Family Therapy: Apa, Mengapa, dan Bagaimana?


“Sementara kita mencoba mengajar anak-anak kita semua hal tentang kehidupan,
anak-anak kita mengajar kita apakah kehidupan itu sebenarnya.”

Dalam beberapa minggu terakhir ini saya banyak mendapat klien anak-anak hingga remaja. Umumnya masalah mereka berkisar pada masalah perilaku, kebiasaan, interaksi sosial, dan prestasi akademik/sekolah. Ada yang tidak mau mendengar orangtuanya, ada yang mogok sekolah, ada yang tidak mau bicara dengan orangtuanya, motivasi belajar rendah dan ketagihan main game, suka ribut dengan teman, dan bahkan ada yang mau minggat dari rumah. Orangtua yang kebingungan menghubungi saya dan minta tolong untuk bisa menerapi anak mereka.

Umumnya saya tidak akan langsung menerapi si anak. Saya biasanya akan minta orangtua, baik ayah maupun ibu, untuk bertemu saya di sesi awal melakukan konseling. Nah, masalah biasanya muncul di sini. Orangtua pada umumnya keberatan dengan dua alasan utama yaitu mereka tidak bisa bertemu saya, apalagi konseling, karena mereka sibuk dan ini kan masalah anak, lalu mengapa orangtua yang ikut konsultasi segala.

Orangtua yang tidak bersedia bertemu dan konseling dengan saya pasti akan saya tolak. Saya tidak akan melakukan terapi pada anak mereka.

Mengapa saya bersikeras bertemu kedua orangtua terlebih dahulu sebelum menerapi anak mereka?

Pengalaman klinis saya menunjukkan bahwa masalah utama anak umumnya bersumber dari orangtua dan atau lingkungan (keluarga). Bisa juga masalah berawal dari sekolah. Namun, mayoritas masalah anak bersumber dari orangtua.

Bila anak diibaratkan produk maka kualitas produk yang dihasilkan ditentukan oleh kualitas bahan baku dan mesin/proses produksi. Produk yang cacat atau kurang baik, bila bahan bakunya bagus, maka yang harus dicek adalah mesin dan proses produksinya. Dalam hal ini mesin adalah orangtua dan proses produksi adalah pendidikan keluarga yang dialami anak melalui interaksinya dengan dan di dalam lingkungan keluarga yang sangat menentukan kualitas tumbuhkembangnya.

Family Therapy adalah terapi yang melibatkan keluarga sebagai suatu sistem interaksi sosial dengan tujuan untuk mengatasi masalah tertentu dan atau untuk meningkatkan kualitas atau kondisi kehidupan anggota keluarga ke arah yang lebih baik. Terapi dilakukan baik dengan menggunakan konseling maupun teknik yang lebih spesifik.

Bila dalam keluarga ada beberapa anak maka biasanya yang bermasalah hanya satu anak saja. Anak yang bermasalah ini adalah manifestasi dari sistem keluarga yang bermasalah. Jika upaya terapi hanya dilakukan pada anak maka ia bisa sembuh dan setelah itu akan kambuh lagi. Diterapi lagi, sembuh….dan setelah itu kambuh lagi. Bisa juga setelah anak ini sembuh maka yang bermasalah adalah saudaranya. Demikian seterusnya. Sekali lagi, masalah anak sebenarnya mencerminkan masalah pada sistem keluarga.

Dalam melakukan Family Therapy dibutuhkan komitmen penuh dari kedua orangtua. Bila hanya salah satu saja yang komit menjalani sesi terapi maka hasilnya tidak maksimal.

Keberhasilan Family Therapy juga sangat ditentukan oleh integritas, kredibilitas, dan level otoritas terapis di mata kedua orangtua. Bila terapis tidak mampu membangun postur dengan baik, tidak mampu menunjukkan kredibilitas, dan terutama otoritasnya sebagai terapis yang kompeten dan berpengalaman di mata orangtua klien maka apa yang ia sarankan tidak akan dilakukan oleh orangtua. Hal ini akan sangat menghambat proses terapi.

Biasanya terapis yang usianya masih muda, misalnya 20an atau 30an akan sulit “menghadapi” para orangtua yang usianya jauh di atasnya. Apalagi bila orangtua ini adalah tipe yang keras kepala, merasa lebih pintar atau lebih berpengalaman dari terapis, atau mungkin juga orang sukses atau dengan posisi jabatan yang tinggi dalam suatu organisasi. Namun tidak semua orangtua seperti ini. Ada orangtua yang sadar bahwa mereka membutuhkan bantuan dari orang lain dan dengan rendah hati dan sungguh-sungguh bersedia mendengar saran dan masukan dari terapis yang usianya lebih muda dari mereka.

Dalam Family Therapy bila dibutuhkan orangtua juga akan diterapi. Hal ini dilakukan karena sebenarnya pola asuh orangtua, yang mengakibatkan timbulnya masalah dalam diri anak, berasal dari pengalaman hidup mereka saat mereka masih kecil. Biasanya trauma orangtua inilah yang menjadi akar masalah dalam keluarga. Misalnya orangtua yang overprotective, overpemissive, overdemanding, pencemas, suka berkata kasar, pemarah / gampang “meledak”, bersikap kasar pada anak, terlalu disiplin, suka memukul, suka mengancam, menggunakan pendekatan punishment and reward dalam mendidik anak, memberlakukan cinta bersyarat, dan masih banyak lagi perilaku lain yang tidak kondusif bagi tumbuh kembang anak.

Faktor lain lagi adalah ketidakharmonisan relasi orangtua yang berimbas pada anak. Jadi, untuk bisa membangun keluarga yang harmonis dan bahagia kedua orangtua harus mempunyai nilai dan tujuan hidup yang sejalan.

Biasanya setelah “masalah” pada orangtua berhasil diatasi melalui sesi terapi maka perubahan akan langsung tampak dalam keluarga itu dan secara luar biasa anakpun ikut berubah menjadi lebih baik.

Menyembuhkan luka batin dalam diri anak sebenarnya sangat mudah. Bila anak bersedia diterapi dan orangtua memberikan dukungan penuh, dengan melakukan introspeksi diri dan juga bersedia secara sadar berubah, maka semuanya menjadi mudah dan lancar.

Masalah muncul bila orangtua yang arogan, keras kepala, dan bersikeras mengatakan bahwa masalah anak adalah masalah anak. Bukan masalah mereka. Jadi, menurut orangtua, anaklah yang harus dibereskan.

Saya banyak bertemu dengan orangtua seperti ini. Orangtua ini adalah orangtua yang tidak dewasa dan tidak siap menjadi orangtua. Mereka hanya siap secara biologis menjadi papa/mama atau ayah/ibu namun mereka tidak siap secara mental, emosi, psikologis,dan terutama spiritual untuk menjadi orangtua.

Orangtua tipe ini cenderung menyalahkan orang lain atau lingkungan. Di salah satu buku saya pernah membaca ada orangtua yang anaknya bermasalah, beberapa tahun lalu pernah meminta bantuan seorang psikolog untuk melakukan diagnosa pada anak mereka, dan setelah itu mendapat saran apa yang sebaiknya dilakukan untuk membantu anak mereka.

Namun sayangnya orangtua ini tidak melakukan saran dan masukan dari psikolog ini. Dan hebatnya lagi, empat tahun kemudian, saat putra mereka semakin bermasalah, mereka langsung menyalahkan psikolog ini dengan berkata, “Ini yang salah adalah psikolognya. Masa dulu sudah diterapi kok nggak ada perubahan. Kalaupun ada perubahan, perubahannya tidak permanen. Masa anak saya kembali ke pola perilaku yang lama. Dan sekarang bahkan tambah parah lagi. Saya mau minta pertanggungjawaban psikolog ini.”

Membaca kisah ini saya sangat prihatin dan kasihan pada orangtua ini. Apa saja bisa terjadi selama kurun waktu empat tahun. Rupanya orangtua ini adalah orangtua tipe laundry atau binatu. Mereka memperlakukan anak seperti baju yang kotor dan berharap dengan membawa anak ke psikolog atau terapis maka masalah anak mereka setelah itu langsung dapat diatasi. Dan setelah itu akan anak akan berperilaku baik selamanya.

Orangtua ini sama sekali tidak berani mengambil tanggung jawab atas pendidikan keluarganya. Ia berpikir bahwa tanggung jawab membereskan masalah anak ada pada terapis atau psikolog. Yang benar adalah terapis atau psikolog adalah partner atau rekan dalam membantu memulihkan kondisi anak. Orangtualah yang harus berperan aktif.

Saya pernah menangani kasus anak usia 12 tahun dengan kecemasan yang sangat tinggi. Anak ini, saking cemasnya, menjadi sulit konsentrasi, bicaranya tidak bisa urut, melompat ke sana ke mari, pelajarannya jeblok. Tidak sulit membantu anak ini untuk pulih. Hanya dalam waktu sangat singkat anak ini kembali normal dan ceria seperti anak pada umumnya.

Mengapa perubahan ini bisa begitu mudah terjadi? Karena kedua orangtua anak ini, baik ayah maupun ibunya, sangat peduli dan bersedia menjalankan saran, masukan, dan hal-hal penting lain yang disampaikan terapis. Mereka mengakui bahwa selama ini mereka kurang perhatian pada anak karena sama-sama sibuk bekerja. Begitu kedua orangtuanya berubah maka anaknya juga berubah.

Masalah dalam keluarga, terutama pada anak, biasanya timbul karena orangtua mengadopsi pola pikir, pola asuh, nilai-nilai hidup, yang sudah tidak sejalan dan kondusif dengan perkembangan zaman. Orangtua menggunakan apa yang dilakukan orangtua mereka sebagai bahan untuk mendidik anak-anak mereka.

Family Therapy tidak berarti hanya dilakukan di ruang terapi. Family Therapy juga mengandung makna bahwa kedua orangtua perlu duduk bersama menata ulang kehidupan keluarga. Hal ini dilakukan dengan menentukan kembali, secara sadar dan sukarela, tujuan berumah tangga, goal keluarga, goal untuk orangtua, goal untuk anak-anak, meneguhkan kembali komitmen pernikahan, menetapkan strategi yang jelas, terukur, dan rinci untuk mencapai goal yang telah ditetapkan, dan yang sangat penting juga adalah kesediaan dan semangat kedua orangtua untuk belajar dan mengembangkan diri. Dalam hal ini kedua orangtua perlu meningkatkan ritual dan spiritual mereka, berdamai dengan diri sendiri, menjaga kualitas berpikir, mencapai hati yang tenang dan damai, serta membaca buku-buku pengembangan diri, parenting, menghadiri seminar atau workshop yang tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan dan kualitas diri mereka.

Jadi, bagaimana Family Therapy dilakukan?

Sesi awal kedua orangtua akan menjalani diskusi dan konseling dengan terapis. Di sini terapis akan melakukan interview untuk mencari tahu apa masalah yang ada dalam keluarga, apakah ini masalah pada ayah, ibu, atau anak. Selanjutnya dilakukan pemetaan masalah. Dari sini akan tampak sebenarnya akar masalahnya apa.

Jika ternyata masalah utama ada pada orangtua maka orangtualah yang perlu diberi saran, masukan, dan arahan apa yang perlu dilakukan untuk memperbaiki kondisi ini. Jika dengan cara “biasa” sulit dilakukan barulah terapis akan melakukan terapi.

Setelah itu orangtua diminta melakukan apa yang telah disepakati bersama dan selama satu minggu melihat perubahan yang terjadi di keluarga. Bila ternyata perubahannya positif, ya diteruskan. Kalau masih belum maksimal maka bisa dilakukan terapi lanjutan.

Bila ternyata masalahnya adalah pada diri anak, mungkin luka batin atau trauma, maka terapi akan dilakukan pada anak dan orangtua memberikan dukungan di rumah. Bila masalah berhubungan dengan sekolah maka terapi dilakukan untuk mengatasi masalah ini dan memberikan solusi yang perlu dijalani.

Misalnya kalau anak sulit belajar maka perlu dicari apa akar masalahnya. Apakah anak takut dengan gurunya, ada trauma, mungkin anak bosan, mungkin pengetahuan dasar anak yang kurang, mungkin sekolahnya terlalu keras, mungkin anak mengalami bullying di sekolah, mungkin karena tangki cinta anak kosong, dan masih banyak kemungkinan lain. Setiap masalah ini tentunya membutuhkan penyelesaian yang berbeda.

Satu hal yang sangat penting untuk disadari oleh Family Therapist yaitu bekal pengetahuan dan keterampilan konseling dan atau hipnoterapi saja tidak cukup. Seorang Family Therapist akan bermain banyak peran. Saat memberikan konseling, ia menjadi konselor. Saat melakukan hipnoterapi maka ia adalah hipnoterapis. Setelah selesai terapi dan memberikan saran, masukan, arahan kepada kliennya, baik itu orangtua atau anak, ia menjadi mentor atau life coach. Dibutuhkan kesadaran, wawasan, pengalaman, netralitas, objektivitas, integritas, dan terutama hati dan kebijaksanaan untuk bisa membantu suatu keluarga untuk bertumbuh dan berkembang optimal.

* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis best seller Born to be a Genius, Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success, Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan ?, dan Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication. Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com.
www.adiwgunawan.com


Telah di baca sebanyak: 1192

The Symptom is The Solution


Judul artikel ini terinspirasi dari pernyataan Milton Erickson (1986), “The symptom is a solution.” Judul di atas sedikit berbeda karena saya mengubah “a” dengan “the” sebagai penekanan bahwa solusi dari satu masalah pasti dapat dicapai melalui simtom yang dialami klien.

Apakah yang dimaksud dengan”the symptom is the solution”?

Adanya suatu masalah disadari dan diketahui karena adanya simtom yang bisa dirasakan, baik pada level fisik maupun pikiran dan atau emosi. Dengan kata lain simtom ini berguna sebagai pemberitahuan resmi kepada diri kita akan adanya masalah yang perlu mendapat perhatian dan diselesaikan.

Simtom yang tidak terlalu mengganggu biasanya kurang mendapat perhatian. Biasanya bila intensitas gangguan yang ditimbulkan simtom telah cukup atau sangat mengganggu aktivitas sehari-hari barulah kita akan memberikan perhatian dan berusaha untuk bisa segera menghilangkan simtom ini.

Simtom ibarat asap. Tidak mungkin ada asap tanpa ada api. Dengan adanya asap kita dapat mencari dan menemukan api yang menjadi sumber munculnya asap. Selama api belum dipadamkan maka asap akan selalu muncul. Demikian pula simtom.

Ada dua pendekatan yang biasa digunakan dalam menyelesaikan masalah yaitu pendekatan simtomatik dan kausal. Pendekatan simtomatik bertujuan mengurangi atau menghilangkan simtom tanpa perlu menemukan dan memproses akar masalah yang melandasi munculnya simtom. Ini sama dengan menghilangkan asap tanpa mematikan api. Pendekatan ini biasanya menghasilkan solusi temporer. Cepat atau lambat akan muncul simtom yang sama atau yang berbeda.

Bila muncul simtom yang berbeda, namun dengan akar masalah yang sama, maka kondisi ini dikenal dengan mutasi simtom. Bila muncul lebih banyak simtom, bisa sama maupun berbeda, dan tetap dengan akar masalah yang sama, maka kondisi ini dinamakan proliferasi simtom.

Sebaliknya dalam pendekatan kausal simtom dihilangkan dengan cara menemukan dan memproses sumber penyebab munculnya simtom. Asap dihilangkan dengan memadamkan api. Elimasi simtom dengan pendekatan ini sifatnya permanen.

Lalu, mengapa sampai muncul simtom? Apa pesan yang ingin disampaikan simtom? Dengan adanya simtom ini baik atau buruk?

Pembaca, tahukah anda bahwa yang kita namakan simtom atau masalah dulunya adalah solusi. Namun saat klien datang dan meminta bantuan terapis, yang terjadi adalah solusi ini telah berubah menjadi masalah.

Simtom adalah solusi, namun ini adalah solusi bagi sesuatu yang terjadi jauh di masa lalu, dan sudah tidak efektif untuk menyelesaikan stres atau masalah yang kini dihadapi.

Saya beri dua contoh dari kasus yang pernah saya tangani. Seorang anak, katakanlah usia 8 tahun, kelas 2 SD, merasa sekolah cukup membebani dirinya. Ada banyak tugas dan ulangan. Satu hari ia merasa cukup tertekan, jenuh, dan tidak tahan lagi. Ada banyak tugas yang belum ia kerjakan padahal besok ada ujian matematika.

