training motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaNews Feedtraining motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaComments Subscribe to training motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaSitemap

Tips Anya

Dulu ia sering tampil di layar kaca. Maklum saja. Tiga kata yang paling banyak digunakan untuk menggambarkan pekerjaannya adalah: model, pemain sinetron, presenter. Tingginya sedang saja, sekitar 160-an sentimeter. Wajah yang bulat telur membuatnya enak dipandang. Apalagi gerak bola matanya acap dinamis. Gadis Tiara Sunsilk (2002), Duta Keluarga Berencana dari BKKBN (2007), Duta Koperasi dan UKM (2010), dan Duta Diabetes Anak (2011) adalah sebagian dari prestasi yang pernah diraihnya. Anak bungsu dari Budhi Wibhawa dan Titien Tjasmo ini diberi nama Anya Dwinovita Pahlawanti, karena lahir di Jakarta saat peringatan Hari Pahlawan, 10 November 1982.

Kini frekuensi penampilannya di layar kaca relatif berkurang, kecuali untuk peran sebagai presenter yang memang dinikmatinya. Dunia persinetronan sudah ia tinggalkan sejak 2006, entah karena apa. Ke mana waktu dan pikirannya teralih?
“Jadwal yang saya utamakan adalah jadwal presenter atau MC atau tugas Duta saya karena untuk melakukan pekerjaan tersebut saya wajib hadir secara fisik. Setelah itu jadwal dari bisnis saya, karena secara fisik bisa saya wakilkan, sedangkan pemikiran dan keputusan-keputusan bisa melalui e-mail, telepon, BBM, dan teknologi lainnya uang sudah tersedia untuk mempermudah hidup kita. Lalu, barulah ‘me time’, termasuk untuk keluarga dan kegiatan pribadi saya,” paparnya di Kompas Kita, 27 Maret silam.

Anya Dwinov memang sudah mengalami transformasi. Hasratnya yang menggebu untuk mandiri secara finansial, telah membawanya ke dunia bisnis. Saat ini ia sudah memiliki tiga restoran di Jakarta dan Bali, serta sebuah usaha di bidang jasa perjalanan. Hotel kategori small luxury merupakan impian berikutnya, sebab “Saya ingin memiliki hotel kecil di mana saya bisa tinggal di sana sehingga sesekali bisa menyapa dan bersosialisasi dengan tamu sendiri”.

Usahanya di bidang restoran bekerja sama dengan karibnya sesama selebriti, Olga Lydia. Menurut Anya, memilih mitra kerja sangatlah penting untuk mengurangi berbagai risiko dalam berbisnis. Karena itu ia menyarankan, “Pilihlah mitra kerja yang ritme kerja dan pemikirannya sejalan. Pemilihannya dapat dimulai dari kawan yang sudah Anda kenal lama dan dekat. Meski pun tidak selalu menjamin, minimal kita sudah mengurangi risiko terkejut oleh cara berpikir dan ritme kerja orang yang baru kita kenal.” Sebuah nasihat yang bernas. Buktinya, Anya mengaku belum pernah mengalami kerugian dalam berbisnis.

Anya tidak saja punya tips dalam soal memilih mitra bisnis, tetapi juga dalam menabung. Ia menganjurkan langkah praktis agar uang beranak pinak, terutama untuk karyawan alias orang gajian. “Buka rekening di bank yang sama dengan rekening penerimaan gaji, tetapi jangan ambil fasilitas ATM, m-banking, e-banking, atau fasilitas apapun yang mempermudah uang itu keluar dari rekening tersebut. Setiap bulan begitu terima gaji, langsung transfer sekian persennya, bisa 10-30 persen, ke rekening celengan tersebut,” ujarnya.

Anya pernah mengaku suka membeli perhiasan, sebab katanya, “Saya termasuk orang yang kuno, jadi lebih nyaman berinvestasi pada hal-hal yang bisa saya pegang dan awasi sendiri. Hal-hal seperti investasi di saham, reksadana, dan sebagainya, bukan hal yang memikat saya saat ini. Jadi saya lebih nyaman menaruh uang di usaha yang bisa saya kelola dan jalankan sendiri, atau properti, atau di tabungan saja.”
Mengetahui bahwa Anya belum pernah rugi dalam berbisnis, pikiran saya langsung melayang pada kearifan yang dimuat buku The Tao of Warren Buffett (2006). Dikatakan disana, “Peraturan No.1: Jangan rugi. Peraturan No. 2: Jangan pernah lupa peraturan No.1.” Sebab rahasia terbesar untuk menjadi kaya adalah membuat uang berlipat ganda, dan semakin besar jumlah yang dimiliki di awal akan semakin baik.

Misalnya, $ 100,000 yang dilipatgandakan sebesar 15% selama 20 tahun akan berkembang menjadi$ 1,636,653, sehingga memberi Anda keuntungan $ 1,536,653. Namun, jika Anda kehilangan $ 90,000 dari modal Anda dan hanya dapat menginvestasikan $ 10,000 maka investasi Anda hanya akan menjadi $ 163,665 pada tahun ke dua puluh, dengan keuntungan $ 153,665 saja. Ini jelas angka yang jauh lebih kecil. Semakin besar kerugian Anda, semakin besar dampaknya terhadap kemampuan Anda untuk mendapatkan uang di masa mendatang. Inilah yang tidak pernah dilupakan Warren Buffett. Ini juga alasan dia tetap mengendarai mobil VW Beetle yang kuno, lama setelah dia menjadi multijutawan.
Warren Buffett, yang namanya selalu masuk dalam tiga orang terkaya di dunia itu, juga pernah mengatakan bahwa “Anda tidak dapat membuat kesepakatan yang baik dengan orang yang buruk”. Sebab orang buruk tetaplah orang yang buruk, dan mereka tidak akan memberi Anda kesepakatan yang baik.

Hal ini terkait dengan soal memilih mitra bisnis. Menurut Buffett, dunia ini memiliki cukup banyak orang yang baik dan jujur yang berhubungan bisnis dengan orang yang tidak jujur. Itu merupakan kebodohan. Bahkan jika Anda meragukan kejujuran seseorang, dengan bertanya di batin, “Apakah orang ini dapat dipercaya?” maka sebaiknya Anda mencari orang lain saja untuk berhubungan bisnis. Anda tidak ingin meragukan, apakah parasut Anda akan terbuka, ketika Anda akan segera melompat dari pesawat, bukan? Demikian juga Anda sebaiknya tidak meragukan integritas seseorang yang dengannya Anda akan melompat untuk memulai sebuah bisnis. Jika Anda tidak mempercayai mereka sekarang, Anda tidak akan dapat mempercayai mereka di kemudian hari. Jadi mengapa harus memulai hubungan bisnis bersamanya?
Sampai di sini, saya temukan Anya memiliki kedekatan pola pikir dengan Warren Buffet. Pertama dalam soal memandang kerugian. Dan kedua dalam soal memilih mitra bisnis. Ini membuat saya bertanya-tanya, akankah orang seperti Anya masuk daftar orang-orang terkaya di Indonesia pada dua puluh tahun ke depan?
Bagaimana pendapat Anda? Salam proaktif.
___________________
ANDRIAS HAREFA, WTS adalah writer: 38 Best-selling Books; Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun, Pendiri www.pembelajar.com; Twitter @aharefa

Telah di baca sebanyak: 89

Lebay

“Camkanlah ini: siapa binasa dengan tidak bersalah? Dan di manakah orang yang jujur dipunahkan? Yang kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga,” kata Elifas kepada sahabatnya yang sedang dirundung malang tak berkesudahan.

Elifas, tokoh yang hidup lima ratusan tahun sebelum Masehi, percaya hukum tabur-tuai, hukum sebab-akibat, hukum daya tarik, law of attraction. Jika Anda baik, maka kebaikan akan menghampiri Anda. Jika Anda jahat, maka kejahatan akan mendekati Anda. Apa yang sering Anda pikirkan akan menjadi kenyataan. Jika Anda suka cemas, maka hal-hal yang mencemaskan akan datang berkunjung. Jika Anda berpikir sukses, maka jalan-jalan kesuksesan akan terhampar di hadapan Anda. Terdengar familiar?

Di dekade pertama abad ke-21 ini, cara pandangan Elifas kembali populer berkat orang-orang seperti John Assaraf, Michael Beckwith, Jack Canfield, James Arthur Ray, Bob Proctor, Joe Vitale, Lisa Nichols, Marie Diamond, dan guru-guru The Secret-nya Rhonda Byrne (2006). Dari Kanada, Michael J. Losier (2007) mengirimkan naskah yang sama dengan judul The Law of Attraction dan menegaskan: “I attract to my life whatever I give my energy, focus, and attention to, whether wanted or unwanted.” Sementara di Indonesia, kebanyakan pembicara dan mereka yang disebut sebagai motivator ikut menjual gagasan berusia dua setengah abad ini.

Tapi, ngomong-ngomong, kepada siapa Elifas sedang berbicara waktu itu? Apa persoalan yang sedang dihadapi sahabatnya, sehingga ia mengucapkan kalimat yang demikian?

Sahabat Elifas adalah tokoh sukses yang luar biasa kaya di zamannya. Ia memiliki segala ukuran kemakmuran pada masa itu: kambing, domba, unta, lembu, keledai, dan budak dalam jumlah yang sangat besar. Ia memiliki tujuh anak lakilaki dan tiga anak perempuan, yang semuanya hidup rukun satu sama lain. Dan yang paling mengesankan mengenai orang ini adalah: ia dikenal karena kesalehan, kejujuran, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan. Mencengangkan!

