Meretas Belenggu “Hypnotizability”
November 1, 2011 by admin
Filed under Adi W Gunawan, Kolomnis
“Pak Adi, nama saya Agus. Saya punya masalah dengan diri saya. Sudah satu bulan ini saya mengalami kecemasan yang datangnya tiba-tiba. Kalau malam tidur sebentar-sebentar terbangun.. sudah terapi ke psikiater dan dapat obat yang diminum tiap malam. Keceriaan saya hilang dan sering keluar keringat dingin. Saya sudah coba hipnoterapi tapi saya tidak bisa dihipnosis. Hal ini justru menambah kecemasan saya karena terbayang saya tidak bisa sembuh. Apakah ada saran dari Bapak mengenai hal ini?”
Demikianlah email dari seorang rekan yang saya terima beberapa hari lalu. Penasaran dengan apa yang terjadi dengannya, khususnya dalam konteks hipnoterapi saya membalas emailnya berikut ini, “Siapa yang menerapi Pak Agus? Apa yang ia lakukan dan sudah berapa sesi?”
Jawabnya, “Saya sudah coba tiga terapis yang berbeda di kota saya. Ketiganya gagal menghipnosis saya, dan setelah saya tanya ternyata katanya memang ada 10% dari manusia masuk kategori tidak bisa dihipnosis. Hal ini membuat saya menjadi kecewa dan akhirnya yang saya terima adalah terapi sugesti yang menyugesti diri saya untuk bisa menghilangkan perasaan dalam pikiran saya. Sampai saat ini masih ada perasaan mengganjal dalam hati saya dan tidak tahu apa itu.”
Ini sungguh berita menarik yang layak untuk dibahas. Apakah benar klien ini tidak bisa dihipnosis? Apakah benar ada 10% manusia yang masuk kategori tidak bisa dihipnosis?
Sebelum saya teruskan mari kita bahas dulu arti kata hypnotizability yang menjadi judul artikel ini. Hypnotizability terdiri atas dua kata yaitu hypnosis dan succesptibility yang artinya kemampuan untuk mengalami kondisi hipnosis atau hypnotic trance, biasanya dengan cara self-hypnosis atau dengan bantuan orang lain sebagai operator (hipnoterapis).
Lalu, apakah definisi hipnosis?
Ada sangat banyak definisi yang dikemukakan oleh para pakar. Saat ini definisi yang paling banyak dipakai dan diterima dalam dunia hipnoterapi adalah definisi yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Amerika yaitu hipnosis adalah penembusan faktor kritis dari pikiran sadar dan diikuti dengan diterimanya suatu sugesti atau pemikiran tertentu.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi dan menentukan kemampuan seseorang untuk mengalami kondisi hipnosis. Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi atau dilakukan oleh hipnoterapis yang menangani Pak Agus. Saya akan memberikan uraian agar kita sama-sama dapat lebih memahami hipnotizability.
Saya juga beberapa kali menjumpai klien yang mengatakan bahwa ia telah pergi ke beberapa hipnoterapis dan tidak ada satupun yang berhasil menghipnosis dirinya. Dari banyak kasus yang saya temukan “ketidakberhasilan dihipnosis atau menghipnosis” sebenarnya hanya ada dua kemungkinan.
Kemungkian pertama ada pada diri klien. Klien sebenarnya tidak mengerti apa itu kondisi hipnosis. Klien punya persepsi yang salah mengenai kondisi hipnosis. Umumnya klien berpikir bahwa kondisi hipnosis sama seperti yang ia lihat di televisi yaitu subjek “dihipnosis” dan langsung menjadi “tidak sadar”. Berpegang pada pemahaman ini saat klien dihipnosis ia berharap mengalami yang seperti di televisi. Saat ia tetap sadar, tetap bisa mendengar, tetap bisa berpikir maka ia merasa hipnoterapisnya tidak cakap sehingga tidak bisa menghipnosis dirinya.
Pernah juga saya bertemu dengan klien yang mengatakan bahwa kondisi hipnosis itu sama dengan tidur, badannya lemas atau rileks. Ini juga pemahaman yang salah. Hipnosis bukanlah rileksasi fisik. Hipnosis adalah rileksasi pikiran. Jadi, walaupun badannya tidak rileks, asalkan pikirannya sudah rileks, maka klien sudah berada dalam kondisi hipnosis.
Bila ini yang dialami klien maka dapat disimpulkan terapis tidak melakukan edukasi yang cukup pada klien. Solusinya adalah terapis perlu menjelaskan dengan detil apa itu kondisi hipnosis sebelum melakukan induksi atau terapi.
Ada juga klien yang tetap bersikeras pada pemahamannya yang salah mengenai kondisi hipnosis. Saya pernah mengalami hal ini. Klien sudah saya jelaskan dengan sangat detil apa itu kondisi hipnosis, apa yang akan ia alami atau rasakan, bahwa ia tetap sadar, bisa berpikir, mendengar, dan menjawab semua pertanyaan saya, namun klien memilih tetap berpegang teguh pada pemahamannya yang salah. Nah, kalau sudah begini terpaksa terapi tidak bisa dilanjutkan.
Alasan lain klien tidak bisa dihipnosis adalah karena takut. Takutnya bisa macam-macam. Namun umumnya semua ini karena persepsi atau informasi yang salah atau kurang pas yang klien dapatkan selama ini mengenai hipnosis atau hipnoterapis.
Perasaan takut yang umum dialami klien adalah hipnosis menggunakan kuasa gelap, hipnosis melanggar kehendak bebas seseorang karena pikiran klien dikuasai oleh hipnoterapis, takut rahasianya terbongkar, takut tidak bisa keluar dari kondisi hipnosis, tidak nyaman berdua dalam satu ruangan dengan terapis yang baru ia kenal, klien tidak percaya pada kemampuan dan atau integritas terapis, takut dipermainkan seperti yang ia lihat di tv, takut sembuh (secondary gain), dan masih banyak takut lainnya.
Bisa juga klien secara bawah sadar menolak menjalani terapi karena ia datang bukan atas kesadarannya sendiri namun atas dorongan, rayuan, bujukan, paksaan, atau bahkan ancaman orang lain. Kalau ini yang terjadi maka ia sangat sulit atau tidak bisa masuk ke kondisi hipnosis.
Secara umum saat seseorang dalam kondisi hipnosis maka akan muncul fenomena tertentu pada fisik dan atau pikirannya. Fenomena yang terjadi di fisik antara lain REM (Rapid Eye Movement) atau gerakan bola mata ke kiri/kanan, menelan ludah, wajah pucat, napas melambat, detak jantung melambat, tubuh terasa hangat, produksi air mata (lakrimasi) meningkat, dan bagian putih mata menjadi merah. Sedangkan yang terjadi pada pikirannya antara lain ammnesia, analgesia, anestesi, halusinasi (visual,auditori,kinestetik), munculnya Ego Personallity (Ego State, Part, Introject, dan Alter), regresi, revivifikasi, katarsis atau abreaksi, dan distorsi waktu.
Sekarang saya akan bahas kemungkinan kedua yaitu hipnoterapis. Bila membaca informasi di atas yang berbunyi, “………ternyata katanya memang ada 10% dari manusia masuk kategori tidak bisa dihipnosis….” dapat disimpulkan bahwa hipnoterapis yang menerapi Pak Agus mengacu pada SHSS atau Standford Hypnotic Susceptibility Scale yang merupakan hasil riset Weitzenhoffer dan Ernest Hilgard. Sebenarnya SHSS ada tiga macam yaitu Forms A, B, dan C atau SHSS: A, SHSS: B, dan SHSS:C.
SHSS menyatakan bahwa manusia terbagi menjadi tiga kategori yaitu 10% sangat mudah dihipnosis, 85% moderat, dan 5% yang sangat sulit dihipnosis. Ini adalah informasi yang banyak dijadikan pegangan oleh hipnoterapis, baik yang di luar negeri maupun di Indonesia. Setiap kali klien tidak bisa masuk kondisi hipnosis atau tidak bisa dihipnosis maka terapis akan menggunakan dalih kliennya masuk kategori yang 5%.
Jika mengacu pada SHSS maka yang dikatakan oleh terapis ini benar. Bukankah SHSS menyatakan ada 5% populasi yang sangat sulit dihipnosis? Nah, bisa saja si klien masuk kategori ini.
Pakar lain menyatakan bahwa hipnotizability dipengaruhi oleh tipe sugestibilitas. Manusia terbagi menjadi dua tipe yaitu yang physically suggestible dan emotionally suggestible. Yang mudah dihipnosis adalah yang tipe pertama. Sedangkan tipe kedua adalah yang bersifat analitikal dan sulit untuk dihipnosis. Di dalam emotional suggestibility ada sub-tipe lagi yang dikenal dengan tipe intellectual. Ini adalah tipe yang sangat-sangat kritis atau analitikal sehingga sangat sulit untuk dihipnosis.
Pertanyaan yang sangat menggelitik saya dulu waktu baru belajar hipnosis dan hipnoterapi adalah apakah SHSS ini benar-benar valid dan bersifat absolut? Artinya, ini sudah harga mati?
Ernest Hilgard adalah tokoh hipnoterapi dan peneliti yang sangat saya hormati. Saya tidak dapat posisi mengatakan bahwa hasil riset Beliau tidak valid. Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa beberapa pakar lain punya pandangan berbeda mengenai hipnotizability.
Setidaknya ada dua pakar yang juga sangat saya hormati menyatakan bahwa sebenarnya semua orang bisa masuk kondisi hipnosis. Kedua pakar ini berbeda pendapat dengan Hilgard dengan alasan bahwa semua riset yang dilakukan Hilgard menggunakan relawan mahasiswa (volunteer) sebagai subjek penelitian dalam setting laboratorium. Data yang digunakan bukan berasal dari klien yang datang ke terapis untuk menjalani hipnoterapi. Jadi, kesimpulannya Hilgard melakukan riset tidak dalam konteks hipnoterapi klinis.
Jadi, sebaiknya saya mengikuti pendapat siapa?
Seiring waktu berjalan, dengan jam terbang dan pengalaman yang semakin banyak, belajar langsung ke berbagai pakar terkenal di luar negeri, membaca lebih banyak buku dan jurnal, saya sampai pada satu kesimpulan yang mengubah paradigma saya. Sekarang saya yakin seyakin-yakinnya, dan ini didukung bukti empiris, bahwa semua orang (100%) bisa masuk ke kondisi hipnosis asalkan ia bersedia dan mengijinkannya. Dan ini sama sekali tidak membutuhkan terapis yang cakap. Intinya, asalkan klien bersedia dan mengijinkannya maka ia pasti bisa masuk ke kondisi hipnosis, tanpa terapis perlu melakukan apapun. Lebih spesifik lagi yang sangat mempengaruhi hipnotizability hanya tiga yaitu motivasi, keyakinan, dan ekspektasi.
Bila anda ingin mendalami riset hipnotizability maka ada banyak studi mengenai level dan kemampuan mencapai kondisi kedalaman hipnosis yang disusun menjadi skala tertentu. Yang cukup terkenal adalah skala yang disusun oleh Liebault (1892), Bernheim (1895), White (1930), Davis dan Husband (1931), Shore dan Orne (1962), dan LeCron-Bordeaux (1949).
Berangkat dari keyakinan bahwa setiap orang bisa masuk ke kondisi hipnosis bila ada motivasi, keyakinan, dan ekspektasi, tanpa dipengaruhi apakah ia masuk kategori yang mana menurut SHSS atau apakah ia tipe physically atau emotionally suggestible, maka saya mengembangkan teknik induksi yang bersifat universal, cocok untuk tipe klien apa saja, dan mampu membantu klien agar punya motivasi, keyakinan, dan ekspektasi yang kuat untuk bisa masuk ke kondisi hipnosis dengan cepat, mudah, dan pasti.
Dengan menggabungkan berbagai pengetahuan yang didapat dari guru-guru saya seperti Anna Wise, Tom Silver, dan Sean Adam, saya mengembangkan teknik induksi dengan menggunakan prinsip psycho-somatic dan somato-psychic yang secara klinis terbukti mampu membawa klien tipe apa saja masuk ke kondisi profound somnambulism atau lebih dalam lagi dengan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi.
Sejak tahun 2008 saya sudah tidak lagi pernah menggunakan SHSS sebagai acuan. Saya menggunakan skala Davis & Husband yang terdiri atas 30 kedalaman trance. Dan seiring waktu berjalan, dari hasil riset dan temuan kami (QHI) pada bulan September 2010 saya menyusun skala sendiri yang diberi nama QHI Hypnotic Depth Scale yang terdiri dari 40 level. Dengan menggunakan skala ini kini kami dapat dengan jelas mengetahui kedalaman trance yang telah dicapai oleh subjek atau klien. QHI Hypnotic Depth Scale selain terdiri dari level kedalaman trance juga secara detil menjelaskan berbagai fenomena yang bisa muncul atau dialami oleh klien baik secara fisik maupun mental.
Jadi, kalau saya boleh memberikan saran pada rekan-rekan sejawat saya, sesama hipnoterapis, hati-hati dengan hal yang kita pelajari atau yakini benar. Pemikiran pakar yang kita pelajari akan membentuk perspesi, yang selanjutnya mempengaruhi kinerja kita. Tidak ada benar atau salah dalam hal ini. Yang ada adalah akibat atau hasil yang akan kita dapat.
Telah di baca sebanyak: 66Direct vs Indirect Suggestion
September 19, 2011 by admin
Filed under Adi W Gunawan, Artikel Terbaru
Dalam dunia hipnosis dan hipnoterapi kita mengenal dua jenis sugesti yaitu yang bersifat langsung (direct) dan yang bersifat tidak langsung (indirect). Ada banyak artikel yang telah ditulis oleh para pakar hipnoterapi mengenai kedua jenis sugesti ini. Ada yang sangat menekankan pentingnya direct suggestion dan ada pula yang menyatakan bahwa indirect suggestion jauh lebih andal dan efektif. Mana yang benar? Masing-masing dengan argumentasi yang juga sama kuat dan meyakinkan.
Artikel ini tidak bertujuan untuk memihak pada salah satu pandangan namun lebih bertujuan menjelaskan sugesti dari perspektif teori dan cara kerja pikiran sehingga praktisi hipnoterapi mengerti cara menggunakan sugesti dengan benar sesuai dengan kondisi, situasi, dan kebutuhan klien.
Dalam dunia hipnoterapi terdapat dua aliran atau mazhab yaitu yang berasal dari pantai timur (east coast) dan pantai barat (west coast) Amerika. Kedua mazhab ini berbeda dalam penekanan teknik terapi yang digunakan.
Mazhab pantai timur lebih menekankan penggunakan sugesti dalam melakukan terapi (suggestive hypnotherapy). Sedangkan mazhab pantai barat menggunakan hypnoanalysis procedure yang melibatkan banyak teknik yang lebih kompleks.
Indirect suggestion adalah sugesti yang umumnya diberikan pada klien dalam kondisi sadar normal atau light trance. Indirect suggestion menjadi sangat populer berkat teknik yang digunakan Milton H. Erickson dalam menangani berbagai kliennya. Teknik ini selanjutnya dikembangkan oleh Richard Bandler, John Grinder, Jay Halley, dan Ernest Rossi.
Menurut Bandler dan Grinder direct suggestion lebih ditujukan untuk pikiran sadar. Contohnya: “Tutup mata anda” (ini adalah bentuk perintah langsung), “Anda dapat menutup mata anda sekarang” (ini adalah bentuk sugesti positif), “Anda tidak bisa menutup mata anda, bukan?” (modal operator;negative inquiry). Setiap kalimat mempunyai struktur yang berbeda namun dengan tujuan akhir yang sama yaitu meminta klien menutup mata.
