training motivasi – pelatihan menulis – training for trainer – publik speaking – andrias harefaNews Feedtraining motivasi – pelatihan menulis – training for trainer – publik speaking – andrias harefaComments Subscribe to training motivasi – pelatihan menulis – training for trainer – publik speaking – andrias harefaSitemap

Kendal(i) Atas Kendal(a) Diri


Di antara ribuan klien yang dilayani IISA Assessment Centre, terdapat sekitar lima puluhan klien yang berasal dari kalangan family business. Sebagian besar klien dari kluster ini memiiki persoalan yang hampir seragam: bagaimana membuat keputusan “suksesi kepemimpinan” perusahaan, yakni keputusan berkenaan dengan siapa yang kelak bakal menjadi penerus estafet kepemimpinan bisnis keluarga.

Dua pihak yang terlibat dalam proses suksesi ialah pertama, the founder (pendiri, ayah atau ibu) dan kedua, the successor (penerus, anak). The founder umumnya mempersepsikan atau mengenali kandidat successsor sebagai pribadi yang kompeten pada bidang keahlian sebagaimana sudah dipersiapkan lewat bidang studi atau pelatihan, sehingga tak ada alasan yang memberatkan untuk tidak memasang sang kandidat pada posisi direksi. Sebaliknya, para founder ini umumnya mengeluhkan buruknya kinerja para kandidat yang diungkapkan dengan sebutan “malas dan lembek”.

Kemalasan dan kelembekan ini dijabarkan sebagai kecenderungan menunda, pembawaan yang moody, ketakutan mengambil risiko, pembiaran diri berada dalam konflik kepentingan, kekakuan cara penyelesaian, kelemahan manajemen waktu, ketaklengkapan informasi lapangan, rendahnya daya determinasi diri, ketakutan dipersalahkan, dan ketidakseriusan mengurus hal yang belum familiar.

Hasil asesmen secara umum terhadap klaim “kompeten tapi malas dan lembek” menunjukkan bahwa para kandidat umumnya berada pada tingkatan memadai hingga tinggi pada kecerdasan Logika Matematika, Logika Bahasa, Spasial, Musik, Interpersonal, dan Naturalistik; lemah pada kecerdasan Kinestetik dan Eksistensial; namun umumnya paling lemah dalam kecerdasan Intrapersonal. Kisah nyata para tokoh berikut (bukan nama sebenarnya) menggambarkan permasalahan yang saya angkat.

Kendal(a) Di Dalam Diri
Pak Wardana, seorang pengusaha mebel sukses di kawasan Pasar Mebel Bukir, Pasuruan, Jawa Timur; mempunyai seorang anak tunggal bernama Benny Wirawan. Bagi Pak Wardana, Binar, begitu nama panggilan akrab Benny Wirawan, adalah sosok anak yang sangat menyenangkan dalam pergaulan dan pandai mengambil hati, meski sering membuat kesal karena sifat malasnya yang luar biasa. Obsesinya, bagaimana agar Binar kelak menjadi pekerja keras dan bertanggung jawab. Pertama-tama, Pak Wardana menginginkan Binar menyadari betapa tinggi nilai kerja.

Suatu hari pada pukul 2 siang, Pak Wardana memanggil anaknya dan berkata: “Binar, hari ini, Ayah ingin kau pergi keluar, terserah kau mau mengerjakan apa; yang penting kau harus membawa pulang sesuatu senilai dua puluh lima ribu rupiah. Jika kau gagal, kau tak boleh menikmati makan malam untuk hari ini.”

Binar tampak kebingungan dan kehilangan akal karena selama ini tak pernah mengerjakan satu pun jenis pekerjaan sebelumnya, apalagi yang menghasilkan upah senilai dua puluh lima ribu rupiah dalam beberapa jam. Karena ketakutan terhadap tuntutan ayahnya, ia menghampiri ibunya dengan isak tangisnya sambil menceritakan tugas yang dibebankan ayahnya. Ibunya tak tega dan luluh hati begitu melihat deras air mata membasahi kedua pipi anak semata wayangnya. Sejenak Bu Wardana kebingungan, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Kemudian ia menawarkan bantuan dengan memberinya emas batangan berbobot 25 gram.

Pada malam hari, ketika Pak Wardana menanyakan kepada Binar apa saja yang telah ia peroleh, Binar segera secara sopan mengeluarkan batangan emas dari dalam sakunya dan menyerahkan kepada ayahnya. Tanpa komentar, Pak Wardana langsung meminta Binar untuk membuang batangan emas itu ke dalam sumur belakang rumah dan Binar pun melakukan seperti yang diperintahkan ayahnya.

