CARA BAHAGIA
October 11, 2012 by admin
Filed under Andrias Harefa, Kolomnis
Saya dan istri menyaksikan wajah keduanya sumringah. Mereka menyapa semua orang dengan ramah. Hari itu adalah hari yang berbahagia. Lebih dari seribu lima ratus tamu datang untuk memberikan selamat. Ada berbagai rombongan yang datang dari luar kota, khusus untuk acara kali ini. Dari Bandung, Pekalongan, Semarang, Solo, dan entah dari mana lagi. Mereka menyewa bis khusus. Minggu siang di pertengahan bulan Juli itu, tempat parkir Balai Sudirman di wilayah Tebet, Jakarta Selatan, penuh. Petugas parkir nampak sibuk mengatur kendaraan yang datang.
Satu per satu tamu yang hadir menyalami mereka bergantian. Sebagian minta foto bersama. Sebagian lainnya mempersembahkan lagu-lagu nostalgia. Suasana nampak meriah. Ruangan penuh sesak karena tak semua tamu kebagian meja dan tempat duduk. Namun semua yang hadir menunjukkan ekspresi gembira. Suara tawa penuh canda terdengar dimana-mana. Makanan yang dihidangkan ludes tak berbekas, ketika tetamu mulai berpamitan. Sungguh sebuah pesta yang semarak.
Yang paling unik dari pesta tersebut adalah usia para tamu. Sebagian besar berusia di atas 60 tahun. Umumnya mereka anggota WULAN, perkumpulan nirlaba Warga Usia LANjut. Memang, yang mengadakan pesta adalah salah satu pendirinya, Januar dan Indira Darmawan. Itu sebabnya tetamu yang hadir umumnya berusia lanjut. Mereka adalah kawan-kawan lama yang sudah saling mengenal berpuluh tahun. Hubungan yang baik dalam rentang waktu yang panjang menunjukkan bahwa pasangan ini disukai handai taulannya.
Sudah jelas bahwa ini bukan pesta pernikahan. Tuan dan nyonya rumah hadir lengkap dengan kedua anak, menantu, dan para cucu. Yang perempuam semuanya berbaju warna kuning keemasan, sesuai tema pesta. Mereka mengadakan pesta syukur. Berbagi suka cita menyambut 50 tahun hidup bersama sebagai suami-istri. Meski mampu menikmati kemapanan sebagai kelas atas, pasangan ini justru memilih gaya hidup sangat sederhana. Walau keduanya juga menyandang gelar akademis tingkat doktoral dalam disiplin ilmu yang berbeda, mereka sungguh menampilkan kerendahan hati yang tulus. Tak ada hal yang nampak berlebihan. Semua terasa wajar, namun berkualitas. Dan yang juga mengundang decak kagum adalah kesehatan mereka yang relatif masih prima di usia menjelang 80 tahun.
Mungkin karena pasangan yang merayakan ulang tahun emas perkawinan ini adalah orang terdidik, maka sovenir yang diberikan kepada para tamu adalah dua buku. Buku yang satu, diterbitkan Gramedia Pustaka Utama dengan tajuk Profit and Beyond, berkisah tentang kiprah mereka dalam dunia bisnis, melakukan upaya developing ethical business leaders. Buku yang kedua, yang diterbitkan khusus untuk acara ini dengan judul 50 Tahun Bersama, berisi pandangan-pandangan pribadi keduanya tentang perkawinan, keluarga, bisnis, persahabatan, dan lain-lain. Keduanya hampir sama tebal, mendekati 300 halaman.
Di bagian pengantar buku 50 Tahun Bersama ada tertulis: “Bagi kami berdua, pernikahan merupakan wujud kerelaan hati dua pribadi yang berbeda untuk bersatu dan saling mengerti, bukan saling memaksa dan malah berusaha mengubah diri. Bagi kami berdua, pernikahan merupakan kehidupan baru untuk dua pribadi yang harus dijalani dengan hati yang selalu bergembira. Dalam kesusahan dan kesedihan yang kerap terasa pun, perasaan bahagia bisa diundang selalu ada, jika terus disyukuri bersama. Bagi kami berdua, pernikahan merupakan kolaborasi dua pikiran dan dua tenaga yang secara kompak harus dapat memberi dampak yang baik, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi lingkungan sosial, masyarakat luas, dan bahkan negeri ini. Bagi kami berdua, pernikahan merupakan kesepakatan dua orang teman hidup yang akan saling menemani memasuki usia lanjut dengan tetap mampu untuk mandiri, terhormat, dan bermakna”. Wow!
Tentang cara memperoleh kebahagiaan, mereka mengatakan, “Kesenangan hidup yang sebenarnya hanya dapat diperoleh ketika Anda bisa membahagiakan orang lain. Makin banyak yang dibahagiakan, makin banyak kesenangan dan kebahagiaan yang justru kembali kepada kita. Maka satu-satunya cara untuk memperoleh kesenangan dan kebahagiaan yang abadi adalah ketika Anda mampu membuat orang lain puas dengan dirinya sendiri. Itulah yang disebut sebagai contentment di dalam hidup kita”.
Menyaksikan dari dekat kehidupan Januar dan Indira Darmawan, yang merupakan kakak kandung dan ipar dari politikus dan ekonom senior Kwik Kian Gie, saya teringat sebuah buku karya John Powel yang bertajuk Happiness Is An Inside Job.
Dalam buku tersebut Powel menuturkan bahwa kata “bahagia” dan “kebahagiaan” diambil dari kata latin beatus dan beatitude yang berarti tantangan dan perolehan, yakni menjanjikan memberikan (secara tak langsung) kebahagiaan sejati kepada orang yang menyambut tantangan dan selangkah demi selangkah memperoleh sesuatu, mencapai sesuatu, atau menyelesaikan sesuatu.
Powel juga memaparkan Sepuluh Laku Hidup Bahagia sebagai berikut:
• Menerima diri apa adanya
• Menerima sepenuhnya tanggung jawab atas hidup kita
• Berusaha memenuhi segala kebutuhan kita untuk bersantai, berolah raga, dan makan
• Hidup kita harus kita jadikan wujud cinta kasih
• Kita harus menghirup udara baru dengan keluar dari kungkungan kemapanan yang nyaman
• Kita harus belajar menjadi “penemu jalan baik”
• Kita harus mengupayakan pertumbuhan, bukan kesempurnaan
• Kita harus belajar berkomunikasi secara efektif
• Kita harus belajar bersuka cita atas hal-hal baik dalam hidup
• Kita harus berdoa sebagai bagian dari hidup kita sehari-hari.
Yang paling menarik dari Powel adalah pernyataannya bahwa kodrat hidup manusia adalah hidup bahagia. Dengan kata lain, segala upaya untuk hidup bahagia adalah upaya memenuhi “panggilan kodrati” sebagai manusia ciptaan Tuhan.
Saya sungguh bersyukur diundang dalam pesta emas 50 tahun perkawinan Januar dan Indira Darmawan. Pesta itu sungguh menginspirasi. Ketika sebagian orang masih membicarakan kebahagiaan dalam konsep dan menjadi makelar-makelar kebahagiaan, saya menemukan contohnya yang nyata. Mereka mengajarkan bahwa kebahagiaan justru hanya bisa diperoleh dengan cara memberikannya kepada orang lain. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa diburu, dikejar, dan diraih seperti kita berburu harta dan karier. Ia bukan sesuatu yang bisa diperebutkan dengan persaingan sikut menyikut. Ia bisa diperoleh dengan cara diberi. Cara mendapatkan kebahagiaan adalah dengan memberikannya kepada orang lain. Sungguh luar biasa. Berilah, maka kamu akan mendapat.
Salam proaktif.
*)ANDRIAS HAREFA, WTS adalah writer: 38 Best-selling Books; Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun, Pendiri www.pembelajar.com; Twitter @aharefa atau @andriasharefa
Telah di baca sebanyak: 1014
PASTI MUNGKIN
October 11, 2012 by admin
Filed under Andrias Harefa, Kolomnis
Usianya sebelas bulanan waktu itu. Wajahnya nampak menggemaskan dengan pipi yang mirip bakpao. Dengan berat yang melewati 7 kilogram, ia berdiri dan belajar berjalan. Terjatuh, berdiri lagi, berjalan lagi, terjatuh lagi, berdiri lagi, berjalan lagi. Sorak sorai orangtua dan suster pengasuh membuat matanya acap berbinar gembira. Sambil tertawa ia berusaha keras menjaga keseimbangan tubuh. Dan kalau merasa lelah ia langsung merengek minta di gendong. Itulah kenangan yang tersimpan di memori ketika menyaksikan putri sulung saya belajar berjalan, belasan tahun silam.
Adiknya kemudian menyusul. Dengan mata yang lebar dan ambisi yang seolah lebih kuat dibanding teman-teman sebayanya, ia mengulangi apa yang terjadi pada kakaknya. Tak ada orang di sekitarnya yang ragu akan kemampuannya. Ia pasti bisa berjalan. Hanya soal waktu saja. Kami tak bicara soal kemungkinan. Ia pasti bisa berjalan.
