Berani Saja Tidak Cukup
March 23, 2009 by admin
Filed under Agoeng Widyatmoko
Dalam beberapa kali seminar soal kewirausahaan, saya sering mendengar orang yang berkata bahwa modal utama usaha adalah keberanian alias kenekadan. Karena mendapat masukan semacam itu, otak saya pun terpacu untuk menjalankan berbagai usaha, dari sejak saya sekolah menengah atas (SMA), kuliah, dan bahkan ketika bekerja pada sebuah institusi. Usaha saya kala itu memang tergolong mikro. Skalanya memang tak besar. Tapi, modal yang saya keluarkan untuk beberapa usaha tersebut, dari jualan jam tangan, jualan aneka aksesoris, buka pengetikan komputer, broker cetakan, hingga event organizing (EO) tetap saja ukurannya cukup besar untuk kantong saya saat itu.
Asal berani dan asal ada peluang, saya pasti akan langsung maju dengan modal yang saya miliki. Hasilnya? Secara hitung-hitungan angka sangat tidak memuaskan. Tapi, secara hitung-hitungan “modal masa depan”, saya merasa tak rugi sama sekali. Tapi, sebagai manusia biasa, siapa sih yang tidak kecewa modal hilang begitu saja? Herannya, entah kenapa, suatu ketika seorang teman menawarkan sebuah peluang bisnis, karena di mata saya usaha itu cukup berprospek, tanpa memikir lagi saya invest modal saya. Dan, lagi-lagi saya kejeblos. Modal tak balik seperti harapan.
Tapi, anehnya, keberanian membuka usaha itu tak pernah surut. Hanya saja, kali ini saya lebih memakai perhitungan berdasar pengalaman. Hasilnya beberapa memang mulai menunjukkan grafik kenaikan. Meskipun, proses jatuh bangun it uterus saya alami.
Nah, berangkat dari pengalaman tersebut, saya hanya ingin berbagi. Jika setuju, silakan dipakai cara saya, kalaupun tidak, semua itu adalah hak Anda. Berbagai pengalaman tersebut membuat saya menyimpulkan beberapa hal berikut:
1. Berani butuh kekuatan mental
Jika tidak kuat mental dan tahan banting, jangan asal berani. Nekad alias berani kalau hasilnya tak sesuai harapan, akan sangat menyakitkan. Maka, hanya bagi yang kuat mental sajalah yang saya anjurkan untuk mengambil langkah berani ini. Tapi, bukan berarti nekad menjadi satu hal yang salah. Melainkan, nekadlah dengan perhitungan. Yang saya maksud penuh perhitungan di sini adalah saat berpikir ada peluang, jika punya kemampuan dan kemauan kuat, segera ambil tindakan (action). Sebab, kalau tanpa tindakan, sebagus apapun rencana, hanya akan tinggal harapan. Jadi, yang dihitung bukan soal kemungkinan untung rugi dan balik modalnya, melainkan asal punya keyakinan kuat tentang sebuah peluang, daripada hanya berhenti sebagai ide, kenapa tidak segera dieksekusi.
Tapi, kembali ke soal keberanian, perhitungan kita pun masih bisa meleset. Karena itulah, kembali ke soal mental. Hanya yang punya bekal mental tahan bantinglah yang akan berhasil melewati berbagai ujian di depan.
2. Berani butuh kecerdasan
Cerdas di sini adalah ketika kita sudah memutuskan terjun ke dunia entrepreneurship, kita harus mampu mengelola aneka sumber daya yang ada. Kadang, saat gagal, kita langsung patah semangat dan tak sadar hadirnya peluang besar di balik kegagalan itu. Padahal, dengan sedikit kejelian (baca: kecerdasan), pasti ada hal positif yang bisa dikerjakan dari kegagalan tersebut. Ini terjadi ketika sekolah penulisan yang saya dirikan bersama beberapa teman mengalami kekurangan murid. Dengan sedikit kejelian, ternyata tim kami justru berhasil meng-create sebuah program yang mendatangkan keuntungan lebih besar dibanding kelas regular pada umumnya.
3. Berani butuh pengorbanan
Pengorbanan di sini saya umpamakan dengan para martir di medan perang. Pengorbanan prajurit di barisan paling depan biasanya akan membuka jalan menuju kemenangan. Kalau istilah “kasar” saya, kita butuh “tumbal”. Saat hendak menjalankan sebuah bisnis, kadang kita perlu “mengorbankan” salah satu bisnis untuk menjaring bisnis yang lebih besar. Bukankah untuk menangkap ikan besar di laut kita tak bisa hanya menggunakan umpan cacing?
Cara berbisnis semacam ini lazim adanya. Seperti yang dilakukan oleh peritel besar yang memberikan harga diskon besar untuk satu dua produk yang laris di pasaran. Dengan memotong keuntungan dari produk tersebut, orang akan memunyai image bahwa retailer itu murah. Dengan begitu, meski produk lain lebih mahal, orang tetap merasa produk di sana lebih murah.
Sekali lagi, soal keberanian ini semata bukan hanya urusan nekad. Tapi, perlu juga menggunakan perhitungan yang matang. Jadi, masih nekadkah Anda?
*) Agoeng Widyatmoko, konsultan independen UKM, perencana pemasaran usaha keluarga, penulis buku best seller 100 Peluang Usaha. Ia bisa dihubungi melalui email agoeng.w@gmail.com atau telepon 021-30316708
Telah di baca sebanyak: 7Jangan Kebanyakan Mimpi…!
February 26, 2009 by admin
Filed under Agoeng Widyatmoko
Banyak orang yang mengatakan bermimpilah, sebelum mimpi itu dilarang. Ada juga yang menambahkan, mimpi aja, wong gratis… hehehe. Pesan yang terdengar bernada slenge’an itu sebenarnya mengandung makna yang sangat dalam. Sebab, banyak hal, banyak peristiwa, banyak kejadian, banyak orang besar dan sukses di dunia, mengawalinya dari sebuah mimpi. Impian mengubah dunia, impian meraih sukses, telah banyak mengantarkan orang-orang itu menjadi “somebody”, bahkan, ada yang from zero to hero!
Lantas, bagi kita sebagai pengusaha, mimpi seperti apa yang harus kita canangkan untuk kita raih? Tentu, siapa pun menginginkan sebuah gambaran kesuksesan yang berlipat-lipat. Perusahaan bisa beranak pinak, dan, kalau bisa menghidupi tujuh turunan. Sebuah impian yang sangat indah bukan?
STOP!!! Tapi, sebelum Anda bermimpi lebih jauh, izinkan saya menghentikan mimpi indah Anda. Mengapa? Sebab, dari banyak kasus, bahkan saya sendiri pernah mengalami, mimpi indah itu kadang hanya jadi mimpi belaka. Malah, kadang itu menjadi sesuatu yang membebani kita. Pernah, suatu ketika, saya berangan-angan untuk membesarkan salah satu unit usaha saya. Waktu itu, saya melihat sebuah peluang cukup besar yang tak bisa dilewatkan.
Sayang, ternyata ambisi dan impian saya tak bertemu dengan kenyataan. Modal hilang, bisnis pun bahkan ikut melayang. Impian yang pernah saya bangun dengan sebuah harapan akan mendapatkan untung besar, amblas begitu saja. Dan, rupanya, banyak orang yang berdiskusi maupun berkonsultasi dengan saya, mengalami hal yang sama. Pengennya meraih impian, dapatnya malah kesulitan.
Sebenarnya saat ini, membuka bisnis seolah memang sangat mudah, layaknya membalik telapak tangan saja. Jika punya modal, beraneka jenis franchise dengan aneka jenis bidang usaha mudah kita jumpai di mana saja. Tinggal bayar, lihat manualnya, kita bisa langsung membuka bisnis yang kita dambakan. Mudah dan cepat, sangat instan.
Tapi, apakah semudah itu? Tentu tidak. Banyak sekali orang-orang yang membeli waralaba tak berkembang usahanya. Tidak hanya satu dua. Yang kemudian bahkan tutup alias bangkrut juga banyak. Jika sudah begini, pelajaran apa yang bisa kita petik?
Satu hal yang ingin saya sharing-kan. Yakni, jangan kebanyakan mimpi! Mengapa? Mimpi yang terlalu besar, mimpi yang terlalu muluk, bisa jadi hanya akan jadi impian di siang bolong jika tak disertai dengan usaha keras, dan kerja dari hal-hal yang kecil dan ringan dulu. Bukankah seribu mil jarak pun ditempuh dari satu dua langkah terlebih dahulu?
Inilah kunci utama bagi kita yang ingin memulai bisnis. Mulai dari yang kecil-kecil, mulai dari kemampuan kita. Tentu, ukuran kecil ini sangat relatif. Namun, yang ingin saya bagikan di sini sebenarnya adalah tentang apa yang harus kita lakukan di awal saat membuka usaha. Sebuah kisah dari rekan saya yang berjualan siomay ini mungkin bisa jadi sebuah contoh.
Saat mengawali, ia membuka usaha siomay dengan berjualan keliling dengan dua sepeda. Satu dijalankan oleh dirinya, dan satu lagi dijalankan oleh adiknya. Dalam sehari, kedua sepeda itu mampu menjual minimal 100 porsi dengan harga per porsi 4000. Ini berarti, saat itu, setidaknya, dari dua sepeda, mereka membukukan keuntungan kotor mencapai 800 ribu per hari! Padahal, modal membuat siomaynya, menurut penuturan rekan saya itu tak sampai 300 ribu. Terbayang kan berapa keuntungannya per bulan?
