The Power of “Ojo Dumeh”
August 31, 2009 by admin
Filed under Agung Praptapa

Di antara filosofi hidup orang jawa yang paling terkenal mungkin adalah “ojo dumeh”. Bahkan filosofi ini sudah mulai digunakan oleh kalangan yang lebih luas, tidak terbatas pada orang jawa saja. Ojo dumeh yang dalam bahasa sekarang mungkin bisa diterjemahkan langsung sebagai “jangan mentang-mentang” ini dianggap filosofi yang aplikatif sepanjang masa dan sangat powerful.
Ajaran ojo dumeh menyarankan kepada kita agar jangan sampai kelebihan ataupun kehebatan yang kita miliki justru menjadi bumerang, membunuh diri sendiri. Kelebihan seseorang bisa dalam bentuk kekayaan, keahlian, jabatan, ketampanan atau kecantikan, kepopuleran, ataupun keturunan.
Dalam hal kekayaan misalnya, jangan mentang-mentang kaya kemudian tidak menghargai yang miskin, apalagi melecehkan ataupun menghina. Ojo dumeh! Kekayaan yang kita miliki tidak bisa dijamin akan abadi. Bisa saja hari ini kita kaya tetapi malam nanti kekayaan kita dirampok orang dan ludes semua kekayaan kita. Kalau hal seperti itu terjadi, mau apa? Ini adalah refleksi dari realita kehidupan di mana ada kaya ada miskin, ada yang pintar ada yang bodoh, dan sebagainya. Yang kaya bisa saja menjadi miskin dan yang miskin bisa saja menjadi kaya.
Untuk itulah maka kearifan jawa ini selalu mengingatkan kita untuk ojo dumeh. Jangan mentang-mentang memiliki kelebihan kemudian menjadi sombong, tidak terkendali, lupa diri, bahkan kemudian merendahkan orang lain. Kearifan untuk ojo dumeh inilah yang mengantar banyak orang menjadi sukses. Bahkan ojo dumeh dapat melipat gandakan kekuatan dan kelebihan kita sehingga kita lebih powerful. Mengapa demikian?
Terdapat beberapa alasan mengapa ojo dumeh menjadikan kita lebih powerful. Yang pertama, ojo dumeh selalu mengingatkan kita agar kita tidak tergelincir kemudian jatuh dari posisi kita sekarang. Hal ini dikarenakan dengan selalu ingat pada adanya posisi yang berada dibawah kita, memberikan sinyal bahwa kalau tidak berhati-hati kita bisa terpeleset dan jatuh ke posisi tersebut. Jadi ojo dumeh menciptakan kehati-hatian. Dengan kita berhati-hati, maka pijakan kita menjadi lebih kuat. Kita tidak akan terpeleset, apa lagi jatuh.
Yang ke dua, ojo dumeh akan menyenangkan orang lain. Orang lain senang karena kita tidak mentang-mentang, tidak merendahkan mereka. Saat kita menyenangkan orang lain, orang-orang tersebut akan senang berada di sekitar kita. Mereka tidak ingin kita jauh dari mereka. Apa lagi lepas dari mereka. Artinya, mereka akan menjaga kita untuk stay in our position. Tetap di posisi kita di sini bukan berarti kita tidak mereka inginkan untuk menapak ke posisi yang lebih tinggi. Mereka justru berharap agar kita lebih membuat mereka senang. Pada posisi yang seperti ini saja kita menyenangkan mereka, sehingga pada saat kita berhasil berada di posisi yang lebih tinggi mereka berharap bahwa kita akan lebih menyenangkan mereka.
Yang ke tiga, ojo dumeh menunjukkan bahwa kita adalah orang yang bersyukur. Dengan tidak ‘mentang-mentang’ berarti kita memberi pernyataan pada diri sendiri bahwa posisi kita yang seperti ini cukup untuk kita dan wajib kita syukuri. Kalau kita diberi lebih dari yang sekarang ini tentunya kita akan lebih bersyukur lagi. Dengan demikian kita bisa menikmati apa yang sudah kita miliki dan yang sedang kita alami.
Ke empat, ojo dumeh membuat kita hemat energi. Merendahkan orang lain, mengumpat orang lain, dan berfikir negatif tentang orang lain hanya akan menguras energi kita. Lebih baik kita menempatkan segala sesuatu pada porsinya saja. Setiap orang mendapatkan rejekinya sendiri-sendiri. Ada yang banyak, ada yang sedikit. Yang banyak bisa menjadi sedikit, dan yang sedikit bisa menjadi banyak. Jadi, yang punya kelebihan bersyukur saja tanpa harus mengecilkan orang lain. Berfikir positif seperti ini akan menghemat energi kita. Apalagi orang yang merasa kita hargai tersebut juga kemudian menghargai kita, hal tersebut justru akan me-recharge energi kita.
Ke lima, ojo dumeh merupakan pengendalian diri. Yang dimaksud pengendalian diri disini adalah membawa diri kita kepada keadaan yang kita inginkan. Ojo dumeh akan selalu mengingatkan kita bahwa ternyata disekitar kita banyak sekali hal-hal yang berbeda dengan kita dimana perbedaan tersebut bukannya sesuatu yang kita inginkan. Saat kita diberi kelebihan dalam hal kekayaan misalnya, kita akan melihat bahwa di sekitar kita masih banyak orang yang tidak seberuntung kita. Selama kita menyadari hal tersebut, dan kemudian tidak mengecilkan orang-orang yang kurang beruntung, maka kita justru akan diarahkan oleh keadaan untuk lebih baik dari keadaan kita sekarang dan terhindar dari keadaan yang tidak kita inginkan. Kalau kita mengecilkan orang lain, atau menghina, hal tersebut sama saja dengan kita menyamakan posisi kita seperti posisi mereka. Sama halnya kalau kita marah pada orang gila dan mengumpat orang gila, maka bukankah kita menjadi sama saja dengan orang gila tersebut? Sudah tahu dia gila kok kita marah kepada mereka? Demikian pula saat berhadapan dengan orang-orang yang tidak seberuntung kita. Kalau kita merendahkan mereka juga sama saja kita down grade, sama saja dengan mereka. Yang benar adalah saat kita lebih beruntung kita membantu dan mengangkat orang yang kurang beruntung tersebut ke posisi yang lebih baik. Kita boleh merendah, tetapi jangan merendahkan. Begitu kurang lebih yang terkandung dalam ojo dumeh.
Yang ke enam, ojo dumeh menjadikan kita tidak “over valued” terhadap diri sendiri. Kalau kita mentang-mentang, dan keadaan membiarkan kita terbuai dengan ke“mentang-mentang”an kita, maka kita bisa lupa diri. Sebagai contoh, mentang-mentang kita pandai kemudian kita membodohi orang lain. Orang lain mungkin diam. Kita yang sedang membodohi rasanya tiba-tiba menjadi lebih pandai, melayang tinggi lebih pandai lagi. Itu perasaan yang menipu. Kita justru akan tertipu oleh “mentang-mentang” kita. Untuk itulah maka kalau kita memegang kearifan “ojo dumeh” kepalsuan perasaan tersebut dapat kita hindari. Hati-hati, kita bisa over valued terhadap diri sendiri, yang apa bila kita tidak kuat bertahan, hal tersebut justru akan berbalik menjadi menurunkan value kita.
Mari kita bawa kearifan “ojo dumeh” ini ke tempat kerja kita. Bayangkan kita bekerja keras untuk menciptakan kinerja yang kita targetkan. Kemudian kita bisa menapak satu posisi ke posisi berikutnya yang lebih tinggi, yang akhirnya kita mencapai posisi puncak. Tetapi kita tetap rendah hati. Kita tetap menghargai pendapat orang lain walau yang posisinya lebih rendah dari kita. Kita tidak “mentang-mentang” mempunyai kekuasaan kemudian kita sewenang-wenang dengan kekuasaan kita. Kita tidak mentang-mentang berpenghasilan tinggi kemudian membelanjakan uang kita semau kita sampai lupa berderma. Kita tetap mendengarkan teman kerja kita seperti apapun posisi mereka. Kita tetap hemat dan semakin banyak berderma. Bagaimana dengan profil seperti itu? Kita ingin orang tersebut lengser? Tentunya tidak.
Untuk itulah maka kearifan “ojo dumeh” banyak dipelajari, dan diparaktekkan orang di jaman modern seperti ini. Ojo dumeh mendorong kita untuk semakin memanusiakan manusia (dalam istilah jawa disebut nguwongake). Ojo dumeh tidak akan mengerdilkan diri sendiri, justru akan membuat kita menjadi besar karena berjiwa besar. Ojo dumeh.
*) Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Agung Praptapa juga seorang entrepreneur, Direktur AP Consulting. Alumni writer schoolen dan trainer schoolen. Website: www.praptapa.com; Email: praptapa@yahoo.com.
Telah di baca sebanyak: 26Sukses Menulis Karena Marah dan Dendam
August 24, 2009 by admin
Filed under Agung Praptapa

Pernahkah Anda merasa diperlakukan dengan tidak adil sehingga harus marah dan dendam? Saat bos kita di kantor memberikan perhatian kepada teman kerja lain dan menyepelekan kehadiran kita akan membakar kita untuk marah. Demikian juga kalau kita merasa diperlakukan tidak adil di dalam pembagian kerja dan pembagian honor. Rasanya pingin marah. Marah yang tidak henti-hentinya akan menimbulkan dendam. Banyak sekali alasan untuk membuat kita marah dan dendam. Istri yang tidak memahami apa yang kita maui akan memancing marah. Anak-anak kita yang nakal juga memancing marah. Itu memang manusiawi. Tapi harus kita ingat, marah dan dendam akan menguras energi. Kita akan capai sendiri karenanya. Padahal sudah dapat dipastikan bahwa marah bukanlah solusi untuk mengatasi masalah apapun.