Lalu kedua anak itu tumbuh bersama saya di rumah. Mereka mulai belajar membaca. Belajar menulis, merangkai kata menjadi kalimat bermakna. Belajar naik sepeda. Dan mengenai semua itu, tak terbesit keraguan akan kemampuan mereka. Pasti bisa. Tanpa hambatan yang berarti mereka bisa berjalan, membaca, menulis, naik sepeda, dan sebagainya.
Ingatan terhadap hal-hal semacam itu menyadarkan saya bahwa ada sejumlah hal yang bisa dengan mudah kita terima sebagai kepastian—bukan sebagai kemungkinan—dalam kehidupan kita. Anak normal pasti bisa berjalan, membaca, menulis, berhitung, dan sebagainya. Matahari pasti terbit dari timur. Manusia yang dilahirkan pasti tumbuh menjadi dewasa dan akhirnya mati. Terkena api pasti panas, tersiram air pasti basah, tergores benda tajam pasti terluka.
Lalu anak-anak bicara tentang cita-citanya.
“Aku sebaiknya jadi psikolog atau penyanyi ya Pa? Bisa dua-duanya nggak?” tanya anak sulung saya. Ia memiliki talenta suara yang indah luar biasa. Sifatnya yang intuitif, kreatif, berorientasi orang, berbelas kasih dan suka menolong, membuat ibunya mendorong agar kelak ia memilih bidang studi psikologi.
“Aku enaknya jadi dokter ahli yang punya rumah sakit atau jadi menteri keuangan Pa? Kalau jadi menteri keuangan, sekolahnya berapa tahun?” tanya adiknya polos. Si bungsu ini suka bingung karena ibunya selalu mendorong agar ia nanti menjadi dokter. Sementara saya, yang melihat kesukaannya terhadap angka hitung-hitungan yang berbau ilmu pasti, dan kepandaiannya mengorganisir diri serta memengaruhi orang, mengajak dia berpikir untuk menjadi pemimpin Indonesia masa depan. Dan saya suka mengatakan kepadanya bahwa Sri Mulyani Indrawati—kala itu masih menjabat Menteri Keuangan RI—memerlukan pengganti. Ia sebaiknya mempersiapkan diri.
Pada intinya, saya mencoba menanamkan dalam diri anak-anak saya bahwa segala sesuatu itu mungkin. Apa pun yang mereka cita-citakan sangat mungkin tercapai. Lalu saya menceritakan kisah seorang pastor yang membangun Chrystal Catedral di Amerika Serikat. Namanya Robert Schuller. Ia nyaris tidak punya apa-apa saat ia mulai meyakini bahwa pembangunan katedral yang bisa tembus pandang ke langit itu mungkin. Ia berdoa kepada Tuhan dan mulai bekerja keras mengumpulkan pendukung dari waktu ke waktu. Akhirnya, apa yang buat orang kebanyakan dianggap usaha yang sangat tidak mungkin itu, terealisasi dan menjadi monumen sejarah yang bisa di lihat banyak orang sampai hari ini.
Menurut Robert Schuller, si pengajur possibility thinking (1967), ketika seseorang mulai meyakini bahwa sesuatu—impian, visi, cita-cita, target, atau apapun istilah—itu mungkin, maka pada momen itu tiga keajaiban terjadi serentak: pertama, peluang-peluang menjadi terbuka di sel-sel otaknya, nampak (bisa dibayangkan) dalam pikirannya; kedua, sel-sel otaknya bersiap-siap untuk memecahkan masalah yang muncul; dan ketiga, tekad bulat menguat dalam aliran pembuluh darahnya.
Sebaliknya, jika seseorang meyakini bahwa sesuatu (cita-cita) itu tidak mungkin di capai, maka otaknya mengalami kesulitan untuk membayangkan hal itu terjadi, dan ia akan cenderung membesar-besarkan risiko apapun yang dapat menghalangi dirinya untuk mencapai cita-citanya itu. Mereka mudah menemukan alasan mengapa hal tersebut tidak mungkin terjadi, namun sangat sulit membayangkan cara-cara kreatif yang dapat dilakukan untuk membuat itu terjadi. Mereka menjadi kritis, tetapi kehilangan kreativitas—salah satu modal terpenting dalam usaha mencapai apapun dalam hidup ini. Mereka terjangkit apa yang disebut Schuller sebagai “impossibility complex” yang memiliki kedekatan “inferiority complex” (perasaan minder alias rasa rendah diri yang akut).
Jadi, saya berulang kali mengatakan pada anak-anak saya bahwa segala yang dicita-citakan mereka itu “pasti mungkin” tercapai. Tidak perlu diragukan. Namun, bukan soal kepastian atau kemungkinan yang pasti itu yang penting. Yang lebih penting untuk dipersoalkan adalah apakah hal itu cocok dengan tugas yang diberikan Pencipta Langit kepadanya. Persoalannya lebih pada apakah cita-cita itu memuliakan Sang Pencipta atau hanya sekadar memenuhi ambisi pribadi saja. Persoalannya lebih pada seberapa besar manfaat pencapaian cita-cita tersebut bagi bangsa dan umat manusia.
“Tapi bagaimana kita bisa yakin kalau cita-cita kita itu menyenangkan hati Sang Pencipa papa?” tanya anak saya mulai kritis. Saya tersenyum dan menjawab, “Nah, itu papa juga belum paham benar, nak. Mari kita baca lagi Kitab Suci yang merupakan wahyu ilahi, agar hati kita diterangi dan pikiran kita dicerahkan untuk dapat memahami maunya Sang Pencipta”. Kami lalu membuka Kitab Suci dan melanjutkan pembacaan untuk hari itu.
* ANDRIAS HAREFA, WTS adalah writer: 38 Best-selling Books; Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun, Pendiri www.pembelajar.com; Twitter @aharefa atau @andriasharefa
Telah di baca sebanyak: 859
CARA BAHAGIA
September 19, 2012 by admin
Filed under Andrias Harefa, Kolomnis
Saya dan istri menyaksikan wajah keduanya sumringah. Mereka menyapa semua orang dengan ramah. Hari itu adalah hari yang berbahagia. Lebih dari seribu lima ratus tamu datang untuk memberikan selamat. Ada berbagai rombongan yang datang dari luar kota, khusus untuk acara kali ini. Dari Bandung, Pekalongan, Semarang, Solo, dan entah dari mana lagi. Mereka menyewa bis khusus. Minggu siang di pertengahan bulan Juli itu, tempat parkir Balai Sudirman di wilayah Tebet, Jakarta Selatan, penuh. Petugas parkir nampak sibuk mengatur kendaraan yang datang.
Satu per satu tamu yang hadir menyalami mereka bergantian. Sebagian minta foto bersama. Sebagian lainnya mempersembahkan lagu-lagu nostalgia. Suasana nampak meriah.
Ruangan penuh sesak karena tak semua tamu kebagian meja dan tempat duduk. Namun semua yang hadir menunjukkan ekspresi gembira. Suara tawa penuh canda terdengar dimana-mana. Makanan yang dihidangkan ludes tak berbekas, ketika tetamu mulai berpamitan. Sungguh sebuah pesta yang semarak.
Yang paling unik dari pesta tersebut adalah usia para tamu. Sebagian besar berusia di atas 60 tahun. Umumnya mereka anggota WULAN, perkumpulan nirlaba Warga Usia LANjut. Memang, yang mengadakan pesta adalah salah satu pendirinya, Januar dan Indira Darmawan. Itu sebabnya tetamu yang hadir umumnya berusia lanjut. Mereka adalah kawan-kawan lama yang sudah saling mengenal berpuluh tahun. Hubungan yang baik dalam rentang waktu yang panjang menunjukkan bahwa pasangan ini disukai handai taulannya.
Sudah jelas bahwa ini bukan pesta pernikahan. Tuan dan nyonya rumah hadir lengkap dengan kedua anak, menantu, dan para cucu. Yang perempuam semuanya berbaju warna kuning keemasan, sesuai tema pesta. Mereka mengadakan pesta syukur. Berbagi suka cita menyambut 50 tahun hidup bersama sebagai suami-istri. Meski mampu menikmati kemapanan sebagai kelas atas, pasangan ini justru memilih gaya hidup sangat sederhana. Walau keduanya juga menyandang gelar akademis tingkat doktoral dalam disiplin ilmu yang berbeda, mereka sungguh menampilkan kerendahan hati yang tulus. Tak ada hal yang nampak berlebihan. Semua terasa wajar, namun berkualitas. Dan yang juga mengundang decak kagum adalah kesehatan mereka yang relatif masih prima di usia menjelang 80 tahun.