Di zaman sekarang, tokoh seperti sahabat Elifas ini sulit dicari. Kita mungkin mengenal 100 orang terkaya di Indonesia, tetapi siapa di antara mereka yang memiliki keluarga yang rukun dan harmonis? Atau kita mengenal orang-orang yang keluarganya harmonis, tetapi apakah mereka hidup berkelimpahan? Belum lagi ini, siapakah orang kaya yang bisa kita masukkan dalam kategori orang saleh dan jujur sekaligus? Mana yang lebih mudah kita temukan: orang kaya karena korupsi-kolusi-nepotisme atau orang kaya karena saleh dan jujur? Kembali ke sahabat Elifas, dan dengan memakai konsep law of attraction, maka apakah yang mungkin terjadi pada kehidupan orang yang sangat kaya, dengan keluarga yang sangat harmonis, dan dengan kesalehan dan kejujurannya itu? Jawabnya tentu: ia akan makin kaya, diberkati dengan kelimpahan, dan diberi kesehatan prima.

Namun sejarah mencatat yang lain. Orang terkaya ini tertimpa musibah beruntun. Lembu dan keledainya dirampok orang-orang Syeba dan budak-budaknya dibunuh. Pada tempat yang lain kambing, domba dan penjaganya disambar petir, terbakar, dan tewas. Unta-unta dan penjaganya dijagal orang-orang Kasdim. Dan angin badai menerpa rumah anak sulungnya ketika semua anaknya sedang menikmati jamuan makan, sehingga reruntuhan bangunan merenggut nyawa mereka semua. Seakan tak cukup, kebangkrutan harta dan kehilangan anak-anak tercinta, orang yang sudah bangkrut ini harus terkena penyakit kulit berbau busuk, dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Oh kita mungkin terperangah. Pengalaman Nabi Ayub, tokoh sahabat Elifas ini, sungguh tak cocok dengan konsep hukum sebab-akibat, law of attraction, berlawanan dengan semua nasihat pengajar The Secret. Kesalehan dan kejujuran tak membawa berkah, tapi justru mengundang musibah. Pikiran dan sikap positif tak menghasilkan dampak yang senada. Ke mana larinya semua getaran energi positif dari batin orang kaya yang saleh dan jujur itu? Ayub berada di lembah bayang-bayang maut, lembah kekelaman.

Apa responsnya? Minimal ada dua yang menarik. Pertama, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Yang kedua, “Apakah kita mau menerima yang baik Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?”
Jelas bagi Ayub bahwa semua hal yang terjadi di muka bumi merupakan penyelenggaraan Ilahi, tanpa kecuali. Ia sadar dirinya bukan pemilik, tapi pengelola saja dari semua yang dititipkan kepadanya. Ia menerima ketika yang bukan miliknya diambil oleh Sang Pemilik, sebab ia paham tak ada haknya untuk komplain. Hatinya tidak melekat pada berkat dan kemakmuran, tetapi pada Sang Pemberi berkat dan kemakmuran itu. Dalam keyakinannya akan kebaikan Tuhan, ia tak sungkan menerima apa yang dianggap orang sebagai hal yang buruk sekali pun. Sungguh kearifan yang melampaui law of attraction, mengatasi logika sebab-akibat, menembus batas-batas terapi berpikir positif dan ajaran positive mental attitude.

Apa pesan kisah Ayub dan Elifas? Kawan yang mempelajari kisah ini dengan saksama menawarkan pada saya tiga kunci emas: iman kepada Tuhan dalam segala keadaan, keterbukaan atas cara Tuhan bekerja yang sering tak sesuai pikiran dan kemauan kita, dan ketaatan akan pimpinan Tuhan karena tahu IA memberi yang terbaik bagi yang beriman kepadaNya, sesuai waktuNya sendiri.

Ia juga mengingatkan agar saya jangan lebay kalau menyemangati orang. Jangan menganggap law of attraction pasti benar, mutlak benar. Semua gagasan mengenai The Secret dan Law of Attraction itu lebay, berlebihan. Siapa saja yang hatinya bersih akan tahu bahwa hidup tak segampang hukum daya tarik. Acap hadir misteri Ilahi di sudut-sudut kejadian, ketika orang yang saleh ditimpa kemalangan dan orang jahat mendapat kemakmuran. Kita tak mengerti, tapi Tuhan tidak tidur. Jadi, sekali lagi, jangan lebay, please!

ANDRIAS HAREFA, WTS adalah writer: 38 Best-selling Books; Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun, Pendiri www.pembelajar.com; Twitter @aharefa

Telah di baca sebanyak: 64

Resep Saya

“The illiterate of the 21st century will no be those who cannot read and write,but those who cannot learn, unlearn, and relearn.”
Alvin Toffler

“Pak Harefa, Anda berulang kali menawarkan resep sukses dari para pakar pengembangan diri. Tetapi saya belum pernah membaca pengakuan Anda mengenai resep sukses yang mana yang Anda yakini, yang Anda pergunakan untuk diri sendiri. Bolehkah saya tahu?” tanya seorang kawan pembaca setia kolom ini. Ia seorang manajer di sebuah perusahaan swasta terkemuka, yang menangani departemen sumberdaya manusia (saya lebih suka kalau departemen semacam ini diubah konsepnya menjadi departemen pengembangan harkat dan martabat manusia).

“Oh tentu saja boleh,” jawab saya nyaris spontan. “Resep sukses yang saya pergunakan dalam hidup saya adalah yang paling banyak diyakini manusia di muka bumi.”

“Apa itu, pak?” suaranya antusias.

“Ijinkan saya mengajukan tiga pertanyaan yang membantu Anda untuk mengingat kembali bahwa Anda pun meyakini resep sukses yang satu ini, karena memang terbukti sangat powerful,” kata saya berteka-teki.

“Mengapa banyak orangtua berjuang keras untuk menyekolahkan anak-anaknya?”

“Karena pendidikan itu penting.”

“Bagus. Lalu mengapa tiap negara memiliki Menteri Pendidikan (dan Kebudayaan)?”

“Ya, untuk membantu pimpinan pemerintahan mengurusi soal pendidikan yang penting itu,” suaranya mantap.

“Benar sekali. Dan mengapa sejumlah sarjana ngotot melanjutkan studi ke jenjang magister atau master, bahkan sampai ke tingkat doktoral; sementara sebagian sarjana yang lain rajin berburu program sertifikasi profesional?”

“Ya, saya kira, karena mereka ingin mengembangkan diri. Atau ingin meningkatkan kariernya, mengejar cita-cita sesuai dengan makna sukses bagi dirinya,” jawab kawan tersebut sambil mencoba menebak arah pemikiran saya.

“Benar. Semua jawaban Anda benar. Sebagian besar orang, sangat sadar bahwa jalan menuju kehidupan yang lebih baik itu adalah pendidikan dan pembelajaran. Itulah sebabnya banyak orangtua bekerja keras untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah terbaik. Mereka ingin anak-anaknya kelak berhasil menjadi orang sukses. Itulah sebabnya setiap negara menugaskan seorang menteri untuk membangun presiden atau perdana menteri mengurusi soal-soal pendidikan dan kebudayaan. Sebab tiap negara ingin menjadi negara yang maju dan berpengaruh di kancah internasional. Itulah pula sebabnya, sejumlah sarjana mengejar pendidikan yang lebih tinggi atau mengambil program sertifikasi. Jadi, pendidikan atau belajar telah dipahami hampir semua orang sebagai the master key to success,” tegas saya.

“Tapi pak, sejumlah tokoh yang saya kenal karena keberhasilannya, ternyata bukan sarjana. Bill Gates, Larry Allison, Michael Dell, dan yang membuat facebook, semuanya bukan sarjana. Anda juga pernah menulis sekitar 15 tokoh yang meraih keberhasilan tanpa pendidikan formal dalam buku Sukses Tanpa Gelar, termasuk Susi Pudjiastuti, Kusnadi, Steve Geppi, Andrie Wongso, dan sebagainya,” bantah kawan saya itu. Ia tak puas dengan jawaban yang baginya terlalu sederhana. Mungkin ia berpikir bahwa resep sukses itu mestinya harus “luar biasa”.

“Lho, tadi Anda bertanya mengenai resep sukses yang saya yakini. Yang saya yakini ya itu tadi. Untuk sukses itu orang perlu belajar. Itulah intinya. Itulah akar semua resep sukses lainnya. Artinya, dengan “belajar” semua kunci sukses yang lain akan berguna; namun jika “tidak belajar” maka kunci sukses dari mana pun tidak akan berguna sama sekali,” ujar saya mengingatkan. Kalau bertanya resep sukses yang saya yakini, mestinya saya boleh bicara sesuka saya, bukan?

Namun, sadar bahwa kawan saya itu merasa kurang puas, maka saya melanjutkan, “Kita perlu membedakan antara belajar dengan pendidikan formal. Tanpa pendidikan formal, tanpa sekolah sampai tingkat universitas, orang memang bisa berhasil. Namun itu karena ia menemukan cara belajar yang lain, cara belajar di luar sekolah, cara belajar di kehidupan nyata. Thomas Alva Edison hanya bersekolah formal 3 bulan. Namun ia belajar dengan sangat giat dan gigih dalam asuhan Nancy Elliot ibunya. Bill Gates, Larry Allison, Michael Dell, dan Mark Zuckerberg yang menciptakan facebook, memang bukan sarjana dalam arti tradisional. Tetapi saya kira tidak ada yang menganggap mereka sebagai orang yang tidak berpendidikan. Sebab pendidikan juga memiliki dimensi luar sekolah, luar universitas, yakni pembelajaran dalam konteks kehidupan nyata.