Kini, dengan keuntungan itu, ia sudah mengembangkan armadanya menjadi 12 sepeda dengan wilayah penjualan lebih luas. Dan, kini ia tak lagi ikut berjualan, ia hanya perlu mengontrol kualitas rasa dan kebersihan armada penjualannya. Maka, dengan 12 sepeda itu, jika masing-masing penjualan, katakanlah sama, yakni 100 porsi per sepeda, berapa penghasilannya?
Tak perlu repot berpikir. Yang ingin saya sampaikan adalah, bahwa dengan usaha yang kecil dan sesuai kemampuan pun, sebuah usaha bisa menghasilkan keuntungan yang luar biasa. Tak salah memang jika kemudian kita bermimpi membesarkan usaha, tapi, akan jauh lebih baik jika kita bangun dan beraksi sesuai kemampuan.
Bagaimana? Siap bangun dari mimpi dan merealisasikannya saat ini? Mulailah dari yang kecil, yang kita bisa, sesuai kemampuan, dilandasi kesenangan, disertai tekad dan semangat pantang menyerah, maka impian, bukan lagi sekadar khayalan….
*) Agoeng Widyatmoko, konsultan independen UKM, perencana pemasaran usaha keluarga, penulis buku best seller 100 Peluang Usaha. Ia bisa dihubungi melalui email agoeng.w@gmail.com atau telepon 021-30316708
Telah di baca sebanyak: 17Rahasia Pensiun Muda, Kaya Raya, Dan Bahagia
February 12, 2009 by admin
Filed under Adi W Gunawan, Agoeng Widyatmoko
Pensiun muda, kaya raya, dan bahagia adalah idaman setiap orang. Siapa yang mau kerja sampai tua tapi tetap miskin dan menderita? Ada orang yang setelah menetapkan goal mereka dapat mencapai goal itu dengan cukup mudah. Ada yang perlu kerja sedikit lebih keras… dan akhirnya berhasil. Namun ada juga yang telah bekerja sangat keras tetap belum bisa berhasil.
Sebenarnya apakah sulit untuk bisa pensiun muda, kaya raya, dan bahagia? Ah, nggak. Justru sangat mudah.
Jika memang sangat mudah mengapa banyak orang tidak bisa mencapainya? Nah, inilah alasannya saya menulis artikel ini.
Jawaban singkatnya sederhana sekali. Ini semua bergantung pada definisi sukses yang mereka tetapkan untuk diri mereka.
Lho, maksudnya?
Begini ya. Banyak orang tidak menetapkan secara sadar arti sukses bagi diri mereka. Umumnya orang, termasuk saya juga dulunya, mengadopsi sukses berdasarkan definisi atau kriteria orang lain. Itulah sebabnya bila kita bertanya kepada orang, “Apa yang ingin anda capai dalam hidup?”, mereka akan menjawab, “Sukses”. Kalau kita kejar lagi, “Sukses seperti apa?”, maka umumnya mereka akan menjawab, “Mencapai kebebasan waktu dan uang” atau “Pensiun dini”. Yang paling keren adalah jawaban, “Muda kaya raya, tua foya-foya, mati masuk surga”.
Dulu saya juga ingin sukses seperti di atas. Namun sekarang saya mengerti. Sukses bukanlah seperti yang didefinisikan kebanyakan orang. Kita harus menetapkan sendiri definisi sukses. Saya mendefinisikan sukses sebagai perjalan diri berdasar peta sukses yang kita rencanakan sendiri dengan kesadaran kita saat itu.
Di sini ada dua komponen penting. Pertama, sukses adalah perjalanan yang dilakukan berdasarkan peta sukses. Kedua, peta sukses ini kita rencanakan sendiri dengan kesadaran kita saat itu.
Peta sukses ini adalah impian-impian yang ingin kita capai dalam hidup. Impian harus memenuhi dua syarat utama yaitu harus bersifat personal dan bermakna. Dan yang lebih penting lagi adalah kita menetapkan impian dengan menggunakan kesadaran kita pada saat itu.
Hal ini berarti seiring dengan berkembang dan meningkatnya kesadaran diri maka kita perlu melakukan update impian-impian kita. Ada yang perlu kita tambah dan ada yang perlu kita hapus dari daftar.
Mengapa sampai perlu dihapus dan ditambah? Karena seringkali apa yang dulu kita anggap penting ternyata sekarang sudah tidak penting lagi. Apa yang dulu kita anggap personal dan bermakna ternyata sekarang sudah tidak bermakna lagi karena level kesadaran kita telah berkembang. Sebaliknya apa yang dulu tidak terpikirkan oleh kita, eh… sekarang malah sangat penting untuk kita capai.
Impian harus ditetapkan dengan mengacu pada nilai-nilai hidup (value) tertinggi kita. Tidak asal ditetapkan seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Saat impian sejalan dengan value maka impian ini berisi muatan emosi positif yang tinggi. Emosi positif ini selanjutnya akan menjadi pendorong, motivator, dan sekaligus provokator sehingga kita akan selalu semangat melakukan kerja atau upaya untuk mencapainya.
Pencerahan lain yang saya dapatkan adalah kita perlu hati-hati menetapkan makna kata “pensiun”. Mengapa? Karena ada begitu banyak orang sulit mencapai kebebasan waktu dan uang yang mereka impikan karena mereka dihambat oleh kata “pensiun”.
Lho, kok bisa begitu?
Begini ya. Manusia berpikir dengan menggunakan dua pikiran yaitu pikiran sadar dan bawah sadar. Pensiun diartikan sebagai sesuatu yang indah, kebebasan uang dan waktu, ini kan baru kita dapatkan setelah kita dewasa. Apalagi setelah membaca bukunya Robert Kiyosaki Cashflow Quadrant.
Pensiun menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) artinya: 1) tidak bekerja lagi karena masa tugasnya telah selesai, dan 2) uang tunjangan yang diterima tiap-tiap bulan oleh karyawan sesudah ia berhenti bekerja atau oleh istri (suami) dan anak-anaknya yang belum dewasa kalau ia meninggal dunia. Definisi pensiun di atas nggak terlalu bagus, kan?
Nah, bagaimana dengan makna “pensiun” menurut orang di sekitar kita? Berbeda dengan definisi KBBI di atas, dari hasil programming saat kita masih kecil umumnya kata “pensiun” mempunyai arti “berhenti bekerja”, “uang pas-pasan”, “nganggur karena sudah nggak ada kerjaan”, “tidak punya kekuasaan”, “tidak dihargai orang”, “tua dan lemah”, atau “melewati hari-hari yang membosankan”. Hal ini ditambah lagi ada banyak contoh orang yang pensiun dari jabatan tertentu eh.. dua tahun kemudian meninggal.
Jadi, tanpa kita sadari ada muatan emosi negatif yang cukup tinggi yang melekat pada kata “pensiun”. Emosi negatif ini bekerja di level pikiran bawah sadar dan tanpa kita sadari justru menjadi mental block yang menghambat upaya kita.
Langkah awal untuk pensiun adalah melakukan definisi ulang makna kata “pensiun”. Dan pastikan makna ini benar-benar masuk dan tertanam dengan kuat di pikiran bawah sadar kita.
Anda mungkin tidak percaya dengan apa yang saya jelaskan di atas, bahwa apa yang kita pikirkan secara sadar belum tentu sejalan dengan pikiran bawah sadar. Bila sampai terjadi konflik antara pikiran sadar dan bawah sadar maka yang selalu menang adalah pikiran bawah sadar.
Ini saya beri contoh nyata. Seorang kawan, sebut saja Budi, adalah anak muda yang sangat aktif dan percaya diri. Budi punya impian besar. Ia ingin jadi orang sukses. Budi menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Ia serius mengembangkan dirinya dengan membaca sangat banyak buku pengembangan diri, bisnis, keuangan, ekonomi, dan mengikuti berbagai seminar di dalam dan luar negeri. Budi telah mengikuti pelatihan semua pembicara top Indonesia. Di luar negeri Budi, antara lain, mengikuti pelatihan Anthony Robbins dan Robert Kiyosaki.
Setelah dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh Budi akhirnya memilih fast track menjadi orang kaya dengan menjadi pengusaha properti. Budi sadar sesadar-sadarnya bahwa, seperti ilmu yang ia dapatkan dari berbagai pelatihan yang ia ikuti, untuk bisa sukses finansial tidak perlu modal besar. “You don’ need a lot of money to make a lot of money”, ini mantra yang selalu ia sampaikan pada saya, “ Yang penting sikap, keyakinan diri, dan antusiasme”. Namun setelah mencoba sekian lama Budi masih tetap belum bisa berhasil. So, what’s wrong? Some thong wring… eh.. salah… some thing wrong.
Apa yang menjadi penghambat Budi?
Pikiran sadar Budi yakin bahwa tidak perlu uang banyak untuk sukes secara finansial. Namun pikiran bawah sadarnya berkata sebaliknya. Budi belum bisa sukses karena, menurut pikiran bawah sadarnya, tidak punya modal banyak. Hal ini semakin diperparah lagi dengan satu program pikiran yang ia dapatkan dari ayahnya yaitu kalau berbisnis tidak boleh mengambil untung banyak karena pelanggan bisa lari ke orang lain.
Saat keluar dari kondisi relaksasi pikiran dan diajak berdiskusi mengenai mental blocknya Budi sempat bingung. Ia berkata, “Ini benar-benar nggak masuk akal. Saya sudah yakin seyakin-yakinnya kalau mau sukses nggak perlu modal besar, eh… pikiran bawah sadar saya berkata sebaliknya. Makanya susah sekali untuk sukses. Rupanya saya disabotase pikiran saya sendiri. Padahal saya yakin sekali lho dengan apa yang diajarkan Kiyosaki.”