Salah satu kelemahan penggunaan direct suggestion yaitu dapat menimbulkan atau meningkatkan resistensi klien terhadap sugesti yang diberikan.
Ada banyak faktor yang menimbulkan resistensi dalam diri klien, antara lain:
1.Klien datang ke terapis bukan atas keinginannya sendiri.
2.Klien (merasa) punya otoritas lebih tinggi dibanding terapis.
3.Klien tidak percaya sama terapis.
4.Klien tidak suka dengan terapis.
5.Klien merasa malu atau kurang nyaman.
6.Klien punya persepsi yang salah mengenai hipnosis / hipnoterapi.
7.Klien mendapat keuntungan dengan masalah yang ia alami (secondary gain)
Indirect suggestion digunakan dengan alasan utama yaitu untuk menghindari dan atau mengatasi resistensi. Misalnya, untuk meminta klien menutup mata, bukannya langsung memberikan perintah, “Tutup mata anda”, hipnoterapis menyusun kalimat sugestinya menjadi, “Klien yang baik memulai proses terapi dengan menarik napas panjang dan dalam beberapa kali dan selanjutnya merilekskan dan menutup mata mereka (generalisasi)”, atau “Mata anda sudah menjalankan tugasnya dengan baik hingga saat ini. Apakah anda tidak merasa mata anda lelah karena terus bekerja? Berilah waktu mata anda istirahat sebentar”. Setiap kalimat mempunyai struktur yang berbeda namun dengan tujuan akhir yang sama yaitu meminta klien menutup mata.
Berikut adalah contoh kalimat yang digunakan hipnoterapis untuk mengarahkan klien menutup mata dan memulai proses relaksasi yang dalam, menggunakan direct suggestion, “Anda mulai merasa kelopak mata anda menjadi berat dan semakin berat dan anda tidak bisa menahan untuk menutup mata. Anda masuk ke dalam kondisi rileksasi yang semakin dalam sambil tetap duduk dalam posisi tubuh tegak dan nyaman dan tetap mampu mendengar suara saya…..”
Kalimat yang sama bila disusun dalam bentuk indirect suggestion akan menjadi, “Jika anda menginginkan dan mengijinkan, anda dapat membayangkan diri anda merasa nyaman…sangat nyaman sehingga merasa mengantuk sambil anda terus mendengar suara saya… mengijinkan mata anda untuk tetap terbuka sambil anda masuk dalam kondisi tidur yang dalam… atau mengijinkan diri anda untuk secara lembut menutup mata anda”
Indirect suggestion tampak lebih lembut dan tidak terlalu bersifat memerintah. Dengan demikian klien merasa lebih punya kendali atas apa yang akan terjadi.
Indirect suggestion selain bisa berupa kalimat sugesti singkat seperti contoh di atas juga bisa menggunakan metafora dengan tujuan mengarahkan pikiran klien untuk mendapatkan solusi atas suatu masalah.
Berikut adalah contoh penggunaan metafora. Misalnya ada klien yang mengalami ejakulasi dini. Metafora yang dapat digunakan adalah metafora menikmati makanan. Dalam metafora ini klien diminta dengan sengaja makan dengan perlahan, menikmati setiap suap makanan, setiap jenis makanan, sungguh-sungguh memperhatikan, merasakan, dan menikmati aroma dan rasa makanan yang ia makan.
Hal ini tentunya sangat berbeda dengan penggunaan direct suggestion yang mungkin dapat membuat klien merasa risih atau malu. Melalui metafora ini pikiran klien selanjutnya dapat menyimpulkan apa yang perlu dilakukan dan dengan demikian membantu klien mengatasi masalahnya sendiri sambil menghindari perasaan malu atau tidak nyaman.
Dalam berbagai artikel mengenai indirect suggestion yang pernah saya baca umumnya lebih menekankan atau merujuk pada semantik/pilihan kata dan struktur bahasa sebagai kunci keberhasilan sugesti. Untuk bisa melakukan, lebih tepatnya, menyusun indirect suggestion yang powerful, maka seorang hipnoterapis dituntut untuk mempunyai kemampuan linguistik yang tinggi.
Bagaimana cara kerja indirect suggestion sehingga mampu mempengaruhi seseorang dan memberikan perubahan positif seperti yang diharapkan?
Ada banyak faktor penting lainnya yang juga sangat menentukan kekuatan pengaruh indirect suggestion selain pilihan kata dan struktur bahasa. Faktor ini juga sangat mempengaruhi kekuatan direct suggestion dan justru jauh lebih penting dari sugesti itu sendiri.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Abraham Mehrebian (1968) dan Bob Birdwhistel (1970) mengenai efek dan pengaruh komunikasi tatap muka sampai pada simpulan yang kurang lebih sama. Temuan mereka menyatakan bahwa efektivitas komunikasi dipengaruhi oleh tiga hal yaitu:
1.Verbal (pilihan kata) = 7%
2.Intonasi = 38%
3.Bahasa Tubuh = 55%
Dalam riset ini tampak jelas bahwa dalam berkomunikasi dengan orang lain pengaruh kata-kata (semantik dan tentunya termasuk struktur bahasa) hanya 7%, intonasi suara memberi pengaruh 38%, dan pengaruh terbesar adalah bahasa tubuh, yaitu sebesar 55%. Dari hasil penelitian ini tampak jelas bahwa mayoritas komunikasi dilakukan secara nonverbal. Dengan demikian bila kita berkomunikasi dengan orang lain, untuk bisa memberikan pengaruh maksimal, maka kita harus mengucapkan kata-kata dengan intonasi suara yang tepat dan bahasa tubuh yang kongruen mendukung. Hal ini akan memberikan pengaruh signifikan hingga 93%.
Dalam konteks terapi, yang masuk dalam kategori komunikasi nonverbal, elaborasi dari aspek intonasi dan bahasa tubuh, adalah ekspresi wajah, tonalitas dan volume suara, gesture, timing, kontak mata, kontak fisik seperti jabat tangan, usia, penampilan fisik termasuk kondisi kesehatan atau level energi, pakaian, aksesoris, kondisi mood dan ekspektasi baik dari klien maupun dari terapis.
Selanjutnya direct atau indirect sugggestion, secara tidak langsung namun cukup signifikan, juga dipengaruhi oleh warna, kebersihan, temperatur, aroma, kondisi dan kualitas gedung klinik atau ruang terapi, ruang terima tamu, fasilitas gedung, fungsi, style, kualitas mebel yang digunakan, dan noise level saat sugesti diberikan.
Mehrebian dan Birdwhistel bukan pakar hipnosis atau hipnoterapis. Dengan demikian riset mereka dilakukan dengan melihat interaksi komunikasi dalam kondisi pikiran sadar.
Untuk bisa mengerti cara kerja direct/indirect suggestion maka kita perlu mengerti cara kerja pikiran. Saya tidak akan membahas terlalu detil mengenai mekanisme pikiran karena sudah banyak saya bahas di artikel saya lainnya.
Manusia mempunyai tiga jenis pikiran: pikiran sadar (conscious mind), pikiran bawah sadar (subconscious mind), dan pikiran nirsadar (unconscious mind). Untuk bisa melakukan perubahan maka sugesti yang hipnoterapis berikan pada klien harus bisa masuk, diterima, dimengerti, dan dilaksanakan sepenuhnya oleh pikiran bawah sadar klien.
Proses perjalanan sugesti masuk ke pikiran bawah sadar tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Ada proses dan tahapan yang harus dilalui. Pertama, sugesti ini akan masuk ke pikiran sadar. Selanjutnya sugesti harus melewati critical factor yang berperan sebagai penjaga pintu yang menghubungkan pikiran sadar dan bawah sadar. Bila sugesti berhasil menembus dan melewati critical factor maka sugesti ini akan masuk ke pikiran bawah sadar.
Kendala yang umumnya dihadapi hipnoterapis adalah sulitnya menembus critical factor karena sugesti lebih sering diberikan dalam kondisi sadar normal atau light trance. Dalam kondisi ini pikiran sadar masih sangat aktif dan critical factor bekerja dengan kekuatan penuh.
Critical factor terdiri atas dua bagian. Sebagian berada di wilayah pikiran sadar dan sebagian lagi di wilayah pikiran bawah sadar.
Tugas critical factor yang berada di wilayah pikiran sadar adalah untuk memastikan informasi (baca: sugesti) yang akan masuk ke pikiran bawah sadar bersifat konsisten dengan data yang telah ada di pikiran bawah sadar. Bila data yang akan masuk ternyata berbeda maka dengan serta merta data baru ini akan ditolak. Hal ini bertujuan untuk melindungi keutuhan dan konsistensi keabsahan data di pikiran bawah sadar, yang sebenarnya akhirnya juga demi kepentingan dan kebaikan klien.
Sedangkan tugas critical factor yang berada di wilayah pikiran bawah sadar adalah untuk memastikan empat hal. Pertama, sugesti yang diterima bila dilaksanakan tidak akan berakibat negatif bagi keselamatan (hidup) klien. Kedua, sugesti ini bila dilaksanakan tidak melanggar nilai moral dan agama yang diyakini oleh klien. Ketiga, sugesti ini benar menurut data yang telah tersimpan di pikiran bawah sadar. Dan keempat, sugesti ini masuk akal (klien).
Indirect suggestion bertujuan untuk mengatasi resistensi dengan cara mengecoh, membingungkan, menyibukkan, atau membuat lengah pikiran sadar, dengan memikirkan “makna” dari sugesti yang diberikan, sehingga critical factor dapat ditembus dan sugesti bisa masuk ke pikiran bawah sadar.
Apakah ada cara lain untuk menembus critical factor selain dengan cara yang digunakan dalam indirect suggestion?
Selain cara di atas dalam dunia hipnoterapi dikenal lima cara untuk menembus critical factor yaitu dengan menggunakan otoritas, emosi, repetisi, identifikasi, dan relaksasi pikiran (kondisi hipnosis).
Berbeda dengan indirect suggestion yang telah dijelaskan di atas direct suggestion, sesuai namanya, adalah sugesti yang bersifat langsung, apa adanya, tanpa basa basi. Jika hipnoterapis ingin klien menutup mata maka ia akan berkata, atau lebih tepatnya memberi perintah kepada klien, “Tutup mata anda.”
Agar direct suggestion menjadi lebih efektif maka hipnoterapis perlu benar-benar memperhatikan resistensi. Sedapat mungkin resistensi klien diatasi sebelum sugesti diberikan. Untuk itu, hipnoterapis yang benar-benar cakap dan berpengalaman, akan menggunakan sebanyak mungkin cara untuk menembus critical factor.
Hipnoterapis harus mampu membangun otoritas di mata klien. Semakin tinggi otoritas hipnoterapis menurut persepsi klien akan semakin baik. Selanjutnya hipnoterapis menggunakan emosi klien untuk menyiapkan pikiran bawah sadar klien agar mendukung klien untuk berubah. Kalimat yang digunakan untuk sugesti sebaiknya juga melibatkan emosi klien, baik yang positif maupun yang negatif. Hipnoterapis bisa melakukan repetisi dalam membaca direct suggestion agar sugesti tertanam lebih kuat di pikiran bawah sadar. Hipnoterapis juga bisa membantu klien melakukan identifikasi kelompok. Dan terakhir semuanya akan menjadi sangat mudah dan jauh lebih efektif dan efisien bila dilakukan dalam kondisi relaksasi pikiran/hipnosis yang (sangat) dalam.
Mengapa jauh lebih efektif dan efisien bila dilakukan dalam kondisi relaksasi pikiran/hipnosis yang (sangat) dalam?
Sugesti Dalam Kondisi Hipnosis Yang Dalam
Sifat dan hukum pikiran yang berlaku saat seseorang berada dalam kondisi hipnosis yang dalam sangat berbeda dengan saat ia dalam kondisi sadar normal atau light trance.
Dalam kondisi relaksasi pikiran/hipnosis yang dalam pikiran sadar dan critical factor menjadi nonaktif. Dengan demikian sugesti yang diberikan tidak akan mendapat hambatan untuk bisa masuk ke pikiran bawah sadar.
Dari pengalaman saya menangani klien, saat dalam kondisi hipnosis yang dalam indirect suggestion atau metafora menjadi kurang efektif dan seringkali justru kontraproduktif.
Hukum pikiran menyatakan bahwa semakin dalam kondisi hipnosis maka sugesti harus semakin direct. Hal ini disebabkan karena pikiran bawah sadar seseorang sifatnya menyerupai anak berusia delapan tahun. Sudah tentu bila kita berkomunikasi dengan anak usia delapan tahun untuk mendapatkan hasil maksimal kita perlu menggunakan bahasa yang gamblang, jelas, dan langsung. Justru bila bahasa yang digunakan bersifat tidak langsung atau “berputar-putar” maka anak menjadi bingung.
Hal penting lainnya yang harus benar-benar diperhatikan hipnoterapis yaitu dalam kondisi hipnosis yang dalam yang berlaku adalah trance logic bukan conscious logic.
Jadi, mana yang lebih efektif? Direct atau indirect suggestion?
Ini bergantung pada situasi dan kondisi. Semua sama efektifnya bila hipnoterapis mampu menggunakannya dengan tepat dan bijak.
Hipnoterapi telah berkembang sangat pesat. Sugesti, baik yang direct atau indirect, hanyalah salah satu dari sekian banyak teknik yang ada dalam dunia hipnoterapi. Masih ada banyak teknik lain yang lebih kompleks dan lebih powerful. Dalam kurun waktu paruh ketiga dari abad ke 20, berbagai teori dan teknik yang digunakan dalam dunia hipnoterapi mendapat pengaruh dari pemikiran, insight, dan temuan dari LeCron, Watkins, Kroger, Elman, Weitzenhoffer, Cheeck, Boyne, Crasilneck, Wolpe, Wolberg, dan Hilgard.
Banyak teknik intervensi klinis yang digunakan hipnoterapis saat ini prosedurnya jauh lebih kompleks daripada sekedar memberikan sugesti.
Berikut adalah beberapa contoh teknik terapi yang dikembangkan oleh masing-masing pakar dan memberikan kontribusi dan pengaruh yang luar biasa bagi dunia hipnoteapi:
- 1940an Elman dengan hypnoanalisys
- 1950an beragam penggunaan metode ideomotor yang pertama kali dikembangkan oleh LeCron
- 1950an teknik desensitisasi yang dikembangkan oleh Wolpe
- 1960an strategi emotional clearing yang komprehensif, termasuk integrasi Gestalt dan modalitas lainnya ke dalam hipnoterapi yang dilakukan oleh Boyne.
Selain itu perkembangan teknik hipnoterapi juga mendapat pengaruh dari literatur penting seperti yang ditulis oleh Kroger, Clinical and Experimental Hypnosis (1963), dan Cheeck dan LeCron Clinical Hypnotherapy (1968), masing-masing menekankan pentingnya mencari, menemukan, dan memproses akar masalah yang mendasari suatu masalah dengan menggunakan teknik eksplorasi interaktif, regresi, intervensi berorientasi pemahaman baru dan kebijaksanaan.
Teknik hipnoterapi seperti age regression, Ideomotor Technique, Gestalt, Ego Personality Therapy, Inner Child Work, Forgiveness Therapy, dan teknik-teknik terapi berbasis NLP seperti Visual Squash, Swish Pattern, Fast Phobia Cure, Power Trigger, Reverse Trigger, Six Step Reframing, dan Collapsing Anchor semuanya bersifat direct.
