat yang bernas. Buktinya, Anya mengaku belum pernah mengalami kerugian dalam berbisnis.

Anya tidak saja punya tips dalam soal memilih mitra bisnis, tetapi juga dalam menabung. Ia menganjurkan langkah praktis agar uang beranak pinak, terutama untuk karyawan alias orang gajian. “Buka rekening di bank yang sama dengan rekening penerimaan gaji, tetapi jangan ambil fasilitas ATM, m-banking, e-banking, atau fasilitas apapun yang mempermudah uang itu keluar dari rekening tersebut. Setiap bulan begitu terima gaji, langsung transfer sekian persennya, bisa 10-30 persen, ke rekening celengan tersebut,” ujarnya.

Anya pernah mengaku suka membeli perhiasan, sebab katanya, “Saya termasuk orang yang kuno, jadi lebih nyaman berinvestasi pada hal-hal yang bisa saya pegang dan awasi sendiri. Hal-hal seperti investasi di saham, reksadana, dan sebagainya, bukan hal yang memikat saya saat ini. Jadi saya lebih nyaman menaruh uang di usaha yang bisa saya kelola dan jalankan sendiri, atau properti, atau di tabungan saja.”
Mengetahui bahwa Anya belum pernah rugi dalam berbisnis, pikiran saya langsung melayang pada kearifan yang dimuat buku The Tao of Warren Buffett (2006). Dikatakan disana, “Peraturan No.1: Jangan rugi. Peraturan No. 2: Jangan pernah lupa peraturan No.1.” Sebab rahasia terbesar untuk menjadi kaya adalah membuat uang berlipat ganda, dan semakin besar jumlah yang dimiliki di awal akan semakin baik.

Misalnya, $ 100,000 yang dilipatgandakan sebesar 15% selama 20 tahun akan berkembang menjadi$ 1,636,653, sehingga memberi Anda keuntungan $ 1,536,653. Namun, jika Anda kehilangan $ 90,000 dari modal Anda dan hanya dapat menginvestasikan $ 10,000 maka investasi Anda hanya akan menjadi $ 163,665 pada tahun ke dua puluh, dengan keuntungan $ 153,665 saja. Ini jelas angka yang jauh lebih kecil. Semakin besar kerugian Anda, semakin besar dampaknya terhadap kemampuan Anda untuk mendapatkan uang di masa mendatang. Inilah yang tidak pernah dilupakan Warren Buffett. Ini juga alasan dia tetap mengendarai mobil VW Beetle yang kuno, lama setelah dia menjadi multijutawan.
Warren Buffett, yang namanya selalu masuk dalam tiga orang terkaya di dunia itu, juga pernah mengatakan bahwa “Anda tidak dapat membuat kesepakatan yang baik dengan orang yang buruk”. Sebab orang buruk tetaplah orang yang buruk, dan mereka tidak akan memberi Anda kesepakatan yang baik.

Hal ini terkait dengan soal memilih mitra bisnis. Menurut Buffett, dunia ini memiliki cukup banyak orang yang baik dan jujur yang berhubungan bisnis dengan orang yang tidak jujur. Itu merupakan kebodohan. Bahkan jika Anda meragukan kejujuran seseorang, dengan bertanya di batin, “Apakah orang ini dapat dipercaya?” maka sebaiknya Anda mencari orang lain saja untuk berhubungan bisnis. Anda tidak ingin meragukan, apakah parasut Anda akan terbuka, ketika Anda akan segera melompat dari pesawat, bukan? Demikian juga Anda sebaiknya tidak meragukan integritas seseorang yang dengannya Anda akan melompat untuk memulai sebuah bisnis. Jika Anda tidak mempercayai mereka sekarang, Anda tidak akan dapat mempercayai mereka di kemudian hari. Jadi mengapa harus memulai hubungan bisnis bersamanya?
Sampai di sini, saya temukan Anya memiliki kedekatan pola pikir dengan Warren Buffet. Pertama dalam soal memandang kerugian. Dan kedua dalam soal memilih mitra bisnis. Ini membuat saya bertanya-tanya, akankah orang seperti Anya masuk daftar orang-orang terkaya di Indonesia pada dua puluh tahun ke depan?
Bagaimana pendapat Anda? Salam proaktif.
___________________
ANDRIAS HAREFA, WTS adalah writer: 38 Best-selling Books; Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun, Pendiri www.pembelajar.com; Twitter @aharefa

Telah di baca sebanyak: 89

Lebay

“Camkanlah ini: siapa binasa dengan tidak bersalah? Dan di manakah orang yang jujur dipunahkan? Yang kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga,” kata Elifas kepada sahabatnya yang sedang dirundung malang tak berkesudahan.

Elifas, tokoh yang hidup lima ratusan tahun sebelum Masehi, percaya hukum tabur-tuai, hukum sebab-akibat, hukum daya tarik, law of attraction. Jika Anda baik, maka kebaikan akan menghampiri Anda. Jika Anda jahat, maka kejahatan akan mendekati Anda. Apa yang sering Anda pikirkan akan menjadi kenyataan. Jika Anda suka cemas, maka hal-hal yang mencemaskan akan datang berkunjung. Jika Anda berpikir sukses, maka jalan-jalan kesuksesan akan terhampar di hadapan Anda. Terdengar familiar?

Di dekade pertama abad ke-21 ini, cara pandangan Elifas kembali populer berkat orang-orang seperti John Assaraf, Michael Beckwith, Jack Canfield, James Arthur Ray, Bob Proctor, Joe Vitale, Lisa Nichols, Marie Diamond, dan guru-guru The Secret-nya Rhonda Byrne (2006). Dari Kanada, Michael J. Losier (2007) mengirimkan naskah yang sama dengan judul The Law of Attraction dan menegaskan: “I attract to my life whatever I give my energy, focus, and attention to, whether wanted or unwanted.” Sementara di Indonesia, kebanyakan pembicara dan mereka yang disebut sebagai motivator ikut menjual gagasan berusia dua setengah abad ini.

Tapi, ngomong-ngomong, kepada siapa Elifas sedang berbicara waktu itu? Apa persoalan yang sedang dihadapi sahabatnya, sehingga ia mengucapkan kalimat yang demikian?

Sahabat Elifas adalah tokoh sukses yang luar biasa kaya di zamannya. Ia memiliki segala ukuran kemakmuran pada masa itu: kambing, domba, unta, lembu, keledai, dan budak dalam jumlah yang sangat besar. Ia memiliki tujuh anak lakilaki dan tiga anak perempuan, yang semuanya hidup rukun satu sama lain. Dan yang paling mengesankan mengenai orang ini adalah: ia dikenal karena kesalehan, kejujuran, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan. Mencengangkan!

Di zaman sekarang, tokoh seperti sahabat Elifas ini sulit dicari. Kita mungkin mengenal 100 orang terkaya di Indonesia, tetapi siapa di antara mereka yang memiliki keluarga yang rukun dan harmonis? Atau kita mengenal orang-orang yang keluarganya harmonis, tetapi apakah mereka hidup berkelimpahan? Belum lagi ini, siapakah orang kaya yang bisa kita masukkan dalam kategori orang saleh dan jujur sekaligus? Mana yang lebih mudah kita temukan: orang kaya karena korupsi-kolusi-nepotisme atau orang kaya karena saleh dan jujur? Kembali ke sahabat Elifas, dan dengan memakai konsep law of attraction, maka apakah yang mungkin terjadi pada kehidupan orang yang sangat kaya, dengan keluarga yang sangat harmonis, dan dengan kesalehan dan kejujurannya itu? Jawabnya tentu: ia akan makin kaya, diberkati dengan kelimpahan, dan diberi kesehatan prima.

Namun sejarah mencatat yang lain. Orang terkaya ini tertimpa musibah beruntun. Lembu dan keledainya dirampok orang-orang Syeba dan budak-budaknya dibunuh. Pada tempat yang lain kambing, domba dan penjaganya disambar petir, terbakar, dan tewas. Unta-unta dan penjaganya dijagal orang-orang Kasdim. Dan angin badai menerpa rumah anak sulungnya ketika semua anaknya sedang menikmati jamuan makan, sehingga reruntuhan bangunan merenggut nyawa mereka semua. Seakan tak cukup, kebangkrutan harta dan kehilangan anak-anak tercinta, orang yang sudah bangkrut ini harus terkena penyakit kulit berbau busuk, dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Oh kita mungkin terperangah. Pengalaman Nabi Ayub, tokoh sahabat Elifas ini, sungguh tak cocok dengan konsep hukum sebab-akibat, law of attraction, berlawanan dengan semua nasihat pengajar The Secret. Kesalehan dan kejujuran tak membawa berkah, tapi justru mengundang musibah. Pikiran dan sikap positif tak menghasilkan dampak yang senada. Ke mana larinya semua getaran energi positif dari batin orang kaya yang saleh dan jujur itu? Ayub berada di lembah bayang-bayang maut, lembah kekelaman.

Apa responsnya? Minimal ada dua yang menarik. Pertama, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Yang kedua, “Apakah kita mau menerima yang baik Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?”
Jelas bagi Ayub bahwa semua hal yang terjadi di muka bumi merupakan penyelenggaraan Ilahi, tanpa kecuali. Ia sadar dirinya bukan pemilik, tapi pengelola saja dari semua yang dititipkan kepadanya. Ia menerima ketika yang bukan miliknya diambil oleh Sang Pemilik, sebab ia paham tak ada haknya untuk komplain. Hatinya tidak melekat pada berkat dan kemakmuran, tetapi pada Sang Pemberi berkat dan kemakmuran itu. Dalam keyakinannya akan kebaikan Tuhan, ia tak sungkan menerima apa yang dianggap orang sebagai hal yang buruk sekali pun. Sungguh kearifan yang melampaui law of attraction, mengatasi logika sebab-akibat, menembus batas-batas terapi berpikir positif dan ajaran positive mental attitude.

Apa pesan kisah Ayub dan Elifas? Kawan yang mempelajari kisah ini dengan saksama menawarkan pada saya tiga kunci emas: iman kepada Tuhan dalam segala keadaan, keterbukaan atas cara Tuhan bekerja yang sering tak sesuai pikiran dan kemauan kita, dan ketaatan akan pimpinan Tuhan karena tahu IA memberi yang terbaik bagi yang beriman kepadaNya, sesuai waktuNya sendiri.

Ia juga mengingatkan agar saya jangan lebay kalau menyemangati orang. Jangan menganggap law of attraction pasti benar, mutlak benar. Semua gagasan mengenai The Secret dan Law of Attraction itu lebay, berlebihan. Siapa saja yang hatinya bersih akan tahu bahwa hidup tak segampang hukum daya tarik. Acap hadir misteri Ilahi di sudut-sudut kejadian, ketika orang yang saleh ditimpa kemalangan dan orang jahat mendapat kemakmuran. Kita tak mengerti, tapi Tuhan tidak tidur. Jadi, sekali lagi, jangan lebay, please!