Mungkin karena pasangan yang merayakan ulang tahun emas perkawinan ini adalah orang terdidik, maka sovenir yang diberikan kepada para tamu adalah dua buku. Buku yang satu, diterbitkan Gramedia Pustaka Utama dengan tajuk Profit and Beyond, berkisah tentang kiprah mereka dalam dunia bisnis, melakukan upaya developing ethical business leaders. Buku yang kedua, yang diterbitkan khusus untuk acara ini dengan judul 50 Tahun Bersama, berisi pandangan-pandangan pribadi keduanya tentang perkawinan, keluarga, bisnis, persahabatan, dan lain-lain. Keduanya hampir sama tebal, mendekati 300 halaman.
Di bagian pengantar buku 50 Tahun Bersama ada tertulis: “Bagi kami berdua, pernikahan merupakan wujud kerelaan hati dua pribadi yang berbeda untuk bersatu dan saling mengerti, bukan saling memaksa dan malah berusaha mengubah diri. Bagi kami berdua, pernikahan merupakan kehidupan baru untuk dua pribadi yang harus dijalani dengan hati yang selalu bergembira. Dalam kesusahan dan kesedihan yang kerap terasa pun, perasaan bahagia bisa diundang selalu ada, jika terus disyukuri bersama. Bagi kami berdua, pernikahan merupakan kolaborasi dua pikiran dan dua tenaga yang secara kompak harus dapat memberi dampak yang baik, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi lingkungan sosial, masyarakat luas, dan bahkan negeri ini. Bagi kami berdua, pernikahan merupakan kesepakatan dua orang teman hidup yang akan saling menemani memasuki usia lanjut dengan tetap mampu untuk mandiri, terhormat, dan bermakna”. Wow!
Tentang cara memperoleh kebahagiaan, mereka mengatakan, “Kesenangan hidup yang sebenarnya hanya dapat diperoleh ketika Anda bisa membahagiakan orang lain. Makin banyak yang dibahagiakan, makin banyak kesenangan dan kebahagiaan yang justru kembali kepada kita. Maka satu-satunya cara untuk memperoleh kesenangan dan kebahagiaan yang abadi adalah ketika Anda mampu membuat orang lain puas dengan dirinya sendiri. Itulah yang disebut sebagai contentment di dalam hidup kita”.
Menyaksikan dari dekat kehidupan Januar dan Indira Darmawan, yang merupakan kakak kandung dan ipar dari politikus dan ekonom senior Kwik Kian Gie, saya teringat sebuah buku karya John Powel yang bertajuk Happiness Is An Inside Job.
Dalam buku tersebut Powel menuturkan bahwa kata “bahagia” dan “kebahagiaan” diambil dari kata latin beatus dan beatitude yang berarti tantangan dan perolehan, yakni menjanjikan memberikan (secara tak langsung) kebahagiaan sejati kepada orang yang menyambut tantangan dan selangkah demi selangkah memperoleh sesuatu, mencapai sesuatu, atau menyelesaikan sesuatu.
Powel juga memaparkan Sepuluh Laku Hidup Bahagia sebagai berikut:
• Menerima diri apa adanya
• Menerima sepenuhnya tanggung jawab atas hidup kita
• Berusaha memenuhi segala kebutuhan kita untuk bersantai, berolah raga, dan makan
• Hidup kita harus kita jadikan wujud cinta kasih
• Kita harus menghirup udara baru dengan keluar dari kungkungan kemapanan yang nyaman
• Kita harus belajar menjadi “penemu jalan baik”
• Kita harus mengupayakan pertumbuhan, bukan kesempurnaan
• Kita harus belajar berkomunikasi secara efektif
• Kita harus belajar bersuka cita atas hal-hal baik dalam hidup
• Kita harus berdoa sebagai bagian dari hidup kita sehari-hari.
Yang paling menarik dari Powel adalah pernyataannya bahwa kodrat hidup manusia adalah hidup bahagia. Dengan kata lain, segala upaya untuk hidup bahagia adalah upaya memenuhi “panggilan kodrati” sebagai manusia ciptaan Tuhan.
Saya sungguh bersyukur diundang dalam pesta emas 50 tahun perkawinan Januar dan Indira Darmawan. Pesta itu sungguh menginspirasi. Ketika sebagian orang masih membicarakan kebahagiaan dalam konsep dan menjadi makelar-makelar kebahagiaan, saya menemukan contohnya yang nyata. Mereka mengajarkan bahwa kebahagiaan justru hanya bisa diperoleh dengan cara memberikannya kepada orang lain. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa diburu, dikejar, dan diraih seperti kita berburu harta dan karier. Ia bukan sesuatu yang bisa diperebutkan dengan persaingan sikut menyikut. Ia bisa diperoleh dengan cara diberi. Cara mendapatkan kebahagiaan adalah dengan memberikannya kepada orang lain. Sungguh luar biasa. Berilah, maka kamu akan mendapat.
Salam proaktif.
* ANDRIAS HAREFA, WTS adalah writer: 38 Best-selling Books; Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun, Pendiri www.pembelajar.com; Twitter @aharefa atau @andriasharefa
Telah di baca sebanyak: 928
ORI
September 3, 2012 by admin
Filed under Andrias Harefa, Kolomnis
Belum lama ini, di status Blackberry seorang kawan tertulis : You were born an orisinal. Don’t die a copy – John Mason. Anda dilahirkan sebagai pribadi unik yang orisinal, jangan meninggal sebagai seorang peniru belaka.
Wow! Sebuah kutipan yang inspiratif. Segera saja pikiran saya terbang ke judul buku Semuel Lusi, yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama belum lama ini: The Real Success Is The Real You. Sukses yang sejati adalah dengan menjadi diri Anda yang sejati. Diluar kesejatian diri, bukan sukses yang Anda peroleh, melainkan kepalsuan dan keterasingan diri.
Kisah populer tentang anak rajawali di kandang ayam menggambarkan inti pesan Mason dan Lusi. Seperti pernah dikisahkan Anthony de Mello, seorang petani menemukan telur rajawali dalam perjalanan pulang ke rumah. Telur itu kemudian diletakkannya di kandang ayam dan dierami induk ayam bersama denngan telur ayam lainnya. Setelah menetas, maka anak rajawali itu tinggal bersama dengan anak-anak ayam lainnya. Ia berada dalam lingkungan ayam. Ia berpikir dan berperilaku sebagaimana layaknya ayam-ayam yang lain. Ia belajar dengan meniru sikap dan perilaku lingkungannya. Hanya saja, ia sering merasa lain sendiri.
Ukuran tubuh dan suaranya tidak mirip saudara-saudaranya. Bagaimana pun ia tak punya referensi lain kecuali melihat dirinya sebagai ayam. Lingkungan dimana Anda bergaul mendefinisikan siapa Anda, bukan?
Suatu hari, ketika ia sedang bercengkerama dengan kawan-kawannya, seekor burung besar yang gagah melintas di angkasa. Melayang dengan anggun dan berwibawa, burung besar itu nampak perkasa. Matanya tajam menatap ke bawah. Sayapnya terbentang diterpa angin dan seolah tak bergerak. Ia sedang mengincar mangsa untuk sarapan hari itu.
Kawan-kawannya segera menarik anak rajawali itu untuk bersembunyi. “Itu burung rajawali, raja segala burung. Ia bisa menyambar kita dan memakan kita. Ayo lari dan bersembunyi,” ujar kawan-kawannya mengingatkan. Mereka terbirit-birit mencari tempat berlindung yang aman. Banyak orang senang mencari comfort zone, bukan?
Cerita anak rajawali di kandang ayam itu bisa berakhir dengan dua versi. Versi pertama, ia tetap tinggal dan hidup sebagai ayam sampai akhir hayatnya. Ia mati sebagai ayam yang berbadan besar. Tidak lebih dan tidak kurang. Begitulah kehidupan yang disia-siakan untuk sekadar memperoleh rasa nyaman. Kehidupan yang dikungkung oleh rasa takut, tak berani mencoba, dan penuh kekhawatiran sepanjang waktu. Kehidupan yang berujung pada penyesalan.
Versi kedua lebih menarik. Anak rajawali itu kemudian penasaran dan mulai belajar meloncat-loncat lebih tinggi untuk terbang. Ia naik ke pohon dan terjun sambil mengepakkan sayapnya. Demikianlah perlahan-lahan ia mulai terbang lebih tinggi, lebih tinggi, dan semakin tinggi. Akhirnya ia menyadari keberadaannya sebagai rajawali. Ia bukan ayam. Ia tidak pantas tinggal di kandangan ayam. Ia adalah rajawali. Tempatnya adalah di angkasa raya. Ia tak harus hidup bergerombol di kandang-kandang. Ia bisa berkelana sendiri. Ia telah menemukan kesejatian dirinya, dan itu membebaskannya dari kungkungan “suara” mayoritas yang merendahkan potensinya selama ini.
Perumpamaan anak rajawali di kandang ayam menawarkan sebuah konsep sukses, yang disimpulkan Semuel Lusi dalam empat proses. Pertama, discovering the real you. Kedua, being the real you. Ketiga, doing the real you. Dan akhirnya, building the real you habitat. Keempat proses itu berporos pada “the real you” yang disingkat menjadi TRY (The Real You).