Nah, pembaca, anda jelas sekarang?
Kembali ke definisi kata “pensiun”, saya mendefinisikan pensiun bukan dari ukuran kebebasan waktu dan uang yang saya capai. Saya mendefinisikan pensiun sebagai melakukan sesuatu dengan pikiran tenang dan hati yang damai.
Nah, untuk bisa mencapai pikiran yang tenang dan hati yang damai, saat melakukan suatu kegiatan,pekerjaan, atau bisnis, maka saya perlu menetapkan syarat-syarat yang spesifik. Istilah teknisnya “rule” atau aturan.
Saya menetapkan syarat antara lain: 1) saya suka melakukan pekerjaan itu, 2) semakin saya melakukannya maka semakin diri saya bertumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik, 3) apa yang saya lakukan mempengaruhi hidup orang banyak secara positif, 4) saya menentukan harganya, 5) saya bisa melakukannya di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja, 6) tidak perlu banyak karyawan, 7) gudangnya ada di otak dan komputer saya,
saya bersedia tidak dibayar melakukan apa yang saya lakukan, 9) sejalan dengan tujuan hidup saya, 10) bisa diwariskan atau diteruskan oleh anak.
Jika anda baca dengan saksama maka syarat yang saya tetapkan di atas sebenarnya menjelaskan satu hal yaitu passion. Namun juga jangan salah mengerti ya. Jika hanya berbekal passion saja tidak cukup untuk sukses. Passion harus didukung oleh strategi yang jitu dan terarah.
Ada klien saya yang hanya mengandalkan passion saja, walaupun saya tahu ia orang yang sangat kompeten di bidangnya, ternyata harus mengalami kegagalan beruntun di dalam bisnisnya. Waktu saya tanya, “Strategi apa yang akan anda gunakan dalam memasarkan produk anda?”, jawabnya enteng, “Nggak usah pake strategi macam-macam. Pokoknya saya senang melakukan apa yang saya lakukan. Hasilnya pasti akan bagus. Nanti akan sukses dengan sendirinya”.
Apa yang terjadi? Benar di awal bisnisnya pesanan sangat banyak. Namun karena tidak didukung dengan perencanaan yang matang, klien ini harus kalang kabut untuk memenuhi pesanan produknya. Akibatnya, quality control terabaikan. Dan ending-nya, bisnisnya bubar karena banyak klien kecewa dan menolak melanjutkan kerjasama.
Defisi lain yang perlu kita tetapkan dengan sangat hati-hati adalah makna kata “kaya”. Apa ukurannya sehingga seseorang disebut sebagai orang kaya?
Masyarakat umumnya mengukur dari jumlah rupiah yang dimiliki seseorang. Semakin banyak rupiahnya maka semakin kaya orang itu. Apakah benar seperti ini?
Jawaban ini benar, untuk ukuran kebanyakan orang. Namun untuk diri kita sendiri, kita perlu menetapkan definisi yang personal. Kaya sebenarnya tidak ada hubungannya dengan jumlah rupiah. Kaya sebenarnya lebih ditentukan oleh perasaan cukup.
Apa maksudnya?
Begini, ada banyak orang yang sangat kaya (uangnya banyak sekali) namun sebenarnya ia hidup dalam kemiskinan. Juga ada sangat banyak orang yang miskin (uangnya sedikit sekali) namun mereka sangat kaya.
Seorang kawan dengan sangat bijak pernah berkata, “Orang kaya itu adalah orang miskin yang kebetulan uangnya banyak. Sedangkan orang miskin itu adalah orang kaya yang kebetulan uangnya sedikit.”
Lho, kok dibolak-balik?
Kaya atau miskin ini lebih ditentukan oleh perasaan cukup. Saat kita merasa cukup, kita puas dengan apa yang kita miliki, maka pada saat itu kita telah menjadi orang kaya.
Kita bisa kaya tanpa harus punya uang sangat banyak. Sebaliknya, walaupun kita punya isi seluruh dunia, namun bila kita masih tetap saja merasa kurang maka sebenarnya kita adalah orang miskin. Bahkan John D. Rockefeller JR., berkata, “Orang termiskin yang aku ketahui adalah orang yang tidak mempunyai apa-apa kecuali uang”.
Kaya raya ukurannya semata-mata hanyalah suatu perasaan. Dan karena parameternya adalah perasaan maka hal ini sangatlah subjektif. Setiap orang punya takaran sendiri. Kita tidak boleh menggunakan takaran orang lain untuk mengukur diri kita. Demikian pula sebaliknya kita tidak boleh menggunakan takaran kita untuk mengukur orang lain.
Nah, sekarang bagaimana menjadi bahagia?
Jika kita melakukan pekerjaan atau bisnis dengan hati gembira, karena sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan hidup kita, dan menjadi kaya berdasarkan perasaan cukup yang kita tetapkan sendiri, dengan penuh kesadaran, maka hasil akhirnya kita pasti bahagia.
Saya pernah ditanya seorang peserta seminar, “Pak Adi, kalau memang Bapak sedemikian hebat, mengerti otak-atik pikiran, bisa membantu seseorang berubah dan sukses, mengapa Bapak tidak mendirikan banyak perusahaan dan menjadi milyuner? Atau mengapa Bapak tidak mencoba menjadi presiden RI?”.
Menjawab pertanyaan peserta ini saya menjelaskan dua hal. Pertama, saya tidak pernah mengklaim diri saya sebagai orang hebat. Saya hanyalah seorang pembelajar di Universitas Kehidupan yang kebetulan mengambil spesialisasi jurusan teknologi pikiran. Saya belajar dan praktik lebih dulu dari peserta itu. Jika kita sama-sama belajar, bisa jadi peserta itu jauh lebih pintar dari saya.
Kedua, saya tidak akan mau mendirikan perusahaan besar ataupun jadi presiden RI. Sebenarnya sekarang pun saya adalah seorang presiden, Presiden Direktur di perusahaan Kehidupan saya sendiri. Alasan lainnya saya telah menentukan tujuan hidup saya, yang didasarkan pada nilai-nilai hidup saya. Saya punya parameter yang sangat subjektif yang digunakan untuk mengukur keberhasilan hidup saya. Salah satunya adalah ketenangan pikiran dan kedamaian hati.
Nah pembaca, nggak susah kan untuk bisa pensiun muda, kaya raya, dan bahagia?
Kalau mati masuk surga, wah ini urusannya sama Tuhan. Saya nggak berani komentar.
Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pakar pendidikan dan mind technology,pembicara publik, dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis dua belas best seller “Born to be a Genius”, “Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success”, “Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?”, “Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication”, “Becoming a Money Magnet”, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, dan “Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring”, “Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian”, “Kesalahan Fatal Dalam Mengejar Impian 2, dan “Five Principles to Turn Your Dreams Into Reality”, dan The Secret of Mindset . Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com dan www.adiwgunawan.com , www.QLTI.com
Telah di baca sebanyak: 39Jangan Percayai Informasi!
February 12, 2009 by admin
Filed under Agoeng Widyatmoko

Alkisah, ada sebuah perlombaan di sebuah desa. Lomba khas 17 Agustusan itu salah satunya adalah panjat pinang. Tapi, ada yang istimewa sore itu. Pinangnya kali ini diolesi cairan yang sangat sangat licin, yang katanya, tak mungkin dipanjat. Karena itu, hadiah yang diberikan terhitung besar. Uang jutaan! Sang panitia berani memberikan hadiah sebesar itu karena merasa yakin tak ada yang bisa memanjat pinang tersebut.
Sampai sore, memang tak ada satu pun peserta yang berhasil. Berbagai cara ditempuh, seperti mengoleskan pasir ke tubuh, hingga mengoleskan lem superkuat untuk merekatkan diri pada pinang. Setelah hampir tak ada yang berhasil, serombongan orang datang untuk mencoba. Karena sejak pagi tak ada yang berhasil, maka orang-orang pun menyoraki rombongan tadi. “Hoiii… percuma kalian mencoba. Pasti gagal, pinangnya licin sekali…!”
Tapi, rombongan tersebut tetap bergeming. Mereka pun mulai mencoba dan mencoba lagi, pantang menyerah. Semakin dicoba, semakin lama mereka disoraki. “Sudaah…menyerah saja… percumaaa….” Tapi, mereka terus mencoba. Satu sama lain saling bahu membahu mengangkat rekannya. Begitu jatuh, mereka coba lagi. Dan… akhirnya, menjelang Magrib, yakni batas waktu panjat pinang yang diberikan panitia, salah satu dari mereka berhasil! Uang jutaan pun berhasil mereka dapatkan.
Maka, beramai-ramai mereka dielukan warga. Hingga, kemudian ada yang menanyakan resepnya, bagaimana mereka berhasil. “Hai, apa rahasia kalian sehingga bisa berhasil mencapai puncak?”
Saat ditanya mereka diam saja. Sampai beberapa kali, sehingga ada yang jengkel. “Kalian sombong sekali, dengar tidak sih! Kok ditanya diam saja?”
“Oh, sebentar. Maaf. Anda tanya apa? Sebentar, kami copot dulu kapas di telinga ini. Maaf, tadi tidak dengar karena telinga kami ganjal dengan kapas ini. Sebab, kalau kami tadi tidak pasang kapas ini, kami yakin pastilah banyak orang yang akan membuat kami ciut dan patah semangat. Sebab, kami tahu, makin banyak yang mengatakan informasi negatif pada kami, maka semangat kami untuk bisa sampai puncak bisa luntur. Nah, tadi apa pertanyaan Anda?” jawab ketua rombongan tersebut.