Kalau kita meminjam istilah-istilah konvensional seperti pendidikan, maka ada kategori pendidikan formal, yakni dunia persekolahan dan universitas; lalu ada pendidikan non-formal, yakni dunia kursus dan pelatihan; dan ada juga pendidikan informal, yakni lewat interaksi sosial di masyarakat. Mereka yang tidak punya kesempatan dalam pendidikan formal, jika kuat belajar lewat jalur non-formal dan informal, juga bisa berhasil seperti halnya tokoh-tokoh yang sukses tanpa gelar itu. Jalan keberhasilan tanpa gelar itu saya sebut jalan kreativitas. Sebab, hemat saya, kreativitaslah yang bisa mengalahkan pendidikan formal.
Lalu, kalau kita menggunakan istilah-istilah abad ke-21 seperti pembelajaran, maka kunci utama untuk sukses itu adalah learn, unlearn, dan relearn sebagaimana disebutkan futurolog kondang Alvin Toffler puluhan tahun silam,” begitu penjelasan saya panjang lebar.

“Maksudnya apa itu, pak? Apa bedanya learn, unlearn, dan relearn?” minat kawan saya muncul kembali. Wajahnya nanpak serius dan siap menerima kata-kata yang akan saya ucapkan.

“Sudah saya jelaskan dalam buku saya yang ke-37. Judulnya MINDSET THERAPY: Terapi Pola Pikir –— tentang Makna Learn, Unlearn, dan Relearn (Gramedia, 2010). Itulah yang saya sebut the master keys to success. Anda baca saja dulu, nanti kita diskusikan lagi ya,” saya menutup percakapan tersebut.

*) Andrias Harefa WTS. Penulis 38 Buku Best-Seller. Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 Tahun. Pendiri www.pembelajar.com. Profil lengkap bisa diakses di www.andriasharefa.com

Telah di baca sebanyak: 81

K+T=H

Paul G. Stoltz. Pernah dengar nama itu?
Adversity Quotient. Pernah dengar istilah itu?

Lalu, apa hubungan keduanya? Kalau Anda belum pernah mendengar atau membaca tentang keduanya, ijinkan saya beritahu. Adversity Quotient adalah judul buku yang ditulis oleh Paul G.Stoltz tahun 1997, sekitar dua tahun setelah dunia digoncangkan oleh publisitas Emotional Quotient-nya Daniel Goleman. Dan setelah itu, sejumlah penulis menawarkan berbagai jenis ”quotient” lainnya; dengan atau tanpa penelitian yang mendalam.

Apa terjemahan yang tepat untuk Adversity Quotient (AQ) ini? Kecerdasan mengatasi kesulitan, kecerdasan mengubah masalah menjadi berkah, dan kecerdasan adversitas adalah beberapa ”terjemahan” yang digunakan kawan-kawan di Indonesia. Adversity sendiri punya sinonim nasib buruk, kemalangan, kesulitan, masalah, dan sejenisnya. Jadi, upaya menerjemahkan kata itu cukup sah buat saya. Namun untuk kepentingan tulisan ini, mari kita gunakan saja singkatannya: AQ.

Salah satu tiang utama penopang teori AQ adalah asumsi bahwa ”kejadian atau peristiwa tidak penting, namun tanggapan atau respons terhadap kejadian akan menentukan masa depan”. Kejadian yang menimpa diri Anda tidak penting, tetapi bagaimana dan apa tanggapan Anda atau kejadian tersebut bersifat menentukan.

Contoh pertama: Atasan memarahi Anda karena laporan yang tidak akurat (kejadian). Lalu, Anda membenci dan menganggapnya kejam (tanggapan). Akibat atau hasilnya, hubungan Anda dengan atasan memburuk dan karier Anda terancam. Atau kejadian yang sama Anda tanggapi dengan melakukan instropeksi, berusaha memperbaiki kinerja, dan minta maaf atas ketidaktelitian Anda; maka, akibatnya hubungan Anda terperbaiki dan karier Anda tidak terancam.

Contoh kedua: Anda mendapatkan warisan dari orangtua sebesar lima miliar rupiah (kejadian). Lalu, Anda menggunakannya untuk membeli mobil mewah dan liburan keluar negeri—ke Amerika selama dua seminggu, ke Eropa selama dua minggu, dan ke Australia selama seminggu—sesuai dengan cita-cita yang sudah lama Anda impikan (tanggapan). Hasilnya, warisan Anda ludes dalam sekejap. Atau, warisan yang sama Anda gunakan untuk membeli reksadana saham sebagai persiapan pensiun senilai dua setengah miliar; satu setengah miliar berikutnya Anda tabung dalam bentuk reksadana campuran untuk dana pendidikan ke universitas untuk tiga anak Anda yang sekarang berangkat remaja; sepuluh persennya Anda sumbangkan untuk amal dan sedekah anak yatim; sepuluh persen yang terakhir Anda gunakan untuk renovasi rumah, deposito dana darurat, dan sebagainya. Hasilnya, anak-anak lebih terjamin pendidikannya dan Anda siap menjemput masa pensiun kelak dengan gembira.

Contoh ketiga: kekasih yang sangat Anda cintai, meninggalkan Anda untuk menikah dengan teman karib Anda (kejadian). Lalu, Anda merasa terhina, kemudian melabrak mereka berdua dan melukai wajah mereka berdua. Hasilnya, Anda ditangkap polisi dan diproses hukum hingga masuk penjara. Atau kejadian yang sama Anda tanggapi dengan bersyukur, menganggap bahwa mungkin itu juga berkah terselubung dari Tuhan. Anda bahkan datang ke perkawinan mereka dan mendoakan mereka dengan ikhlas agar menjadi pasangan yang berbahagia. Hasilnya, Anda tenang untuk melangkah dan mencari pasangan baru pengganti kekasih tersebut.

Dalam tiga contoh di atas ada rumus bakunya, yakni: Kejadian + Tanggapan = Hasil (K+T=H). Dan hasil dari proses percengkeramaan ”kejadian” dengan ”tanggapan” itu lebih banyak ditentukan oleh ”tanggapan” Anda atau ”kejadian”; bukan didikte oleh ”kejadian” itu sendiri. Anda bisa membuat atau mengolah setiap kejadian agar menjadi ”kutuk” atau menjadi ”berkah”; Anda bisa membuat peristiwa apapun menjadi pemicu untuk maju, atau penghancur semangat juang; Anda bisa membuat perlakuan-perlakuan orang yang tidak adil menjadi pemicu untuk bersikap adil, memperjuangkan keadilan, mengabdikan diri sebagai penegak hukum yang sungguh-sungguh, atau perlakuan yang tidak adil itu justru Anda ijinkan untuk menghancurkan motivasi untuk hidup dan berkarya.

Sungguh kita patut tak henti bersyukur bahwa Tuhan menciptakan kita semua (manusia) sebagai mahluk dengan kemampuan memberikan tanggapan-tanggapan secara kreatif. Output yang dihasilkan oleh manusia tidak selalu sama dengan input, karena kita bukan mesin produksi dipabrik sepatu. Kemalangan, dukacita, kesengsaraan, musibah, dan bencana, bisa kita tanggapi dengan konstruktif, beriman, berimajinasi, rekonstruksi memori, berpikir logis dan bertindak taktik, sehingga kemudian muncullah keriangan, suka cita, damai sejahtera, kebajikan, kearifan, dan sebagainya. Batas-batas kreativitas itu bahkan belum sepenuhnya bisa terpetakan oleh para periset dan cendikiawan yang pernah hidup sampai hari ini. Itu sebab berbagai kejadian yang paling buruk sekalipun bisa memunculkan inspirasi dan karya luar biasa dalam sejarah.

Apakah dengan memahami resep sukses bahwa K+T=H akan membuat Anda sukses? Itu saya tak berani jamin. Sebab bukan resep sukses ini yang penting; melainkan bagaimana sebuah resep sederhana macam begini Anda praktikkan gegap gempita dalam hidup, itulah yang paling menentukan. Dan kalau menggunakan cara berpikir AQ, maka resep sukses kali ini tidak lebih dari kejadian (K), sedangkan tanggapan (+T) Anda atas resep sukses inilah yang justru lebih menentukan hasilnya (=H).

Jadi, bagaimana tanggapan Anda kali ini?

*) Andrias Harefa WTS. Penulis 38 Buku Best-Seller. Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 Tahun. Pendiri www.pembelajar.com. Profil lengkap bisa diakses di www.andriasharefa.com

Telah di baca sebanyak: 42

Resep NH

Beberapa tahun belakangan ini buku-buku Napoleon Hill (1883-1970) diterbitkan ulang, termasuk oleh Gramedia Pustaka Utama, dan nangkring dirak-rak toko buku terkemuka negeri ini. Salah satu tokoh besar dalam sejarah gerakan pengembangan potensi manusia ini, terutama dikenal dari karya terbaiknya Think and Grow Rich, yang pertama kali terbit di Amerika tahun 1937. Setelah mengalami modifikasi tahun 1960, versi asli buku tersebut (dengan sedikit revisi) diterbitkan ulang oleh penerbit Ross Cornwell tahun 2004. Penjualannya di seluruh dunia disinyalir lebih dari 30 juta eksemplar. Dengan kata lain, inilah salah satu buku laris secara internasional yang masuk kategori resep sukses klasik.