ANDRIAS HAREFA, WTS adalah writer: 38 Best-selling Books; Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun, Pendiri www.pembelajar.com; Twitter @aharefa

Telah di baca sebanyak: 64

Sindrom Kepemimpinan: Hotepapopu

Sindrom Kepemimpinan: Hotepapopu

“Life is a long lesson in humility. – Kehidupan adalah sebuah pembelajaran yang panjang akan sikap rendah hati.”
James M. Barrie

Kepemimpinan senantiasa berkaitan dengan komitmen, hubungan antar manusia, pengaruh dan kekuasaan. Pemimpin seringkali dijadikan figur idola oleh banyak orang. Mereka juga menjadi sorotan publik, dan meninggalkan dampak pada masyarakat atas kebijakan maupun tingkah lakunya.

Tetapi banyak pemimpin yang terserang Sindrom Hotepapopu. Hotepapopu adalah kependekan dari kata gila hormat, tepukan, panggung, popularitas dan power, dan pujian. Sindrom tersebut hanyalah istilah yang saya ciptakan sendiri, mengenai gejala penyakit mental yang menyerang pemimpin dan sudah saya teliti selama kurang lebih 20 tahun terhadap para pemimpin di industri direct selling (penjualan langsung), MLM, dan asuransi.

Sindrom tersebut dapat menyerang pemimpin di industri direct selling (penjualan langsung), MLM, dan asuransi. Mereka yang terserang sindrom hotepapopu umumnya adalah para pemimpin yang baru memasuki jajaran bergengsi pada sebuah perusahaan, misalnya posisi Crown Ambassador atau Agency Manager, atau bermacam istilah lainnya. Mereka juga telah menikmati bonus yang cukup besar.

Sistim penghargaan yang luar biasa di atas panggung maupun sistim edifikasi pada industri MLM dan asuransi rupanya membawa efek yang menyebabkan para pemimpin lupa jati diri. Bonus dan penghargaan yang luar biasa mereka persepsikan penghargaan yang seharusnya mereka terima, karena telah sangat berjasa dan hebat. Mereka juga mempersepsikan diri terlalu tinggi dengan menganggap dirinya sebagai pahlawan paling berjasa, berpengaruh dan kuat karena telah menghasilkan banyak pemimpin baru, jaringan yang luas dan menciptakan omset besar.

Pemimpin yang terserang sindrom hotepapopu itu umumnya gagal melakukan sistim duplikasi kepemimpinan, karena mereka cenderung ingin mendominasi dalam situasi apapun terutama di atas panggung. Setelah menerima penghargaan dalam acara-acara perusahaan seperti BOP (Business Opportunity Preview), NDO (New Distributor Orientation), Recognition Rally, Yearly Anniversary Convention, dan lain sebagainya, mereka akan mencari tempat lain untuk berkumpul dengan kelompoknya agar kembali mendapatkan tepukan tangan. Bahkan ada pemimpin yang sengaja menguasai panggung sehingga pemimpin lain kehilangan kesempatan untuk berbicara.

Sekali lagi, sikap mereka itu karena teracuni persepsi atau penilaian yang terlalu tinggi terhadap diri mereka sendiri. Mereka tidak hanya bersikap angkuh dan gila hormat di lingkungan perusahaan tempat mereka bernaung, tetapi juga di luar lingkungan perusahaan. Misalnya mereka meminta fasilitas parkir khusus, jalur khusus (tanpa perlu antri), ruangan VVIP di kantor maupun acara-acara perusahaan, dibukakan pintu mobil dan dibawakan tas kerjanya oleh para mitra kerja, dan meminta segudang pelayanan paling istimewa lainnya. Jika berbicara di telepon selular pun mereka bersuara sangat keras, tidak akan segan-segan berkata kasar dan keras jika keinginan mereka tidak dapat dipenuhi, dan berperilaku tinggi hati lainnya.

Sistim penghargaan dalam bisnis MLM, direct selling atau asuransi yang menganggap pemimpin sebagai partner kerja juga mereka artikan keliru. Pikiran bawah sadar mereka tertanam pemahaman bahwa omset perusahaan adalah hasil kerja mereka, sehingga karyawan perusahan adalah karyawan mereka juga. Sehingga merekapun berlagak seperti bos perusahaan, dan karyawan selalu berada pada posisi salah ketika terjadi konflik dengan pemimpin tersebut.

Parahnya lagi, pemimpin yang terserang sindrom itu juga tak akan segan ‘menguasai’ top manajemen perusahaan yang lemah. Sebab mereka akan segera mengajukan keberatan jika kebijakan perusahaan tidak memihak kepada mereka. Sebaliknya, mereka akan berjuang keras agar ide mereka diterima perusahaan, dan segera membanggakannya kepada seluruh mitra kerja bahwa kebijakan perusahaan yang diterapkan itu adalah idenya.

Sindrom hotepapopu ini sangat berbahaya dan dapat menghancurkan hidup siapapun. Steven Berglas, seorang psikolog Harvard Medical School dan penulis buku The Success Syndrom mengatakan bahwa orang yang sangat sukses tetapi karakternya lemah cenderung mengalami stres yang dapat menghancurkan hidup mereka sendiri. Berglas menyebutkan mereka akan mengidap 4 penyakit mental (4A) yang mengerikan, yaitu Arrogance (kesombongan), Alones (kesepian), Adventure seeking (senang berpetualang dengan hal-hal yang negatif), dan Adultery (perzinahan).

Sindrom ini tak akan hilang begitu saja seiring waktu berjalan. Akan lebih baik jika kita segera introspeksi dan memperbaiki diri, sebelum sindrom hotepapopu menghancurkan hidup tanpa kita sadari sejak dini. Inilah beberapa hal yang perlu diupayakan agar kita tidak terjerembab ke dalam kubang kehancuran sindrom tersebut:

Pertama adalah menyadari sepenuhnya bahwa hubungan antara seorang pemimpin dan perusahaan adalah partner atau rekanan. Meskipun posisi sebagai rekanan dalam upaya merealisasikan visi dan misi perusahaan, tetapi tanggung jawab pemimpin dan perusahaan berbeda satu sama lain. Kedua belah pihak sama-sama memiliki peranan penting untuk mencapai kesuksesan, sehingga keduanya juga harus selalu dapat bekerjasama atau saling mendukung.

Kedua adalah seorang pemimpin haruslah berjiwa rendah hati, yang selalu siap memberikan pelayanan terbaik kepada para mitra kerja, mendukung dan memotivasi mereka agar bisnis mereka terus berkembang. “True leadership must be for the benefit of the followers, not the enrichment of the leaders. – Kepemimpinan yang sesungguhnya harus selalu memberi keuntungan kepada para anggotanya, bukan memperkaya pemimpinnya saja,” ujar Robert Townsend, mantan CEO Avis Rent A Car. Jadi tanpa perlu diminta, pemimpin harus memiliki kesadaran yang tinggi untuk membantu para mitra kerja hingga mereka sukses. Terlebih lagi (yang harus dipahami bahwa) kesuksesan mereka berasal dari usaha para mitra kerja di bawahnya.

Pemimpin merasa senang dan membantu mempersiapkan panggung yang besar sebagai tempat bagi para mitra kerjanya dihargai, diberi tepukan tangan dan dipuji adalah poin ketiga yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin. Dengan senang hati ia akan memberi kesempatan kepada para mitra kerja untuk mendapatkan penghargaan, dan mengerti kapan harus mundur dan memberi kesempatan kepada para mitra kerja di atas panggung.

Agar tidak terserang sindrom hotepapopu, ada baiknya untuk terus memupuk kepribadian menjadi lebih rendah hati. Ketika seseorang sudah mampu bersikap rendah hati, maka ia akan lebih siap melakukan perubahan besar dalam hidupnya. “Humility is the only true wisdom by which we prepare our minds for all the possible changes of life. – Kerendahan hati merupakan satu-satunya kebijaksanaan untuk mempersiapkan pikiran guna menciptakan kemungkinan-kemungkinan perubahan dalam hidup,” kata George Arliss.

Menjadi pemimpin yang rendah hati memberi lebih banyak manfaat, diantaranya terbebas dari sikap berpura-pura, mendorong keterbukaan, dan meningkatkan rasa percaya diri sendiri dan orang-orang di sekelilingnya. Pemimpin yang rendah hati juga lebih mudah beradaptasi, menciptakan jaringan yang besar dan kokoh untuk jangka panjang, dan berhasil mencapai tujuan atau target yang lebih besar pula.

Pemimpin yang rendah hati itulah yang akan selalu menjadi idola dimanapun dan kapanpun. “We come nearest to the great when we are great in humility. – Kita akan menjadi orang hebat ketika kita mampu bersikap rendah hati,” Rabindranath Tagore. Jika Anda ingin lebih sukses, hindari sindrom hotepapopu dan jadilah pemimpin yang rendah hati.

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best
seller.Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com.

Telah di baca sebanyak: 81

Warisan Untuk Anak Cucu

“The greatest legacy is that which benefits the widest number of people for the longest period without limit to value.” – Warisan terhebat adalah sesuatu yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia dan berlangsung selamanya.”
Steven Cat, artis penyanyi USA

Bila berpikir tentang warisan untuk anak cucu, kebanyakan dari kita akan berpikir tentang mewariskan harta benda atau barang-barang berharga. Siapapun ingin meninggalkan warisan yang berlimpah kepada generasi penerusnya. Namun sesungguhnya ada hal-hal yang lebih penting dibandingkan harta untuk diwariskan kepada anak cucu kita.

Salah satu warisan yang tak ternilai harganya adalah kemerdekaan yang kita nikmati saat ini. Kemerdekaan ini direbut oleh para pahlawan bangsa dengan pengorbanan yang sangat besar termasuk harta benda, tetesan darah dan keringat. Berkat perjuangan para pahlawan tanpa pamrih itulah kita dapat mewarisi kemerdekaan dan mereguk kebebasan seperti sekarang.

Tanpa kemerdekaan kita tak akan dapat bebas untuk melakukan aktifitas, berpendapat, berkreasi, memiliki kesempatan hidup layak dan lain sebagainya. Kemerdekaan ini memungkinkan kita semua untuk melakukan sesuatu yang inspriratif dan mampu menjadikan masa depan lebih baik. Oleh sebab itu, manfaatkanlah kesempatan ini dengan menjalankan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya dan jujur, sehingga terhindar dari berbagai bentuk penjajahan model baru; misalnya penjajahan budaya ataupun produk-produk dari negara lain yang belum tentu lebih baik dari milik bangsa sendiri.

Selain kemerdekaan, ada beberapa jenis warisan yang sangat penting untuk anak cucu. Salah satu yang paling penting adalah nilai dan pelajaran hidup. Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa nilai-nilai dan sistem kepercayaan warisan dari orang tua lebih penting daripada uang atau aset-aset berharga lainnya.