***
Kisah di atas memang hanyalah sebuah cerita fiksi. Tapi, memang senyatanya, kadang kala ketika kita menerima informasi, terutama yang bersifat negatif, hati ini bisa ciut tiba-tiba. Keberanian bisa hilang dan semangat pun kadang langsung luntur. Nah, jika sudah begini, haruskah kita memercayai informasi?
Saya pernah punya pengalaman ketika masuk ke sebuah tender proyek pemerintahan. Isunya, hmm…sangat menakutkan. Potong sana potong sini. Belum untuk ini dan itu. Intinya, kalau masuk ke proyek itu—dan menang—untung yang bisa didapat pun akan habis terkena potongan sana sini. Kalau Anda jadi saya, apa yang akan Anda lakukan?
Tapi, entah kenapa, saat itu saya memilih maju terus. Bayangan soal “ganasnya” potongan yang akan saya dapat dari proyek itu saya hilangkan. Toh, kalaupun memang begitu kenyataannya, setidaknya, saya sudah punya pengalaman nyata yang pasti akan bisa saya manfaatkan untuk langkah usaha saya selanjutnya. Intinya, saya tutup kuping. Semua informasi yang saya dapatkan tentang pekerjaan itu—yang negatif—saya “sulap” (baca: hilangkan) dari benak saya. Bagaimana selanjutnya yang terjadi? Biarlah saya biarkan Anda cari pengalaman sendiri. Karena bisa jadi informasi berdasar pengalaman yang saya dapatkan, akan berdampak negatif maupun positif.
Apa yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini sebenarnya adalah bagaimana kita menyikapi informasi yang diterima. Baik buruk, positif negatif, sebenarnya kita sendirilah yang memilihnya. Coba bayangkan bagaimana jika seorang Tirto Utomo mundur langkah hanya karena cibiran orang-orang yang mencemoohnya saat akan menerjuni bisnis air dalam kemasan. Barangkali, hari ini kita semua tidak akan mengenal Aqua sebagai merek minuman dalam kemasan sebagai merek unggulan.
Bayangkan pula seorang Steve Jobs jika ia menerima mentah-mentah soal vonis kematian yang akan segera menghampirinya. Barangkali, ia akan benar-benar meninggal sehingga Apple Computer dengan berbagai produknya, iMac, iPod, dan lainnya, tak kan ada hingga kini.
Kedua tokoh tadi, Tirto Utomo dengan Aquanya dan Steve Jobs dengan Apple Computer-nya memang berbeda kasus dalam menerima informasi. Yang satu informasi berupa cibiran kalau usahanya akan sia-sia belaka. Satunya lagi informasi soal kehidupan yang tinggal sesaat. Tapi, keduanya adalah informasi bermuatan negatif, yang jika dituruti dan diamini, maka tak kan ada sejarah Aqua dan Apple seperti saat ini. Nah!
Jadi, apakah yang harus kita lakukan dengan informasi yang selalu terngiang di sekitar kita? Betapa ribuan bahkan jutaan informasi dengan mudah kita dapatkan. Dari media elektronik maupun non elektronik, termasuk yang Anda baca kali ini. Apakah lantas harus diacuhkan sama sekali?
Semua itu sebenarnya perlu dikembalikan kepada diri kita masing-masing. Bagi Anda yang menjadi pengusaha, barangkali informasi seperti keruntuhan ekonomi dan krisis global yang melanda Amerika belakangan tentu harus pula diwaspadai. Turunnya nilai rupiah terhadap mata uang asing pun tentunya juga harus diketahui, terutama bila kita menjalani bisnis ekspor impor.
Saya pribadi, hingga kini masih sering baca surat kabar dan menonton televisi. Internet juga selalu menjadi sumber informasi terkini yang terus saya pantau. Tapi, semua itu memang kemudian saya pilah dan pilih, mana yang akan saya pakai sebagai berita untuk menentukan apa yang akan saya lakukan selanjutnya demi kelangsungan bisnis saya. Intinya, gali informasi bukan untuk ditakuti, tapi untuk dipahami dan dimengerti guna mendasari tindakan positif atas apapun yang kita lakukan.
Tips sederhana yang saya lakukan untuk menyaring semua informasi yang saya terima berikut, barangkali bisa menjadi bahan renungan bersama.
1. Gali informasi dari sudut pandang yang berbeda.
Saat mendapat informasi yang kurang menyenangkan, biasanya yang pertama saya lakukan adalah mengonfirmasi, benarkah berita tersebut? Kalau benar dan memang kurang menyenangkan, saya akan mencoba mencari makna dan hikmah di baliknya. Misalnya informasi seputar tender proyek pemerintah seperti pengalaman di atas. Saya memilih menggali lagi informasi yang mendalam. Dan, ternyata saya menemukan bahwa uang administrasi memang diperlukan, tapi bukan untuk menghalangi dan mengurangi rezeki, melainkan untuk mempermudah dan memperlancar proyek-proyek selanjutnya.
2. Terima informasi sebagai sumber pengetahuan saja.
Kalau memang informasi dirasa sebagai sebuah kepahitan, misalnya dengan kondisi naiknya bunga bank, jadikan hal itu sebagai sumber informasi saja. Misalnya, untuk sebuah proyek saya harus meminjam uang di bank Rp200 juta. Saat pinjam, saya diberi bunga 10%, tapi ketika krisis menghantam, bunganya naik jadi 15% per tahun, alias saya harus membayar cicilan plus bunga setahun Rp30 juta. Jika biasanya saya akan terkejut dan marah, saya lebih memilih fokus pada bagaimana usaha itu bisa memberikan hasil yang lebih maksimal di atas nilai uang dan bunga yang harus saya kembalikan. Memang, untuk melakukan hal ini perlu proses dan waktu, tapi pilihan untuk mencari sudut pandang yang berbeda dengan tidak terlalu memikirkan informasi “menyakitkan” tersebut memang bisa lebih membuat saya rileks dan akhirnya mendapat jalan keluar yang—kadang—tak terduga-duga.
3. Perkuat mental, lapangkan hati, dan bukalah pikiran, saat menerima informasi.
Informasi apapun, sebenarnya pasti akan ada gunanya, bahkan sepahit apapun itu. Sebab, pastilah ada makna di balik berita yang barangkali memang perlu kita gali terlebih dahulu. Karena itu, dengan berusaha memperkuat mental, melapangkan hati, dan membuka pikiran, kita akan terbiasa dengan apapun informasi yang diterima. Kalau baik, kita akan maksimalkan informasi sebagai modal untuk melakukan tindakan. Sebaliknya, kalau pun kurang baik, maka dengan bekal mental, pikiran, dan hati tersebut, kita akan bisa lebih menerima dan mengubahnya menjadi sebuah pelajaran positif yang juga akan berguna. Bukankah kita tahu rasa manis kalau ada pembanding berupa rasa pahit?
Jadi, masihkah Anda harus memercayai informasi?
Agoeng Widyatmoko, adalah penulis dan pebisnis di bidang jasa penulisan, iklan, dan event. Ia dapat dihubungi melalui email: agoeng.w@gmail.com atau SMS ke 0812 895 0818
Telah di baca sebanyak: 6Antara Perkawanan dan Bisnis
February 12, 2009 by admin
Filed under Agoeng Widyatmoko

Dulu, saya sering sekali mendengar ucapan orang yang diucapkan dengan nada slenge’an. Ungkapan itu berbunyi: “Bisnis ya bisnis, teman ya teman…” Ucapan itu disampaikan saat seorang rekan menawar harga barang yang ditawarkan oleh rekan yang lain. “Kok mahal amat? Kita kan udah lama berkawan, diskon yang gede doong,” ujar rekan yang satu. Sambil meringis, rekan satu lagi segera menyahut, “Aku kan beli ini bukan pakai uangmu kawan, dan bukan pula dibayar dengan perkawanan. Tapi, murni pakai uang…”
Kadang, kita memang menemukan kondisi seperti kisah rekan saya di atas. Karena alasan pertemanan, sebuah bisnis atau usaha, bisa berjalan lancar, tapi juga sebaliknya. Kalau lancar, kadang orang kemudian mengindikasikannya dengan nepotisme. Kalau tidak lancar, kadang bisa merusak persahabatan. Nah, serbasusah kan?
Belakangan, saya getol memaksimalkan potensi orang-orang yang ada di sekeliling saya untuk membantu melancarkan usaha. Dalam artian positif tentunya. Rekan yang bisa urusan desain, saya maksimalkan potensinya untuk menggarap pekerjaan yang berbau desain grafis, mulai dari bikin iklan, brosur, hingga ke banner dan poster. Yang jago menulis, saya kerahkan untuk menulis di beberapa website dari klien-klien saya. Kemudian yang jago web dan program, saya serahi pula tanggung jawab untuk mengerjakan beberapa karya untuk klien-klien saya.
Sampai di sini, semua tak ada masalah. Semua senang. Saya mencarikan order dan proyekan, dan mereka mendapat banyak tambahan penghasilan tanpa harus pontang-panting mencari orderan pekerjaan. Klop! Maka, tak heran, sekian tahun lamanya, usaha ini berjalan makin mulus. Semua terpuaskan. Dari sisi klien saya pun, mereka merasa mendapatkan layanan yang cepat dan handal, serta tentunya berkualitas. Sebab, untuk satu hal ini—soal kualitas—saya bisa jadi seorang yang cukup galak.
