training motivasi – pelatihan menulis – training for trainer – publik speaking – andrias harefaNews Feedtraining motivasi – pelatihan menulis – training for trainer – publik speaking – andrias harefaComments Subscribe to training motivasi – pelatihan menulis – training for trainer – publik speaking – andrias harefaSitemap

Supaya Pede Berbicara di Depan Umum


Pada tulisan sebelumnya sudah digaris bawahi bahwa untuk menjadi pede kita harus mampu melihat diri sendiri apa adanya, harus bijak memosisikan diri sendiri maupun orang lain, dan mampu menerjemahkan lingkungan sewajarnya. Kemampuan kita melihat diri sendiri secara manusiawi akan menempatkan diri kita maupun orang lain serta lingkungan ke dalam porsi yang benar. Hal tersebut akan melandasi kita supaya bisa pede dengan wajar, tanpa dibuat-buat. Namun, pede secara umum (in general situation) tidak menjamin akan pede pula saat harus berbicara di depan umum (public speaking). Mengapa demikian? Karena adanya unsur gangguan fisik dan gangguan mental dalam berbicara di depan umum.

Keadaan tidak pede saat berbicara didepan umum akan mengundang gangguan fisik maupun gangguan mental. Gangguan fisik dapat berupa tiba-tiba merasa gatal, gemetar, jantung berdebar keras, berkeringat yang tidak wajar, tangan dingin, suara parau bahkan tidak keluar, tenggorokan kering, kaki rasanya lemas, perut mulas, dan selalu ingin buang air kecil. Gangguan fisik ini kalau tidak berhasil kita atasi akan semakin membuat kita down, semakin tidak pede.
Gangguan fisik harus kita atasi secara fisik pula. Caranya adalah dengan mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Ini tidak harus dilakukan di ruang tempat kita berbicara, tetapi bisa dilakukan di luar gedung. Selanjutnya adalah kita harus mencoba tersenyum saat menarik napas maupun menghembuskan napas, sembari mengendurkan syaraf yang tegang. Saat kita tersenyum, syaraf akan terpancing untuk mengendur. Lakukan beberapa kali sampai kita merasa relaks.

Teknik lain untuk mengatasi gangguan fisik adalah dengan cara memberikan kejutan pada tubuh kita. Ini bisa kita lakukan dengan melompat yang tinggi kalau perlu sambil berteriak keras, saling menggenggam erat antara tangan kanan dan tangan kiri, atau membuat gerakan ekstrim yang membuat seolah badan kita tersengat. Malu dong melakukan gerakan kejutan di depan umum? Jangan khawatir. Ini ada triknya. Kita justru bisa mengajak peserta (audience) untuk melakukan bersama sama kita. Pernahkah Anda menjumpai pembicara yang mengajak peserta berjingkrak-jingkrak bersama sambil berteriak? Nah, ini adalah salah satu cara supaya kita memiliki kesempatan untuk menciptakan kejutan bagi fisik kita. Dengan cara ini peserta maupun pembicara menjadi lebih relaks.

Gangguan lain yang akan muncul saat kita tidak pede untuk berbicara di depan umum adalah gangguan mental. Gangguan mental muncul dalam bentuk perasaan khawatir secara berlebihan, grogi, minder, merasa akan diterkam oleh peserta, merasa disepelekan, merasa kecil, merasa bodoh, merasa kurang siap, dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Gangguan mental ini juga harus kita atasi dengan menggunakan pendekatan mental pula.

Salah satu teknik yang bisa kita gunakan untuk mengatasi gangguan mental adalah dengan membuat keputusan kepada diri sendiri untuk tidak khawatir, tidak grogi, tidak minder, dan sebagainya. Perintahkan diri sendiri untuk tidak khawatir. Katakan dalam hati dengan lembut pada diri sendiri bahwa kita tidak perlu khawatir karena situasi akan membaik dan memihak pada kita. “Don’t worry, you will be fine.” Katakan berulang-ulang. Hipnosis diri sendiri. Kondisikan hati kita akan menerima saran baik dari kita sendiri. Lakukan lagi sampai kita merasa lebih baik.

Gangguan mental dapat pula kita atasi dengan cara melakukan reposisi pada diri sendiri maupun orang lain. Caranya adalah dengan memberikan posisi yang serba positif kepada peserta. Posisikan peserta sebagai pemaaf, orang yang menyenangkan, penuh pengertian, dan akan memberikan perhatian pada acara ini. Cara ini akan efektif karena saat kita grogi misalnya, karena ada peserta yang lebih tinggi pangkatnya atau lebih hebat gelarnya, adalah posisi yang kita pilih untuk diri sendiri. Saat itu kita memosisikan sebagai lebih rendah maka mereka menjadi tampak lebih tinggi.
Di sini perlu kearifan untuk menempatkan segala sesuatu pada porsi yang semestinya. Apa sih salahnya kalau ada peserta yang memiliki gelar lebih hebat dari pada pembicara? Apa pula salah pembicara kalau pangkatnya lebih rendah dari pada peserta? Posisikan diri sendiri maupun orang lain pada porsi yang wajar, maka kita akan mampu mengatasi gangguan mental.
Teknik lain untuk mengatasi gangguan mental adalah dengan cara yang disebut unfreezing, atau mencairkan kebekuan. Ini bisa kita lakukan dengan cara melakukan komunikasi awal dengan peserta. Kita bisa menanyakan sesuatu yang ringan-ringan saja yang untuk menjawab mereka tidak perlu berpikir keras. Misalnya kita menanyakan, “Siapa yang hadir di sini yang ingin kaya?” Mintalah mereka mengangkat tangan apabila ingin kaya. Pertanyaan seperti ini tentunya memiliki jawaban pasti karena semua orang ingin kaya. Tetapi, dengan kita tanyakan kepada peserta kita memiliki kesempatan untuk berinteraksi. Interaksi ini akan mencairkan suasana sehingga gangguan mental bisa kita atasi. Tentu saja pertanyaan yang kita ajukan harus ada hubungannya dengan topik yang akan kita sampaikan.

Kalau kita sedang berbicara tentang kesehatan kita bisa menanyakan “Siapa di antara yang hadir di sini yang ingin sehat?”
Haruskah unfreezing dilakukan dengan bertanya? Tidak. Kita bisa juga melakukan unfreezing dengan menyapa peserta yang kita kenal, memuji baju yang dikenakan salah satu atau beberapa peserta, menyampaikan kata-kata bijak yang sesuai topik, dan kemudian menanyakan kepada peserta setuju atau tidak dengan kata-kata bijak tersebut. Atau cara-cara lain, yang penting kita bisa membuka interaksi dengan peserta agar kebekuan bisa cair.

Unfreezing bisa juga dilakukan dengan bertanya kepada peserta suatu pertanyaan yang sudah kita atur jawabannya. Misalnya, apabila ditanya apa kabar, mereka harus menjawab “luar biasa”, “fantastik”, “super”, dan jawaban lain yang membangkitkan semangat.

Ada pula yang mengatasi gangguan mental dengan cara humor, yaitu dengan memberikan sentuhan jenaka bagi peserta yang membuat kita grogi. Cara ini bukan berarti kita harus melucu, tetapi kita membayangkan mereka dalam posisi lucu sehingga kita bisa tertawa dalam hati. Misalnya, peserta yang matanya besar kita bayangkan bahwa matanya lebih besar lagi, lebih bulat, seperti mata Bagong, tokoh pewayangan yang selalu melucu. Peserta yang berjenggot kita bayangkan seperti seekor kambing, dan seterusnya.

Ini memang butuh kreativitas. Membayangkan wajah jelek dan lucu tidaklah mudah. Dalam training public speaking, untuk mendapatkan gambaran tentang wajah jelek dan lucu saya sering minta kepada peserta untuk berekspresi yang sejelek mungkin dan kemudian selucu mungkin. Peserta lain mengamati sehingga peserta memiliki inventory bayangan wajah jelek dan lucu. Inventory ini akan berguna dikemudian hari saat mereka harus mendapatkan sisi lucu dari peserta. Tertarik untuk mencoba? Silakan. Asyik juga cara ini.[ap](bersambung)

* Agung Praptapa adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga Direktur AP Consulting, yang memberikan jasa konsultasi bisnis dan training di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Kolumnis tetap di andaluarbiasa.com. Tulisan ini untuk mendukung training “Empowering Your Confidence in Public Speaking”. Website: www.praptapa.com, pos-el: praptapa[at]yahoo[dot]com.

Telah di baca sebanyak: 1023

Hasil Riset Tentang Uang: Menggembirakan atau Menyakitkan?


Judul sebuah artikel di Harvard Business Review edisi Maret 2010 menggelitik saya untuk segera membacanya. Tulisan yang berjudul “The Mere Thought of Money Makes You Fell Less Pain” tersebut mengungkapkan hasil penelitian Kathleen D. Vohs, seorang professor bidang Marketing di University of Minnesota, Amerika Serikat. Kathleen melakukan riset dengan metode eksperimen yaitu dengan meminta satu kelompok peserta (misalnya Kelompok 1) untuk menghitung uang dan satu kelompok peserta lainnya (misalnya Kelompok 2) untuk menghitung potongan kertas. Setelah mereka selesai menghitung, peserta pada masing-masing kelompok dibagi dua lagi, misalnya kelompok A dan B, sehinga di kelompok 1 terdapat kelompok 1A dan 1B, sedangkan di kelompok 2 terdapat kelompok 2A dan 2B. Peserta dari kelompok 1 setelah selesai menghitung uang, sebagian dari mereka (kelompok 1A) diminta untuk segera memasukkan tangan mereka ke air panas, sedangkan sebagian lainnya dari peserta kelompok 1 (yaitu kelompok 1B) diminta untuk bermain computer game. Demikian pula untuk peserta di kelompok 2. Setelah mereka selesai menghitung potongan kertas, sebagian dari mereka (yaitu kelompok 2A) diminta untuk segera memasukkan tangan mereka ke air panas, dan sebagian lagi (kelompok 2B) diminta untuk bermain computer game.