Dengan demikian, kegagalan menemukan TRY adalah kegagalan eksistensial. Sementara keberhasilan menemukan TRY bukanlah akhir, melainkan awal sebuah perjuangan mewujudkan diri melayani suatu maksud yang mulia.
Asumsi utama konsep sukses ini adalah bahwa tiap insan memiliki potensi, bakat, talenta, kekuatan, keunggulan, atau apapun istilahnya, yang unik dan khas serta subyektif. Tiap insan dikaruniai sesuatu dalam dirinya, the power within, the true self, innate image. Inilah yang pertama-tama perlu ditemukan, perlu disadari, perlu dikenali. Seperti anak rajawali yang besar di kandangan ayam, ia perlu menggugat diri, mencari jati diri, melakukan refleksi, mencari jawaban yang lebih baik mengenai “siapakah aku?”.
Selanjutnya, penemuan diri dan kesadaran baru perlu ditindaklanjuti dengan usaha mengaktualisasikan potensi itu, menyalurkan bakat-bakat terbaik itu, dengan menjadi dan melakukan apa-apa yang mencerminkan diri terbaik kita, yang terkait dengan suatu tugas mulia, suatu panggilan. Seperti anak rajawali yang “penasaran” dan mulai belajar untuk meloncat-loncat, belajar terbang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Kesuksesan kecil dan berbagai kegagalan memperkaya usaha penemuan jati diri sejati. Hidup adalah perjuangan menemukan diri kita yang terbaik lewat tindakan-tinndakan yang bermanfaat bagi sesama.
Dengan lain perkataan, tiap orang memiliki tugas mulianya di bumi, dan untuk tugas mulia itulah ia telah diberi bakat-potensi-kemampuan unik oleh “langit”. Sepanjang kita menemukan bakat-potensi-kemampuan kita itu dan mengabdikannya untuk tugas mulia di bumi, maka kita telah berhasil menjadi diri kita yang terbaik, yang orisinal. Kita ada untuk melayani suatu maksud yang mulia dan bukan untuk membesar-besarkan diri kita sendiri.
Diluar itu, kita hanyalah kepalsuan.
Konsep sukses ini mengingatkan saya pada ratu talkshow Oprah Winfrey. Dalam sebuah pidato wisuda di Rooselvelt University, Oprah mengatakan, antara lain, “Ada panggilan suci dalam hidup kita masing-masing yang melampaui gelar yang akan Anda terima (hari ini). Ada kontrak suci yang Anda buat, yang saya buat dengan Sang Pencipta, ketika kita menjadi ada. Bukan hanya satu sperma dan satu sel telur bertemu ketika kita menjadi esensi diri kita sebagaimana dimaksudkan. Anda membuat perjanjian, Anda memiliki panggilan. Dan entah Anda mengetahuinya atau tidak, adalah tugas Anda untuk menemukan panggilan itu dan terjun untuk melakukannya”.
You were born an orisinal. Don’t die a copy.[*]
*)ANDRIAS HAREFA, WTS adalah writer: 38 Best-selling Books; Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun, Pendiri www.pembelajar.com; Twitter @aharefa atau @andriasharefa
Telah di baca sebanyak: 303
SIIAAP
July 17, 2012 by admin
Filed under Andrias Harefa, Kolomnis
Belum lama ini saya diundang ke Dumai oleh Pertamina. Ada pertemuan reguler terkait target dan strategi pencapaiannya yang perlu disampaikan manajemen kepada jajaran pekerja. Tantangan kerja di lingkungan Pertamina memang bukan main. Banyak sekali variabel yang memengaruhi kinerja akhir dan tidak semuanya berada dalam kontrol langsung manajemen. Faktor politis dan kondisi sosial masyarakat terkait isu bahan bakar minyak bisa memaksa manajemen mengubah berbagai hal yang semula sudah dipersiapkan.
Suasana yang nampak dan terasa, tidaklah menggembirakan. Tiga ratusan audiens yang memenuhi ruangan terlihat memang butuh penyegaran. Mereka orang-orang yang berpengalaman dan kompeten dalam bidang masing-masing. Namun tuntutan kinerja yang diharapkan memang bukan soal gampang. Tidak hanya perlu komitmen total, tetapi juga suntikan antusiasme. Bagaimana pun, kerja seharusnya juga menimbulkan gairah dan kegembiraan, bukan?
“Menurut Bapak bagaimana seorang pekerja dapat membuat dirinya pantas diandalkan dalam berbagai situasi kerja yang menantang seperti yang kami hadapi?” tanya seorang peserta dalam sesi dialog. Ia ingin menjadi pekerja yang memegang prinsip, yang tidak diombang-ambingkan oleh situasi dan kondisi yang berubah-ubah. Ia ingin menjadi pekerja yang dewasa, yang mampu memotivasi diri sendiri tanpa harus sering ikut seminar motivasi.
Pertanyaan itu mengingatkan saya pada nasihat direktur perusahaan tempat saya pernah bekerja 24 tahun silam. Saat itu, bisnis pertama saya baru saja bangkrut dan saya dipanggil membantu yang bersangkutan. Minggu pertama, ia mengajarkan kepada saya untuk menjadi, “pekerja yang SIIAAP”.
Pertama, jika Anda ingin menjadi pekerja yang diandalkan, maka latihlah diri Anda untuk mampu menunjukkan sikap positif dalam berbagai situasi. Ada begitu banyak godaan untuk bersikap negatif, baik terhadap rekan kerja, atasan, kolega, bawahan, bahkan terhadap produk dan pelanggan. Dan pekerja yang andal mampu mempertahankan sikapnya positif dalam berbagai situasi yang negatif sekalipun. Sikap positif yang kuat bernilai puluhan bahkan ratusan miliar dalam kehidupan nyata.
Kedua, milikilah integritas dengan menepati sebanyak mungkin janji Anda dan berkata jujur tanpa menyakiti hati orang lain. Jika Anda mengatakan akan melakukan sesuatu, maka lakukanlah itu, sekalipun orang mungkin sudah lupa pada apa yang Anda katakan atau janjikan. Menepati janji dan berkata jujur itu harus dilatih, sebab itu bukan bakat turunan, melainkan kebiasaan yang dibentuk lewat pengulangan-pengulangan. Sama seperti kebiasaan ingkar janji dan berdusta merupakan hasil pembelajaran dan bukan watak bawaan lahir.
Ketiga, biasakanlah berinisiatif untuk melakukan perbaikan. Hindari sikap pasif dan apatis. Usulkan setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, hal-hal yang bisa diperbaiki. Inisiatif menjadi pertanda bahwa otak berfungsi lebih baik. Inisiatif menunjukkan ada kecerdasan dalam diri seseorang. Sebaliknya, sikap pasif dan apatis membuat otak malas bekerja. Ini menurunkan nilai pribadi. Sebab otak yang tidak digunakan harganya akan turun drastis sampai mendekati harga otak-otak (hahahaha…).
Keempat, biasakanlah untuk menerima dan mengambil tanggung jawab. Ini berarti tidak suka menyalahkan keadaan atau orang lain, tetapi berani mengaku salah jika memang ada kesalahan; tidak suka mengeluh meski pun tak pernah kurang alasan untuk menyatakan keluhan. Ini juga berarti bersedia menjadi pemimpin, sebab tanggung jawab melekat pada diri pemimpin.
Kelima, bertindaklah antusias. Gerakan tubuh dan melangkahlah seperti orang sukses. Temukanlah dan buatlah pekerjaan menjadi menantang dan menarik dengan berlomba-lomba memperbaiki kinerja pribadi, tanpa membandingkannya dengan orang lain. Buatlah suasana bekerja seperti belajar untuk naik kelas dari waktu ke waktu.
Keenam, posisikan diri sebagai problem solver, pemecah masalah, bukan problem maker. Datanglah kepada atasan dengan mentalitas pemecah masalah, yakni pekerja yang datang dengan sikap positif; yang menunjukkan integritas dalam soal janji dan jujur dalam perkataan; berinisiatif untuk melakukan perbaikan; menerima dan mengambil tanggung jawab; dan menunjukkan antusiasme kerja menyala-nyala.
Enam ajaran atasan saya itulah yang disingkat menjadi SIIAAP: Sikap positif; Integritas; Inisiatif; Ambil tanggung jawab; Antusias; dan Problem solver. Ajaran itu juga yang menjadi bekal saya bekerja selama bertahun-tahun.
Di akhir dialog saya tegaskan bahwa, “Tidak seorang pun bisa memotivasi Anda, kecuali Anda mengijinkannya demikian. Sebab motivator terbaik bagi Anda adalah Tuhan yang bekerja di dalam diri Anda sendiri. Motivator dari luar diri sendiri adalah motivator kelas dua.”
Bukankan begitu? Salam proaktif.