Karena merasa tidak tahan akhirnya anak jatuh sakit sehingga tidak perlu masuk sekolah. Dengan tidak masuk sekolah maka ia tidak terbebas dari keharusan mengikuti ujian. Sakit, dalam contoh ini, adalah solusi bagi masalah si anak agar terhindar dari keharusan belajar dan mengikuti ujian.

Saat ini solusi ini terjadi, dan biasanya akan terulang saat anak mengalami atau menghadapi situasi yang mirip atau sama, pikiran bawah sadar anak mencatat bahwa untuk menyelesaikan masalah banyak tugas dan ujian maka solusi terbaik adalah dengan menjadi sakit.

Awal atau kali pertama solusi ini terjadi dinamakan dengan ISE atau initial sensitizing event. Sedangkan kejadian berikut yang mirip atau sama dengan kejadian sebelumnya yang membuat pikiran bawah sadar memunculkan solusi yang sama disebut dengan SSE atau subsequent sensitizing event.

Diawali dengan ISE dan dilanjutkan dengan satu atau beberapa SSE mengakibatkan solusi sakit menjadi permanen untuk situasi yang penuh tekanan, stress, dan rasa tidak nyaman. Pola ini akan terbawa sampai dewasa.

Contoh kedua. Seorang staff marketing yang cemas dan tegang karena ditegur keras oleh pimpinannya karena tidak berhasi mencapai target merasa sangat tertekan dan berusaha mencari jalan untuk bisa segera mengakhiri pertemuan ini. Pikiran bawah sadarnya memberi respon dalam bentuk kepalanya menjadi pusing, pandangan mulai gelap, dan akhirnya ia mual dan mau muntah. Sudah tentu pertemuan dengan pimpinannya harus segera diakhiri karena kondisinya tidak memungkinkan untuk diteruskan.

Kepala pusing, pandangan mata gelap, mual dan mau muntah adalah solusi bagi masalah yang dihadapi staff marketing ini. Solusi ini dicatat dengan sangat baik oleh pikiran bawah sadarnya. Berikutnya, bila ia menghadapi situasi yang sama atau mirip dengan situasi sebelumnya maka pikiran bawah sadar akan kembali memunculkan solusi yang sama.

Pada dua contoh kasus yang saya ceritakan di atas jalan keluar dari satu masalah yang dulu adalah solusi kini justru menjadi masalah.

Lalu, bagaimana membuat solusi dari masa lalu yang berubah menjadi masalah di masa sekarang untuk bisa kembali menjadi solusi dari suatu masalah dalam hidup klien?

Kembali ke judul artikel ini. The Symptom is the solution. Terapis perlu mencari dan menemukan apa masalah yang hendak diselesaikan oleh simtom ini. Simtom ini dulunya adalah solusi dari satu masalah, di masa lalu. Berarti simtom sebenarnya bertujuan melindungi klien. Simtom adalah sesuatu yang baik.

Sebagai terapis kita perlu menemukan apa masalah awal yang ingin diselesaikan atau diatasi oleh simtom ini dan dalam situasi seperti apa solusi ini muncul.

“Solusi” atau lebih tepatnya disebut simtom muncul saat sesuatu dalam lingkungan internal maupun eksternal memicu memori tertentu. Hal ini mengaktifkan kembali kondisi di mana simtom ini tercipta, dan simtom terpicu sebagai sebuah respon terkondisi.

Dari penjelasan di atas terapis dapat berasumsi, tapi tidak selalu, bahwa saat ISE terjadi, klien mengalami pengalaman yang intens, seperti takut, marah, sedih, perasaan bersalah, yang sesuai dengan kondisi saat itu.

Kejadian berikutnya baik yang sama atau yang oleh klien dipersepsikan sama dengan kejadian awal (ISE) mengaktifkan emosi yang sama. Proses repetisi ini memperkuat emosi yang sebelumnya telah muncul.

Walau kejadian awal (ISE) sudah tidak lagi ada atau terjadi namun emosi serupa terus muncul setiap kali klien mengalami hal yang sama atau serupa dengan ISE.

Solusi yang dipilih atau diputuskan klien untuk dilakukan untuk mengatasi keadaan atau situasinya dulu mungkin sudah tepat untuk situasi saat itu, dan mungkin adalah satu-satunya opsi yang ia punya / miliki (karena keterbatasan pilihan atau kondisi yang tidak memungkikan untuk punya pilihan lain).

Tugas terapis, setelah berhasil menemukan ISE, adalah menetralisir emosi negatif, bila ada, yang timbul akibat kejadian itu, serta dilanjutkan dengan melakukan edukasi ulang pada pikiran bawah sadar klien. Ada sangat banyak teknik reedukasi pikiran bawah sadar yang bisa digunakan.

Salah satunya adalah dengan menggunakan kesadarannya pada usia saat ini klien mengamati apa yang terjadi di masa lalu dan memberikan pemaknaan baru. Teknik ini hanya bisa dilakukan dengan membawa klien masuk ke level kedalaman trance tertentu sehingga klien mengalami regresi dengan hipermnesia tipe 1.

Cara lain adalah dengan membawa klien mundur dan mengalami kembali kondisi yang menjadi masalah di masa lalu dan melakukan pemaknaan, membuat pilihan yang lebih cerdas, dan rekonstruksi memori. Teknik ini membutuhkan kedalaman trance yang jauh lebih dalam di mana klien mengalami revivifikasi tipe 1.

Setelah dilakukan terapi dan reedukasi pikiran bawah sadar maka simtom akan hilang secara permanen dan klien sembuh.

Bagaimana bila ternyata klien kambuh?

Ada beberapa kemungkinan. Pertama, simtom yang sama muncul kembali karena terapis gagal menemukan ISE. Kedua, simtom yang sama muncul sebagai akibat dari akar masalah yang berbeda. Ini terjadi karena pikiran bawah sadar memilih the path of least resistance yaitu jalur komunikasi yang sudah dikenal dan telah digunakan sebelumnya. Ketiga, simtom muncul dari akar masalah yang sama, yang sebelumnya sudah dibereskan, namun ternyata emosi yang mendasari munculnya simtom ini adalah emosi yang berbeda.

* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri.
www.adiwgunawan.com


Telah di baca sebanyak: 808

Hypnotic Dream Restructuring


“Aduh kasihan ya si Budi. Tadi malam masih sehat. Pagi ini bangun tidur lumpuh karena kena stroke” ujar Anto.

“Tapi yang aneh, barusan saya dapat kabar dari istrinya, Budi sudah di-MRI dan CT Scan. Kata dokter hasil scanning-nya bagus. Tidak ada yang bermasalah dengan otak atau saraf Budi. Dokter menyimpulkan Budi tidak kena stroke” jelas Mia.

“Kalau bukan stroke lalu kena apa ya dia? Tubuhnya lemah sekali dan lumpuh, tidak bisa digerakkan” tanya Anto penasaran.

Pembaca, pernahkah anda mendengar perbincangan serupa dengan yang saya tulis di atas? Atau anda sendiri pernah mengalaminya. Hasil pemeriksaan medis menyatakan tubuh fisik anda sehat namun anda (merasa) sakit. Inilah yang disebut dengan penyakit psikosomatis.

Secara khusus saya membahas hal ini di buku saya yang segera terbit di penghujung bulan Juni, The Miracle of MindBody Medicine: How to Use Your Mind for Better Health. Hasil riset yang kami lakukan di Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology menemukan bahwa ada 15 (lima belas) faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami penyakit psikosomatis.

Salah satunya adalah mimpi. Anda mungkin bertanya, “Lho, kok bisa mimpi membuat orang sakit?” Untuk mendapat jawabannya anda perlu membaca keseluruhan artikel ini. Sebelum menjelaskan mengenai Hypnotic Dream Restructuring Technique saya akan jelaskan sekilas mengenai mimpi.

Ada dua jenis tidur yaitu tidur REM (rapid eye movement) dan tidur non-REM (non-rapid eye movement). Masing-masing dengan karakteristik yang berbeda pada aspek fisik, saraf, dan psikologis. American Academy of Sleep Medicine (AASM) selanjutnya membagi NREM menjadi tiga tahap yaitu N1, N2, dan N3. N3 disebut dengan tidur delta (delta sleep) atau slow-wave sleep (SWS).

Tidur REM pada manusia dewasa meliputi 20-25% dari total waktu tidur. Mimpi yang biasanya kita ingat, setelah bangun tidur, adalah mimpi yang terjadi di tahap ini. Literatur mengenai mimpi pada umumnya menyatakan bahwa mimpi tidak terjadi di tahap tidur non-REM.

Namun riset yang dilakukan Rechstaffen, Verdone, dan Wheaton, dan juga riset oleh Foulkes menyatakan pada saat tidur non-REM ada muncul banyak bentuk pikiran.

Pengkajian mendalam terhadap berbagai laporan yang dipublikasi sejak tahun 1956, yang berasal dari berbagai laboratorium yang khusus meneliti mengenai mimpi, sampai pada satu kesimpulan bahwa mimpi mempunyai dua komponen:
1.Aliran bentuk pikiran yang normal.
2.Bentuk-bentuk pikiran yang intens.

Mimpi yang kita ingat, saat bangun tidur, adalah komponen pertama yaitu aliran bentuk pikiran yang normal. Bentuk pikiran ini tidak mengganggu atau menimbulkan masalah. Namun lain halnya dengan bentuk pikiran yang intens.

Bentuk pikiran intens yang muncul saat fase tidur non-REM sulit atau tidak dapat diingat namun berpengaruh sangat kuat baik terhadap pikiran maupun tubuh kita, setelah kita bangun tidur.

Mengapa bentuk-bentuk pikiran yang intens berpengaruh sangat kuat pada diri kita?

Hal ini dapat terjadi karena pola gelombang otak saat fase tidur non-REM, khususnya pada tahap tiga dan empat, yang diukur di laboratorium mimpi, serupa dengan pola gelombang otak saat seseorang dalam kondisi hipnosis yang dalam (deep trance / profound somnambulism). Dengan demikian bentuk pikiran yang muncul pada fase ini berlaku seperti sugesti pascahipnosis yang diberikan saat seseorang dalam kondisi hipnosis yang dalam.

Klien dengan masalah emosi atau fisik sering merasa bahwa sesuatu terjadi di malam sebelumnya. Mereka hanya mampu mengingat sebagian kecil mimpi yang menurut mereka tidak penting. Namun hasil penggalian mendalam di pikiran bawah sadar menemukan bahwa gangguan emosi atau fisik mulai terjadi setelah munculnya bentuk pikiran yang intens yang justru tidak mereka ingat.

Walaupun bentuk pikiran intens tidak dapat diingat namun dengan menggunakan teknik uncovering khusus bentuk pikiran ini dapat diakses dan diingat kembali sehingga dapat diproses. Begitu bentuk pikiran ini berhasil diproses maka pengaruhnya hilang dengan sendirinya dan klien sembuh.

Hypnotic Dream Restructuring Technique

Hingga saat ini kami telah berhasil mengembangkan dan menyempurnakan dua jenis teknik memproses mimpi. Teknik pertama adalah untuk identifikasi dan menemukan mimpi (bentuk-bentuk pikiran yang intens) yang menimbulkan masalah pada diri klien dan dilanjutkan teknik restrukturisasi yang bertujuan menetralisir kekuatan dan pengaruh mimpi.

Teknik ini membutuhkan kedalaman hipnosis yang spesifik yang dikombinasikan dengan teknik uncovering khusus seperti projective techniques, projection into the future, somato-auto response, retrograde dan chronological search, untuk menemukan bentuk-bentuk pikiran yang intens.

Teknik kedua, menggabungkan antara kondisi hipnosis dan teknik Gestalt yang dikembangkan Frederick “Fritz” Perls, digunakan bila klien dapat mengingat mimpi atau mengalami mimpi berulang dalam kurun waktu tertentu di mana mimpi ini selalu dalam satu pola atau tema tertentu.

Untuk memproses mimpi jenis ini lebih mudah karena klien dapat mengingat dengan jelas mimpinya. Walau dibilang mudah namun sebenarnya teknik kedua ini, dari pengalaman kami, bisa berkembang dan melibatkan banyak teknik lainnya seperti Affect Bridge, Ego Personality Therapy, rescripting, dan juga forgiveness. Mimpi adalah salah satu dari lima cara yang digunakan pikiran bawah sadar untuk berkomunikasi dengan pikiran sadar.

Ada yang mengalami mimpi berulang selama beberapa hari. Ada yang mengalami mimpi yang sama atau dengan tema yang sama selama beberapa minggu atau bulan. Salah seorang rekan saya bahkan mengalami mimpi yang sama atau serupa selama hampir dua puluh tahun.

Informasi yang disampaikan oleh pikiran bawah sadar dalam bentuk mimpi merupakan manifestasi dari salah satu sifat pikiran bawah sadar, yang kami temukan dari hasil riset, yaitu pikiran bawah sadar sangat menyadari pentingnya resolusi trauma namun ia bukan problem solver.

Dengan memberitahu adanya masalah melalui mimpi, pikiran bawah sadar berharap kita tanggap dan merespon dengan mencari tahu apa makna dari mimpi atau pesan itu dan segera menyelesaikan apapun masalah yang tersimpan di pikiran bawah sadar.

* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis best seller Born to be a Genius, Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success, Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan ?, dan Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication. Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com.


Telah di baca sebanyak: 1479

Screen Memory


Artikel ini terinspirasi dari kejadian saat saya melakukan live therapy di kelas Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy di Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology di minggu kedua.

Seorang wanita hadir di tengah kami sebagai klien untuk sesi hipnoterapi. Sudah menjadi bagian dari program pelatihan Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy selama ini bahwa di minggu kedua saya pasti melakukan live therapy minimal pada 2 (dua) klien yang berasal dari luar peserta. Hal ini bertujuan agar para peserta pelatihan dapat melihat secara langsung bagaimana saya melakukan sesi terapi di ruang praktik saya. Ini juga untuk menunjukkan bagaimana menggunakan berbagai pengetahuan, pemahaman, teori pikiran, dan teknik intervensi klinis yang telah diajarkan dalam praktik sesungguhnya.

Klien, sebut saja Wati, datang pagi hari sekitar pukul 10.00. Sebelum bertemu kami di kelas Wati diminta untuk mengisi intake form. Setelah semuanya siap Wati diminta masuk ke dalam ruang pelatihan. Di dalam ruang ini sudah tersedia satu kursi terapi, persis sama seperti yang saya gunakan di ruang terapi, dan ditempatkan di bagian depan ruang.

Saya mempersilahkan Wati duduk sambil berkenalan. Seperti biasa saya selalu menanyakan apakah klien merasa nyaman bila diterapi sambil disaksikan oleh para peserta pelatihan saya. Wati menjawab bahwa ia merasa nyaman.

Berdasar isian intake form saya tahu bahwa Wati ingin mengatasi rasa tidak percaya dirinya. Saya mulai melakukan wawancara untuk menggali lebih banyak data mengenai diri Wati antara lain kapan terakhir kali ia merasa tidak percaya diri, dengan siapa saja bila ia berbicara perasaan ini muncul, dalam situasi apa saja atau di mana perasaan ini muncul, mulai kapan ia merasakan perasaan tidak percaya diri, dst..dst.

Saat sedang serius bertanya pada Wati saya mulai melihat raut wajahnya berubah. Matanya mulai merah dan berair. Saya tahu, dari pengalaman menangani klien, ada sesuatu yang lebih besar atau lebih penting yang ingin disampaikan oleh pikiran bawah sadar Wati pada saya.

Dan benar, semakin Wati menceritakan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan tidak percaya diri, semakin wajahnya berubah dan ia mulai menangis. Saat tangisannya semakin hebat saya minta Wati untuk menutup mata dan bertanya, “Apa yang anda rasakan?”, Wati menjawab, “Saya merasa kesepian.”

Nah, benar kan. Emosi yang muncul ternyata bukan perasaan tidak percaya diri tapi kesepian. Apa yang harus dilakukan? Saya langsung memproses perasaan kesepian ini. Dengan menggunakan teknik affect bridge saya melakukan regresi untuk mencari akar masalah atau saat pertama kali ia merasakan perasaan kesepian dalam hidupnya.