Tapi marah kan manusiawi? Iya betul. Siapa sih yang tidak pernah marah? Marah adalah suatu bentuk mencari keseimbangan. Marah yang terlampiaskan biasanya akan meredakan amarah itu sendiri. Marah mambuat kita tegang. Saat marah, energi negatif ada pada diri kita. Melampiaskan marah seperti halnya membuang energi negatif. Begitu energi negatif berhasil kita buang, berkuranglah stok energi negatif pada diri kita. Sehingga kita bisa menjadi kembali seimbang. Kalau demikian setiap kali marah langsung saja kita lampiaskan? Dalam rangka membuang energi negatif itu bisa saja. Hanya saja kita harus ingat bahwa melampiaskan marah tidak selalu tanpa respon. Saat kita melampiaskan amarah bisa saja menimbulkan marah dari pihak lain. Atau bisa juga akan menimbulkan kerusakan barang-barang di sekitar kita kalau cara melampiaskan amarah dengan cara membanting sesuatu. Kalau respon lingkungan negatif, bukannya energi negatif yang berhasil kita buang, tetapi kita justru akan mendapat tambahan energi negatif. Kalau ini terjadi maka yang kita dapatkan adalah amarah kita yang semakin membesar, amarah orang lain yang semaikin membesar pula, dan akhirnya energi negatif yang ada pada diri kita maupun orang lain akan semakin banyak. Ingat rumus bahwa “energi negatif akan mencari teman energi negatif pula”. Jadi bisa kita bayangkan bagaimana akibatnya kalau kita memelihara energi negatif pada diri kita. Kita akan semakin capai. Konsentrasi terganggu. Mau ini salah. Mau itu salah. Cape deh…!
Untuk itulah saya disini menawarkan konsep konversi, yaitu mengonversi energi negatif menjadi energi positif. Ini seperti halnya mengonversi kompos menjadi biogas. Marah dan dendam yang merupakan energi negatif juga bisa kita konversi menjadi energi positif. Konversi energi negatif menjadi energi positif tidak beresiko seperti apabila kita membuang energi negatif. Membuang energi negatif bisa memancing timbulnya energi negatif lainnya. Sedangkan mengonversi energi negatif menjadi energi positif tidak menimbulkan efek samping negatif. Tanpa resiko dan menyehatkan. Bagaimana caranya?
Cara yang saya tawarkan disini adalah melalui menulis. Loh? Kok melalui menulis? Memangnya menulis bisa mengonversi marah dan dendam menjadi energi postif? Iya. Bisa. Makanya saya tawarkan disini. Tingkat keberhasilannya dijamin 100% selama diterapkan dengan benar. Money back guarantee! Kalau tidak berhasil, uang kembali! Meyakinkan bukan?
Memberi Arti Menulis
Saya tergugah dengan pemikiran Andrias Harefa tentang menulis sebagai “Impresi versus Ekspresi”. Banyak orang yang sebenarnya mumpuni untuk menulis tetapi tidak juga menghasilkan tulisan karena takut tulisannya tidak memberikan impresi bagi orang lain. Namun bagi beberapa penulis, mereka menulis sebagai bentuk ekspresi. Penulis yang menulis sebagai ekspresi inilah yang biasanya lebih produktif. Mereka menulis sebagai “giving” tanpa menghiraukan bagaimana nantinya apakah ada “receiving” yang sepadan. Menulis adalah suatu penyaluran ide, pemikiran, pengalaman, bahkan bisa saja sebagai penyaluran amarah dan dendam. Jadi, menulis disini bisa menjadi saluran untuk mengonversi energi negatif menjadi energi positif.
Menulis bagi sebagian orang merupakan bentuk pengharapan. Pengharapan tersebut bisa dalam arti pengharapan berkenaan dengan pendapatan, agar lebih dikenal orang, dan konfirmasi tantang kepakaran. Jadi menulis disini merupakan sarana untuk mendapatkan energi positif bagi penulis.
Menulis juga merupakan bentuk public relation tentang diri kita sendiri. Ini menegaskan kepada publik siapa kita, apa pemikiran kita, dan seperti apa kita ingin dikenal oleh orang lain. Ada yang mengatakan bahwa menulis merupakan self branding, yaitu menegaskan kepada publik simbol seperti apa yang kita inginkan dari publik.
Menulis juga merupakan kegiatan menabung. Bahkan dapat dikatakan menabung yang tidak akan pernah habis. Apa yang kita tabung? Yang kita tabung adalah pemikiran kita, ide kita, yang bisa dimanfaatkan oleh orang lain pada saat ini sampai saat kapanpun. Saya tersentuh oleh ungkapan salah seorang teman saya yang mengatakan bahwa ia tidak pernah mengenal ayahnya karena ayahnya meninggal dunia pada saat dia masih bayi. “Andaikan ayah saya menulis, saya akan lebih tahu siapa ayah saya sebenarnya, apa pemikirannya, apa petuahnya….sesuatu yang benar-benar saya rindukan” ungkap teman saya tadi dengan mata berkaca-kaca. Saya terharu mendengarnya. Muncul pemahaman baru pada diri saya bahwa menulis merupakan kegiatan menabung, yang dapat kita wariskan, yang tidak akan pernah habis sepanjang masa.
Emas Dalam Marah dan Dendam
Binatang yang buas akan menjadi bermanfaat kalau kita bisa mengendalikannya. Marah dan dendam juga bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat apabila kita bisa mengendalikannya. Cara pengendalian marah dan dendam yang saya tawarkan disini adalah melalui “menulis”. Lampiaskan saja marah kita melalui tulisan, lampiaskan dendam kita melalui tulisan, sehingga amarah teredam, dendam menghilang, dan tulisan tercipta. Kalau demikian apakah tulisan kita nanti akan berisi umpatan-umpatan seperti halnya orang marah? Bukan begitu.
Hampir pasti setiap kita marah itu ada sebabnya. Hanya saja penyebabnya mungkin kita sadari, dan mungkin pula tidak kita sadari. Sebagai contoh kita marah karena teman kerja kita ngobrol dengan teman kerja lain sehingga mengganggu konsentrasi kerja kita. Kalau keputusan kita membentak mereka agar diam karena mengganggu kerja orang lain, akibatnya bisa saja mereka kemudian diam dan kita bisa bekerja dengan tenang tanpa ada suara-suara yang mengganggu. Tetapi bisa pula akibatnya adalah mereka balik marah kepada kita dengan berbagai alasan. Kalau seperti itu jadinya, akan tercipta suasana yang semakin tidak kondusif. Untuk itulah sebelum marah, saya menyarankan untuk mengonversi terlebih dahulu kemarahan tersebut menjadi tulisan. Dalam kasus marah karena merasa terganggu tersebut sebenarnya ada “emas” di dalamnya, yaitu tersedia ide-ide yang bisa kita tulis. Kita bisa menulis beberapa tulisan dari kejadian tersebut. Misalnya tulisan tentang “strategi berkonsentrasi saat terdapat gangguan”, “membangun suasana kerja yang kondusif”, “memahami keragaman pola kerja”, “menjadi karyawan produktif apapun situasinya”, dan tulisan-tulisan lain yang idenya dapat muncul karena kita akan marah. Jadi pada saat akan marah, tahan dulu, ambil ide-ide yang muncul, wujudkan dalam bentuk tulisan.
Demikian pula apa bila terdapat dendam dalam diri kita kepada orang lain. Jangan dipendam dendam tersebut. Kita akan capai karenanya. Lebih baik dendam tersebut kita konversi menjadi ide tulisan. Sebagai contoh, misalnya kita dendam kepada teman kerja kita karena selalu melaporkan secara negatif apa yang kita kerjakan kepada atasan. Kalau melihat dia rasanya kepingin nonjok saja! Nah, kalau dendam ini muncul, cobalah konversikan menjadi ide tulisan. Misalnya, kasus dalam contoh tersebut bisa memunculkan ide untuk menulis tentang “menjadi manusia sabar”, “membangun kompetisi sehat di tempat kerja”, “bagaimana bos harus memilah informasi dari karyawan?”, dan silakan dapatkan ide-ide yang lain yang muncul karena satu kasus tersebut. Jadi semakin banyak kasus yang kita hadapi semakin banyak ide yang bisa kita tulis. Kembali lagi, maka sebenarnya terdapat “emas” di dalam dendam kita.
Tidak sedikit penulis sukses yang mengungkapkan bahwa tulisan yang mereka buat merupakan suatu dendam kepada suatu kejadian ataupun kepada orang-orang tertentu. Ungkapan sakit hati maupun kemarahan yang tak tersalurkan. Kalau kita bisa mengolah hal-hal negatif tersebut secara cerdas dan positif, tentunya akan mengasilkan hal positif, yaitu tulisan yang membangun, yang menyejukkan, yang menginspirasi. Menulis dapat mengonversi energi negatif menjadi energi positif. Tersimpan emas dalam marah dan dendam, yang bisa digali selama kita menulis. Kesimpulannya, menulis adalah solusi.
*) Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Agung Praptapa juga seorang entrepreneur, Direktur AP Consulting. Alumni writer schoolen dan trainer schoolen.Website: www.praptapa.com; Email: praptapa@yahoo.com.
Telah di baca sebanyak: 70Menjadi Pemenang Sejati (Local Wisdom 9)
August 10, 2009 by admin
Filed under Agung Praptapa
Kompetisi di dunia kerja semakin hari semakin ketat. Ada yang bilang jaman sekarang ini jaman very tight competition, atau kompetisi yang super ketat. Tidak puas dengan itu, ada yang kemudian menyebutnya dengan hypercompetition, atau kompetisi yang sudah luar biasa hebatnya, yang sudah pol-polan. Sudah gila-gilaan. Yang penting menang. Yang penting mendapatkan yang kita mau. Caranya bagaimana sudah tidak lagi menjadi pertimbangan. Ada yang nyogok, ada yang melacurkan diri, ada yang membunuh, ada yang pakai black magic, duh….”udah edan full” begitu mungkin kalau boleh meminjam istilah Mbah Surip. Gila-gilaan.
Untungnya,di tengah “kegilaan” kompetisi tersebut, masih ada orang yang memilih berkompetisi secara wajar, fair, berdasarkan kompetensi dan prestasi. Kompetisi ya kompetisi, namun pakai cara yang baik dong. Mau menang ya boleh saja, semua orang juga pingin menang, tapi yang fair dong. Kalu menang ya harus elegan. Kalau bisa, kita win-win saja lah. I’m happy, you are happy (ini dalam konotasi positif loh ya…). Tapi kalau memang harus ada yang kalah, kita tetap harus menjaga martabat yang kalah.
Kearifan local jawa mengajarkan kita agar dalam berkompetisi bisa “nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake”. Nglurug artinya adalah penyerangan besar-besaran, penyerangan yang proaktif, penyerangan yang berani mendatangi lawan. Tanpo artinya tanpa, sedangkan bolo artinya adalah pasukan, atau teman, atau orang lain. Jadi nglurug tanpa bolo dapat diterjemahkan secara umum sebagai mendatangi lawan dengan tidak melibatkan orang lain. Sedangkan menang tanpo ngasorake dapat diterjemahkan secara umum dengan menang tanpa mengalahkan, atau menang tanpa ada yang merasa dihinakan. Apa maknanya dalam dunia kerja saat ini?