Siapa saja yang mempelajari pikiran Hill dengan baik, pastilah tidak menemukan sesuatu yang baru dalam buku The Secret atau pun Law of Attraction, yang sempat bikin heboh beberapa waktu silam. The Secret-nya Rhonda Byrne hanya baru dalam aspek kemasan saja. Pesan yang sama disampaikan dalam format teks dan audio-visual yang menjadi ciri khas zaman digital kini. Dan yang juga baru adalah audiens pembacanya, yang sebagian besar memang tidak sempat menikmati karya-karya Napoleon Hill.

Disamping Think and Grow Rich, karya Hill yang juga banyak dikutip orang adalah Success Through a Positive Mental Attitude. Buku ini pertama kali terbit tahun 1960. Ada banyak versi bajakan yang beredar di Indonesia sejak tahun 80-an awal. Dan ada sejumlah pengikut fanatik Napoleon Hill di Indonesia, umumnya sekarang berusia lanjut dan sudah kurang dikenal.

Beberapa karya Hill yang lain, seperti The Magic Ladder to Success (1930), How to Sell Your Way through Life (1939), dan How to Raise Your Own Salary (1953), juga sempat diterjemahkan (tanpa ijin) oleh sejumlah penerbit kecil di Indonesia, tetapi agaknya tidak mendapatkan sambutan dari masyarakat. Kualitas cetak terjemah dan cetakan yang buruk boleh jadi ikut andil dalam kegagalan buku-buku tersebut di pasaran.

Dalam karya-karyanya itu, kalimat (baca: resep sukses) Hill yang paling dikenal antara lain “What the mind of man can conceive and believe, it can achieve”. Secara bebas, kalimat yang menjadi penanda ajaran Hill itu dalam diterjemahkan menjadi ”Anda bisa menjadi apapun yang anda inginkan, jika saja keyakinan anda cukup besar dan tindakan anda selaras dengan keyakinan anda; sebab apapun yang bisa diciptakan dan diyakini pikiran, bisa dibuat menjadi kenyataan.”

Patut diduga bahwa Stephen R. Covey, yang menjadi terkenal lewat buku The 7 Habist of Highly Effective People (1989), dipengaruhi juga oleh pemikiran Hill. Ketika ia mengatakan bahwa “segala sesuatu diciptakan dua kali, pertama dalam pikiran, dan kemudian dalam dunia nyata”, maka tak pelak lagi kalimat itu bisa dirujuk ke “kalimat saktinya” Napoleon Hill. Walaupun harus dicatat, bahwa Covey justru mengkritik habis pendekatan PMA (Positive Mental Attitude) dalam meraih sukses. PMA dianggap Covey sebagai personality ethic yang hanya berusaha menciptakan kesan positif artifisial (semu) saja. Sebagai gantinya, Covey menawarkan pendekatan yang lebih fundamental, yakni pergeseran paradigma (paradigm shift) untuk merengkuh sukses sejati melalui pendekatan character ethic, membangun kebiasaan dan watak yang mulia.

Bagaimanapun kritik terhadap Hill, tidak diragukan lagi bahwa ia adalah tokoh yang berhasil pada zamannya. Menurut sejumlah sumber, Hill pernah menjadi penasihat Presiden Franklin Delano Roosevelt di tahun 1933-1936, sebelum karya terbaiknya, Think and Grow Rich, terbit. Untuk hal tersebut ia tidak menerima bayaran satu sen pun.

Kembali ke ajaran Hill, kalau disimak, apa yang ditawarkan dalam “kalimat saktinya” di atas terdiri dari tiga komponen. Pertama, komponen “apa yang bisa disusun oleh pikiran manusia”; kedua, “komponen keyakinan yang dibangun berdasarkan pikiran tersebut”; dan ketiga, komponen “bisa dicapai”.

Dengan perkataan lain, ketika Anda ingin menggunakan resep klasik ini, berlatihlah untuk bisa menyusun di kepala Anda suatu konstruksi positif mengenai diri Anda. Bisakah Anda melihat diri Anda menjadi pimpinan cabang; menjadi general manajer; menjadi direktur; menjadi entrepreneur sukses; menjadi miliarder; menjadi politisi ulung; menjadi selebritas; menjadi menteri; atau menjadi “apapun” yang Anda ingin? Kalau bisa, maka Anda sudah memenuhi sepertiga syarat untuk meraih sukses. Kalau tak bisa, tandanya Anda susah sukses (menurut Hill lho).

Langkah berikutnya adalah “meyakini” hal itu. Ini terkait dengan sikap hidup dan perilaku (tindakan dan perkataan) sehari-hari. Kalau Anda ingin jadi miliarder, bersikap dan berperilakulah seperti miliarder; kalau Anda ingin jadi entrepreneur, bersikap dan berperilakulah seperti entrepreneur; kalau Anda ingin menjadi selebritas, bersikap dan berperilakulah seperti selebritas; kalau Anda ingin menjadi “apapun”, bersikap dan berperilakulah seperti “apapun”. Apakah Anda bisa membangun keyakinan yang kuat sampai keyakinan itu nampak ke permukaan dalam bentuk sikap dan perilaku (tindakan dan kata-kata) Anda? Kalau bisa, maka dua pertiga syarat sukses sudah Anda penuhi. Kalau tak bisa, itu pertanda Anda makin sulit meraih keberhasilan.

Terakhir, komponen ”bisa dicapai”. Tes mengenai hal ini menggunakan perasaan. Apakah Anda bisa ”merasa nyaman” ketika memikirkan apa yang ingin Anda capai? Apakah Anda bisa ”merasa enak” jika bertindak dan berkata-kata seperti yang Anda inginkan? Apakah Anda ”merasa menjadi manusia yang lebih baik” dengan meraih apa yang Anda inginkan dan cita-citakan itu? Kalau jawabannya ”Ya”, maka sempurnalah jalan kesuksesan Anda. Kalau tidak, ya sudah, kembali lagi ke komponen pertama; buat lagi konstruksi pikiran yang lebih cocok dengan potensi diri Anda sendiri.

Nah, Anda siap mencoba resep NH ini?

*) Andrias Harefa WTS. Penulis 38 Buku Best-Seller. Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 Tahun. Pendiri www.pembelajar.com. Profil lengkap bisa diakses di www.andriasharefa.com

Telah di baca sebanyak: 13

DBLA

Dream big, berpikir besar. Itulah ramuan klasik warisan tokoh-tokoh kaliber dunia. Karena hidup hanya sekali, bermimpilah yang besar. Gantungkanlah cita-citanya setinggi bintang di langit. Kalau pada zaman baheula anak-anak Indonesia yang bermimpi besar menyusun cita-cita menjadi dokter atau insinyur, maka di zaman sekarang mestinya impian anak-anak itu jauh lebih maju.

Misalnya, menjadi dokter yang punya rumah sakit di seluruh ibu kota propinsi. Atau menjadi insinyur yang membangun jembatan Jawa-Sumatera sekaligus pemilik tambang-tambang emas, tembaga, batubara dan sebagainya, yang sekarang masih banyak dikuasai orang asing. Atau menjadi penemu sistem pemberantasan korupsi yang efektif menciptakan budaya kerja baru dalam kurun waktu satu dekade. Menjadi penemu sistem pendidikan nasional yang bebas gangguan kepentingan politik sesaat juga sebuah impian besar yang perlu digagas anak-anak muda negeri ini. Atau menemukan cara cerdas untuk memberantas tuntas makelar kasus bidang hukum yang telah lama menganiaya rasa keadilan masyarakat sampai babak belur tak karuan hari-hari ini.

Dream big, berpikir besar. Itu anjuran yang sangat masuk akal. Sebab, otak kita harus digunakan untuk berpikir, dan berpikir kecil atau berpikir besar toh keduanya memanfaatkan otak yang sama. Jadi, mengapa ragu memilih untuk berpikir besar?

Masalahnya, kalau anjuran berpikir besar ini terus menerus dikumandangkan, maka pertanyaannya apakah persoalan ini begitu sulit dilakukan hingga dari zaman ke zaman ada saja sekelompok orang yang diuntungkan hanya dengan menjual, berceramah, dan berseminar soal konsep berpikir dan bermimpi besar?

Ternyata benar. Ya, benar. Berpikir besar itu sulit karena kita hidup dalam lingkungan dimana banyak orang tidak melakukannya. Lihat orangtua kita. Pikiran besar macam apa yang dicontohkannya? Lihat pengajar di sekolah kita. Mimpi besar apa yang diteladankannya? Lihat rohaniawan dan ulama di sekitar kita, iman besar macam apa yang hidup dalam diri mereka? Lihat tetangga kiri dan kanan. Lihat kawan-kawan sepergaulan. Lihat isi media cetak dan tayangan media elektronik yang setiap hari mengepung kita. Lihat apa yang ditawarkan oleh content provider dari berbagai program telepon seluler, internet, dan sebagainya. Bagaimana? Apakah kita banyak menemukan orang-orang yang berpikir besar, yang punya cita-cita dan ambisi besar, yang hidupnya didedikasikan untuk merealisasikan sesuatu yang besar? Apakah kita mudah menemukan tayangan dan berita media yang berbicara tentang visi besar, atau lebih sering menampilkan keributan dan silang pendapat dari otak-otak kecil dengan bahasa-bahasa primitif yang menghina akal sehat?