Regresi pertama membawa Wati mundur ke usia 6 tahun. Saat itu ia di rumah dan tidak ada seorangpun di rumah menemaninya. Ia merasa kesepian. Saat saya cek ternyata ini bukan ISE (Initial Sensitizing Event) tapi SSE (Subsequent Sensitizing Event).

Kembali saya melakukan affect bridge. Kali ini terjadi hal yang aneh. Walau sebenarnya saya tahu karena pernah membaca mengenai hal ini namun selama ini saya belum pernah mengalami kejadian ini.

Apa yang terjadi?

Saat saya melakukan regresi yang kedua, secara teori dan logika untuk bisa menemukan ISE, Wati harusnya mundur ke usia yang lebih muda. Namun kali ini regresi tidak bekerja seperti yang seharusnya. Wati bukannya mundur (regres) ke usia di bawah 6 tahun malah melompat maju (progres) ke usia saat SMP. Dengan demikian saya tahu bahwa regresi ini tidak berjalan seperti yang seharusnya.

Segera saya kembalikan Wati ke usia 6 tahun dan dari sini saya kembali melakukan affect bridge. Dan kembali Wati mengalami progresi. Dari usia 6 tahun ia melompat maju ke masa SMA.

Dua kali gagal melakukan regresi mengharuskan saya segera berpikir cepat untuk bisa mengatasi kondisi ini. Apa yang saya lakukan?

Dengan cepat saya mengganti teknik. Kalau tadinya saya menggunakan regresi dengan affect bridge, dan ini tidak berhasil, kali ini saya menggunakan Ego Personality Therapy (EPT). Kebetulan saya juga telah mengajarkan EPT pada peserta pelatihan. Dengan demikian ini adalah kesempatan emas untuk menunjukkan bagaimana menggunakan EPT dalam terapi riil.

Dengan menggunakan EPT saya berhasil melakukan regresi ke awal mula munculnya perasaan kesepian ini. Dan dari sini saya memproses Ego Personality yang mengalami kesepian. Ada banyak hal yang dilakukan dalam proses ini. Singkat cerita terapi berhasil diselesaikan dengan sangat baik.

Begitu selesai, peserta bertepuk tangan dan merasa sangat bahagia dengan perubahan yang dialami oleh Wati. Apa yang terjadi? Wajah Wati tampak jauh lebih ceria, inner beauty-nya keluar dan terpancar dengan kuat, ia tampak sangat lega, dan raut wajah yang tadinya, sebelum terapi, tampak kusam kini tampak berbinar-binar.

Setelah Wati meninggalkan ruang pelatihan saya membahas apa yang terjadi dengan peserta pelatihan.

Jadi, apakah yang sebenarnya terjadi pada Wati?

Fenomena yang terjadi pada Wati dalam dunia hipnoterapi dikenal dengan screen memory. Screen memory adalah satu memori yang berfungsi sebagai tembok penghambat agar seseorang tidak dapat mengakses memori di usia tertentu. Ini adalah satu bentuk defense mechanism yang dipasang oleh pikiran bawah sadar. Dalam hal ini screen memory Wati ada di usia 6 tahun.

Screen memory bertujuan untuk melindungi seseorang agar tidak dapat mengakses memori tertentu dengan muatan emosi yang sangat intens. Dari pengalaman praktik selama ini, dan juga dari pengalaman alumni QHI, kami jarang bertemu dengan kasus seperti yang dialami Wati.

Apakah screen memory ini bisa ditembus?

Sudah tentu bisa. Namun karena saya tidak mengajarkan teknik ini di kelas Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy 100 jam, dan hanya diajarkan di level advanced, terpaksa saya tidak boleh menggunakannya. Bila saya sudah mengajarkan teknik untuk menembus screen memory maka saya akan lanjut dengan teknik ini dan menemukan ISE dengan menembus screen memory. Teknik ini juga dapat digunakan untuk menembus amnesia yang dilakukan pikiran bawah sadar.

Apakah ada kemungkinan lain, selain screen memory, yang membuat Wati bukannya mengalami regresi tapi justru progresi?

Ada beberapa kemungkinan seorang klien tidak bisa mengalami regresi seperti yang diarahkan terapis. Kemungkinan ini antara lain:

• emosi klien kurang intens: bisa disebabkan oleh teknik yang kurang pas dan bisa juga karena emosi klien memang sudah terkuras banyak sebelum terapis memutuskan melakukan affect bridge.
• klien tidak mengerti instruksi terapis.
• terapis tidak memastikan bahwa klien benar-benar terhubung dengan emosinya.
• terapis kurang asertif dalam mengarahkan regresi.
• klien merasa takut. Dalam proses terapi ini saya memang belum sempat menjelaskan hal-hal yang harus diketahui klien dan untuk mengkondisikan pikirannya menjalani proses terapi. Saya putuskan untuk langsung melakukan terapi karena saat klien menangis ia telah masuk kondisi deep trance (emotionally induced induction).

Setiap terapi adalah hal yang unik, sangat individual, dan apa saja bisa terjadi. Itu sebabnya sebagai trainer saya selalu mengajarkan dasar teori pikiran secara lengkap dan menyeluruh baru setelah itu mengajarkan sangat banyak teknik intervensi klinis. Baik yang dulu saya pelajari dari berbagai buku dan trainer saya maupun yang dikembangkan atau diciptakan oleh Advanced Research & Development Team di Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology.

Saya juga pernah bertemu dengan kasus di mana terapi tidak bisa berjalan seperti yang diharapkan saat saya menggunakan teknik Ego Personality Therapy. Walau sudah lebih dari 30 menit saya menggunakan segala pengetahuan dan kreativitas dengan teknik Ego Personality Therapy namun pikiran bawah sadar klien “ngambek” dan tidak bersedia bekerjasama.

Terpaksa saya harus mengganti teknik lain. Baru setelah menggunakan teknik lain saya berhasil mencapai hasil seperti yang diinginkan oleh klien saya. Cukup riskan bila kita sebagai hipnoterapis hanya menguasai satu atau dua teknik terapi.

* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis best seller Born to be a Genius, Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success, Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan ?, dan Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication. Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com.
www.adiwgunawan.com


Telah di baca sebanyak: 1118

Direct vs Indirect Suggestion


Dalam dunia hipnosis dan hipnoterapi kita mengenal dua jenis sugesti yaitu yang bersifat langsung (direct) dan yang bersifat tidak langsung (indirect). Ada banyak artikel yang telah ditulis oleh para pakar hipnoterapi mengenai kedua jenis sugesti ini.

Ada yang sangat menekankan pentingnya direct suggestion dan ada pula yang menyatakan bahwa indirect suggestion jauh lebih andal dan efektif. Mana yang benar? Masing-masing dengan argumentasi yang juga sama kuat dan meyakinkan.

Artikel ini tidak bertujuan untuk memihak pada salah satu pandangan namun lebih bertujuan menjelaskan sugesti dari perspektif teori dan cara kerja pikiran sehingga praktisi hipnoterapi mengerti cara menggunakan sugesti dengan benar sesuai dengan kondisi, situasi, dan kebutuhan klien.

Dalam dunia hipnoterapi terdapat dua aliran atau mazhab yaitu yang berasal dari pantai timur (east coast) dan pantai barat (west coast) Amerika. Kedua mazhab ini berbeda dalam penekanan teknik terapi yang digunakan.

Mazhab pantai timur lebih menekankan penggunakan sugesti dalam melakukan terapi (suggestive hypnotherapy). Sedangkan mazhab pantai barat menggunakan hypnoanalysis procedure yang melibatkan banyak teknik yang lebih kompleks.

Indirect suggestion adalah sugesti yang umumnya diberikan pada klien dalam kondisi sadar normal atau light trance. Indirect suggestion menjadi sangat populer berkat teknik yang digunakan Milton H. Erickson dalam menangani berbagai kliennya. Teknik ini selanjutnya dikembangkan oleh Richard Bandler, John Grinder, Jay Halley, dan Ernest Rossi.

Menurut Bandler dan Grinder direct suggestion lebih ditujukan untuk pikiran sadar. Contohnya: “Tutup mata anda” (ini adalah bentuk perintah langsung), “Anda dapat menutup mata anda sekarang” (ini adalah bentuk sugesti positif), “Anda tidak bisa menutup mata anda, bukan?” (modal operator;negative inquiry). Setiap kalimat mempunyai struktur yang berbeda namun dengan tujuan akhir yang sama yaitu meminta klien menutup mata.

Salah satu kelemahan penggunaan direct suggestion yaitu dapat menimbulkan atau meningkatkan resistensi klien terhadap sugesti yang diberikan.

Ada banyak faktor yang menimbulkan resistensi dalam diri klien, antara lain:
1.Klien datang ke terapis bukan atas keinginannya sendiri.
2.Klien (merasa) punya otoritas lebih tinggi dibanding terapis.
3.Klien tidak percaya sama terapis.
4.Klien tidak suka dengan terapis.
5.Klien merasa malu atau kurang nyaman.
6.Klien punya persepsi yang salah mengenai hipnosis / hipnoterapi.
7.Klien mendapat keuntungan dengan masalah yang ia alami (secondary gain)

Indirect suggestion digunakan dengan alasan utama yaitu untuk menghindari dan atau mengatasi resistensi. Misalnya, untuk meminta klien menutup mata, bukannya langsung memberikan perintah, “Tutup mata anda”, hipnoterapis menyusun kalimat sugestinya menjadi, “Klien yang baik memulai proses terapi dengan menarik napas panjang dan dalam beberapa kali dan selanjutnya merilekskan dan menutup mata mereka (generalisasi)”, atau “Mata anda sudah menjalankan tugasnya dengan baik hingga saat ini. Apakah anda tidak merasa mata anda lelah karena terus bekerja? Berilah waktu mata anda istirahat sebentar”. Setiap kalimat mempunyai struktur yang berbeda namun dengan tujuan akhir yang sama yaitu meminta klien menutup mata.

Berikut adalah contoh kalimat yang digunakan hipnoterapis untuk mengarahkan klien menutup mata dan memulai proses relaksasi yang dalam, menggunakan direct suggestion, “Anda mulai merasa kelopak mata anda menjadi berat dan semakin berat dan anda tidak bisa menahan untuk menutup mata. Anda masuk ke dalam kondisi rileksasi yang semakin dalam sambil tetap duduk dalam posisi tubuh tegak dan nyaman dan tetap mampu mendengar suara saya…..”

Kalimat yang sama bila disusun dalam bentuk indirect suggestion akan menjadi, “Jika anda menginginkan dan mengijinkan, anda dapat membayangkan diri anda merasa nyaman…sangat nyaman sehingga merasa mengantuk sambil anda terus mendengar suara saya… mengijinkan mata anda untuk tetap terbuka sambil anda masuk dalam kondisi tidur yang dalam… atau mengijinkan diri anda untuk secara lembut menutup mata anda”

Indirect suggestion tampak lebih lembut dan tidak terlalu bersifat memerintah. Dengan demikian klien merasa lebih punya kendali atas apa yang akan terjadi.

Indirect suggestion selain bisa berupa kalimat sugesti singkat seperti contoh di atas juga bisa menggunakan metafora dengan tujuan mengarahkan pikiran klien untuk mendapatkan solusi atas suatu masalah.

Berikut adalah contoh penggunaan metafora. Misalnya ada klien yang mengalami ejakulasi dini. Metafora yang dapat digunakan adalah metafora menikmati makanan. Dalam metafora ini klien diminta dengan sengaja makan dengan perlahan, menikmati setiap suap makanan, setiap jenis makanan, sungguh-sungguh memperhatikan, merasakan, dan menikmati aroma dan rasa makanan yang ia makan.

Hal ini tentunya sangat berbeda dengan penggunaan direct suggestion yang mungkin dapat membuat klien merasa risih atau malu. Melalui metafora ini pikiran klien selanjutnya dapat menyimpulkan apa yang perlu dilakukan dan dengan demikian membantu klien mengatasi masalahnya sendiri sambil menghindari perasaan malu atau tidak nyaman.

Dalam berbagai artikel mengenai indirect suggestion yang pernah saya baca umumnya lebih menekankan atau merujuk pada semantik/pilihan kata dan struktur bahasa sebagai kunci keberhasilan sugesti. Untuk bisa melakukan, lebih tepatnya, menyusun indirect suggestion yang powerful, maka seorang hipnoterapis dituntut untuk mempunyai kemampuan linguistik yang tinggi.

Bagaimana cara kerja indirect suggestion sehingga mampu mempengaruhi seseorang dan memberikan perubahan positif seperti yang diharapkan?

Ada banyak faktor penting lainnya yang juga sangat menentukan kekuatan pengaruh indirect suggestion selain pilihan kata dan struktur bahasa. Faktor ini juga sangat mempengaruhi kekuatan direct suggestion dan justru jauh lebih penting dari sugesti itu sendiri.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Abraham Mehrebian (1968) dan Bob Birdwhistel (1970) mengenai efek dan pengaruh komunikasi tatap muka sampai pada simpulan yang kurang lebih sama. Temuan mereka menyatakan bahwa efektivitas komunikasi dipengaruhi oleh tiga hal yaitu:

1.Verbal (pilihan kata) = 7%
2.Intonasi = 38%
3.Bahasa Tubuh = 55%

Dalam riset ini tampak jelas bahwa dalam berkomunikasi dengan orang lain pengaruh kata-kata (semantik dan tentunya termasuk struktur bahasa) hanya 7%, intonasi suara memberi pengaruh 38%, dan pengaruh terbesar adalah bahasa tubuh, yaitu sebesar 55%. Dari hasil penelitian ini tampak jelas bahwa mayoritas komunikasi dilakukan secara nonverbal. Dengan demikian bila kita berkomunikasi dengan orang lain, untuk bisa memberikan pengaruh maksimal, maka kita harus mengucapkan kata-kata dengan intonasi suara yang tepat dan bahasa tubuh yang kongruen mendukung. Hal ini akan memberikan pengaruh signifikan hingga 93%.

Dalam konteks terapi, yang masuk dalam kategori komunikasi nonverbal, elaborasi dari aspek intonasi dan bahasa tubuh, adalah ekspresi wajah, tonalitas dan volume suara, gesture, timing, kontak mata, kontak fisik seperti jabat tangan, usia, penampilan fisik termasuk kondisi kesehatan atau level energi, pakaian, aksesoris, kondisi mood dan ekspektasi baik dari klien maupun dari terapis.

Selanjutnya direct atau indirect sugggestion, secara tidak langsung namun cukup signifikan, juga dipengaruhi oleh warna, kebersihan, temperatur, aroma, kondisi dan kualitas gedung klinik atau ruang terapi, ruang terima tamu, fasilitas gedung, fungsi, style, kualitas mebel yang digunakan, dan noise level saat sugesti diberikan.

Mehrebian dan Birdwhistel bukan pakar hipnosis atau hipnoterapis. Dengan demikian riset mereka dilakukan dengan melihat interaksi komunikasi dalam kondisi pikiran sadar.

Untuk bisa mengerti cara kerja direct/indirect suggestion maka kita perlu mengerti cara kerja pikiran. Saya tidak akan membahas terlalu detil mengenai mekanisme pikiran karena sudah banyak saya bahas di artikel saya lainnya.

Manusia mempunyai tiga jenis pikiran: pikiran sadar (conscious mind), pikiran bawah sadar (subconscious mind), dan pikiran nirsadar (unconscious mind). Untuk bisa melakukan perubahan maka sugesti yang hipnoterapis berikan pada klien harus bisa masuk, diterima, dimengerti, dan dilaksanakan sepenuhnya oleh pikiran bawah sadar klien.

Proses perjalanan sugesti masuk ke pikiran bawah sadar tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Ada proses dan tahapan yang harus dilalui. Pertama, sugesti ini akan masuk ke pikiran sadar. Selanjutnya sugesti harus melewati critical factor yang berperan sebagai penjaga pintu yang menghubungkan pikiran sadar dan bawah sadar. Bila sugesti berhasil menembus dan melewati critical factor maka sugesti ini akan masuk ke pikiran bawah sadar.

Kendala yang umumnya dihadapi hipnoterapis adalah sulitnya menembus critical factor karena sugesti lebih sering diberikan dalam kondisi sadar normal atau light trance. Dalam kondisi ini pikiran sadar masih sangat aktif dan critical factor bekerja dengan kekuatan penuh.

Critical factor terdiri atas dua bagian. Sebagian berada di wilayah pikiran sadar dan sebagian lagi di wilayah pikiran bawah sadar.