Sebagai businessman berpengalaman, Pak Wardana tahu, batangan emas itu bukan hasil kerja keras anaknya, tapi pemberian istrinya. Hari berikutnya Pak Wardana meminta istrinya ke Surabaya untuk menjenguk orangtuanya. Sepeninggal istrinya, ia meminta Binar pergi keluar dan mendapatkan sesuatu senilai seratus ribu rupiah dengan ancaman tidak boleh makan malam jika ia gagal.

Kali ini Binar pergi menangis dan mendatangi kakak sepupunya yang bersimpati dan memberinya seratus lembar ribuan dari tabungannya sendiri. Ketika Pak Wardana bertanya kepada Binar apa yang telah ia peroleh, anak laki-laki yang sangat ia sayangi itu tiba-tiba melempar segepok uang kertas yang terdiri dari seratus lembar uang ribuan. Pak Wardana sedikit terperanjat atas ulah anaknya, namun langsung memerintahkannya untuk membuang gepok uang itu ke dalam sumur belakang rumah. Meski dengan bersungut, Binar melakukan hal sebagaimana diperintahkan ayahnya.

Pak Wardana tahu dari mana asal uang yang baru saja diserahkan Binar. Keesokan harinya ia mendatangi kemenakan perempuannya dan mengganti sejumlah uang yang sudah ia serahkan ke Binar. Setelah itu, ia kembali meminta anaknya untuk pergi keluar dan mendapatkan apa pun senilai seratus dua puluh lima ribu rupiah dengan ancaman yang sama: Binar tidak boleh makan malam jika ia tak membawa pulang apa pun!

Kali ini, karena Binar tidak dapat mendatangi seorang pun dari orang-orang dekat untuk ia mintai pertolongan; terpaksa ia pergi ke pasar untuk mencari pekerjaan. Ia mendatangi salah seorang pemilik toko yang menjanjikan bahwa ia akan membayarnya lima puluh ribu rupiah jika ia berhasil mengangkut setengah isi gudang di tokonya ke gudang di rumah pribadinya yang berjarak sekitar dua kilometer dari toko. Binar, anak pengusaha mebel kaya itu, tidak bisa menolak tawaran ini dan harus bermandi keringat pada saat ia menyelesaikan pekerjaannya. Kakinya gemetaran, leher dan punggungnya kesakitan. Tampak bilur-bilur dan bekas bercak darah di punggungnya. Telapak tangannya kasar dan melepuh kapalan.

Ketika ia kembali ke rumah dan mengeluarkan dua lembar lima puluh ribu di hadapan ayahnya, sang ayah memintanya untuk membuangnya ke sumur. Binar menangis tersedu dan hampir berteriak menolak keras permintaan ayahnya. Dia tidak bisa membayangkan harus melemparkan uang yang ia peroleh dengan seluruh perasaan, darah, dan keringatnya. Dia mengatakan di tengah tangis sedu tangisnya: “Ayah! Seluruh tubuhku sakit. Aku pulang dengan bilur dan bercak darah dan Ayah memintaku untuk melemparkan uang ke dalam sumur?!”

Serta merta Pak Wardana tersenyum. Dia mengatakan kepada anaknya bahwa orang baru merasakan rasa sakit bahkan sakit hati bila buah kerja kerasnya dianggap sia-sia. Pada dua kesempatan sebelumnya Binar dibantu oleh ibunya dan saudara sepupu perempuannya dan karena itu tidak punya rasa sakit, pun tak merasa tersinggung ketika harus melempar perolehannya ke dalam sumur.

Mengenali Kendal(i) Diri
Kejadian Binar sebagaimana saya ceritakan sering kita alami, meski belum tentu kita sadari. Kita sering kehilangan “binar dalam diri” lantaran kita tak mengenali dan gilirannya gagal mengendalikan kendala dalam diri kita. Kendala diri adalah faktor intrinsik yang secara mekanistik mendorong dan menciptakan kegagalan dan gilirannya menjudulkan kegagalan ini sebagai alasan melindungi rasa inkompetensi kita. Dorongan ini biasanya berupa, “tindakan membiarkan tak dihasilkannya kinerja yang lebih baik semata, demi dapat menjaga citra diri yang positif”.