Memasukkan tangan ke air panas tentunya menimbulkan rasa sakit, dan rasa sakit tersebut kemudian diukur oleh si peneliti. Peserta yang memasukkan ke air panas yang berasal dari kelompok yang menghitung uang ternyata memiliki tingkat kesakitan yang lebih rendah dibanding dengan kelompok yang menghitung potongan kertas. Peserta yang diminta untuk bermain computer game pada prinsipnya akan diukur tingkat kegembiraannya. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa tingkat kegembiraan peserta yang berasal dari kelompok yang menghitung uang lebih tinggi dari pada yang menghitung potongan kertas. Penelitian tersebut kemudian menyimpulkan bahwa memikirkan uang akan menimbulkan efek rasa sakit yang lebih kecil dan efek kegembiraan yang lebih besar.
Penelitian tentang efek memikirkan uang tersebut kemudian saya hubungkan dengan kejadian-kejadian dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa orang yang saya kenal nampak segar semasa memiliki jabatan atau saat bisnisnya maju. Namun saat turun jabatan kemudian mereka nampak kusut, loyo, dan kurang bergairah. Saat ditanya kenapa loyo jawabannya kurang lebih diseputar kondisi keuangannya yang sudah tidak seperti dulu lagi. Asumsi saya, saat masih memegang jabatan mereka memiliki harapan yang lebih tinggi untuk mendapatkan uang sehingga meningkatkan gairah hidupnya. Untuk lebih to the point mungkin bisa saya katakan di sini bahwa saat memiliki jabatan mereka lebih memiliki akses yang lebih besar terhadap uang, meskipun belum tentu mereka bisa menggunakan uang tersebut untuk kepentingan pribadi. Nampaknya, harapan yang tinggi untuk mendapatkan uang dan akses yang tinggi terhadap uang lebih membuat mereka memiliki tingkat kegembiraan yang lebih tinggi. Ini konsisten dengan hasil penelitian Kathleen Vohs.

Teman-teman bisnis yang sedang bagus bisnisnya tentunya memiliki harapan yang lebih tinggi untuk mendapatkan uang. Hal ini nampaknya juga memberikan efek meningkatkan gairah hidupnya. Bagaimana dengan yang bisnisnya sedang redup? Bisnis redup keuanganpun ikut meredup, dan ternyata inipun ikut meredupkan gairah hidup. Bagaimana kalau mereka punya uang banyak tetapi dari hasil hutang? Mereka mungkin memegang uang banyak tetapi itu bukan uang miliknya! Kalau melihat metode penelitian yang digunakan Vohs, kita bisa katakan bahwa meskipun uang yang ada di tangan mereka bukanlah uang miliknya, tetapi tetap memberikan rasa kegembiraan yang lebih dari pada mereka tidak memegang uang. Mereka tidak sekuatir bila mereka tidak memegang uang.

Beberapa sanggahan kemudian muncul. Gairah hidup tidak hanya dipengaruhi oleh uang tetapi banyak faktor lain. Rasa sakitpun bukan karena faktor uang yang menjadi faktor utama. Putus cinta mungkin lebih menyakitkan dari pada kehilangan uang. Sanggahan tersebut pada prinsipnya tidak salah, namun konteks yang sedang dibahas adalah bagaimana efek uang dalam mengurangi rasa sakit dan meningkatkan kegembiraan. Jadi bisa saja terdapat faktor non uang yang akan lebih dominan dalam mengurangi rasa sakit dan meningkatkan kegembiraan.

Kathleen Vohs juga mendapatkan sanggahan sejenis. Vohs menjawab sanggahan tersebut dengan melakukan riset berikutnya. Vohs mencoba menggantikan uang dengan barang berharga setara uang lainnya seperti voucher, credit card, perhiasan, dan lottery. Namun ternyata hasilnya berbeda dengan saat penelitian dilakukan dengan menggunakan uang. Vohs kemudian menjelaskan lebih lanjut bahwa walaupun sama-sama mendapatkan uang, seseorang akan lebih bergembira mendapatkan uang dalam bentuk tunai dari pada bila uang tersebut dikirim langsung ke rekening bank.

Penelitian Vohs memang lebih banyak dilakukan di Amerika serikat dengan peserta penelitian (research participants) orang-orang Amerika pula. Untuk itulah maka tidak mengherankan apabila orang kemudian menyangsikan apakah hasil penelitian tersebut akan relevan bila diterapkan pada orang selain orang Amerika? Sebagai periset sejati Vohs pun kemudian melakukan penelitian yang sama di China. Hasilnya? Ternyata hasilnya tidak berbeda.

Uang ternyata sumber kekuatan, meskipun beberapa orang mungkin berfikir sebaliknya, yaitu uang justru sumber permasalahan. Ini masalah cara pandang seseorang tentang uang. Kalau kita berfikir positif tentang uang maka uang akan memberikan efek positif. Sebaliknya, kalau kita berfikir negatif tentang uang maka uang akan memberikan efek negatif pula.

Anda ingin merasa lebih kuat? Ingin merasa lebih sehat? Merasa tidak sakit? Banyak formula untuk mewujudkannya, namun formula untuk hari ini adalah cobalah berfikir positif tentang uang. Ciptakan harapan untuk mendapatkan uang sehingga hidup Anda akan semakin bergairah. Cobalah!

*) Agung Praptapa adalah seorang dosen, konsultan manajemen dan akuntansi, serta professional trainer di bidang pengembangan diri dan organisasi. Penulis buku “The Art of Controlling People” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, tahun 2009 ini aktif menulis setelah bergabung dengan Proaktif Shoolen Network. Sampai saat ini terus aktif menjadi pembicara di dalam negeri maupun di luar negeri. Email: praptapa@yahoo.com.

Telah di baca sebanyak: 299

Menulis Itu Sehat

Oleh: Agung Praptapa

“Menulislah setiap hari maka kulitmu akan segar”, demikian dikatakan oleh Fatimah Mernissi, seorang penulis dan sosiolog wanita dari Maroko. Fatimah menambahkan bahwa menulis akan meningkatkan aktifitas sel. Menulis juga akan menjernihkan pikiran karena saat menulis pikiran kita akan terfokus pada tulisan tersebut sehingga kesempatan untuk berfikir tentang kegelisaan diri berkurang. Pikiran yang segar akan merangsang kesegaran kulit juga, demikian kurang lebih logikanya, sehingga menulis secara rutin akan membuat kulit menjadi segar. “Menulislah demi kecantikan kita” katanya. Fatimah yang seorang feminis ini bahkan menegaskan bahwa menulis lebih baik dari pada operasi pengencangan wajah maupun krim pelembab kulit.

Dr. James Pennebaker dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa menulis akan meningkatkan kekebalan tubuh (immune system). Pada tahun 1986 Pennebaker dan rekannya Sandra Beall mengadakan riset di University of Texas. Mereka ingin mengetahui seberapa jauh hubungan kegiatan menulis dengan kesehatan, dengan melakukan pengamatan terhadap kegiatan menulis mahasiswa. Mereka mengukur seberapa aktif mahasiswa menulis dan dihubungkan dengan seberapa sering mereka sakit, yang diukur dengan seberapa sering mereka berobat ke klinik. Dalam riset tersebut disimpulkan bahwa seseorang yang lebih sering menulis lebih jarang sakit. Dasar teori Pennebaker bermula dari pemikiran bahwa menulis akan mengurangi kegelisahan. Menulis akan membuat seseorang lebih tenang dan tidak cepat merasa lelah. Kegelisahan membutuhkan energi yang sangat banyak sehingga energi yang seharusnya digunakan untuk membangun sistem kekebalan tubuh akan tersedot untuk memerangi kegelisahaan. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh tidak berjalan dengan sempurna. Dengan menulis, seseorang akan lebih tenang dan kegelisahan bisa teredam. Akibatnya, energi yang sedianya digunakan untuk meredam kegelisahan bisa terkumpul untuk membangun sistem kekebalan tubuh. Dengan demikian, maka dengan menulis seseorang akan memiliki kekebalan tubuh yang semakin baik.

Pendapat dua tokoh tersebut cukup menegaskan hipotesis saya bahwa “menulis itu sehat”. Sehat jasmani maupun sehat rohani. Mengapa menulis itu menyehatkan? Bagaimana cara menulis yang menyehatkan? Mari kita bahas bersama sama di sini.

Mengapa Menulis Menyehatkan?
Saat menulis, perhatian kita mau tidak mau harus terfokus kepada menyusun kalimat demi kalimat. Setelah satu kalimat selesai kita susun, kita akan menyusun kalimat selanjutnya sehingga nantinya akan membentuk paragraf, dan akhirnya akan terbentuk suatu tulisan utuh. Lihat saja ada berapa keberhasilan yang kita peroleh? Menyelesaikan kalimat pertama berarti keberhasilan yang pertama. Menyelesaikan kalimat kedua berarti kita membuat lagi keberhasilan yang ke dua. Demikian seterusnya. Jadi menulis kalimat demi kalimat sama saja sedang mengumpulkan keberhasilan demi keberhasilan. Padahal, seseorang yang sering berhasil akan meningkat kepercayaan dirinya. Orang yang percaya diri akan lebih tenang, lebih pasti langkahnya, lebih tajam sorot matanya dan lebih cerah mukanya. Dengan kata lain, menulis akan memupuk kepercayaan diri. Kepercayaan diri akan menyehatkan jiwa seseorang, sehingga dapat kita katakan menulis itu menyehatkan.

Menulis akan mendorong kita untuk berkonsentrasi kepada topik. Saat kita menulis tentang ‘membangun kepercayaan diri’ misalnya, secara otomatis perhatian kita akan terfokus pada masalah diseputar bagaimana membangun kepercayaan diri. Karena perhatian kita terfokus kepada masalah ini, maka kita akan sejenak melupakan kegelisahan kita, kekecewaan kita, kemarahan kita dan hal-hal negatif lainnya yang kita paksa untuk “parkir” dulu karena kita sedang mendahulukan kepada masalah yang sedang menjadi perhatian kita, yaitu topik yang sedang kita tulis. Jadi dengan menulis kita tidak perlu lagi mencari obat penenang untuk meredam kegelisahan kita. Kegiatan menulis akan membawa kita ke keasyikan tersendiri, sehingga maaf, kegelisahan dan teman-temannya harus pergi dulu dari diri kita. Bisa saja kita bahkan melupakan kegelisahan kita. Nah, menulis menyehatkan bukan?