Tugas critical factor yang berada di wilayah pikiran sadar adalah untuk memastikan informasi (baca: sugesti) yang akan masuk ke pikiran bawah sadar bersifat konsisten dengan data yang telah ada di pikiran bawah sadar. Bila data yang akan masuk ternyata berbeda maka dengan serta merta data baru ini akan ditolak. Hal ini bertujuan untuk melindungi keutuhan dan konsistensi keabsahan data di pikiran bawah sadar, yang sebenarnya akhirnya juga demi kepentingan dan kebaikan klien.

Sedangkan tugas critical factor yang berada di wilayah pikiran bawah sadar adalah untuk memastikan empat hal. Pertama, sugesti yang diterima bila dilaksanakan tidak akan berakibat negatif bagi keselamatan (hidup) klien. Kedua, sugesti ini bila dilaksanakan tidak melanggar nilai moral dan agama yang diyakini oleh klien. Ketiga, sugesti ini benar menurut data yang telah tersimpan di pikiran bawah sadar. Dan keempat, sugesti ini masuk akal (klien).

Indirect suggestion bertujuan untuk mengatasi resistensi dengan cara mengecoh, membingungkan, menyibukkan, atau membuat lengah pikiran sadar, dengan memikirkan “makna” dari sugesti yang diberikan, sehingga critical factor dapat ditembus dan sugesti bisa masuk ke pikiran bawah sadar.

Apakah ada cara lain untuk menembus critical factor selain dengan cara yang digunakan dalam indirect suggestion?

Selain cara di atas dalam dunia hipnoterapi dikenal lima cara untuk menembus critical factor yaitu dengan menggunakan otoritas, emosi, repetisi, identifikasi, dan relaksasi pikiran (kondisi hipnosis).

Berbeda dengan indirect suggestion yang telah dijelaskan di atas direct suggestion, sesuai namanya, adalah sugesti yang bersifat langsung, apa adanya, tanpa basa basi. Jika hipnoterapis ingin klien menutup mata maka ia akan berkata, atau lebih tepatnya memberi perintah kepada klien, “Tutup mata anda.”

Agar direct suggestion menjadi lebih efektif maka hipnoterapis perlu benar-benar memperhatikan resistensi. Sedapat mungkin resistensi klien diatasi sebelum sugesti diberikan. Untuk itu, hipnoterapis yang benar-benar cakap dan berpengalaman, akan menggunakan sebanyak mungkin cara untuk menembus critical factor.

Hipnoterapis harus mampu membangun otoritas di mata klien. Semakin tinggi otoritas hipnoterapis menurut persepsi klien akan semakin baik. Selanjutnya hipnoterapis menggunakan emosi klien untuk menyiapkan pikiran bawah sadar klien agar mendukung klien untuk berubah. Kalimat yang digunakan untuk sugesti sebaiknya juga melibatkan emosi klien, baik yang positif maupun yang negatif. Hipnoterapis bisa melakukan repetisi dalam membaca direct suggestion agar sugesti tertanam lebih kuat di pikiran bawah sadar. Hipnoterapis juga bisa membantu klien melakukan identifikasi kelompok. Dan terakhir semuanya akan menjadi sangat mudah dan jauh lebih efektif dan efisien bila dilakukan dalam kondisi relaksasi pikiran/hipnosis yang (sangat) dalam.

Mengapa jauh lebih efektif dan efisien bila dilakukan dalam kondisi relaksasi pikiran/hipnosis yang (sangat) dalam?

Sugesti Dalam Kondisi Hipnosis Yang Dalam

Sifat dan hukum pikiran yang berlaku saat seseorang berada dalam kondisi hipnosis yang dalam sangat berbeda dengan saat ia dalam kondisi sadar normal atau light trance.

Dalam kondisi relaksasi pikiran/hipnosis yang dalam pikiran sadar dan critical factor menjadi nonaktif. Dengan demikian sugesti yang diberikan tidak akan mendapat hambatan untuk bisa masuk ke pikiran bawah sadar.

Dari pengalaman saya menangani klien, saat dalam kondisi hipnosis yang dalam indirect suggestion atau metafora menjadi kurang efektif dan seringkali justru kontraproduktif.

Hukum pikiran menyatakan bahwa semakin dalam kondisi hipnosis maka sugesti harus semakin direct. Hal ini disebabkan karena pikiran bawah sadar seseorang sifatnya menyerupai anak berusia delapan tahun. Sudah tentu bila kita berkomunikasi dengan anak usia delapan tahun untuk mendapatkan

hasil maksimal kita perlu menggunakan bahasa yang gamblang, jelas, dan langsung. Justru bila bahasa yang digunakan bersifat tidak langsung atau “berputar-putar” maka anak menjadi bingung.

Hal penting lainnya yang harus benar-benar diperhatikan hipnoterapis yaitu dalam kondisi hipnosis yang dalam yang berlaku adalah trance logic bukan conscious logic.

Jadi, mana yang lebih efektif? Direct atau indirect suggestion?

Ini bergantung pada situasi dan kondisi. Semua sama efektifnya bila hipnoterapis mampu menggunakannya dengan tepat dan bijak.

Hipnoterapi telah berkembang sangat pesat. Sugesti, baik yang direct atau indirect, hanyalah salah satu dari sekian banyak teknik yang ada dalam dunia hipnoterapi. Masih ada banyak teknik lain yang lebih kompleks dan lebih powerful. Dalam kurun waktu paruh ketiga dari abad ke 20, berbagai teori dan teknik yang digunakan dalam dunia hipnoterapi mendapat pengaruh dari pemikiran, insight, dan temuan dari LeCron, Watkins, Kroger, Elman, Weitzenhoffer, Cheeck, Boyne, Crasilneck, Wolpe, Wolberg, dan Hilgard.

Banyak teknik intervensi klinis yang digunakan hipnoterapis saat ini prosedurnya jauh lebih kompleks daripada sekedar memberikan sugesti.

Berikut adalah beberapa contoh teknik terapi yang dikembangkan oleh masing-masing pakar dan memberikan kontribusi dan pengaruh yang luar biasa bagi dunia hipnoteapi:

- 1940an Elman dengan hypnoanalisys
- 1950an beragam penggunaan metode ideomotor yang pertama kali dikembangkan oleh LeCron
- 1950an teknik desensitisasi yang dikembangkan oleh Wolpe
- 1960an strategi emotional clearing yang komprehensif, termasuk integrasi Gestalt dan modalitas lainnya ke dalam hipnoterapi yang dilakukan oleh Boyne.

Selain itu perkembangan teknik hipnoterapi juga mendapat pengaruh dari literatur penting seperti yang ditulis oleh Kroger, Clinical and Experimental Hypnosis (1963), dan Cheeck dan LeCron, Clinical Hypnotherapy (1968), masing-masing menekankan pentingnya mencari, menemukan, dan memproses akar masalah yang mendasari suatu masalah dengan menggunakan teknik eksplorasi interaktif, regresi, intervensi berorientasi pemahaman baru dan kebijaksanaan.

Teknik hipnoterapi seperti age regression, Ideomotor Technique, Gestalt, Ego Personality Therapy, Inner Child Work, Forgiveness Therapy, dan teknik-teknik terapi berbasis NLP seperti Visual Squash, Swish Pattern, Fast Phobia Cure, Power Trigger, Reverse Trigger, Six Step Reframing, dan Collapsing Anchor semuanya bersifat direct, sangat sulit atau tidak bisa dilakukan bila menggunakan indirect suggestion.

* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis best seller Born to be a Genius, Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success, Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan ?, dan Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication. Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com.


Telah di baca sebanyak: 1489

Bahaya “Berpikir” Positif


Ide menulis artikel ini muncul saat saya berbincang dengan rekan saya, Ariesandi Setyono, saat mengevaluasi mekanisme pikiran. Kami mengevaluasi pengalaman hidup kami berdasarkan berbagai buku positif yang telah kami baca. Diskusi berjalan seru, sangat inspiring dan mind challenging.

Jujur saya akui bahwa tidak mudah untuk bisa benar-benar menjadi seorang pengamat atas belief system dan proses pikiran kami. Kami harus melepaskan keterikatan dan kemelekatan terhadap berbagai informasi dan konsep yang telah kami terima selama ini, yang kami yakini sebagai hal yang benar. Bill Gould, mentor kami selalu berpesan, ”You have to challenge everything, including your own belief system or assumptions. That’s the key to quantum leap in personal growth and consciousness expansion”.

Salah satu topik yang kita bahas dengan intens adalah mengapa berpikir positif justru semakin memperburuk kinerja seseorang. Topik ini menjadi materi yang menarik untuk didiskusikan karena kami sendiri telah mengalami efek negatip dari “berpikir” positif.

Benar. Anda tidak salah baca. Kami mengalami efek negatip dari ”berpikir” positif. Namun tolong jangan protes dulu. Saya menempatkan kata berpikir dalam tanda kutip. Apa maksudnya?

Sering kali kita merasa yakin, diyakinkan, atau asal percaya bahwa kita harus berpikir positif. Menurut berbagai buku dan motivator atau trainer berpikir positif baik bagi diri kita. Yang jarang diungkapkan adalah bahwa berpikir positif itu harus benar-benar tulus dan holistik.

Yang saya maksudkan dengan holistik adalah baik pikiran sadar maupun bawah sadar keduanya saling setuju, sinkron, kongruen dalam berpikir positif.

Ambil contoh orang yang menetapkan suatu target penjualan. Misalnya target bulan ini adalah 50% lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Pikiran sadar kita ”percaya”, lebih tepatnya dipaksa untuk percaya, bahwa kita mampu mencapai target ini. Kita melakukan afirmasi setiap hari, menempel kata-kata positif di berbagai tempat, dan melakukan visualisasi. Apa yang terjadi?

Ternyata ada bagian dari diri kita yang menolak hal ini karena kenaikan target dianggap terlalu tinggi sehingga dirasa tidak mungkin bisa dicapai. Akibatnya kita tidak berhasil mencapai target ini. Namun kita tetap ”percaya” dan ”positive thinking” bahwa kita dapat mencapai apapun asal kita yakin. Bukankah ini yang diajarkan di hampir semua buku positif dan berbagai seminar motivasi?

Lalu apa yang kita lakukan? Kata orang, ”Kegagalan adalah sukses yang tertunda”, ”Tidak penting berapa kali kita jatuh yang penting adalah kita bangkit setiap kali kita jatuh”, ”Tidak ada namanya kegagalan, yang ada adalah hasil yang tidak kita inginkan”, dan masih banyak lagi kata-kata mutiara berkenaan dengan kegagalan. So….? Keep trying….. pokoke maju tak gentar, pantang menyerah.

Setelah dua bulan, tiga bulan, empat bulan, dan kita masih belum berhasil mencapai goal kita maka kita mulai merasa nggak enak. Tapi kita tetap berusaha berpikir positif. Why? Karena memang begitulah yang kita baca di buku-buku positif.

Lalu, mengapa ”berpikir” positif justru akan sangat berbahaya bagi diri kita? Pada kasus di atas, yang terjadi sebenarnya adalah kita, secara tidak sadar, telah mengedukasi pikiran bawah sadar bahwa kita sebenarnya memang tidak kompeten alias gagal. Lho, kok bisa begitu ? Lha, buktinya kita sudah berkali-kali tidak berhasil mencapai target. Pikiran sadar kita dapat kita paksa untuk berpikir positif. Namun pikiran bawah sadar kita tidak bisa kita bohongi. Setiap kali kita gagal mencapai goal maka pikiran bawah sadar diedukasi dengan suatu pelajaran negatip, ”Ternyata memang saya nggak bisa mencapai goal ini”. Dengan mengalami kegagalan beruntun maka efek repetisi terjadi (ingat prinsip pemrograman pikiran). Dan kita, secara bawah sadar, semakin percaya bahwa kita memang tidak mampu.

Kalau anda tidak percaya apa yang saya jelaskan coba anda rasakan perasaan anda saat saya berkata, ”Set Goal”. Bagaimana perasaan anda saat anda melakukan Goal Setting. Apakah yang muncul perasaan positif atau negatip?

Dari pengalaman saya, kata ”goal setting” ternyata mempunyai konotasi negatip. Mengapa ? Karena kata ini mengingatkan kita akan kegagalan kita. Banyak kawan saya yang secara jujur berkata, ”Sekarang kalau saya diminta set goal maka perasaan saya langsung menolak. Ada perasaan nggak enak di hati saya. Nggak tahu kenapa bisa seperti ini”.

Sebenarnya jawabannya sederhana. Goal karena terlalu sering tidak berhasil dicapai akhirnya mempunyai konotasi negatip. Kita secara bawah sadar menghubungkan/meng-anchor kata goal setting dengan perasaan gagal. Jadi setiap kali kita mendengar kata ”goal setting” maka yang muncul adalah memori atau pengalaman kita saat gagal (berkali-kali) dalam mencapai goal kita.

Jadi, semakin seseorang berusaha untuk positif maka semakin negatip ia jadinya. Mengapa bisa begini? Karena memori manusia bersifat holographic sehingga mempunyai kemampuan/sifat cross referenced. Artinya, tidak ada memori yang berdiri sendiri. Semuanya saling terkait. Saat kita berusaha positif maka pada saat yang sama pula kita mengaktifkan memori negatip, di bawah sadar. Semakin kita berusaha positif maka semakin kuat efek negatip. Hal ini jarang disadari dan dimengerti orang.

Seorang kawan yang bergerak di bidang marketing, satu minggu setelah menerapkan konsep keselarasan pikiran positif (sadar dan bawah sadar) mampu meningkatkan penghasilan 3 (tiga) kali lipat dibandingkan sebelumnya. Dan yang lebih hebat lagi ia tidak usah kerja keras untuk mencapai hal ini. Kesannya adalah semua sudah ada yang mengatur.

Satu hal yang perlu anda ketahui yaitu kawan saya ini adalah orang yang selalu berusaha berpikir positif, telah membaca sangat banyak buku positif, menghadiri berbagai seminar di dalam negeri dan di luar negeri. Ia malah telah bertemu dengan dua orang top. Seorang di bidang motivasi dan seorang lagi adalah penulis buku keberhasilan finansial yang sangat terkenal. Sudah tentu ia membayar sangat mahal untuk bisa menghadiri seminar-seminar ini. Apalagi seminarnya dilakukan di Singapore.

Namun apa yang terjadi? Semakin ia berusaha positif maka semakin dalam ia terperosok ke dalam perangkap berpikir negatip. Kawan saya ini protes keras saat pertama kali mendengar tentang ”Bahaya Berpikir Positif”. Baginya statement ini nggak masuk akal. Namun setelah berdiskusi cukup panjang kawan saya akhirnya bisa memahami maksud saya.

Lalu bagaimana cara berpikir positif yang benar-benar positif? Ya itu tadi. Pikiran sadar dan bawah sadar harus selaras. Yang harus menjadi landasan pijak adalah apa yang ada di pikiran bawah sadar. Jadi, untuk benar-benar mampu berpikir positif yang positif maka pikiran positif itu harus berawal di pikiran bawah sadar. Bila ini berhasil kita lakukan maka efeknya akan sangat luar biasa. Kita akan dapat dengan sangat mudah mencapai target yang kita inginkan.

Anda pasti bertanya, ”Ok, kalau begitu bagaimana caranya?” Ada banyak cara untuk bisa menyelaraskan pikiran sadar dan bawah sadar, untuk bisa membuatnya kongruen. Kita bisa menggunakan NLP, Hypnotherapy (ada sangat banyak teknik), SMC, Visualisasi, Mind Reprogramming dengan bantuan guided imagery, menggunakan musik/audio dengan muatan frekwensi khusus, atau teknik lainnya. Akan sangat panjang dan teknis bila saya jelaskan dalam artikel ini.

* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis best seller Born to be a Genius, Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success, Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan ?, dan Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication. Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com.


Telah di baca sebanyak: 1582

Meretas Belenggu “Hypnotizability”

“Pak Adi, nama saya Agus. Saya punya masalah dengan diri saya. Sudah satu bulan ini saya mengalami kecemasan yang datangnya tiba-tiba. Kalau malam tidur sebentar-sebentar terbangun.. sudah terapi ke psikiater dan dapat obat yang diminum tiap malam. Keceriaan saya hilang dan sering keluar keringat dingin. Saya sudah coba hipnoterapi tapi saya tidak bisa dihipnosis. Hal ini justru menambah kecemasan saya karena terbayang saya tidak bisa sembuh. Apakah ada saran dari Bapak mengenai hal ini?”