Nglurug Tanpo Bolo
Kata nglurug mengandung arti adanya gerakan besar, adanya semangat mengalahkan bersama-sama, adanya langkah yang mantap, heroik, dengan semangat luar biasa. Kalau diterjemahkan dalam dunia kerja saat ini, kata nglurug bisa diartikan dengan semangat memenangkan persaingan, semangat mengalahkan hambatan, tantangan, dan rintangan yang dapat mengganggu kita mendapatkan apa yang kita mau. Ini berkaitan dengan kemauan luar biasa sebagai the winner! Pemenang!
Karena besarnya kamauan untuk menang itu maka dalam persaingan kerja sering kita temui bahwa untuk mendapatkan apa yang mereka mau, orang menghalalkan berbagai cara. Kalau perlu dengan cara memfitnah, membunuh karakter orang lain, atau cara-cara tidak terpuji lainnya. Cara-cara seperti inilah yang tidak dianjurkan dalam kearifan lokal jawa.
Kearifan lokal jawa mengajarkan kita bahwa kalau mau menang kita harus bermodalkan niat baik, cara-cara yang baik, proses yang baik, sehingga nanti hasilnya juga baik. Istilah jawanya adalah sing bener lan kebeneran, yaitu dengan cara yang benar dan mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan, yang akan berakibat baik bagi kita. Pemenang yang baik adalah ‘orang baik’ yang menjadi pemenang.
Mengapa tanpo bolo? Apakah tidak boleh kita mencapai tujuan melalui orang lain? Nah ini yang perlu diluruskan. Tanpo bolo di sini adalah tanpa mengorbankan orang lain untuk mencapai tujuan kita. Tidak jarang kita dapati orang yang kasak-kusuk menjelek-jelekkan orang lain sehingga akhirnya ada gerakan masal untuk menghancurkan karakter seseorang. Disini seseorang untuk mencapai tujuannya “memanfaatkan” orang lain dalam konotasi “mengorbankan” orang lain tersebut. Bahkan ada yang lebih licik lagi, yaitu membiarkan orang lain yang berbuat kejahatan sedangkan ia sediri bersembunyi. Lempar batu sembunyi tangan.
Untuk memenangkan persaingan saat ini bahkan ada yang sudah dengan cara jaman bar-bar. Kalau perlu dengan membunuh. Membunuh beneran, sampai lawan mati. Meninggal dunia. Jadi, mereka menggunakan cara-cara seperti cara mafia. Seperti film action saja. Ini jelas ditentang habis-habisan dalam kearifan local jawa. Jangankan membunuh, saat kita bersaing sehatpun kita dianjurkan untuk menang tanpa ada yang merasa dikalahkan, menang tanpo ngasorake.
Menang Tanpo Ngasorake
Mana bisa ada orang yang menang tanpa ada yang kalah? Bukannya kemenangan ada karena ada kekalahan? Kalau gak ada yang kalah, trus mengapa harus ada yang menang? Kembali lagi kearifan lokal jawa mengajarkan kita sesuatu yang agung, yang mengandung kebesaran jiwa. Jangan mempermalukan orang lain walaupun mereka kalah. Bantulah yang kalah untuk menemukan alasan bahwa ia pun sebenarnya menang. Hanya saja menang dalam hal lain.
Menang tanpa mengalahkan mengandung beberapa pesan yang mendalam. Yang pertama, kita dianjurkan untuk berkompetisi secara sehat (fair competition). Kompetisi yang sehat akan membangun perasaan iklas bila menang maupun kalah. Saat kita bermain tenis yang dilakukan dengan rule of the game yang semestinya, kita tentunya akan ikhlas kalau misalnya permainan dimenangkan oleh lawan permainan kita. Tinggal bilang “you are great, I’ll do better next time” sambil bersalaman saat kita kalah, dan kemudian kita happy. Kalau kita dalam posisi menang juga tinggal bilang “Anda hebat hari ini, cuma saya yang hari ini lebih beruntung”. Coba lihat, dalam keadaan persaingan sehat seperti itu pantaskah kita sakit hati? Tidak kan? Yang penting happy kan? Jadi yang kalah senang, dan yang menang lebih senang. Dua-duanya senang. Kuncinya? Sekali lagi, kompetisi yang sehat!
Pesan yang ke dua dari menang tanpo ngasorake adalah agar kita menyadari bahwa tidak ada kemenangan yang abadi. Konsekuensinya tentu saja tidak ada kekalahan yang abadi pula. Kalau sekarang kita menang, mungkin saja suatu saat kita kalah. Kalau sekarang kita kalah, mungkin saja suatu saat kita akan menang. Jadi, yang menang tidak perlu sombong dan yang kalah tidak perlu putus asa.
Pesan yang ke tiga adalah agar kita turut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Saat kita menang memang sangat wajar kalau kita senang dan bangga. Kesenangan dan kebanggaan tersebut sangat wajar pula apabila kita rayakan dan kita nikmati. Sah sah saja kalau kita merayakan kesuksesan kita (celebrating success). Tetapi harus diingat, dipihak lain lawan kita sedang merasakan sebaliknya. Sebagai manusia kita harus toleran, harus mau memahami perasaan orang lain. Apalagi kalau apa yang dirasakan orang lain tersebut posisinya berkebalikan dari apa yang kita rasakan, sedangkan hal tersebut dalam satu paket persaingan yang sedang kita lakukan.
Pesan yang ke empat adalah agar kita terlatih dan terbiasa membesarkan hati orang lain saat mereka kalah, meskipun itu musuh atau kompetitor. Apa untungnya? Kalau mereka musuh dan kemudian kita besarkan hatinya, ada kemungkinan mereka luluh dan kemudian beralih dari musuh menjadi teman. Siapa tahu? Kalaupun mereka tetap mengambil posisi sebagai musuh, setidak-tidaknya kita sudah pernah menunjukkan kebesaran hati kita dengan tetap membesarkan hati mereka. Jadi posisi kita akan tetap sebagai pemenang. Bukannya begitu?
Pesan yang ke lima adalah agar kita memilih menjadi orang yang “baik”. Ingat, seorang pemenang yang baik adalah orang “baik” yang menang. Bukan sekedar orang yang menang dengan baik! Ini berkaitan dengan menghargai diri sendiri. Ini merupakan suatu ketetapan hati bahwa kita bukan pecundang.
Sebagai kesimpulan, persaingan kerja yang demikian keras ini bukanlah menjadikan alasan bagi kita untuk bersaing dengan tidak sehat. Hargai diri sendiri dengan bersaing sehat. Saat kita menang, hargai kompetitor yang kalah. Saat kita kalah, akui saja kemenangan lawan, dan segeralah bangkit dari kekalahan menuju kemenangan dalam babak kompetisi berikutnya. Seorang pemenang sejati adalah yang mampu berkompetisi dengan sehat tanpa memanfaatkan orang lain dalam hal keburukan. Saat menang harus dapat menjaga diri agar tidak mempermalukan yang kalah. Nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake.
* Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Agung Praptapa juga seorang entrepreneur, Direktur AP Consulting. Alumni writer schoolen dan trainer schoolen. Website: www.praptapa.com; Email: praptapa@yahoo.com.
Telah di baca sebanyak: 10Merasa Bisa atau Bisa Merasa? (Local Wisdom 8)
July 27, 2009 by admin
Filed under Agung Praptapa
Kompetenkah Anda? Profesionalkah Anda? Mampukah Anda? Dalam menjawab pertanyaan tersebut terdapat dua kelompok besar yang saling bertentangan. Kelompok yang pertama akan dengan cepat mengatakan saya kompeten, saya profesional, dan saya mampu. Tapi begitukah keadaan sebenarnya? Tentunya tidak ada jaminan bahwa orang yang mengatakan dirinya kompeten dalam kenyataannya juga kompeten. Yang mengaku profesional belum tentu profesional. Yang mengatakan dirinya mampu dalam kenyataannya belum tentu mampu. Bisa saja mereka hanya “merasa” kompeten, “merasa” profesional, dan “merasa” mampu. Hanya “merasa”. Kenyataannya? Belum tentu!
Untuk itulah maka kearifan lokal jawa mengajarkan dua hal yang terdiri dari dua kata dengan dua penempatan. Dua kata yang dimaksud adalah kata “rumongso” yang berarti “merasa” dan kata “biso” yang berarti “bisa ” atau “mampu”. Dua penempatan yang dimaksud disini adalah penempatan dua kata tersebut yang bisa ditempatkan dalam dua kombinasi, yaitu “rumongso biso” dan “biso rumongso”.
Dua kombinasi kata tersebut memiliki makna yang sangat berbeda dan bahkan berlawanan. “Rumongso biso“ dapat diterjemahkan sebagai “merasa bisa”, dan ini berkonotasi negatif. Orang yang merasa bisa belum tentu demikian pula keadaan sebenarnya. Orang dalam tipe “rumongo biso” akan menyimpulkan dirinya mampu walaupun keadaan sebenarnya tidak demikian. Ini adalah orang-orang yang sombong, sok bisa, sok mampu, dan menyepelekan pekerjaan yang sedang dihadapi. Orang bijak akan menghindari posisi ini.
Kearifan lokal jawa lebih mengarahkan orang agar “biso rumongso”, yang bisa diterjemahkan sebagai “bisa merasa”, yaitu orang yang mampu menempatkan perasaan dan keyakinan terhadap kemampuan dirinya secara obyektif . Orang yang “biso rumongso” adalah orang yang rendah hati, yang mampu menempatkan dirinya sebagai orang yang mau belajar dan mengembangkan diri. Mereka merendah tanpa harus merendahkan martabat diri sendiri. Di mata orang jawa, orang yang “biso rumongso” adalah orang yang bijak, baik hati, menghargai orang lain, dan mau maju. Mari kita lihat bagaimana sisi positif dan negatifnya dari dua posisi tersebut, yaitu orang yang “rumongso biso” dan orang yang “biso rumongso.”
Merasa Bisa
Memang tidak salah apabila orang “merasa bisa” untuk mengerjakan sesuatu. Ini bahkan positif apabila posisinya adalah “merasa bisa dan kenyataan sebenarnya juga bisa”. Ini menunjukkan kepercayaan diri. Tidak sedikit orang yang sebenarnya mampu tetapi mereka “merasa tidak mampu.” Kondisi seperti ini menunjukkan pesimisme. Tidak menghargai diri sendiri secara wajar. Jadi, orang yang “merasa mampu” dan keadaan sebenarnya mereka memang benar-benar “mampu” akan menimbulkan kekuatan atas kemampuannya tersebut. Posisi seperti ini justru dihargai dan disarankan.