~ Adi W. Gunawan adalah Indonesia Leading Expert in Mind Technology yang telah menulis 15 buku best seller. Adi dapat dihubungi di www.quantum-hypnosis.com, www.adiwgunawan.com.
Telah di baca sebanyak: 16Rumah Tangga Berantakan Karena PLR
January 3, 2011 by admin
Filed under Adi W Gunawan
Artikel ini saya tulis dengan keprihatinan mendalam terhadap kasus hipnoterapi yang menurut hemat saya masuk dalam kategori malpraktik yang berakibat sangat buruk terhadap klien. Besar harapan saya setelah membaca artikel ini kita semua bisa lebih hati-hati dan arif dalam bertindak, baik sebagai klien maupun hipnoterapis, agar kasus seperti ini tidak terulang lagi.
Beberapa bulan lalu saya mendapat cerita dari salah satu murid saya yang menangani seorang pria yang depresi akibat ditinggal oleh istrinya setelah sang istri, sebut saja Ani, menjalani sesi “hipnoterapi” dengan seorang hipnoterapis terkenal di Jakarta.
Minggu lalu saya mendapat cerita dari murid saya yang lain yang mengatakan bahwa seorang suami, sebut saja sebagai Anto, meninggalkan istrinya juga setelah menjalani sesi “hipnoterapi”. Setelah bertanya lebih dalam akhirnya diketahui bahwa hipnoterapis yang menangani kedua kasus ini adalah hipnoterapis yang sama dan menggunakan teknik terapi yang sama.
Saya sungguh prihatin dengan apa yang dilakukan hipnoterapis ini karena menurut hemat saya ini sudah masuk kategori malpraktik yang sangat fatal.
Cerita lengkapnya begini. Pada kasus pertama, Ani bertemu dengan hipnoterapis ini untuk menjalani Past Life Regression (PLR). Alasan Ani adalah ia ingin mengetahui siapa soulmate-nya di kehidupan lampau. Tanpa bertanya lebih mendalam, menggali lebih detil alasan dan tujuan klien meminta PLR, hipnoterapis ini langsung melakukannya.
Singkat cerita soulmate Ani di “kehidupan lampau” ternyata bukan suaminya yang sekarang, di kehidupan ini. Soulmate-nya adalah pria lain, yang kebetulan ia kenal. Setelah mengetahui siapa soulmate-nya akhirnya Ani memutuskan meninggalkan suaminya dan memilih “melanjutkan” hubungan asmaranya dengan soulmate-nya. Ck.. ck… ck.. ini sungguh tidak masuk akal dan merusak kehidupan rumah tangga. Suami Ani shock dan kaget karena tiba-tiba ditinggal istrinya akhirnya mengalami depresi.
Pada kasus kedua, ceritanya lebih seru lagi. Setelah menikahi seorang gadis di kota kecil, Anto memilih untuk merantau ke Jakarta untuk bekerja dan mengadu nasib. Baru beberapa bulan di Jakarta ternyata Anto tertarik pada wanita lain. Semakin lama Anto semakin erat hubungannya dengan WILnya dan mulai tidak lagi menghiraukan istrinya.
Selanjutnya Anto bersama dengan WILnya menemui hipnoterapis ini dan meminta untuk dilakukan PLR. Saat ditanya oleh si hipnoterapis apa tujuan dilakukan PLR mereka menjawab untuk mengetahui apakah di kehidupan lampau mereka punya hubungan khusus atau tidak.
Informasi apa yang didapat setelah dilakukan PLR pada Anto dan WILnya?
Luar biasa. Ternyata “benar”, Anto dan WILnya di kehidupan lampau adalah soulmate. Berdasar temuan yang sangat meyakinkan ini Anto selanjutnya menelpon istrinya dan menyampaikan bahwa ia tidak bisa putus hubungan dengan WILnya karena wanita yang menjadi WILnya adalah seseorang yang istimewa, soulmatenya dari kehidupan lampau. Dan sejak saat ini pula Anto tidak lagi pernah menghubungi istrinya.
Sampai saat ini status hubungan Anto dan istrinya tidak jelas. Apakah masih akan terus ataukah pisah.
Pembaca, apa yang dilakukan oleh hipnoterapis ini sungguh suatu tindakan yang tidak bertanggung jawab dan sangat merusak keutuhan keluarga dan rumah tangga.
Mari kita bahas satu per satu. Pada kasus pertama, dari mana si hipnoterapis tahu bahwa benar pria yang dijumpai Ani di “kehidupan lampaunya” benar-benar adalah soulmatenya. Bisa jadi rumah tangga Ani kurang harmonis, ada masalah, dan ini adalah alasan bagi Ani untuk meninggalkan suaminya.
Apakah si hipnoterapis benar-benar bisa menjamin apa yang Ani alami adalah benar-benar pengalaman PLR ataukah sekedar hasil rekayasa atau ciptaan pikiran sadar Ani? Bisa jadi Ani memang berniat meninggalkan suaminya, sudah punya PIL.
Kasus kedua lebih parah lagi. Dalam hal ini hipnoterapis tidak cermat, tidak hati-hati, tidak profesional, dan hanya bekerja berdasarkan orderan. Logika berpikirnya sederhana. Kalau dua orang lagi jatuh cinta maka emosi cinta ini akan mempengaruhi baik pikiran sadar maupun bawah sadarnya. Jika lagi jatuh cinta maka tanpa PLR pun mereka bisa yakin 1.000% kalau mereka ini adalah soulmate. Lalu, buat apa lagi dilakukan PLR?
PLR yang dilakukan oleh si hipoterapis ini justru digunakan oleh Anto dan WILnya untuk membenarkan perbuatan mereka dan dijadikan alasan yang kuat dan masuk akal bagi Anto untuk meninggalkan istrinya.
Murid saya pernah bertanya, “Pak Adi, jika misalnya Bapak yang menangani kasus seorang wanita yang bertemu soulmatenya di kehidupan lampau dan ternyata soulmate-nya ini bukan suaminya di kehidupan sekarang, apa yang akan Bapak lakukan?”
Yang pertama, saya harus menegaskan ulang bahwa saya dan semua alumni QHI tidak diperkenankan melakukan PLR berdasarkan pesanan. PLR yang terjadi, kalaupun ada, adalah yang terjadi secara spontan. Dan dari pengalaman profesional saya sebagai hipnoterapis, dari lebih dari 1.000 kasus terapi personal yang saya tangani, yang mengalami PLR spontan tidak lebih dari 12 (dua belas) kasus saja.
Nah, sekarang kembali ke pertanyaan murid saya. Apa yang akan saya lakukan?
Jawaban saya selalu sebagai berikut: Saya akan menaikkan perasaan cinta dan sayang klien pada soulmate-nya setingg-tingginya, dan setelah itu saya akan melakukan Ctrl-A, Ctrl-C, dan Ctrl-X perasaan cinta dan sayang klien pada soulmate-nya ini dan saya pindahkan semuanya ke suaminya yang sekarang. Sehingga klien akan menjadi sangat cinta dan sayang pada suaminya, yang sekarang, dan menjadi hambar dengan soulmate-nya. Case closed.
Mengapa tindakan ini yang pasti saya lakukan? Prinsip hidup saya menyatakan bahwa keutuhan rumah tangga harus dipertahankan dan ditingkatkan. Dengan demikian bila suatu rumah tangga ada masalah maka kita, hipnoterapis, dengan semua pengetahuan, pengalaman hidup, kebijaksanaan, dan teknik yang kita kuasai, harus membantu memulihkan kembali keutuhan rumah tangga ini. Tentu kami tidak bisa memaksa jika tidak ada komitmen dari kedua pihak, suami dan istri. Perpisahan orangtua selalu menimbulkan luka batin dalam diri anak-anaknya dan ini perlu dicegah.
Menurut hemat saya cerita tentang soulmate dari kehidupan lampau adalah alasan yang dicari-cari agar seseorang bisa melepas tanggung jawab untuk komit membina rumah tangga dan membahagiakan pasangannya.
Apakah benar kita bisa melakukan “transfer” perasaan? Bisa dan mudah. Semua hanya permainan pikiran. Tinggal teknik apa yang kita gunakan dan bagaimana caranya kita melakukannya.
Dari hasil diskusi dengan rekan sejawat saya, para hipnoterapis QHI, kami memutuskan untuk lebih berhati-hati menangani kasus rumah tangga atau perselingkuhan. Bila ada klien yang meminta kami untuk menghilangkan perasaan sayang, kasihan, atau cinta pada PIL atau WIL-nya, karena klien sekarang sadar dan sudah mau kembali ke pasangannya yang sah, maka kami pasti akan meminta klien untuk menunjukkan KTP, Surat Nikah, dan KSK.
Mengapa demikian? Bisa jadi klien berbohong. Yang ia katakan PIL atau WIL bisa jadi adalah pasangannya yang sah. Klien ingin menghilangkan perasaan cinta atau sayang terhadap pasangannya karena ia ingin hidup bersama selingkuhannya. Kalau ini yang terjadi maka kita hipnoterapis juga ikut andil dalam rusaknya rumah tangga klien.
Dengan teknik tertentu kami bisa menetralisir atau memunculkan perasaan tertentu, baik yang positif maupun yang negatif, dalam diri klien.
Kembali pada dua kasus di atas. Saran dan himbauan saya pada para pembaca semua agar lebih berhati-hati saat memilih hipnoterapis.
Pastikan hipnoterapisnya adalah yang kompeten, bertanggung jawab, berpengalaman, dan yang terutama melakukan hipnoterapi dengan kesadaran dan integritas yang tinggi yang ditujukan untuk kebaikan klien.
Selain itu, jangan ke hipnoterapis dan meminta untuk dilakukan PLR. Mengapa? Karena PLR yang anda alami belum tentu PLR yang sesungguhnya. PLR yang dilakukan oleh hipnoterapis umumnya bersifat leading, mengarahkan pikiran anda dengan memberikan perintah atau sugesti tertentu. Jadi, anda bukannya sungguh-sungguh mundur ke kehidupan lampau anda, bila benar ada past life, tapi anda mencipta kehidupan lampau di pikiran anda berdasar ekspektasi anda dan bimbingan hipnoterapis. Dengan demikian anda mengalami false memory. Ini sangat berbahaya dan merugikan diri anda sendiri.
~ Adi W. Gunawan adalah Indonesia Leading Expert in Mind Technology yang telah menulis 15 buku best seller. Adi dapat dihubungi di www.quantum-hypnosis.com, www.adiwgunawan.com.
Uji Sugestibilitas : Perlukah?
August 16, 2010 by admin
Filed under Adi W Gunawan
Salah satu peserta Indonesia Hypnosis Summit (IHS) 2010 mengirimi saya email dan bertanya, “….saat Bapak menjelaskan mengenai induksi, Bapak tidak bicara tentang uji sugestibilitas. Kita tahu bahwa sangat penting untuk bisa mengetahui tipe sugestibilitas klien agar dapat melakukan teknik induksi yang sesuai sehingga dapat membawa klien masuk ke kondisi deep trance sebelum melakukan terapi. Kemarin itu apakah memang tidak sempat dijelaskan ataukah Pak Adi merasa uji sugestibilitas tidak penting?”
Wah, peserta ini cukup jeli. Saya memang tidak menjelaskan mengenai uji sugestibilitas. Saya menjelaskan enam teknik dasar induksi dan pengelompokkan teknik induksi. Enam teknik dasar induksi adalah Eye Fixation, Relaxation of Nervous System, Mental Confusion, Mental Misdirection, Loss of Equilibrium, dan Shock to Nervous System.
Dari enam teknik dasar ini dikembangkan menjadi sangat banyak teknik induksi. Walaupun saat ini ada begitu banyak teknik induksi namun bila dicermati dengan sungguh-sungguh maka teknik induksi yang ada dapat dikategorikan menjadi empat kelompok: Progressive Relaxation (yang biasanya membutuhkan waktu 30 – 45 menit), Rapid Induction ( sekitar 4 menit), Instant Indcution (beberapa detik), dan Emotionally Induced Induction (induksi karena emosi yang dialami klien).
Nah, kembali ke pertanyaan yang menjadi judul artikel ini, “Uji Sugestibilitas : Perlukah?”
Jawabannya bergantung kebutuhan. Bila untuk melakukan stage hypnosis maka uji sugestibilitas harus dilakukan untuk bisa memilih atau menemukan subjek hipnosis yang mudah. Bisa anda bayangkan apa yang terjadi jika stage hypnotist tidak melakukan uji sugestibilitas dan langsung memilih subjek dari penonton. Akibatnya akan fatal karena subjek tidak akan bisa dihipnosis dengan cepat dan tidak akan ada pertunjukkan yang menarik.
Bagaimana dengan hipnoterapi? Apa perlu uji sugestibilitas?
Di tahun-tahun awal saya sebagai hipnoterapis saya memang sangat menekankan pentingnya uji sugestibilitas. Hal ini bertujuan agar saya dapat melakukan induksi dengan tepat sehingga klien bisa masuk ke kondisi deep trance.
Bila mengacu pada SHSS (Stanford Hypnotic Suceptibility Scale) yang dikembangkan oleh Ernest Hilgard maka manusia terbagi menjadi 85% yang moderat, 10% mudah, dan 5% sulit dihipnosis. SHSS ini banyak digunakan sebagai acuan oleh hipnoterapis hingga saat ini.
Dr. Kappas mengembangkan teori sugestibilitas yang menyatakan bahwa manusia terbagai menjadi dua kategori besar yaitu physical suggestibility (sugestibilitas yang bersifat fisik) dan emotional suggestibility (sugestibilitas yang bersifat emosi). Dari penelitian ditemukan bahwa 60% populasi bersifat emotionally suggestible dan 40% physically suggestible. Kelompok emotionally suggestible mempunyai sub kategori yang dinamakan intellectual suggestibility yang mewakili sekitar 5% populasi.
Pakar lain, Herbert Spiegel, mengembangkan teknik uji sugestibilitas, dengan menggunakan gerakan bola mata dan empat indikator lainnya, yang dikenal dengan Hypnotic Induction Profile (HIP). Selanjutnya Spiegel juga mengembangkan Spectrum of Hypnotizability and Personality Style dan mengelompokkan subjek ke dalam tipe Apollonian, Odyssean, dan Dionysian.
Ada pengalaman menarik saat seorang rekan menceritakan pengalamannya saat diinduksi oleh seorang hipnoterapis. Rekan ini, di depan kelas pelatihan, diinduksi berkali-kali dengan menggunakan bermacam teknik, tetap tidak bisa masuk ke kondisi hipnosis. Akhirnya hipnoterapis ini berkata, “Anda tidak bisa trance karena anda masuk kategori orang yang tidak bisa dihiposis.”
Saat mendengar cerita ini ada dua hal yang muncul di pikiran saya. Pertama, hipnoterapis ini mengacu pada HIP Spiegel, Regular Zero Profile, yang menyatakan bahwa orang dalam kategori ini tidak bisa dihiposis. Kedua, hipnoterapis ini mungkin gemas pada rekan saya ini karena telah dicoba dihipnosis berulang kali tapi tetap tidak berhasil sehingga untuk mudahnya ia mengatakan bahwa rekan saya ini masuk kategori orang yang tidak bisa dihipnosis.
Benarkah ada kategori orang yang tidak bisa dihipnosis?