Menulis mendorong kita untuk selalu berfikir. Mau tidak mau kita harus berpikir “Apa lagi ya yang harus aku tulis setelah ini?”, “What’s next?”. Seperti halnya otot yang semakin dilatih akan semakin kuat, semakin kita berfikir otak kita juga akan semakin terlatih dan semakin kuat. Otak kita jadi sehat. Kita akan tidak cepat pikun. Jadi, kalau ingin tidak cepat pikun, kuncinya adalah jangan pernah malas berfikir. Biar tidak malas berfikir, menulislah. Mau gak cepat pikun? Menulislah!

Menulis sering dijadikan alat untuk mengungkapkan perasaan. Rasa marah, penyesalan, dendam, kegundahan dan perasaan negatif yang ada pada diri kita sering kita tumpahkan melalui tulisan. Dengan menumpahkan kepada suatu tulisan, kita pada prinsipnya mendapatkan teman berkomunikasi, yaitu diri kita sendiri dan calon pembaca yang kita tuju. Adanya saluran komunikasi ini akan memberikan jalan keluar dari tekanan perasaan negatif. Kalau kita ibaratkan perasaan negatif tersebut adalah air keruh yang ada dalam kantong plastik, kalau tidak kita salurkan maka kantong plastik tersebut bisa pecah dan air keruh tersebut akan mengotori batin kita. Dengan menulis, kita mendapatkan saluran pembuangan untuk membuang perasaan negatif tersebut keluar dari diri kita. Bahkan sering pula dengan menulis kita bahkan menemukan jalan keluar yang jitu, yang tidak kita pikirkan sebelumnya. Nah, dengan demikian menulis akan membersihkan batin kita. Perasaan kita menjadi “plong”, sehat dan segar sehingga kita memiliki kesempatan untuk memikirkan dan melakukan hal-hal lain yang lebih sehat. Jadi, agar perasaan menjadi “plong”, menulislah.

Menulis Juga Menyembuhkan
Saya terkesima dengan sebuah tulisan yang menceritakan bagaimana seorang yang memiliki komplikasi lima penyakit bisa sembuh total dengan metoda penyembuhan yang ia yakini efektif, yaitu melalui menulis. Penderita penyakit tersebut adalah Gatut Susanta, seorang Insinyur Sipil, warga Bogor kelahiran Madiun. Pria yang saat itu berusia 43 tahun tersebut mengidap lima penyakit sekaligus yaitu hepatitis, gagal ginjal, pengentalan darah, penyempitan pembuluh otak, dan infeksi kandung kemih. Dalam wawancaranya dengan Media Indonesia (terbitan 24 Juli 2008) Gatut mengatakan bahwa penyakit yang dideritanya sejak Februari 2005 tersebut sembuh total dengan metoda penyembuhan menulis setiap hari. Menurut Gatut, menulis membuatnya tenang, menerima dengan ihlas apa yang dialaminya, mensyukuri apa yang Ia dapatkan, dan memberikan semangat yang luar biasa untuk sembuh. Penyakit yang dideritanya akhirnya sembuh dan 15 buku berhasil Ia tulis.

Pengalaman Gatut tersebut membuat hipotesis saya bahwa “menulis itu sehat” lebih ditegaskan lagi bahwa bahkan menulis tersebut bisa menyembuhkan. Banyak penyakit fisik yang bermula dari masalah psikis seperti kegelisahan, kekuatiran, ketakutan, kebencian, dan masalah psikis lainnya. Menulis akan mengurangi bahkan dapat menyembuhkan penyakit psikis. Kejiwaan yang sehat akan mendorong sel-sel tubuh kita bekerja dengan baik. Antibodi kita akan bekerja dengan efektif sehingga badan kita juga akan menjadi sehat. Jadi, memang tidak berlebihan kalau menulis itu juga bisa menyembuhkan.

Terapi Menulis
Apabila kita sefaham bahwa “menulis itu menyehatkan”, atau bahkan “menulis itu menyembuhkan”, maka tidak berlebihan nampaknya kalau kita menulis demi kesehatan dan kesembuhan kita. Saya kira tidak berlebihan pula apabila menulis bisa dijadikan cara alternatif untuk pengobatan. Sehingga pada suatu saat mungkin akan muncul “terapi menulis”. Mau sehat? Mau sembuh dari penyakit yang Anda derita? Menulislah!

*) Agung Praptapa adalah seorang dosen, konsultan manajemen dan akuntansi, serta trainer di bidang pengembangan diri dan organisasi. Penulis buku “The Art of Controlling People” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, tahun 2009 ini aktif menulis setelah bergabung dengan Proaktif Shoolen Network. Sampai saat ini ia aktif menjadi pembicara di dalam negeri maupun di luar negeri. Email: praptapa@yahoo.com.

Telah di baca sebanyak: 372

Ayo Jaga Stamina Semangat, Jangan Loyo


“Jangan biarkan semangat sukses mengendor. Buatlah rangsangan supaya semangat sukses tetap membara”

Semangat memang bisa naik dan bisa turun. Terkadang kita sangat bersemangat untuk mengerjakan sesuatu. Pada kesempatan lain, kita sudah tidak lagi bersemangat. Salah seorang kenalan saya yang berobsesi menjadi seorang pengusaha sukses, beberapa saat yang lalu sangat bersemangat untuk mengembangkan bisnisnya. “Bisnis dengan model kecil dengan penghasilan luar biasa” demikian Ia memberi label pada bisnisnya. Namun saat ini Ia saya lihat tidak terlampau bersemangat seperti sedia kala. Teman saya lainnya memiliki obsesi menjadi seorang penulis terkenal. Saat sedang semangat-semangatnya menulis, Ia mentargetkan menulis satu artikel setiap hari. Hasilnya saat itu memang luar biasa. Dalam satu bulan Ia mampu menyelesaikan satu draft buku. Sayang sekali semangat itu mulai mengendor. Saat saya tanya tentang kemajuan tulisan-tulisannya dikatakannya bahwa Ia sendiri tidak tahu mengapa saat ini semangatnya mengendor. “Gimana sih biar kita bisa menjaga semangat supaya konsisten tetap semangat?” demikian pertanyaan yang kemudian Ia munculkan. Tulisan ini mencoba menjawab pertanyaan teman saya tadi, yaitu supaya kita bisa menjaga stamina semangat kita, biar “ON” terus, gak pernah loyo.

Seseorang akan memiliki semangat untuk mengerjakan sesuatu apabila Ia memiliki rangsangan yang cukup untuk mengerjakan hal tersebut. Rangsangan tersebut bisa datang dari diri sendiri maupun datang dari orang lain. Rangsangan yang datang dari diri sendiri berkaitan dengan keinginan orang tersebut untuk mewujudkan sesuatu. Sebagai contoh, seseorang yang menginginkan untuk memiliki bisnis restoran akan memiliki semangat untuk mewujudkan berdirinya sebuah restoran. Semakin besar keinginan untuk memiliki sesuatu akan semakin besar pula semangat kita untuk mengerjakan sesuatu. Semakin besar keinginannya akan semakin besar pula semangatnya. Untuk itu agar kita memiliki semangat yang membara maka kita harus jaga keinginan kita untuk mewujudkan sesuatu.

Buatlah imajinasi yang mendorong kita ingin mewujudkan keinginan kita. Seorang yang ingin menulis sebuah buku akan terjaga semangatnya apabila Ia sering berimajinasi tentang buku-bukunya yang dipajang di toko buku dan kesibukannya melayani pembaca yang minta tanda tangan. Berimajinasi itu gratis! Mengapa tidak sering lakukan? Berimajinasi itu tidak akan membuat kita malu karena tidak ada orang lain yang tahu. Maka kita tidak perlu ragu-ragu untuk berimajinasi. Dari mana harus memulai, ingin dulu atau imajinasi dulu? Dua-duanya bisa. Kalau kita sudah memiliki keinginan maka berimajinasilah. Namun bisa juga sebaliknya, kita berimajinasi kemudian keinginan akan muncul.

Rangsangan yang membangkitkan semangat kita bisa juga datang dari orang lain. Teman kita yang sukses dalam hal tertentu akan merangsang kita untuk melakukan hal yang sama. Saya ingat saat saya berhasil menulis sebuah buku yang berjudul “the art of controlling people” yang kemudian diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, teman-teman saya banyak yang terangsang untuk menulis juga. Saya amati beberapa dari mereka kemudian menyisihkan waktu di tengah kesibukannya untuk menulis. Kalau demikian, agar kita terangsang maka kita perlu bergaul dengan orang-orang yang menurut pertimbangan kita akan merangsang semangat kita untuk mengerjakan hal tertentu. Kalau kita ingin menjadi penyanyi akan lebih kondusif apabila kita sering berada di tengah masyarakat yang menekuni dunia entertainment. Seseorang yang memiliki obsesi menjadi penyanyi mungkin tidak akan terangsang semangatnya apabila berada di sekitar ilmuwan. Demikian pula sebaliknya. Seseorang yang memiliki obsesi menjadi seorang ilmuwan akan terangsang semangatnya apabila berada di sekitar para ilmuwan, apabila menyaksikan presentasi dari profesor terkenal, atau hadir dalam seminar-seminar.