Taipan saham terkaya di dunia, Warren Buffet, merupakan contoh orang tua yang memilih untuk mewariskan nilai-nilai mulia ketimbang harta yang berlimpah. Warren Buffet sengaja mendonasikan USD 31 milyar untuk kemanusiaan melalui yayasan Bill & Melinda Foundation untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada para putra-putrinya. Ia ingin ketiga anakknya, yaitu Howard Graham Buffet, Peter Buffet, Susie Buffet, mewarisi sifat-sifat mulia yang ia miliki, karena ia meyakini bahwa kemuliaan sikap dapat diandalkan (oleh keturunannya) untuk hidup lebih semangat dan optimis menatap kehidupan namun tetap rendah hati.

“I Want to give my kids just enough, so they would feel that they could do anything, but not so much, that they would feel like doing nothing. – Saya ingin memberi anak-anak saya secukupnya, sehingga mereka dapat menyadari bahwa mereka dapat melakukan apa saja, tetapi tidak terlalu banyak (yang dilakukan), sehingga mereka merasa tak melakukan apapun,” katanya.

Sifat-sifat mulia memang menjadi komoditas penting, yang memudahkan seseorang mencapai kesuksesan di bidang apapun secara alamiah dan bertahan lama. Kemuliaan sifat seseorang akan menjadikan dirinya menjalankan tanggung jawab dengan hati, sebaik mungkin dan tanpa pamrih. Pastikan untuk menanamkan sifat-sifat mulia kepada generasi penerus, sebagai aset penting bagi mereka (generasi penerus) untuk menjalani hidup dengan baik dan meraih kesuksesan.

Wariskanlah pula sikap mandiri, berani dan semangat bekerja. Bayangkan para pejuang dahulu yang berani bertaruh nyawa untuk mengusir penjajah walaupun hanya dengan sebilah bambu runcing. Oleh sebab itu, tanamkanlah nilai-nilai keberanian, kemandirian dan semangat kerja sebab itulah modal penting generasi penerus untuk meniti kehidupan dan meraih sukses di masa depan.

Berikanlah bekal ilmu pengetahuan yang cukup kepada putra dan putri kita dengan menyekolahkan di sekolah-sekolah formal. Selain itu, berikanlah contoh sikap sebagai orang tua yang senang belajar, misalnya dengan gemar membaca atau belajar dari orang-orang yang sudah berpengalaman. Mewariskan sikap yang gemar belajar ini akan menjadikan generasi muda memiliki ilmu pengetahuan yang luas, mampu menetapkan visi sekaligus melakukan langkah-langkah yang tepat dan bijak serta perhitungan matang sehingga impian-impian mereka segera terwujud.

Wariskanlah nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual, agar generasi penerus kita mampu bertindak positif dan konstruktif, bijaksana, memiliki kepekaan sosial, tidak serakah, dan lain sebagainya. Nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual yang tertanam kuat akan menjadi panutan hidup mereka. Keluhuran sikap yang didasari oleh nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual dapat memastikan generasi penerus meraih mampu sukses dengan cara yang benar dan menjalani hidup dengan lebih baik.

Sebelum kita terlalu tua, mari segera mengumpulkan warisan-warisan penting tersebut di atas bagi anak cucu kita, sebab waktu kita sangat singkat. Janganlah terjebak dalam kesenangan-kesenangan kecil sehingga kita kehilangan banyak waktu dan melupakan hal-hal yang sangat penting untuk bekal para generasi penerus. Rasanya sangat menyedihkan jika riwayat kehidupan kita tidak meninggalkan rekam jejak sifat dan sikap yang mampu membuat generasi penerus benar-benar mengingatnya dan menjadikannya model untuk menjalani kehidupan dengan baik dan sukses. Sungguh menyenangkan jika sepeninggal kita nanti ada seseorang berkata, “Selamat jalan. Hidupmu telah memberi teladan yang luar biasa dan manfaat bagi banyak orang dan tak akan terlupakan.”

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best seller.
Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com

Telah di baca sebanyak: 71

Bankir Cantik di KRL Ciujung

Rabu sore 12 November saya naik KRL ekonomi AC Ciujung dari Tanah Abang menuju Serpong. Saya berdiri di gerbong paling belakang, dekat pintu. Ransel saya taruh di tempat bagasi, dan saya mencoba menyamankan diri dalam posisi berdiri.
Kereta belum bergerak. Seorang perempuan muda yang duduk dekat saya berdiri asyik bertelepon. Rupanya dia memanggil temannya untuk datang ke gerbong tempat dia duduk. Dan tak lama kemudian datang seorang perempuan lain, dugaan saya usianya lebih tua. Yang datang ini mengenakan blazer warna kuning kunyit (saya nggak tahu, itu seragam atau bukan).
Karena tak mendapat tempat duduk, pandatang baru ini berdiri di depan temannya, tepat di samping saya berdiri.
Tepat pukul 17.10 kereta yang lumayan penuh, tidak terlalu berdesakan, meninggalkan Tanah Abang.

Tak lama kemudian kedua perempuan itu terlibat diskusi heboh, seolah tak ada orang lain di sekitarnya. Dari apa yang mereka diskusikan, saya menduga mereka bekerja di satu bank. Yang satu bercerita dengan bangga bahwa dalam beberapa hari terakhir dia panen nasabah deposito baru, dengan total angka ratusan miliar. Saya sepenuhnya percaya. Tadi pagi harian Kontan bercerita jumlah rekening tabungan dan deposito di atas dua miliar membengkak. Total jenis rekening ini tercatat naik Rp70 triliun dalam sebulan menjadi Rp673 triliun dari total dana perbankan di Indonesia yang sebesar Rp1.600 triliun.

Perempuan yang berblazer juga bercerita mengenai pekerjaannya.
Saya mencoba tidak terganggu oleh obrolan mereka. Toh ini tempat umum. Kalau pun mereka ngomongin rahasia dapur mereka, ya silakan sajalah. Toh mereka memang mau begitu.
Tetapi akhirnya saya tersengat mendengar sharing si mbak berblazer, lebih dalam kapasitas saya sebagai salah satu nasabah bank. Saya coba rekonstruksi obrolan mereka, walau tentu saja tidak tepat benar.
“Tahu nggak lu, kapan hari gue salah blokir kartu (saya nggak pasti kartu kredit, kartu debit, atau kartu ATM) nasabah,” katanya sambil ketawa cekikikan.
“Loh, kok bisa sih,” kata perempuan yang duduk.
“Si ibu itu kan punya dua kartu. Begitu dia minta satu kartunya diblokir, eh yang gue blokir kartu yang satunya,” kata si mbak berblazer.
“Terus?”
“Seminggu kemudian si ibu telepon. Dia tanya kok kartunya yang satu keblokir.”
“Lu jawab apa?”
“Dia kan nggak ngerti. Saya jawab gini, ‘Bu, maaf, waktu saya panggil nama ibu di komputer, saya langsung blokir begitu saja. Saya nggak tahu kalau ibu punya dua kartu.”
“Si ibu marah?”
“Nggak tuh, malah dia minta maaf. ‘Maaf ya mbak, ngerepotin’, dia bilang gitu.”
Kedua perempuan itu pun tertawa berderai.
Sedih rasanya mendengar sharing itu. Begini rupanya cara perempuan muda ini bekerja. Pertama jelas si blazer kuning kunyit melakukan kesalahan, dan kesalahannya menurut saya fatal, bukan hanya karena dia memblokir kartu yang tidak seharusnya diblokir, tetapi justru tidak memblokir kartu yang seharusnya diblokir. [Saya menulis ini justru karena hari ini, Jumat 14 November 2008, di harian Kompas ada surat pembaca yang berisi keluhan bahwa orang sudah memblokir kartu ATM-nya, tetapi pembobolan masih terjadi]. Kedua, dia tidak mengakui kesalahannya di depan nasabah, bahkan membohongi si nasabah.

Rasa sedih belum hilang, dan kepala dipenuhi aneka macam tanda tanya ketika kereta berhenti di Stasiun Pondok Ranji. Kedua perempuan itu turun, dan saya mencari-cari tempat kosong, untuk menaruh pantat sekadar membuang penat.

*) Her Suharyanto; her@jurutulis.com; www.jurutulis.com

Telah di baca sebanyak: 62

Resep Saya

“The illiterate of the 21st century will no be those who cannot read and write,but those who cannot learn, unlearn, and relearn.”
Alvin Toffler

“Pak Harefa, Anda berulang kali menawarkan resep sukses dari para pakar pengembangan diri. Tetapi saya belum pernah membaca pengakuan Anda mengenai resep sukses yang mana yang Anda yakini, yang Anda pergunakan untuk diri sendiri. Bolehkah saya tahu?” tanya seorang kawan pembaca setia kolom ini. Ia seorang manajer di sebuah perusahaan swasta terkemuka, yang menangani departemen sumberdaya manusia (saya lebih suka kalau departemen semacam ini diubah konsepnya menjadi departemen pengembangan harkat dan martabat manusia).

“Oh tentu saja boleh,” jawab saya nyaris spontan. “Resep sukses yang saya pergunakan dalam hidup saya adalah yang paling banyak diyakini manusia di muka bumi.”

“Apa itu, pak?” suaranya antusias.

“Ijinkan saya mengajukan tiga pertanyaan yang membantu Anda untuk mengingat kembali bahwa Anda pun meyakini resep sukses yang satu ini, karena memang terbukti sangat powerful,” kata saya berteka-teki.

“Mengapa banyak orangtua berjuang keras untuk menyekolahkan anak-anaknya?”

“Karena pendidikan itu penting.”

“Bagus. Lalu mengapa tiap negara memiliki Menteri Pendidikan (dan Kebudayaan)?”

“Ya, untuk membantu pimpinan pemerintahan mengurusi soal pendidikan yang penting itu,” suaranya mantap.

“Benar sekali. Dan mengapa sejumlah sarjana ngotot melanjutkan studi ke jenjang magister atau master, bahkan sampai ke tingkat doktoral; sementara sebagian sarjana yang lain rajin berburu program sertifikasi profesional?”

“Ya, saya kira, karena mereka ingin mengembangkan diri. Atau ingin meningkatkan kariernya, mengejar cita-cita sesuai dengan makna sukses bagi dirinya,” jawab kawan tersebut sambil mencoba menebak arah pemikiran saya.

“Benar. Semua jawaban Anda benar. Sebagian besar orang, sangat sadar bahwa jalan menuju kehidupan yang lebih baik itu adalah pendidikan dan pembelajaran. Itulah sebabnya banyak orangtua bekerja keras untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah terbaik. Mereka ingin anak-anaknya kelak berhasil menjadi orang sukses. Itulah sebabnya setiap negara menugaskan seorang menteri untuk membangun presiden atau perdana menteri mengurusi soal-soal pendidikan dan kebudayaan. Sebab tiap negara ingin menjadi negara yang maju dan berpengaruh di kancah internasional. Itulah pula sebabnya, sejumlah sarjana mengejar pendidikan yang lebih tinggi atau mengambil program sertifikasi. Jadi, pendidikan atau belajar telah dipahami hampir semua orang sebagai the master key to success,” tegas saya.