Jawabannya bergantung pada teori apa atau pendapat pakar mana yang kita gunakan sebagai acuan. Di sini tidak ada jawaban benar atau salah. Yang ada adalah untuk setiap teori atau pendapat pakar mempunyai konsekuensi yang spesifik terhadap hasil induksi yang kita lakukan.
Dulu waktu saya pertama kali mendalami hipnoterapi saya sempat bingung saat membaca riset para pakar mengenai tipe sugestibilitas dan apa yang harus dilakukan untuk bisa melakukan induksi dengan benar yang bisa membawa klien masuk ke kondisi deep trance.
Di awal karir saya sebagai hipnoterapis saya sangat memperhatikan uji sugestibilitas. Biasanya sebelum menghipnosis klien saya akan meminta klien melakukan The Hand Drop Test, Arm Rising and Falling Test, Postural Sway, dan kadang bisa ditambah dengan The Pendulum Swing Test.
Dari pengalaman saya menemukan bahwa uji sugestibilitas di atas sebenarnya adalah untuk menemukan klien yang masuk kategori Physically Suggestible. Kalau klien sulit menjalankan tes, misalnya Arm Rising and Falling Test, maka saya tahu klien ini masuk kategori emotionally suggestible atau mungkin yang tipe intellectual.
Untuk klien yang “sulit” maka saya perlu menggunakan teknik induksi yang sesuai. Misalnya dengan teknik 7 plus minus 2, auto dual method, teknik hand rolling, dan teknk yang bersifat membingungkan pikiran.
Namun jujur saya merasa tidak nyaman dengan hal ini. Setiap kali mau melakukan terapi saya harus melakukan uji sugestibilitas. Dan yang membuat hal ini menjadi semakin sulit bagi saya adalah ada banyak klien yang telah ke hipnoterapis lain yang juga melakukan hal ini, uji sugestibilitas. Nah, klien datang ke saya karena merasa belum mengalami perubahan signifikan. Bisa dibayangkan apa yang terjadi bila saya melakukan, di awal sesi terapi, hal yang sama yang dilakukan terapis sebelumnya. Seringkali sejak awal terapi klien sudah menolak. Mereka berpikir, “Lho, ini kan yang dilakukan terapis sebelumnya. Saya tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Cara ini nggak mungkin berhasil.”
Berangkat dari pengalaman ini saya selanjutnya berpikir, “Apakah ada teknik induksi yang sederhana, yang bisa dilakukan pada semua klien tanpa perlu tahu tipe sugestibilitasnya? Apakah ada teknik yang sederhana, mudah dipelajari, mudah diaplikasikan, mudah diduplikasi, dan yang paling penting telah teruji sangat efektif untuk bisa membawa subjek tipe apapun masuk ke kondisi deep trance dengan cepat dan pasti?”
Saya mencari hampir 3 tahun. Dan akhirnya menemukannya. Teknik ini selanjutnya saya ujicobakan di ruang praktik saya dengan hasil yang sangat memuaskan. Seiring dengan perkembangan pemahaman mengenai cara kerja pikiran saya menyempurnakan teknik induksi ini sehingga menjadi jauh lebih efektif. Dan baru-baru ini, di kelas Quantum Hypnosis Indonesia angkatan 9 saya kembali menyempurnakan teknik ini dan hasilnya sungguh luar biasa.
Yang saya lakukan adalah saya menggabungkan teknik induksi asli dengan pengetahuan yang saya dapatkan dari hasil riset dengan menggunakan Mind Mirror IV dengan melihat langsung perubahan gelombang otak dan kedalaman trance saat induksi diberikan.
Sebelum penyempurnaan di QHI 9, dari pengalaman, teknik induksi ini terbukti mempunyai tingkat efektivitas antara 90% – 92,17% mampu membawa klien tipe apapun masuk ke kondisi profound somnambulism. Yang “gagal” diinduksi bukan berarti tidak masuk deep trance namun sering kali klien melampaui kondisi profound somnambulism dan masuk ke level Esdaile atau Hypnotic Coma. Untuk yang level ini tidak dihitung.
Penyempurnaan teknik induksi di QHI 9 ini mempunyai tingkat efektivitas yang sangat tinggi. Hasil uji sementara menghasilkan rata-rata 97,34%. Saya masih menunggu laporan lanjutan dari alumni QHI. Semua hipnoterapis QHI, termasuk saya pribadi hanya menggunakan teknik induksi ini di ruang praktik kami.
Jadi, menjawab pertanyaan di atas, uji sugestibilitas apakah perlu dilakukan atau tidak semuanya bergantung pada masing-masing individu. Sekali lagi ini bukan benar atau salah. Namun lebih pada teori yang digunakan.
* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pakar pendidikan dan mind technology dan neuro-feedback, pembicara publik, dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis empat belas best seller “Born to be a Genius”, “Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success”, “Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?”, “Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication”, “Becoming a Money Magnet”, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, dan “Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring”, “Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian”, “Kesalahan Fatal Dalam Mengejar Impian 2, dan “Five Principles to Turn Your Dreams Into Reality”, The Secret of Mindset, Quitters Can Win, dan Quantum Life Transformation. Adi dapat dihubungi melalui facebook: Adi W. Gunawan, email adi@adiwgunawan.com, www.adiwgunawan.com,www.quantum-hypnosis.com ,dan www.QLTI.com
Untuk saya pribadi dan semua alumni QHI, dalam konteks hipnoterapi, kami sama sekali tidak menggunakan uji sugestibilitas saat akan melakukan induksi.
Memahami Penyakit Psikosomatis
February 15, 2010 by admin
Filed under Adi W Gunawan

Baru-baru in saya mendapat klien, seorang pria, sebut saja Pak Rudi, yang mengeluh sakit kepala sebelah yang sudah berlangsung sekitar 6 bulan. Pak Rudi telah berobat ke dokter, telah melakukan cek darah lengkap, dan bahkan telah menjalani CT Scan dan MRI. Hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan Pak Rudi sehat, sama sekali tidak ada masalah.
Tidak puas dengan hasil pemeriksaan lab dalam negeri, Pak Rudi memutuskan berobat ke negeri jiran dan kembali menjalani pemeriksaan menyeluruh. Hasilnya? Sama, Pak Rudi dinyatakan sepenuhnya sehat. Dokter tidak bisa menemukan apa yang menyebabkan sakit kepala Pak Rudi.
Dokter di dalam negeri dan di negeri jiran sama-sama mengatakan bahwa sakit kepala Pak Rudi ini disebabkan karena pikiran, bukan karena masalah fisik. Mereka menyarankan Pak Rudi untuk tidak banyak pikiran, hidup lebih santai, berolahraga, dan kalau perlu mengambil cuti dan berlibur untuk menenangkan pikiran.
Pembaca, apa yang dialami oleh Pak Rudi dikenal sebagai penyakit psikosomatis. Psiko artinya pikiran dan soma artinya tubuh. Jadi, penyakit psikosomatis artinya penyakit yang timbul atau disebabkan oleh kondisi mental atau emosi seseorang. Penyakit ini juga disebut dengan penyakit akibat stress. Penyakit psikosomatis sekarang sering disebut dengan penyakit psikofisologis. Namanya saja yang sedikit berbeda namun maknanya sama.
Salah satu hipnoterapis alumnus Quantum Hypnosis Indonesia juga pernah menangani klien, seorang wanita, yang alergi gula atau makanan yang manis. Jika ia makan permen atau minum minuman yang manis maka seluruh tubuhnya akan gatal dan bengkak. Yang aneh adalah bila ia makan nasi atau roti tidak apa-apa. Padahal yang namanya gula itu kan glukosa. Bukankah karbohidrat setelah masuk ke tubuh akan diubah menjadi glukosa? Secara logika, harusnya kalau ia makan nasi atau roti maka reaksi tubuhnya akan sama dengan makan permen atau minum minuman yang manis.
Banyak orang menderit penyakit psikosomatis namun tidak menyadarinya. Mereka biasanya akan terus berusaha sembuh dari sakit yang dideritanya dengan terus berobat namun tidak bisa sembuh. Kalaupun ada perubahan biasanya intensitas penyakitnya saja yang menurun tapi tidak bisa sembuh total. Selang beberapa saat biasanya akan kambuh lagi dan bisa lebih parah dari sebelumnya.
Baik Pak Rudi dan klien wanita ini sembuh hanya dalam satu sesi terapi setelah akar masalah yang mengakibatkan penyakit psikosomatisnya berhasil ditemukan dan dibereskan.
Apa saja sakit yang masuk kategori psikosomatis? Semua sakit fisik yang disebabkan oleh kondisi mental atau emosi penderitanya; mulai sakit kepala, sesak napas, badan lemas lunglai tak bertenaga, jantung berdebar, sulit tidur, sakit maag, mata berkunang-kunang, bahkan lumpuh, dan masih banyak lagi.
Bagaimana Terjadinya?
Untuk memahami terjadinya penyakit psikosomatis kita perlu mencermati hukum pikiran dan pengaruh emosi terhadap tubuh. Ada banyak hukum yang mengatur cara kerja pikiran, salah duanya adalah:
• Setiap pikiran atau ide mengakibatkan reaksi fisik.
• Simtom yang muncul dari emosi cederung akan mengakibatkan perubahan pada tubuh fisik bila simtom ini bertahan cukup lama.
Hukum pertama mengatakan setiap pikiran atau ide mengakibatkan reaksi fisik. Bila seseorang berpikir, secara konsisten, dan meyakinkan dirinya bahwa ia sakit jantung, maka cepat atau lambat ia akan mulai merasa tidak nyaman di daerah dada, yang ia yakini sebagai gejala sakit jantung. Bila ide ini terus menerus dipikirkan dan akhirnya ia menjadi sangat yakin, menjadi belief, karena gejalanya memang “benar” adalah gejala sakit jantung maka, sesuai dengan bunyi hukum yang kedua, ia akan benar-benar sakit jantung.
Biasanya orang tidak akan secara sadar menginginkan mengalami sakit tertentu. Umunya yang mereka rasakan adalah suatu perasaan tidak nyaman, secara emosi. Sayangnya mereka tidak mengerti bahwa perasaan tidak nyaman ini sebenarnya adalah salah satu bentuk komunikasi dari pikiran bawah sadar ke pikiran sadar.
Ada lima cara pikiran bawah sadar berkomunikasi dengan pikiran sadar. Bisa melalui perasaan, kondisi fisik, intuisi, mimpi, dan dialog internal. Umumnya pikiran bawah sadar menyampaikan pesan melalui perasaan atau emosi tertentu. Bila emosi ini tidak ditanggapi atau diperhatikan maka ia akan menaikkan level intensitas pesannya menjadi suatu bentuk gangguan fisik dan terjadilah yang disebut dengan penyakit psikosomatis.
David Cheek M.D., dan Leslie LeCron menulis dalam buku mereka, Clinical Hypotherapy (1968), terdapat 7 hal yang bisa mengakibatkan penyakit psikosomatis:
-Internal Conflict : konflik diri yang melibatkan minimal 2 Part atau Ego State.
-Organ Language : bahasa yang digunakan oleh seseorang dalam mengungkapkan perasaannya. Misalnya, “Ia bagaikan duri dalam daging yang membuat tubuh saya sakit sekali.” Bila pernyataan ini sering diulang maka pikiran bawah sadar akan membuat bagian tubuh tertentu menjadi sakit sesuai dengan semantik yang digunakan oleh klien.
-Motivation / Secondary Gain: keuntungan yang bisa didapat seseorang dengan sakit yang dideritanya, misalnya perhatian dari orangtua, suami, istri, atau lingkungannya, atau menghindar dari beban tanggung jawab tertentu.
-Past Experience : pengalaman di masa lalu yang bersifat traumatik yang mengkibatkan munculnya emosi negatif yang intens dalam diri seseorang.
-Identification : penyakit muncul karena klien mengidentifikasi dengan seseorang atau figur otoritas yang ia kagumi atau hormati. Klien akan mengalami sakit seperti yang dialami oleh figur otoritas itu.
-Self Punishment : pikiran bawah sadar membuat klien sakit karena klien punya perasaan bersalah akibat dari melakukan suatu tindakan yang bertentangan dengan nilai hidup yang klien pegang.
-Imprint : program pikiran yang masuk ke pikiran bawah sadar saat seseorang mengalami emosi yang intens. Salah satu contohnya adalah orangtua menanam program ke pikiran bawah sadar anak dengan berkata, “Jangan sampai kehujanan, nanti bisa flu, pilek, dan demam.”
Sedangkan Tebbets, pakar hipnoterapi terkemuka, mengatakan bahwa kebanyakan penyakit bersifat psikosomatik dan dipilih (untuk dimunculkan) pada level pikiran bawah sadar untuk lari dari suatu situasi yang dipersepsikan sebagai suatu tekanan mental yang berlebihan (overload) yang disebabkan oleh emosi destruktif seperti marah, benci, dendam, takut, dan perasaan bersalah.
Bagaimana Mengatasinya?
Karena yang menjadi sumber masalah sebenarnya adalah emosi maka terapis harus mampu membantu klien memproses emosi terpendam yang menjadi sumber masalah.
Tebbets mengatakan bahwa ada 4 langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi penyakit psikosomatis dan menghilangkan simtomnya melalui teknik uncovering:
1. Memori yang menyebabkan munculnya simtom harus dimunculkan dan dibawa ke level pikiran sadar sehingga diketahui.
2. Perasaan atau emosi yang berhubungan dengan memori ini harus kembali dialami dan dirasakan oleh klien.
3. Menemukan hubungan antara simtom dan memori.
4. Harus terjadi pembelajaran pada secara emosi atau pada level pikiran bawah sadar, sehingga memungkinkan seseorang membuat keputusan, di masa depan, yang mana keputusannya tidak lagi dipengaruhi oleh materi yang ditekan (repressed content) di pikiran bawah sadar.
Mencari tahu apa yang menjadi sumber masalah dilakukan dengan hypnoanalysis mendalam. Ada banyak teknik hipnoterapi yang bisa digunakan untuk melakukan hypnoanalysis. Setelah itu, emosi yang berhubungan dengan memori dialami kembali, dikeluarkan, diproses, dan di-release. Dan yang paling penting adalah kita mengerti pesan yang selama ini berusaha disampaikan oleh pikiran bawah sadar dengan membuat klien mengalami penyakit psikosomatis. Baru setelah itu proses kesembuhan bisa terjadi.
Pada saat alasan untuk terciptanya penyakit psikosomatis telah berhasil dihilangkan maka pikiran bawah sadar tidak lagi punya alasan untuk mempertahankan penyakit itu atau memunculkannya lagi di masa mendatang.
Saya akhiri artikel ini dengan kalimat bijak yang disampaikan oleh Dr. Raymond Charles Barker, “When there is a problem, there is not something to do. There is something to know.”
* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pakar pendidikan dan mind technology dan neuro-feedback, pembicara publik, dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis empat belas best seller “Born to be a Genius”, “Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success”, “Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?”, “Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication”, “Becoming a Money Magnet”, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, dan “Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring”, “Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian”, “Kesalahan Fatal Dalam Mengejar Impian 2, dan “Five Principles to Turn Your Dreams Into Reality”, The Secret of Mindset, Quitters Can Win, dan Quantum Life Transformation. Adi dapat dihubungi melalui facebook: Adi W. Gunawan, email adi@adiwgunawan.com, www.adiwgunawan.com,www.quantum-hypnosis.com ,dan www.QLTI.com
Bisakah Hipnoterapis Menerapi Keluarganya Sendiri?