Agar kita bisa menjaga semangat kita agar tetap berstamina dan tidak loyo cobalah simak beberapa anjuran yang saya dapatkan dari beberapa sumber:
a. Terus bangkitkan keinginan untuk mendapatkan sesuatu
b. Beradalah di sekitar orang-orang yang akan membuat Anda bersemangat untuk maju.
c. Jangan berhenti berimajinasi.
d. Hindari pernyataan diri yang akan menurunkan semangat kita seperti aku sudah terlambat untuk memulai, aku terlampau muda, aku terlampau tua, aku tidak berbakat, aku tidak secerdas mereka, pendidikanku tidak sehebat mereka, aku tidak kaya seperti mereka, dan sebagainya.
e. Terus tanamkan ion-ion positif di dalam pikiran kita. Jaga pikiran positif kita.
f. Jangan biarkan ion negatif masuk dalam pikiran kita. Buanglah pikiran negatif.
g. Bergembiralah kalau ada orang yang sukses, kemudian berdoalah agar kita bisa juga seperti mereka.
h. Segera lakukan action pada apa yang kita inginkan. Perjalanan ribuan kilometer hanya akan bisa kita capai bila kita melangkah untuk pertama kalinya, yang kemudian kita susul dengan langkah-langkah berikutnya.
i. Sering-seringlah membaca buku yang membangkitkan semangat.
j. Pilih tayangan televisi yang memberikan semangat.
k. Saat kira sadar bahwa kita sedang tidak bersemangat, segera bangkit, dan kobarkan kembali semangat kita.

Jangan sia-siakan hidup kita. Jangan sia-siakan waktu kita. Jangan biarkan kita loyo. Ayo bangkit. Kita jaga semangat kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Jangan biarkan pikiran negatif melemahkan semangat kita. Be positive! Maju terus pantang mundur. Semangat!

*) Agung Praptapa adalah seorang dosen, konsultan manajemen & akuntansi, dan trainer di bidang pengembangan diri dan pengembangan organisasi. Penulis buku “The Art of Controlling People” (Gramedia, 2009). Alumni Proaktif Schoolen.

Telah di baca sebanyak: 295

Bakat vs Usaha


“Potensi yang tidak diledakkan akan tetap menjadi potensi saja, tidak akan terwujud sebagai kemampuan untuk melakukan tindakan.”

Saya sering mendapatkan keluhan dari mahasiswa maupun peserta training bahwa mereka merasa tidak berbakat memimpin. Dalam kesempatan lain mereka menyampaikan lagi bahwa mereka tidak berbakat seni, olah raga, menulis, dan sederetan alasan lainnya untuk menjustifikasi bahwa mereka tidak mampu melakukan hal tertentu karena mereka tidak berbakat. Kata “tidak berbakat” nampaknya menjadi kambing hitam yang paling mudah. “Jangan salahkan aku kalau aku tidak mampu melakukan hal tertentu karena aku tidak berbakat” demikian kurang lebih pesan yang terkandung dalam pernyataan mereka.

Namun pada saat saya tanyakan kepada yang merasa “tidak berbakat” mengenai sudah seberapa jauh mereka belajar, berlatih dan mencoba, mereka mulai mencari-cari alasan berikutnya. Mereka katakan bahwa walaupun belum mencobanya tetapi mereka tahu dan bisa merasakan kalau mereka tidak berbakat. “Seperti ejakulasi dini saja, belum apa-apa sudah loyo” demikian saya sering meledek mereka-mereka yang terlampau cepat memvonis dirinya tidak mampu karena tidak berbakat.

Berkaitan dengan masalah bakat, dalam suatu kesempatan pelatihan kepemimpinan saya memulai dengan pertanyaan “Apakah Anda percaya bahwa para pemimpin besar memang dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin? Atau Anda lebih percaya bahwa para pemimpin besar ditempa dalam perjalanan hidupnya sehingga menjadilah ia seorang pemimpin?” Jawaban yang aman memang ke dua-duanya bisa. Bisa saja kita menjawab dengan enteng bahwa ada seorang pemimpin yang memang dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin dan ada yang menjadi pemimpin karena dibentuk oleh dirinya sendiri maupun oleh lingkungannya sehingga seseorang menjadi seorang pemimpin. Namun bukan sekedar jawaban tentunya yang kita cari. Kita ingin mendapatkan jawaban yang memiliki landasan pemikiran yang kuat, yang based on evidence, yang berdasarkan bukti! Bisakah kita membuktikan bahwa seseorang memang dilahirkan untuk menjadi pemimpin? Apa buktinya pemimpin itu ditempa dan dibentuk?

Banyak keturunan pemimpin juga menjadi pemimpin. Kalau kita mendengar nama Kennedy, asosiasi kita langsung ke keluarga Kennedy di Amerika Serikat yang turun menurun menjadi pemimpin. Ada George Bush kemudian munculah George W. Bush. Ada Mahatma Gandhi kemudian muncul Indira Gandhi. Ada Sukarno dan kemudian muncullah Megawati Sukarno Putri. Jadi nampaknya di sini sifat-sifat kepemimpinan bisa diturunkan sehingga seorang pemimpin bisa melahirkan pemimpin berikutnya. Benarkah sifat-sifat kempemimpinan bisa diturunkan secara biologis?

Saya tidak akan memperdebatkan masalah ini dari aspek genetika karena memang hal tersebut bukan dalam bidang keahlian saya. Namun demikian saya yakin bahwa manusia dilahirkan dengan potensi sendiri-sendiri. Setiap manusia itu unik. Tidak ada yang sama persis. Meskipun seorang manusia dilahirkan seperti halnya kertas putih bersih yang belum tercoret, mereka dianugrahi potensi yang berbeda antara satu dengan lain. Saya termasuk yang tidak yakin bahwa manusia dilahirkan dengan potensi yang sama. Oleh karenanya saya katakan berulang kali bahwa manusia memiliki potensi yang unik antara satu orang dengan lainnya.

Seorang anak yang lahir dari pasangan yang cerdas memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk memiliki potensi kecerdasan seperti halnya orang tuanya. Ini logika yang wajar saja. Buah akan akan jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kalau bakat dan sifat orang tuanya menurun kepada anaknya itu tentunya sudah sewajarnya. Namun ingat, yang diturunkan kepada anaknya masih bersifat potensi. Potensi itu akan tetap diam tidak akan menjadi realitas kalau tidak diwujudkan dalam tindakan. Seorang anak yang berpotensi menjadi pelari cepat tidak akan menjadi pelari cepat kalau ia tidak mencoba berlari. Seorang anak yang memiliki potensi memimpin tidak akan pernah benar-benar menjadi pemimpin kalau tidak melakukan tindakan sebagai seorang pemimpin. Seorang anak yang memiliki bakat menulis tidak akan pernah menjadi penulis apabila ia tidak menulis. Potensi yang mereka miliki bukan apa-apa apabila tidak diwujudkan dalam suatu tindakan. Sebuah senapan tidak akan meletus apabila tidak ditarik pelatuknya. Kalau demikian, dari pada meributkan seorang pemimpin itu dilahirkan atau tidak lebih baik kita langsung saja mengambil tindakan untuk menjadi seorang pemimpin. Hal ini lebih efektif dari pada kita disibukkan untuk memikirkan apakah kita berbakat untuk menjadi pemimpin atau tidak.

Kalau kita bicara tentang bakat, harus diakui bahwa orang yang memilki bakat tertentu akan belajar lebih cepat dari pada yang kurang berbakat. Seseorang yang memiliki bakat seni musik akan lebih cepat belajar musik dari pada yang tidak atau kurang berbakat dalam hal seni. Namun perlu dicatat di sini bahwa orang yang berbakat seni tetapi tidak mau belajar seni tidak akan memiliki kemampuan seni. Mengapa? Karena bakat itu hanya berupa potensi. Kalau potensi tersebut tidak diledakkan ya akan tetap menjadi potensi saja. Tidak akan terwujud sebagai kemampuan untuk melakukan tindakan. Dengan kata lain, seorang yang tidak memiliki bakat musik tetap bisa memiliki kemampuan di bidang musik apabila mereka mau belajar. Konotasi belajar di sini tidak berarti belajar dalam arti formal maupun informal, tetapi juga belajar dalam arti mencoba melakukan (experiental learning). Maka jangan pernah memvonis diri sendiri tidak berbakat dalam suatu bidang tertentu sebelum mencobanya. Sampai di sini kita masih memiliki kesimpulan yang sama bahwa seberapa besarpun bakat kita tidak akan menjadi kemampuan yang sebenarnya kalau kita tidak pernah mencobanya. Dengan kata lain, dari pada sibuk memikirkan bakat kita lebih baik kita sibuk melatih diri kita untuk menjadi seperti apa yang kita harapkan.

Saat kita merasa tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukan sesuatu, hal tersebut bukan selalu karena bakat. Bahkan beberapa pakar menyatakan bahwa kemampuan yang kita miliki hanya 15% yang berasal dari bakat. Selebihnya, yaitu 85%, berasal dari belajar, latihan, dan mencoba. Dengan demikian, kalau kita belajar dengan benar, melatih diri dengan benar, dan mencoba dengan benar maka kita akan menghasilkan kemampuan yang jauh lebih besar dari pada mengandalkan hanya pada faktor bakat saja.

Mau memiliki kemampuan yang hebat? Keep trying, keep doing! Ledakkan potensi Anda.

*) Agung Praptapa adalah penulis buku “The Art of Controlling People”, Gramedia, 2009. Ia seorang dosen, konsultan bisnis, dan trainer di bidang personal and organizational development. Alumni Writer Schoolen dan Trainer Schoolen. Email: praptapa@yahoo.com Web: www.praptapa.com

Telah di baca sebanyak: 307

Nguwongke: Memanusiakan Manusia


Dalam teori ekonomi manusia dimasukkan sebagai faktor produksi, sama halnya bahan baku, mesin, dan uang. Akibatnya banyak teori turunannya yang menempatkan manusia sebagai alat produksi juga. Ilustrasi logikanya begini: “Kamu bekerja di sini digaji Rp. 5 juta maka kamu harus menghasilkan untuk perusahaan Rp. 8 juta sehingga perusahaan untung Rp. 3 juta. Kalau kamu menghasilkan dibawah Rp. 5 juta berarti perusahaan rugi, dan kamu harus digantikan orang lain yang akan mampu menghasilkan melebihi yang aku keluarkan untuk menggaji orang tersebut.” Logika tersebut diberlakukan kepada semua orang sehingga total keuntungan tinggal dihitung saja. Setiap orang berkontribusi terhadap keuntungan sehingga semakin banyak orang akan semakin banyak keuntungan didapat. Seperti halnya mesin, kalau satu mesin dapat menghasilkan 100 unit produk maka lima mesin akan menghasilkan 500 unit produk. Rasakan bagaimana kalau kita bekerja pada suatu perusahaan yang menggunakan logika tersebut? Akan nyamankah kita? Maukah Anda diberlakukan seperti itu?