Tapi, tahukah Anda, bahwa proses menjadi galak itu tak gampang loh. Dan, inilah yang akan saya bagikan kepada Anda sekalian. Saat awal menjalani bisnis jasa ini—saya bergerak di bidang jasa komunikasi, penulisan, dan event—semua memang tampak berjalan mulus-mulus saja. Rekanan yang saya dan istri pilih, mampu memberikan hasilnya yang maksimal. Dari soal desain, tulisan, hingga ke event yang kami kerjakan, seolah berjalan normal dan nyaris tak ada gesekan.
Padahal, sesungguhnya, me-manage orang lain—apalagi sudah kenal akrab dan dekat itu kadang susahnya minta ampun. Mau dikerasi, takut merusak persahabatan. Terlalu lembut, kadang justru melenakan. Nah, mencari jalan tengah inilah yang kadang perlu manajemen diri dan emosi yang mumpuni.
Pernah, suatu ketika ada klien yang komplain tentang hasil pekerjaan yang dilakukan. Seharusnya, ini hal yang biasa. Bukankah kritik dan masukan itu justru bagus untuk perbaikan? Tetapi, jika kemudian hal ini menyangkut dengan profesionalitas kerja rekanan yang sudah dekat (baca: sangat dekat) dengan kita, kadang untuk menyampaikan hal ini menjadi sulit. Sungkan, tak enak hati, takut merusak pertemanan, semua hal ini menjadi kendala yang jika tak segera diatasi, justru akan merusak pertumbuhan usaha itu sendiri.
Nah, berkaitan dengan hal ini, ada beberapa hal yang pernah kami lakukan. Barangkali, ini akan berguna juga bagi yang mengalami masalah yang sama.
1. Buat perjanjian hitam di atas putih. Meski teman dekat, adanya perjanjian tentang hak dan kewajiban yang tertulis dan disepakati bersama akan lebih memudahkan bagi kita jika kelak ada masalah.
2. Sejak awal, pisahkan antara urusan pekerjaan dan pertemanan. Sepakati pula hal-hal apa yang boleh dan tidak boleh dilanggar dalam kerja sama yang dilakukan.
3. Tegaskan porsi tanggung jawab masing-masing dalam kerja sama tersebut. Ini berguna untuk membatasi ranah-ranah pribadi yang mungkin saja akan banyak bersinggungan dalam proyek bersama tersebut.
4. Sepakati benar soal hak dan kewajiban. Ini menyangkut juga tentang porsi pembagian hasil kerja. Kadang, urusan uang bisa jadi masalah jika tak ada batasan yang jelas sejak awal. Banyak kasus terjadi, saat untung kecil masih tak ada yang peduli, namun begitu besar, jadi berkelahi. Nah, Anda tak ingin itu terjadi bukan?
5. Beranikan diri untuk marah, demi kebaikan bersama. Kadang, saat ada masalah, karena alasan pertemanan, yang harusnya diperbaiki, jadi berlarut-larut karena tak ada yang berani mengoreksi. Ada satu trik yang saya lakukan untuk mengatasi hal ini jika sampai (terpaksa) terjadi. Saya dan istri akan bertukar posisi untuk memarahi. Misalnya, saat yang perlu dikoreksi adalah rekan atau sahabat saya, maka jatah istri sayalah yang akan menegur. Begitu juga sebaliknya. Dengan begitu, rasa sungkan akan bisa lebih diminimalisir.
Setiap orang punya cara dan triknya masing-masing untuk mengatasi masalah dengan rekan usaha yang juga sahabat dekat. Tapi sebenarnya, yang penting lagi adalah komunikasi yang intens dan keberanian untuk bertindak profesional dalam segala situasi. Cara inilah yang menurut kami justru paling tepat untuk mengatasi perjalanan usaha bersama teman-teman hingga saat ini. Nah, bagaimana dengan Anda?
Agoeng Widyatmoko adalah penulis buku laris 100 Peluang Usaha. Ia kini juga menjadi konsultan usaha kecil keluarga dan UMKM. Untuk berkonsultasi, ia bisa dihubungi di 08128950818
Telah di baca sebanyak: 2Lupakan Semua Teori Manajemen!
February 12, 2009 by admin
Filed under Agoeng Widyatmoko
Belakangan ini, banyak orang berbondong-bondong mengikuti berbagai jenis seminar di bidang manajemen. Ada seminar bisnis, seminar motivasi, hingga seminar tips serta trik—bahkan rahasia—yang konon akan menyelesaikan semua masalah dengan mudah. Cara menjual, cara manajemen diri dan karyawan, cara memotivasi bawahan, rahasia berbisnis, dan aneka judul lain—yang seolah selalu jadi solusi ampuh untuk bisa sukses di segala bidang—laris manis di pasaran.
Begitu juga dengan literatur yang beredar di pasaran. Berbagai buku berbau manajemen dan motivasi menghiasi rak-rak buku di berbagai toko buku ternama. Tak jarang, satu dua judul mencuat menjadi buku paling laris. Bahkan, konon royaltinya ada yang bisa beranak pinak untuk anak cucu. Wow!
Cek juga mailing list di alamat email. Banyak sekali pembahasan materi sejenis yang bertebaran. Mulai dari cuplikan yang diambil dari para “dewa” dari luar negeri yang dipercayai bisa mengubah batu jadi emas, hingga ke teori para praktisi tanah air dari yang kelas gedung bertingkat hingga kelas warung tegal. Pokoknya, nyaris tak ada habisnya rumusan sukses manajemen dibahas.
Tapi, yang jadi pertanyaan, mengapa tak banyak yang lantas sukses dengan usaha yang dijalaninya? Tak banyak orang yang hapal teori sukses atau teori menjadi kaya yang akhirnya berakhir dengan kesejahteraan seperti yang diidamkannya? Parahnya, justru banyak orang yang tenggelam dalam (sekadar) teori tanpa pernah menjadi sukses karenanya. Apa penyebabnya?
Bukan kapasitas saya untuk menjawab karena saya sendiri merasa belum sukses sepenuhnya. Meski, ada juga standar-standar sukses—versi saya—yang sudah saya lewati. Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa saat ini—termasuk saya barangkali—masih banyak yang terjebak dalam ranah teori dan teori belaka. Padahal, untuk menjadi sebuah teori, semua itu butuh proses yang panjang dan bahkan bisa memakan waktu sangat lama.
Bahkan, sebuah teori sukses sebenarnya tak bisa sekadar hadir begitu saja. Seperti juga definisi sukses yang juga tak bisa dipahami sama oleh setiap orang. Jatuhnya saya, gagalnya saya, sakitnya saya, mungkin belum—bahkan tak akan sebanding—dengan jatuh, sakit, dan gagalnya Bill Gates, sang taipan pendiri Microsoft. Atau, jika kita ambil skala yang lebih kecil, gagal dan sakitnya Purdi E Chandra sang pemilik jaringan pendidikan Primagama pastilah juga tak sama dengan rasa sakit ketika saya harus kehilangan beberapa juta dari rekening karena gagal berbisnis.
Tapi, ada satu hal yang sama dari saya, Purdi, dan bahkan Bill Gates. Dan, Anda pun bisa memilikinya. Yakni, semuanya berbasis pada pengalaman alias praktik dalam kehidupan nyata. Bagi saya, semua teori sukses itu hanyalah bumbu penyedap yang tak kan jadi masakan jika tak disatukan dalam rebusan masakan yang dijerang dalam air mendidih di dalam panci yang dipanaskan oleh api ratusan derajat.
Bingung dengan analogi dan penjelasan saya? Izinkan saya untuk menyederhanakannya. Sederhana saja, mulai saat ini, lupakan semua teori! Loh kok? Iya, sebab inilah saatnya untuk langsung praktik. Sebab, tanpa ada praktik, teori secanggih apapun hanya akan jadi tumpukan memori yang hanya akan bagus jika diceritakan, diomongkan, didiskusikan, atau dituliskan dalam berbagai media.
Tentunya, praktik pun tak sekadar praktik. Ada pula proses dimana kita perlu mencari celah dan pegangan agar praktik yang dilakukan berjalan tidak tanpa arah. Nah, untuk satu hal ini, barulah teori dibutuhkan. Namun, bukan sebagai batu pijakan, melainkan hanya sebagai pengetahuan dasar untuk mengarahkan praktik yang dilakukan. Sebab, batu pijakan sebenarnya adalah kemauan, keyakinan, ketekunan, keuletan, dan tentunya semangat untuk maju terus dalam berwirausaha.
Segampang itukah? Tentu tidak! Jika memang ingin berwirausaha di bidang makanan, tentunya paling tidak Anda sudah paham sedikit soal urusan makanan. Seperti halnya saya berbisnis di bidang jasa penulisan, ide, dan event. Sebelumnya saya pernah pula mengalami atau setidaknya mengetahui soal berbagai hal tersebut. Dan, karena saya merasa mampu, jadilah usaha tersebut saya rintis bersama istri sehingga mampu menghidupi beberapa orang.
Ingin tahu catatan kegagalan (baca: pembelajaran) saya? Saya pernah membuat event acara musik dan diskusi (edutainment). Sampai hari H tiketnya hanya dibeli 20-an orang dan bahkan saat digratiskan pun tetap tak banyak juga yang masuk ke acara. Pernah pula saya membuat sebuah buku yang hingga kini penjualannya saat diobral pun kurang laku. Saya pernah pula membuat sebuah acara televisi yang gagal oleh karena sebuah sebab. Itulah catatan-catatan yang belum seberapa. Masih banyak lagi yang lain.