Dream big, berpikir besar. Hal ini juga sulit kalau kita tidak membangun keyakinan, tidak menumbuhkan believe di wilayah subconscious level (pikiran bawah sadar). Bagaimana kita bisa memikirkan hal yang besar kalau kita tidak bisa meyakini bahwa hal itu mungkin dicapai dengan usaha yang gigih. Berpikir besar akan jadi persoalan jika gudang memori dan keyakinan kita telah dipenuhi oleh program-program pikiran yang cetek, dangkal, bahkan negatif, hasil dari “indoktrinasi” orangtua, pengajar, dan lingkungan yang membesarkan kita. Berpikir besar memerlukan energi ekstra luar biasa, kalau para pemimpin di lembaga eksekutif, yudikatif, dan legislatif memberikan contoh-contoh yang tak senonoh dengan saling menggerogoti satu sama lain.

Dream big, berpikir besar. Bagaimana pun sulitnya, kebiasaan berpikir besar tetap bisa dibangun ulang—dalam usia berapa pun dan kondisi bagaimana pun—kalau kita menggunakan kemampuan manusiawi kita, yakni kebebasan memilih dan kecerdasan untuk belajar kembali (re-learning). Ya, belajar kembali. Selalu ada harapan bagi siapa saja yang percaya pada kekuatan pembelajaran. Sebab hakikat pembelajaran adalah mind programming, pemograman pikiran sadar maupun bawah sadar. Dan bila kita telah paham bahwa program masa silam itu keliru, maka yang perlu dilakukan adalah belajar kembali, melakukan re-programming pikiran, termasuk dan terutama pada subconscious level (yang memang tidak bisa cepat).

Lalu, apa tanda bahwa proses re-learning alias re-programming itu sudah berhasil kita lakukan? Mungkin ini, kita menjadi bersemangat untuk berpikir besar; kita menjadi yakin bahwa selalu ada harapan untuk meningkatkan kualitas hidup; kita percaya bahwa ada peluang bagi Indonesia untuk bangkit dalam jangka menengah dan panjang; dan kita melihat tindakan-tindakan praktis yang perlu dilakukan untuk memulai; kita sadar kita bisa memulai segala sesuatunya dari yang kecil, yang biasa, tetapi bertekad bulat melakukannya sampai berhasil, sampai bisa, sampai titik darah penghabisan; kita menjadi berani melakukan apapun yang diperlukan walau tanpa pemberitaan media, tanpa puji dan puja, karena kita berharap terutama pada Yang Maha Kuasa saja.

Jadi, resep sukses kali ini bertumpu pada empat kata kunci: Dream big (berpikir besar), Believe (bangun keyakinan, perasaan), Learning (kehendak untuk melakukan re-programming), dan Action (bertindak selaras, mulai dari yang kecil). Kalau disingkat jadi DBLA seperti judul di atas. Silahkan dicoba dan kalau sukses berlanjut, berbagilah kepada sesama. Mantap!

*) Andrias Harefa WTS. Penulis 38 Buku Best-Seller. Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 Tahun. Pendiri www.pembelajar.com. Profil lengkap bisa diakses di www.andriasharefa.com

Telah di baca sebanyak: 8

Katro


Terlahir dalam keluarga pas-pasan dan cenderung miskin, DNA sukses orang yang satu ini nampaknya terselip dalam citra yang ditangkap oleh kawan-kawan semasa ia duduk di SD Purwogondo 2, Purwosari. Bakat dan talenta untuk sukses itu diwakili dengan kata-kata: usil, jahil, iseng, alias nyelelek, dan tak pernah bisa diam. Melanjutkan sekolah ke SMP Muhammadiyah Indraprasta, pendidikan formalnya berakhir di SMA Ibu Kartini, Jalan Sultan Agung, Semarang.

Lulus SMA tahun 1983, perjalanan hidupnya berputar di antara menganggur, jadi kernet angkot, dan jadi supir truk elpiji di Tanah Mas, Semarang.

Berbekal uang transport Rp 30.000,- dari Joko Dewo, temannya yang sudah lebih dulu merantau ke ibukota, wong ndeso yang satu ini mengadu nasib ke Jakarta tahun 1985. Dengan logat Jawa yang medhok, dan bahasa Indonesia yang belepotan, ia berjuang menafkahi hidupnya. Berulang kali bolak-balik Jakarta-Semarang dan bolak balik pula ia menjalani peran sebagai supir, tukang gali sumur pompa, MC hajatan tingkat kampung, dan berbagai kegiatan sekadar untuk menyambung hidup sampai tahun 1992. Setelah itu, ia naik pangkat sebagai supir pribadi Alex Sukamto, kemudian bekerja untuk orang Jepang, sampai 1995.

Ia mulai dikenal agak luas sejak menemani penyanyi cilik Joshua dalam video klip Air, yang lebih diingat sebagai album Diobok-obok. Bergaul karib dengan kawan-kawan di Radio SK (radio yang melahirkan Bagito, Taufik Savalas, Ulfa Dwijayanti, Komeng, dsb) dan berulang kali tampil bersama Srimulat, namanya melambung sebagai pembawa acara Empat Mata tahun 2007 (belakangan dimodifikasi jadi Bukan Empat Mata). Jadilah ia selebritas berpenghasilan miliaran rupiah per tahun. Wajahnya muncul di televisi lima hari seminggu bahkan kadang lebih. Impiannya telah menjadi kenyataan.

Ira Lathief dalam buku Tukul Arwana: Kumis Lele Rezeki Arwana, merangkum kisah hidup Wong Ndeso, Katro, dan Kutukupret sukses ini dengan menarik. Siapa saja yang haus resep sukses dapat menggali inspirasi dari Tukul.

Pertama, Tukul hidup dengan ambisi tunggal: menjadi pelawak terkenal yang masuk televisi. Ambisi itu sudah dipupuk sejak mengikuti berbagai lomba lawak tingkat kampung, kabupaten, hingga propinsi, diusia sekolah menengah. Ia dan teman-temannya sering juara, mesti hal itu tidak kunjung membuatnya mendapatkan nafkah yang layak. Hebatnya, ia bisa terus memelihara dan menumbuhkan ambisi itu sampai lebih dari 20 tahun. Segala macam pekerjaan yang dilakukannya untuk bertahan hidup, tidak membuat ambisinya surut. Penderitaan hidup tidak berhasil “membunuh” ambisi tunggal tersebut. Ada persistensi, ketekunan, dalam berusaha, yang sering disebutnya sebagai “kristalisasi keringat”.

Kedua, Tukul belajar bergaul dan mau menerima masukan dari berbagai orang yang ditemuinya. Dengan cara itu ia menjadi mudah diarahkan. Rammon Tommibens, yang bersama Harry De Fretes pernah memberinya tempat untuk tampil di Comedy Cafe, mendorong ia untuk membaca buku. Pergaulan dengan Rammon menyadarkan Tukul bahwa “Orang miskin harus merevolusi dirinya untuk maju. Kalau mau maju harus baca buku. Banyak baca buku akan mengubah nasib.” Dan begitu giatnya Tukul membaca, khususnya buku-buku yang terkait kepribadian orang berdasarkan tanggal lahir, shio, primbon, dan sebagainya, ia kemudian bisa bergaya seperti peramal sifat dan kepribadian orang. Pengetahuan ini memudahkan ia masuk ke lapisan orang-orang yang memang suka “ditebak” kepribadiannya.

Ketiga, Tukul diakui teman-temannya memiliki disiplin yang mengagumkan sebagai pelawak. Jika pentas Srimulat di mulai pukul 9, maka pukul 8 ia sudah ada di lokasi. Hal ini juga menunjukkan adanya antusiasme yang luar biasa dalam dirinya untuk menghibur orang, menyenangkan audiensnya. Dalam soal ini Tukul lebih mirip militer ketimbang seniman. Ia punya disiplin.

Keempat, Tukul membuat dirinya mudah dihubungi. Justru karena dirinya belum terkenal, maka ia merasa perlu membuat kartu nama agar bisa dihubungi orang. Hal ini bukan sesuatu yang galib untuk pelawak tahun 80-90an.

Kelima, Tukul membangun brand dan keunikan dirinya dengan berbagai cara. Mulai dari “Kembali ke laptop”, “Puas, puas, puas!”, “Tak sobek-sobek mulutmu!”, berbahasa Inggris dengan sok-sokan, menyebut dirinya sebagai Cover Boy dengan nama Reynaldi, sampai tepuk tangan gaya monyet dan memanyunkan bibir atau menyisir rambut dengan jari-jarinya. Ini membuatnya menjadi khas, walau tidak semua hal itu orisinal tetapi modifikasi dari apa-apa yang semula ditirunya dari orang lain. Namanya pun berulang kali dimodifikasi dari Tukul Kelawu Kethek, Tukul Piranha, Tukul Julung-julung, Tukul Mujair, Tukul Sapu-sapu, sebelum akhirnya Tony Rastafara, menyarankannya menggunakan Tukul Arwana sebagai nama panggung.

Keenam, Tukul juga dikenal sebagai orang yang murah hati dan berusaha untuk tidak melupakan asal usulnya. Ia punya rumah yang difungsiikan sebagai Posko Ojolali, tempat teman-temannya ditampung dan sekaligus tempat evaluasi penampilannya. Dalam berbagai kesempatan syuting, ia melibatkan 20-an kawan-kawannya agar ada semacam distribusi rezeki. Dan itu sudah dilakukannya sejak masih susah dulu. Jika dapat kesempatan manggung dan dapat honor, ia suka mentraktir teman-temannya.