Demikianlah email dari seorang rekan yang saya terima beberapa hari lalu. Penasaran dengan apa yang terjadi dengannya, khususnya dalam konteks hipnoterapi saya membalas emailnya berikut ini, “Siapa yang menerapi Pak Agus? Apa yang ia lakukan dan sudah berapa sesi?”

Jawabnya, “Saya sudah coba tiga terapis yang berbeda di kota saya. Ketiganya gagal menghipnosis saya, dan setelah saya tanya ternyata katanya memang ada 10% dari manusia masuk kategori tidak bisa dihipnosis. Hal ini membuat saya menjadi kecewa dan akhirnya yang saya terima adalah terapi sugesti yang menyugesti diri saya untuk bisa menghilangkan perasaan dalam pikiran saya. Sampai saat ini masih ada perasaan mengganjal dalam hati saya dan tidak tahu apa itu.”

Ini sungguh berita menarik yang layak untuk dibahas. Apakah benar klien ini tidak bisa dihipnosis? Apakah benar ada 10% manusia yang masuk kategori tidak bisa dihipnosis?

Sebelum saya teruskan mari kita bahas dulu arti kata hypnotizability yang menjadi judul artikel ini. Hypnotizability terdiri atas dua kata yaitu hypnosis dan succesptibility yang artinya kemampuan untuk mengalami kondisi hipnosis atau hypnotic trance, biasanya dengan cara self-hypnosis atau dengan bantuan orang lain sebagai operator (hipnoterapis).

Lalu, apakah definisi hipnosis?

Ada sangat banyak definisi yang dikemukakan oleh para pakar. Saat ini definisi yang paling banyak dipakai dan diterima dalam dunia hipnoterapi adalah definisi yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Amerika yaitu hipnosis adalah penembusan faktor kritis dari pikiran sadar dan diikuti dengan diterimanya suatu sugesti atau pemikiran tertentu.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi dan menentukan kemampuan seseorang untuk mengalami kondisi hipnosis. Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi atau dilakukan oleh hipnoterapis yang menangani Pak Agus. Saya akan memberikan uraian agar kita sama-sama dapat lebih memahami hipnotizability.

Saya juga beberapa kali menjumpai klien yang mengatakan bahwa ia telah pergi ke beberapa hipnoterapis dan tidak ada satupun yang berhasil menghipnosis dirinya. Dari banyak kasus yang saya temukan “ketidakberhasilan dihipnosis atau menghipnosis” sebenarnya hanya ada dua kemungkinan.

Kemungkian pertama ada pada diri klien. Klien sebenarnya tidak mengerti apa itu kondisi hipnosis. Klien punya persepsi yang salah mengenai kondisi hipnosis. Umumnya klien berpikir bahwa kondisi hipnosis sama seperti yang ia lihat di televisi yaitu subjek “dihipnosis” dan langsung menjadi “tidak sadar”. Berpegang pada pemahaman ini saat klien dihipnosis ia berharap mengalami yang seperti di televisi. Saat ia tetap sadar, tetap bisa mendengar, tetap bisa berpikir maka ia merasa hipnoterapisnya tidak cakap sehingga tidak bisa menghipnosis dirinya.

Pernah juga saya bertemu dengan klien yang mengatakan bahwa kondisi hipnosis itu sama dengan tidur, badannya lemas atau rileks. Ini juga pemahaman yang salah. Hipnosis bukanlah rileksasi fisik. Hipnosis adalah rileksasi pikiran. Jadi, walaupun badannya tidak rileks, asalkan pikirannya sudah rileks, maka klien sudah berada dalam kondisi hipnosis.

Bila ini yang dialami klien maka dapat disimpulkan terapis tidak melakukan edukasi yang cukup pada klien. Solusinya adalah terapis perlu menjelaskan dengan detil apa itu kondisi hipnosis sebelum melakukan induksi atau terapi.

Ada juga klien yang tetap bersikeras pada pemahamannya yang salah mengenai kondisi hipnosis. Saya pernah mengalami hal ini. Klien sudah saya jelaskan dengan sangat detil apa itu kondisi hipnosis, apa yang akan ia alami atau rasakan, bahwa ia tetap sadar, bisa berpikir, mendengar, dan menjawab semua pertanyaan saya, namun klien memilih tetap berpegang teguh pada pemahamannya yang salah. Nah, kalau sudah begini terpaksa terapi tidak bisa dilanjutkan.

Alasan lain klien tidak bisa dihipnosis adalah karena takut. Takutnya bisa macam-macam. Namun umumnya semua ini karena persepsi atau informasi yang salah atau kurang pas yang klien dapatkan selama ini mengenai hipnosis atau hipnoterapis.

Perasaan takut yang umum dialami klien adalah hipnosis menggunakan kuasa gelap, hipnosis melanggar kehendak bebas seseorang karena pikiran klien dikuasai oleh hipnoterapis, takut rahasianya terbongkar, takut tidak bisa keluar dari kondisi hipnosis, tidak nyaman berdua dalam satu ruangan dengan terapis yang baru ia kenal, klien tidak percaya pada kemampuan dan atau integritas terapis, takut dipermainkan seperti yang ia lihat di tv, takut sembuh (secondary gain), dan masih banyak takut lainnya.

Bisa juga klien secara bawah sadar menolak menjalani terapi karena ia datang bukan atas kesadarannya sendiri namun atas dorongan, rayuan, bujukan, paksaan, atau bahkan ancaman orang lain. Kalau ini yang terjadi maka ia sangat sulit atau tidak bisa masuk ke kondisi hipnosis.

Secara umum saat seseorang dalam kondisi hipnosis maka akan muncul fenomena tertentu pada fisik dan atau pikirannya. Fenomena yang terjadi di fisik antara lain REM (Rapid Eye Movement) atau gerakan bola mata ke kiri/kanan, menelan ludah, wajah pucat, napas melambat, detak jantung melambat, tubuh terasa hangat, produksi air mata (lakrimasi) meningkat, dan bagian putih mata menjadi merah. Sedangkan yang terjadi pada pikirannya antara lain ammnesia, analgesia, anestesi, halusinasi (visual,auditori,kinestetik), munculnya Ego Personallity (Ego State, Part, Introject, dan Alter), regresi, revivifikasi, katarsis atau abreaksi, dan distorsi waktu.

Sekarang saya akan bahas kemungkinan kedua yaitu hipnoterapis. Bila membaca informasi di atas yang berbunyi, “………ternyata katanya memang ada 10% dari manusia masuk kategori tidak bisa dihipnosis….” dapat disimpulkan bahwa hipnoterapis yang menerapi Pak Agus mengacu pada SHSS atau Standford Hypnotic Susceptibility Scale yang merupakan hasil riset Weitzenhoffer dan Ernest Hilgard. Sebenarnya SHSS ada tiga macam yaitu Forms A, B, dan C atau SHSS: A, SHSS: B, dan SHSS:C.

SHSS menyatakan bahwa manusia terbagi menjadi tiga kategori yaitu 10% sangat mudah dihipnosis, 85% moderat, dan 5% yang sangat sulit dihipnosis. Ini adalah informasi yang banyak dijadikan pegangan oleh hipnoterapis, baik yang di luar negeri maupun di Indonesia. Setiap kali klien tidak bisa masuk kondisi hipnosis atau tidak bisa dihipnosis maka terapis akan menggunakan dalih kliennya masuk kategori yang 5%.

Jika mengacu pada SHSS maka yang dikatakan oleh terapis ini benar. Bukankah SHSS menyatakan ada 5% populasi yang sangat sulit dihipnosis? Nah, bisa saja si klien masuk kategori ini.

Pakar lain menyatakan bahwa hipnotizability dipengaruhi oleh tipe sugestibilitas. Manusia terbagi menjadi dua tipe yaitu yang physically suggestible dan emotionally suggestible. Yang mudah dihipnosis adalah yang tipe pertama. Sedangkan tipe kedua adalah yang bersifat analitikal dan sulit untuk dihipnosis. Di dalam emotional suggestibility ada sub-tipe lagi yang dikenal dengan tipe intellectual. Ini adalah tipe yang sangat-sangat kritis atau analitikal sehingga sangat sulit untuk dihipnosis.

Pertanyaan yang sangat menggelitik saya dulu waktu baru belajar hipnosis dan hipnoterapi adalah apakah SHSS ini benar-benar valid dan bersifat absolut? Artinya, ini sudah harga mati?

Ernest Hilgard adalah tokoh hipnoterapi dan peneliti yang sangat saya hormati. Saya tidak dapat posisi mengatakan bahwa hasil riset Beliau tidak valid. Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa beberapa pakar lain punya pandangan berbeda mengenai hipnotizability.

Setidaknya ada dua pakar yang juga sangat saya hormati menyatakan bahwa sebenarnya semua orang bisa masuk kondisi hipnosis. Kedua pakar ini berbeda pendapat dengan Hilgard dengan alasan bahwa semua riset yang dilakukan Hilgard menggunakan relawan mahasiswa (volunteer) sebagai subjek penelitian dalam setting laboratorium. Data yang digunakan bukan berasal dari klien yang datang ke terapis untuk menjalani hipnoterapi. Jadi, kesimpulannya Hilgard melakukan riset tidak dalam konteks hipnoterapi klinis.

Jadi, sebaiknya saya mengikuti pendapat siapa?

Seiring waktu berjalan, dengan jam terbang dan pengalaman yang semakin banyak, belajar langsung ke berbagai pakar terkenal di luar negeri, membaca lebih banyak buku dan jurnal, saya sampai pada satu kesimpulan yang mengubah paradigma saya. Sekarang saya yakin seyakin-yakinnya, dan ini didukung bukti empiris, bahwa semua orang (100%) bisa masuk ke kondisi hipnosis asalkan ia bersedia dan mengijinkannya. Dan ini sama sekali tidak membutuhkan terapis yang cakap. Intinya, asalkan klien bersedia dan mengijinkannya maka ia pasti bisa masuk ke kondisi hipnosis, tanpa terapis perlu melakukan apapun. Lebih spesifik lagi yang sangat mempengaruhi hipnotizability hanya tiga yaitu motivasi, keyakinan, dan ekspektasi.

Bila anda ingin mendalami riset hipnotizability maka ada banyak studi mengenai level dan kemampuan mencapai kondisi kedalaman hipnosis yang disusun menjadi skala tertentu. Yang cukup terkenal adalah skala yang disusun oleh Liebault (1892), Bernheim (1895), White (1930), Davis dan Husband (1931), Shore dan Orne (1962), dan LeCron-Bordeaux (1949).

Berangkat dari keyakinan bahwa setiap orang bisa masuk ke kondisi hipnosis bila ada motivasi, keyakinan, dan ekspektasi, tanpa dipengaruhi apakah ia masuk kategori yang mana menurut SHSS atau apakah ia tipe physically atau emotionally suggestible, maka saya mengembangkan teknik induksi yang bersifat universal, cocok untuk tipe klien apa saja, dan mampu membantu klien agar punya motivasi, keyakinan, dan ekspektasi yang kuat untuk bisa masuk ke kondisi hipnosis dengan cepat, mudah, dan pasti.

Dengan menggabungkan berbagai pengetahuan yang didapat dari guru-guru saya seperti Anna Wise, Tom Silver, dan Sean Adam, saya mengembangkan teknik induksi dengan menggunakan prinsip psycho-somatic dan somato-psychic yang secara klinis terbukti mampu membawa klien tipe apa saja masuk ke kondisi profound somnambulism atau lebih dalam lagi dengan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi.

Sejak tahun 2008 saya sudah tidak lagi pernah menggunakan SHSS sebagai acuan. Saya menggunakan skala Davis & Husband yang terdiri atas 30 kedalaman trance. Dan seiring waktu berjalan, dari hasil riset dan temuan kami (QHI) pada bulan September 2010 saya menyusun skala sendiri yang diberi nama QHI Hypnotic Depth Scale yang terdiri dari 40 level. Dengan menggunakan skala ini kini kami dapat dengan jelas mengetahui kedalaman trance yang telah dicapai oleh subjek atau klien. QHI Hypnotic Depth Scale selain terdiri dari level kedalaman trance juga secara detil menjelaskan berbagai fenomena yang bisa muncul atau dialami oleh klien baik secara fisik maupun mental.

Jadi, kalau saya boleh memberikan saran pada rekan-rekan sejawat saya, sesama hipnoterapis, hati-hati dengan hal yang kita pelajari atau yakini benar. Pemikiran pakar yang kita pelajari akan membentuk perspesi, yang selanjutnya mempengaruhi kinerja kita. Tidak ada benar atau salah dalam hal ini. Yang ada adalah akibat atau hasil yang akan kita dapat.

Telah di baca sebanyak: 992

Direct vs Indirect Suggestion

Dalam dunia hipnosis dan hipnoterapi kita mengenal dua jenis sugesti yaitu yang bersifat langsung (direct) dan yang bersifat tidak langsung (indirect). Ada banyak artikel yang telah ditulis oleh para pakar hipnoterapi mengenai kedua jenis sugesti ini. Ada yang sangat menekankan pentingnya direct suggestion dan ada pula yang menyatakan bahwa indirect suggestion jauh lebih andal dan efektif. Mana yang benar? Masing-masing dengan argumentasi yang juga sama kuat dan meyakinkan.

Artikel ini tidak bertujuan untuk memihak pada salah satu pandangan namun lebih bertujuan menjelaskan sugesti dari perspektif teori dan cara kerja pikiran sehingga praktisi hipnoterapi mengerti cara menggunakan sugesti dengan benar sesuai dengan kondisi, situasi, dan kebutuhan klien.

Dalam dunia hipnoterapi terdapat dua aliran atau mazhab yaitu yang berasal dari pantai timur (east coast) dan pantai barat (west coast) Amerika. Kedua mazhab ini berbeda dalam penekanan teknik terapi yang digunakan.

Mazhab pantai timur lebih menekankan penggunakan sugesti dalam melakukan terapi (suggestive hypnotherapy). Sedangkan mazhab pantai barat menggunakan hypnoanalysis procedure yang melibatkan banyak teknik yang lebih kompleks.

Indirect suggestion adalah sugesti yang umumnya diberikan pada klien dalam kondisi sadar normal atau light trance. Indirect suggestion menjadi sangat populer berkat teknik yang digunakan Milton H. Erickson dalam menangani berbagai kliennya. Teknik ini selanjutnya dikembangkan oleh Richard Bandler, John Grinder, Jay Halley, dan Ernest Rossi.

Menurut Bandler dan Grinder direct suggestion lebih ditujukan untuk pikiran sadar. Contohnya: “Tutup mata anda” (ini adalah bentuk perintah langsung), “Anda dapat menutup mata anda sekarang” (ini adalah bentuk sugesti positif), “Anda tidak bisa menutup mata anda, bukan?” (modal operator;negative inquiry). Setiap kalimat mempunyai struktur yang berbeda namun dengan tujuan akhir yang sama yaitu meminta klien menutup mata.

Salah satu kelemahan penggunaan direct suggestion yaitu dapat menimbulkan atau meningkatkan resistensi klien terhadap sugesti yang diberikan.
Ada banyak faktor yang menimbulkan resistensi dalam diri klien, antara lain:
1.Klien datang ke terapis bukan atas keinginannya sendiri.
2.Klien (merasa) punya otoritas lebih tinggi dibanding terapis.
3.Klien tidak percaya sama terapis.
4.Klien tidak suka dengan terapis.
5.Klien merasa malu atau kurang nyaman.
6.Klien punya persepsi yang salah mengenai hipnosis / hipnoterapi.
7.Klien mendapat keuntungan dengan masalah yang ia alami (secondary gain)

Indirect suggestion digunakan dengan alasan utama yaitu untuk menghindari dan atau mengatasi resistensi. Misalnya, untuk meminta klien menutup mata, bukannya langsung memberikan perintah, “Tutup mata anda”, hipnoterapis menyusun kalimat sugestinya menjadi, “Klien yang baik memulai proses terapi dengan menarik napas panjang dan dalam beberapa kali dan selanjutnya merilekskan dan menutup mata mereka (generalisasi)”, atau “Mata anda sudah menjalankan tugasnya dengan baik hingga saat ini. Apakah anda tidak merasa mata anda lelah karena terus bekerja? Berilah waktu mata anda istirahat sebentar”. Setiap kalimat mempunyai struktur yang berbeda namun dengan tujuan akhir yang sama yaitu meminta klien menutup mata.