Yang harus dihindari adalah posisi “merasa bisa” yang kenyataan sebenarnya tidak demikian. Kearifan jawa mengajarkan kita untuk tidak “rumongso biso” atau “merasa bisa” bila keadaan sebenarnya tidaklah demikian. Ini jangan sampai disalah artikan sebagai bentuk dorongan untuk selalu pesimistik. Ini adalah anjuran agar kita tidak sombong, tidak menyepelekan keadaan, dan tidak menyepelekan orang lain. Ini juga tidak untuk membuat kita ragu-ragu untuk “merasa bisa”. Kalau kita merasa bisa, kemudian kita coba lakukan, dan ternyata gagal, hal demikian tidak apa-apa. Ini manusiawi. Orang tidak selamanya mendapatkan apa yang mereka mau. Jadi, tidak ada salahnya kita “merasa bisa” walaupun tidak ada jaminan bahwa kita akan benar-benar bisa. Yang tidak dianjurkan adalah bila “kita sudah tahu bahwa kita tidak bisa atau tidak mampu” tetapi kita dengan kesombongan dan keangkuhan kita menciptakan perasaan “bisa”. Jadi yang tidak dianjurkan disini adalah kebohongan pada diri sendiri maupun kepada orang lain.
Bisa Merasa
Bisa merasa atau “biso rumongso” adalah suatu ajaran agar kita peka terhadap lingkungan. Keberhasilan seseorang maupun organisasi ataupun perusahaan akan sangat bergantung kepada keberhasilan kita membaca lingkungan, baik lingkungan eksternal maupun internal. “Biso rumongso” adalah kemampuan seseorang untuk memahami diri sendiri maupun orang lain. Hal ini juga berkaitan dengan kesediaan seseorang untuk memahami kemampuan diri dan kemudian selalu mengembangkan diri untuk membentuk kapasitas diri yang semakin lama semakin besar. Jadi “biso rumungso” bukan berati kita tidak boleh optimistik. Bukan pula berarti kita tidak boleh mencoba kalau kita pandang diri kita belum mampu. Jangan salah! Kita justru harus mencoba dulu sebelum kita mengatakan tidak bisa. Never say I can’t before you try. Jangan pernah mengatakan aku tidak mampu sebelum kita mencobanya.
“Biso rumongso” justru dimiliki oleh orang-orang berjiwa besar. Orang yang berjiwa besar akan menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna, sehingga tidak masalah bagi kita untuk memiliki kelemahan dan kekurangan. Yang penting bagi kita adalah bagaimana kita mengeksplor kelebihan yang kita miliki dan terus mengembangkannya. Sedangkan tentang kelemahan dan kekurangan kita yang terpenting adalah bagaimana kita memperbaikinya dan menjaga supaya kita tidak terkungkung oleh kelemahan dan kekurangan yang kita miliki. Nah, kalau kita sadar tentang hal ini berarti kita sudah “biso rumongso”.
Orang yang “biso rumongso” adalah orang yang peka. Artinya, mereka akan cepat merespon lingkungannya dengan repon yang tepat. Hal ini sangat penting untuk keberhasilan seseorang. Kesuksesan seseorang akan bergantung seberapa efektif respon yang diberikan orang tersebut terhadap perubahan yang ada. Ini berkaitan dengan hukum aksi reaksi. Aksi yang dijawab dengan reaksi yang tepat akan menimbulkan momentum keberhasilan. Kemampuan memberikan reaksi yang tepat atas aksi yang ada dimiliki orang yang “biso rumongso”.
Uraian yang disajikan disini tentang “biso rumongso” adalah untuk menangkis salah pengertian bahwa seseorang yang biso rumongso harus mengalah, lamban, dan tidak berbuat sama sekali. Hati-hati dengan kesalahpahaman ini. “Biso rumongso” justru berarti peka, cepat memahami, dan cepat bertindak secara tepat, dan berani mencoba.
Jangan sekedar “rumongso biso”, tapi kita mesti “biso rumongso”. Jangan ragu untuk mengatakan “bisa” tapi jangan sombong dan takabur. Asah kepekaan kita terhadap lingkungan kita tanpa kita harus menjadi lemah dan ragu-ragu. Kita mesti cepat dan tepat.
*) Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Agung Praptapa juga seorang entrepreneur, Direktur AP Consulting. Alumni writer schoolen dan trainer schoolen. Website: www.praptapa.com; Email: praptapa@yahoo.com.
Telah di baca sebanyak: 7Managing Performance: Becik Ketitik, Ala Ketara (Local Wisdom 7)
July 13, 2009 by admin
Filed under Agung Praptapa
Dalam dunia kerja kita sering menemui orang yang nampaknya biasa-biasa saja tetapi miliki karir yang bagus. Dilain pihak, ada orang yang cerdas justru tidak terlampau cemerlang karirnya. Mengenai hal tersebut orang beranggapan bahwa itu semua bergantung pada sebagaimana hebat seseorang “me-market-kan” diri sendiri. Seperti halnya suatu produk, sehabat-hebatnya produk kalau kita tidak dapat memarketkan dengan baik akhirnya produk tersebut tidak laku juga. Sedangkan produk yang biasa-biasa saja tetapi marketingnya bagus dapat laku dipasar. So, it is about marketing! Dengan demikian, apabila kita memiliki produk yang bagus yang disertai dengan marketing yang bagus tentunya produk kita akan laris di pasar. Demikian pulakah bagaimana sesorang berkarir? Kapasitas diri dan marketing menjadi kunci? Dalam konteks bagaimana seseorang “laku” di pasar karir, hal tersebut boleh dikatakan benar.
Namun hal tersebut kemudian menimbulkan beberapa pertanyaan. Yang pertama, kalau benar bahwa prestasi kerja bergantung kepada bagaimana seseorang memarketkan dirinya, maka orang dengan kapasitas dan kinerja yang terbaik tidak ada jaminan akan mendapatkan prestasi kerja terbaik pula. Yang ke dua, kalau benar kunci prestasi kerja adalah bagaimana seseorang dapat memarketkan dirinya dengan baik, maka orang lebih baik berkonsentrasi pada memarketkan diri dari pada memberikan kinerja terbaiknya. Yang ke tiga, bagaimana sistem penilaian kinerja yang mampu menilai secara tepat agar prestasi kerja berbanding lurus dengan kinerja seseorang?
Kemampuan seseorang untuk memarketkan dirinya boleh dikatakan sebagai suatu hal yang akan mempengaruhi bagaimana orang lain, terutama atasan dan orang-orang kunci diperusahaan, akan cepat dan nyaman menandai prestasi dan kemudian mendorong mereka untuk mendukung promosi orang yang pandai memarketkan dirinya tersebut. Namun harus diingat, bahwa apabila struktur organisasi sudah mulai membesar maka kesempatan untuk menilai langsung kinerja karyawan tidaklah bisa secepat seperti saat struktur masih sederhana. Pada organisasi yang besar penilaian prestasi karyawan harus melalui suatu mekanisme tertentu dalam suatu sistem penilaian kinerja (performance evaluation system/PES). Dengan PES yang baik, karyawan dengan kinerja terbaik akan tercatat sebagai yang terbaik pula.
Usaha mamarketkan diri memang tidak keliru, namun jangan sampai kita lupa bahwa tugas utama kita adalah berkinerja yang baik terlebih dahulu baru kemudian melakukan kegiatan marketing agar kinerja kita terekam dengan baik di benak para pengambil keputusan. Jangan sampai kita keliru mengaplikasikan memarketkan diri sendiri dengan cara-cara yang tidak terpuji seperti menjilat dan mengambil hati dengan cara yang tidak beretika. Untuk itulah maka sekali lagi performance evaluation system sangatlah penting dalam organisasi modern dewasa ini. Dengan adanya sistem penilaian kinerja yang sudah tertata rapi dan pasti, karyawan akan lebih memfokuskan diri untuk bekerja sebaik-baiknya dari pada usaha memarketkan diri.
Lantas bagaimanakah performance evaluation system yang baik? Disini kita bisa menggunakan ajaran para leluhur bahwa dalam hidup ini “apa yang baik akan tercatat dan apa yang jelek akan nampak”. Istilah aslinya dalam bahasa jawa adalah “becik ketitik, ala ketara”. Bagaimana aplikasi ajaran tersebut bagi seseorang untuk meraih prestasi dalam karirnya dan bagaimana pula hal tersebut dapat dijadikan landasan dalam performance evaluation systems? Mari kita bahas disini.
Becik ketitik mengandung makna bahwa dalam hidup ini kita tidak perlu merisaukan apakah hal-hal baik yang telah kita lakukan akan diketahui orang lain apa tidak. Tuhan itu adil, dan dunia telah memiliki mekanisme yang entah siapa yang mengatur sehingga kebaikan akan tercatat sebagai kebaikan. Tapi dalam dunia kerja mungkin sering terjadi orang yang berkinerja baik justru tidak tercatat, tetapi orang yang bekerja tidak baik justru tercatat sebagai berkinerja baik karena unsur kedekatan dan mungkin sudah menyangkut pada urusan jilat-menjilat. Tentang hal tersebut para leluhur memberikan kepastian bahwa penilaian yang tidak benar tersebut tidak akan bisa seterusnya sepanjang masa. Orang akhirnya akan tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik. Aslinya akan segera nampak. Kita bersabar saja karena becik ketitik, ala ketara, yang baik akan tercatat, yang jelek akan nampak.
Ala ketara mengandung arti bahwa percuma saja kita berbuat hal-hal yang tidak baik karena walaupun dibungkus dengan apa saja akhirnya orang akan tahu juga. Jadi kita tidak perlu bersibuk-sibuk menjilat atasan, karena akhirnya atasan juga tidak akan tahan kalau dijilat terus tetapi kinerja bawahannya tidak baik. Apalagi dijilat tetapi dibelakangnya sebenarnya dikhianati. Jadi dari pada menghabiskan energi untuk memarketkan produk buruk sebagai produk yang baik, lebih baik kita berkonsentrasi untuk membuat produk yang baik, dan kemudian memarketkan sebagai produk yang baik pula, karena kenyataannya produknya memang baik. Jadi, lebih baik kita selalu berbuat yang terbaik dan melakukan pekerjaan kita dengan kualitas yang prima.
Bagi perusahaan atau organisasi yang menyusun performance evaluation system juga harus memperhatikan bahwa dalam sistem yang ada harus mengakomodir hal tersebut, yaitu harus mampu mencatat dengan baik kinerja karyawan, dan harus mampu pula mencatat karyawan yang berkinerja tidak baik. Sistem harus disusun agar becik ketitik, ala ketara.