Anda pasti merasa ngeri dengan perlakuan manusia sebagai faktor produksi seperti itu. Manusia dianggap seperti halnya mesin saja. Ini tentunya tidak manusiawi. Untuk itulah maka banyak pendekatan manajemen yang kemudian memberikan perlakuan tersendiri terhadap faktor produksi yang satu ini. Manusia di tempatkan sebagai manusia. Namun tetap saja manusia dituntut memberikan keuntungan ekonomis terhadap perusahaan. Manusia dirangsang dengan berbagai cara agar bekerja lebih giat. Munculah kemudian konsep reward and punishment, bahkan ada yang menggunakan istilah carrot and stick. Agar termotivasi bekerja lebih baik, manusia dirangsang dengan wortel (sebagai simbol dari reward) dan ditakut-takuti dengan tongkat pemukul (sebagai simbol dari punishment). Kalau begini, komplit sudah penderitaan manusia, yang tidak dimanusiakan dalam dunia kerja!

Konsep yang tumbuh dan dikembangkan sejak jaman revolusi industri tersebut terus digunakan sampai sekarang. Konsep itu dianggap paling pas untuk mengendalikan orang. Namun manusia adalah manusia. Tetap saja ada rasa. Ada jiwa. Rasa dan jiwa tersebut perlu disirami, dibelai, dan diberi kasih sayang agar tidak mati. Manusia harus dimanusiakan. Konsep pendekatan memanusiakan manusia inilah yang dalam kearifan lokal jawa disebut dengan istilah “nguwongke”.

Nguwongke berasal dari kata “uwong”, kata dalam bahasa jawa yang berarti orang atau manusia. Sehingga nguwongke dapat diterjemahkan sebagai memanusiakan, atau menempatkan manusia sebagai manusia. Seorang manusia berbeda antara satu dengan lainnya. Tidak ada yang sama persis. Oleh karenanya dalam menangani manusia terdapat aspek yang sifatnya “customized”, yang berbeda antara menangani satu orang dengan orang lain. Namun sekali lagi manusia adalah manusia. Disamping memiliki kekhasan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain, terdapat pula kesamaan antara seorang manusia dengan manusia lain.

Setiap manusia ingin hidup nyaman, ingin dicintai, ingin dihargai, ingin dimengerti. Mari kita kaitkan dengan masalah pengendalian. Dalam konsep pengendalian, apabila kita berhasil memberikan apa yang diperlukan oleh orang-orang disekitar kita, maka orang-orang disekitar kita akan lebih mudah dan lebih merasa nyaman saat harus kita kendalikan. Dengan kata lain, karena manusia ingin hidup nyaman maka apabila kita berhasil memberikan kenyamanan, kita akan lebih mudah mengendalikan orang tersebut. Jadi, karena mereka ingin cinta, maka berikanlah cinta. Mereka ingin dihargai, maka berikan penghargaan. Mereka ingin dimengerti, maka berikan pengertian. Itu kiatnya. Berikan apa yang mereka inginkan, karena sebagian besar yang mereka inginkan sebetulnya kita mampu untuk memberikannya.

Tapi kan sebenarnya yang dibutuhkan oleh orang-orang di sekitar kita adalah uang? Iya, benar. Mereka butuh uang. Untuk hal ini mari kita renungkan sejenak. Mereka memang butuh uang. Tetapi mereka butuh juga yang lainnya bukan? Kalau kita mampu memberikan ‘uang’ seperti yang mereka inginkan, itu bagus. Tetapi itu juga tidak secara otomatis akan membuat mereka kemudian mudah dan nyaman kita kendalikan. Ada tipe-tipe orang yang prinsip bekerjanya adalah transaksional. Ada uang saya bekerja, kalau tidak ada uang ya maaf saja. Ada pula orang yang dalam bekerja lebih mementingkan kehangatan, dimana mereka memerlukan uang tetapi keharmonisan hubungan lebih mereka utamakan. Disinilah mulai nampak bahwa setiap orang memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Prioritas seseorang dengan orang lain berbeda-beda.

Nah, kalau kita berhadapan dengan kekhasan orang, maka kita perlu memiliki soft skill untuk memahami orang per orang. Dari kebutuhan umum orang-orang disekitar kita yang dapat kita generalisasikan, ternyata ada prioritas yang berbeda antara satu dengan lainnya. Secara umum orang ingin kaya, ingin memiliki kekuasaan, ingin terkenal, ingin dihormati, ingin didengar, ingin dikagumi, dan ingin-ingin yang lainnya. Coba kita amati, dari daftar keinginan tersebut ternyata prioritas satu orang dengan orang lainnya tidak selalu sama. Kalaupun sama, terkadang juga sama secara umum saja, detailnya biasanya berbeda. Inilah yang menjadikan antara satu orang dengan orang lainnya memiliki kekhasan yang tersendiri.

Keragaman keinginan yang berbeda-beda ini memberikan kesempatan kepada kita untuk bisa menjadikan mereka di bawah kendali kita. Di bawah kendali di sini bukan berarti kemudian mereka bisa kita perbudak. Bukan begitu. Di bawah kendali kita berarti mereka dapat bersama-sama kita mendapatkan apa yang kita mau. Mereka menjadi ada kerelaan untuk bersama-sama kita mencapai tujuan bersama. Mengapa saya sebut sebagai kesempatan? Karena tidak semua orang mampu memahami perbedaan-perbedaan tersebut. Padahal, memahami perbedaan tersebut sebenarnya tidaklah sulit. Hanya diperlukan kerelaan kita untuk mau mengerti. Dan sekali seseorang merasa dipahami, dimengerti, dihargai, dan merasa dimanusiakan, maka ada kecenderungan mereka merasa kita ada di pihak mereka, sehingga mereka juga akan menempatkan diri di pihak kita pula. Terjadilah di sini perasaan bahwa kita adalah “kita”, atau “we”, bukan “You and I”.

Kalau ingin dihargai, hargailah orang lain. Kalau ingin dimengerti, cobalah mengerti orang lain. Manusia adalah manusia. Perlakukan mereka sebagai manusia. Mari kita coba untuk selalu “nguwongke” orang-orang di sekitar kita sehingga mereka juga akan “nguwongke” kita. Setelah itu, lihat saja, mereka akan dengan rela bersama-sama kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. They will be under our influence. They will be under our control. We will be “us” not “You and I”.

*) Agung Praptapa, adalah penulis buku “The art of controlling people” (Gramedia, 2009). Seorang dosen, konsultan, dan trainer untuk pengembangan diri maupun pengembangan organisasi. Alumni Proaktif Schoolen.

Telah di baca sebanyak: 598

The Power of Passion


Semua orang pasti ingin sukses. Meskipun bentuk dan ukuran sukses berbeda antara satu orang dengan orang lain, namun dapat dipastikan ada keinginan dalam diri setiap orang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sayang, tidak banyak orang yang memahami bagaimana mengelola “keinginan” ini menjadi suatu kekuatan dahsyat untuk mendapatkan sukses yang kita mau.
Untuk sukses ada beberapa elemen yang terlibat. Yang pertama adalah seberapa jelas kesuksesan yang diinginkan. Kedua, seberapa besar kita menginginkan kesuksesan tersebut. Ketiga, bagaimana kita mengolah keinginan tersebut menjadi kenyataan. Nampak di sini bahwa kesuksesan selalu berkaitan dengan keinginan. Untuk mengendalikan sukses bisa kita lakukan dengan mengendalikan keinginan. Dengan kata lain, keinginan yang terkendali akan cenderung mendekatkan kita pada sukses yang kita inginkan. Mari kita bahas satu persatu tentang bagaimana keinginan akan mendorong sukses kita.

Memahami apa yang kita inginkan merupakan modal utama agar kita dapat mewujudkan apa yang kita inginkan. Untuk menjelaskan hal ini, saya sering menggunakan ilustrasi sebagai berikut. Kalau Anda harus melempar bola ke dalam suatu keranjang tetapi Anda tidak mengetahui dimana letak keranjang tersebut, tentunya akan sangat kecil kemungkinannya Anda dapat memasukkan bola tersebut ke dalam keranjang. Kemungkinan untuk memasukkan bola tersebut ke dalam keranjang akan lebih besar apabila Anda mendapatkan gambaran yang lebih jelas dimana keranjang tersebut berada dan seberapa besar keranjang yang akan kita tuju tersebut. Dalam hal menuju sukses juga demikian. Semakin jelas Anda mengetahui kesuksesan yang Anda inginkan akan semakin besar kemungkinan kita mendapatkan sukses tersebut. Untuk itulah maka agar kita lebih mudah dan lebih tepat dalam menuju sukses yang kita inginkan, kita harus memiliki gambaran yang jelas tentang sukses yang kita maksud. Harus jelas apa yang sebenarnya kita inginkan.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang kita inginkan, kita dapat menggunakan teknisk visualisasi. Dalam visualisasi, kita mencoba menggambarkan dengan jelas di dalam pikiran dan hati kita apa sebenarnya yang kita inginkan. Kalau sukses yang kita inginkan adalah menjadi pengusaha yang kaya raya maka kita dapat menciptakan ‘film’ atau ‘potret’ dalam pikiran kita tentang penampilan kita saat apa yang kita inginkan tersebut tercapai. Misalnya, menggambarkan kita berdasi dengan mengendarai mobil mercedes yang termahal. Kalau kita ingin menjadi penulis terkenal kita bisa menggambarkan buku-buku kita terpajang di toko buku dan diserbu oleh para pembeli. Visualisasi akan memperjelas apa sebenarnya yang kita inginkan.