Berikut adalah contoh kalimat yang digunakan hipnoterapis untuk mengarahkan klien menutup mata dan memulai proses relaksasi yang dalam, menggunakan direct suggestion, “Anda mulai merasa kelopak mata anda menjadi berat dan semakin berat dan anda tidak bisa menahan untuk menutup mata. Anda masuk ke dalam kondisi rileksasi yang semakin dalam sambil tetap duduk dalam posisi tubuh tegak dan nyaman dan tetap mampu mendengar suara saya…..”

Kalimat yang sama bila disusun dalam bentuk indirect suggestion akan menjadi, “Jika anda menginginkan dan mengijinkan, anda dapat membayangkan diri anda merasa nyaman…sangat nyaman sehingga merasa mengantuk sambil anda terus mendengar suara saya… mengijinkan mata anda untuk tetap terbuka sambil anda masuk dalam kondisi tidur yang dalam… atau mengijinkan diri anda untuk secara lembut menutup mata anda”

Indirect suggestion tampak lebih lembut dan tidak terlalu bersifat memerintah. Dengan demikian klien merasa lebih punya kendali atas apa yang akan terjadi.

Indirect suggestion selain bisa berupa kalimat sugesti singkat seperti contoh di atas juga bisa menggunakan metafora dengan tujuan mengarahkan pikiran klien untuk mendapatkan solusi atas suatu masalah.

Berikut adalah contoh penggunaan metafora. Misalnya ada klien yang mengalami ejakulasi dini. Metafora yang dapat digunakan adalah metafora menikmati makanan. Dalam metafora ini klien diminta dengan sengaja makan dengan perlahan, menikmati setiap suap makanan, setiap jenis makanan, sungguh-sungguh memperhatikan, merasakan, dan menikmati aroma dan rasa makanan yang ia makan.

Hal ini tentunya sangat berbeda dengan penggunaan direct suggestion yang mungkin dapat membuat klien merasa risih atau malu. Melalui metafora ini pikiran klien selanjutnya dapat menyimpulkan apa yang perlu dilakukan dan dengan demikian membantu klien mengatasi masalahnya sendiri sambil menghindari perasaan malu atau tidak nyaman.

Dalam berbagai artikel mengenai indirect suggestion yang pernah saya baca umumnya lebih menekankan atau merujuk pada semantik/pilihan kata dan struktur bahasa sebagai kunci keberhasilan sugesti. Untuk bisa melakukan, lebih tepatnya, menyusun indirect suggestion yang powerful, maka seorang hipnoterapis dituntut untuk mempunyai kemampuan linguistik yang tinggi.

Bagaimana cara kerja indirect suggestion sehingga mampu mempengaruhi seseorang dan memberikan perubahan positif seperti yang diharapkan?
Ada banyak faktor penting lainnya yang juga sangat menentukan kekuatan pengaruh indirect suggestion selain pilihan kata dan struktur bahasa. Faktor ini juga sangat mempengaruhi kekuatan direct suggestion dan justru jauh lebih penting dari sugesti itu sendiri.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Abraham Mehrebian (1968) dan Bob Birdwhistel (1970) mengenai efek dan pengaruh komunikasi tatap muka sampai pada simpulan yang kurang lebih sama. Temuan mereka menyatakan bahwa efektivitas komunikasi dipengaruhi oleh tiga hal yaitu:
1.Verbal (pilihan kata) = 7%
2.Intonasi = 38%
3.Bahasa Tubuh = 55%

Dalam riset ini tampak jelas bahwa dalam berkomunikasi dengan orang lain pengaruh kata-kata (semantik dan tentunya termasuk struktur bahasa) hanya 7%, intonasi suara memberi pengaruh 38%, dan pengaruh terbesar adalah bahasa tubuh, yaitu sebesar 55%. Dari hasil penelitian ini tampak jelas bahwa mayoritas komunikasi dilakukan secara nonverbal. Dengan demikian bila kita berkomunikasi dengan orang lain, untuk bisa memberikan pengaruh maksimal, maka kita harus mengucapkan kata-kata dengan intonasi suara yang tepat dan bahasa tubuh yang kongruen mendukung. Hal ini akan memberikan pengaruh signifikan hingga 93%.

Dalam konteks terapi, yang masuk dalam kategori komunikasi nonverbal, elaborasi dari aspek intonasi dan bahasa tubuh, adalah ekspresi wajah, tonalitas dan volume suara, gesture, timing, kontak mata, kontak fisik seperti jabat tangan, usia, penampilan fisik termasuk kondisi kesehatan atau level energi, pakaian, aksesoris, kondisi mood dan ekspektasi baik dari klien maupun dari terapis.

Selanjutnya direct atau indirect sugggestion, secara tidak langsung namun cukup signifikan, juga dipengaruhi oleh warna, kebersihan, temperatur, aroma, kondisi dan kualitas gedung klinik atau ruang terapi, ruang terima tamu, fasilitas gedung, fungsi, style, kualitas mebel yang digunakan, dan noise level saat sugesti diberikan.

Mehrebian dan Birdwhistel bukan pakar hipnosis atau hipnoterapis. Dengan demikian riset mereka dilakukan dengan melihat interaksi komunikasi dalam kondisi pikiran sadar.

Untuk bisa mengerti cara kerja direct/indirect suggestion maka kita perlu mengerti cara kerja pikiran. Saya tidak akan membahas terlalu detil mengenai mekanisme pikiran karena sudah banyak saya bahas di artikel saya lainnya.

Manusia mempunyai tiga jenis pikiran: pikiran sadar (conscious mind), pikiran bawah sadar (subconscious mind), dan pikiran nirsadar (unconscious mind). Untuk bisa melakukan perubahan maka sugesti yang hipnoterapis berikan pada klien harus bisa masuk, diterima, dimengerti, dan dilaksanakan sepenuhnya oleh pikiran bawah sadar klien.

Proses perjalanan sugesti masuk ke pikiran bawah sadar tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Ada proses dan tahapan yang harus dilalui. Pertama, sugesti ini akan masuk ke pikiran sadar. Selanjutnya sugesti harus melewati critical factor yang berperan sebagai penjaga pintu yang menghubungkan pikiran sadar dan bawah sadar. Bila sugesti berhasil menembus dan melewati critical factor maka sugesti ini akan masuk ke pikiran bawah sadar.

Kendala yang umumnya dihadapi hipnoterapis adalah sulitnya menembus critical factor karena sugesti lebih sering diberikan dalam kondisi sadar normal atau light trance. Dalam kondisi ini pikiran sadar masih sangat aktif dan critical factor bekerja dengan kekuatan penuh.

Critical factor terdiri atas dua bagian. Sebagian berada di wilayah pikiran sadar dan sebagian lagi di wilayah pikiran bawah sadar.

Tugas critical factor yang berada di wilayah pikiran sadar adalah untuk memastikan informasi (baca: sugesti) yang akan masuk ke pikiran bawah sadar bersifat konsisten dengan data yang telah ada di pikiran bawah sadar. Bila data yang akan masuk ternyata berbeda maka dengan serta merta data baru ini akan ditolak. Hal ini bertujuan untuk melindungi keutuhan dan konsistensi keabsahan data di pikiran bawah sadar, yang sebenarnya akhirnya juga demi kepentingan dan kebaikan klien.

Sedangkan tugas critical factor yang berada di wilayah pikiran bawah sadar adalah untuk memastikan empat hal. Pertama, sugesti yang diterima bila dilaksanakan tidak akan berakibat negatif bagi keselamatan (hidup) klien. Kedua, sugesti ini bila dilaksanakan tidak melanggar nilai moral dan agama yang diyakini oleh klien. Ketiga, sugesti ini benar menurut data yang telah tersimpan di pikiran bawah sadar. Dan keempat, sugesti ini masuk akal (klien).

Indirect suggestion bertujuan untuk mengatasi resistensi dengan cara mengecoh, membingungkan, menyibukkan, atau membuat lengah pikiran sadar, dengan memikirkan “makna” dari sugesti yang diberikan, sehingga critical factor dapat ditembus dan sugesti bisa masuk ke pikiran bawah sadar.
Apakah ada cara lain untuk menembus critical factor selain dengan cara yang digunakan dalam indirect suggestion?

Selain cara di atas dalam dunia hipnoterapi dikenal lima cara untuk menembus critical factor yaitu dengan menggunakan otoritas, emosi, repetisi, identifikasi, dan relaksasi pikiran (kondisi hipnosis).

Berbeda dengan indirect suggestion yang telah dijelaskan di atas direct suggestion, sesuai namanya, adalah sugesti yang bersifat langsung, apa adanya, tanpa basa basi. Jika hipnoterapis ingin klien menutup mata maka ia akan berkata, atau lebih tepatnya memberi perintah kepada klien, “Tutup mata anda.”

Agar direct suggestion menjadi lebih efektif maka hipnoterapis perlu benar-benar memperhatikan resistensi. Sedapat mungkin resistensi klien diatasi sebelum sugesti diberikan. Untuk itu, hipnoterapis yang benar-benar cakap dan berpengalaman, akan menggunakan sebanyak mungkin cara untuk menembus critical factor.

Hipnoterapis harus mampu membangun otoritas di mata klien. Semakin tinggi otoritas hipnoterapis menurut persepsi klien akan semakin baik. Selanjutnya hipnoterapis menggunakan emosi klien untuk menyiapkan pikiran bawah sadar klien agar mendukung klien untuk berubah. Kalimat yang digunakan untuk sugesti sebaiknya juga melibatkan emosi klien, baik yang positif maupun yang negatif. Hipnoterapis bisa melakukan repetisi dalam membaca direct suggestion agar sugesti tertanam lebih kuat di pikiran bawah sadar. Hipnoterapis juga bisa membantu klien melakukan identifikasi kelompok. Dan terakhir semuanya akan menjadi sangat mudah dan jauh lebih efektif dan efisien bila dilakukan dalam kondisi relaksasi pikiran/hipnosis yang (sangat) dalam.

Mengapa jauh lebih efektif dan efisien bila dilakukan dalam kondisi relaksasi pikiran/hipnosis yang (sangat) dalam?

Sugesti Dalam Kondisi Hipnosis Yang Dalam

Sifat dan hukum pikiran yang berlaku saat seseorang berada dalam kondisi hipnosis yang dalam sangat berbeda dengan saat ia dalam kondisi sadar normal atau light trance.

Dalam kondisi relaksasi pikiran/hipnosis yang dalam pikiran sadar dan critical factor menjadi nonaktif. Dengan demikian sugesti yang diberikan tidak akan mendapat hambatan untuk bisa masuk ke pikiran bawah sadar.

Dari pengalaman saya menangani klien, saat dalam kondisi hipnosis yang dalam indirect suggestion atau metafora menjadi kurang efektif dan seringkali justru kontraproduktif.

Hukum pikiran menyatakan bahwa semakin dalam kondisi hipnosis maka sugesti harus semakin direct. Hal ini disebabkan karena pikiran bawah sadar seseorang sifatnya menyerupai anak berusia delapan tahun. Sudah tentu bila kita berkomunikasi dengan anak usia delapan tahun untuk mendapatkan hasil maksimal kita perlu menggunakan bahasa yang gamblang, jelas, dan langsung. Justru bila bahasa yang digunakan bersifat tidak langsung atau “berputar-putar” maka anak menjadi bingung.

Hal penting lainnya yang harus benar-benar diperhatikan hipnoterapis yaitu dalam kondisi hipnosis yang dalam yang berlaku adalah trance logic bukan conscious logic.

Jadi, mana yang lebih efektif? Direct atau indirect suggestion?

Ini bergantung pada situasi dan kondisi. Semua sama efektifnya bila hipnoterapis mampu menggunakannya dengan tepat dan bijak.

Hipnoterapi telah berkembang sangat pesat. Sugesti, baik yang direct atau indirect, hanyalah salah satu dari sekian banyak teknik yang ada dalam dunia hipnoterapi. Masih ada banyak teknik lain yang lebih kompleks dan lebih powerful. Dalam kurun waktu paruh ketiga dari abad ke 20, berbagai teori dan teknik yang digunakan dalam dunia hipnoterapi mendapat pengaruh dari pemikiran, insight, dan temuan dari LeCron, Watkins, Kroger, Elman, Weitzenhoffer, Cheeck, Boyne, Crasilneck, Wolpe, Wolberg, dan Hilgard.

Banyak teknik intervensi klinis yang digunakan hipnoterapis saat ini prosedurnya jauh lebih kompleks daripada sekedar memberikan sugesti.

Berikut adalah beberapa contoh teknik terapi yang dikembangkan oleh masing-masing pakar dan memberikan kontribusi dan pengaruh yang luar biasa bagi dunia hipnoteapi:
- 1940an Elman dengan hypnoanalisys
- 1950an beragam penggunaan metode ideomotor yang pertama kali dikembangkan oleh LeCron
- 1950an teknik desensitisasi yang dikembangkan oleh Wolpe
- 1960an strategi emotional clearing yang komprehensif, termasuk integrasi Gestalt dan modalitas lainnya ke dalam hipnoterapi yang dilakukan oleh Boyne.

Selain itu perkembangan teknik hipnoterapi juga mendapat pengaruh dari literatur penting seperti yang ditulis oleh Kroger, Clinical and Experimental Hypnosis (1963), dan Cheeck dan LeCron Clinical Hypnotherapy (1968), masing-masing menekankan pentingnya mencari, menemukan, dan memproses akar masalah yang mendasari suatu masalah dengan menggunakan teknik eksplorasi interaktif, regresi, intervensi berorientasi pemahaman baru dan kebijaksanaan.

Teknik hipnoterapi seperti age regression, Ideomotor Technique, Gestalt, Ego Personality Therapy, Inner Child Work, Forgiveness Therapy, dan teknik-teknik terapi berbasis NLP seperti Visual Squash, Swish Pattern, Fast Phobia Cure, Power Trigger, Reverse Trigger, Six Step Reframing, dan Collapsing Anchor semuanya bersifat direct.

~ Adi W. Gunawan adalah Indonesia Leading Expert in Mind Technology yang telah menulis 15 buku best seller. Adi dapat dihubungi di www.quantum-hypnosis.com, www.adiwgunawan.com.

Telah di baca sebanyak: 879

Altered State of Consciousness: WHAT and HOW?

Oleh: Adi W Gunawan

Dunia pikiran adalah semesta maha luas dan dalam tak berbatas yang sangat menggoda untuk dijelajahi. Segala sesuatu yang berhubungan dengan pikiran sudah pasti juga berhubungan dengan (kondisi) kesadaran. Setiap saat pikiran bergerak dengan sangat cepat dan sulit dikendalikan. Dalam sekejap kita bisa beralih kesadaran.

Bila berdiskusi tentang kesadaran umumnya orang hanya mengenal dua kondisi yaitu sadar dan tidak sadar. Yang dimaksud dengan kondisi sadar adalah keadaan pikiran aktif dan mampu mengenali sekitarnya. Sedangkan kondisi tidak sadar biasanya dihubungkan dengan keadaan tidur lelap di mana hubungan antara dunia dalam diri dan dunia di luar telah “terputus”.

Tahukah anda bahwa antara kondisi sadar dan tidak sadar ini terbentang lapisan kesadaran yang sangat halus dan sangat beragam yang seringkali kita masuki , baik disengaja atau tidak, namun kita tidak sadar sedang berada dalam kondisi itu?

Untuk bisa mengenali kondisi kesadaran yang “lain” dari biasanya maka kita membutuhkan satu acuan atau baseline. Kondisi kesadaran yang biasa kita alami dalam keseharian atau disebut dengan kondisi kesadaran normal inilah yang kita gunakan sebagai baseline state of consciousness (b-SoC). Dengan demikian semua kondisi kesadaran yang “di atas” atau “di bawah” baseline adalah kondisi kesadaran lain dan kita sebut dengan Altered State of Consciousness (ASC).

Lalu, apakah Altered State of Consciousness (ASC)? ASC adalah suatu konfigurasi subsistem dari struktur psikologis dengan pola unik, dinamis, dan aktif. Struktur psikologis merujuk pada organisasi komponen bagian yang relatif stabil yang menjalankan satu atau lebih fungsi psikologis. Contoh ASC antara lain kondisi tidur, kondisi hipnosis, kondisi meditatif, kondisi kesadaran saat tegang, takut, atau waspada, atau kondisi kesadaran di bawah pengaruh alkohol atau obat penenang.