Sebagai kesimpulan, marilah kita tidak ragu-ragu dalam berbuat baik. Kita tidak perlu berbuat baik secara palsu, yaitu berbuat baik apabila ada orang yang tahu saja. Melakukan yang terbaik untuk perusahaan atau organisasi ditempat kita kerja adalah suatu penghormatan pada diri sendiri. Sangat memalukan bila kita bekerja dengan performa terbaik hanya bila kita yakin sedang dilihat oleh atasan, dan bila atasan tidak melihat kemudian kita bekerja serampangan. Itu mental babu, mental budak! Para budak hanya bekerja baik apabila dilihat oleh tuannya. Mari kita bekerja sebagai profesional, yaitu bekerja yang terbaik dan memberikan yang terbaik. Dilihat orang maupun tidak kita harus memberikan yang terbaik. Selalu memberi yang terbaik, di manapun, kapanpun. Yakinlah bahwa becik ketitik, ala ketara.
*) Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Agung Praptapa juga seorang entrepreneur, Direktur AP Consulting. Alumni writer schoolen dan trainer schoolen. Website: www.praptapa.com; Email: praptapa@yahoo.com.
Telah di baca sebanyak: 22The Power of Action: Melawan Rintangan, Menaklukan Hambatan (Local Wisdom 6)
June 22, 2009 by admin
Filed under Agung Praptapa
Anda menginginkan sesuatu tetapi belum terwujud? Saya yakin banyak dari kita mengalami hal ini. Banyak dari kita menginginkan sesuatu tetapi belum juga didapatkan. Mari kita telusuri mengapa apa yang kita inginkan belum juga kita dapatkan? Tentunya banyak sekali alasan. Tetapi coba kita amati dengan cermat. Ternyata hampir semua yang kita inginkan tersebut belum juga kita dapatkan karena kita hanya “ingin”, tetapi tidak pernah bertindak sama sekali untuk mendapatkan yang kita mau. Think only, talk only, but NO ACTION! Mengapa penyakit NO ACTION ini hinggap dibanyak orang? Mari kita telusuri satu persatu.
Terdapat beberapa alasan mengapa orang memilih “no action”. Alasan pertama adalah karena mereka tidak bisa melihat pentingnya dan kemendesakan dari apa yang kita inginkan tersebut. Tidak ada sense of urgency. Kalau realitanya apa yang kita inginkan tersebut memang tidak penting, tidak apa-apa kalau hal tersebut tidak terlaksana. Toh hanya sesuatu yang tidak penting. It’s still all right. Tetapi masalahnya banyak hal yang sebetulnya penting (urgent) tetapi kita tidak menyadari kalau hal tersebut adalah penting. Pada kondisi ini sudah muncul adanya aspek kerugian (atau mungkin kecerobohan, bahkan kebodohan), karena kita tidak berhasil menempatkan sesuatu yang “urgent” pada posisi “urgent” pula.
Alasan kedua mengapa orang memilih “no action” adalah aspek kemalasan. Disini orang sudah menyadari bahwa apa yang mereka inginkan tersebut sebetulnya adalah penting, tetapi mereka tetap memilih tidak melakukan “action” karena alasan sederhana, yaitu malas. Kemalasan ini sering dimanipulasi dengan alasan “mendahulukan yang lain yang lebih penting”. Padahal yang sebetulnya terjadi adalah kita memilih untuk “menunda” hal yang penting tersebut karena hati kecil kita memang memilih “no action”. Mengapa demikian? Karena malas.
Takut pada kegagalan juga merupakan alasan mengapa orang “no action”. Mereka takut pada rintangan dan tantangan. Mereka berasumsi bahwa dari pada menghadapi kesulitan dan gagal menghadapi rintangan dan tantangan yang ada di depan lebih baik tidak bertindak. Jadi mereka kalah sebelum berperang!
Alasan keempat mengapa orang “no action” adalah karena dalam perhitungannya hal tersebut lebih mulia dari pada melakukan “action”. Hal ini terutama pada saat seseorang akan melakukan hal-hal yang bersifat negatif, seperti mencuri, menyakiti, dan berbuat kejahatan. Di sini manfaat dari “no action” dipandang lebih besar dibanding dengan akibat yang akan muncul apabila kita melakukan “action” pada hal tersebut. Pada kondisi seperti inilah “no action” tepat untuk dilakukan.
Jadi bisa dikatakan bahwa kebanyakan orang tidak segera melakukan “action” karena kurang cerdas, karena malas, dan karena kalah sebelum bertanding. Kalau alasan kurang cerdas tidak bisa kita salahkan karena hal tersebut sudah dari sananya begitu (given), kemudian alasan malas merupakan pilihan yang merupakan hak seseorang untuk mendapatkan kenikmatan dalam bentuk lain, maka kalah sebelum bertanding merupakan alasan yang patut disayangkan dan bahkan harus dilawan. Kalah sebelum bertanding merupakan musuh utama bagi keberhasilan di bidang apa saja. Banyak sekali kegagalan yang ternyata disebabkan karena belum mencoba ataupun berhenti mencoba. Belum mencoba sudah bilang tidak bisa. Sudah mencoba, begitu ada rintangan dan tantangan kemudian berhenti mencoba.
Untuk itulah maka para leluhur yang arif dan bijak di tanah jawa selalu menegaskan untuk “rawe-rawe rantas, malang-malang putung”, yang berarti “lawan semua rintangan dan taklukkan semua halangan”. Petuah tersebut sebenarnya adalah untuk menegaskan kepada kita bahwa rintangan dan halangan merupakan sesuatu yang natural, yang pasti ada, dimanapun, kapanpun. Untuk itu maka kita harus pandai-pandai menempatkan diri pada saat kita melihat dan mengalami adanya rintangan dan halangan. Lawanlah rintangan, taklukkan halangan!
Melawan rintangan dan menaklukkan halangan bukanlah sekedar kata-kata motivasi. Pada kondisi tertentu hal ini wajib dilakukan, yaitu pada saat kita melakukan sesuatu yang luhur yang sangat penting bagi kehidupan kita. Seorang mahasiswa yang berjuang untuk lulus sarjana demi masa depannya dan juga demi kehormatan keluarganya harus menempatkan rawe-rawe rantas malang-malang putung sebagai sesuatu yang wajib. Apalagi kalau mahasiswa tersebut telah berhasil menerjemahkan dengan cerdas arti kesarjanaan bagi hidupnya, bagi keluarganya, masyarakat, dan bangsanya. Kesarjanaan bukanlah urusan pribadi karena menyangkut keluarga, bangsa dan negara. Kesarjanaan berarti menambah SDM cerdas di negeri ini, yang membantu pengentasan kemiskinan, yang membangkitkan optimisme keluarga atas masa depan anak-anaknya. Seorang sarjana akan mampu membangun negeri dengan kepandaian dan ketrampilannya sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang siap bersaing, yang akhirnya bangsa ini akan menjadi bangsa yang bermartabat di mata dunia. Kalau mahasiswa telah berhasil menerjemahkan arti kesarjanaan menjadi hal mulia seperti itu maka rawe-rawe rantas malang-malang putung hukumnya wajib. Gilas semua hambatan dan tantangan, dan jadilah pemenang!
Rawe-rawe rantang malang-malang putung adalah wajib saat kita melawan kebatilan dan kejahatan. Kebatilan dan kejahatan akan terang-terangan memberikan rintangan, halangan, dan bahkan perlawanan kepada kebaikan. Kalau sudah begini, tidak ada pilihan lain. Harus rawe-rawe rantas malang-malang putung. Di sini kita harus menempatkan diri pada point of no return, titik dimana kita tidak boleh mundur ataupun berbalik arah. Apapun alasannya, kita harus ACTION, lawan rintangan, taklukan halangan, menangkan pertempuran!
Pesan penting dari rawe-rawe rantas malang-malang putung adalah kita jangan ragu-ragu untuk melakukan ACTION. Satu action akan memberikan kekuatan pada action lain. The more you make actions, the more you make another actions, and the more you get results. Inilah yang disebut dengan the power of action. Rintangan dan halangan tidak mungkin kita hindari. Akan selalu ada kapan pun dan dimana pun. Maka hadapilah. Do action, rawe-rawe rantas malang-malang putung! Lawan rintangan, taklukan halangan, dan menangkan pertempuran!
* Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Agung Praptapa juga seorang entrepreneur, Direktur AP Consulting. Alumni writer schoolen dan trainer schoolen. Website: www.praptapa.com; Email: praptapa@yahoo.com.
Menjadi Lebih Tanpa Berlebihan (Local Wisdom 5)
May 25, 2009 by admin
Filed under Agung Praptapa
Bangga menjadi orang yang hebat? Bangga menjadi orang besar? Bangga menjadi orang yang berguna dan memiliki banyak kelebihan? Tentu saja iya! Anda harus berbangga! Hidup hanya sekali. Jangan disia-siakan. Jadilah orang yang hebat, besar, dan berguna. Berbanggalah kalau Anda sudah besar, hebat, dan berguna, karena ini anugrah, yang harus disyukuri. Namun kita harus berhati-hati karena kebanggaan yang salah penerapan dan porsinya justru akan berakibat sebaliknya. Dapat menjadi bumerang. Kita bisa hancur apabila kelebihan-kelebihan yang kita miliki tidak dimanage dengan benar. Untuk itulah maka diperlukan suatu “sistem kontrol diri”, untuk menghindarkan terjadinya serangan balik atas kelebihan yang kita punya. Yang kita harapkan adalah semua kelebihan kita akan beranak pinak, sehingga kita semakin besar, semakin besar lagi, dan terus menjadi lebih besar tanpa harus meletus. Bagaimana caranya?
Caranya adalah dengan membuat sistem kontrol diri agar kelebihan-kelebihan kita bisa terus berkembang tanpa harus meletus dan hancur lebur . Sistem kontrol diri ini telah diformulasikan oleh para leluhur melalui nasihat bijak agar kita tidak adigang, adigung, dan adiguna. Seseorang dikatakan adigang apabila ia terlampau membanggakan ‘kehebatannya’, termasuk didalamnya kesaktian dan prestasinya. Seseorang dikatakan adigung apabila ia terlampau membanggakan ‘kebasaran dan pangkatnya’.Sedangkan adiguna adalah keadaan di mana seseorang terlampau membanggakan ‘kepandaian dan kelebihannya’.