*)ANDRIAS HAREFA, WTS adalah writer: 38 Best-selling Books; Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun, Pendiri www.pembelajar.com; Twitter @aharefa atau @andriasharefa
Telah di baca sebanyak: 482
BERTINDAK
June 7, 2012 by admin
Filed under Andrias Harefa, Kolomnis

Leadership is action, not position. Kepemimpinan adalah tindakan, bukan jabatan. Begitulah sebuah poster yang pernah saya terima dari seorang kawan yang bermukim di Surabaya. Dicetak di atas kertas warna putih dan merah ukuran 54 x 62 sentimeter, tulisannya dengan huruf serba besar dan warna kontras hitam dan putih. Wow!
Kawan saya itu bukan politisi dan tidak dalam situasi memerlukan dukungan untuk menjadi pejabat publik. Ia seorang konsultan dan menangani perusahaan-perusahaan swasta dalam upaya meningkatkan kualitas produk dan layanan dalam arti luas. Ia tidak memiliki klien dari lingkungan pemerintah atau pun BUMN. Namun agaknya dia ikut geram menyaksikan para pemimpin negeri ini terlalu sering berwacana dan sangat kurang bertindak.
“Isu soal kenaikan harga bahan bakar minyak bisa dijadikan contoh nyata. Begitu serunya perdebatan para pejabat publik, sehingga harga-harga sembako naik, sementara keputusan atau tindakan sang pemimpin tak kunjung jelas sampai berbulan-bulan. Rakyat jadi menderita, karena pemimpin tidak amanah,” ujarnya berapi-api, bagai pengamat politik karbitan yang datang dari dunia antah berantah.
Saya menanggapi dengan tersenyum. Bukan senyuman sarat makna, sebab sejujurnya, saya tidak tahu harus berkata apa. Pikiran saya melayang pada buku Zaenuddin HM yang baru usai saya baca. Prolog buku ditulis wartawan senior Kompas Budiarto Shambazy. Epilognya ditulis Eep Saefulloh Fatah, pendiri dan CEO Polmark Indonesia. Tajuknya JOKOWI—Dari Jualan Kursi hingga Dua Kali Mendapatkan Kursi (Ufuk, Cetakan II, April 2012).
Ada pernyataan Jokowi dalam sebuah wawancara khusus dengan BBC Indonesia, yang menempel dalam ingatan saya. Bunyinya, “Kita harus berani membuat terobosan. Jangan rutinitas, jangan monoton, harus selalu ada pembaruan, ada inovasi,” kata pemimpin kota Solo sejak 2005 itu. Lalu Zaenuddin HM menjelaskan dalam bab khusus tentang Lima Terobosan Penting Jokowi sebagai Prestasi sepanjang 31 halaman (hlm.25-56).
Salah satu terobosan spektakuler yang mengesankan saya secara pribadi adalah soal keberhasilan Jokowi merelokasi pedagang kaki lima (PKL) tanpa penggusuran dan kerusuhan. Bukan saja karena saya memang belum pernah tahu (membaca) bahwa ada proses relokasi PKL yang semanusiawi dan seindah itu, tetapi juga karena rangkaian tindakannya sangat sistematis sehingga bisa ditiru—dengan atau tanpa modifikasi.
Berguru pada Jokowi, saya menyimpulkan sepuluh tindakan yang bisa dilakukan pemimpin kota manapun untuk menangani relokasi PKL secara manusiawi. Tindakan pertama, membentuk tim kecil untuk menyurvei keinginan warga kota sekaligus mengumpulkan data-data mengenai nama dan jumlah PKL di kota tersebut, termasuk lokasi-lokasinya.
Tindakan kedua, memilih dan menentukan lokasi mana yang tersulit untuk ditangani dan mulai dengan memikirkan strategi mengatasi bagian yang paling sulit ini lebih dulu. Dalam kasus kota Solo, target utama adalah daerah Banjarsari, kawasan elite yang dihuni 989 pedagang yang bergabung dalam 11 paguyuban.
Tindakan ketiga, mengajak dan mengundang para pedagang yang akan di relokasi untuk jamuan makan secara berulang-ulang, sampai muncul semacam kesepahaman batiniah bahwa upaya relokasi adalah baik untuk kepentingan masyarakat kota tersebut, termasuk kepentingan para pedagang itu sendiri. Perlu dicatat bahwa dalam jamuan makan yang dilakukan Jokowi, tidak ada pembahasan dan diskusi formal. Hanya saja, kedua belah pihak sudah saling tahu bahwa undangan makan dan obrolan ngalor-ngidul itu menjadi sarana membangun kesepahaman bersama. Jokowi berusaha berempati dan memahami harapan-harapan yang tak terkatakan dari pada pedagang yang diundangnya. Dan tidak tanggung-tanggung, jamuan makan itu diadakan 53 kali, tanpa adanya pembahasan formal.
Tindakan keempat, dengan tegas dan santun mengumumkan sikap pemkot pada jamuan makan yang ke-54. Karena pada dasarnya sudah saling tahu apa yang diinginkan, maka ketika Jokowi mengatakan, “Bapak-bapak sekalian, terima kasih sudah mau hadir disini. Bapak-bapak akan kami pindahkan tempat usahanya”, hal itu tidak menimbulkan gejolak lagi.
Tindakan kelima, mendukung kepindahan tersebut dengan janji akan mengiklankan Pasar Klitikan—tempat relokasi pada pedagang tersebut—lewat televisi dan media cetak lokal selama empat bulan. Tindakan ini akan mengurangi rasa khawatir para pedagang bahwa di lokasi baru dagangannya tidak akan laku karena orang tidak tahu mereka pindah.
Tindakan keenam, Jokowi menepati janjinya. Bayangkan, para pedagang pindah dengan sangat meriah. Mereka mengenakkan busana khas adat Solo dengan senyum bahagia, membawa tumpeng sebagai lambang kemakmuran, dikawal prajurit keraton dengan pakaian lengkap. Relokasi 989 PKL itu disiarkan langsung oleh televisi lokal dan beritanya dimuat koran-koran terbitan Solo selama beberapa bulan, sehingga seluruh masyarakat mengetahuinya.
Tindakan ketujuh dan kedelapan, pemerintah kota Solo memperlebar akses jalan, serta membuka satu trayek angkutan kota ke lokasi baru tersebut. Kedua hal ini tentulah membesarkan hati pada pedagang bahwa dukungan pemkot Solo sangat bersungguh-sungguh dan bukan sekadar manis di mulut saja.
Tindakan kesembilan, walau pedagang meminta kios diberikan secara gratis, namun akhirnya disepakati bahwa tiap pedagang harus membayar retribusi Rp 2.600 per hari (dikalikan jumlah 989 dikalikan 365 hari setahun). Dalam hitungan Jokowi, investasi pemkot Solo sebesar Rp 9,8 miliar bisa kembali. Patut dicatat bahwa DPRD juga menyetujui hal ini.
Tindakan kesepuluh, setelah sukses menangani yang paling sulit, barulah menangani yang jumlah pedagangnya lebih kecil di lokasi lainnya. PKL di Stadion Manahan, sekitar 180 pedagang, dibuatkan shelter dan gerobak. Di Solo hari-hari ini sudah lebih dari 52% PKL—yang jumlah totalnya 5.718 orang—sudah berhasil direlokasi ke tempat yang lebih baik.
Begitulah. Jika kepemimpinan adalah tindakan, maka tak pelak lagi Jokowi adalah pemimpin. Ia adalah salah satu dari 98 walikota dan 403 bupati, serta 33 gubernur, dan seorang Presiden. Ditambah para wakilnya, jumlah pejabat di perintahan itu berlipat jadi dua. Lalu berapa di antara mereka yang menghayati “kepemimpinan sebagai tindakan”?
Jokowi telah menghidupkan mimpi para PKL di Solo untuk hidup yang lebih baik. Ia juga menghidupkan kembali mimpi saya tentang pemimpin yang bertindak. Ia saya masukkan dalam kelompok elite dimana sedikit nama telah tersimpan: Dahlan Iskan, Kuntoro Mangkusubroto, Mahfud MD, dan Sri Mulyani.
Live your dream, choose the real leader! Salam proaktif.
*) Andrias Harefa, WTS adalah writer: 38 Best-selling Books; Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun, Pendiri www.pembelajar.com; Twitter @aharefa
Telah di baca sebanyak: 575
CARNEGIE-BUFFETT
May 14, 2012 by admin
Filed under Andrias Harefa, Kolomnis
Warren Buffett. Siapa yang tak kenal nama ini. Sedikitnya, tiap orangyang membaca berita-berita ekonomi, atau pemain di bursa saham seluruh dunia, mengenal nama ini dengan baik. Bukan hanya mengenal, tetapi juga mencoba meniru sepak terjangnya, belajar darinya, atau bahkan ingin menjadi seperti Buffett.
Selama bertahun-tahun nama Buffett tercantum sebagai salah satu dari orang terkaya di dunia, bergantian dengan Bill Gates. Dalam biografi berjudul The Snowball yang ditulis Alice Schroeder tahun 2008 (diterjemahkan oleh penerbit Elexmedia, 2010, setebal lebih dari 1352 halaman), disebutkan jumlah kekayaan pribadinya pernah melebihi 60 miliar dolar Amerika, sekitar Rp 540 triliun. (Jika harta Buffett dibagikan kepada 30 juta penduduk miskin di Indonesia, maka masing-masing orang akan kebagian 2.000 dolar Amerika, kurang lebih Rp 18 juta).