“Tapi pak, sejumlah tokoh yang saya kenal karena keberhasilannya, ternyata bukan sarjana. Bill Gates, Larry Allison, Michael Dell, dan yang membuat facebook, semuanya bukan sarjana. Anda juga pernah menulis sekitar 15 tokoh yang meraih keberhasilan tanpa pendidikan formal dalam buku Sukses Tanpa Gelar, termasuk Susi Pudjiastuti, Kusnadi, Steve Geppi, Andrie Wongso, dan sebagainya,” bantah kawan saya itu. Ia tak puas dengan jawaban yang baginya terlalu sederhana. Mungkin ia berpikir bahwa resep sukses itu mestinya harus “luar biasa”.

“Lho, tadi Anda bertanya mengenai resep sukses yang saya yakini. Yang saya yakini ya itu tadi. Untuk sukses itu orang perlu belajar. Itulah intinya. Itulah akar semua resep sukses lainnya. Artinya, dengan “belajar” semua kunci sukses yang lain akan berguna; namun jika “tidak belajar” maka kunci sukses dari mana pun tidak akan berguna sama sekali,” ujar saya mengingatkan. Kalau bertanya resep sukses yang saya yakini, mestinya saya boleh bicara sesuka saya, bukan?

Namun, sadar bahwa kawan saya itu merasa kurang puas, maka saya melanjutkan, “Kita perlu membedakan antara belajar dengan pendidikan formal. Tanpa pendidikan formal, tanpa sekolah sampai tingkat universitas, orang memang bisa berhasil. Namun itu karena ia menemukan cara belajar yang lain, cara belajar di luar sekolah, cara belajar di kehidupan nyata. Thomas Alva Edison hanya bersekolah formal 3 bulan. Namun ia belajar dengan sangat giat dan gigih dalam asuhan Nancy Elliot ibunya. Bill Gates, Larry Allison, Michael Dell, dan Mark Zuckerberg yang menciptakan facebook, memang bukan sarjana dalam arti tradisional. Tetapi saya kira tidak ada yang menganggap mereka sebagai orang yang tidak berpendidikan. Sebab pendidikan juga memiliki dimensi luar sekolah, luar universitas, yakni pembelajaran dalam konteks kehidupan nyata.

Kalau kita meminjam istilah-istilah konvensional seperti pendidikan, maka ada kategori pendidikan formal, yakni dunia persekolahan dan universitas; lalu ada pendidikan non-formal, yakni dunia kursus dan pelatihan; dan ada juga pendidikan informal, yakni lewat interaksi sosial di masyarakat. Mereka yang tidak punya kesempatan dalam pendidikan formal, jika kuat belajar lewat jalur non-formal dan informal, juga bisa berhasil seperti halnya tokoh-tokoh yang sukses tanpa gelar itu. Jalan keberhasilan tanpa gelar itu saya sebut jalan kreativitas. Sebab, hemat saya, kreativitaslah yang bisa mengalahkan pendidikan formal.
Lalu, kalau kita menggunakan istilah-istilah abad ke-21 seperti pembelajaran, maka kunci utama untuk sukses itu adalah learn, unlearn, dan relearn sebagaimana disebutkan futurolog kondang Alvin Toffler puluhan tahun silam,” begitu penjelasan saya panjang lebar.

“Maksudnya apa itu, pak? Apa bedanya learn, unlearn, dan relearn?” minat kawan saya muncul kembali. Wajahnya nanpak serius dan siap menerima kata-kata yang akan saya ucapkan.

“Sudah saya jelaskan dalam buku saya yang ke-37. Judulnya MINDSET THERAPY: Terapi Pola Pikir –— tentang Makna Learn, Unlearn, dan Relearn (Gramedia, 2010). Itulah yang saya sebut the master keys to success. Anda baca saja dulu, nanti kita diskusikan lagi ya,” saya menutup percakapan tersebut.

*) Andrias Harefa WTS. Penulis 38 Buku Best-Seller. Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 Tahun. Pendiri www.pembelajar.com. Profil lengkap bisa diakses di www.andriasharefa.com

Telah di baca sebanyak: 81

Meretas Belenggu “Hypnotizability”

“Pak Adi, nama saya Agus. Saya punya masalah dengan diri saya. Sudah satu bulan ini saya mengalami kecemasan yang datangnya tiba-tiba. Kalau malam tidur sebentar-sebentar terbangun.. sudah terapi ke psikiater dan dapat obat yang diminum tiap malam. Keceriaan saya hilang dan sering keluar keringat dingin. Saya sudah coba hipnoterapi tapi saya tidak bisa dihipnosis. Hal ini justru menambah kecemasan saya karena terbayang saya tidak bisa sembuh. Apakah ada saran dari Bapak mengenai hal ini?”

Demikianlah email dari seorang rekan yang saya terima beberapa hari lalu. Penasaran dengan apa yang terjadi dengannya, khususnya dalam konteks hipnoterapi saya membalas emailnya berikut ini, “Siapa yang menerapi Pak Agus? Apa yang ia lakukan dan sudah berapa sesi?”

Jawabnya, “Saya sudah coba tiga terapis yang berbeda di kota saya. Ketiganya gagal menghipnosis saya, dan setelah saya tanya ternyata katanya memang ada 10% dari manusia masuk kategori tidak bisa dihipnosis. Hal ini membuat saya menjadi kecewa dan akhirnya yang saya terima adalah terapi sugesti yang menyugesti diri saya untuk bisa menghilangkan perasaan dalam pikiran saya. Sampai saat ini masih ada perasaan mengganjal dalam hati saya dan tidak tahu apa itu.”

Ini sungguh berita menarik yang layak untuk dibahas. Apakah benar klien ini tidak bisa dihipnosis? Apakah benar ada 10% manusia yang masuk kategori tidak bisa dihipnosis?

Sebelum saya teruskan mari kita bahas dulu arti kata hypnotizability yang menjadi judul artikel ini. Hypnotizability terdiri atas dua kata yaitu hypnosis dan succesptibility yang artinya kemampuan untuk mengalami kondisi hipnosis atau hypnotic trance, biasanya dengan cara self-hypnosis atau dengan bantuan orang lain sebagai operator (hipnoterapis).

Lalu, apakah definisi hipnosis?

Ada sangat banyak definisi yang dikemukakan oleh para pakar. Saat ini definisi yang paling banyak dipakai dan diterima dalam dunia hipnoterapi adalah definisi yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Amerika yaitu hipnosis adalah penembusan faktor kritis dari pikiran sadar dan diikuti dengan diterimanya suatu sugesti atau pemikiran tertentu.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi dan menentukan kemampuan seseorang untuk mengalami kondisi hipnosis. Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi atau dilakukan oleh hipnoterapis yang menangani Pak Agus. Saya akan memberikan uraian agar kita sama-sama dapat lebih memahami hipnotizability.

Saya juga beberapa kali menjumpai klien yang mengatakan bahwa ia telah pergi ke beberapa hipnoterapis dan tidak ada satupun yang berhasil menghipnosis dirinya. Dari banyak kasus yang saya temukan “ketidakberhasilan dihipnosis atau menghipnosis” sebenarnya hanya ada dua kemungkinan.

Kemungkian pertama ada pada diri klien. Klien sebenarnya tidak mengerti apa itu kondisi hipnosis. Klien punya persepsi yang salah mengenai kondisi hipnosis. Umumnya klien berpikir bahwa kondisi hipnosis sama seperti yang ia lihat di televisi yaitu subjek “dihipnosis” dan langsung menjadi “tidak sadar”. Berpegang pada pemahaman ini saat klien dihipnosis ia berharap mengalami yang seperti di televisi. Saat ia tetap sadar, tetap bisa mendengar, tetap bisa berpikir maka ia merasa hipnoterapisnya tidak cakap sehingga tidak bisa menghipnosis dirinya.

Pernah juga saya bertemu dengan klien yang mengatakan bahwa kondisi hipnosis itu sama dengan tidur, badannya lemas atau rileks. Ini juga pemahaman yang salah. Hipnosis bukanlah rileksasi fisik. Hipnosis adalah rileksasi pikiran. Jadi, walaupun badannya tidak rileks, asalkan pikirannya sudah rileks, maka klien sudah berada dalam kondisi hipnosis.

Bila ini yang dialami klien maka dapat disimpulkan terapis tidak melakukan edukasi yang cukup pada klien. Solusinya adalah terapis perlu menjelaskan dengan detil apa itu kondisi hipnosis sebelum melakukan induksi atau terapi.

Ada juga klien yang tetap bersikeras pada pemahamannya yang salah mengenai kondisi hipnosis. Saya pernah mengalami hal ini. Klien sudah saya jelaskan dengan sangat detil apa itu kondisi hipnosis, apa yang akan ia alami atau rasakan, bahwa ia tetap sadar, bisa berpikir, mendengar, dan menjawab semua pertanyaan saya, namun klien memilih tetap berpegang teguh pada pemahamannya yang salah. Nah, kalau sudah begini terpaksa terapi tidak bisa dilanjutkan.

Alasan lain klien tidak bisa dihipnosis adalah karena takut. Takutnya bisa macam-macam. Namun umumnya semua ini karena persepsi atau informasi yang salah atau kurang pas yang klien dapatkan selama ini mengenai hipnosis atau hipnoterapis.

Perasaan takut yang umum dialami klien adalah hipnosis menggunakan kuasa gelap, hipnosis melanggar kehendak bebas seseorang karena pikiran klien dikuasai oleh hipnoterapis, takut rahasianya terbongkar, takut tidak bisa keluar dari kondisi hipnosis, tidak nyaman berdua dalam satu ruangan dengan terapis yang baru ia kenal, klien tidak percaya pada kemampuan dan atau integritas terapis, takut dipermainkan seperti yang ia lihat di tv, takut sembuh (secondary gain), dan masih banyak takut lainnya.

Bisa juga klien secara bawah sadar menolak menjalani terapi karena ia datang bukan atas kesadarannya sendiri namun atas dorongan, rayuan, bujukan, paksaan, atau bahkan ancaman orang lain. Kalau ini yang terjadi maka ia sangat sulit atau tidak bisa masuk ke kondisi hipnosis.