Kendala diri didorong oleh keharusan melindungi citra diri. Menurut Berglas dan Jones (1978), kegagalan seseorang mengerjakan tugas penting lebih sering disebabkan oleh kendala dalam diri daripada ketakmampuan orang tersebut. Kendala diri dapat melindungi citra diri dalam jangka pendek, meski penelitian menunjukkan bahwa hal ini justru menyita biaya psikosomatik jangka panjang, seperti memburuknya kesehatan dan menurunnya tingkat kepuasan tentang kompetensi diri. Seorang yang mengalami kendala diri berusaha mengubah konsep diri agar sesuai dengan perilaku sehingga menghasilkan label diri sebagai diri yang pemalu, depresif, pemabuk, mudah tersinggung, dan sebagainya.

Hasil penelitian Edy Suhardono (2008) pada data para klien IISA Assessment Centre menunjukkan, tingginya tingkat kendala diri seseorang berkorelasi dengan rendahnya tingkat kecerdasan intrapersonal, yakni kecerdasan yang bertanggung jawab terhadap kapabilitas pembuatan keputusan, daya determinasi diri, kesadaran/refleksi diri, dan daya intuisi. Adapun kecerdasan intrapersonal yang rendah berhubungan dengan pengalaman penolakan (unwantedness) yang dialami janin pada masa perkembangan prenatal (dalam kandungan).

Apakah Anda punya kecenderungan menunda penyelesaian suatu tugas yang sudah sekian lama Anda rencanakan, punya pola emosi yang cenderung moody, sering takut mengambil risiko, dan sering berada dalam konflik kepentingan? Anda cenderung bersikap kaku ketika menempuh cara penyelesaian, lemah dalam manajemen waktu, dan menghindari rincinya informasi? Anda lemah dalam daya determinasi diri, cenderung takut dipersalahkan, dan gampang meremehkan suatu urusan?

Kenali kendala diri Anda lewat sejarah prenatal Anda. Dengan mengenali, Anda lebih mudah mengendalikan dan melakukan terapi untuk diri Anda sendiri.

*) Penulis adalah Executive Director pada IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Email: iisa@visiwaskita.com. Artikel ini dimuat di Majalah Motivasi LuarBiasa, November 2009.

Telah di baca sebanyak: 372

Trans(aksi) vs Inter(aksi)

Di kawasan pemukiman Padepokan Molek, nun jauh dari keramaian kota Baharu, awalnya hanya tinggal seorang pemilik kavling bernama Denny. Setahun kemudian muncul dua pembeli kavling baru, Errol dan Freddy, yang masing-masing datang dengan uang cash sebesar sepuluh juta rupiah.

Dengan jumlah uang yang dimiliki, Errol membeli kavling milik Denny; sementara Freddy membeli satu kavling langsung dari pengembang dengan harga sepuluh juta rupiah. Dengan demikian, keseluruhan jumlah aset nyata ketiga orang di Padepokan Molek selama tahun pertama adalah tiga puluh juta rupiah.

Setahun kemudian Freddy berpikiran lain. Dengan hanya satu kavling saja, dirinya tak punya keleluasaan berproduksi. Ia memutuskan untuk meminjam sepuluh juta rupiah dari Denny, dan setelah menjual asetnya ia membeli tanah dari Errol dengan harga dua puluh juta rupiah. Karena Denny meminjamkan sepuluh juta rupiah kepada Freddy, kini aset bersihnya adalah sepuluh juta rupiah.

Dengan menjual tanahnya kepada Freddy, Errol tinggal memiliki aset dua puluh juta rupiah. Sedang Freddy, dengan kavling seharga dua puluh juta rupiah tetapi dengan utang sebesar sepuluh juta rupiah pada Denny, ia memiliki aset bersih sebesar sepuluh juta rupiah. Dengan demikian, dalam dua tahun pertama aset yang dimiliki ketiga penghuni Padepokan Molek adalah empat puluh juta rupiah.

Godaan dan Kekhawatiran
Setahun kemudian, Denny menangkap tren bahwa nilai kavling terus meningkat sehingga merasa menyesal mengapa ia telanjur menjual kavlingnya. Tergoda memiliki aset dua puluh juta rupiah, yakni dari uang penjualan kavlingnya sebesar sepuluh juta rupiah dan uang yang dipinjamkannya kepada Freddy sepuluh juta rupiah, ia mencoba mendekati Errol untuk meminjam uang sebesar dua puluh juta rupiah guna memiliki lagi kavling tanah yang sudah dijualnya kepada Freddy dengan harga tiga puluh juta rupiah. Pembayaran dilakukan secara cash, yakni sebesar dua puluh juta rupiah, dan dari penghapusan status utang Freddy kepadanya sebesar satu juta rupiah.