Kijang, Gajah, dan Ular
Raja keraton Suryakarta, Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV, di sekitar tahun 1700an mengabadikan formula kontrol diri agar tidak adigang, adigung, dan adiguna melalui tembang (nyanyian klasik jawa) yang dirangkum dalam kumpulan syair yang disebut “Serat Wulangreh”. Dalam salah satu syairnya digambarkan bahwa orang yang adigang adalah seperti kijang, yang memiliki kemampuan lari yang kencang. Orang yang adigung digambarkan seperti gajah, yang besar dan kuat. Sedangkan orang yang adiguna digambarkan seperti ular, yang mengandalkan gigitannya yang berbisa.
Dikisahkan bahwa kijang, gajah, dan ular mati bersama walaupun mereka mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh binatang lain. Mereka mati bersama untuk menggambarkan bahwa seberapa hebatnya kita, selalu ada batasnya. Kijang bisa lari kencang tetapi bukan berarti tidak bisa lapar dan tidak bisa masuk lobang perangkap. Gajah memang kuat tetapi bukan berarti tidak bisa sakit dan mati. Ular bisa memangsa binatang lain yang lebih besar namun bukan berarti ular juga tidak bisa dimakan oleh mahluk lain. Jadi dalam kehidupan ini tidak ada yang paling hebat dalam segala-galanya. Ada kelebihan, ada pula kekurangan. Sayangnya, tidak semua orang mau dengan bijak memahami hal ini. Dalam dunia kerja tidak sedikit orang yang justru mengumbar adigang, adigung, dan adiguna.
Aplikasi di Dunia Kerja
Di dunia kerja orang dituntut untuk profesional dan memiliki kelebihan yang dapat diandalkan untuk membesarkan dirinya sekaligus membesarkan organisasi dimana mereka bekerja. Kalau mau dilihat dengan hati yang jernih, sebenarnya semua orang memiliki kelebihan masing-masing. Hanya saja kepercayaan diri untuk mengekspresikan kelebihan tersebut tidaklah sama. Itulah yang membedakan antara orang yang “diakui” dan orang yang “tidak diakui”. Hal ini pulalah yang kemudian menjadikan ada orang yang berada dalam kelompok “orang hebat” dan ada pula yang berada dalam kelompok “orang yang biasa saja”. Mengapa semua orang yang sebenarnnya memiliki kelebihan sendiri-sendiri yang unik itu tidak seluruhnya menjadi orang hebat? Jawabnya adalah karena orang me-manage kelebihan yang dimiliknya dengan cara yang tidak sama. Tidak semua orang me-manage kelebihan yang dimilikinya dengan benar.
Me-manage kelebihan yang kita miliki bukanlah hal yang mudah. Untuk itulah mari kita coba menemukan cara yang tepat agar kita dapat me-manage kelebihan yang kita miliki agar bisa berkembang dan menciptakan kelebihan berikutnya (sustainable).
Yang pertama-tama harus kita lakukan adalah kita harus mengeset (setting) pikiran kita bahwa setiap orang memiliki kelebihan. Kemudian kita coba temukan kelebihan kita tanpa harus gentar dengan kelebihan orang lain. Ini pekerjaan yang mengasyikkan dan memerlukan keberanian untuk mengatakan bahwa “inilah kelebihan saya”. Belum ketemu juga? Coba lagi cari dengan pikiran yang lebih jernih. Jangan ijinkan pikiran negatif merasuki kita, jangan ijinkan pikiran jelek masuk. Berbaik-sangkalah pada orang lain dan pada diri sendiri. Terus lakukan sampai kita mampu mengatakan “inilalah kelebihan kita”. Tidak perlu kelebihan seperti orang-orang super tingkat dunia. Mampu bersabar adalah kelebihan. Mampu menahan lapar juga kelebihan.
Setelah kita dapatkan kelebihan kita, kita tanam kelebihan-kelebihan tersebut didalam pemikiran dan keyakinan kita. Sirami dia, rawatlah dia, sampai dia tumbuh dan berkembang menjadi kelebihan yang kuat. Disinilah keahlian kita untuk bersyukur sangat diperlukan. Semakin bersyukur kita dengan kelebihan yang kita miliki, akan memupuk kelebihan tersebut untuk terus mengakar pada diri kita dan tumbuh berkembang. Kita disini bisa berbangga, dan kebanggaan yang proporsional akan memperkokoh kelebihan yang kita miliki.
Namun, pada tahap inilah orang banyak yang tergelincir. Sadar memiliki kelebihan kemudian mereka mulai sesumbar. Memang sesumbar terkadang bisa meningkatkan secara instan kepercayaan diri (confident), namun kalau tidak terkontrol hal tersebut akan menuju ke kepercayaan diri yang berlebihan (over confident). Pada saat over confident ini, sistem kontrol diri seseorang sudah mulai kacau. Orang sudah tidak lagi memiliki ukuran yang akurat. Yang terjadi disini orang akan “merasa” lebih hebat, bukan “benar-benar” lebih hebat.
Untuk itulah maka tiga kata “adigang, adigung, adiguna” digagas untuk menjadi sistem pengereman (break system) agar orang tidak lepas kendali. Kalau kita hebat dan berprestasi, syukurilah, tidak perlu sesumbar. Jangan adigang. Kalau kita besar, berpangkat, berkuasa, juga tidak perlu sesumbar. Syukurilah. Tidak perlu adigung. Dan kalau kita pandai, juga syukurilah, berbagilah dengan tulus. Tidak perlu sesumbar, tidak perlu adiguna.
Mari bersyukur. Mari bekerja ihlas. Mari berkembang menjadi lebih hebat, lebih besar, dan lebih berguna tanpa harus adigang, adigung, adiguna. Kita bisa menjadi lebih tanpa harus berlebihan.
* Agung Praptapa, alumni writer schoolen dan trainer schoolen ini adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Agung Praptapa juga seorang entrepreneur dan Direktur AP Consulting. Website: www.praptapa.com; Email: praptapa@yahoo.com.
Telah di baca sebanyak: 12The PARIS Formula untuk Sukses Anda
May 18, 2009 by admin
Filed under Agung Praptapa
Kalau saya memiliki obat mujarab yang menjamin siapapun yang meminumnya pasti ditanggung 100% sukses, berapa Anda mau beli? Pasti berapapun Anda mau! Masalahnya itu adalah hal yang tidak mungkin. Sukses adalah perjalanan hidup yang tak seorangpun bisa menduga. Anda yang dilahirkan oleh keluarga sukses bisa saja mati dalam keadaan miskin. Sebaliknya, Anda yang dilahirkan miskin bisa saja mati dalam keadaan kaya raya dan bahagia. Bisa juga Anda dilahirkan oleh keluarga kaya raya dan mati dalam keadaan kaya raya dan bahagia pula. Kalau Anda termasuk yang ini, selamat! Anda benar-benar orang yang beruntung. Semoga saja, tidak satupun dari Anda yang dilahirkan miskin dan mati dalam keadaan miskin pula.
Jadi, terbuka peluang sukses bagi siapa saja! Anehnya, tidak banyak orang yang sadar akan peluang emas ini. Peluang emas? Iya, karena sukses bisa menjadi milik siapa saja, termasuk Anda! Tapi kalau demikian, konsekwensinya kegagalan juga bisa menjadi milik siapa saja? Iya, benar! Tapi itu bukan keahlian saya untuk mempersiapkan orang menjadi gagal. Saya memilih menjadi ahli dibidang mempersiapkan orang menjadi sukses. Jadi kita bicara bagaimana menyiapkan diri kita menjadi sukses saja.
Sukses bagi satu orang bisa berbeda ukurannya dengan orang lain. Ada yang mengatakan bahwa orang dikatakan sukses apabila mereka kaya raya. Itu benar. Ada juga yang mengatakan sukses adalah kalau kita menjadi orang yang terkenal. Itu juga bisa. Ada yang mengatakan bahwa sukses adalah bila kita memiliki kekuasaan. Itu juga tidak salah. Apapun definisinya, pada prinsipnya sukses adalah mendapatkan yang kita mau!
Dalam kesempatan ini saya akan membawa Anda untuk sukses melalui jalur PARIS, yang merupakan akronim dari Passion, Action, Result, Improvement, and Success. Mari kita bahas satu persatu.
Passion
Untuk sukses Anda perlu passion. Passion adalah suatu terminologi untuk menggambarkan seberapa besar kita ingin mendapatkan apa yang kita mau. Passion menunjukkan seberapa kita “bernafsu” atas apa yang kita mau, seberapa besar kita ingin mewujudkan apa yang kita mau, seberapa besar kita mau berkorban untuk mendapatkan apa yang kita mau. Jadi passion akan mencakup motivasi, keteguhan, kesabaran, hasrat, kerelaan, keihlasan, imajinasi, dan keyakinan.
Passion yang kuat akan mendekatkan kita pada terwujudnya apa yang kita mau. Bahkan ada yang mengatakan bahwa seseorang yang tidak dapat mendapatkan apa yang ia mau bisa jadi karena passionnya yang belum cukup kuat. Mari kita renungkan, seberapa kuat passion kita?
Action
Berapapun dekatnya suatu tujuan tidak akan pernah tercapai apabila kita tidak memulai langkah pertama. Jarak ribuan kilometer terdiri dari selangkah demi selangkah yang akhirnya mendekatkan kita pada tujuan yang ingin kita capai. Jadi, jangan pernah berpikir kalau kita akan mendapatkan yang kita mau tanpa bergerak, tanpa berbuat, tanpa action! Action, action, dan action! Apa sih artinya cita-cita tinggi, persiapan dan perhitungan yang rumit, serta modal yang berlimpah apabila kita tidak bergerak untuk memulai? Banyak orang sukses justru langsung “action” saat mereka memiliki hasrat. Tanpa pertimbangan? Tanpa persiapan? Bukan begitu filosofinya. Tapi mereka memahami bahwa mereka bisa learning by doing. Percuma saja kalau cuma learning without doing.
Inilah apa yang disebut dengan the power of action. Langkah pertama Anda akan memperingan langkah berikutnya. Seperti halnya orang mengayuh sepeda, putaran pertama selalu lebih berat dari pada putaran berikutnya. Kalau sudah melaju, putaran berikutnya menjadi ringan, dan semakin lama semakin ringan. Demikian pula action. Berat memulainya tetapi bila sudah action, akan menjadi ringan dan akhirnya menjadi kebiasaan.
Result
Sukses adalah mendapatkan hasil. Tidak selalu hasil dalam bentuk uang, atau materi lainnya, namun bisa saja hasil dalam bentuk kepuasan batin dan bentuk yang tidak berwujud (intangible) lainnya. Dalam melangkah kita harus jelas apa hasil yang kita harapkan. Kita tidak bergerak berputar kesana kemari untuk sok sibuk saja, tetapi kita berbuat untuk mendapatkan hasil.