Nama besar Buffett inilah yang membuat saya langsung duduk menonton tayangan mini biografinya di sebuah saluran tivi berbayar belum lama ini. Sayang saya hanya sempat melihat tayangan 15 menitan terakhir. Namun, ada satu hal yang menggelitik pikiran saya ketika Buffett bicara tentang sertifikat yang dipajang di kantornya.
Ia mengatakan bahwa tidak satu pun ijazah pendidikan formalnya yang tertempel di dinding tempatnya bekerja. Tetapi sertifikat dari Dale Carnegie Training ada. Ketika ditanya mengapa begitu, ia menjawab singkat, “Pelatihan Dale Carnegie mengubah hidup saya”.
Sebagai mantan instruktur senior berlisensi Dale Carnegie Training, saya menduga bahwa program pelatihan yang mengubah hidup Warren Buffett itu adalah Effective Speaking and Human Relations(ESHR). Program ini merupakan satu dari dua program yang memang dirancang langsung oleh Dale Carnegie (1888-1955) lewat proses panjang yang mengagumkan. Diujicoba dan dilatihkan untuk umum sejak 1912, pelatihan yang awalnya bernama Public Speaking for Businessmen ini memang fenomenal, sehingga “penganut”ajaran Carnegie disebut Carnegian. (Bisa ditambahkan bahwa Mochtar Riady, pendiri kelompok Lippo; Jonathan L. Parapak, Direktur Utama PT Indosat pada masa Orde Baru, dan Cacuk Sudarijanto, yang pernah menjabat sebagai Direktur Telkom, adalah alumni Dale Carnegie Training tahun 70-an akhir).
Apa inti pokok ajaran Carnegie, yang berhasil menginspirasi dan mengubah hidup banyak orang, termasuk orang sekaliber Buffett?
Jawabannya bisa ditemukan dalam dua karya klasik: How To Win Friends and Influence People (terbitan 1936) danHow To Stop Worrying and Start Living (1948). Kedua bukubest-seller sepanjang masa itu yang ditulis oleh Dale Carnegie berdasarkan catatan yang amat cermat dari kesaksian peserta pelatihannya selama puluhan tahun, ditambah sejumlah referensi. Gaya penulisannya populer, sehingga sangat nikmat dibaca.
Dalam How to Win, Carnegie secara cerdas merumuskan 30 cara atau teknik untuk menjadi pribadi yang disukai, rekan kerja yang menyenangkan, dan pemimpin yang efektif. Ke-30 teknik human relations itu bisa dibedakan dalam tiga kategori.
Kategori pertama untuk mendapatkan teman, yang memuat 9 cara agar mudah disenangi orang lain. Mulai dari anjuran menghindari kebiasaan menyalahkan, mengomeli, dan mengkritik; berikan penghargaan kepada orang lain; beri dorongan untuk maju; berikan perhatian yang tulus ikhlas; tersenyumlah; sebutkan nama lawan bicara; jadilah pendengar yang baik; bicarakan hal yang diminati orang lain; sampai buatlah orang merasa sebagai very important person (VIP).
Kategori kedua untuk mendapatkan kerja sama antusias dari rekan kerja, berisi 12 cara. Mulai dari anjuran untuk menghindari debat kusir; hormatilah pendapat orang lain; kalau salah akui dengan simpatik; mulailah dengan ramah; upayakan respons ya, ya, dan ya; biarkan orang lain berbicara lebih banyak; buat orang merasa bahwa itu idenya; cobalah melihat dari sudut pandang orang lain; tunjukkan simpati para ide orang lain; imbau dengan motivasi agung dan mulia; dramatisir ide-ide Anda; sampai berilah tantangan untuk maju.
Dan kategori ketiga, berisi 9 cara menjalankan peran sebagai pemimpin yang menghargai manusia. Mulai dengan penghargaan yang jujur; beritahu kesalahan orang secara tidak langsung; akui kesalahan sendiri sebelum mengkritik orang; ajukan pertanyaan sebagai ganti perintah langsung; selamatkan muka orang; pujilah kemajuan sekecil apa pun; beri reputasi tinggi untuk dicapai; buatlah kesalahan tampak mudah diperbaiki; sampai buatlah orang lain senang melaksanakan ide Anda.
Dalam How To Stop Worrying, Carnegie juga menawarkan 30 tehnik mengatasi kecemasan dan kekhawatiran yang tak perlu. Mulai dari fakta-fakta fundamental yang perlu diketahui tentang kesedihan hati; teknik dasar menganalisis kesedihan hati; bagaimana menghancurkan kebiasaan bersedih hati; tujuh cara mengembangkan sikap mental agar hidup tenteram bahagia; cara paling sempurna untuk tak bersedih; cara menghadapi kritik orang; enam cara agar jangan lekas lelah; mencari pekerjaan yang membuat Anda bahagia; mengurangi kekhawatiran karena masalah keuangan; dan
seterusnya.
Jadi, ajaran Dale Carnegie bertumpu sedikitnya pada lima pilar utama. Pertama, jadilah kawan yang menyenangkan. Kedua, jadilah rekan kerja yang antusias. Ketiga, jadilah pemimpin yang efektif. Keempat, kuasailah cara mengatasi ketakutan, kekhawatiran, kecemasan atau kesedihan hati. Dan akhirnya, jadilah pembicara yang baik.
Buffett mendapatkan manfaat besar yang mengubah hidupnya dari ajaran tersebut. Anda?
*) Andrias Harefa, WTS adalah writer: 38 Best-selling Books; Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun, Pendiri www.pembelajar.com; Twitter @aharefa
Telah di baca sebanyak: 441
Tips Anya
May 4, 2012 by admin
Filed under Andrias Harefa, Kolomnis
Dulu ia sering tampil di layar kaca. Maklum saja. Tiga kata yang paling banyak digunakan untuk menggambarkan pekerjaannya adalah: model, pemain sinetron, presenter. Tingginya sedang saja, sekitar 160-an sentimeter. Wajah yang bulat telur membuatnya enak dipandang. Apalagi gerak bola matanya acap dinamis. Gadis Tiara Sunsilk (2002), Duta Keluarga Berencana dari BKKBN (2007), Duta Koperasi dan UKM (2010), dan Duta Diabetes Anak (2011) adalah sebagian dari prestasi yang pernah diraihnya. Anak bungsu dari Budhi Wibhawa dan Titien Tjasmo ini diberi nama Anya Dwinovita Pahlawanti, karena lahir di Jakarta saat peringatan Hari Pahlawan, 10 November 1982.
Kini frekuensi penampilannya di layar kaca relatif berkurang, kecuali untuk peran sebagai presenter yang memang dinikmatinya. Dunia persinetronan sudah ia tinggalkan sejak 2006, entah karena apa. Ke mana waktu dan pikirannya teralih?
“Jadwal yang saya utamakan adalah jadwal presenter atau MC atau tugas Duta saya karena untuk melakukan pekerjaan tersebut saya wajib hadir secara fisik. Setelah itu jadwal dari bisnis saya, karena secara fisik bisa saya wakilkan, sedangkan pemikiran dan keputusan-keputusan bisa melalui e-mail, telepon, BBM, dan teknologi lainnya uang sudah tersedia untuk mempermudah hidup kita. Lalu, barulah ‘me time’, termasuk untuk keluarga dan kegiatan pribadi saya,” paparnya di Kompas Kita, 27 Maret silam.
Anya Dwinov memang sudah mengalami transformasi. Hasratnya yang menggebu untuk mandiri secara finansial, telah membawanya ke dunia bisnis. Saat ini ia sudah memiliki tiga restoran di Jakarta dan Bali, serta sebuah usaha di bidang jasa perjalanan. Hotel kategori small luxury merupakan impian berikutnya, sebab “Saya ingin memiliki hotel kecil di mana saya bisa tinggal di sana sehingga sesekali bisa menyapa dan bersosialisasi dengan tamu sendiri”.
Usahanya di bidang restoran bekerja sama dengan karibnya sesama selebriti, Olga Lydia. Menurut Anya, memilih mitra kerja sangatlah penting untuk mengurangi berbagai risiko dalam berbisnis. Karena itu ia menyarankan, “Pilihlah mitra kerja yang ritme kerja dan pemikirannya sejalan. Pemilihannya dapat dimulai dari kawan yang sudah Anda kenal lama dan dekat. Meski pun tidak selalu menjamin, minimal kita sudah mengurangi risiko terkejut oleh cara berpikir dan ritme kerja orang yang baru kita kenal.” Sebuah nasihat yang bernas. Buktinya, Anya mengaku belum pernah mengalami kerugian dalam berbisnis.