Sebagai suatu kondisi kesadaran ASC distabilkan oleh empat proses:
1.Loading Stabilization : proses stabilisasi ini membuat perhatian atau kesadaran dan energi psikis terpusat pada suatu struktur yang diinginkan dengan membanjiri sistem psikologis seseorang dengan tugas tertentu sehingga sistem tidak punya sisa energi untuk melakukan hal lain.
2.Negative Feedback Stabilization: proses stabilisasi ini bertujuan mengoreksi fungsi struktur atau subsistem psikologis bila mereka menyimpang terlalu jauh dari rentang operasi normal sehingga dengan demikian sistem dipastikan kembali stabil.
3.Positive Feedback Stabilization: proses stabilisasi ini bertujuan memperkuat aktivitas dan atau memberikan pengalaman yang menyenangkan saat struktur atau subsistem psikologis berfungsi dan berjalan dalam koridor atau batasan yang telah ditentukan.
4.Limiting Stabilization: proses stabilisasi ini membatasi rentang atau jangkauan fungsi struktur dan subsistem psikologis yang bila beroperasi secara intensif akan membuat sistem menjadi tidak stabil.

Loading Stabilization dapat, pada kasus tertentu, menjadi Limiting Stabilization namun kedua jenis stabilisasi ini tidaklah sama. Limiting Stabilization secara langsung mempengaruhi struktur atau subsistem tertentu, sementara efek dari Loading bersifat tidak langsung dan beroperasi lebih banyak dengan cara mengkonsumsi energi dan bukan mempengaruhi struktur secara langsung.

Keempat proses yang dijelaskan di atas bertujuan agar ASC menjadi stabil sehingga seseorang bisa tetap berada dalam kondisi kesadaran itu, dalam rentang waktu tertentu.

Untuk mudahnya begini. Keempat proses ini kita analogikan sebagai strategi untuk mengendalikan seseorang agar menjadi warga negara yang baik, yaitu dengan cara:
1.Kita menyibukkan dia dengan kegiatan yang menjadikannya warga negara yang baik, sehingga ia tidak punya waktu dan energi untuk melakukan hal lain.
2.Kita memberikan hadiah bila ia melakukan hal-hal yang baik atau positif.
3.Kita menghukum dia bila ia melakukan kegiatan yang tidak kita ijinkan atau inginkan.
4.Kita membatasi kesempatannya untuk melakukan hal-hal yang tidak kita ijinkan.

Saya beri contoh lain agar penjelasan di atas lebih mudah dimengerti. Pernahkah anda mengalami, pada suatu saat, misalnya, pikiran anda sangat fokus memikirkan sesuatu, membaca buku, chatting, atau mengetik di komputer anda? Jawabannya pasti pernah.

Pertanyaan berikutnya, “Pernahkah anda, dalam kondisi yang sangat fokus ini, tiba-tiba diajak bicara oleh seseorang, misalnya rekan kerja, anak, suami atau istri?” Jawabannya juga pasti pernah.

Sekali lagi saya bertanya, “Saat anda dalam kondisi yang sangat fokus dan ditanya atau lebih tepatnya pola fokus anda diguncang oleh stimulus dari luar apa yang anda rasakan atau lakukan?”

Saya yakin anda pasti akan mengalami antara lain hal berikut:
1.Mengabaikan stimulus yang berasal dari luar. Dengan kata lain anda tidak menanggapi pertanyaan atau stimulus ini karena ada sedang sangat fokus.
2.Anda berusaha menanggapi pertanyaan atau memberikan respon pada stimulus ini namun merasa sangat malas dan tidak nyaman.
3.Anda membutuhkan upaya ekstra untuk bisa mengalihkan perhatian atau pikiran anda yang sedang sangat fokus pada sesuatu hal untuk bisa memberikan respon yang baik. Ini menimbulkan perasaan tidak nyaman.
4.Saat anda kembali pada kondisi fokus, seperti yang sebelumnya anda rasakan dan alami, maka perasaan anda menjadi nyaman kembali.

Empat hal yang saya jelaskan di atas sebenarnya adalah hasil kerja dari empat proses yang menstabilkan ASC, yang sedang kita alami pada suatu saat, yaitu Loading, Positive Feedback, Negative Feedback, dan Limiting Stabilization.

Lalu, bagaimana caranya untuk membawa seseorang berpindah dari kondisi kesadaran normal ke dalam kondisi ASC?

Untuk membimbing seseorang berpindah dari kondisi kesadaran normal (b-SoC) masuk ke kondisi ASC melibatkan dua operasi dasar induksi berikut:

1.Pertama kita menggunakan disrupting force atau daya pengguncang pada b-SoC berupa tindakan psikologis atau fisiologis yang mengguncang proses stabilisasi, baik dengan mengintervensi atau dengan menarik perhatian,fokus, atau energi dari proses stabilisasi.
Jika induksi ini berhasil maka daya pengguncang akan mendesak berbagai struktur atau subsistem ke ambang batas kestabilan fungsi dan selanjutnya melampaui batas ini dan dengan demikian merontokkan integritas sistem dan mengguncang kestabilan b-SoC sebagai suatu sistem. Setelah itu dilanjutkan dengan….

2.Di tahap kedua proses induksi kita menggunakan patterning forces atau daya pembentuk pola selama masa transisi baik berupa tindakan psikis dan atau fisik dengan tujuan membentuk pola stuktur atau subsistem menjadi suatu sistem baru, yaitu ASC yang diinginkan.
Selanjutnya sistem baru ASC harus membangun proses stabilisasiya sendiri jika ingin bisa bertahan.

De-induksi, proses membawa subjek keluar dari ASC kembali ke b-SoC, sama dengan proses induksi. Dalam hal ini disrupting force digunakan untuk mengguncang kestabilan ASC sehingga terjadi periode transisi dan selanjutnya b-SoC direkonstruksi dengan menggunakan patterning force.

Operasi Induksi: Guncang (Disruption) dan Pembentukan Pola (Patterning)

Operasi induksi yang pertama adalah mengguncang kestabilan b-SoC, mengganggu proses loading, positive dan negative feedback, dan limiting stabilization yang menjaga struktur psikologis beroperasi dalam rentang normal.

Dengan demikian, dalam operasi awal, untuk menghasilkan ASC, perlu dilakukan guncangan pada proses stabilisasi hingga satu titik di mana pola kesadaran normal tidak dapat lagi bertahan. Jika, misalnya, guncangan hanya dilakukan pada satu atau beberapa proses stabilisasi maka proses stabilisasi lainnya akan tetap mempertahankan keutuhan dan integritas sistem sehingga induksi yang dilakukan tidak menghasilkan ASC.

Proses stabilisasi dapat diguncang secara langsung bila mereka dapat dikenali, atau bisa dengan cara tidak langsung yaitu mendorong fungsi psikologis tertentu melampui batas fungsinya sehingga menjadi tidak stabil. Subsistem ini, misalnya, dapat diguncang dengan cara membanjirinya dengan stimuli, menghambat stimuli sehingga tidak mencapai subsistem sehingga subsistem kehilangan stimuli, atau memberikan susbsitem stimuli yang “aneh” yang tidak dapat diproses dengan cara biasa.

Selain cara di atas, untuk mengguncang proses stabilisasi fungsi b-SoC dapat juga menggunakan obat. Demikian pula setiap prosedur yang melibatkan fungsi fisiologis secara intens seperti kondisi kelelahan yang parah atau olahraga.

Operasi induksi yang kedua adalah menerapkan daya pembentuk pola, stimuli yang selanjutnya mendorong fungsi psikologis yang telah goyah menuju pola baru yang diinginkan yaitu ASC.

Sekarang mari kita lihat tiga contoh induksi untuk menghasilkan ASC, semua diawali dari kondisi sadar normal (b-SoC): proses masuk kondisi tidur, induksi hipnosis, dan praktik meditasi.

Masuk ke Kondisi Tidur

Proses masuk ke kondisi tidur biasanya diawali dengan kita berbaring dalam ruangan yang tenang dengan penerangan yang redup, selanjutnya menutup mata, dan menjadi rileks, tenang, nyaman. Hal ini serta merta menghilangkan sangat banyak loading stabilization yang membantu menjaga kondisi kesadaran normal (bangun).

Dalam kondisi yang tenang ini hanya ada sedikit stimuli yang diterima pikiran sehingga tidak dibutuhkan energi untuk memproses stimuli ini. Energi psikis lainnya, yang tidak terpakai, menjadi bebas. Sebagian dari energi yang terbebas ini ada yang beralih fungsi menjadi energi yang meningkatkan imajinasi atau bentuk-bentuk pikiran. Dengan semakin berkurangnya energi yang dibutuhkan untuk memproses stimuli dari lingkungan maka loading stabilization menjadi semakin lemah dalam menjaga kondisi kesadaran normal.

Berbaring dan rileks menghilangkan sumber loading stabilization utama lainnya yaitu input sensori yang berasal dari tubuh. Dalam kondisi ini input dari tubuh sangat minim. Dalam kondisi ini orang umumnya akan mengambil sikap bahwa tidak ada yang perlu dikerjakan, tidak ada goal yang perlu dicapai, tidak ada masalah yang perlu diselesaikan, tidak ada hal penting yang perlu diperhatikan. Sikap ini mengakibatkan pola yang selama ini menjaga kondisi kesadaran normal menjadi lemah, semakin lemah, dan akhirnya luruh dengan sendirinya. Dengan demikian kita masuk ke kondisi tubuh dan pikiran yang pasif, rileks, dan nyaman.

Kondisi pasif ini bila berlanjut akan menarik keluar energi perhatian/kesadaran dari proses feedback stabilization. Tanpa adanya hal yang harus diperhatikan atau dijaga maka tidak ada kebutuhan untuk mengawasi dan mengkoreksi penyimpangan fungsi. Dengan demikian pikiran akan masuk ke kondisi yang lebih rileks lagi yang disebut dengan kondisi hypnagogic dan selanjutnya masuk ke kondisi tidur.

Masuk ke Kondisi Hipnosis

Ada sangat banyak cara atau prosedur untuk membawa subjek masuk ke kondisi hipnosis. Namun bila diperhatikan dengan saksama, semua prosedur ini mengikuti pola umum yang mirip atau sama. Langkah pertama, biasanya, adalah dengan meminta subjek untuk duduk atau berbaring di kursi dengan nyaman. Hal ini bertujuan agar subjek tidak perlu melakukan upaya apapun untuk mempertahankan posisi tubuhnya. Seluruh tubuh subjek, mulai dari kaki hingga kepala, tersangga dengan baik oleh kursi sehingga terasa sangat nyaman. Subjek juga diminta untuk pasrah dan merilekskan tubuhnya serileks mungkin.

Langkah ini mengakibatkan beberapa efek. Pertama, jika subjek merasa cemas, yang mana perasaan cemas ini tampak dalam bentuk ketegangan di tubuh, maka dengan merilekskan tubuhnya, perasaan cemas ini menjadi banyak berkurang. Dengan mengurangi dan membatasi kecemasan dalam diri subjek akan memudahkan subjek untuk masuk ke kondisi ASC, dalam hal ini kondisi hipnosis.

Saat tubuh rileks dan diam maka jumlah stimuli yang tadinya diterima oleh reseptor gerak yang ada di sekujur tubuh menjadi sangat berkurang, mirip dengan kondisi saat akan tidur. Dengan demikian keseluruhan tubuh mulai kehilangan kesadaran dan larut dalam keadaan rileks dan berakibat pada hilangnya loading stabilization dan patterning force yang selama ini menjaga kondisi kesadaran normal (b-SoC).

Langkah kedua, operator (hipnotis/hipnoterapis) meminta subjek untuk fokus pada suara si operator dan mengabaikan bentuk pikiran atau sensasi yang masuk ke pikiran subjek. Dalam kondisi normal pikiran subjek akan aktif melakukan scanning memperhatikan kondisi dan situasi di lingkungannya guna menemukan stimuli yang penting di sekitarnya.

Upaya scanning terus menerus ini membuat berbagai subsistem aktif dan saling bertukar informasi dan energi sehingga subsistem cenderung terjaga dalam kondisi pola kesadaran normal (terjaga/bangun). Dengan menarik energi perhatian/kesadaran dari tindakan memindai lingkungan subjek menarik sejumlah besar energi psikis dan menghentikan aktivitas pada sejumlah subsistem dan mengakibatkan proses loading dan patterning terganggu dan menjadi lemah.

Langkah ketiga, operator biasanya akan meminta subjek untuk tidak perlu memikirkan apa yang dikatakan oleh operator namun cukup hanya mendengar secara pasif dan mengijinkan apa yang diucapkan operator dengan mudah terjadi, dialami, dan dirasakan oleh subjek. Dalam kondisi kesadaran normal subjek cenderung akan terus berpikir, melakukan analisis atas apa yang ia dengar atau rasakan. Dengan meminta subjek untuk tidak berpikir dan pasrah menjalankan bimbingan operator maka hal ini mengakibatkan loading stabilization menjadi lemah sehingga subjek mudah dibimbing masuk ke kondisi hipnosis (ASC).

Langkah keempat, subjek biasa diminta untuk memusatkan perhatian pada satu objek tertentu, di samping suara operator, misalnya satu titik di tembok, cincin yang dipakai operator, api lilin, pendulum, hypnotic disc, dan sejenisnya. Pemusatan perhatian ini bertujuan untuk semakin mengurangi scanning pikiran terhadap lingkungan dengan tujuan seperti yang telah dijelaskan di atas.

Langkah kelima, operator umumnya akan mensugestikan subjek merasa semakin rileks, semakin mengatuk, mata terasa semakin berat. Sugesti ini membangkitkan berbagai memori yang berhubungan dengan kondisi mengantuk dan atau rileks dan ini membantu proses induksi karena mengantuk atau mata terasa berat berarti b-SoC mulai goyah. Sugesti ini berfungsi mengguncang kestabilan b-SoC.

Langkah keenam, dalam memberikan sugesti untuk rileks, operator mengatakan bahwa subjek akan mengalami atau masuk ke dalam kondisi yang mirip dengan tidur namun bukan seperti tidur yang biasa dialami di malam hari, subjek tetap sadar dan bisa mendengar suara operator. Sugesti ini adalah patterning force yang spesifik.

Sugesti yang mengatakan bahwa apa yang dialami subjek mirip dengan tidur bertujuan mengguncang kestabilan b-SoC. Operator tidak ingin subjek tertidur dan untuk itu ia memberikan patterning force untuk menghasilkan kondisi pasif yang mirip seperti kondisi tidur namun subjek tetap bisa mendengar suaranya.

Ketujuh, saat subjek sudah pasif dan rileks, operator selanjutnya memberikan sugesti yang berhubungan dengan otot tubuh. Operator biasanya mensugestikan otot-otot di seluruh tubuh subjek terasa berat dan semakin berat, semakin rileks.

Demikianlah selanjutnya hingga subjek berpindah dari kondisi kesadaran normal (b-SoC) dan masuk ke kondisi hipnosis yang dalam (ASC).
Contoh di atas adalah prosedur yang bersifat progresif. Artinya perpindahan dari b-SoC ke ASC berlangsung gradual. Lalu, bagaimana dengan teknik shock induction atau induksi dengan menggunakan kejutan pada sistem saraf?

Sebenarnya secara prinsip sama saja. Shock induction dilakukan dengan cara secara tiba-tiba, di luar dugaan subjek, operator melakukan kejutan pada sistem saraf subjek. Kejutan ini bisa dalam bentuk secara mendadak menarik lengan, tangan, atau tubuh subjek. Intinya adalah kondisi kesadaran normal (b-SoC) secara tiba-tiba, dengan cara yang sangat dahsyat diguncang, dengan disrupting force, sehingga menjadi kacau, dan setelah itu langsung diberikan satu sugesti “Tidur” yang merupakan patterning force.

Saat kejutan dilakukan maka RAS (reticular activating system) akan terbuka sekitar ½ sampai ¾ detik. Melalui celah yang sangat sempit inilah patterning force dimasukkan dengan nada yang tegas, pasti, dan bersifat sangat paternal dan subjek langsung masuk ke kondisi hipnosis (ASC) yang dalam. Namun bila kondisi ini tidak diperdalam atau dipertahankan, misalnya tidak dilakukan deepening, maka subjek dengan sendirinya akan keluar dari kondisi hipnosis (ASC).