Secara umum saat seseorang dalam kondisi hipnosis maka akan muncul fenomena tertentu pada fisik dan atau pikirannya. Fenomena yang terjadi di fisik antara lain REM (Rapid Eye Movement) atau gerakan bola mata ke kiri/kanan, menelan ludah, wajah pucat, napas melambat, detak jantung melambat, tubuh terasa hangat, produksi air mata (lakrimasi) meningkat, dan bagian putih mata menjadi merah. Sedangkan yang terjadi pada pikirannya antara lain ammnesia, analgesia, anestesi, halusinasi (visual,auditori,kinestetik), munculnya Ego Personallity (Ego State, Part, Introject, dan Alter), regresi, revivifikasi, katarsis atau abreaksi, dan distorsi waktu.

Sekarang saya akan bahas kemungkinan kedua yaitu hipnoterapis. Bila membaca informasi di atas yang berbunyi, “………ternyata katanya memang ada 10% dari manusia masuk kategori tidak bisa dihipnosis….” dapat disimpulkan bahwa hipnoterapis yang menerapi Pak Agus mengacu pada SHSS atau Standford Hypnotic Susceptibility Scale yang merupakan hasil riset Weitzenhoffer dan Ernest Hilgard. Sebenarnya SHSS ada tiga macam yaitu Forms A, B, dan C atau SHSS: A, SHSS: B, dan SHSS:C.

SHSS menyatakan bahwa manusia terbagi menjadi tiga kategori yaitu 10% sangat mudah dihipnosis, 85% moderat, dan 5% yang sangat sulit dihipnosis. Ini adalah informasi yang banyak dijadikan pegangan oleh hipnoterapis, baik yang di luar negeri maupun di Indonesia. Setiap kali klien tidak bisa masuk kondisi hipnosis atau tidak bisa dihipnosis maka terapis akan menggunakan dalih kliennya masuk kategori yang 5%.

Jika mengacu pada SHSS maka yang dikatakan oleh terapis ini benar. Bukankah SHSS menyatakan ada 5% populasi yang sangat sulit dihipnosis? Nah, bisa saja si klien masuk kategori ini.

Pakar lain menyatakan bahwa hipnotizability dipengaruhi oleh tipe sugestibilitas. Manusia terbagi menjadi dua tipe yaitu yang physically suggestible dan emotionally suggestible. Yang mudah dihipnosis adalah yang tipe pertama. Sedangkan tipe kedua adalah yang bersifat analitikal dan sulit untuk dihipnosis. Di dalam emotional suggestibility ada sub-tipe lagi yang dikenal dengan tipe intellectual. Ini adalah tipe yang sangat-sangat kritis atau analitikal sehingga sangat sulit untuk dihipnosis.

Pertanyaan yang sangat menggelitik saya dulu waktu baru belajar hipnosis dan hipnoterapi adalah apakah SHSS ini benar-benar valid dan bersifat absolut? Artinya, ini sudah harga mati?

Ernest Hilgard adalah tokoh hipnoterapi dan peneliti yang sangat saya hormati. Saya tidak dapat posisi mengatakan bahwa hasil riset Beliau tidak valid. Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa beberapa pakar lain punya pandangan berbeda mengenai hipnotizability.

Setidaknya ada dua pakar yang juga sangat saya hormati menyatakan bahwa sebenarnya semua orang bisa masuk kondisi hipnosis. Kedua pakar ini berbeda pendapat dengan Hilgard dengan alasan bahwa semua riset yang dilakukan Hilgard menggunakan relawan mahasiswa (volunteer) sebagai subjek penelitian dalam setting laboratorium. Data yang digunakan bukan berasal dari klien yang datang ke terapis untuk menjalani hipnoterapi. Jadi, kesimpulannya Hilgard melakukan riset tidak dalam konteks hipnoterapi klinis.

Jadi, sebaiknya saya mengikuti pendapat siapa?

Seiring waktu berjalan, dengan jam terbang dan pengalaman yang semakin banyak, belajar langsung ke berbagai pakar terkenal di luar negeri, membaca lebih banyak buku dan jurnal, saya sampai pada satu kesimpulan yang mengubah paradigma saya. Sekarang saya yakin seyakin-yakinnya, dan ini didukung bukti empiris, bahwa semua orang (100%) bisa masuk ke kondisi hipnosis asalkan ia bersedia dan mengijinkannya. Dan ini sama sekali tidak membutuhkan terapis yang cakap. Intinya, asalkan klien bersedia dan mengijinkannya maka ia pasti bisa masuk ke kondisi hipnosis, tanpa terapis perlu melakukan apapun. Lebih spesifik lagi yang sangat mempengaruhi hipnotizability hanya tiga yaitu motivasi, keyakinan, dan ekspektasi.

Bila anda ingin mendalami riset hipnotizability maka ada banyak studi mengenai level dan kemampuan mencapai kondisi kedalaman hipnosis yang disusun menjadi skala tertentu. Yang cukup terkenal adalah skala yang disusun oleh Liebault (1892), Bernheim (1895), White (1930), Davis dan Husband (1931), Shore dan Orne (1962), dan LeCron-Bordeaux (1949).

Berangkat dari keyakinan bahwa setiap orang bisa masuk ke kondisi hipnosis bila ada motivasi, keyakinan, dan ekspektasi, tanpa dipengaruhi apakah ia masuk kategori yang mana menurut SHSS atau apakah ia tipe physically atau emotionally suggestible, maka saya mengembangkan teknik induksi yang bersifat universal, cocok untuk tipe klien apa saja, dan mampu membantu klien agar punya motivasi, keyakinan, dan ekspektasi yang kuat untuk bisa masuk ke kondisi hipnosis dengan cepat, mudah, dan pasti.

Dengan menggabungkan berbagai pengetahuan yang didapat dari guru-guru saya seperti Anna Wise, Tom Silver, dan Sean Adam, saya mengembangkan teknik induksi dengan menggunakan prinsip psycho-somatic dan somato-psychic yang secara klinis terbukti mampu membawa klien tipe apa saja masuk ke kondisi profound somnambulism atau lebih dalam lagi dengan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi.

Sejak tahun 2008 saya sudah tidak lagi pernah menggunakan SHSS sebagai acuan. Saya menggunakan skala Davis & Husband yang terdiri atas 30 kedalaman trance. Dan seiring waktu berjalan, dari hasil riset dan temuan kami (QHI) pada bulan September 2010 saya menyusun skala sendiri yang diberi nama QHI Hypnotic Depth Scale yang terdiri dari 40 level. Dengan menggunakan skala ini kini kami dapat dengan jelas mengetahui kedalaman trance yang telah dicapai oleh subjek atau klien. QHI Hypnotic Depth Scale selain terdiri dari level kedalaman trance juga secara detil menjelaskan berbagai fenomena yang bisa muncul atau dialami oleh klien baik secara fisik maupun mental.

Jadi, kalau saya boleh memberikan saran pada rekan-rekan sejawat saya, sesama hipnoterapis, hati-hati dengan hal yang kita pelajari atau yakini benar. Pemikiran pakar yang kita pelajari akan membentuk perspesi, yang selanjutnya mempengaruhi kinerja kita. Tidak ada benar atau salah dalam hal ini. Yang ada adalah akibat atau hasil yang akan kita dapat.

Telah di baca sebanyak: 66

Momentum

“Kekuatan tidak terletak pada kemampuan membawa beban yang berat: burung bangau atau derek bisa melakukan hal itu. Esensi kekuatan ditemukan pada menjinakkan watak yang jelek serta amarah yang ada pada dirimu.” - Muhammad SAW -
Ciptaan Tuhan yang paling efektif dan kuat adalah cinta. -Baha’ ad-Din, Ayah Mawlana Rumi -

Seorang wanita keluar rumah dan melihat tiga orang laki-laki tua berjanggut putih lebat sedang duduk di depan halaman rumahnya. Dia tidak mengenal mereka. Dia berkata, “Aku tidak mengenal kalian, aku rasa kalian sedang lapar. Masuklah dan silahkan makan di dalam.” “Apakah suamimu ada di rumah?”, tanya mereka. “Tidak”, wanita itu menjawab, “dia sedang keluar.” “Kalau begitu kami tidak mau masuk”, jawab mereka.

Malamnya ketika sang suami sudah pulang, ia menceritakan apa yang dialaminya tadi. “Beritahukan mereka kalau aku sudah pulang, dan persilahkan mereka masuk.” Wanita itu segera keluar dan mengundang ketiga laki-laki itu masuk. Tapi mereka berkata, “Kami tidak masuk bersamaan ke dalam.” “Mengapa?” tanya si wanita. Salah satu dari laki-laki tua itu menjelaskan, “Dia bernama Kaya,” sambil menunjuk salah satu temannya, dan berkata sambil menunjuk temannya yang lain, “Dia bernama Sukses, dan aku Cinta.” Kemudian dia menambahkan, “Masuklah dan diskusikan dengan suamimu, siapa diantara kita yang kau inginkan di dalam rumahmu.”

Wanita itu masuk ke dalam dan memberitahu suaminya. Sang suami sangat gembira dan berkata, “Kalau begitu mari kita undang Kaya. Biarkan dia masuk dan mengisi rumah kita dengan kekayaan!” Sang istri tidak setuju. “Sayangku, kenapa tidak mengundang sukses?” Anak kecil mereka yang mendengarkan pembicaraan mereka, bangkit dari tempat duduknya dan memberikan pendapatnya, “Apakah tidak lebih baik kalau kita mengundang Cinta? Rumah kita akan dipenuhi dengan Cinta!”

“Baiklah, kita laksanakan usul anak kita,” kata sang suami kepada istrinya. “Pergilah keluar dan undanglah Cinta.” Si wanita pergi keluar dan berkata kepada ketiga lelaki tua itu, “Siapa diantara kalian Cinta? Silahkan masuk dan menjadi tamu kami.”

Cinta berdiri dan berjalan ke arah rumah. Kedua laki-laki yang lain juga berdiri dan mengikutinya. Si wanita terkejut dan menanyai Kaya dan Sukses, “Aku hanya mengundang Cinta, mengapa kalian masuk?” Keduanya menjawab bersamaan, “Jika kau mengundang Kaya atau Sukses, kami berdua akan tetap berada di luar, tetapi karena kau mengundang Cinta, kemana ia pergi, kami selalu mengikutinya. Di mana ada Cinta, selalu ada Kaya dan Sukses!”

Kisah yang saya dapatkan dari sebuah milis yang saya ikuti ini, mengingatkan saya akan berbagai penelitian tentang kebahagiaan. Penelitian mengenai kekayaan dan kesuksesan dalam hubungannya dengan perasaan bahagia. Sebut saja David Myers. Myers menulis tentang sebuah paradoks yang terjadi di Amerika. Kenapa? Karena kemajuan Amerika sebagai Negara dunia pertama, dengan tingkat kekayaan yang melimpah ternyata mengalami krisis kebahagiaan. Dan peningkatan krisis kebahagiaan ini berbanding lurus dengan tingkat kekayaan dan kemakmuran. Merupakan hal yang ironis bukan?