Agar kita mendapatkan hasil kita harus pandai-pandai membuat hasil mendekat kepada kita. Bukannya kita yang harus berjalan dan bertindak menuju hasil yang diharapkan? Iya benar. Namun kita juga bisa mendekatkan hasil yang berjalan kepada kita. Bagaimana caranya?
Beberapa cara dapat kita lakukan agar result mendekat kepada kita. Yang pertama adalah dengan cara berdoa. Berdoa? Kok klasik banget? Iya, memang klasik tetapi ini sangat ampuh, manjur, dan terbukti. Dengan berdoa kita akan selalu mengklarifikasikan apa yang kita mau. Kita akan memperjelas apa yang kita mau dari satu doa ke doa berikutnya. Doa berisi restatement of the goal. Jadi dengan berdoa kita semakin jelas dengan tujuan kita. Langkah berikutnya adalah dengan visualisasi, yaitu membawa tujuan yang akan kita capai seolah-olah ada di depan mata kita. Hal ini sudah banyak dilakukan orang dan terbukti kebenarannya. Cara yang ketiga untuk mendekatkan tujuan kepada kita adalah dengan masuk pada orbit yang benar, yaitu orbit dimana orang-orang yang memiliki tujuan sejenis berada. Kalau kita ingin menjadi penyanyi terkenal maka dekat-dekat dengan penyanyi terkenal akan mendekatkan kita pada tujuan, dalam arti tujuan mendekat kepada kita.
Improvement
Hambatan dan tantangan adalah sahabat orang sukses. Demikian pula kegagalan. Orang sukses justru sering gagal? Iya. Memang begitu. Tingkat kegagalan saya memasukkan bola ke gawang lawan lebih sedikit dibandingkan dengan David Beckham. Jadi David Beckam lebih banyak gagalnya dari pada saya. Mengapa? Karena saya tidak pernah bermain sepak bola, dan kalaupun bermain sepak bola termasuk orang yang tidak diperhitungkan. Sedangkan David Beckham bermain sepak bola hampir setiap hari sehingga dia mencoba memasukkan bola ke gawang lawan hampir setiap hari pula. Tentu saja banyak yang gagal, tetapi kalau dihitung yang berhasil? Tentu banyak pula yang berhasil. Disinilah kita harus memandang hambatan, tantangan, dan kegagalan dari kacamata yang berbeda. Kegagalan bukan untuk ditangisi tetapi untuk diperbaiki. It’s a matter of improvement!
Improvement akan memperbesar result, mempermudah action, dan memperkuat passion. Dengan demikian improvement bukanlah pekerjaan sekali, pekerjaan yang sekali dilakukan kemudian habis perkara. Bukan seperti itu. Perbaikan harus dilakukan berkesinambungan, terus menerus. Continuous improvement!
Success
Setelah melewati tahapan-tahapan yang diformulasikan dengan PARIS ini, sampailah kita pada sukses. Suskses adalah yang kita tuju. Setelah sukses kemudian apa lagi? Sukses harus melahirkan kesuksesan lainnya. Orang yang sukses dalam berbagai bidang bukan orang super, tetapi orang yang pandai melahirkan sukses kecil, kemudian menjadi kesuksesan kecil lainnya, dan terus beranak pinak menjadi suskses-sukses yang lain.
The PARIS Formula
Akhirnya passion, action, result, improvement, dan success telah kita lalui. Jalan menuju PARIS tersebut bukanlah jalan yang tak mungkin dilakukan oleh siapa saja. PARIS adalah milik semua orang yang mau sukses! Selamat, Anda salah satunya.
* Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Agung Praptapa juga seorang entrepreneur di bidang konsultasi bisnis, pendidikan, elpiji dan minuman sehat. Alumni Writer Schoolen dan Trainer Schoolen. Website: www.praptapa.com; Email: praptapa@yahoo.com.
Telah di baca sebanyak: 4Kearifan Pemimpin Sejati (Local Wisdom 4)
April 27, 2009 by admin
Filed under Agung Praptapa
Konsep manajemen dan kepemimpinan yang kita pelajari kebanyakan berasal dari pemikiran barat. Padahal sebenarnya kita memiliki konsep manajemen made in Indonesia yang luar biasa! Asli Indonesia dan lebih arif dari konsep barat. Bahkan boleh dikatakan inovatif. Mengapa? Konsep manajemen barat memandang birokrasi manajemen dari aspek vertikal dan horizontal. Jadi selalu berbicara atasan dan bawahan (vertikal) serta posisi dalam level sama, kesamping kiri dan kanan (horisontal). Kearifan kepemimpinanpun sejalan dengan konsep tersebut, yaitu diseputar bagaimana seseorang memberikan pengaruh kepada orang lain dalam kerangka birokrasi atasan bawahan serta samping kiri dan kanan tersebut. Di Indonesia, terdapat suatu konsep kepemimpinan yang berbeda dimensi, bukan atas bawah, tetapi depan belakang. Depan belakang? Iya, itulah konsep kepemimpinan yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara.
Ki Hajar Dewantara adalah tokoh dan pelopor pendidikan di Indonesia, yang mendirikan Perguruan Taman Siswa di tahun 1922. Di dalam mengelola perguruan tersebut, Ki Hajar memiliki moto dalam bahasa jawa yang berbunyi: Ing ngarso sung tulodho, ing madaya mangun karsa, tut wuri handayani. Moto tersebut terjemahan langsungnya adalah “di depan memberikan teladan, di tengah menggerakkan, di belakang memberikan dorongan”. Moto tersebut pada mulanya ditujukan untuk menjadi pedoman untuk membangun kultur positif antara guru dan murid, namun dalam perkembangannya konsep tersebut digunakan menjadi konsep kepemimpinan, yang khas dan asli Indonesia. Apa yang membedakan dengan konsep kepemimpinan barat?
Kepemimpinan model barat yang vertikal horisontal, atas bawah dan samping mengandung makna disequality, ketidaksamaan, dan power yang tidak seimbang (asymetric power). Ada posisi diatas yang memerintah dan posisi di bawah yang diperintah. Ada yang more powerful dan ada yang less powerful. Sedangkan konsep kepemimpinan khas Indosesia ala Ki Hajar tidak membedakan orang dari tingkatannya, tetapi dari peranannya. Peran itupun tidak selalu sama, bisa peran saat di depan, peran pada saat di tengah, dan peran pada saat di belakang. Dengan kata lain, pada suatu saat seorang pemimpin harus berperan di depan, pada saat lain di tengah, dan saat yang lain lagi bisa berperan di belakang. Apa maknanya? Mari kita ikuti pembahasan selanjutnya.
Konsep Kearifan Pemimpin
Memimpin dan dipimpin adalah suatu siklus natural dalam kehidupan. Ada saatnya kita harus memimpin, tetapi ada saatnya pula kita harus dipimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang yang berpengaruh dan diikuti. Seorang pemimpin formal, yang menduduki suatu jabatan tertentu, berpengaruh dan diikuti karena wewenangnya. Namun ada pula seseseorang, yang meskipun tidak memiliki jabatan tertentu, tetapi orang tersebut berpengaruh dan diikuti oleh orang lain. Jadi, ada pemimpin yang berpengaruh dan diikuti karena ditakuti, tetapi ada pula yang berpengaruh dan diikuti karena dicintai.Pemimpin tipe yang terakhir inilah yang disebut pemimpin sejati, yang berpengaruh dan diikuti karena “orangnya” bukan karena “jabatannya”. Sekarang yang perlu dicari jawabannya adalah bagaimana menjadi pemimpin sejati atau true leader?
Seorang pemimpin sejati memandang orang lain sebagai “manusia” yang harus dihargai karena sifat kemanusiaannya. Seorang pemimpin sejati “nguwongake”, memanusiakan manusia. Kaya-miskin, besar-kecil, tinggi-pendek, manajer-karyawan hanyalah variasi. Hakekatnya tetap manusia. Seorang pemimpin sejati menghormati orang yang ‘memimpin’ dan menghormati pula orang yang ‘dipimpin’. Memimpin-dipimpin adalah alami, bahkan tidak bisa dihindari. Sudah kodrat manusia untuk memimpin, dan kodrat pula untuk dipimpin. Untuk itulah dikotomi atasan-bawahan sebenarnya kurang tepat, karena yang sebenarnya ada hanyalah perbedaan peran. Dikotomi atasan bawahan menimbulkan efek berkuasa-tidak berkuasa, atau setidak-tidaknya mengutamakan tingkatan kekuasaan. Inilah yang kurang tepat.
Pendekatan yang lebih alami adalah menempatkan manusia pada perannya masing-masing, dimana semuanya sama pentingnya. Seorang pemimpinpun demikian, harus mampu berperan pada tempat dimana ia berada, pada saat di depan, di tengah, maupun di belakang.
Saat Pemimpin di Depan
Seorang pemimpin adalah panutan. Sebagai panutan, orang lain yang ada disekitarnya akan manut (bahasa jawa, yang artinya mengikuti, meniru). Disini bisa dilhat betapa besarnya tanggungjawab moral seorang pemimpin, karena tindak-tanduknya, tingkah lakunya, cara berfikirnya, bahkan kebiasaannya akan cenderung diikuti orang lain. Untuk itulah maka saat berada di depan, pemimpin harus memberikan teladan, memberikan contoh. Ini disebutkan oleh Ki Hajar dengan terminologi “ing ngarso sung tulodho”, saat di depan seorang pemimpin harus memberi teladan.
Konsep ini sebenarnya tidak jauh dengan konsep “imam”, pemimpin sholat dalam agama Islam. Imam tidak selalu permanen. Seseorang bisa berdiri didepan sebagai imam, memimpin, dan diikuti oleh “makmum”, para peserta yang ada dibelakangnya. Namun dalam kesempatan lain bisa saja orang lain yang menjadi imam, dan orang yang semula imam kemudian dalam kesempatan itu menjadi makmum atau peserta. Disini tidak tercermin adanya atasan-bawahan, tetapi jelas menunjukkan siapa yang memimpin dan siapa yang dipimpin.
Saat Pemimpin di Tengah
Seorang pemimpin yang berada di tengah-tengah orang-orang yang dipimpinnya, harus mampu menggerakkan, memotivasi, dan mengatur sumberdaya yang ada (empowering). Pada dasarnya setiap orang memiliki kemampuan untuk memotivasi diri sendiri (intrinsic motivation), sehingga ada ataupun tidak adanya stimuli tetap saja akan termotivasi. Hanya saja, kadar motivasi dari diri sendiri sering tidak stabil kehadirannya. Untuk itulah maka motivasi dari luar dirinya (extrinsic motivation) tetap sangat diperlukan. Disinilah seorang pemimpin dapat mengambil peran. Kehadirannya membuat orang tergerak untuk bertindak. Itulah pemimpin sejati.