Setelah kita mendapatkan gambaran yang jelas tentang sukses yang kita inginkan, berikutnya adalah kita harus menjaga agar kita cukup energi atau cukup kuat keinginan kita untuk mendapatkan yang kita inginkan. Energi atau kekuatan untuk mendapatkan yang kita inginkan sering disebut dengan istilah passion. Dalam pengertian umum, passion adalah very strong feeling about something, perasaan yang menggebu akan sesuatu. Kita disebut memiliki passion apabila kita memiliki perasaan yang kuat tentang sesuatu, yang kalau perlu kita mengatakan “I’m dying for it” atau “sumpah mati aku inginkan itu!”. Kata-kata lain yang dapat menggambarkan passion sebagai contoh adalah: “saya rela mati untuk mendapatkan itu”, “saya akan lakukan apapun untuk itu”, “saya tergila-gila pada hal tersebut”.

Orang yang memiliki passion akan mengumpulkan segala energi yang mereka miliki untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Semakin besar passion kita akan semakin besar energi yang dapat kita himpun. passion yang dikelola dengan benar tidak akan menghabiskan energi yang kita miliki, tetapi justru akan melipat gandakan energi yang kita miliki. Dengan demikian, kalau kita memiliki keahlian untuk mengelola passion kita, maka kita akan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk sukses. Bagaimana mengelola passion agar efektif?

Terdapat beberapa strategi untuk mengelola passion. Pertama, berikan misi mulia pada apa yang kita inginkan tersebut. Misi mulia ini bisa kita kaitkan dengan agama, dengan misi kemanusiaan, dengan misi perdamaian, dan apapun yang penting kita dapat memberikan kandungan misi mulia atas apa yang kita inginkan. Agar hal ini efektif, kita harus jujur pada diri sendiri tentang misi mulia yang kita yakini. Kalau kita seorang yang agamis, mengkaitkan apa yang kita inginkan dengan ibadah akan sangat efektif. Tetapi kalau kita kurang agamis (ini pun perlu kejujuran pada diri sendiri untuk menyatakan kita agamis, kurang agamis, atau tidak agamis), pendekatan melalui agama tentunya akan kurang efektif. Kita bisa menciptakan misi mulia lainnya dari aspek kemanusiaan misalnya. Pernyataan-pernyataan berikut ini mungkin dapat membantu memahami misi mulia atas passion kita: “saya mati-matian menginginkan hal tersebut karena saya yakin ini sebagai bagian dari ibadah saya”, “tidak banyak orang yang mau melakukan ini, tetapi kalau tidak mulai dari diri sendiri, bagaimana nasib masa depan negeri ini?”, “saya harus berjuang melawan kemiskinan, maka tidak ada pilihan lain bahwa aku harus lakukan ini”. Tentunya Anda dapat mengembangkan sendiri contoh-contoh lainnya untuk memberikan kandungan misi mulia pada passion kita.

Strategi berikutnya adalah dengan cara bergaul dengan orang yang memiliki passion yang sejenis. Kalau kita tergila-gila pada musik jazz, maka kita akan semakin gila kalau kita bergaul dengan orang yang gila musik jazz. Kalau kita ingin sekali menjadi penulis terkenal maka kita akan lebih ingin lagi kalau kita bergaul dengan para para penulis. Pembicaraan kita dengan teman-teman bergaul kita tidak akan lepas dari apa yang menjadi obsesi masing-masing. Hal ini merupakan pupuk yang sangat baik untuk menyuburkan passion kita.

Ada pula strategi pengelolaan passion yang sifatnya self-motivation, yaitu menciptakan getaran-getaran dari dalam diri kita sendiri untuk menjaga dan memperkuat passion kita. Cara ini benar-benar mengandalkan diri sendiri untuk terus mengobarkan passion yang kita miliki. Kobaran passion ini akan dirangsang oleh terangkatnya kembali memori positif maupun memori negatif yang kita miliki. Kalau kita tiba-tiba teringat masa kecil kita yang serba kekurangan maka passion kita akan berkobar untuk melawan perasaan masa lalu yang pernah kita alami. “Saya harus bekerja keras agar kemiskinan masa lalu tidak terulang kembali”, “saya dendam terhadap kemiskinan, saya sekarang mau kaya!”, dan getaran-getaran lain akan muncul saat kita teringat masa-masa miskin kita. Marah kita dan dendam kita terhadap kemiskinan akan membuat passion kita berkobar. Ini yang disebut marah positif dan dendam postif.

Ada lagi strategi yang sangat efektif untuk menjaga passion kita, yaitu melalui do’a. Dengan berdo’a kita memohon kepada Tuhan agar apa yang kita inginkan tersebut terkabul. Pada saat berdoa kita harus me”restate”, menyatakan ulang apa sebenarnya yang kita inginkan. Hal ini akan memberikan gambaran yang jelas, atau memperjelas gambaran yang hampir kabur, yang akhirnya adalah mengingatkan kepada kita apa sebenarnya yang kita inginkan. Do’a akan memberikan kekuatan. Do’a akan memberikan kita energi.

Hampir sama dengan strategi melalui do’a, kita bisa juga menjaga passion kita dengan cara afirmasi, yaitu menyatakan berulang-ulang pada diri sendiri apa yang kita inginkan. Seorang penulis yang menginginkan bukunya segera terbit dapat melakukan afirmasi dengan mengatakan pada diri sendiri “bukuku harus segera terbit”. Kata-kata yang dikatakan berulang-ulang dengan penuh keyakinan tersebut akan memberikan energi luar biasa pada diri kita untuk mewujudkannya. Cara ini banyak digunakan oleh team-team pemasaran yang ingin mencapai target dengan mengucapkan bersama-sama anggota teamnya setiap pagi bahwa “hari ini kita mencapai target!”. Olahragawan juga sering menggunakan teknik afirmasi ini untuk meningkatkan prestasinya, misalnya, atlit pelari cepat mengatakan pada diri sendiri “aku bisa lari lebih cepat” berulang kali untuk memberikan energi agar mereka benar-benar bisa berlari lebih cepat.

Passion harus dijaga agar terus berkobar. Passion akan mendorong kita mewujudkan apa yang kita inginkan. Passion akan memberikan tenaga. Passion is powerful. Dengan terus mengendalikan passion kita, sukses akan lebih mudah kita dapatkan. Passion membuat apa yang nampaknya berat menjadi lebih ringan. Jangan sia-siakan hidup kita. Berikan sukses untuk diri kita. Salam hangat. Sukses untuk kita semua.

*) Agung Praptapa adalah penulis buku “The Art of Controlling People”, Gramedia, 2009. Ia seorang dosen, konsultan bisnis, dan trainer di bidang personal and organizational development. Alumni Writer Schoolen dan Trainer Schoolen. Email: praptapa@yahoo.com Web: www.praptapa.com

Telah di baca sebanyak: 402

Belajar Dari Penerbit


Kurang lebih dua minggu yang lalu saya memasukkan naskah calon buku saya kepada penerbit terkenal di negeri ini. Pagi tadi saya mendapatkan sms dari salah satu pimpinan penerbit tersebut yang kurang lebih isinya adalah sebagai berikut: “…., naskah perlu dilengkapi, banyak yang belum dipaparkan. Juga lebih dieksplisitkan global actionnya kalau mau pakai judul itu”. Dari sms tersebut saya mengambil kesimpulan bahwa buku saya belum bisa diterbitkan melalui penerbit tersebut apabila tidak saya lakukan penambahan dan perbaikan isi. “Ini pengalaman baru” demikian saya katakan dalam hati kepada diri sendiri. Pengalaman sebelumnya, saya melakukan presentasi tentang draft buku saya di depan penerbit, dan penerbit langsung menerima saat itu juga. Untuk calon buku yang satu ini mendapatkan pengalaman yang berbeda. Setelah menunggu hampir dua minggu akhirnya mendapatkan jawaban bahwa buku saya belum bisa diterbitkan. “Ha..ha…pengalaman ini dapat dijadikan bahan tulisan” demikian saya berkelakar dengan diri sendiri.

Terus terang saja saya berencana menerbitkan buku ke dua yang saya beri judul “ Local Wisdom Global Action”. Buku itu membahas bagaimana kita dapat memenangkan persaingan kerja dengan menggunakan formula sukses yang berasal dari kearifan lokal jawa. Sebagian besar isi buku tersebut telah saya publikasikan melalui pembelajar.com. Tema tersebut saya angkat sebagai salah satu bentuk keprihatinan bahwa beberapa produk asli Indonesia di klaim oleh negeri tetangga sebagai produk asli mereka. Saya khawatir, kalau kearifan lokal yang kita miliki tidak segera diabadikan dalam bentuk buku, bisa saja nanti konsep-konsep dari kearifan lokal tersebut dipelintir oleh mereka sebagai kearifan lokal mereka. Kekhawatiran yang terlampau berlebihan sebetulnya. Namun saya punya keyakinan bahwa tema-tema tersebut harus segera diangkat. “This is the time” pikir saya. Dalam draft buku saya tersebut, saya mengulas persaingan kerja dengan pendekatan manajemen modern, yang selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal yang universal.

Kembali kepada tanggapan yang diberikan oleh penerbit, ini merupakan pembelajaran bagi saya. Dengan masukan yang singkat padat dalam bentuk sms tersebut, saya nilai sebagai tembakan yang pas kena sasaran. Saya ingin menimba pengalaman. Saya sangat senang draft buku saya diberi masukan yang konstruktif. Dengan niat ingin bisa belajar lebih jauh, saya putuskan untuk menelpon penerbit tersebut.

“Buku Anda masih terlampau prematur” demikian kata penerbit tersebut. Ia menyebutkan topik-topik yang semestinya menarik untuk diangkat. “Buku Anda tidak berimbang antara aspek larangan dengan aspek anjuran. Terlampau banyak jangan begini jangan begitu. Positif dan negatifnya tidak berimbang” imbuhnya. “Betul juga…” demikian saya katakan dalam hati. Ini modal utama untuk perbaikan.