Jerakah saya? Jujur dan tegas saya katakan, tidak! Saya justru mengumpulkan banyak teori baru ala saya yang kini jadi pegangan untuk membesarkan bisnis yang kini saya tekuni. Mungkin, dalam posisi mirip, sang taipan Bill Gates dengan kegagalannya menyaingi iPod—yakni dengan layanan musik Zune—telah belajar banyak dan segera sukses untuk bisnis lainnya. Zune yang gagal mengalahkan iPod kini terus dikembangkan agar bisa mencapai taraf sukses seperti yang diharapkan.
Intinya, lupakan semua teori! Bergeraklah, dan rasakan sensasi menemukan teori-teori baru yang orisinil milik Anda! Berani?
* Agoeng Widyatmoko adalah penulis buku-buku wirausaha laris, konsultan UKM, dan trainer SPP. Ia dapat dihubungi di email: agoeng.w@gmail.com atau sms di 0812 895 0818.
Telah di baca sebanyak: 15The Power of Kepepet
January 30, 2009 by admin
Filed under Agoeng Widyatmoko

Tomi adalah seorang pegawai kantoran yang sedang bernasib apes. Kantornya yang hampir bangkrut melakukan rasionalisasi pegawai. Ia ikut terkena pemutusan hubungan kerja. Padahal, ia merasa di perusahaan itu sudah sangat nyaman. Apa daya. Ia harus jadi pengangguran lagi. Ia pun tak tahu harus ke mana mencari pekerjaan. Sebab, ia hanya lulusan SMA. Yang sarjana saja susah cari pekerjaan, apalagi dirinya yang hanya sekolah SMA, begitu pikirnya.
Di rumah, ia harus menanggung hidup dua anak dan seorang istri. Meski istrinya berjualan sayuran untuk membantu menambah penghasilan, jumlahnya tak cukup. Anaknya sudah sekolah SD. Mereka butuh makan dan butuh biaya sekolah yang tak sedikit. Tomi pun kebingungan. Sebab, pesangon yang diberikan perusahaan jumlahnya hanya cukup untuk hidup tiga bulan.
Karena tak kunjung mendapat pekerjaan pengganti, ia pun hampir putus asa. Di tengah kebingungannya itu, ia melihat istrinya justru makin banyak mendapat pelanggan. Masakan yang dibuat istrinya rupanya banyak yang suka. Di tengah kegelisahan itu, Tomi pun mendapat ide.
“Bu, bagaimana kalau mulai besok kamu jualan gudeg saja?”
“Memangnya kenapa Mas?”
“Kamu dulu pernah masakin aku gudeg enak sekali.”
“Terus?”
“Iya, aku lihat di kampung ini banyak orang Jawanya. Mereka kan biasanya kangen masakan Jawa. Kita jualan gudeg saja. Siapa tahu masakanmu makin laris,”harap Tomi.
Dugaan Tomi tak meleset. Gudeg buatan istrinya disukai pedanggan. Makin lama, gudegnya makin laris. Gudeg Yu Tom, masakan istrinya, makin dikenal. Pelan tapi pasti, pelanggannya datang dari mana-mana.
***
Kadang, tanpa kita sadari. Kita hidup dalam garis ketidakpastian. Orang bijak mengatakan hidup ini seperti roda. Kadang di atas, kadang juga di bawah. Karena itu, jangan heran. Jika suatu saat Anda menjumpai orang yang dulunya kaya raya, kini menghilang entah ke mana. Pun, jika suatu saat Anda menjumpai orang yang dua tahun lalu biasa-biasa saja, kini berubah menjadi orang yang berhasil dalam usaha. Kadang, kita juga melihat orang yang sangat sukses jadi pengusaha, justru berawal dari keterdesakan ekonomi, sebagaimana kisah di atas.
Memang, jika kita mau melihat sekitar kita, kejadian seperti itu tak jarang terjadi. Karena kepepet, karena keterdesakan ekonomi, karena keterpaksaan, orang justru menemukan hal baru yang “menyelamatkan” dirinya dari keterpurukan. Kalau istilah saya, “The power of kepepet” alias kekuatan yang muncul karena keterdesakan kondisi. Bagaimana bisa?
Begini. Kadang, saat akan memulai usaha, ada satu hal yang sering jadi ketakutan banyak orang, yakni kegagalan. Gagal kadang jadi momok yang menakutkan semua orang. Kita takut dicap jadi orang gagal. Orang gagal adalah orang kalah. Hal itulah yang membuat kita selalu mencoba menghindari kegagalan. Kalau bisa, jangan sampai gagal. Begitu juga yang muncul di benak banyak orang jika hendak memulai usaha. Siapa sih yang mau rugi kalau buka usaha? Kita juga akan selalu berusaha menghindari yang namanya kesusahan. Itu adalah fitrah manusia.
Tapi, yang terjadi sudah pasti tidak akan selalu mulus sebagaimana dambaan setiap orang. Ini yang harus disadari tiap orang. Coba, kalau dulu waktu belajar berjalan kita selalu takut jatuh. Barangkali, sampai sekarang kita tidak bisa berjalan. Atau, waktu masa kecil dulu ketika belajar naik sepeda. Berapa kali kita harus terjatuh dan luka agar bisa naik sepeda? Jadi, kita pasti melalui proses belajar dari jatuh, luka, dan gagal itu.
Kalau dianalogikan dengan jatuhnya seseorang ke dalam jurang, mungkin ia akan tersangkut beberapa kali, sampai akhirnya benar-benar jatuh ke dasar jurang. Nah, kalau sudah sampai ke dasar, yang benar-benar dasarnya jurang, apa pilihan dia? Satu-satunya pilihan adalah naik bukan? Sebab, tidak mungkin lagi kita akan jatuh ke tempat yang lebih dalam karena itulah dasarnya jurang. Begitu juga dengan kegagalan. Kalau gagal terus, suatu saat kita akan sampai ke “jatah” gagal kita yang terakhir. Kalau sudah begitu, pilihan kita hanya satu, naik alias bersiap menuju sukses.
Itulah yang terjadi pada Tomi, tokoh ilustrasi cerita tadi. Ia sedang berada dalam jurang kesusahan. Berbagai kegagalan ia alami saat akan melamar kerja. Begitu banyak penolakan yang dihadapi saat ia – yang hanya tamatan SMA – ingin kembali bekerja, guna menghidupi istri dan anaknya. Namun, setelah benar-benar mengalami kesusahan dan ia dalam kondisi yang sangat kepepet, laksana sudah berada di dasar jurang, ia justru “menemukan” jalan naik itu. Kondisi kepepet itu justru memberinya ide yang selama ini tak pernah terpikir olehnya.
Memang, dalam kondisi sangat terdesak atau kepepet, orang kadang diberi kekuatan di luar batas yang dimilikinya. Teringat masa ketika saya mengalami bencana gempa bumi dahsyat di Jogja 27 Mei 2006 lalu. Dalam kondisi kepepet, saya melihat tetangga saya sempat mengangkat tembok roboh seorang diri. Jangan kaget pula, jika suatu saat Anda melihat seorang bisa berlari sangat kencang, bahkan melebihi kecepatan atlet pelatnas, jika dikejar anjing. Bagaimana bisa? Ya, sebab, dalam kondisi kepepet, kadang muncul kekuatan yang membuat kita bisa mempunyai kemampuan di luar batas untuk menyelamatkan diri.
Itulah yang saya istilahkan “The power of kepepet”. Yah, begitu juga dalam menjalankan usaha. Jika kita terbiasa menghadapi kegagalan, kita justru akan terbiasa pula melihat peluang lain yang kadang tak kita lihat saat sedang dalam kondisi normal. Tentu, kita tidak ingin untuk menemukan ide cemerlang hanya jika dalam kondisi kepepet. Yang harus kita lakukan adalah bagaimana selalu bisa memunculkan potensi – seperti saat kepepet – setiap saat, meski tidak dalam kondisi terdesak.
Jika tidak dalam kondisi kepepet, barangkali potensi masakan enak istri Tomi hanya akan jadi masakan yang dinikmati keluarganya saja. Namun, dalam kondisi terdesak, ide membuat gudeg ternyata mampu menjadi jalan keluar bagi kesulitan Tomi dan keluarga. Tentu, itu pun harus melalui proses.
Akhirnya, saya punya satu kisah nyata sebagai penutup. Kreativitas yang muncul dari keterdesakan, mampu menjadi jalan keluar masalah. Ini terjadi di Jogja, tepatnya di Kabupaten Bantul. Di sana, ada satu kedai bakmi yang sangat terkenal, namanya Bakmi Mbah Mo. Meski lokasinya terpencil, antrean orang yang akan makan di sana berderet. Mobil-mobil pelanggan yang parkir, berjejer panjang. Alkisah, larisnya warung bakmi itu karena promosi sang pemilik yang cukup unik. Karena sadar lokasinya tak strategis, ia selalu menyambangi warung-warung bakmi yang cukup ramai sembari berpromosi. Setiap kali bertemu orang, ia selalu cerita kalau di Bantul juga ada bakmi enak. Dengan promosi seperti ini, pelan tapi pasti, informasi tentang bakmi Mbah Mo menyebar. Akhirnya, hingga sekarang, meski terpencil, bakmi Mbah Mo tetap ramai dicari orang. Itulah bukti, dari keterdesakan karena keterbatasan lokasi, muncul kreativitas promosi yang jitu. Jadi, seberapa kepepetkah Anda?[awid]
* Agoeng “Mr Bright” Widyatmoko adalah konsultan independen usaha mikro, kecil, dan menengah. Trainer Sekolah Penulis Pembelajar ini juga menerbitkan buku laris “100 Peluang Usaha”. Penulis dapat dihubungi melalui email: agoeng.w@gmail.com atau sms di 0812 895 0818.