Seorang pemimpin sejati saat berada di barisan tengah tidak membebani pemimpin lain yang sedang berada di barisan depan maupun belakang. Untuk itulah maka peran oposisi menjadi tidak relevan disini. Dimanapun posisinya, dan apapun perannya akan tetap saling mendukung dan menopang. Saat di tengah, pemimpin sejati menggerakkan, mendorong yang di depan dan menarik yang di belakang. Inilah hakikat dari ing madya mangun karsa.
Saat Pemimpin di Belakang
Siapa bilang seorang pemimpin tidak boleh berada di barisan belakang? Pemimpin sejati diperlukan kehadirannya dibarisan belakang. Dari belakang seorang pemimpin dapat memberikan dorongan untuk terus maju. Pemimpin yang berada di barisan belakang harus pandai-pandai mengikuti barisan di depannya, agar konsisten gerakan dan arahnya , agar terjadi apa yang disebut goal cogruency, suatu keadaan di mana tujuan individu yang berada dalam suatu organisasi konsisten dengan tujuan organisasi. Tanpa goal congruency arah gerakan organisasi menjadi berat karena banyaknya arah yang tidak sama dan mungkin justru saling berlawanan.
Seorang pemimpin sejati harus bisa ngemong (bahasa jawa yang berarti melayani, mengasuh, take care of). Bagaimana seorang penggembala itik berjalan diposisi paling belakang setelah barisan itik-itik yang digembalanya sering digunakan sebagai ilustrasi untuk menggambarkan bagaimana seorang pemimpin dapat mengarahkan orang dari belakang. Setiap orang memiliki bakat sendiri-sendiri. Setiap orang juga memiliki kemampuan untuk bisa bergerak maju mendapatkan apa yang mereka mau, dan juga apa yang diinginkan oleh organisasi. Pemimpin sejati memberikan dorongan dari belakang, tetap mengarahkan agar sesuai tujuan, dan mampu memastikan bahwa orang-orang di dalam organisasi bekerja sesuai dengan arah dan strategi yang telah ditetapkan. Jadi, seorang pemimpin sejati akan tut wuri handayani.
Penutup
Seorang pemimpin sejati harus ing ngarso sung tulodho, memberikan teladan. Seorang pemimpin juga harus mampu menggerakkan orang-orang disekitarnya. Disinilah peran pemimpin agar ing madya mangun karso. Yang terakhir, seorang pemimpin harus mampu mengendalikan dari belakang, mengarahkan, dan mendorong orang-orang agar bergerak maju sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Disini seorang pemimpin harus tut wuri handayani. *
*Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni Universitas Diponegoro, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Saat ini sedang menikmati profesi baru sebagai penulis manajemen populer. Alumni Writer Schoolen. Website: www.praptapa.com Email: praptapa@yahoo.com.
Telah di baca sebanyak: 31Junjung yang Tinggi, Tanam yang Dalam (Local Wisdom 3)
April 13, 2009 by admin
Filed under Agung Praptapa
Para marketer memiliki seribu satu cara untuk memasarkan produknya, namun word of mouth (WOM) diyakini sebagai cara pemasaran yang paling efektif. WOM merupakan strategi pemasaran melalui referensi orang lain. Jadi, dari mulut ke mulut. Nampaknya ini sangat tradisional, namun sulit untuk disangkal bahwa cara ini sangat efektif.
Tidak terbatas pada pemasaran produk, memasarkan nama baik perusahaan (corporate value) maupun nama baik seseorang (personal value) juga sangat tepat melalui pendekatan dari mulut ke mulut. Disinilah kekuatan omongan seseorang. Lihat saja bagaimana acara infotainment di hampir semua stasiun televisi selalu mendapatkan rating pemirsa yang tinggi. Itu karena orang lebih percaya dengan omongan orang dari pada informasi bentuk lain. Sayangnya, orang sering lupa, bahwa hal-hal yang negatif dari perusahaan maupun seseorang juga akan mudah dipercaya melalui mulut ke mulut.
Mari kita amati dilingkungan kerja kita. Sering kita dapati orang yang berkicau saat memiliki informasi negatif tentang seseorang. Tanpa diteliti ulang benar tidaknya informasi tersebut, yang penting tebar isu dulu. Jadilah orang tersebut sebagai orang penting sesaat, orang yang dibutuhkan informasinya. Dia merasa menjadi sumber referensi, ada kebanggaan tersendiri. Apa akibatnya terhadap orang yang diberitakan tersebut bahkan tidak ada dalam pemikiran sama sekali. Apalagi akibat lanjutannya bagi perusahaan.
Jadi bagaimana sebaiknya kita bersikap saat ada hal penting yang harus kita sampaikan pada orang lain? Lebih baik diam? Atau sampaikan saja kepada siapapun toh mereka semua orang dewasa, mereka tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik? Untuk menjawab ini saya akan mencoba menggunakan kearifan lokal dari jawa, yang berbunyi “mikul dhuwur, mendhem jero”.
Falsafah versi original
Mikul dhuwur, mendhem jero dapat diterjemahkan sebagai “junjung yang tinggi, tanam yang dalam.” Ini adalah petuah para leluhur jawa tentang bagaimana seorang anggota keluarga harus bersikap kepada anggota keluarga yang lain. Seorang anak harus berusaha menjunjung tinggi nama keluarga. Ini bisa dilakukan dengan beberapa cara.
Yang pertama adalah dengan cara menjunjung derajat diri sendiri. Gampangnya, jadilah kamu orang yang sukses karena keluarga juga akan terjunjung dari kesuksesanmu itu! Ini adalah cara yang sangat diharapkan oleh keluarga. Ada pepatah jawa yang mengatakan bahwa “anak polah bapa kepradah.” Maksudnya adalah kalau anak bertingkah, akibatnya tidak hanya kepada anak itu sendiri tetapi orang tua juga akan menanggung akibatnya. Anak bertingkah buruk, orang tua akan menerima akibatnya. Namun bila anak bertingkah baik, orang tua juga akan menerima buahnya. Maka, sebagai anak, jadilah orang sukses, karena orang tua dan keluarga akan turut merasakannya. Ini bukan berarti kalau anak sukses harus memberikan setoran kepada keluarga, bukan seperti itu! Tapi kalau anak sukses, setidak-tidaknya tidak merepotkan keluarga. Keluarga kemudian bisa berkonsentrasi untuk mensukseskan anggota keluarga yang lain lagi. Keluarga dapat terus menjaga martabatnya.
Cara yang kedua adalah dengan mendorong anggota keluarga lain untuk sukses, karena sukses mereka akan pula menjunjung derajat keluarga. Jadi, kalau kita belum bisa sukses, biarkan anggota keluarga lain sukses terlebih dahulu. Kita dorong, kita fasilitasi, kita semangati! Bukan kita menjadi iri dengan kesuksesan anggota keluarga lain, apa lagi sampai ada niat untuk menghancurkan kesuksesan mereka.
Yang ketiga adalah dengan cara menyampaikan kepada orang lain hal-hal baik atas keluarga maupun anggota keluarga yang lain. Kita harus pandai-pandai memilah mana yang pantas untuk disampaikan kepada orang lain dan mana yang tidak pantas. Ini tidak terlepas dari konsep words of mouth, yaitu apa yang kita sampaikan kepada orang lain akan menjadi referensi bagi orang lain untuk menyampaikan kepada orang lain lagi. Jadi, menyampaikan hal yang baik akan menjunjung derajat keluarga.
Tiga cara yang dijabarkan di atas adalah cara-cara untuk mikul dhuwur, atau menjunjung tinggi. Lantas apa artinya mendhem jero atau tanam yang dalam? Apa yang harus ditanam dalam-dalam tersebut?
Tanam yang dalam adalah suatu falsafah dimana kita harus pandai pandai menyimpan aib keluarga. Jangan sampai orang lain mengetahui keburukan kita. Ini bukan masalah tidak adanya keterbukaan ataupun transparansi, namun ini berkenaan dengan akibat yang akan terus bergulir apabila kita menyampaikan aib atau keburukan keluarga ke orang lain. Berikan saja yang baik-baik kepada orang lain dan hal-hal yang tidak baik biarlah untuk konsumsi kita sendiri saja. Ingat kekuatan words of mouth!
Aplikasi di Dunia Kerja
Falsafah mikul dhuwur mendhem jero pada mulanya memang diperuntukkan bagi kehidupan keluarga, namun dalam perkembangannya dapat diterapkan pula didunia kerja. Keluarga disini untuk merepresentasikan organisasi atau perusahaan, sedangkan anggota keluarga ataupun anak adalah untuk merepresentasikan karyawan atau anggota organisasi.
Dunia kerja memang penuh dengan kompetisi. Antara satu karyawan dengan karyawan lain sama-sama ingin menuju posisi yang lebih tinggi. Namun posisi tersebut hanya untuk satu atau beberapa orang saja, sehingga persaingan antar karyawan tidak dapat dihindari. Sering terjadi karyawan yang satu justru menyebar luaskan keburukan karyawan lain, sedangkan kebaikan orang lain justru ditanam dalam-dalam. Wah, ini jadi terbalik dari mikul dhuwur mendhem jero. Tapi ini kompetisi, harus bagaimana kita?
Iya benar, ini kompetisi. Tapi bukan berarti kita harus saling membunuh! Kalau dalam satu keluarga perusahaan atau organisasi, anggota atau karyawannya saling membunuh, siapa yang untung? Tentu saja kompetitor! Perusahaan lain! Organisasi pesaing yang untung! Ini harus kita ingat! Ini pula yang menjadikan saya tambah yakin dan hormat dengan falsafah mikul dhuwur mendhem jero. Meskipun persaingan antar karyawan dalam suatu perusahaan sangat tinggi, kita harus tetap menjaga kekokohan perusahaan, agar perusahaan kompetitor tatap memandang kita kokoh dan akan berfikir seribu kali untuk menghancurkan kita. Namun kalau kita menggerogoti perusahaan dari dalam, kita saling membunuh, maka perusahaan menjadi rapuh, kemudian bersiap-siaplah dihancurkan oleh perusahaan pesaing!
Jadi, junjung yang tinggi, tanam yang dalam!
* Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni Universitas Diponegoro, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Saat ini sedang menikmati profesi baru sebagai penulis manajemen populer. Alumni Writer Schoolen. Website: www.praptapa.com; Email: praptapa@yahoo.com.
Telah di baca sebanyak: 7