Ketujuh, Tukul berusaha mengenal audiensnya, menghargai dan melibatkan mereka. Menyanyi, main gitar, dan berbagai hal dilakukan Tukul untuk membuat audiensnya senang. Bahkan, menurut Tarzan, Tukul adalah orang pertama yang pernah mengusulkan agar Srimulat mengumpulkan penonton berbayar untuk menjaga pamor.

Terakhir, Tukul juga dikenal sederhana. Ia tidak punya kartu kredit. Makanan favoritnya adalah oseng-oseng kangkung, telur mata sapi, dan sambal petai. Ia tetap gagap teknologi, walau waktu kerja “dipaksa” menggunalkan laptop.

Jika Tukul punya DNA sukses, siapa yang tidak?

*) Tulisan ini juga di muat di Majalah Anda Luar Biasa
*) Andrias Harefa, mindset therapist, penulis 38 buku best-seller; trainer/speaker coach berpengalaman 20 tahun; pendiri www.pembelajar.com

Telah di baca sebanyak: 16

Membangun Spirit Keberhasilan

Di sekolah kehidupan kita menyaksikan bahwa setiap manusia di dorong oleh suatu keinginan untuk maju, untuk bertumbuh, untuk berkembang, untuk meraih apa yang dipahaminya sebagai kesempurnaan atau kesuksesan hidup. Dorongan untuk mencapai kesempurnaan atau kesuksesan hidup itu saya sebut sebagai spirit keberhasilan [the spirit of success], karena hemat saya dorongan tersebut bersifat spiritual. Dan spirit keberhasilan itu ada dalam diri setiap anak manusia sebagai pertanda bahwa ia adalah mahluk spiritual, disamping tentu saja mahluk bio-sosio-psikologis.

Spirit keberhasilan ini sangat jelas terlihat dalam diri anak-anak batita-balita. Hampir tanpa pengecualian, anak-anak batita-balita bicara tentang keinginannya, tentang cita-citanya, tentang masa depannya. Dan hampir tanpa mempertimbangkan latar belakang sosial ekonomi orangtuanya, anak-anak itu berbicara tentang hal-hal yang “besar”. Ada yang ingin jadi pilot, ada yang ingin jadi penyanyi terkenal, ada yang ingin jadi dokter, ada yang ingin jadi pengusaha kaya, ada yang ingin jadi insinyur, ada yang ingin jadi menteri, bahkan jadi presiden, dan sebagainya. Mereka ingin punya pakaian bagus, mainan yang banyak, rumah yang besar seperti istana, mobil yang serba bisa, bahkan pesawat udara, dan seterusnya. Mereka ingin menikah dengan puteri cantik atau pangeran tampan dari negeri seberang. Mereka berjanji akan membelikan orangtuanya sejumlah hal yang belum pernah dimiliki orangtuanya. Pergi ke bulan atau memetik bintang-bintang adalah soal-soal yang mereka anggap akan mampu mereka lakukan kelak, suatu hari nanti. Singkatnya, spirit keberhasilan telah mengembangkan daya imajinasi anak-anak batita-balita sampai pada tingkat yang amat mempesona.

Masalahnya kemudian, spirit keberhasilan ini perlahan-lahan meredup dalam diri sebagian besar anak-anak yang beranjak remaja dan menjadi manusia dewasa. Mereka mulai menghadapi berbagai masalah dan kesulitan untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Lingkungan di mana anak-anak itu dibesarkan, seolah-olah mengajarkan mereka untuk sekadar menyesuaikan diri dengan situasi yang ada, dan bukannya untuk berjuang mengaktualisasikan segenap potensi diri guna mengubah situasi yang ada agar menjadi lebih baik. Sedikitnya dukungan dari lingkungan hidup di sekitarnya, termasuk dan terutama orangtua dan pengajar di sekolah, telah membuat banyak anak-anak usia sekolah dasar belajar untuk merasa tak berdaya, tak yakin akan kemampuannya, dan tak boleh berpikir tentang sesuatu yang besar lagi. Perlahan tapi pasti, anak-anak yang merasa tak berdaya dan tak punya keyakinan diri itu mulai membuang jauh-jauh pikiran-pikiran besar dan cita-cita terbaiknya. Dan jika perasaan tak berdaya ini berkembang terus, maka pada gilirannya ia akan melahirkan orang-orang yang pesimis memandang masa depannya.

Untunglah tidak semua anak-anak kemudian kehilangan spirit keberhasilannya. Sebagian anak-anak, terutama yang terlatih dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup di usia pra-remaja, tumbuh dan berkembang dengan cita-cita besar yang membara untuk mengubah situasi dan kondisi hidupnya. Mereka terus mencari cara untuk mencapai yang terbaik. Mereka—dan orang-orang yang mendampingi mereka—percaya bahwa keberhasilan hanya akan diraih oleh orang-orang yang berani menetapkan tujuan-tujuannya dan kemudian bekerja keras terus menerus sampai mereka mencapainya. Mereka meninjau kemajuannya pada setiap langkah, dan merayakan keberhasilan pada tahap-tahap tertentu. Untuk tujuan-tujuan yang belum tercapai, mereka menarik pelajaran dari seluruh proses yang telah dilalui, dan mencari cara lain untuk kembali memulai usaha ke arah itu. Mereka merasa yakin akan kemampuan mereka, dan keyakinan itu melahirkan gagasan-gagasan baru, gagasan-gagasan yang lebih besar, gagasan-gagasan yang membuat mereka bergairah dalam setiap langkah mereka. Mereka selalu melihat adanya harapan, dan karena itu mereka berkembang menjadi orang-orang yang optimis dalam menyongsong masa depan.

Jika setiap anak manusia yang dilahirkan di muka bumi ini memiliki spirit keberhasilan di dalam dirinya, lalu bagaimana kita menjelaskan kenyataan di atas? Mengapa sejumlah masalah, kesulitan, dan tantangan hidup membuat anak-anak tertentu bertumbuh menjadi orang-orang yang pesimis, sementara anak-anak yang lainnya berkembang menjadi pribadi-pribadi yang optimis dalam memandang masa depan mereka? Mengapa, ketika diperhadapkan pada masalah yang sama, kesulitan yang sama, tantangan yang sama, sejumlah orang bisa memberikan respons yang berbeda-beda? Manakah yang membuat seseorang itu bisa menjadi pesimis atau optimis, tingkat kesulitan yang dihadapinya ATAU cara ia merespons kesulitan-kesulitan tersebut?

Terhadap pertanyaan-pertanyaan semacam itu, Carol Dweck, peneliti dari University of Illinois menunjukkan bahwa anak-anak yang menganggap kesulitan sebagai sesuatu yang bersifat tetap [berkata pada dirinya “Saya bodoh”] belajar lebih sedikit dibanding dengan anak-anak yang menganggap penyebab-penyebab kesulitan sebagai hal yang sifatnya sementara [”Saya tidak mencoba dengan sungguh-sungguh”]. Anak-anak yang merasa tidak berdaya memusatkan perhatian pada penyebab kegagalan—umumnya diri mereka sendiri—, sedangkan anak-anak yang berorientasi pada penguasaan materi memusatkan perhatiannya pada cara-cara untuk memperbaiki kegagalan. Anak-anak yang merasa tak berdaya, menghubungkan kegagalannya dengan kurangnya kemampuan [bersifat tetap], sementara rekan-rekan mereka mengaitkan kegagalannya dengan kurangnya usaha untuk itu [bersifat sementara].

Sejalan dengan penelitian Dweck, Martin Seligman dari University of Pennsylvania dan sejumlah peneliti lain di bidang psikologi kognitif dan pengembangan emosional, menegaskan bahwa yang menentukan pesimis atau optimisnya seseorang adalah pola respons-nya terhadap suatu keadaan yang dianggap sebagai kesulitan/masalah. Pola respons menunjukkan pada perilaku yang sudah menjadi kebiasaan sebagai hasil pembelajaran dalam waktu tertentu. Mereka yang menganggap kesulitan sebagai sesuatu yang bersifat permanen [”Ini tidak akan pernah berubah”], meluas [”Ini akan menghancurkan segala-galanya”], dan pribadi [”Ini semua kesalahan saya”], menunjukkan pola respons yang pesimis. Mereka yang merespons kesulitan/masalah sebagai sesuatu yang bersifat sementara [”Ini akan berlalu/bisa diatasi”], terbatas [”Ini hanya dalam soal yang satu ini saja”], dan eksternal [”Ada sejumlah faktor yang menyebabkan hal ini”], menunjukkan respons yang optimis.

Lebih jauh, studi Seligman dan kawan-kawan menunjukkan bahwa mereka yang memiliki pola respons pesimis hampir selalu dikalahkan oleh mereka yang memiliki pola respons optimis. Agen asuransi yang optimis menjual lebih banyak polis dibanding agen-agen yang pesimis, sekalipun mereka sebenarnya memiliki potensi-potensi yang relatif setara bagusnya. Agen properti yang optimis menjual 250-320 persen lebih banyak dari agen properti yang pesimis. Studi-studi lanjutan menunjukan konsistensi hal tersebut. Pelajar yang optimis mengungguli pelajar yang pesimis. Manajer yang optimis mengungguli manajer yang pesimis. Para kadet di West Point yang optimis mengungguli kadet-kadet yang pesimis. Tim-tim olahraga yang optimis menggungguli tim-tim olahraga yang pesimis. Rakyat cenderung memilih pemimpin yang menunjukkan optimisme ketimbang pesimisme. Bahkan terbukti pula bahwa mereka yang merespons kesulitan secara optimis memiliki usia hidup lebih panjang daripada mereka yang merespons secara pesimis.