Telah di baca sebanyak: 10Berkompetisi Yuk!
January 30, 2009 by admin
Filed under Agoeng Widyatmoko
Dalam sebuah obrolan dengan salah seorang pemimpin redaksi sebuah majalah ternama, ada satu ungkapan dia yang membuat dahi saya berkerut. ”Saya lagi bingung. Saya merasa gak ada musuh! Jadi, saya malah takut kalau tidak ada ancaman…”
Waw? Saya jadi bertanya. Kok bisa? Bukankah kita bisa hidup lebih tenang kalau tidak ada musuh? Ternyata, jawaban teman saya ini sungguh menggelitik nalar saya.
”Sekarang majalah saya ada di level paling atas. Nah, kalau nggak ada musuh atau kompetitor yang selevel, kami jadi merasa sombong. Akibatnya, kita bisa jadi lengah dan kehilangan motivasi untuk menghasilkan media yang berkelas bagi pembaca kami!”
Pikiran saya langsung melayang pada sebuah kisah yang saya alami beberapa tahun silam. Karena takut pada anjing, begitu mendengar anjing menggonggong, saya akan lari ketakutan. Kebetulan, waktu itu saya sedang santai berjalan di sebuah taman. Tiba-tiba, ada anjing yang menggonggong, dan, ternyata tak cuma menyalak, ia juga mengejar saya tanpa sebab. Maka, dengan sekuat tenaga, larilah saya. Dan, ketika melihat sebuah tembok, tanpa ba bi bu lagi, saya langsung meloncatinya. Waw! Saya berhasil lolos dari kejaran anjing itu. Yang membuat saya heran, tembok yang saya loncati dengan mudah itu ternyata tingginya hampir dua kali lipat tinggi badan saya! Bagaimana bisa? Ternyata, dalam keterdesakan, muncul kemampuan di luar batas yang biasa saya miliki, untuk meloncati tembok itu.
Kembali pada kisah obrolan saya dengan pemimpin redaksi media itu, saya melihat bahwa ternyata dia punya pandangan lain tentang pentingnya kompetitor. Ia mungkin melihat bahwa musuh atau saingan dia itu sebagai sang anjing yang mengejar saya. Dia merasa perlu ”dikejar anjing” agar bisa mengeluarkan potensi yang mungkin masih tersembunyi dalam sumber daya yang dimiliki di kantornya. Ia butuh ”kepepet” agar bisa melejitkan potensi yang mestinya masih bisa terus ditingkatkan dari majalahnya.
Saat ini, majalah yang dikomandoinya memang sedang leading di pasaran. Bahkan, unggul jauh dari jumlah oplah dibanding pesaing nomor dua. Nah, menurut rekan saya itu, kondisi tersebut membuat dia gamang untuk memutuskan mencari hal-hal baru untuk memanjakan pembacanya. Dia mengatakan, akan jauh lebih mudah jika ada pesaing yang benar-benar kompetitif sehingga semua kemampuan bisa terasah lebih maksimal.
Mungkin, cara pandang rekan saya itu beda dengan kebanyakan orang. Bagi sebagian orang, kompetitor atau saingan adalah musuh yang harus dibasmi. Misalnya, kalau kita punya usaha cuci motor di sebuah tempat dan kebetulan sukses, maka, tak lama di daerah tersebut kemudian bermunculan usaha sejenis. Nah, kebanyakan orang mungkin akan berpikir, wah, jadi ada saingan ya? Nanti konsumen akan berkurang dong?
Tapi, bagaimana jika pola pikir rekan saya tadi yang kita gunakan? Yang akan muncul di otak kita adalah ungkapan-ungkapan seperti: Wah, ada pesaing nih. Asyiik. Orang pasti jadi makin banyak yang tahu daerah ini sebagai lokasi cuci motor yang paling lengkap. Lantas, gimana caranya supaya saya bisa lebih unggul dari yang lain ya? Bagaimana kalau saya berinovasi dengan membuat cuci model salju. Bagaimana kalau saya memberikan layanan minuman ringan gratis pada yang cuci motor. Bagaimana kalau saya beri cuci gratis setiap tujuh kali cuci. Nah, karena ada pesaing, jadi banyak inovasi promosi yang muncul dari benak kita bukan?
Dengan pola pikir yang berbeda, kita akan mendapatkan hasil yang berbeda pula. Jika sebelumnya, kita berpikir bahwa adanya kompetitor akan mematikan usaha kita, maka dengan cara pandang yang positif, hadirnya kompetitor justru akan menguntungkan kita. Jadi, siapkah Anda berkompetisi hari ini?[awid]
* Agoeng Widyatmoko dalah konsultan independen bidang UKM yang aktif menulis buku-buku motivasi usaha kecil dan peluang usaha. Beberapa bukunya kini menjadi best seller, diantaranya: 100 Peluang Usaha, Peluang Usaha untuk Anak Muda, dll. Ia juga mengenalkan konsep ”The Power of Kepepet” untuk melejitkan potensi pribadi. Untuk menghubunginya dapat melalui email agoeng.w@gmail.com.
Telah di baca sebanyak: 4Fondasi Kokoh Tak Sekadar Kuat
January 30, 2009 by admin
Filed under Agoeng Widyatmoko
Saat ini kebetulan saya sedang membangun sebuah rumah tinggal. Dalam proses itu saya memerhatikan, ada satu hal sangat penting yang jadi perhatian sang mandor. Ia sangat peduli dengan fondasi cor yang dibuatnya. Kurang padat sedikit atau saat komposisinya kurang mantap menurut pandangannya, ia akan segera menegur tukang yang mengerjakan fondasi. Sebab, menurut dia fondasi haruslah kokoh, sangat kokoh malahan. Dengan begitu, jika kemudian bangunan menjulang ke atas, fondasi ini akan menjadi penopang yang bisa membuat bangunan bertahan sampai lama. Ia menyebut bangunan-bangunan tua peninggalan masa Belanda, selain temboknya yang tebal, fondasinya juga sangat kokoh menghujam ke dalam tanah.
Penuturan sang mandor mengingatkan saya pada sebuah kalimat yang sering disebut seorang teman, “Kalau mau jadi bos, mau jadi pimpinan, mau jadi pengusaha, fondasinya harus kuat dulu. Sebab, kalau yang didapat hanya secara instan, biasanya kekuatan saat kita di puncak itu sangat mudah tergoyang oleh angin kehidupan.”
Cukup lama saya merenungi ucapan rekan tersebut. Ternyata, hal tersebut saya temui ketika saya membuka usaha. Saat usaha belum kokoh fondasinya, sesukses apa pun, ternyata sulit mempertahankannya. Namun, jika fondasi usahanya sudah cukup kokoh dan tertata dengan rapi, maka goncangan seberat apa pun, ternyata bisa diselesaikan dengan cara yang elegan dan mampu memuaskan banyak pihak.
Lantas, fondasi yang kokoh untuk berbisnis itu apa saja? Pertemanan, kepercayaan, kerja keras, atau hal lainnya? Berkaca dari pengalaman—baik pribadi dan orang lain—ternyata masing-masing orang punya “fondasi” masing-masing. Namun, salah satu yang paling sering disebut—dan saya alami juga—adalah dua hal, yakni soal kepercayaan dan komunikasi.
Kepercayaan
Bicara tentang soal kepercayaan, sebenarnya seperti membicarakan sesuatu yang mudah diomongkan namun kadang sulit untuk dilakukan. Betapa tidak, sebab kadang dalam hati ini selalu muncul rasa curiga, ingin tahu urusan orang, dan berbagai hal lainnya yang kemudian berujung pangkal pada soal kepercayaan ini.
Dalam beberapa kasus, kadang saat kita mencoba memercayakan sebuah pekerjaan kepada orang lain, hati kecil sering bertanya, apa dia mampu ya? Bagaimana kualitas kerjanya nanti? Bagaimana jika ia tidak bisa meng-handle masalah? Bagaimana jika ini, bagaimana jika itu? Ibarat sebuah pepatah: dilepas kepalanya, dipegang ekornya. Karena hati kecil ini sering muncul rasa tidak percaya, maka kemudian pikiran malah serasa terbebani. Akibatnya, seolah-olah kerja jadi tidak pernah maksimal. Itu kadang terjadi jika kita punya anak buah atau rekan kerja yang mungkin—kita merasa—levelnya masih di bawah kita, baik level kemampuan atau bahkan usia. Maka, tak heran jika kemudian muncul iklan bertajuk: “Yang muda, yang tak dipercaya.”
Soal kepercayaan ini juga yang sering mengganggu kita saat membentuk sebuah usaha bersama-sama dengan beberapa rekanan. Kadang, meski rekanan itu seorang sahabat sekalipun, unsur rasa kepercayaan ini seringkali terasa mengganggu. Apalagi, jika sebuah usaha tiba-tiba menjadi besar dan mulai kebanjiran order. Banyak kasus yang menunjukkan jika usaha masih kecil sepertinya tenang-tenang saja, namun begitu menjadi besar malah kemudian terjadi perpecahan. Masalah ini biasanya terjadi karena masalah kepercayaan. Apalagi, kalau sudah menyangkut masalah uang besar.
Untuk masalah kepercayaan, satu hal yang kemudian saya praktikkan. Mungkin, bagi banyak orang kadang hal ini terasa “kejam”, namun memang harus dilakukan jika tidak ingin fondasi kepercayaan yang dibangun menjadi terpecah di tengah jalan.