Di sisi yang lain, Dr. Paul Pearsall melakukan penelitian terhadap orang-orang yang sukses. Telah ditemukan bahwa orang-orang sukses pun ternyata menderita, dan sangat sedikit merasa bahagia. Kenapa bisa demikian? David Myers pernah bercerita: Salah seorang mahasiswaku menggambarkan penderitaannya setelah delapan tahun hidup dengan ibunya dan ayah tirinya yang kaya tetapi suka melecehkannya: “Tidak perlu aku katakan bahwa situasinya tidak menyenangkan. Memang … ia mengendarai BMW dan baru saja membelikan untuknya Mercedes. Mereka memberi aku Mazda 626. Ia berbelanja di Bloomingdale dan memberikan untuknya jam Gucci. Dalam setahun, ia memberiku kapal pesiar. Setelah itu ia membelikanku selancar angin sendiri. Rumahku punya 2 VCR dan 3 televisi Hitachi. Apakah semuanya itu membuatku bahagia? Sama sekali tidak. Aku ingin menukarkan semua kekayaan keluargaku untuk kehidupan keluarga yang penuh damai dan cinta kasih.”

Rasa bahagia ada cinta di dalamnya, begitu pula sebaliknya. Banyak orang bergerak dengan motivasi yang bersifat materialistis atau mentalitas negatif. Mula-mula mendapatkan diri tidak memiliki yang diinginkan, dan dengan keadaan yang terpuruk itu, muncullah sekian impian untuk menggapainya. Baik itu dengan alasan kemiskinan keluarga (khususnya pada seorang suami yang merasa harus membiayai kehidupan istri dan anaknya) ataupun ingin membuktikan sesuatu kepada orang-orang yang telah mengejek kita lantaran miskinnya dan tidak berguna.

Alasan-alasan di atas yang membuat kita bergerak dalam meraih kekayaan dan kesuksesan tidaklah salah. Namun pertanyaan berikutnya adalah: apa yang akan kita lakukan setelah mendapatkan semuanya? Biasanya sih berujung pada pencarian kesenangan dan memuaskan keinginan-keinginan. Jadi, pada awalnya hanya sekedar memenuhi kebutuhan keluarga atau ingin membuktikan keberhasilan kita pada orang lain, tapi berakhir pada “just for fun”. Inilah mungkin gambaran dari kisah di atas, kalau kita memilih Kaya atau Sukses, maka Cinta tak akan pernah ikut, sehingga kebahagiaan itu tak pernah diraih.

Pada sebuah training yang saya adakan pada bulan januari 2005 lalu, saya mengangkat tema pertama dari tujuh hukum kebahagiaan, yaitu momentum. Menurut saya, paling tidak, ada tujuh hal yang membuat kita bisa meraih kebahagiaan. Saya menyebutnya juga dengan siklus 7. Karena hidup ini adalah sebuah siklus, dimana kita bisa memilih ingin berada pada siklus mana? Ke-7 siklus itu adalah: momentum, perubahan, identitas diri, tujuan dan prioritas, pilihan, pelayanan, dan doa.

Kita telah menguraikan sedikit gambaran mengenai momentum, dan kita coba membahasnya dengan lebih (sedikit) mendalam. Secara biologis, manusia bisa memiliki fungsi yang tidak jauh berbeda dengan hewan/binatang. Hanya postur organ tubuh saja yang memiliki perbedaan, namun pada fungsi organ tubuh, hampir semuanya sama dengan hewan. Dan terdapat satu ciri khas pada manusia dan hewan, yang membedakannya dengan tumbuhan, yaitu kemampuan untuk bergerak/berpindah. Hal ini pulalah yang menjadi pembeda antara manusia dan hewan. Secara sederhana, dapat digambarkan dengan pertanyaan: kemana manusia akan bergerak? Proses gerak yang dimaksud, tentunya, tidak hanya pada berpindah tempat, karena hewan pun dapat berpindah tempat. Jadi, hanya ada satu pengertian sederhana untuk defenisi gerak ini. Saya mendefenisikan gerak di sini dengan: PROSES MENJADI (BEING).

Hidup ini bukan hanya sekedar makan, minum, dan memiliki tempat tinggal. Namun, lebih dari itu, setiap manusia memiliki tujuan. Dan untuk menggapai tujuan, maka terjadilah “proses menjadi” atau gerak pada manusia. Anda ingin lulus PNS atau UMPTN, maka Anda harus “menjadi” cerdas dan berwawasan luas, agar dapat menjawab soal-soal yang diberikan. Walhasil, keberadaan tujuan meniscayakan sebuah proses gerak, dan begitu pula sebaliknya, setiap melakukan proses gerak, maka harus memiliki tujuan. Namun, tak semua manusia bergerak. Berdasarkan penelitian, rata-rata pada umur 25 tahun kebanyakan manusia telah mati. Secara sederhana, orang mati berarti tidak bisa bergerak. Ini berarti, pada umur 25 tahun, kebanyakan manusia, tidak melakukan “proses menjadi” dan pada akhirnya kehilangan arah/tujuan. Inilah salah satu faktor, yang membuat manusia tidak merasakan kebahagiaan.

Oleh sebab itu, diperlukan momentum agar “proses menjadi” itu terus berlanjut. Dalam fisika, momentum dapat didefenisikan (secara sederhana) sebagai kekuatan penggerak. Dalam kehidupan nyata, kekuatan penggerak (momentum) ini dapat saya artikan sebagai: ALASAN. Dapat disederhanakan dengan pertanyaan berikut: apa alasan saya untuk melakukan sesuatu? Atau apa alasan saya untuk hidup? Atau apa alasan saya untuk menggapai tujuan-tujuan saya?

Seperti yang telah digambarkan di atas, kebanyakan orang (hanya) memiliki alasan yang bersifat materialistis atau mentalitas negatif. Seperti yang saya uraikan juga, hal tersebut tidaklah salah. Saya hanya ingin mengajak untuk menggali lebih dalam, dan menemukan alasan yang sangat kuat dibalik alasan-alasan di atas. Dan untuk itu, saya teringat dengan tulisan dari Gede Prama. Saya akan mencoba mengutipkannya untuk Anda:

Tidak ada satupun kata-kata yang bisa mewakili perasaan
jatuh cinta. Sebutlah kata senang, gembira, bahagia, bergetar,
berdebar, takut kehilangan, cemburu, ingin selalu bersama,
semua terlihat bersinar dan menyenangkan, tetap saja tidak bisa
mewakili seluruh nuansa jatuh cinta. Inilah rangkaian hal yang
membuat cinta diidentikkan dengan perasaan (feeling).

Ada dimensi kedua dari cinta yang layak dicermati setelah
cinta sebagai perasaan, yakni cinta sebagai sebuah kekuatan
(power). Coba perhatikan pengalaman jatuh cinta kita masing-masing.
Ada kekuatan maha dahsyat yang ada di dalam diri, yang
membuat badan dan jiwa ini demikian perkasanya. Seolah-olah
disuruh memindahkan gunung pun rasanya bisa. Hampir tidak ada
penugasan dari lawan jenis yang kita cintai, yang tidak bisa
diselesaikan. Mulut ini seperti dengan cepatnya berteriak: bisa!

Bermula dari pemahaman seperti inilah, maka Deepak
Chopra dalam The Path To Love, menyebut bahwa jatuh cinta
adalah sebuah kejadian spiritual. Ia tidak semata-mata
bertemunya dua hati yang cocok kemudian menghasilkan jantung
yang berdebar-debar. Ia adalah tanda-tanda hadirnya sebuah
kekuatan yang dahsyat. Persoalannya kemudian, untuk apa
kekuatan dahsyat tadi dilakukan.

Seperti yang dituturkan oleh Gede Prama, saya pun sepakat bahwa kekuatan penggerak (momentum) itu adalah: CINTA. Setelah kita memiliki cinta, lantas bagaimana memperlakukannya dalam kehidupan sehari-hari? Atau seperti kata Gede Prama, “Untuk apa kekuatan dahsyat tadi dilakukan?

Dalam training momentum (saya sudah menjelaskannya di atas), saya membawa cinta itu, sebagai kekuatan penggerak, ke arah orang tua. Saya menyatakannya seperti ini: Apa yang Anda persembahkan kepada kedua orang tua Anda? Keinginan mempersembahkan yang terbaik itu, memberikan kekuatan untuk menggapai tujuan-tujuan hidup. Kalau kita simak dengan lebih dalam, secara umum, cinta itu bukan hanya mempersembahkan kepada kedua orang tua, tapi kepada siapa saja. Di sinilah arti penting dari MEMBERI.

Dalam kehidupan, seolah-olah, terjadi dualisme. Ada terang dan gelap, hidup dan mati, begitu juga dengan memberi dan menerima. Namun pada dasarnya, yang ada hanya ketunggalan saja. Misalkan, terang dan gelap. Yang ada hanyalah terang. Gelap itu pada dasarnya tidak ada, karena gelap hanya terjadi sebagai akibat (konsekuensi) dari adanya terang. Kalau kita bertanya: adakah sumber terang? Mungkin kita menjawab, “lampu atau matahari”. Namun, jika kita tanyakan: adakah sumber gelap? Maka jawaban tidak akan pernah ditemukan, karena gelap terjadi ketika kita menjauh dari sumber terang. Inilah yang dalam filsafat disebut sebagai substansi dan aksident, dimana terang adalah substansi dan gelap adalah aksident (konsekuensi dari adanya terang). Maka begitu pula pada “memberi” dan “menerima”. Pada dasarnya “menerima” itu tidak ada. Karena “menerima” hanya terjadi jika kita telah “memberi” terlebih dahulu. Marilah kita simak (kembali) tulisan Gede Prama yang lain:

Mari kita amati lebih dalam tentang orang-orang yang
sedang jatuh cinta ini. Orang yang sedang jatuh cinta ternyata
berpikiran positif. Semua dilihat secara positif. Serba optimis,
serba menyenangkan, mudah menerima. Sebuah taman yang
biasa-biasa saja pun terlihat bak firdaus.

Kita pun menemukan energi yang luar biasa. Energi untuk
diberikan pada orang lain. Energi untuk berkreasi, berproduksi,
bahkan energi untuk berkorban bagi orang yang dicintainya.

Sekarang mari kita amati pengalaman pribadi kita sendiri.
Saat kita bertemu dengan orang yang mengarahkan kita dengan
hati mereka – orang tua, guru, dosen favorit, atasan, dan
sebagainya. Apa yang kita lakukan untuk mereka? Kita beri apa
yang mereka minta dengan senang hati. Kita lakukan apa yang
mereka minta tanpa syarat. Tanpa menggugat, tanpa memikirkan
apakah yang akan kita dapat sebagai imbalannya. Memberi cinta
akan mendapat cinta. Memberi hati, akan mendapatkan yang sama.