Apa yang paling menarik dari studi-studi Seligman dan kawan-kawannya adalah bahwa rasa tak berdaya adalah hasil pembelajaran. Sebaliknya rasa percaya diri, percaya pada kemampuan untuk mengubah atau mengendalikan suatu keadaan, juga merupakan hasil pembelajaran. Cara seseorang menjelaskan suatu peristiwa kepada dirinya [self talk], atau cara seseorang merespons suatu peristiwa yang menimpa dirinya, entah itu respons yang pesimis atau pun respons yang optimis, adalah hasil pembelajaran pula. Artinya, karena semua itu merupakan pola respons yang dibiasakan lewat proses pembelajaran, maka ia bisa dihentikan dan diubah. Mereka yang sering merasa tak berdaya bisa mulai belajar untuk merasa berkemampuan. Mereka yang selama ini terbiasa memberikan respons yang pesimis, bisa mulai belajar untuk memberikan respons yang optimis. Sebab apa saja yang diperoleh dari hasil pembelajaran bisa dihentikan dan diubah [unlearning], jika ia tidak mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi kehidupan kita.

Sesungguhnya, rasa tak berdaya dan respons pesimis bukanlah faktor nasib, bukan faktor yang kita warisi secara genetika dari orangtua dan nenek moyang, bukan faktor permanen seperti sifat dasar [traits] yang tak bisa diubah. Demikian juga rasa berkemampuan, percaya diri, dan respons optimis bukanlah faktor keberuntungan, melainkan hasil pembiasaan yang bisa mulai kita pelajari tahap demi tahap. Dan belajar untuk percaya pada kemampuan diri, belajar untuk memberikan respons yang optimis terhadap kesulitan-kesulitan dalam hidup, adalah pelajaran yang penting dan semakin penting dalam konteks kehidupan masyarakat dewasa ini. Bukan saja karena kehidupan masyarakat dewasa ini memperhadapkan kita pada kesulitan-kesulitan yang makin berat dan kompleks, tetapi terlebih lagi karena hanya dengan rasa berdaya dan optimis kita bisa tetap menumbuhkan spirit keberhasilan dalam diri kita masing-masing. Rasa tak berdaya dan pola respons yang pesimis akan menganiaya spirit keberhasilan yang merupakan karunia ilahi dalam diri setiap kita. Dan jika spirit keberhasilan ini terus teraniaya, maka kita akan menjalani hidup yang jauh dari potensi diri kita yang sesungguhnya. Hal yang terakhir ini harus mati-matian kita hindari, bukan?

Tabik Mahardika!

*) Tulisan ini adalah satu bab dari 29 bab dalam buku best-seller “Mindset Therapy (Gramedia, 2010)”, karya ke-37 Andrias Harefa
*) Andrias Harefa, mindset therapist, penulis 38 buku best-seller; trainer/speaker coach berpengalaman 20 tahun; pendiri www.pembelajar.com

Telah di baca sebanyak: 39

Bodoh


Sebuah cerita menelusup masuk ke BBM (Blackberry Mesenger) saya. Cerita lama yang berulang kali saya peroleh dari sejumlah kawan. Namun, ini kali ingin saya olah menjadi tulisan.

Disebutkan, seorang pria Tionghoa pergi ke suatu bank di New York City dan berniat
untuk meminjam uang sebesar US$ 5.000. Uang itu akan digunakan untuk perjalanan bisnis ke China selama dua minggu.

Bankir yang melayani pria tersebut mengatakan bahwa bank membutuhkan suatu jaminan untuk pinjaman tersebut. Pria Tionghoa itu setuju. Ia menawarkan mobil Ferrari baru yang diparkir di depan bank sebagai jaminan atas pinjamannya.

Bankir setuju menggunakannya sebagai jaminan. Setelah pria Tionghoa tersebut pergi, sang bankir dan pegawai-pegawai bank tersebut menertawainya. Mereka menganggap pria Tionghoa itu bodoh. Siapa yang tidak bodoh, jika menggunakan mobil Ferrari baru seharga US$ 250.000 sebagai jaminan terhadap pinjaman sebesar US$ 5.000 saja.

Seorang petugas kemudian memarkir mobil Ferrari tersebut ke dalam underground garage milik bank tersebut. Dua minggu kemudian, pria Tionghoa tersebut kembali. Segera ia membayar utang sebesar US$ 5.000 ditambah bunganya sebesar US$ 15.41.

Pegawai bank berkata, “Tuan, kami sangat senang bisa berbisnis dengan anda, dan transaksi ini berjalan dengan lancar. Tetapi terus terang saja, kami sedikit bingung. Ketika Anda pergi, kami mengecek informasi tentang Anda dan mengetahui bahwa anda adalah seorang miliarder. Mengapa Anda repot-repot meminjam uang sebesar US$ 5.000?”

Si pria Tionghoa membalas sambil tersenyum, lalu berkata “Dimana lagi tempat di New York City yang bisa digunakan untuk memarkir mobil saya dengan aman hanya dengan harga $15.41, selama dua minggu?”

Ceritanya berhenti sampai disitu. Lalu apa maknanya?

Setiap orang yang membaca cerita itu dapat beropini, dapat memberikan makna menurut selera, wawasan dan kaca matanya masing-masing.

Kawan saya, Her Suharyanto, misalnya. Trainer penulisan dan ghost writer jagoan pemilik situs jurutulis.com itu, memberi respons singkat “Pantesan kaya…” Ia mengangap pria Tionghoa itu menjadi kaya karena cara berpikirnya yang luar biasa itu. Sementara para bankir yang melayaninya terjebak dalam kotak pikiran standar sebagai orang bank. Mereka tidak menghitung biaya penitipan barang jaminan, tetapi hanya menghitung bunga pinjaman menurut standar konvensional.

Saya sendiri meletakkan cerita tersebut dalam konteks resep sukses. Jika pria Tionghoa itu mewakili figur orang sukses, maka salah satu resepnya adalah kemampuan untuk menerima diri dianggap “bodoh” (oleh para bankir) ketika justru sedang melakukan sesuatu yang pintar.

Saya perlu mengaku dengan jujur bahwa saya sendiri sangat tidak suka dianggap bodoh. Saya suka menampilkan diri sebagai orang yang pintar, bahkan sering sok pintar. Kalau tidak pintar, mana mungkin saya berhasil menulis 38 buku yang mayoritas best-seller, bukan? Kalau tidak pintar, mana mungkin saya bisa bertahan dalam profesi sebagai trainer dan pembicara motivasi selama 20 tahun terakhir, bukan? Kalau tidak pintar, mana mungkin saya memenangkan kontrak memberikan pelatihan selling skill di jaringan dealer mobil Toyota seluruh Indonesia sepanjang 1993-1997, bukan? Kalau tidak pintar, mana mungkin saya memberikan pelatihan kepemimpinan dan manajemen terapan kepada ribuan supervisor dan manajer di PT Charoen Pokhpand (2003-2005), ribuan lagi di Bank OCBC NISP (2005-2007), bukan? Kalau tidak pintar, mana mungkin saya berkesempatan memberikan sesi-sesi motivasi kepada hampir semua pekerja di perusahaan alat berat terkemuka seperti PT United Tractors (sejak 1992 sampai sekarang), bukan? Kalau tidak pintar, mana mungkin saya dipercaya melatih para internal trainer di berbagai perusahaan terkemuka; mendampingi ratusan orang belajar menulis lebih baik dan menuntaskan citacita mereka untuk menulis buku-buku populer; dan seterusnya.

Tetapi sesungguhnya di situlah kebodohan saya. Saya sering tidak mampu melihat peluang dan kesempatan di luar kotak berpikir sebagai trainer atau sebagai penulis. Saya terpenjara oleh sistem berpikir yang telah saya bangun bertahun-tahun, sehingga mudah menganggap orang lain yang berpikir di luar cara tersebut sebagai orang bodoh. Saya tak ubahnya seperti para bankir yang dengan gembira meminjamkan uang US$ 5.000 kepada seorang pria yang cukup “bodoh” untuk menjaminkan sebuah Ferrari baru.

Pada hal, andai saya bersedia untuk lebih membuka pikiran, mau menantang diri untuk thinking outside the box, maka boleh jadi saya bisa memasuki berbagai situasi lain diluar pekerjaan sebagai trainerpreneur dan writerpreneur yang sudah saya kembangkan selama ini.

Jadi, resep sukses kali ini adalah anjuran “jangan sok pintar, tetapi tetaplah merasa bodoh, dan bertanyalah untuk dapat memahami pola pikir orang lain yang Anda anggap lebih sukses dan lebih bahagia dari Anda”. Merasa bodoh itu penting, sepanjang hal itu mendorong kita untuk maju.

Bukan begitu?