January 18, 2010 by admin
Filed under Adi W Gunawan

Ide menulis artikel ini muncul saat membaca respon seorang rekan di Facebook. Saat itu saya memposting tulisan “Apakah engkau sudah memaafkan orang yang menyakitimu? “Belum.” Musuh kita bukanlah mereka yang menyakiti kita, melainkan sifat membenci yang ada pada diri kita.”
Rekan ini menulis, “Pak kenapa kok saya belum bisa memaafkan juga ya? Padahal saya sudah diterapi berkali-kali, mengapa masih ada sisa perasaan jengkel? Apanya yang salah nih? Saya sangat tersiksa dengan rasa dendam ini.”
Selanjutnya ia menambahkan, “ Saya sudah menerapkan Hypno-EFT yang ada di buku Quantum Life Transformation. Sudah pake pertanyaan kritis di buku The Secret of Mindset, padahal saya orang yang mudah trance. Dan tiap sesi terapi saya dibantu suami. Kebetulan suami saya praktisi hipnoteapi (CHt) dan sudah banyak membantu orang lain. Tiap hari saya dicintai seorang hipnoterapis. Saya juga bingung Pak kenapa ya saya ini? Saya lalu curhat sama hipnoterapis lain. Katanya sebaiknya saya menerapi diri sendiri, jangan dibantu suami. Waktu saya menerapi diri sendiri dengan Hypno-EFT, belum satu putaran saya mual dan muntah-muntah. Tiap kali saya menerapi diri sendiri selalu terjadi seperti ini. Sepertinya bawah sadar saya memberi sinyal menolak diterapi.Sepertinya bawah sadar saya sangat mencintai dendam di hati saya. Seperti ingin melindungi saya dan ingin saya bahagia dengan memelihara luka di hati saya. Saya dari keluarga broken-home dan ini sangat mengganggu perasaan cinta saya pada suami, walaupun suami sangat baik dan setia.”
Saya menjawab, “Sebaiknya Ibu minta bantuan terapis lain. Ada satu hukum tak tertulis dalam dunia terapi, khususnya hipnoterapi. Seorang hipnoterapis tidak bisa menjadi terapis bagi pasangan atau anggota keluarganya sendiri. Pikiran bawah sadar seseorang sangat cerdas. Ia bisa menahan informasi yang dia tidak ingin diketahui oleh terapisnya (baca: pasangannya).”
Pembaca, saat menjawab pertanyaan rekan ini saya tentu tidak bisa menjelaskan secara lebih detil alasan di balik jawaban singkat yang saya berikan. Melalui artikel ini saya akan melakukan eksplorasi lebih jauh untuk menjawab pertanyaan “Bisakah Hipnoterapis Menerapi Keluarganya Sendiri?”
Jawaban singkat untuk pertanyaan di atas: Bisa.
Efektifkah? Nah, ini jawabannya, “May…. may be yes… may be no.” Lho, kok?
Ceritanya begini ya. Teknik terapi yang digunakan untuk menerapi klien atau anggota keluarga, termasuk pasangan, sebenarnya sama saja. Dalam hal ini saya berasumsi hipnoterapis memiliki kecakapan dan jam terbang yang cukup. Yang membuat proses terapi terhadap anggota keluarga, apalagi terhadap pasangan, menjadi berbeda adalah hal-hal yang berhubungan dengan:
1. Tingkat kepercayaan
2. Keterbukaan
3. Kesiapan mental klien dan hipnoterapis
4. Keterlibatan emosi
Sekarang mari kita bahas poin di atas. Pertama, tingkat kepercayaan. Saat melakukan terapi pertanyaan yang sangat menentukan adalah apakah klien, misalnya istri, mempercayai sepenuhnya kecakapan terapisnya (suami)? Apakah istri merasa aman? Hal ini sangat penting untuk dijawab dengan jujur. Bila seorang klien tidak percaya sepenuhnya pada kemampuan terapisnya atau tidak merasa aman mengungkapkan informasi yang ada di pikiran bawah sadarnya maka terapi telah gagal bahkan sebelum dimulai. Umumnya bila terapisnya adalah suami dan kliennya adalah istri tidak terlalu jadi masalah. Yang menjadi masalah adalah bila terapisnya adalah istri dan yang menjadi klien adalah si suami. Suami biasanya, walau tidak semuanya, tidak mengijinkan istri menerapi dirinya. Ini karena ego suami yang merasa dirinya lebih hebat dari istrinya.
Poin kedua adalah keterbukaan. Ini yang cukup sulit dilakukan. Seringkali masalah yang dialami ada hubungannya dengan pasangan, atau orangtua pasangan. Bila situasinya seperti ini saya meragukan klien cukup berani untuk berkata jujur.
Saat seseorang berada dalam kondisi hipnosis, sedalam apapun level hipnosisnya, ia tetap sadar sesadar-sadarnya dan mampu mengendalikan sepenuhnya baik pikiran, ucapan, dan responnya. Dengan demikian klien bisa berkata tidak jujur atau menyembunyikan informasi yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk menuntaskan masalahnya. Jika klien tidak mengungkapkan informasi tertentu dengan berbagai pertimbangan atau alasan, mungkin sungkan, tidak berani, atau takut, dan oleh karenanya informasi ini tidak bisa diproses maka terapi yang dilakukan pasti tidak efektif.
Ada kemungkinan akar masalah klien adalah kejadian yang sangat traumatik, yang dalam pandangan klien merupakan aib yang sangat memalukan, yang selama ini tidak pernah ia ceritakan kepada siapapun. Bila tidak siap maka klien tidak akan mengungkapkan hal ini kepada terapisnya yang notabene adalah pasangannya. Ini berhubungan dengan rasa aman secara psikis.
Poin ketiga adalah kesiapan mental baik pada diri klien maupun terapis dalam menyikapi berbagai data yang terungkap selama sesi terapi, khususnya data yang berasal dari memori yang ditekan selama ini (repressed memory). Bila misalnya klien mengungkapkan informasi yang sangat sensitif dan terapisnya tidak siap mendengar hal ini, karena yang menerapi kan pasangannya sendiri, maka ini bisa jadi masalah besar. Bisa-bisa setelah selesai melakukan terapi, terapisnya yang butuh diterapi karena mengalami goncangan psikis yang hebat. Contohnya?
Misalnya yang menjadi klien adalah si istri dan terapisnya adalah si suami. Bagaimana bila, walaupun sudah disepakati di awal, sebelum menjalani sesi terapi, bahwa baik klien maupun terapis akan sangat terbuka dan bisa memaklumi informasi apapun yang akan tergali saat terapi, klien menyampaikan bahwa ia dulu pernah mengalami pelecehan seksual atau sudah tidak gadis lagi saat menikah dengan pasangannya?
Bagaimana bila sekarang yang menjadi klien adalah si suami dan terapisnya adalah si istri dan saat proses terapi terungkap bahwa si suami punya PIL eh salah…maksud saya, WIL? Apakah terapis siap mendengar informasi ini dan melanjutkan sesi terapis secara profesional?
Contoh kasus di atas adalah kasus yang memang ekstrim. Saya sengaja menyampaikan hal ini sebagai bahan pemikiran. Bukan berarti ini tidak mungkin terjadi, lho. Jika, misalnya, yang saya ceritakan di atas sungguh-sungguh terjadi, apakah baik klien maupun terapisnya siap?
Dan ini membawa kita ke poin keempat yaitu keterlibatan emosi. Hipnoterapis yang baik, menurut hemat saya, adalah mereka yang mampu melakukan terapi tanpa sama sekali terlibat secara emosi atas apa yang dialami oleh klien. Saat emosi terlibat maka terapis sudah tidak lagi bisa netral dalam bersikap dan memproses berbagai informasi yang terungkap. Terapi sangat membutuhkan sikap dan emosi yang netral. Ini untuk menghindari terjadinya countertransference.
Keterlibatan emosi bisa juga terjadi pada terapis saat menangani klien, yang bukan pasangannya, bila ternyata apa yang dialami klien mirip atau sama dengan pengalaman traumatik yang dulu dialami si terapis, namun belum berhasil ia atasi.
Saya pernah membaca ada terapis, wanita, yang ternyata punya masalah dengan suaminya, dan saat ia menerapi kliennya yang juga seorang wanita, untuk masalah yang berhubungan dengan suami klien, tidak bisa bersikap netral. Hasil terapi justru semakin memperburuk hubungan klien dan suaminya karena terapis, saat klien dalam kondisi somnambulism, mensugestikan hal-hal atau pandangan yang sebenarnya mencerminkan kemarahan terapis pada suaminya. Ini sangat riskan.
Nah, bagaimana bila ternyata baik klien maupun terapisnya, ingat ya saya sedang membahas hipnoterapis yang menerapi pasangannya, ternyata mampu mengatasi keempat poin di atas?
Wah, kalau ini yang terjadi maka hasilnya akan sangat luar biasa. Selain klien sembuh dari masalahnya, hubungan mereka akan menjadi semakin erat, hangat, dan kuat. Pembelajaran yang dilakukan pada level pikiran bawah sadar klien, yang mendapat dukungan penuh dari (pikiran bawah sadar) terapis akan membawa mereka ke level kesadaran yang sangat tinggi yang meningkatkan kedewasaan sikap, mental, dan spiritual mereka secara luar biasa. Mereka sadar bahwa apa yang dialami di masa lalu adalah pembelajaran dan kebijaksanaan yang sangat berharga untuk kehidupan mereka. Pembelajaran ini hanya bisa didapatkan setelah luka batin itu diproses.
“Apakah pernah ada yang mengalami hal ini?”
“Hal yang mana?”
“Itu lho, baik yang positif maupun yang negatif?”
“Pernah.”
Pernah ada seorang rekan menghubungi saya minta terapi. Saat saya tanya apa yang terjadi ternyata ia menerapi klien yang mengalami kepahitan di masa kecilnya yang berhubungan dengan orangtuanya. Dan kasus klien ini mirip dengan yang ia alami saat kecil. Yang terjadi selanjutnya adalah saat klien mengalami ledakan emosi (abreaction), eh.. rekan terapis ini juga ikut menangis dan mengalami kembali pengalaman dan emosi negatif yang dulu ia alami. Jadi, baik klien maupun terapis sama-sama abreaction.
Sedangkan yang positif juga ada. Seorang rekan terapis saat memproses trauma istrinya dan mengetahui berbagai kepahitan yang dialami si istri saat kecil, tidak saja berhasil membantu istrinya sembuh, justru membuat ia semakin cinta pada istrinya dan memutuskan untuk membuat istrinya bahagia lahir dan batin. Mereka,suami istri, sepakat bahwa pengalaman buruk yang dulu dialami sang istri tidak boleh terjadi pada anak mereka. Mereka juga menyadari sepenuhnya walaupun anak masih kecil, anak tetap punya perasaan dan pemikiran yang harus dihargai dan dihormati.
Contoh di atas adalah kalau hipnoterapis menerapi pasangannya. Bagaimana kalau hipnoterapis, misalnya ayah atau ibu, menerapi anaknya?
Sama saja. Keempat poin di atas sangat perlu diperhatikan. Pada kasus yang anak alami, dari pengalaman saya menerapi banyak anak dan keluarga, saya mendapatkan hampir semua, sekitar 98%, masalah anak terjadi karena pola asah, asih, dan asuh yang salah yang anak alami di rumah. Dengan kata lain yang menjadi sumber masalah sebenarnya adalah orangtua.
Akan sulit bagi anak untuk secara terbuka mengungkapkan isi hatinya dan mengatakan bahwa orangtuanya adalah sumber masalahnya. Anak tentu merasa takut atau tidak aman. Sebaliknya bila orangtua tidak siap maka sebaik apapun ia berusaha emosinya pasti akan terlibat dan ia menjadi tidak objektif. Apapun kondisinya, terapi tidak akan bisa efektif.
Jadi, apa saran Pak Adi? Saran saya bagi anda, rekan sejawat saya, sesama hipnoterapis, sebaiknya bila anggota keluarga kita ada masalah, mintalah bantuan rekan hipnoterapis lain untuk mengatasi masalahnya.
* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pakar pendidikan dan mind technology dan neuro-feedback, pembicara publik, dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis empat belas best seller “Born to be a Genius”, “Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success”, “Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?”, “Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication”, “Becoming a Money Magnet”, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, dan “Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring”, “Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian”, “Kesalahan Fatal Dalam Mengejar Impian 2, dan “Five Principles to Turn Your Dreams Into Reality”, The Secret of Mindset, Quitters Can Win, dan Quantum Life Transformation. Adi dapat dihubungi melalui facebook: Adi W. Gunawan, email adi@adiwgunawan.com, www.adiwgunawan.com,www.quantum-hypnosis.com ,dan www.QLTI.com
Telah di baca sebanyak: 13Meditasi:Timur Bertemu Barat
November 22, 2009 by admin
Filed under Adi W Gunawan

Meditasi adalah jalan pintas untuk mencapai pencerahan. Ini kata para guru spiritual. Meditasi, dalam banyak tradisi, memang sangat dianjurkan. Terutama dalam Buddhisme.
Ada dua jenis meditasi, pertama Samatha Bhavana atau Meditasi Ketenangan, dan yang kedua adalah Vipassana Bhavana atau Meditasi Pandangan Terang.
Ada pandangan yang berbeda di kalangan pengajar meditasi. Ada yang mengatakan bahwa seseorang harus melakukan dan mahir meditasi Samatha Bhavana terlebih dahulu. Baru setelah itu mereka masuk ke meditasi Vipassana Bhavana. Ada juga yang mengatakan bahwa untuk mencapai pencerahan tidak perlu dengan melakukan meditasi Samatha Bhavana terlebih dahulu tapi langsung meditasi Vipassana Bhavana.
Meditasi Samatha Bhavana adalah pemusatan konsentrasi atau perhatian pada objek tertentu, misalnya napas. Ada empat puluh objek yang bisa digunakan untuk menditasi. Napas hanya salah satunya.
Tujuan dari meditasi ini adalah untuk melatih pikiran sehingga terkendali dan akhirnya diam dan hening.Saat kondisi pikiran benar-benar terpusat sangat kuat, hening, diam, dan tercerap sepenuhnya pada objek meditasi maka pada saat itu meditator mencapai kondisi jhana.
Sedangkan meditasi Vipassana Bhavana adalah meditasi perhatian penuh, introspeksi, observasi realitas, kewaspadaan objektif, dan belajar dari pengalaman setiap momen. Inti dari meditasi ini adalah mengamati segala proses mental atau fisik yang paling dominan pada saat sekarang Dengan kata lain, menyadari, mencatat, ingat ketika lenyap.
Saya tidak dalam posisi untuk mengatakan mana atau siapa yang benar. Apakah perlu Samatha dulu baru Vipassana ataukah tidak perlu Samatha tapi langsung Vipassana? Yang ingin saya sampaikan dalam artikel ini adalah apakah sebenarnya yang terjadi dalam pikiran seseorang yang melakukan meditasi, baik itu Samatha maupun Vipassana, ditinjau dari riset di barat, dengan mengukur pola gelombang otak.
Saat belajar kepada Anna Wise, satu hal yang sangat mencerahkan saya adalah saat Beliau berkata, “Meditation is a state of consciousness, a spesific brain-wave pattern, no a technique”. Anna juga berkata bahwa, “There is state of consciousness and content of consciousness”.