Jadi, Anda tak akan mungkin “menerima”, jika tidak terlebih dahulu “memberi”. Dan kekuatan “memberi” itu adalah kekuatan cinta, yang penuh ketulusan dan keikhlasan. Dengan melakukan hal ini, maka tanpa Anda harapkan dan meminta sekalipun, maka “penerimaan” akan selalu Anda dapatkan, karena (sekali lagi) “menerima” adalah konsekuensi dari “memberi”.

Walhasil, alasan kuat (momentum) untuk bergerak (proses menjadi) adalah cinta. Dan cinta ini merupakan landasan dari “memberi”. Alasan kuat inilah yang pada akhirnya akan melahirkan komitmen untuk berbuat. Nah, kalau kita perhatikan alasan-alasan yang telah kita sebutkan pada awal-awal pembahasan kita (misalnya: membuktikan diri kepada orang lain atau memberikan nafkah kepada keluarga, inipun merupakan persembahan juga), semuanya haruslah memiliki landasan cinta untuk memberi. Hal ini pun senada dengan perkataan Ali bin Abi Thalib, “Carilah rejeki dengan bersedekah”. Atau perkataan Rasulullah saw, “Orang yang paling mulia adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.”

Saya tertarik untuk mengakhiri pembahasan kita ini dengan kisah berikut:

Di kota Samarkand suatu ketika hiduplah seorang pembawa air yang bersumpah: apa yang dia dapat setiap hari Jumat, dia akan memberikannya kepada kaum miskin, demi ruh ibu dan ayahnya. Lebih jauh, dia akan berdoa demi pengampunan dosa bagi kaum miskin setelah shalat lima waktu. Sekian lama dia menjalani komitmen ini, tetapi suatu Jumat dia tidak memperoleh uang, sehingga ia tidak bisa memberi apa-apa pada kaum miskin.

Dia pergi dan bertanya pada seorang yang bijak tentang apa yang seharusnya dia lakukan. Orang itu berkata, “Anakku, kumpulkan kulit dan air dari buah melon. Berikan semuanya pada binatang, kemudian mintalah imbalan spiritual bagi tindakanmu untuk ibu dan ayahmu. Janjimu itu dengan begitu akan terpenuhi”.

Pembawa air itu melakukan apa yang dikatakan orang bijak itu. Dinihari itu ia melihat ibu dan ayahnya dalam sebuah mimpi. “Semoga Tuhan ridho denganmu!” mereka berteriak. “Engkau terbiasa memberi kami hadiah setiap Jumat, dan sekarang malam Jumat ini, kami menerima sebagai pemberian Tuhan berupa melon dan air buah melon dari surga”.

*) Syahril Syam adalah seorang berlisensi NLP dan certified Hypnotherapist. Beliau juga adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia juga adalah penulis buku best seller The Secret of Attractor Factor. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril@trainersclub.or.id

Telah di baca sebanyak: 45

K+T=H

Paul G. Stoltz. Pernah dengar nama itu?
Adversity Quotient. Pernah dengar istilah itu?

Lalu, apa hubungan keduanya? Kalau Anda belum pernah mendengar atau membaca tentang keduanya, ijinkan saya beritahu. Adversity Quotient adalah judul buku yang ditulis oleh Paul G.Stoltz tahun 1997, sekitar dua tahun setelah dunia digoncangkan oleh publisitas Emotional Quotient-nya Daniel Goleman. Dan setelah itu, sejumlah penulis menawarkan berbagai jenis ”quotient” lainnya; dengan atau tanpa penelitian yang mendalam.

Apa terjemahan yang tepat untuk Adversity Quotient (AQ) ini? Kecerdasan mengatasi kesulitan, kecerdasan mengubah masalah menjadi berkah, dan kecerdasan adversitas adalah beberapa ”terjemahan” yang digunakan kawan-kawan di Indonesia. Adversity sendiri punya sinonim nasib buruk, kemalangan, kesulitan, masalah, dan sejenisnya. Jadi, upaya menerjemahkan kata itu cukup sah buat saya. Namun untuk kepentingan tulisan ini, mari kita gunakan saja singkatannya: AQ.

Salah satu tiang utama penopang teori AQ adalah asumsi bahwa ”kejadian atau peristiwa tidak penting, namun tanggapan atau respons terhadap kejadian akan menentukan masa depan”. Kejadian yang menimpa diri Anda tidak penting, tetapi bagaimana dan apa tanggapan Anda atau kejadian tersebut bersifat menentukan.

Contoh pertama: Atasan memarahi Anda karena laporan yang tidak akurat (kejadian). Lalu, Anda membenci dan menganggapnya kejam (tanggapan). Akibat atau hasilnya, hubungan Anda dengan atasan memburuk dan karier Anda terancam. Atau kejadian yang sama Anda tanggapi dengan melakukan instropeksi, berusaha memperbaiki kinerja, dan minta maaf atas ketidaktelitian Anda; maka, akibatnya hubungan Anda terperbaiki dan karier Anda tidak terancam.

Contoh kedua: Anda mendapatkan warisan dari orangtua sebesar lima miliar rupiah (kejadian). Lalu, Anda menggunakannya untuk membeli mobil mewah dan liburan keluar negeri—ke Amerika selama dua seminggu, ke Eropa selama dua minggu, dan ke Australia selama seminggu—sesuai dengan cita-cita yang sudah lama Anda impikan (tanggapan). Hasilnya, warisan Anda ludes dalam sekejap. Atau, warisan yang sama Anda gunakan untuk membeli reksadana saham sebagai persiapan pensiun senilai dua setengah miliar; satu setengah miliar berikutnya Anda tabung dalam bentuk reksadana campuran untuk dana pendidikan ke universitas untuk tiga anak Anda yang sekarang berangkat remaja; sepuluh persennya Anda sumbangkan untuk amal dan sedekah anak yatim; sepuluh persen yang terakhir Anda gunakan untuk renovasi rumah, deposito dana darurat, dan sebagainya. Hasilnya, anak-anak lebih terjamin pendidikannya dan Anda siap menjemput masa pensiun kelak dengan gembira.

Contoh ketiga: kekasih yang sangat Anda cintai, meninggalkan Anda untuk menikah dengan teman karib Anda (kejadian). Lalu, Anda merasa terhina, kemudian melabrak mereka berdua dan melukai wajah mereka berdua. Hasilnya, Anda ditangkap polisi dan diproses hukum hingga masuk penjara. Atau kejadian yang sama Anda tanggapi dengan bersyukur, menganggap bahwa mungkin itu juga berkah terselubung dari Tuhan. Anda bahkan datang ke perkawinan mereka dan mendoakan mereka dengan ikhlas agar menjadi pasangan yang berbahagia. Hasilnya, Anda tenang untuk melangkah dan mencari pasangan baru pengganti kekasih tersebut.

Dalam tiga contoh di atas ada rumus bakunya, yakni: Kejadian + Tanggapan = Hasil (K+T=H). Dan hasil dari proses percengkeramaan ”kejadian” dengan ”tanggapan” itu lebih banyak ditentukan oleh ”tanggapan” Anda atau ”kejadian”; bukan didikte oleh ”kejadian” itu sendiri. Anda bisa membuat atau mengolah setiap kejadian agar menjadi ”kutuk” atau menjadi ”berkah”; Anda bisa membuat peristiwa apapun menjadi pemicu untuk maju, atau penghancur semangat juang; Anda bisa membuat perlakuan-perlakuan orang yang tidak adil menjadi pemicu untuk bersikap adil, memperjuangkan keadilan, mengabdikan diri sebagai penegak hukum yang sungguh-sungguh, atau perlakuan yang tidak adil itu justru Anda ijinkan untuk menghancurkan motivasi untuk hidup dan berkarya.

Sungguh kita patut tak henti bersyukur bahwa Tuhan menciptakan kita semua (manusia) sebagai mahluk dengan kemampuan memberikan tanggapan-tanggapan secara kreatif. Output yang dihasilkan oleh manusia tidak selalu sama dengan input, karena kita bukan mesin produksi dipabrik sepatu. Kemalangan, dukacita, kesengsaraan, musibah, dan bencana, bisa kita tanggapi dengan konstruktif, beriman, berimajinasi, rekonstruksi memori, berpikir logis dan bertindak taktik, sehingga kemudian muncullah keriangan, suka cita, damai sejahtera, kebajikan, kearifan, dan sebagainya. Batas-batas kreativitas itu bahkan belum sepenuhnya bisa terpetakan oleh para periset dan cendikiawan yang pernah hidup sampai hari ini. Itu sebab berbagai kejadian yang paling buruk sekalipun bisa memunculkan inspirasi dan karya luar biasa dalam sejarah.

Apakah dengan memahami resep sukses bahwa K+T=H akan membuat Anda sukses? Itu saya tak berani jamin. Sebab bukan resep sukses ini yang penting; melainkan bagaimana sebuah resep sederhana macam begini Anda praktikkan gegap gempita dalam hidup, itulah yang paling menentukan. Dan kalau menggunakan cara berpikir AQ, maka resep sukses kali ini tidak lebih dari kejadian (K), sedangkan tanggapan (+T) Anda atas resep sukses inilah yang justru lebih menentukan hasilnya (=H).

Jadi, bagaimana tanggapan Anda kali ini?

*) Andrias Harefa WTS. Penulis 38 Buku Best-Seller. Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 Tahun. Pendiri www.pembelajar.com. Profil lengkap bisa diakses di www.andriasharefa.com

Telah di baca sebanyak: 42

Menulis Buku Best Seller Itu Gampang

“Saya kenal dengan banyak orang yang tidak bisa ketika mereka mau, karena mereka tidak melakukannya ketika mereka bisa.” – Francois Rabelais (Pengarang Perancis)

Apa yang pertama membuat saya tergerak menulis buku unik ini? Tak lain adalah sebuah perbincangan hangat di ruang tamu Gedung Kompas-Gramedia lt.4 pada akhir 2003 lalu. Saya bertemu dua teman lama yang berprofesi sebagai peneliti, dan berdiskusi mengenai situasi ekonomi-politik menjelang Pemilu 2004. Sungguh, rasanya tak sejengkal isu pun bakal terlewat jika sedang asyik berdiskusi dengan para intelektual seperti mereka. Kedua rekan saya itu sangat antusias, sambung-menyambung argumentasinya, dan memperdebatkan begitu banyak isu menarik yang hendak dituangkan dalam bentuk tulisan atau buku politik.

Beberapa ide yang sempat mereka kemukakan antara lain adalah membuat buku track record dan janji-janji para politisi kondang, rapor merah partai-partai, catatan pemilu dari tahun ke tahun, humor politik, sampai ide buku tentang pariwisata klenik. “Kalau dibukukan, rasanya tema-tema tadi pasti digemari orang. Bisa-bisa jadi buku best seller…” ujar teman saya bersemangat sekali. Antusiasme diskusi membuat segalanya menjadi menggairahkan dan seolah begitu mudah diwujudkan. Tentu saja saya sambut hangat ide-ide teman-teman saya ini. Maklum, keduanya setiap hari bergelut dengan informasi terbaru, akses datanya tak terbantahkan, penguasaan metodologi penelitian bisa diandalkan, dan menulis sudah merupakan kegiatan keseharian mereka. Jadi, tunggu apa lagi?