Mengapa subjek bisa keluar sendiri? Karena proses stabilisasi lainnya, yang tidak terkena pengaruh guncangan shock induction, akan segera bekerja memulihkan dan mengembalikan kondisi kesadaran subjek ke kondisi sadar normal atau b-SoC.

Meditasi dan Kondisi Meditatif

Kita mengenal dua jenis meditasi. Pertama, Samatha Bhavana atau Meditasi Ketenangan, dan yang kedua adalah Vipassana Bhavana atau Meditasi Pandangan Terang. Bagaimana proses seseorang berpindah dari kondisi kesadaran normal dan masuk ke dalam kondisi meditatif?

Samatha Bhavana dilakukan dengan memusatkan perhatian pada objek tertentu. Objek ini bisa berupa objek eskternal, seperti satu titik, cahaya lilin, atau objek meditasi lain, dan bisa juga objek internal seperti napas, atau naik turunnya perut saat bernapas.

Sama seperti dalam induksi hipnosis, meditator diminta untuk mempertahankan fokusnya pada objek yang telah dipilih. Bila pikirannya beralih fokus atau memikirkan hal lain maka meditator membawa kembali pikirannya, dengan lembut, untuk kembali fokus pada objek meditasi dan terus berupaya mempertahankan fokus ini.

Membawa kembali, dengan lembut, pikiran yang lepas atau beralih fokus untuk bisa kembali fokus pada objek meditasi adalah hal yang penting. Jika meditator memaksa atau membawa kembali fokusnya dengan buru-buru atau melawan gangguan yang muncul, maka hal ini justru mengirim sejumlah besar energi perhatian atau kesadaran pada gangguan ini dan membuat energi tetap mengalir di dalam sistem. Hal ini justru semakin menstabilkan kondisi kesadaran normal dan meditator tidak bisa masuk ke kondisi meditatif yang diinginkan.

Pemusatan perhatian pada objek sangat membatasi ragam input yang masuk ke sistem, menghambat proses berpikir, mencegah pikiran melakukan scanning pada lingkungan, dan secara umum mengurangi energi perhatian/kesadaran dan mengurangi aktivitas dari berbagai subsistem yang mempertahankan kondisi kesadaran normal.

Saat meditator memusatkan perhatiannya pada satu objek, baik internal maupun eksternal, akan menghasilkan fenomena yang tidak lazim yang disebabkan oleh kelelahan pada reseptor. Namun fenomena ini justru harus diabaikan karena akan menjadi penghalang atau batu sandungan dalam proses meditasi.

Kebanyakan meditasi dilakukan dengan postur tubuh dalam posisi duduk tegak namun tetap nyaman, di mana tulang belakang, leher, dan kepala berada dalam satu garis lurus. Hanya dibutuhkan sedikit tenaga otot untuk mempertahankan posisi ini. Sama seperti posisi nyaman yang dialami oleh subjek hipnosis, postur tubuh yang nyaman dalam meditasi membuat berbagai reseptor kinestetik menjadi nonaktif dan mengakibatkan pudarnya citra tubuh.

Berbeda dengan proses masuk ke kondisi tidur, di mana seluruh tubuh sangat rileks dan tidak perlu ada upaya apapun untuk mempertahankan postur tubuh, dalam proses meditasi masih dibutuhkan sedikit energi otot untuk mempertahankan postur tubuh agar tetap tegak. Dengan demikian meditator, serileks apapun kondisinya, tidak akan masuk ke kondisi tidur. Bila sampai terjadi meditator tertidur maka ia tidak akan dapat mempertahankan posisi tubuhnya yang tegak dan akibatnya tubuhnya akan jatuh.

Saat meditator berhasil mencapai kondisi meditatif yang dalam (ASC) maka ia akan mengalami suatu kondisi yang disebut dengan “void”, “kosong”, “hening”. Dalam kondisi ini semua fungsi psikologis, untuk sementara waktu, menjadi tidak berfungsi. Tetap ada kesadaran namun tidak ada objek kesadaran.

Banyak orang telah mencoba bermeditasi mengikuti petunjuk atau langkah tertentu. Mereka bukannya berhasil mencapai kondisi kesadaran tertentu (ASC) yang diinginkan namun yang didapat adalah tubuh yang lelah, sakit punggung, dan kaki yang “kesemutan”.

Duduk tegak dengan psotur yang benar dan mencoba melakukan teknik meditasi tertentu memang akan mengguncang beberapa proses feedback yang menstabilkan kesadaran normal (b-SoC) anda. Namun jika proses lainnya masih aktif, misalnya pikiran yang terus aktif, maka tidak akan pernah terjadi pergeseran kesadaran dari b-SoC ke ASC.

Vipassana Bhavana atau Meditasi Pandangan Terang dilakukan dengan postur tubuh yang sama dengan Samatha Bhavana. Dengan demikian semua pengaruh postur dalam mengguncang b-SoC seperti yang terjadi dalam samatha bhavana juga terjadi dalam vipassan bhavana.

Bedanya adalah dalam vipassana bhavana meditator menyadari sepenuhnya sensasi, perasaan, bentuk pikiran yang muncul. Meditator hanya menyadari sepenuhnya, tidak menerima, tidak menolak, tidak menganalisa, tidak memberi komentar atau penilaian, dan tidak mengidentifikasi.

Nonidentifikasi ini mencegah energi perhatian/kesadaran terperangkap dalam proses otomatis dan habitual dalam mempertahankan kesadaran normal (b-SoC). Dengan demikian, sementara kesadaran tetap terjaga, aktivitas berbagai subsistem psikologis perlahan tapi pasti mulai berkurang dan pudar sampai satu titik di mana, secara tiba-tiba, terjadi pergeseran kesadaran masuk ke kondisi meditatif yang dalam, yang ditandai dengan meningkatnya persepsi dan deotomatisasi subsistem Input-Processing.

Proses berpindahnya kesadaran meditator dari kesadaran normal (b-SoC) ke kondisi meditatif (ASC) sama dengan proses yang terjadi pada subjek hipnosis. Bedanya adalah bila meditator melakukan prosesnya sendiri sedangkan subjek hipnosis dibantu oleh operator.

~ Adi W. Gunawan adalah Indonesia Leading Expert in Mind Technology yang telah menulis 15 buku best seller. Adi dapat dihubungi di www.quantum-hypnosis.com, www.adiwgunawan.com.

Telah di baca sebanyak: 542

Rumah Tangga Berantakan Karena PLR

Artikel ini saya tulis dengan keprihatinan mendalam terhadap kasus hipnoterapi yang menurut hemat saya masuk dalam kategori malpraktik yang berakibat sangat buruk terhadap klien. Besar harapan saya setelah membaca artikel ini kita semua bisa lebih hati-hati dan arif dalam bertindak, baik sebagai klien maupun hipnoterapis, agar kasus seperti ini tidak terulang lagi.

Beberapa bulan lalu saya mendapat cerita dari salah satu murid saya yang menangani seorang pria yang depresi akibat ditinggal oleh istrinya setelah sang istri, sebut saja Ani, menjalani sesi “hipnoterapi” dengan seorang hipnoterapis terkenal di Jakarta.

Minggu lalu saya mendapat cerita dari murid saya yang lain yang mengatakan bahwa seorang suami, sebut saja sebagai Anto, meninggalkan istrinya juga setelah menjalani sesi “hipnoterapi”. Setelah bertanya lebih dalam akhirnya diketahui bahwa hipnoterapis yang menangani kedua kasus ini adalah hipnoterapis yang sama dan menggunakan teknik terapi yang sama.

Saya sungguh prihatin dengan apa yang dilakukan hipnoterapis ini karena menurut hemat saya ini sudah masuk kategori malpraktik yang sangat fatal.

Cerita lengkapnya begini. Pada kasus pertama, Ani bertemu dengan hipnoterapis ini untuk menjalani Past Life Regression (PLR). Alasan Ani adalah ia ingin mengetahui siapa soulmate-nya di kehidupan lampau. Tanpa bertanya lebih mendalam, menggali lebih detil alasan dan tujuan klien meminta PLR, hipnoterapis ini langsung melakukannya.

Singkat cerita soulmate Ani di “kehidupan lampau” ternyata bukan suaminya yang sekarang, di kehidupan ini. Soulmate-nya adalah pria lain, yang kebetulan ia kenal. Setelah mengetahui siapa soulmate-nya akhirnya Ani memutuskan meninggalkan suaminya dan memilih “melanjutkan” hubungan asmaranya dengan soulmate-nya. Ck.. ck… ck.. ini sungguh tidak masuk akal dan merusak kehidupan rumah tangga. Suami Ani shock dan kaget karena tiba-tiba ditinggal istrinya akhirnya mengalami depresi.

Pada kasus kedua, ceritanya lebih seru lagi. Setelah menikahi seorang gadis di kota kecil, Anto memilih untuk merantau ke Jakarta untuk bekerja dan mengadu nasib. Baru beberapa bulan di Jakarta ternyata Anto tertarik pada wanita lain. Semakin lama Anto semakin erat hubungannya dengan WILnya dan mulai tidak lagi menghiraukan istrinya.

Selanjutnya Anto bersama dengan WILnya menemui hipnoterapis ini dan meminta untuk dilakukan PLR. Saat ditanya oleh si hipnoterapis apa tujuan dilakukan PLR mereka menjawab untuk mengetahui apakah di kehidupan lampau mereka punya hubungan khusus atau tidak.

Informasi apa yang didapat setelah dilakukan PLR pada Anto dan WILnya?

Luar biasa. Ternyata “benar”, Anto dan WILnya di kehidupan lampau adalah soulmate. Berdasar temuan yang sangat meyakinkan ini Anto selanjutnya menelpon istrinya dan menyampaikan bahwa ia tidak bisa putus hubungan dengan WILnya karena wanita yang menjadi WILnya adalah seseorang yang istimewa, soulmatenya dari kehidupan lampau. Dan sejak saat ini pula Anto tidak lagi pernah menghubungi istrinya.

Sampai saat ini status hubungan Anto dan istrinya tidak jelas. Apakah masih akan terus ataukah pisah.

Pembaca, apa yang dilakukan oleh hipnoterapis ini sungguh suatu tindakan yang tidak bertanggung jawab dan sangat merusak keutuhan keluarga dan rumah tangga.

Mari kita bahas satu per satu. Pada kasus pertama, dari mana si hipnoterapis tahu bahwa benar pria yang dijumpai Ani di “kehidupan lampaunya” benar-benar adalah soulmatenya. Bisa jadi rumah tangga Ani kurang harmonis, ada masalah, dan ini adalah alasan bagi Ani untuk meninggalkan suaminya.

Apakah si hipnoterapis benar-benar bisa menjamin apa yang Ani alami adalah benar-benar pengalaman PLR ataukah sekedar hasil rekayasa atau ciptaan pikiran sadar Ani? Bisa jadi Ani memang berniat meninggalkan suaminya, sudah punya PIL.

Kasus kedua lebih parah lagi. Dalam hal ini hipnoterapis tidak cermat, tidak hati-hati, tidak profesional, dan hanya bekerja berdasarkan orderan. Logika berpikirnya sederhana. Kalau dua orang lagi jatuh cinta maka emosi cinta ini akan mempengaruhi baik pikiran sadar maupun bawah sadarnya. Jika lagi jatuh cinta maka tanpa PLR pun mereka bisa yakin 1.000% kalau mereka ini adalah soulmate. Lalu, buat apa lagi dilakukan PLR?

PLR yang dilakukan oleh si hipoterapis ini justru digunakan oleh Anto dan WILnya untuk membenarkan perbuatan mereka dan dijadikan alasan yang kuat dan masuk akal bagi Anto untuk meninggalkan istrinya.

Murid saya pernah bertanya, “Pak Adi, jika misalnya Bapak yang menangani kasus seorang wanita yang bertemu soulmatenya di kehidupan lampau dan ternyata soulmate-nya ini bukan suaminya di kehidupan sekarang, apa yang akan Bapak lakukan?”

Yang pertama, saya harus menegaskan ulang bahwa saya dan semua alumni QHI tidak diperkenankan melakukan PLR berdasarkan pesanan. PLR yang terjadi, kalaupun ada, adalah yang terjadi secara spontan. Dan dari pengalaman profesional saya sebagai hipnoterapis, dari lebih dari 1.000 kasus terapi personal yang saya tangani, yang mengalami PLR spontan tidak lebih dari 12 (dua belas) kasus saja.

Nah, sekarang kembali ke pertanyaan murid saya. Apa yang akan saya lakukan?

Jawaban saya selalu sebagai berikut: Saya akan menaikkan perasaan cinta dan sayang klien pada soulmate-nya setingg-tingginya, dan setelah itu saya akan melakukan Ctrl-A, Ctrl-C, dan Ctrl-X perasaan cinta dan sayang klien pada soulmate-nya ini dan saya pindahkan semuanya ke suaminya yang sekarang. Sehingga klien akan menjadi sangat cinta dan sayang pada suaminya, yang sekarang, dan menjadi hambar dengan soulmate-nya. Case closed.

Mengapa tindakan ini yang pasti saya lakukan? Prinsip hidup saya menyatakan bahwa keutuhan rumah tangga harus dipertahankan dan ditingkatkan. Dengan demikian bila suatu rumah tangga ada masalah maka kita, hipnoterapis, dengan semua pengetahuan, pengalaman hidup, kebijaksanaan, dan teknik yang kita kuasai, harus membantu memulihkan kembali keutuhan rumah tangga ini. Tentu kami tidak bisa memaksa jika tidak ada komitmen dari kedua pihak, suami dan istri. Perpisahan orangtua selalu menimbulkan luka batin dalam diri anak-anaknya dan ini perlu dicegah.

Menurut hemat saya cerita tentang soulmate dari kehidupan lampau adalah alasan yang dicari-cari agar seseorang bisa melepas tanggung jawab untuk komit membina rumah tangga dan membahagiakan pasangannya.

Apakah benar kita bisa melakukan “transfer” perasaan? Bisa dan mudah. Semua hanya permainan pikiran. Tinggal teknik apa yang kita gunakan dan bagaimana caranya kita melakukannya.

Dari hasil diskusi dengan rekan sejawat saya, para hipnoterapis QHI, kami memutuskan untuk lebih berhati-hati menangani kasus rumah tangga atau perselingkuhan. Bila ada klien yang meminta kami untuk menghilangkan perasaan sayang, kasihan, atau cinta pada PIL atau WIL-nya, karena klien sekarang sadar dan sudah mau kembali ke pasangannya yang sah, maka kami pasti akan meminta klien untuk menunjukkan KTP, Surat Nikah, dan KSK.

Mengapa demikian? Bisa jadi klien berbohong. Yang ia katakan PIL atau WIL bisa jadi adalah pasangannya yang sah. Klien ingin menghilangkan perasaan cinta atau sayang terhadap pasangannya karena ia ingin hidup bersama selingkuhannya. Kalau ini yang terjadi maka kita hipnoterapis juga ikut andil dalam rusaknya rumah tangga klien.

Dengan teknik tertentu kami bisa menetralisir atau memunculkan perasaan tertentu, baik yang positif maupun yang negatif, dalam diri klien.

Kembali pada dua kasus di atas. Saran dan himbauan saya pada para pembaca semua agar lebih berhati-hati saat memilih hipnoterapis.

Pastikan hipnoterapisnya adalah yang kompeten, bertanggung jawab, berpengalaman, dan yang terutama melakukan hipnoterapi dengan kesadaran dan integritas yang tinggi yang ditujukan untuk kebaikan klien.

Selain itu, jangan ke hipnoterapis dan meminta untuk dilakukan PLR. Mengapa? Karena PLR yang anda alami belum tentu PLR yang sesungguhnya. PLR yang dilakukan oleh hipnoterapis umumnya bersifat leading, mengarahkan pikiran anda dengan memberikan perintah atau sugesti tertentu. Jadi, anda bukannya sungguh-sungguh mundur ke kehidupan lampau anda, bila benar ada past life, tapi anda mencipta kehidupan lampau di pikiran anda berdasar ekspektasi anda dan bimbingan hipnoterapis. Dengan demikian anda mengalami false memory. Ini sangat berbahaya dan merugikan diri anda sendiri.

~ Adi W. Gunawan adalah Indonesia Leading Expert in Mind Technology yang telah menulis 15 buku best seller. Adi dapat dihubungi di www.quantum-hypnosis.com, www.adiwgunawan.com.

Telah di baca sebanyak: 1537

Next Page »

Top