Wow… ini sungguh suatu pencerahan luar biasa. Anna Wise sampai pada kesimpulan ini setelah mengukur, dengan menggunakan Mind Mirror, begitu banyak pola gelombang otak orang, termasuk para master dan guru meditasi Zen.
Dari pengukuran Anna Wise didapat satu data yang sangat menarik yaitu semua master dan guru meditasi itu punya gelombang otak yang sama. Pola ini disebut dengan pola Awakened Mind (AM) yang terdiri dari beta, alfa, theta, dan delta dengan komposisi yang pas. Beta di sini adalah low beta dan hanya sedikit saja, karena hanya digunakan untuk menyadari, mengetahui, mencatat.
Alfa berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan pikiran sadar dan bawah sadar. Theta adalah pikiran bawah sadar dan delta adalah pikiran nirsadar.
Kita tetap membutuhkan beta, walaupun hanya sedikit saja, untuk bisa mengetahui atau menyadari apa yang sedang kita alami. Bila tidak ada beta maka kita sama sekali tidak akan tahu atau ingat yang terjadi atau alami saat meditasi.
Lalu, apa hubungannya dengan meditasi Samatha dan Vipassana?
Meditasi Samatha, bila dilihat dari pola gelombang otak, bertujuan untuk meng-OFF-kan gelombang beta. Beta adalah gelombang pikiran sadar dan berkisar pada kisaran frekuensi 12-25 Hz. Gelombang ini aktif bila kita berpikir, memberikan penilaian (judgement) atau memberikan makna pada sesuatu, mengkritik, membuat daftar, menganalisa, atau berbicara pada diri sendiri (self talk).
High Beta, frekuensi di atas 25 Hz berhubungan dengan stress dan kecemasan. Semakin aktif high beta seseorang maka semakin “liar” pikirannya. Pikiran akan lari ke sana ke mari, melompat dari satu hal ke hal lain, tidak bisa diam, sulit atau hampir tidak mungkin untuk dikendalikan. Kesulitan ini yang dialami oleh semua meditator pemula.
Banyak orang menghabiskan begitu banyak waktu hanya untuk belajar mendiamkan pikirannya mereka namun tidak berhasil. Akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti bermeditasi karena tidak merasakan manfaat.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat seseorang mahir meng-OFF-kan pikirannya? Ini semua bergantung pada waktu dan teknik yang digunakan. Umumnya, untuk meng-OFF-kan pikiran sadar, orang menggunakan objek napas.
Pikiran dilatih untuk diam dengan cara difokuskan pada napas. Dan pada saat pikiran lari ke objek lain maka pikiran ditarik kembali ke napas dan demikian selanjutnya sampai dicapai kekuatan konsentrasi yang sangat tinggi.
Sulitnya meditator mendiamkan pikirannya, selain karena aktifnya high beta, juga disebabkan tubuh yang tegang. Posisi duduk yang tidak tepat, apa lagi kalau sampai melakukan postur full lotus, membuat otot paha dan tubuh menjadi begitu tegang sehingga adalah tidak mungkin untuk bisa mencapai kondisi pikiran yang rileks.
Masih berdasar riset Anna Wise, untuk bisa merilekskan pikiran, menurunkan beta dengan cepat, bisa dilakukan dengan merilekskan tubuh terlebih dahulu. Ada teknik spesifik yang Beliau kembangkan untuk bisa mendiamkan pikiran dalam waktu yang sangat singkat.
Saat seseorang telah mampu meng-OFF-kan pikiran sadarnya (gelombang beta) maka pada saat itu ia telah masuk ke kondisi meditatif yang sangat dalam. Jadi, meditasi sebenarnya adalah gelombang otak yang terdiri dari alfa, theta, dan atau tanpa delta. Di sini tampak jelas bahwa beta tidak dibutuhkan untuk meditasi. Justru beta perlu dihilangkan.
Lalu, apa hubungannya dengan meditasi Vipassana?
Dari pengalaman saya pribadi adalah cukup sulit atau bahkan tidak mungkin bisa melakukan pengamatan pada bentuk-bentuk pikiran, perasaan, atau sensasi fisik yang muncul saat pikiran sadar masih sangat aktif. Apalagi jika yang aktif adalah high beta.
Jelas sangat sulit melakukan pengamatan jika piranti yang digunakan untuk melakukan pengamatan atau observasi, yaitu pikiran sadar, masih sangat aktif dan sibuk sendiri.
Yang diamati dalam meditasi Vipassana, khususnya pada aspek bentuk-bentuk pikiran dan perasaan yang muncul, sebenarnya berasal dari pikiran bawah sadar dan nirsadar.
Dari pikiran bawah sadar biasanya muncul memori atau ingatan mengenai kejadian tertentu, yang berasal dari pengalaman di kehidupan saat ini, dan biasanya berisi muatan emosi dengan intensitas yang tinggi, baik positif maupun negatif.
Jadi, saat memori ini muncul, baik dalam bentuk gambar atau film, maka sebenarnya pada saat yang sama emosi yang berhubungan dengan memori ini juga aktif. Sedangkan dari pikiran nirsadar akan muncul memori dan emosi yang berasal dari kehidupan lampau.
Itulah sebabnya adalah sangat penting bagi seorang meditator untuk tidak masuk ke dalam pengalaman itu, karena biasanya mengandung emosi yang intens, dan cukup hanya mengetahui, menyadari, mencatat, dan mengingatnya ketika lenyap atau hilang.
Meditator tidak larut ke dalamnya. Akan sangat riskan bila meditator masuk ke dalam pengalaman itu, terutama jika pengalaman itu mengandung emosi negatif yang intens, misalnya akibat dari trauma masa lalu.
Jika sampai terjadi hal ini maka meditator akan mengalami kembali kejadian atau pengalaman itu. Istilah teknisnya revivification dan akan berdampak negatif pada kondisi mental dan emosinya.
Kemampuan untuk bisa menjadi pengamat (observer) dan tidak masuk ke dalam objek yang diamati hanya bisa dicapai bila pengendalian diri kita baik dan juga pikiran sadar (baca: beta) tidak terlalu aktif dan tidak memberikan penilaian atau penghakiman.
Saat kita mampu melihat atau hanya menjadi pengamat maka kita telah mampu melakukan disosiasi sehingga tidak dipengaruhi emosi yang melekat pada suatu memori. Saat kita mampu tenang hanya menyadari, mencatat, dan mengingat kejadian atau pengalaman yang muncul, maka kita akan tahu dan sadar bahwa kita bukanlah pengalaman atau emosi kita. Pengalaman atau emosi itu muncul dan tenggelam/hilang. Dan saat kita memberi jarak atau memisahkan diri dari pengalaman atau emosi itu maka mereka tidak bisa mempengaruhi diri kita.
Banyak yang berpikir, “Jika tidak ada beta, lalu bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan insight atau mengerti?”
Insight atau kebijaksanaan yang sesungguhnya berasal dari theta atau pikiran bawah sadar. Kedalamam meditasi ditentukan oleh kedalaman theta yang berhasil kita capai. Theta adalah tempat terjadinya koneksi spiritual paling dalam. Saat seseorang berada dalam deep theta maka ia akan merasakan ketenanga, kedamaian, dan kebahagiaan yang luar biasa.
Pikiran bawah sadar mempunyai proses berpikir sendiri yang terpisah dari pikiran sadar. Jadi, saat kita bermeditasi Vipassana, saat pikiran sadar yang tidak terlalu aktif, maka informasi atau insight yang berasal dari pikiran bawah sadar akan naik, melalui jembatan alfa, ke pikiran sadar (beta) dan kita menyadari atau tahu (ingat) informasi ini.
Jadi, yang dilakukan oleh meditator yang bertahun-tahun melakukan meditasi Samatha sebenarnya adalah persiapan untuk awakening atau pencerahan. Para meditator ini biasanya, setelah bertahun-tahun berlatih meditasi, berhasil mengembangkan pola gelombang otak Awakened Mind.
Namun meditasi Samatha, walaupun telah lama dilakukan, walaupun telah berhasil mencapai pola Awakened Mind, tidak mampu memfasilitasi pencapaian pencerahan.
Mengapa? Karena meditasi Samatha sebenarnya adalah cara untuk mencapai kondisi kesadaran (state of consciousness) yang spesifik. Kondisi kesadaran ini selanjutnya perlu ditindaklanjuti dengan melatih meditasi Vipassana karena Vipassana sebenarnya adalah content-based meditation atau meditasi berdasarkan isi.
Yang dimaksud dengan isi, selain sensasi fisik yang dirasakan, juga adalah konten dari pikiran bawah sadar dalam bentuk-bentuk pikiran dan emosi yang muncul, dirasakan, atau dialami pada saat meditasi berlangsung, pada momen here and now.
Contoh yang paling populer adalah koan dalam meditasi Zen. Saat seorang master Zen bertanya pada muridnya, “Bagaimana bunyinya bila tepuk tangan dilakukan hanya dengan satu tangan?”, maka pada saat itu sang master memberikan pertanyaan yang tidak bisa dijawab bila si murid hanya menggunakan pikiran sadar atau beta.
Saat berpikir keras untuk menemukan jawabannya maka pikiran murid yang terlatih akan begitu fokus, dan ini sebenarnya adalah meditasi Samatha, akan mendapatkan pemahaman atau pengetahuan, yang berasal dari pikiran bawah sadarnya, yang mampu memfasilitasi tercapainya pencerahan.
Ini bukan meditasi dengan “pikiran kosong”. Sebaliknya, ini adalah meditasi dengan konten yang sangat spesifik yang dilakukan oleh praktisi dengan kondisi pikiran yang telah disiapkan dengan sangat baik dan hati-hati sekali, dengan menggunakan teknik yang spesifik.
Pembaca, setelah membaca sejauh ini, jika anda bermeditasi, teknik mana yang akan anda gunakan? Samatha atau Vipassana? Semua saya kembalikan pada diri anda sendiri. Saat bermeditasi kenalilah diri anda sendiri. Anda akan tahu apakah anda akan langsung ke Vipassana ataukah perlu melatih Samatha dulu.
Dan yang paling penting adalah anda perlu belajar di bawah bimbingan seorang guru meditasi yang berpengalaman. Hanya duduk dan memperhatikan napas memperhatikan pikiran belum tentu bisa disebut meditasi. Meditasi, seperti yang didefisinikan oleh Anna Wise adalah kondisi kesadaran spesifik bukan sekedar teknik.
Jika anda telah melakukan meditasi sekian lama namun belum bisa masuk atau mengalami kondisi kesadaran (state of consciousness) yang spesifik itu maka meditasi anda bisa dibilang belum berhasil.
Anna Wise pernah membantu seorang kliennya, seorang meditator. Keluhan klien ini adalah walaupun ia telah meditasi Samatha selama 12 tahun non stop, setiap hari 1 jam, ia masih belum bisa masuk ke kondisi meditatif yang dalam.
Saat dilihat pola gelombang otaknya, dengan menggunakan Mind Mirror, tampak bahwa selama 12 tahun meditasi klien ini tidak bisa mendiamkan pikirannya. Hal ini tampak dari high beta yang sangat aktif saat ia melakukan meditasi.
Dengan teknik yang spesifik Anna berhasil membantu klien ini mendiamkan pikirannya sehingga menjadi tenang dan hening dalam waktu yang relatif singkat. Sungguh sayang bila ketekunan selama 12 tahun ini ternyata tidak berbuah hasil seperti yang diinginkan.
Selamat bermeditasi……….
* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pakar pendidikan dan mind technology dan neuro-feedback, pembicara publik, dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis empat belas best seller “Born to be a Genius”, “Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success”, “Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?”, “Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication”, “Becoming a Money Magnet”, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, dan “Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring”, “Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian”, “Kesalahan Fatal Dalam Mengejar Impian 2, dan “Five Principles to Turn Your Dreams Into Reality”, The Secret of Mindset, Quitters Can Win, dan Quantum Life Transformation. Adi dapat dihubungi melalui facebook: Adi W. Gunawan, email adi@adiwgunawan.com, www.adiwgunawan.com,www.quantum-hypnosis.com ,dan www.QLTI.com
Telah di baca sebanyak: 7Mengalami dan Memahami Kondisi Meditasi
November 3, 2009 by admin
Filed under Adi W Gunawan

Saya sering mendapat email dari rekan dan pembaca buku yang mengatakan bahwa mereka, setelah mendengar CD audio relaksasi, tidak bisa konsentrasi. Mereka menanyakan mengapa mereka sulit konsentrasi dan merasa kecewa karena tidak bisa merasakan dan mendapat manfaat meditasi. Saat saya menanyakan, “Sudah berapa lama anda berlatih diri?”, jawaban yang saya terima cukup menjelaskan kondisi mereka, “Saya sudah mencoba dua atau tiga kali, Pak.”
Benarkah demikian sulit bagi seseorang untuk melakukan meditasi? Mengapa ada yang mudah dan mengapa ada pula yang merasa sulit masuk ke kondisi meditatif yang dalam?
Pembaca, di artikel sebelumnya, Meditasi: Timur Bertemu Barat, saya telah menjelaskan tujuan meditasi ditinjau dari perspektif timur dan barat. Dalam artikel ini saya akan menjelaskan secara spesifik apa saja yang perlu diperhatikan, dilakukan, dan dialami saat melakukan meditasi.
Meditasi bertujuan untuk mengendalikan dan menguatkan pikiran. Pikiran sama seperti otot. Perlu latihan yang konsisten untuk bisa membuat pikiran menjadi kuat. Pikiran dilatih dengan cara difokuskan pada satu objek meditasi. Umumnya orang menggunakan napas sebagai objek.
Pembaca, jika misalnya anda tidak pernah berlatih fitness atau body-building, dan tiba-tiba ingin menguatkan otot tubuh anda, apa yang akan anda lakukan? Apakah langsung berlatih ataukah anda akan mencari pelatih yang berpengalaman yang bisa membimbing anda dengan benar? Sudah tentu kita perlu dibimbing oleh seorang pelatih berpengalaman. Peran pelatih sangat penting agar kita tidak salah berlatih yang justru akan kontraproduktif . Dengan bimbingan yang benar kita dapat mencapai hasil yang maksimal dalam waktu yang singkat.
Pertanyaan selanjutnya, “Berapa ukuran atau berat beban yang anda gunakan sebagai beban awal latihan?” Apakah langsung beban yang berat ataukah anda menaikkan beban secara bertahap seiring dengan lama dan intensitas latihan anda? Apa yang akan terjadi bila anda “bernafsu” ingin membesarkan dan menguatkan otot-otot tubuh anda secepatnya dan langsung menggunakan beban yang berat (sekali)? Bagaimana hasilnya? Saya jamin, jika ini yang anda lakukan, maka tubuh anda akan cidera karena tidak kuat.
Pembaca, melatih otot tubuh membutuhkan waktu, cara, intensitas, dan konsistensi agar dicapai hasil yang maksimal. Tidak bisa dilakukan asal-asalan dan kita berharap bisa memiliki tubuh yang sehat, kuat, dan indah. Dalam hal ini yang perlu disadari dan diperhatikan adalah bahwa otot akan tumbuh, berkembang, dan menjadi kuat bila dilatih dengan cara yang benar dengan mengikuti proses alamiah pertumbuhan otot. Kita tidak bisa memaksa otot berkembang dengan kecepatan yang kita inginkan. Semua ada waktunya.