Jumlah halaman juga menjadi kendala dalam draft buku ini. “Kalau jumlahnya hanya sekian.wah … njilidnya harus dengan jilidan kawat…kan gak lucu” katanya. Memang benar. Draft buku saya hanya 63 halaman A4 dua spasi. Saya memang berniat menerbitkan buku yang tidak terlampau tebal, agar pembaca dapat menyelesaikan membaca buku tersebut dalam waktu singkat. Saya juga telah melakukan pengamatan ke toko buku tentang ketebalan buku, dan saya temukan tidak sedikit buku-buku yang hanya sekitar 60an halaman. Terus terang, saya memang tertarik untuk menerbitkan buku yang tipis-tipis saja. Tetapi saya tidak memperhitungkan sama sekali tentang teknis penjilidannya. Ternyata kalau buku terlampau tipis kualitas penijilidannya kurang bagus. Mungkin juga di punggung buku tidak cukup untuk menulis judul buku dan nama penulisnya. Kalaupun bisa mungkin terlampau dipaksakan, dengan huruf yang kecil-kecil.

Dalam percakapan melalui telepon dengan penerbit tersebut, saya diberi tahu tentang beberapa contoh artikel yang mungkin dapat dijadikan acuan, agar isi buku saya bisa memiliki greget yang lebih nendang. Saya juga diberitahu tentang pentingnya menempatkan paradoks dalam suatu tulisan. “Nah….ini dia…saya dapat ilmu!” demikian dalam hati saya bersorak.

Saya juga menyampaikan kemana sebenarnya arah fokus bahasan buku saya tersebut. “Jangan…itu mempersempit target pembaca!” katanya tegas. “Ha..ha…..satu lagi ilmu yang saya dapat” demikian saya katakan dalam hati. Saya dengan senang hati menerima sarannya. Dalam perhitungan saya, fokus pada masalah yang saya usulkan tersebut akan menciptakan segmen pembaca yang jelas. Namun kacamata penerbit mengatakan lain. Mereka sangat berpengalaman tentang hal itu. Dan ini pelajaran buat saya. Fokus itu baik, tetapi kepekaan terhadap pasar harus tetap dijaga.

Saya kemudian menyampaikan rencana saya untuk melakukan reorientasi pada buku saya tersebut. Saya dalam beberapa hari yang lalu, sambil menunggu tanggapan dari penerbit, memiliki suatu pemikiran bahwa kalau orientasi pembahasan buku digeser sedikit saja, efek pasarnya akan sangat dahsyat. “Kalau itu saya setuju….saya paham” kata beliau dari penerbit.

Sambil menyelesaikan tulisan ini saya memiliki beberapa ide agar buku saya nanti akan lebih joss…lebih cespleng! Saya memang harus menulis kembali buku saya tersebut, tidak masalah. Toh demi suksesnya buku tersebut. Saya tidak tahu mengapa tiba-tiba dalam hati saya muncul getaran semangat yang membara untuk menulis buku yang best seller. Saya yakin bisa. Lihat saja nanti!

Saya menulis pengalaman ini benar-benar untuk tujuan sharing. Saya pun ingin mendengar pengalaman orang lain dalam berinteraksi dengan penerbit. Penulis dan penerbit adalah mitra. Sebagai mitra kita harus menjadi satu tim yang solid untuk menyukseskan buku-buku yang diterbitkan.

Para sahabat, sharing Anda saya nantikan. Semoga tulisan ini bermanfaat. Sukses untuk kita semua.

*) Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga Direktur AP Consulting, yang memberikan jasa konsultasi bisnis dan training di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Kolumnis di pembelajar.com dan juga penulis buku “the art of controlling people”. Website: www.praptapa.com; Email: praptapa@yahoo.com.

Telah di baca sebanyak: 275

Dare to Say “NO”


Penyesalan akan datang kemudian. Ini pasti. Tidak mungkin dong kita menyesal sebelum berbuat sesuatu. Penyesalan akan datang saat kita menyadari kalau ternyata apa yang kita lakukan tidak menghasilkan apa yang diharapkan. Kita mau lulus ujian tetapi kita ternyata tidak lulus. Muncullah penyesalan atas apa yang telah kita lakukan, yang menjadikan kita tidak lulus. “Seandainya saya waktu itu tidak melakukan hal seperti itu, mungkin ceritanya menjadi lain” demikian kesimpulan yang biasanya dibuat oleh mereka yang sedang menyesali perbuatannya. Namun semua sudah terjadi. Sekarang akhirnya begini. Yang ada tinggal penyesalan. Saya yakin kebanyakan dari kita pernah mengalami perasaan seperti itu.

Saya pernah didatangi seorang mahasiswa yang tidak mengikuti ujian semester sehingga terpaksa tidak saya luluskan. Setelah saya tanya mengapa tidak mengikiuti ujian, dijawab bahwa ia saat itu ketiduran. Wah sederhana sekali alasannya? Walaupun ini alasan yang seharusnya tidak terjadi dan sangat bodoh untuk terjadi, tetapi kasus mahasiswa tidak ikut ujian karena ketiduran bukan pertama kali saya temui. Sudah beberapa kasus sejenis sebelumnya. Setelah saya pelajari mereka yang sampai “ketiduran” di saat seharusnya ada kewajiban yang lebih penting, ternyata yang menjadi penyebabnya adalah mereka terhanyut oleh suatu kebiasaan yang ia sendiri susah sekali untuk menghentikannya. Ada yang karena sambil belajar kemudian tidak tahan membuka internet dan chating sampai pagi. “Maunya sih belajar, tetapi kalau sudah chating kok susah ya dihentikan?” demikian mungkin mereka heran pada diri sendiri. Ada juga yang karena terlibat diskusi yang tidak berhasil mereka hentikan. Besok akan ujian matematika tetapi malamnya terlibat diskusi dengan teman kos tentang politik, yang semakin malam semakin seru sehingga tidak terasa badan menjadi capai dan akhirnya tertidur. Lupa alarm belum disetel. Bangun-bangun sudah jam 8. Padahal ujiannya jam 7. “Uh…masalah sepele, tetapi akibatnya kok jadi begini!” demikian mahasiswa tersebut menyesal.

Karyawan perusahaan klien saya suatu pagi datang dengan wajah kusam. Ia kurang tidur. Katanya semalam sampai pagi. Tidur hanya dua jam. Apa yang ia kerjakan? Ternyata ia suka membuka situs-situs tertentu di internet, yang kalau sudah sekali membuka susah sekali di hentikan. Akhirnya di kantor ia sudah tidak ada tenaga lagi. Padahal hari itu terdapat meeting penting. Ia tidak bisa berkonsentrasi penuh karena kurang tidur. Dalam rapat tersebut ia sempat tertidur. Pimpinan perusahaan marah besar. “Ini rapat yang sangat penting, menyangkut hidup matinya perusahaan kita, tega-teganya Anda tidur!” demikian pimpinan perusahaan tersebut marah besar. Meeting langsung dihentikan. “Saya tersinggung luar biasa, saya tidak mengerti. Tega-teganya dia sampai tidur dalam meeting sepenting ini!” dengan nada kesal pimpinan perusahaan tersebut menumpahkan emosinya pada orang-orang yang ada di sekitarnya. Karyawan tersebut menyesal luar biasa. “Duh…hanya karena situs-situs tersebut saya jadi begini”

Masih banyak contoh penyesalan seseorang yang diakibatkan mereka terhanyut pada suatu aktivitas tertentu yang ia sadari bahwa seharusnya bisa dihentikan untuk mengerjakan pekerjaan lain yang lebih penting. Namun mereka tidak berhasil menghentikannya. Mereka seperti terbawa arus sungai yang deras dan tidak sanggup untuk menyelamatkan diri. Mereka tidak sanggup berkata “TIDAK” pada diri sendiri. Akibatnya adalah penyesalan di kemudian hari.

Saya jadi teringat kata-kata motivasi bahwa “Kalau kita lembut pada diri kita sendiri, dunia akan keras pada kita. Kalau kita keras pada diri sendiri, maka dunia akan lembut kepada kita”. Nah, kegagalan kita untuk “SAY NO” pada diri sendiri membuktikan kebenaran kata-kata motivasi tersebut. Sekarang bagaimana kita bisa berhasil “SAY NO?”

Kebanyakan dari kita mengetahui kebiasaan buruk kita sendiri. Mungkin kita malu menyampaikan kebiasaan buruk tersebut kepada orang lain. Tetapi kalau mengatakan kepada diri sendiri tidak perlu malu kan? Nah, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mencoba jujur kepada diri sendiri untuk mengidentifikasi kebiasaan-kebiasaan buruk yang jelas-jelas merugikan kita. Tidak perlu menyampaikan kepada orang lain. Sampaikan saja kepada diri sendiri. Ini pun bukan suatu hal yang mudah. Butuh keberanian! Kita harus bisa keras pada diri sendiri.

Setelah kita mengidentifikasi kebiasaan buruk yang harus kita hentikan segera, langkah berikutnya adalah “hentikan saja”. Tidak usah mencari-cari alasan. Hentikan saja dulu, alasannya bisa kemudian. Kalau kita memiliki kebiasaan chating yang memakan waktu lama, ya hentikan dulu. Sedang chating langsung hentikan saja. Now! Sekarang juga. Kalau kita punya kebiasaan buruk membuka situs-situs tertentu – maaf situs porno misalnya – yang biasanya menghabiskan waktu berjam-jam bahkan bisa mengalahkan pekerjaan penting lainnya, langsung saja HENTIKAN! Kalau Anda punya kebiasaan merokok sambil melamun yang tidak jelas arahnya kemana, juga HENTIKAN saat ini juga! Tidak mudah dong…tidak semudah itu….ini kan hiburan….kita bukan mesin..kita juga manusia..punya rasa, punya nafsu, punya klangenan (bahasa jawa yang berarti kesukaan yang sudah mencandu)….tidak mudah dong menghentikannya begitu saja. Saya katakan TEGAS SAJA. “STOP NOW!”. Walau sejenak, kita hentikan dulu.