Namun beberapa menit setelah antusiasme kami berhasil mengeksplorasi ide-ide itu lebih jauh lagi, mulailah tersembul segala ‘hambatan’. Tampaknya, hambatan itu mereka sendiri yang menciptakan dan akhirnya mengubur sendiri keinginan membuat buku-buku menarik tersebut. Tidak ada waktu, sibuk kuliah lagi, tidak bisa konsentrasi, data kurang, data belum tersedia, bayangan rumitnya menyusun buku, pernah macet saat mencoba, sampai perasaan terlalu berat jika harus menuangkan ide-ide itu dalam bentuk buku. Alhasil, ide membuat buku laris menguap begitu cepatnya, secepat datangnya ide-ide itu pada awalnya. Yang lebih menggemaskan lagi, tak lama kemudian justru ada penulis lain –yang tidak pernah sekalipun bertukar ide dengan mereka– yang berhasil menulis buku best seller dengan tema sama persis dengan ide-ide mereka sebelumnya.

Beragam latar belakang orang pernah menyampaikan kepada saya tentang hasrat mereka untuk menulis buku. Sebut misalnya seorang pemasar properti dan agen asuransi senior, yang sangat sukses dan ingin sekali membukukan kisahnya. Ada pula presiden direktur perusahaan direct selling bermimpi membuat buku penjualan yang sangat lengkap. Ada lagi wakil presiden direktur yang ingin membuat buku marketing. Lalu seorang trainer begitu berhasrat membuat buku-buku tentang kreatifitas. Ada dosen yang ingin membuat diktat-diktat kuliah maupun novel laris. Ada seorang sekretaris senior yang ingin sekali membukukan kisah cintanya yang begitu menghebohkan.

Problem lain –yang sering menghentikan minat penyibuk untuk mulai menulis– adalah bayangan ruwetnya proses penulisan dan penerbitan buku. Bagaimana dan dari mana mulai menulis? Dari mana ide didapat? Tema apa yang menarik? Bagaimana mengorganisasikan gagasan? Bagaimana membuat tulisan yang enak dibaca? Bagaimana mengatasi kemacetan saat menulis? Siapa yang bisa membantu menulis? Penerbit mana yang mau menerbitkan? Siapa yang mau membeli buku saya? Dan masih banyak lagi.

Seorang profesional yang pernah saya wawancarai mengakui bahwa teknik menulis itu bisa dipelajari dan dilatih. Anehnya, ia juga “memvonis” bahwa dirinya benar-benar tidak memiliki bakat menulis. Akibat vonis diri itu, ia merasa ragu untuk belajar menulis, sungguh pun ia sangat ingin bisa membuat buku tentang prospek profesinya. Nah, tampaknya persoalan menulis buku bukan melulu soal teknis, tapi juga soal-soal konstruksi mental..

Buku-buku laris yang ditulis oleh orang-orang super sibuk semacam Hermawan Kartajaya, Renald Kasali, Aa Gym, Bondan Winarno, Andrie Wongso, Ary Ginanjar, Andrias Harefa, dll, sering begitu menggoda dan memprovokasi orang-orang yang saya singgung di atas itu. Tapi ketika ide-ide hendak dituliskan menjadi naskah buku, tiba-tiba muncul banyak hambatan yang sulit mereka pecahkan sendiri. Si penjual sukses itu misalnya, mengaku sulit konsentrasi menulis akibat sering menerima telepon dari pelangganya. Sementara si direktur mengaku urusan rapat dengan manajemen dan mitra bisnis seperti tak ada habisnya. Alhasil, ruang-ruang bebas untuk menuliskan gagasan serasa hampir mustahil didapat.

Dari pengalaman saya, proses menulis buku itu tidak serumit atau sesulit yang dibayangkan banyak orang. Saya setuju dengan Arswendo Atmowiloto yang mengatakan menulis atau mengarang itu gampang. Memang begitulah kenyataannnya dan semua orang bisa membuat buku laris di pasaran. Syaratnya hanyalah:

- Tahu teknik-teknik yang paling efektif untuk menulis buku.
- Mau menyisihkan waktu dan disiplin menulis.
- Dapat menemukan topik-topik yang dibutuhkan atau diminati masyarakat.
- Memiliki motivasi yang kuat untuk menulis buku.
- Dan punya sense of marketing.

Soal teknik-teknik menulis, bagaimana menemukan topik yang bagus dan mengatur waktu menulis, kita akan bahas pada bab-bab berikutnya. Soal motivasi, nah… ini ada sederet penulis buku dari luar maupun dalam negeri yang patut diacungi jempol. Bukankah mengagumkan bila Madonna, si mega bintang yang super sibuk itu, mampu menulis buku anak-anak yang laris manis berjudul The English Roses dan Mr. Peabody’s Apples. Simak kisah seorang sopir taksi dari Inggris bernama Mus Mustafa, yang sukses dengan buku In A Year of A London Cabbie: Everyone Has A Story.

Jangan lupakan, para pemain bola paling top di dunia seperti Maradona, Pele, Ronaldo, David Beckam, dll, membukukan kisah-kisahnya. Dan yang lebih heboh lagi, Joseph Ratzinger alias Paus Benediktus XVI, baru saja dikukuhkan sebagai penulis best seller. Pasalnya, sekitar tiga lusin judul buku yang ditulisnya 25 tahun lalu, edisi cetak ulangnya laris manis di pasar. Hanya dalam waktu dua hari, 300.000 kopi terjual habis dan 300.000 cetak ulang berikutnya sudah dipesan. Salah satu judul yang laris manis adalah Salt of the Earth.

Dari negeri sendiri, banyak kisah-kisah penulis muda yang mengundang decak kagum. Simak kisah Rachmania Arunita pengarang novel Eiffel I’m in Love, yang menyelesaikan novel best seller itu saat ia masih duduk di bangku SMU. Lihat prestasi si gadis cilik Sri Izzati, yang berhasil menyelesaikan novel setebal 145 halaman berjudul Powerful Girls saat usianya baru delapan tahun. Ada pula Natasha Alesandra yang meluncurkan novel The Adventure of Molly, sebuah novel berbahasa Inggris setebal 60 halaman, yang juga ditulis saat usianya masih delapan tahun. Ada si Abdurahman Fais, penyair cilik yang juga telah membukukan puisi-puisinya pada usia delapan tahun. Dan yang baru saja saya wawancarai, Arifia Sekar Seroja, cerpenis cilik yang berhasil membukukan kumpulan cerpennya berjudul Gigi Kelinci pada usia 9 tahun. Luar biasa mereka itu!

Dari generasi sepuh, ada Achdiat K. Mihardja (penulis novel klasik Atheis) yang masih mampu menulis novel berjudul Manifesto Khalifatullah pada usia 94 tahun. Dari kalangan akademis, ada Profesor Dr. F.G. Winarno, yang pada usia 64 tahun berhasil menulis 50 judul buku hanya dalam waktu 4 bulan (2,4 hari per judul). Ada pula Mashuri (penulis buku-buku paranormal) yang pada usia 40-an mampu menghasilkan 83 judul buku hanya dalam waktu 92 bulan (33 hari per judul). Begitu mudahnya menulis buku!

Simak pula nama para penulis buku best seller yang saya singgung sebelumnya. Mengherankan, orang-orang sibuk seperti Hermawan Kartajaya, Renald Kasali, atau Aa Gym, itu masih mampu menulis buku-buku bagus dan disukai pembaca. Dari kaca mata saya, rahasianya terletak pada personal branding mereka, pilihan topiknya, serta pilihan teknik penulisan yang tepat. Alhasil, kesibukan bukan lagi menjadi penghalang utama bagi para penulis best seller tersebut.

Tampaknya apa pun profesi, pendidikan, latar belakang, bahkan usia muda sekalipun, tidak menghalangi seseorang untuk menulis buku yang digemari pembaca. Selalu saja ada sisi-sisi kemanusiaan atau hal unik lainnya yang bisa dibagikan kepada orang lain. Buku adalah jembatan untuk berbagi secara lebih utuh. Itulah yang sudah ditunjukkan oleh contoh-contoh mengagumkan di atas.

Nah, untuk mewujudkan impian menulis buku, pertama-tama kita harus menyingkirkan aral mental berupa anggapan bahwa menulis buku itu sulit. Singkirkan pula aral mental bahwa kita butuh bakat khusus untuk menulis. Hilangkan anggapan bahwa ide bagus itu sulit ditemukan. Sebaliknya, sejak awal kita harus yakin, semua orang punya bakat menulis. Kita pasti bisa mengatur waktu untuk menulis jika kita mau melakukannya. Kita juga bisa menggali ide dan banyak teknik untuk itu. Kita pun harus berani memutuskan dan mulai berlatih menulis secara disiplin.

Mengetahui teknik menggali ide, memilih topik atau tema yang menarik, mengatur waktu, membuat outline, tahu dari mana memulai, bisa memilih bentuk buku, serta mau berlatih, itu semua penting peranannya dalam menghasilkan buku-buku laris. Namun memiliki motivasi yang tinggi untuk menghasilkan buku best seller juga sangat penting peranannya dalam dunia penulisan buku.

Tips:
- Yakinkan diri, asal tahu cara dan tekniknya yang cocok, menulis buku tidaklah sesulit yang dibayangkan.
- Yakinkan diri, semua orang pasti memiliki bahan berupa gagasan, pengalaman, kisah, imajinasi, dan keahlian yang layak untuk ditulis menjadi buku.
- Miliki motivasi yang tinggi untuk mewujudkan buku yang anda impi-impikan.
- Jangan puas hanya menulis buku, tapi sejak awal miliki hasrat 100 persen untuk menghasilkan buku best seller.
- Jika bocah usia 8 tahun atau kakek usia 94 tahun mampu menulis buku, anda pun pasti mampu.

*) Anda tertarik menulis buku best-seller? Ikuti workshop MENULIS BUKU BEST-SELLER batch 23 : 15-17 Desember 2011. Info : 021-460 5757

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku bestseller, editor profesional, writer coach, trainer, dan konsultan kepenulisan dan penerbitan. Dua karya terakhirnya yang laris di pasaran adalah Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller (Fivestar, 2008) dan Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila (Kintamani, 2009). Edy juga menjadi pendiri sekaligus editor website motivasi AndaLuarBiasa.com. Ia dapat dihubungi di nomor: 08159912074/021-59400515 atau pos-el: edzaqeus[at]gmail[dot]com.

Telah di baca sebanyak: 42

Next Page »

Top