Sama seperti otot, pikiran juga perlu dilatih. Melatih pikiran sebaiknya juga dengan bimbingan seorang pelatih berpengalaman dan dengan takaran latihan yang sesuai. Meditasi adalah suatu skill yang perlu dilatih dan diasah setiap hari. Semakin sering kita berlatih maka semakin kuat “otot-otot” pikiran kita. Kuatnya “otot” pikiran tampak dalam bentuk pengendalian yang bisa kita lakukan pada pikiran. Saat pikiran diarahkan untuk konsentrasi dan memegang objek maka pikiran bisa memegang objek dengan kuat dan lama. Pikiran tidak lari ke mana-mana, liar tidak terkendali.
Untuk pemula, biasanya pikiran akan lari tak terkendali. Kita perlu menundukkan dan mengendalikannya. Ini yang dikenal dengan istilah “taming the monkey mind” atau menjinakkan pikiran yang liar seperti seekor monyet. Jangan salah baca ya, monkey mind bukan donkey mind.
Satu hal yang sering tidak dimengerti dan bahkan tidak diindahkan kebanyakan orang yaitu relaksasi pikiran atau meditasi membutuhkan tidak saja upaya, namun terlebih lagi adalah kepasrahan dan keikhlasan. Semakin kita bernafsu maka pasti semakin tidak bisa. Salah satu hukum pikiran berbunyi, “Bila berhubungan dengan pikiran bawah sadar dan fungsi-fungsinya, semakin besar upaya sadar yang dilakukan, semakin kecil respon pikiran bawah sadar.”
Relaksasi pikiran atau meditasi adalah proses yang didominasi pikiran bawah sadar dan nirsadar. Saat seseorang bermeditasi maka gelombang otak yang dominan adalah alpha, theta, dan atau tanpa delta.
Kembali kepada kasus yang saya ceritakan di awal artikel. Pernyataan, “Saya sudah mencoba dua atau tiga kali, Pak”, dengan pemahaman dari apa yang telah saya sampaikan sejauh ini, perlu diubah menjadi, “Saya baru mencoba dua atau tiga kali, Pak”.
Banyak juga yang bertanya, “Pak, saya kok nggak merasa deep?” Biasanya saya akan mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengecek kedalaman relaksasi yang ia capai. Ternyata banyak yang telah masuk sangat dalam, sangat rileks, baik secara fisik maupun pikiran, namun mereka tidak menyadari hal ini karena tidak punya acuan.
Nah pembaca, untuk membantu anda mengerti kedalaman relaksasi pikiran dan fisik saat meditasi, berikut adalah Subjective Landmark atau acuan yang disusun oleh guru saya, Anna Wise. Biasanya kami menggunakan Mind Mirror untuk melihat dan mengukur relaksasi pikiran dan ESR Meter untuk mengukur relaksasi fisik. Namun, bila tidak ada Mind Mirror dan ESR Meter, kami cukup menggunakan Subjective Landmark. Hasilnya sama valid.
Subjective Landmark ini hanya sebagai acuan namun bukan harga mati. Artinya, pengalaman subjektif setiap orang belum tentu sama. Namun secara umum, saat seseorang melakukan relaksasi pikiran atau meditasi, ia akan mengalami hal-hal yang disebutkan di Subjective Landmark.
Cara membaca Subjective Landmark adalah dengan melihat Level, Pengalaman/Sensasi Subjektif, ESR, dan EEG.
Penjelasannya sebagai berikut. Level menunjukkan kedalam relaksasi. Semakin besar angkanya berarti semakin dalam. Level dimulai dari angka 0 (nol) sampai 6 (enam).
Pengalaman/Sensasi Subjektif adalah apa yang kita alami atau rasakan baik di pikiran maupun di fisik. Gunakan pengalaman yang disebutkan di skala ini untuk mengetahui anda berada di level mana.
ESR Meter adalah alat ukur yang mengukur relaksasi fisik dan menggunakan skala Lesh. Semakin kecil angka di ESR Meter berarti semakin rilek fisik kita. Dengan menggunaakn ESR Meter diketahui bahwa relaksasi fisik saat seseorang tidur berkisar antara 13 – 17. Sedangkan bila dengan meditasi bisa mencapai antara 0 – 5. Hal ini menjawab mengapa walaupun telah cukup tidur orang sering merasa lelah dan tidak segar saat bangun. Sebaliknya orang yang sering meditasi membutuhkan lebih sedikit tidur dan tubuhnya juga lebih sehat dan segar.
EEG adalah pengukuran dengan menggunakan Mind Mirror. Nah, karena anda tidak punya ESR dan EEG maka yang perlu diperhatikan adalah Pengalaman/Sensasi Subjektif.
Berikut adalah Subjective Landmark:
Level : 0
Pengalaman/Sensasi Subjektif:
• Mungkin mengalami kesulitan untuk mendiamkan pikiran atau pikiran melompat ke sana ke mari tidak terkendali.
• Perasaan gatal, tidak fokus, tidak perhatian.
• Perasaan “Mengapa saya melakukan hal ini?”.
• Mulai rileks.
• Perasaan mulai “tenang”
ESR: 25 – 20
EEG:
• Beta berkesinambungan, sering bersamaan dengan lonjakan gelombang-gelombang yang lain.
• Kemungkinkan alfa muncul sesekali.
Level : 1
Pengalaman/Sensasi Subjektif:
• Kondisi “kabur”.
• Perasaan kurang nyaman.
• Sensasi seperti orang yang dibius/dianestesi.
• Kadang merasa pusing.
• Pikiran dipenuhi dengan kegiatan sehari-hari – sebagai penghindaran terhadap keheningan dalam diri.
• Perasaan akan energi yang tercerai-berai.
• Sensasi hanyut menuju tidur atau tertarik keluar dari tidur.
ESR: 20 – 26
EEG:
• Beta yang sudah agak berkurang, tetapi masih ada.
• Alfa yang muncul sesekali tetapi lebih kuat.
Level : 2
Pengalaman/Sensasi Subjektif:
• Energi yang tercerai berai mulai menyatu.
• Mulai merasakan ketenangan dan rileksasi.
• Gambar mental yang sangat jelas muncul secara tiba-tiba.
• Kilas balik kenangan masa kecil.
• Gambar dari masa lalu yang “lama” dan “baru”.
• Perhatian tidak terlalu terpusat.
• Perasaan berada di antara dua kondisi.
• Kondisi transisi.
ESR: 16 – 14
EEG:
• Beta berkurang
• Alfa semakin kuat – bisa bersifat sinambung
• Teta (frekwensi rendah) muncul sesekali
Level : 3
Pengalaman/Sensasi Subjektif:
• Perasaan stabil yang lebih kuat.
• Kondisi yang pasti.
• Sensasi tubuh yang menyenangkan: merasa mengapung, ringan, bergerak, berguncang.
• Gerakan ritmik yang muncul sesekali.
• Gambar yang semakin banyak dan lebih jelas.
• Meningkatnya kemampuan mengikuti imajinasi terbimbing.
ESR: 14 – 11
EEG:
• Beta sangat berkurang.
• Alfa sinambung
• Kemungkinan teta yang lebih sinambung dengan peningkatan frekwensi dan/atau amplitudo
Level : 4
Pengalaman/Sensasi Subjektif:
• Kesadaran yang sangat kuat terhadap pernapasan.
• Kesadaran yang sangat kuat terhadap detak jantung, aliran darah, dan sensasi tubuh lainnya.
• Perasaan kehilangan batas-batas tubuh (tidak lagi bisa merasakan keberadaan tubuh fisik).
• Perasaan mati rasa di tungkai (lengan dan kaki)
• Perasaan diri dipenuhi oleh udara.
• Perasaan tubuh menjadi sangat besar atau sangat kecil.
• Perasaan tubuh menjadi sangat berat atau sangat ringan.
Kadang berpindah antara kesadaran internal dan eksternal.
ESR: 11 – 8
EEG:
• Beta yang sangat berkurang
• Alfa sinambung
• Teta meningkat
Level : 5
Pengalaman/Sensasi Subjektif:
• Kondisi kesadaran yang sangat tinggi.
• Perasaan puas yang mendalam.
• Sangat sadar/waspada, tenang, dan tidak melekat/terpisah dari keadaan sekeliling.
• Perasaan “lepas” atau hilang dari lingkungan dan atau tubuh.
• Bila menginginkan maka gambaran mental yang muncul adalah sangat-sangat jelas.
• Perasaan kondisi kesadaran yang meningkat, yang tidak terdapat pada level sebelumnya, 0 – 4.
• Perasaan pengalaman puncak, luar biasa, pengalaman “ah-ha”, pemahaman intuitif.
• Kinerja tinggi
ESR: 8 – 5
EEG:
• Penguasaan beta yang sangat baik – mulai dengan tidak adanya pikiran hingga pikiran-pikiran kreatif
• Alfa sinambung
• Teta sinambung
Level : 6
Pengalaman/Sensasi Subjektif:
• Cara baru (berbeda) dalam merasakan sesuatu
• Pemahaman intuitif terhadap masalah sebelumnya, seakan melihat dengan level kesadaran yang lebih tinggi.
• Sensasi dikelilingi oleh cahaya.
• Perasaan kesadaran spiritual yang lebih tinggi.
• Sensasi semuanya tidaklah penting selain kondisi yang dialami saat itu.
• Mengalami kebahagiaan yang luar biasa.
• Mengalami ketenangan yang tak terlukiskan.
• Perasaan akan pengetahuan yang lebih mendalam mengenai alam semesta.
ESR: 5 – 0
EEG:
Empat pola yang mungkin terjadi:
1. Pikiran yang terbangunkan (beta, alfa, teta, delta)
2. Meditasi optimal (alpha, teta, delta)
3. Sangat sedikit aktifitas listrik otak
4. Pikiran yang berkembang (pola The Awakened Mind, meliputi beta, alfa, teta, dan delta)
Pembaca, karena keterbatasan ruang dan waktu saya tidak bisa menjelaskan secara lebih detil setiap aspek dari Subjective Landmark. Sebagai informasi tambahan untuk anda, materi ini adalah bagian penting dari pelatihan The Awakened Mind.
*) Adi W. Gunawan adalah pakar mind technology yang telah menulis 14 buku best seller yang diterbitkan PT. Gramedia Pustaka Utama. Buku terakhirnya adalah Quantum Life Tranformation yang merupakan intisari dari pelatihan QLT workshop yang biasa ia bawakan. Adi dapat dihubungi melalui facebook, www.adiwgunawan, www.quantum-hypnosis.com, dan www.QLTI.COM.
Bahagia Dalam Keheningan
October 12, 2009 by admin
Filed under Adi W Gunawan

Seorang klien datang ke saya untuk minta tolong. Masalah klien ini yaitu dia merasa hidupnya saat ini hampa. Padahal ia bukan orang sembarangan. Telah banyak yang ia capai dalam hidupnya. Karir dan bisnisnya cemerlang. Keluarganya juga sangat ok. Terus, apa yang salah dengan klien ini?
Setelah berdikusi beberapa saat saya menemukan apa yang menjadi akar masalahnya. Ternyata ia jarang memberikan waktu untuk dirinya sendiri. Pikirannya terlalu aktif. Keinginannya banyak dan ia ingin mencapainya sekaligus sehingga ia merasa ada tekanan yang sangat tinggi.
Apa yang saya sarankan untuk ia lakukan? Mudah. Saya hanya minta klien ini melakukan meditasi setiap pagi sekitar 30 menit.
Waktu mendengar saran ini reaksinya adalah, “Lho, kok meditasi? Saya justru merasa kalau waktu saya ini sangat kurang. Saya berharap kalau bisa satu hari bukan 24 jam tapi 30 jam”.
Pembaca, mengapa saya menyarankan klien ini melakukan meditasi?
Alasannya begini. Saat kita (sangat) sibuk maka pikiran kita sangat aktif. Aktifnya pikiran tentu akan sangat menguras energi (psikis) kita. Pikiran yang aktif ini membuat tungku mental kita panas. Belum lagi emosi atau mood yang kurang kondusif akibat tekanan pekerjaan. Semua ini membuat diri kita lemah.
Jika diibaratkan gelas yang berisi air dan ada partikel atau pasir di dalamnya maka saat pikiran aktif yang kita lakukan adalah kita mengaduk-aduk isi gelas. Apa yang terjadi? Isi gelas akan menjadi keruh karena pasir akan naik .
Saat kita bermeditasi maka sebenarnya yang kita lakukan adalah mendiamkan isi gelas (baca: pikiran) dan memberikan waktu pasir untuk turun dan mengendap. Setelah itu air akan menjadi bening dan jernih. Saat itu pikiran kita menjadi segar dan kuat.
“Lho, bukankah untuk membuat pikiran kuat kita perlu sering-sering menggunakannya?”
Inilah pemahaman yang kurang tepat yang diyakini kebanyakan orang. Untuk membuat pikiran kuat maka kita perlu melatihnya. Melatih pikiran tidak sama dengan melatih otot tubuh. Ajahn Chah, guru meditasi dan spiritual yang sangat luar biasa, pernah berkata, “Menguatkan pikiran tidak dapat dilakukan dengan menggerakkannya seperti menguatkan tubuh , tetapi dengan membuatnya diam, beristirahat, tenang, dan hening.”
Mengapa kita perlu hening?
Ada sangat banyak manfaat yang bisa kita dapatkan. Saat hening sebenarnya kita mengistirahatkan pikiran dan melakukan charging aki psikis kita. Saat aki psikis kita terisi penuh, fully charged, maka menjadi tenang, dan pengendalian diri kita meningkat.
Saat aki psikis “penuh” maka kita tidak akan mudah goyah atau terprovokasi dengan berbagai kejadian yang kita alami. Ibarat sebuah gentong yang terisi penuh oleh air maka tidak akan mudah untuk bisa menggoyang gentong ini. Namun bila gentongnya kosong siapa saja akan sangat mudah menggoyang dan kalau perlu menggulingkan gentong ini.
Anda mungkin bertanya, “Pak, maksudnya “penuh” itu seperti apa?”
Nah, ini yang saya nggak bisa jelaskan karena anda perlu mengalaminya sendiri. Saat anda melakukan meditasi maka anda pasti akan bisa merasakan apa yang saya maksudkan. Saat kita “penuh” maka kita akan merasa puas dan nyaman.
Saat pikiran hening kita bisa melakukan sangat banyak hal. Stillness speaks. Ibu Teresa menggambarkan keheningan dan hubungannya dengan spiritualitas dengan pernyataan,”Tuhan adalah sahabat keheningan. Lihat bagaimana alam – tanaman, rumput tumbuh dalam keheningan; lihat bintang-bintang, bulan, dan matahari, bagaimana mereka bergerak dlaam keheningan. Kita butuh keheningan untuk menyentuh jiwa”.
Meditasi tidak hanya memberikan efek positif untuk diri kita namun juga untuk orang-orang di sekitar kita. Saat kita tenang, hening, dan damai maka kita akan menyebarkan vibrasi energi positif yang luar biasa. Dan sesuai dengan hukum LOA, likes attract likes, saat vibrasi energi kita positif maka kita akan menarik hal-hal, kejadian, situasi, orang, keadaan, sumber daya, atau apapun yang serupa dengan vibrasi kita.
Efek positif lainnya adalah bila kita sering bermeditasi dan berada di gelombang theta dan khususnya delta maka power kita akan meningkat luar biasa. Saya mendapat informasi ini dari Tom Silver saat saya belajar langsung dengannya. Saya bisa merasakan kharisma dan power yang ia pancarkan ke sekelilingnya. Saat saya bertanya, “Tom, how can you be so powerful?” Dengan tersenyum ia berkata, “The secret is in your delta. The higher amplitude of your delta, the more power you have.”