Setelah kita berhasil hentikan, walaupun beberapa saat saja, tegaskan pada diri sendiri sampai berapa lama kita akan sanggup berhenti. Idealnya memang langsung menghentikannya tanpa alasan apapun. Namun me-manage manusia harus dengan cara-cara manusiawi juga. Langkah ke dua tadi adalah langkah untuk membuktikan bahwa kita bisa menghentikannya. Bisa “Say NO” walaupun hanya beberapa saat saja. Tetapi itu prestasi luar biasa. Anda sudah berhasil memerintah diri sendiri. Ini yang lebih penting. Anda berhasil memerintah diri sendiri! Nah di langkah ke tiga ini anda tentukan “Target”, berapa lama kita akan dalam posisi berhenti. Posisi NO. Katakanlah satu jam. Ya sudah, hari ini Anda berhasil berhenti satu jam! Kok gak langsung tegaskan saja BERHENTI forever? Kalau bisa silakan. Tetapi sekali lagi saya tegaskan di sini kita perlu mengatasi masalah-masalah kita secara manusiawi karena kita manusia. Jadi, sebagai langkah awal, katakanlah kita hentikan chating kita dalam satu jam. Apa yang harus kita lakukan dalam satu jam “gencatan senjata” tersebut?
Dalam satu jam “break” tersebut lakukan pekerjaan-pekerjaan yang sangat penting dan tidak bisa ditunda. Dalam satu jam tersebut posisikan diri kita sebagai seorang profesional, yang dalam satu jam harus mengerjakan sesuatu sesuai target. “I’m a professional!” demikian yakinkan kepada diri sendiri. Jadikan satu jam tersebut momen yang membanggakan karena kita berhasil mengerjakan sesuatu yang sangat berarti dalam waktu yang sangat terbatas. Setelah satu jam berlalu dan kita berhasil mengerjakan sesuatu yang membanggakan, apa lagi yang harus kita lakukan? Kembali chating lagi? Kembali ngobrol lagi? Kembali buka situs “itu” lagi? Ha…ini jawaban yang mungkin mengejutkan Anda. Iya, boleh saja!

Boleh kembali melakukan kebiasaan buruk lagi? Yang bener saja! Nah…sudah saya bilang, saya ingin memperlakukan manusia sebagai manusia. Dari pada ber pura-pura mengapa tidak kita kelola saja dengan profesioal. Tadi kita kan dalam satu jam sudah berhasil menjadi seorang profesional, yang dalam waktu tertentu harus mencapai target. Sekarang kita juga bisa profesional dong…dalam waktu tertentu kita bisa kembali melakukan kebiasaan yang sudah kita sadari akan merugikan kita, tetapi waktunya juga dibatasi. Saya hanya akan chating lagi dalam 30 menit ke depan. Ayo kita profesional di sini. 30 menit ya 30 menit. Perintah diri sendiri agar membatasi 30 menit saja. Setelah 30 menit? Ya berhenti. Kan profesional? Kita harus kembali mengerjakan proyek kita berikutnya. Tentunya proyek yang membikin kita bangga pada diri sendiri. Bagi seorang mahasiswa, proyek berikutnya bisa mengerjakan tugas, atau membaca bab-bab buku tertentu yang wajib dibaca, atau bahkan bisa saja menyeletika baju. Bagi seorang karyawan, proyek berikutnya bisa membaca buku bermanfaat, membaca koran hari ini yang belum sempat dibaca, atau menyelesaikan pekerjaan penting yang tertunda.

Cara-cara ini memang nampaknya model main paksa saja, tidak ilmiah. Tidak ada aktivitas “ilmiah” seperti mengidentifikasi aspek positif dan aspek negatif dari kebiasaan kita, kemudian memprediksi akibat yang dapat ditimbulkan, membuat daftar tindakan negatif, membuat daftar tidakan positif, analisa alternatif pemecahan masalah, dan…..aktivitas yang ‘nampaknya’ ilmiah lainnya. Saya katakan disini bahwa saya sedang mengajak Anda unuk berani berkata TIDAK, untuk tidak terhanyut oleh kebiasaan yang tidak menguntungkan! Saya mau result! Hasil! Dengan cara yang sederhana tetapi efektif. Analisa ini dan itu baik sekali kalau Anda lakukan juga. Kalau Anda berhasil merumuskan dengan sistematik permasalahan Anda dan alternatif pemecahannya itu akan lebih baik lagi. Tetapi karena saya ingin Anda berhasil segera, maka yang saya tegaskan disini adalah Anda harus berani berkata “TIDAK” pada diri sendiri. Dare to say NO!

*) Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga Direktur AP Consulting, yang memberikan jasa konsultasi bisnis dan training di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Kolumnis di pembelajar.com dan juga penulis buku “The Art of Controlling People”. Website: www.praptapa.coml Email: praptapa@yahoo.com.

Telah di baca sebanyak: 239

Writing Ritualism: Yang Penting Tulis Dulu

Deadline! Betapa kita selalu dihadapkan pada masalah ini! Setumpuk tugas kantor harus diselesaikan hari ini. Pekerjaan klien juga. Urusan keluarga juga tidak bisa diabaikan. Dan juga, komitmen berkontribusi ke pembelajar.com. Seharusnya sudah setor tulisan beberapa hari yang lalu tetapi sampai saat ini belum ditulis juga. Nah, deadline menyelesaikan tulisan inilah yang akan kita bahas disini. Benarkah tulisan bisa dipaksa selesai pada hari dan jam tertentu? Bukannya menulis merupakan proses kreatif yang memerlukan ide yang belum tentu kapan datangnya?

Beberapa penulis yang saya kenal sering menganjurkan untuk action saja walaupun belum ada ide mau menulis apa. “Yang penting tulis dulu” kata mereka. Nah, tulisan ini sebenarnya sedang menjalankan saran tersebut. Sampai kalimat ini saya tulis, saya belum tahu harus menulis apa. Loh..kok sudah dua paragrap? Ha…ha…katanya yang penting tulis dulu?

Kegiatan menulis menurut saya merupakan suatu kebiasaan. Sebagai suatu kebiasaan, semakin kita sering mengerjakan semakin kita akan melakukan hal tersebut sebagai ritual, yaitu kegiatan yang kita lakukan tanpa alasan. Ritual? Iya. Untuk lebih mantap atas pengertian ritual, saya kutipkan arti ritual menurut Merriam-Webster Dictionary. Dalam kamus tersebut disebutkan bahwa ritual adalah “a customarily repeated act or series of acts”. Jadi, ritual adalah kegiatan tertentu yang berulang-ulang dikerjakan atau runtutan tindakan yang dikerjakan secara berulang-ulang. Kalau sudah menjadi ritual, maka kegiatan tersebut dilaksanakan bukan karena ada “kewajiban” untuk melaksanakan, tetapi otomatis saja. Banyak hak dalam kehidupan kita sehari-hari tanpa kita sadari merupakan suatu ritual saja.

Mari kita evaluasi kegiatan kita sehari-hari. Kita mandi pagi sudah merupakan ritual. Kita tidak pernah memikirkan apakah badan kita saat itu sudah kotor atau masih bersih. Kalau pagi hari ya mandi….masa tidak mandi sih? Begitu dalam hati kita yang sudah terpola. Sebuah penelitian tentang penonton televisi yang dalam melakukan penelitian menggunakan alat canggih yang disebut peoplemeter pernah terkecoh. Dengan alat tersebut akan terekam dalam satu rumah tangga channel mana yang sedang ditonton, dari jam berapa sampai jam berapa. Setelah hasil penelitian dikeluarkan dan digunakan oleh pengiklan sebagai dasar pemasangan iklan, ternyata hasilnya meleset. Mengapa demikian? Karena banyak rumah tangga yang menyalakan tv sebagai ritual saja. Mereka menyalakan tv tetapi tidak menontonnya. TV memang menyala tetapi mereka tidak menonton sama sekali tv tersebut. Ini yang disebut tv ritualism. Nah….dalam dunia tulis menulis bukannya tidak mungkin akan terjadi writing ritualism. Kalau sudah duduk di depan komputer kok otomatis menulis ya…?

Nampaknya menulis juga tidak terlepas dari masalah kebiasaan. Teman saya SMA dulu tidak pernah menulis tetapi sekarang justru bekerja sebagai wartawan. Saya ingat saat SMA dulu sempat menjadi bulan-bulanan karena kalau mendapatkan tugas mengarang ia tidak pernah bisa menulis lebih dari setengah halaman. Maka ia kalau ada tugas mengarang selalu menulis dengan huruf yang besar-besar dengan spasi yang direngganggkan agar kelihatan banyak. Ketika saya bertanya “kok bisa-bisanya kamu jadi wartawan, apa kamu bisa nulis?” dia hanya tertawa. “Aku bisa nulis karena terpaksa nulis. Kalau enggak nulis ya aku enggak makan” katanya. Saya menjadi mempunyai kesimpulan bahwa kalau dipaksa semua orang bisa menulis. Sembari menulis artikel ini saya berfikir bahwa “andaikan aku memiliki writing ritualism”, maka produksi tulisan-demi tulisan pasti akan mengalir setiap harinya.

Jadi disini dapat saya simpulkan bahwa saran para penulis yang sudah berpengalaman ternyata benar. “Yang penting tulis dulu”. Artikel ini akhirnya jadi juga kan? Sebelum saya akhiri saya buka rahasia sedikit ya….bahwa judul tulisan ini juga saya buat setelah tulisan selesai. Ha..ha….Selamat menulis!

*) Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga Direktur AP Consulting, yang memberikan jasa konsultasi bisnis dan training di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Kolumnis di pembelajar.com dan juga penulis buku “the art of controlling people”. Website: www.praptapa.com; Email: praptapa@yahoo.com.

Telah di baca sebanyak: 314

Next Page »

Top