Buat kontrak hitam di atas putih, kalau perlu bermaterai yang menunjukkan soal wewenang, tugas, dan tanggung jawab masing-masing pihak. Kadang hal ini memang terasa memberatkan dan sepertinya terlalu menganggap seseorang seperti “orang lain”. Apalagi, kalau sudah bekerja sama dengan orang yang sudah sangat kita kenal. Hal seperti ini kadang dianggap terkesan meremehkan. Tapi, dari berbagai pengalaman, hal ini harus dilakukan. Setidaknya, jikalau tidak ada kontrak tertulis, harus ada kesepakatan yang mengikat sehingga jika suatu ketika terjadi hal yang kurang mengenakkan, maka kita punya hal yang mengatur kejelasan hubungan antar rekanan bisnis. Jika di awal mungkin terasa kurang memberi kenyamanan, tapi, jika sudah terbiasa hal ini akan justru akan meningkatkan rasa kepercayaan.
Atur dan buat sistematisasi serta ketentuan yang jelas dari awal. Misalnya, jika ada untung dan rugi, siapa yang bertugas kerja dan siapa yang sekadar jadi investor. Bahkan, kalaupun dalam sebuah usaha keluarga, jika tak ada aturan yang jelas, kadang masalah rumah akan terbawa-bawa dan juga sebaliknya, sehingga tidak akan memunculkan rasa nyaman. Dengan mengatur lebih jelas dan ketat sejak awal membentuk usaha, soal kepercayaan bisa diatasi. Dengan begitu diharapkan hati ini menjadi lebih tenang dan tenteram saat menjalani bisnis.
Komunikasi
Hal ini sepertinya sepele. Namun, jika kita tak memberi perhatian untuk satu masalah ini, biasanya akan banyak kerikil-kerikil kecil yang bisa jadi batu besar berguguran. Akibat kurang intensifnya komunikasi, seseorang atau satu tim dalam sebuah perusahaan, bisa berjalan tak karuan. Karena itu, saya memasukkan unsur komunikasi sebagai salah satu fondasi utama setiap kali mendirikan usaha atau menjalankan sebuah organisasi.
Dengan komunikasi yang terjaga, baik melalui tatap muka, telepon, SMS, atau media lainnya, fondasi kita akan makin kokoh. Namun, itu saja belum cukup. Komunikasi yang utama sebenarnya yang paling penting adalah unsur keterbukaan dan kesalingpengertian.
Keterbukaan. Masalah keterbukaan dalam berkomunikasi sebenarnya ujung-ujungnya akan bermuara pada masalah kepercayaan. Dalam hal ini, bukan berarti kita harus terbuka tanpa tedeng aling-aling. Tapi, yang tepat adalah menempatkan semua informasi pada waktu dan kondisi yang tepat. Misalnya, kalau ada masalah keuangan yang menyangkut gaji. Biasanya, karena perusahaan masih kecil, atau karena saling kenal dekat, gaji terlambat dianggap sesuatu yang sangat bisa dimaklumi. Padahal, gaji di manapun jika terlambat, pasti akan dijadikan bahan omelan. Jadi, kalaupun harus terlambat, komunikasikan dengan jelas apa penyebabnya sehingga tak kan ada omongan tak enak di belakang kita.
Kesalingpengertian. Kadang, sebuah pesan saat disampaikan, bisa dimaknai berbeda-beda oleh masing-masing orang. Karena itu, pastikan jika ingin menyampaikan sesuatu, haruslah sejelas mungkin sehingga dipahami oleh semua orang. Dengan cara ini, kemungkinan miskomunikasi bisa diminimalkan.
Tentu, fondasi masing-masing orang dalam menjalankan usaha bermacam-macam. Namun, dengan adanya unsur kepercayaan dan komunikasi yang terpelihara dengan baik, biasanya usaha usaha bisa berdiri lebih kokoh. Semoga bermanfaat.
Salam bijak penuh manfaat.[awid]
* Agoeng Widyatmoko adalah penulis buku-buku wirausaha laris, konsultan UKM, dan trainer SPP. Ia dapat dihubungi di email: agoeng.w@gmail.com atau sms di 0812 895 0818.
Telah di baca sebanyak: 5Amankah Jatah Bulanan Anda?
January 30, 2009 by admin
Filed under Agoeng Widyatmoko
Dalam beberapa kali menjalani usaha, saya selalu menghadapi kendala. Bukan satu dua, banyak malah. Tapi, dari semua kendala itu, justru saya belajar banyak hal. Salah satu adalah soal jatah bulanan. Lo kok, ada jatah bulanan? Emang pengusaha juga orang gajian?
Yang saya maksud dengan jatah bulanan sebenarnya adalah istilah saya untuk mengamankan keperluan bulanan (baca: harian). Sebab, jika kita tak waspada, usaha yang kita jalankan ketika mengalami penurunan, jatah untuk hidup sehari-hari bisa terganggu. Dan, akibat terganggunya arus kas harian ini, buntutnya bisa panjang lo… Otak panas, kebingungan menentukan arah, pikiran kalut, dan yang pasti, semua hal itu akan mengganggu kita dalam menjalankan usaha.
Sebagai pengusaha, tentu kita selalu mengharapkan untung. Dan, jika yang didapat untung besar, pastilah hal ini akan sangat membantu pengembangan usaha kita. Karena itu, tak jarang, kita selalu berusaha mendapat dan mencari “ikan-ikan besar” demi memperoleh orderan besar.
Tentu, hal tersebut tak salah. Sebab, adanya orderan besar pasti akan jadi darah segar bagi sebuah usaha kita. Tapi, yang jadi masalah biasanya orderan besar ini selalu banyak pemain yang berebut di dalamnya. Ibarat ladang emas, yang berusaha menguasainya pastilah banyak pihak. Akibatnya, order besar ini biasanya lebih sulit memperjuangkannya. Kalau pun dapat, kadang memerlukan banyak pengorbanan, dan bahkan kadang, perlu sogokan.
Yang terakhir disebut itu mungkin sudah jamak kita jumpai di dalam ranah kehidupan bisnis di tanah air. Karena itu, bagi yang miskin koneksi, kadang untuk memenangkan tender proyek-proyek besar sangat sulit. Tapi, jangan kuatir, sebenarnya “ikan-ikan kecil” pun kalau dikumpulkan juga akan memberikan keuntungan yang sama besar, atau bahkan bisa lebih besar.
Contoh nyata ada pada salah satu kenalan saya yang berjualan pulsa. Karena ia hanya mengambil untung sedikit dari pulsa yang dijual, ia justru dikenal sebagai penjual pulsa yang murah. Akibatnya, ia pun laris manis mendapat banyak konsumen yang membeli pulsa padanya. Akibatnya yang lain, ia pun dikenal sebagai penjual yang serbamurah, sehingga orang pun akan membeli padanya saat akan membeli handphone.
Yang saya sebut sebagai jatah bulanan dari kisah kenalan saya itu adalah jualan pulsa. Meski untungnya tak seberapa, asal masih dalam batas menguntungkan, pulsanya akan dijual untuk terus menghidupi usahanya. Sedangkan yang berjualan handphone, itu bisa dikategorikan semacam “ikan besar” untuk level pengusaha semacam dirinya. Meski jualan handphone tak selaris jualan pulsa, tapi dari satu handphone yang terjual, ia bisa mendapatkan keuntungan yang lumayan besar.
Salah satu unit usaha saya, yakni DapurTulis, yang bergerak di bidang jasa penulisan, juga hidup dari “ikan-ikan kecil” namun rutin layaknya jualan pulsa tadi. Ini saya dapat dari orderan mengisi beberapa kolom di media online, mengelola website perusahaan atau perorangan, hingga ke pembuatan tulisan-tulisan pesanan untuk beriklan di beberapa media. Meski nilainya belum terlalu besar, tapi dengan adanya rutinitas orderan itu, DapurTulis bisa menghidupi beberapa tenaga penulisan yang terus produktif hingga kini.
Sedangkan untuk order besarnya, saya biasanya mendapatkan pesanan pembuatan buku, baik pesanan pribadi, misalnya untuk kampanye politik yang mulai kembali marak, hingga perusahaan yang ingin memperkuat merek usaha atau produknya dengan buku atau majalah eksternal. Selain itu, “ikan besar” lainnya saya dapatkan juga dari order yang diperoleh dari beberapa perusahaan periklanan yang memercayakan pekerjaaannya pada saya. Meski belum banyak, tapi satu nilai proyek seperti ini bisa beberapa kali lipat dari orderan harian yang saya dapatkan.
Inilah yang ingin saya ungkapkan sebagai bagian dari mengamankan jatah bulanan. Asal masih dalam batas menguntungkan, meski tipis, ambil saja semua orderan yang bermanfaat menjaga cashflow Anda. Sebab, dengan cashflow yang terjaga, kita akan lebih mudah mengendalikan dan membesarkan usaha. Mengutip kata rekan saya, “Asal menguntungkan, meski kecil, yang penting sikat dulu. Itu buat melancarkan cashflow usaha. Percayalah, yang besar-besar pasti akan menyusul kalau yang kecil digarap dengan benar.” Bukankah perjalanan satu mil pasti dimulai dari satu langkah? * Agoeng Widyatmoko adalah penulis buku-buku wirausaha laris, konsultan UKM, dan trainer SPP. Ia dapat dihubungi di email: agoeng.w@gmail.com atau sms di 0812 895 0818.
Telah di baca sebanyak: 8