Wow… ini baru informasi berharga. Dan hal ini benar adanya. Saya sempat bertanya pada seorang kawan, yang kebetulan juga seorang pembicara publik dari Jakarta, “Pak, apa yang membedakan presentasi anda dengan rekan pembicara lain? Saya melihat materi anda sebenarnya bisa dibawakan oleh orang lain. Namun herannya efek yang anda ciptakan sangat berbeda dan lebih powerful, membekas di hati, dan sungguh luar biasa. Apa rahasianya?”.
Rekan ini dengan tersenyum dan berbisik, “Sstt… saya selalu melakukan “charging.” “Maksudnya?” kejar saya lagi. “Saya mendapat power yang luar biasa saat diam dalam hening. Ini saya lakukan setiap pagi” jawabnya.
Lalu, bagaimana kita melakukan meditasi?
Ada banyak cara melakukan meditasi. Meditasi adalah kondisi kesadaran, bukan teknik. Apapun teknik yang digunakan tidak penting. Yang penting adalah kita bisa masuk ke kondisi meditatif. Inilah yang saya pelajari dari Anna Wise.
Ada 40 objek yang bisa digunakan untuk meditasi. Dalam kesempatan ini saya menyarankan anda untuk menggunakan objek pikiran anda sendiri yaitu dalam bentuk imajinasi.
Berikut cara anda melakukan meditasi:
• Sediakan waktu untuk hening selama sekitar 30 menit.
• Pastikan anda tidak terganggu selama meditasi. Matikan HP atau telpon. Bermeditasilah di ruang yang tenang dan nyaman.
• Ambil posisi duduk yang nyaman. Tidak harus dalam posisi bersila. Lebih baik jika anda duduk santai di kursi, kaki menapak lantai, dan punggung anda bersandar.
• Putar musik lembut (jika ini bisa membuat anda lebih rileks).
• Tutup mata dan ciptakan suasana atau pemandangan alam yang sangat anda sukai. Tempat yang pernah anda kunjungi atau yang ingin anda kunjungi. Beradalah di tempat ini seorang diri dan rasakan perasaan nyaman, tenang, damai, dan bahagia. Gunakan semua indera anda untuk mengalaminya.
• Nikmati suasana ini selama yang anda inginkan.
• Jika sudah dirasa cukup, keluarlah dari kondisi meditasi dengan perasaan nyaman, damai, dan bahagia.
Kembali pada klien saya. Setelah melakukan saran saya dua hari kemudian ia mengirim sms yang berbunyi, “Selamat pagi Pak Adi. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa metode meditasi sederhana yang bapak ajarkan benar-benar dahsyat. It works. I mean it really works. So simple, so easy, and so effective. Sejak melakukan hal ini segala sesuatu di sekeliling saya tampak berubah begitu ramah, menyenangkan, dan enak tenan. Salam hangat…..”
So pembaca, bermeditasilah setiap pagi, minimal 30 menit. Masuklah ke dalam diri dan alami hal luar biasa yang tidak akan pernah bisa anda dapatkan di luar diri.
* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pakar pendidikan dan mind technology dan neuro-feedback, pembicara publik, dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis empat belas best seller “Born to be a Genius”, “Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success”, “Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?”, “Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication”, “Becoming a Money Magnet”, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, dan “Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring”, “Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian”, “Kesalahan Fatal Dalam Mengejar Impian 2, dan “Five Principles to Turn Your Dreams Into Reality”, The Secret of Mindset, Quitters Can Win, dan Quantum Life Transformation. Adi dapat dihubungi melalui facebook: Adi W. Gunawan, email adi@adiwgunawan.com, www.adiwgunawan.com,www.quantum-hypnosis.com ,dan www.QLTI.com
Telah di baca sebanyak: 9Cara Mudah Berbicara Dengan Part atau Bagian Diri
September 6, 2009 by admin
Filed under Adi W Gunawan

Sejak buku The Secret of Mindset beredar, khususnya edisi hardcover yang ada bonus CD Ego State Therapy, saya mendapat banyak respon mengenai pengalaman pembaca buku yang menggunakan CD ini untuk berdialog dengan diri sendiri.
Ada yang dengan mudah bisa langsung berbicara dengan Part atau Ego State mereka. Ada yang kadang bisa kadang nggak, sepertinya si Part ini agak “nakal”. Ada juga yang sudah mencoba berkali-kali tapi tetap belum bisa berkomunikasi dengan Part mereka.
Mengapa berbicara dengan Part ini gampang-gampang susah?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang sulit berkomunikasi dengan Part:
1. Perasaan Takut
Yang paling utama adalah perasaan takut karena berpikir bahwa yang ia ajak bicara adalah suatu entitas atau”makhluk” yang masuk ke dalam dirinya, seperti orang yang kerasukan. Padahal pandangan ini sungguh tidak tepat dan tidak berdasar.
Jika perasaan takut dan tidak nyaman ini muncul sebelum berbicara dengan Part maka bisa dipastikan tidak akan terjadi dialog sama sekali. Mengapa? Karena perasaan takut ini mem-block atau menghambat proses komunikasi.
Apa sih sebenarnya Part ini?
Part atau Ego State adalah Bagian dari diri kita. Bagian ini paling mudah diamati atau disadari kegiatannya saat kita baru bangun tidur. Biasanya akan ada dua Bagian Diri yang berdialog. Satu Bagian mau kita segera bangun.Satu Bagian lagi mau kita tetap santai berbaring lima menit lagi.
Dialog antar Bagian juga bisa dirasakan atau diamati saat kita hendak memutuskan sesuatu. Biasanya minimal akan ada dua Bagian yang saling berkomunikasi dan mengajukan argumentasi mereka masing-masing.
Jadi, anda jelas sekarang bahwa Part ini sebenarnya tidak lebih dari program pikiran yang ada di pikiran bawah sadar. Part beroperasi dengan pemikiran, memori, preferensi, logika berpikir, paradigma, keyakinan, nilai hidup, belief, sikap, perilaku, dan kebiasaan mereka yang unik.
2. Pikiran Kurang Rileks
Yang membuat pikiran sulit rileks adalah adanya perasaan takut. Alasan lainnya teknik rileksasi yang digunakan tidak tepat karena tidak sesuai dengan tipe sugestibilitas. Yang sulit berdialog dengan Part biasanya mereka yang (sangat) analitikal. Untuk mengatasi hal ini maka pikiran perlu dibuat rileks.
Mengapa pikiran perlu rileks?
Ceritanya begini. Biar mudahnya saya akan menggunakan analogi laut dan ikan paus. Ikan paus menghabiskan 90% waktunya di dalam air. Jadi mereka jarang sekali muncul ke permukaan. Kalaupun naik ke permukaan mereka hanya menyeburkan udara kotor dan menghirup udara segar. Setelah itu masuk lagi ke dalam laut.
Kita akan tahu ada ikan paus naik ke permukaan dari semburan air yang muncrat tinggi ke udara. Dari kejauhan kita tetap bisa melihat semburan ini. Tapi dengan satu syarat yaitu semburan hanya bisa dilihat bila laut dalam kondisi tenang. Namun bila saat itu laut sedang bergolak, ada gelombang besar, dan petir menyambar, atau bahkan badai, maka akan sangat sulit melihat semburan air yang dikeluarkan ikan paus.
Ikan paus ini sama dengan informasi yang berasal dari pikiran bawah sadar (theta) dan nirsadar (delta). Permukaan laut sama dengan beta. Bila beta sangat aktif maka pikiran bergolak. Bila saat pikiran bergolak dan ada banyak buah pikir (thought) atau bentuk-bentuk pikiran yang muncul dan tenggelam dengan cepat, dan misalnya pada saat itu ada informasi dari pikiran bawah sadar/nirsadar yang naik ke permukaan maka akan sulit dikenali. Namun bila pikiran kita tenang, beta kita rileks, maka kita bisa dengan mudah mengenali informasi yang muncul ke “permukaan”.
Lalu, apa sih sebenarnya yang terjadi saat kita berdialog dengan Part?
Saat berdialog maka kita mengajukan pertanyaan yang sangat spesifik, ini adalah aktivitas gelombang beta, dan pertanyaan ini selanjutnya turun dari beta melalui alfa, jembatan ke bawah sadar, masuk ke theta atau delta, dan dari sini akan ada jawaban yang muncul, dan melalui proses yang sama, naik ke alfa, terus ke beta, dan kita mendapatkan jawaban.
3. Pertanyaan yang Diajukan Tidak Spesifik
Banyak orang membuat kesalahan dengan mengajukan pertanyaan yang tidak spesifik, misalnya, “Mengapa saya kok belum sukses?”
Bila dilihat sepintas pertanyaan ini sepertinya sudah benar. Namun pikiran bawah sadar akan bingung. Mengapa? Karena sukses yang dimaksud di aspek yang mana? Apakah di aspek spiritual, finansial, relasi, emosi, fisik, mental, materi, atau apa?
Kalau pertanyaannya tidak spesifik maka akan ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, kita tidak akan mendapat jawaban. Kedua, jawaban muncul tapi tidak seperti yang kita harapkan.
Berbicara dengan Part sama dengan kita menghubungi satu perusahaan besar. Saat telpon masuk ke operator maka kita harus spesifik minta disambungkan ke divisi (Bagian) mana. Jika tidak maka kita bisa salah dihubungkan dengan Bagian yang tidak ada kepentingannya dengan keperluan kita. Dan saat sudah tersambung ke Bagian itu kita perlu mengajukan pertanyaan yang spesifik agar juga mendapat jawaban yang spesifik seperti yang kita inginkan atau butuhkan.
4. Berharap Mendengar Suara Bisikan
Pemahaman keliru ini yang sering dipegang banyak orang. Mereka berpikir bahwa berbicara dengan Bagian sama seperti mendengar ada suara yang dibisikkan ke telinga mereka. Jadi saat mereka mengajukan pertanyaan, mereka berharap jawabannya muncul dalam suara yang didengar oleh telinga mereka seperti kalau berbicara dengan seseorang.
Part berkomunikasi bukan dengan cara seperti ini. Part berbicara dengan menggunakan self-talk atau internal dialog. Suara ini “didengar” dari dalam, bukan dari luar. Ada yang menyebutnya dengan suara hati.
5. Merasa Gagal Karena Tidak Bisa Melihat Part
Ada juga yang merasa tidak bisa berkomunikasi dengan Part karena merasa tidak bisa melihat Part ini. Sebenarnya kita tidak harus atau perlu melihat Part. Kita bisa menggunakan “pendengaran dalam” atau perasaan kita. Jadi, tidak harus melihat wujud Part.
Bagi yang visual maka Part bisa muncul dalam bentuk tertentu. Namun bagi yang auditori maka cukup hanya mendengar Part bicara. Kalau yang kinestetik, gunakan perasaan untuk mengerti apa yang disampaikan Part.
6. Terlalu Berharap Bisa Berkomunikasi Dengan Part
Sikap yang terlalu berharap untuk bisa berbicara dengan Part justru akan menghambat proses komunikasi. Saat kita sangat ingin maka saat itu pula pikiran sadar kita sangat aktif. Hal ini berarti beta kita akan sangat tinggi. Dalam kondisi ini komunikasi dengan Part pasti sulit dilaksanakan.
7. Niat Kurang Kuat
Ini juga salah satu penyebab sulitnya komunikasi dengan Part. Saat kita kurang niat atau tidak serius maka pikiran bawah sadar tidak akan melayani permintaan kita untuk berkomunikasi dengan Part. Niat ini berfungsi sebagai drive untuk mendorong pertanyaan kita turun dari pikiran sadar ke pikiran bawah sadar dengan cepat dan efektif.
Sebelum berkomunikasi kita perlu meniatkan untuk bertemu dengan Part ini. Anda perlu spesifik sekali. Part yang mana yang ingin anda ajak berkomunikasi.
8. Memang Tidak Ada Masalah
Seringkali orang berpikir mereka punya masalah, padahal sebenarnya tidak. Jika ini yang terjadi maka saat kita hendak berkomunikasi dengan Part maka sudah tentu tidak ada komunikasi. Lha, memang nggak ada masalah kok cari-cari masalah? Mengapa harus memaksa ada jawaban padahal tidak ada jawaban itu sebenarnya adalah jawaban yang sesungguhnya?
Lalu, bagaimana caranya untuk berkomunikasi dengan Part?
Ada tiga cara untuk berkomunikasi. Pertama, anda hanya menggunakan modalitas auditori atau suara. Caranya sebenarnya sangat mudah. Coba tutup mata sejenak. Dan dalam kondisi ini bertanyalah kepada diri sendiri, cukup bertanya di dalam hati, “Siapa nama lengkap saya?”, dan nantikan jawabannya. Saat anda mendapat jawaban maka sebenarnya anda telah bisa berkomunikasi dengan Part anda.
Coba tanyakan lagi beberapa hal kepada diri anda sendiri dan nantikan jawabannya. Dengan anda mengenali cara Part anda berkomunikasi, bisa merasakan atau “mendengar” suara Part, maka selanjutnya anda bisa melakukan proses yang sama namun dengan mengajukan pertanyaan lain yang berhubungan dengan masalah anda.
Cara kedua adalah dengan membayangkan Part ini keluar dari tubuh anda, tentunya anda membayangkan atau melakukan visualisasi, Part berada di depan anda, dan selanjutnya anda bertanya kepadanya. Dalam hal ini anda menggunakan dua modalitas sekaligus yaitu visual dan auditori. Anda melihat bentuk Part dan mendengar jawabannya.
Cara ketiga adalah dengan hanya menggunakan perasaan. Saat anda bertanya kepada Part, tidak harus muncul gambar, tidak harus ada suara yang terdengar, yang penting rasakan “jawaban” dari Part. Cara ini sangat efektif digunakan oleh orang kinestetik.
Nah, kalau sudah mahir melakukan komunikasi dengan Part maka kita tidak harus masuk kondisi rileks dulu. Saya paling sering berkomunikasi dengan Part saat sedang mengendarai mobil. Pada saat ini pikiran sadar saya sedang sibuk memperhatikan jalan sehingga tidak menganggu proses komunikasi saya dengan pikiran bawah sadar. Selain itu saya juga menggunakan kesempatan saat meditasi di pagi hari untuk berkomunikasi dengan Part. Saat pikiran tenang, hening, dan rileks, maka saat itu adalah saat yang paling pas dan nyaman untuk berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar atau Part.
Namun jangan salah mengerti ya. Saya tidak setiap hari mencari Part untuk diajak komunikasi. Saya hanya melakukan bila dirasa perlu. Kalau sedikit-sedikit cari Part, sedikit-sedikit cari Part, cari Part kok sedikit… eh.. salah, maksud saya kalau terus-terusan cari Part maka ini namanya kurang kerjaan.
* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pakar pendidikan dan mind technology dan neuro-feedback, pembicara publik, dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis empat belas best seller “Born to be a Genius”, “Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success”, “Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?”, “Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication”, “Becoming a Money Magnet”, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, dan “Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring”, “Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian”, “Kesalahan Fatal Dalam Mengejar Impian 2, dan “Five Principles to Turn Your Dreams Into Reality”, The Secret of Mindset, Quitters Can Win, dan Quantum Life Transformation. Adi dapat dihubungi melalui facebook: Adi W. Gunawan, email adi@adiwgunawan.com, www.adiwgunawan.com,www.quantum-hypnosis.com ,dan www.QLTI.com