Anya tidak saja punya tips dalam soal memilih mitra bisnis, tetapi juga dalam menabung. Ia menganjurkan langkah praktis agar uang beranak pinak, terutama untuk karyawan alias orang gajian. “Buka rekening di bank yang sama dengan rekening penerimaan gaji, tetapi jangan ambil fasilitas ATM, m-banking, e-banking, atau fasilitas apapun yang mempermudah uang itu keluar dari rekening tersebut. Setiap bulan begitu terima gaji, langsung transfer sekian persennya, bisa 10-30 persen, ke rekening celengan tersebut,” ujarnya.
Anya pernah mengaku suka membeli perhiasan, sebab katanya, “Saya termasuk orang yang kuno, jadi lebih nyaman berinvestasi pada hal-hal yang bisa saya pegang dan awasi sendiri. Hal-hal seperti investasi di saham, reksadana, dan sebagainya, bukan hal yang memikat saya saat ini. Jadi saya lebih nyaman menaruh uang di usaha yang bisa saya kelola dan jalankan sendiri, atau properti, atau di tabungan saja.”
Mengetahui bahwa Anya belum pernah rugi dalam berbisnis, pikiran saya langsung melayang pada kearifan yang dimuat buku The Tao of Warren Buffett (2006). Dikatakan disana, “Peraturan No.1: Jangan rugi. Peraturan No. 2: Jangan pernah lupa peraturan No.1.” Sebab rahasia terbesar untuk menjadi kaya adalah membuat uang berlipat ganda, dan semakin besar jumlah yang dimiliki di awal akan semakin baik.
Misalnya, $ 100,000 yang dilipatgandakan sebesar 15% selama 20 tahun akan berkembang menjadi$ 1,636,653, sehingga memberi Anda keuntungan $ 1,536,653. Namun, jika Anda kehilangan $ 90,000 dari modal Anda dan hanya dapat menginvestasikan $ 10,000 maka investasi Anda hanya akan menjadi $ 163,665 pada tahun ke dua puluh, dengan keuntungan $ 153,665 saja. Ini jelas angka yang jauh lebih kecil. Semakin besar kerugian Anda, semakin besar dampaknya terhadap kemampuan Anda untuk mendapatkan uang di masa mendatang. Inilah yang tidak pernah dilupakan Warren Buffett. Ini juga alasan dia tetap mengendarai mobil VW Beetle yang kuno, lama setelah dia menjadi multijutawan.
Warren Buffett, yang namanya selalu masuk dalam tiga orang terkaya di dunia itu, juga pernah mengatakan bahwa “Anda tidak dapat membuat kesepakatan yang baik dengan orang yang buruk”. Sebab orang buruk tetaplah orang yang buruk, dan mereka tidak akan memberi Anda kesepakatan yang baik.
Hal ini terkait dengan soal memilih mitra bisnis. Menurut Buffett, dunia ini memiliki cukup banyak orang yang baik dan jujur yang berhubungan bisnis dengan orang yang tidak jujur. Itu merupakan kebodohan. Bahkan jika Anda meragukan kejujuran seseorang, dengan bertanya di batin, “Apakah orang ini dapat dipercaya?” maka sebaiknya Anda mencari orang lain saja untuk berhubungan bisnis. Anda tidak ingin meragukan, apakah parasut Anda akan terbuka, ketika Anda akan segera melompat dari pesawat, bukan? Demikian juga Anda sebaiknya tidak meragukan integritas seseorang yang dengannya Anda akan melompat untuk memulai sebuah bisnis. Jika Anda tidak mempercayai mereka sekarang, Anda tidak akan dapat mempercayai mereka di kemudian hari. Jadi mengapa harus memulai hubungan bisnis bersamanya?
Sampai di sini, saya temukan Anya memiliki kedekatan pola pikir dengan Warren Buffet. Pertama dalam soal memandang kerugian. Dan kedua dalam soal memilih mitra bisnis. Ini membuat saya bertanya-tanya, akankah orang seperti Anya masuk daftar orang-orang terkaya di Indonesia pada dua puluh tahun ke depan?
Bagaimana pendapat Anda? Salam proaktif.
___________________
ANDRIAS HAREFA, WTS adalah writer: 38 Best-selling Books; Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun, Pendiri www.pembelajar.com; Twitter @aharefa
Lebay
April 11, 2012 by admin
Filed under Andrias Harefa, Kolomnis
“Camkanlah ini: siapa binasa dengan tidak bersalah? Dan di manakah orang yang jujur dipunahkan? Yang kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga,” kata Elifas kepada sahabatnya yang sedang dirundung malang tak berkesudahan.
Elifas, tokoh yang hidup lima ratusan tahun sebelum Masehi, percaya hukum tabur-tuai, hukum sebab-akibat, hukum daya tarik, law of attraction. Jika Anda baik, maka kebaikan akan menghampiri Anda. Jika Anda jahat, maka kejahatan akan mendekati Anda. Apa yang sering Anda pikirkan akan menjadi kenyataan. Jika Anda suka cemas, maka hal-hal yang mencemaskan akan datang berkunjung. Jika Anda berpikir sukses, maka jalan-jalan kesuksesan akan terhampar di hadapan Anda. Terdengar familiar?
Di dekade pertama abad ke-21 ini, cara pandangan Elifas kembali populer berkat orang-orang seperti John Assaraf, Michael Beckwith, Jack Canfield, James Arthur Ray, Bob Proctor, Joe Vitale, Lisa Nichols, Marie Diamond, dan guru-guru The Secret-nya Rhonda Byrne (2006). Dari Kanada, Michael J. Losier (2007) mengirimkan naskah yang sama dengan judul The Law of Attraction dan menegaskan: “I attract to my life whatever I give my energy, focus, and attention to, whether wanted or unwanted.” Sementara di Indonesia, kebanyakan pembicara dan mereka yang disebut sebagai motivator ikut menjual gagasan berusia dua setengah abad ini.
Tapi, ngomong-ngomong, kepada siapa Elifas sedang berbicara waktu itu? Apa persoalan yang sedang dihadapi sahabatnya, sehingga ia mengucapkan kalimat yang demikian?
Sahabat Elifas adalah tokoh sukses yang luar biasa kaya di zamannya. Ia memiliki segala ukuran kemakmuran pada masa itu: kambing, domba, unta, lembu, keledai, dan budak dalam jumlah yang sangat besar. Ia memiliki tujuh anak lakilaki dan tiga anak perempuan, yang semuanya hidup rukun satu sama lain. Dan yang paling mengesankan mengenai orang ini adalah: ia dikenal karena kesalehan, kejujuran, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan. Mencengangkan!
Di zaman sekarang, tokoh seperti sahabat Elifas ini sulit dicari. Kita mungkin mengenal 100 orang terkaya di Indonesia, tetapi siapa di antara mereka yang memiliki keluarga yang rukun dan harmonis? Atau kita mengenal orang-orang yang keluarganya harmonis, tetapi apakah mereka hidup berkelimpahan? Belum lagi ini, siapakah orang kaya yang bisa kita masukkan dalam kategori orang saleh dan jujur sekaligus? Mana yang lebih mudah kita temukan: orang kaya karena korupsi-kolusi-nepotisme atau orang kaya karena saleh dan jujur? Kembali ke sahabat Elifas, dan dengan memakai konsep law of attraction, maka apakah yang mungkin terjadi pada kehidupan orang yang sangat kaya, dengan keluarga yang sangat harmonis, dan dengan kesalehan dan kejujurannya itu? Jawabnya tentu: ia akan makin kaya, diberkati dengan kelimpahan, dan diberi kesehatan prima.
Namun sejarah mencatat yang lain. Orang terkaya ini tertimpa musibah beruntun. Lembu dan keledainya dirampok orang-orang Syeba dan budak-budaknya dibunuh. Pada tempat yang lain kambing, domba dan penjaganya disambar petir, terbakar, dan tewas. Unta-unta dan penjaganya dijagal orang-orang Kasdim. Dan angin badai menerpa rumah anak sulungnya ketika semua anaknya sedang menikmati jamuan makan, sehingga reruntuhan bangunan merenggut nyawa mereka semua. Seakan tak cukup, kebangkrutan harta dan kehilangan anak-anak tercinta, orang yang sudah bangkrut ini harus terkena penyakit kulit berbau busuk, dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Oh kita mungkin terperangah. Pengalaman Nabi Ayub, tokoh sahabat Elifas ini, sungguh tak cocok dengan konsep hukum sebab-akibat, law of attraction, berlawanan dengan semua nasihat pengajar The Secret. Kesalehan dan kejujuran tak membawa berkah, tapi justru mengundang musibah. Pikiran dan sikap positif tak menghasilkan dampak yang senada. Ke mana larinya semua getaran energi positif dari batin orang kaya yang saleh dan jujur itu? Ayub berada di lembah bayang-bayang maut, lembah kekelaman.
Apa responsnya? Minimal ada dua yang menarik. Pertama, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Yang kedua, “Apakah kita mau menerima yang baik Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?”