*) Andrias Harefa; Penulis 38 Buku Best-Seller, Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 Tahun, Pendiri www.pembelajar.com

Telah di baca sebanyak: 18

Pelajaran Bersyukur

Pelajaran bersyukur adalah pelajaran pertama yang saya anggap penting dalam setumpuk mata pelajaran di sekolah kehidupan Indonesia. Dalam “mata pelajaran” yang satu ini, guru saya yang pertama dan terutama adalah almarhumah ibu saya sendiri. Ia mengajarkan kepada saya agar mendisiplin diri untuk belajar bersyukur dalam segala situasi, baik di kala suka maupun di kala duka.

Bersyukur di kala suka, yakni saat hidup berjalan sebagaimana saya harapkan, tidaklah sulit. Saya dengan mudah mengucapkan syukur atas segala macam hadiah yang saya peroleh, prestasi yang saya raih, penghargaan yang saya terima, dan berbagai rejeki serta kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Dan setiap kali saya mengingat-ingat kemurahan Tuhan, saya dengan mudah dapat mengucapkan syukur dalam hidup saya.

Namun, bersyukur di kala duka acap kali tidak mudah saya lakukan. Bagaimana saya harus bersyukur ketika hidup berjalan tidak seperti yang saya inginkan? Ketika saya kecewa karena tidak mendapatkan apa yang saya harapkan, atau ketika beban kehidupan terasa berat karena harus menunaikan sejumlah kewajiban dalam keluarga atau dalam pekerjaan, maka mengucap syukur menjadi soal yang tidak mudah. Apalagi ketika saya berulang kali harus menerima kenyataan sejumlah usaha yang saya rintis untuk meningkatkan tarap hidup, justru berakhir dengan kegagalan dan kebangkrutan. Bukan hanya tidak memberikan hasil seperti yang saya harapkan, saya terkadang harus menanggung beban hutang yang harus dicicil selama beberapa tahun. Hal-hal semacam itu membuat saya kecewa, frustasi, sedih, dan hampir putus asa. Biasanya pada saat-saat semacam itu, gelombang kekhawatiran mengenai masa depan muncul silih berganti. Masa depan nampak sebagai sesuatu yang menyeramkan, dan semangat hidup turun pada tingkat terendah.

Saya kemudian menyimpulkan bahwa bersyukur di kala suka itu mudah, tetapi bersyukur di kala duka memerlukan latihan dan disiplin. Bersyukur atas berkat yang Tuhan limpahkan itu gampang, tetapi bersyukur atas penderitaan yang Tuhan ijinkan menimpa hidup saya, jelas tidak mudah. Dan karena yang terakhir ini tidak mudah, saya perlu mempelajarinya dengan lebih seksama.

”Sekurang-kurangnya ada dua pilihan yang bisa kamu ambil ketika hidupmu sedang dilanda kesusahan. Pertama, kamu bisa mengeluh atau bahkan mengutuk hidup sendiri; Kedua, kamu bisa tetap bersyukur karena kamu yakin bahwa tidak ada kesusahan yang di ijinkanTuhan melampaui kekuatan yang telah diberikannya kepada kamu. Bahkan acapkali kesusahan yang di ijinkan Tuhan itu sesungguhnya merupakan sebuah proses persiapan untuk kamu menikmati suka cita yang lebih besar dari yang pernah kamu alami sebelumnya,” kata Ibu saya. Dan dalam praktik hidup yang nyata, Ibu saya selalu memilih yang kedua. Sepanjang hidupnya saya tidak pernah mendengar Ibu saya berkeluh kesah. Ia selalu bersyukur. Selalu. Ini membuat saya kagum dan menghormati ajarannya.

Bagi Ibu saya, bersyukur adalah soal pilihan pikiran dan hati. Kita bebas menentukan pilihan, namun kita terikat pada dampak yang ditimbulkan oleh setiap pilihan. Entah sadar atau tidak, bagi Ibu saya jelas bahwa mengeluh dan mengutuki kegagalan dan kesusahan hidup tidak pernah membuat hidup menjadi lebih baik. Keluhan bahkan membuat kita makin kehilangan semangat hidup dan terperosok lebih dalam kejurang keputusasaan. Sebaliknya, dengan tetap mengucap syukur kita kemudian ditolong untuk menemukan kembali kegairahan hidup, mendapatkan semacam kekuatan untuk menghadapi kenyataan sepahit apapun. Bersyukur membuat mata pikiran [eye of mind] dan mata batin [eye of spirit] kita terbuka lebih lebar, sehingga dapat melihat berbagai kemurahan tuhan yang nyata-nyata telah [bukan] akan Ia berikan dalam hidup kita. Atas kemurahan Tuhanlah kita masih hidup, masih bisa bernafas, masih bisa makan dan minum, masih memiliki pakaian, tempat tinggal, di beri kesehatan, dan sebagainya. Dengan perkataan lain, bersyukur menolong kita untuk tetap menjaga perspektif hidup secara keseluruhan, tidak terjebak hanya melihat sisi gelap kehidupan kita saat menderita.

Bagaimana caranya agar kita tetap mampu bersyukur dalam segala situasi, terutama ketika situasi kita tidak menyenangkan? Bagi Ibu saya caranya amatlah sederhana. Ia mempraktikkan syair lagu berikut:

Bila hidupmu dilanda topan b’rat
Engkau putus asa hatimu penat
Berkatmu kau hitung satu persatu
K’lak kau tercengang melihat jumlahnya

Itulah caranya. Dan itulah yang saya coba praktikkan selama berpuluh tahun. Bila kesusahan hidup mendera, saya mengambil selembar kertas dan memaksa pikiran saya untuk menemukan sejumlah hal yang pantas saya syukuri dalam hidup. Saya mendaftarkan sejumlah prestasi dan penghargaan yang pernah saya raih; menambahkan sejumlah hal yang berhasil saya miliki; menuliskan semua tempat rekreasi dan kota-kota yang pernah saya kunjungi; mencatat satu per satu anggota tubuh saya yang sehat; buku-buku yang sempat saya baca; nama-nama orang yang pernah menolong saya atau yang pernah saya tolong; bahkan juga kesusahan-kesusahan yang pernah saya lalui; dan seterusnya. Dan sejauh ini harus saya akui, saya akhirnya sering tercengang melihat jumlahnya. Biasanya saya berhenti ketika daftar syukur saya mencapai angka seratus. Bila saya lanjutkan, maka jumlahnya pasti bisa ditambah sepuluh atau dua puluh kali lipat, atau bahkan lebih. Lalu saya merenung dan bertanya pada diri saya sendiri: tidak cukup banyakkah berkat Tuhan yang telah nyata-nyata saya terima dan saya alami dalam hidup saya? Lalu adilkah saya bila karena sebuah penderitaan saja, semua berkat Tuhan itu saya anggap tidak bernilai? Bukankah pada kenyataannya saya telah menerima begitu banyak berkat yang melampaui apa yang sesungguhnya saya butuhkan untuk hidup?

Lambat laun, setelah latihan bersyukur dalam segala situasi selama puluhan tahun, saya kemudian menyadari ada perbedaan antara orang yang bisa bersyukur dengan orang yang mahir bersyukur. Sama seperti orang yang bisa berenang harus dibedakan dengan mereka yang mahir berenang, orang yang bisa naik sepeda harus dibedakan dengan pembalap sepeda, dan seterusnya. Bisa belum tentu mahir, tetapi mahir pasti bisa.

Orang yang bisa bersyukur adalah mereka yang bersyukur ketika hidupnya berjalan sesuai keinginannya, tetapi mengeluh ketika kesusahan datang. Sementara orang yang mahir bersyukur tetap bisa mengucap syukur bahkan ketika hidup berjalan tidak seperti yang diharapkan. Kesadaran ini membuat saya menetapkan dalam hati saya akan menempa diri agar menjadi orang yang mahir bersyukur, bukan sekadar bisa bersyukur. Bahkan lebih dari itu, saya berharap bisa ”mewariskan” kecakapan mengucap syukur dalam segala situasi ini kepada anak-anak saya dan kepada setiap orang yang bisa saya sentuh hidupnya dengan berbagai cara, termasuk dengan cara menuliskan artikel sederhana ini.

Tentang kemahiran bersyukur ini saya pernah melakukan sebuah eksperimentasi selama sepuluh bulan dengan melibatkan 500 peserta program pelatihan dari 20-an angkatan/kelas yang saya fasilitasi. Dalam salah satu materi pelatihan, saya meminta semua peserta berlomba mebuat daftar ”25 hal yang saya syukuri dalam hidup”. Hasilnya menunjukkan bahwa untuk setiap angkatan hanya 1-2 orang saja yang mampu menyelesaikan daftar syukur tersebut dalam waktu 4 menit atau kurang [rekor tercepat adalah 2,5 menit]. Lebih dari 95% peserta memerlukan waktu yang lebih lama. Karena itu secara hipotetis saya menganggap bahwa jumlah yang banyak itu termasuk kategori orang bisa bersyukur, sementara jumlah yang 5 persen itu bisa dikelompokkan sebagai orang yang mahir bersyukur.

Belajar mengucap syukur dalam segala situasi, itulah salah satu pelajaran penting yang saya pelajari di sekolah kehidupan Indonesia. Dan saya sungguh bersyukur bahwa untuk pelajaran yang sepenting itu, Tuhan memberi saya seorang guru terbaik yang pernah saya kenal: Ibu saya sendiri.

Tabik!

*) Andrias Harefa; Mindset Therapist, Penulis 37 Buku Best-seller, Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 Tahun, founder www.pembelajar.com. Dapat dihubungi langsung di www.andriasharefa.com atau FB: http://facebook.andriasharefa.com

Telah di baca sebanyak: 23

Next Page »

Top