Jelas bagi Ayub bahwa semua hal yang terjadi di muka bumi merupakan penyelenggaraan Ilahi, tanpa kecuali. Ia sadar dirinya bukan pemilik, tapi pengelola saja dari semua yang dititipkan kepadanya. Ia menerima ketika yang bukan miliknya diambil oleh Sang Pemilik, sebab ia paham tak ada haknya untuk komplain. Hatinya tidak melekat pada berkat dan kemakmuran, tetapi pada Sang Pemberi berkat dan kemakmuran itu. Dalam keyakinannya akan kebaikan Tuhan, ia tak sungkan menerima apa yang dianggap orang sebagai hal yang buruk sekali pun. Sungguh kearifan yang melampaui law of attraction, mengatasi logika sebab-akibat, menembus batas-batas terapi berpikir positif dan ajaran positive mental attitude.
Apa pesan kisah Ayub dan Elifas? Kawan yang mempelajari kisah ini dengan saksama menawarkan pada saya tiga kunci emas: iman kepada Tuhan dalam segala keadaan, keterbukaan atas cara Tuhan bekerja yang sering tak sesuai pikiran dan kemauan kita, dan ketaatan akan pimpinan Tuhan karena tahu IA memberi yang terbaik bagi yang beriman kepadaNya, sesuai waktuNya sendiri.
Ia juga mengingatkan agar saya jangan lebay kalau menyemangati orang. Jangan menganggap law of attraction pasti benar, mutlak benar. Semua gagasan mengenai The Secret dan Law of Attraction itu lebay, berlebihan. Siapa saja yang hatinya bersih akan tahu bahwa hidup tak segampang hukum daya tarik. Acap hadir misteri Ilahi di sudut-sudut kejadian, ketika orang yang saleh ditimpa kemalangan dan orang jahat mendapat kemakmuran. Kita tak mengerti, tapi Tuhan tidak tidur. Jadi, sekali lagi, jangan lebay, please!
ANDRIAS HAREFA, WTS adalah writer: 38 Best-selling Books; Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun, Pendiri www.pembelajar.com; Twitter @aharefa
Telah di baca sebanyak: 399Resep Saya
November 7, 2011 by admin
Filed under Andrias Harefa, Kolomnis
“The illiterate of the 21st century will no be those who cannot read and write,but those who cannot learn, unlearn, and relearn.”
– Alvin Toffler
“Pak Harefa, Anda berulang kali menawarkan resep sukses dari para pakar pengembangan diri. Tetapi saya belum pernah membaca pengakuan Anda mengenai resep sukses yang mana yang Anda yakini, yang Anda pergunakan untuk diri sendiri. Bolehkah saya tahu?” tanya seorang kawan pembaca setia kolom ini. Ia seorang manajer di sebuah perusahaan swasta terkemuka, yang menangani departemen sumberdaya manusia (saya lebih suka kalau departemen semacam ini diubah konsepnya menjadi departemen pengembangan harkat dan martabat manusia).
“Oh tentu saja boleh,” jawab saya nyaris spontan. “Resep sukses yang saya pergunakan dalam hidup saya adalah yang paling banyak diyakini manusia di muka bumi.”
“Apa itu, pak?” suaranya antusias.
“Ijinkan saya mengajukan tiga pertanyaan yang membantu Anda untuk mengingat kembali bahwa Anda pun meyakini resep sukses yang satu ini, karena memang terbukti sangat powerful,” kata saya berteka-teki.
“Mengapa banyak orangtua berjuang keras untuk menyekolahkan anak-anaknya?”
“Karena pendidikan itu penting.”
“Bagus. Lalu mengapa tiap negara memiliki Menteri Pendidikan (dan Kebudayaan)?”
“Ya, untuk membantu pimpinan pemerintahan mengurusi soal pendidikan yang penting itu,” suaranya mantap.
“Benar sekali. Dan mengapa sejumlah sarjana ngotot melanjutkan studi ke jenjang magister atau master, bahkan sampai ke tingkat doktoral; sementara sebagian sarjana yang lain rajin berburu program sertifikasi profesional?”
“Ya, saya kira, karena mereka ingin mengembangkan diri. Atau ingin meningkatkan kariernya, mengejar cita-cita sesuai dengan makna sukses bagi dirinya,” jawab kawan tersebut sambil mencoba menebak arah pemikiran saya.
“Benar. Semua jawaban Anda benar. Sebagian besar orang, sangat sadar bahwa jalan menuju kehidupan yang lebih baik itu adalah pendidikan dan pembelajaran. Itulah sebabnya banyak orangtua bekerja keras untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah terbaik. Mereka ingin anak-anaknya kelak berhasil menjadi orang sukses. Itulah sebabnya setiap negara menugaskan seorang menteri untuk membangun presiden atau perdana menteri mengurusi soal-soal pendidikan dan kebudayaan. Sebab tiap negara ingin menjadi negara yang maju dan berpengaruh di kancah internasional. Itulah pula sebabnya, sejumlah sarjana mengejar pendidikan yang lebih tinggi atau mengambil program sertifikasi. Jadi, pendidikan atau belajar telah dipahami hampir semua orang sebagai the master key to success,” tegas saya.
“Tapi pak, sejumlah tokoh yang saya kenal karena keberhasilannya, ternyata bukan sarjana. Bill Gates, Larry Allison, Michael Dell, dan yang membuat facebook, semuanya bukan sarjana. Anda juga pernah menulis sekitar 15 tokoh yang meraih keberhasilan tanpa pendidikan formal dalam buku Sukses Tanpa Gelar, termasuk Susi Pudjiastuti, Kusnadi, Steve Geppi, Andrie Wongso, dan sebagainya,” bantah kawan saya itu. Ia tak puas dengan jawaban yang baginya terlalu sederhana. Mungkin ia berpikir bahwa resep sukses itu mestinya harus “luar biasa”.
“Lho, tadi Anda bertanya mengenai resep sukses yang saya yakini. Yang saya yakini ya itu tadi. Untuk sukses itu orang perlu belajar. Itulah intinya. Itulah akar semua resep sukses lainnya. Artinya, dengan “belajar” semua kunci sukses yang lain akan berguna; namun jika “tidak belajar” maka kunci sukses dari mana pun tidak akan berguna sama sekali,” ujar saya mengingatkan. Kalau bertanya resep sukses yang saya yakini, mestinya saya boleh bicara sesuka saya, bukan?
Namun, sadar bahwa kawan saya itu merasa kurang puas, maka saya melanjutkan, “Kita perlu membedakan antara belajar dengan pendidikan formal. Tanpa pendidikan formal, tanpa sekolah sampai tingkat universitas, orang memang bisa berhasil. Namun itu karena ia menemukan cara belajar yang lain, cara belajar di luar sekolah, cara belajar di kehidupan nyata. Thomas Alva Edison hanya bersekolah formal 3 bulan. Namun ia belajar dengan sangat giat dan gigih dalam asuhan Nancy Elliot ibunya. Bill Gates, Larry Allison, Michael Dell, dan Mark Zuckerberg yang menciptakan facebook, memang bukan sarjana dalam arti tradisional. Tetapi saya kira tidak ada yang menganggap mereka sebagai orang yang tidak berpendidikan. Sebab pendidikan juga memiliki dimensi luar sekolah, luar universitas, yakni pembelajaran dalam konteks kehidupan nyata.
Kalau kita meminjam istilah-istilah konvensional seperti pendidikan, maka ada kategori pendidikan formal, yakni dunia persekolahan dan universitas; lalu ada pendidikan non-formal, yakni dunia kursus dan pelatihan; dan ada juga pendidikan informal, yakni lewat interaksi sosial di masyarakat. Mereka yang tidak punya kesempatan dalam pendidikan formal, jika kuat belajar lewat jalur non-formal dan informal, juga bisa berhasil seperti halnya tokoh-tokoh yang sukses tanpa gelar itu. Jalan keberhasilan tanpa gelar itu saya sebut jalan kreativitas. Sebab, hemat saya, kreativitaslah yang bisa mengalahkan pendidikan formal.
Lalu, kalau kita menggunakan istilah-istilah abad ke-21 seperti pembelajaran, maka kunci utama untuk sukses itu adalah learn, unlearn, dan relearn sebagaimana disebutkan futurolog kondang Alvin Toffler puluhan tahun silam,” begitu penjelasan saya panjang lebar.
“Maksudnya apa itu, pak? Apa bedanya learn, unlearn, dan relearn?” minat kawan saya muncul kembali. Wajahnya nanpak serius dan siap menerima kata-kata yang akan saya ucapkan.
“Sudah saya jelaskan dalam buku saya yang ke-37. Judulnya MINDSET THERAPY: Terapi Pola Pikir –— tentang Makna Learn, Unlearn, dan Relearn (Gramedia, 2010). Itulah yang saya sebut the master keys to success. Anda baca saja dulu, nanti kita diskusikan lagi ya,” saya menutup percakapan tersebut.
*) Andrias Harefa WTS. Penulis 38 Buku Best-Seller. Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 Tahun. Pendiri www.pembelajar.com. Profil lengkap bisa diakses di www.andriasharefa.com
Telah di baca sebanyak: 334