Dengan demikian, Denny memiliki kavling tanah seharga tiga puluh juta rupiah; namun karena ia meminjam uang dari Errol sebesar dua puluh juta rupiah, maka aset bersihnya hanyalah sepuluh juta rupiah. Sementara, Errol yang meminjamkan uangnya ke Denny, memiliki aset dua puluh juta rupiah; sedang Freddy tetap memiliki aset sebesar dua puluh juta rupiah. Jadi, selama tiga tahun pertama, keseluruhan aset dari tiga orang penghuni Padepokan Molek telah berkembang dari tiga puluh juta rupiah menjadi lima puluh juta rupiah. Pertumbuhan yang luar biasa!

Terjadilah mekanisme pasar biasa. Melihat akselerasi harga tanah, Errol pun tergoda memiliki kavling tanah. Karenanya, ia membeli tanah dari Denny dengan harga empat puluh juta rupiah. Pembayaran dilakukan dengan meminjam dua puluh juta rupiah dari Freddy dan membatalkan status berutang Denny. Karena sudah tak lagi punya utang pada Errol, Denny pun kini memiliki aset bersih dua puluh juta rupiah. Dengan kavlingnya Errol memiliki aset empat puluh juta rupiah, namun karena masih berutang pada Freddy, aset bersihnya hanya dua puluh juta rupiah.

Aset dari keseluruhan penghuni Padepokan Molek selama empat tahun adalah enam juta rupiah. Betapa pun, sebenarnya di sana hanya terdapat dua kavling aktif dengan jumlah sirkulasi uang sebesar dua puluh juta rupiah.

Suatu hari, muncul kekhawatiran pada diri Freddy. Menurutnya, perkembangan harga kavling tanah telah mendekati titik kulminasi. Ia menaksir, Errol tak mungkin sanggup membayar utang kepadanya. Dengan data bahwa sirkulasi di kawasan Padepokan Molek hanya berada pada kisaran dua puluh juta rupiah, ia memperkirakan harga kavling Errol tak lebih besar dari nilai sepuluh juta rupiah. Kekhawatiran yang sama pun meliputi diri Denny. Akibatnya, tak seorang pun berencana melakukan transaksi tanah kavling.

Psikologi Uang, Psikologi Pengharapan
Pada posisi terakhir Denny memiliki aset dua puluh juta rupiah. Sedang Errol mengelola total empat puluh juta rupiah, yakni dua puluh juta rupiah yang ia pinjam dari Freddy dan dua kavling tanah senilai dua puluh juta.

Errol sangat berharap asetnya dapat tumbuh menjadi empat puluh juta rupiah. Apa lacur, kenyataannya asetnya tak lebih hanya sepuluh juta rupiah; gara-gara Freddy mendesaknya mengembalikan utangnya yang dua puluh juta rupiah dengan alasan bahwa uang ini telah menjadi piutang yang tak berkepastian masa depan. Benar bahwa aset bersih Freddy masih dua puluh juta rupiah, tapi apalah artinya aset sebesar ini ketika ia dirundung kegelisahan dan rasa ketidakpastian? Akhirnya, pada tahun kelima keseluruhan aset ketiga penghuni Padepokan Molek menyusut kembali menjadi tiga puluh juta rupiah!

Pertanyaannya, mengapa tiga puluh juta rupiah aset penghuni Padepokan Molek itu seolah raib begitu saja? Apakah karena sikap kemaruk seorang Errol yang menganggap bahwa asetnya niscaya menjadi empat puluh juta rupiah? Bukankah sebelum kolaps, aset keseluruhan penghuni Padepokan Molek sempat mencapai lima puluh juta rupiah di atas kertas?

Pada akhirnya tak ada pilihan lain bagi Errol ketika Freddy memintanya mengembalikan dua puluh juta rupiah dalam bentuk kavling, pun kavling dihargai hanya senilai sepuluh juta rupiah. Denny adalah pemenang karena dialah satu-satunya penghuni yang tetap memiliki aset dua puluh juta rupiah. Errol bangkrut lantaran kehilangan hampir semua asetnya karena terpuruk oleh psikologi pengharapannya.
Freddy pun tak punya pilihan selain melepaskan tanahnya seharga hanya sepuluh juta rupiah. Dengan demikian, aset keseluruhan di Padepokan Molek menjadi tinggal hanya tiga puluh juta pada akhir tahun kelima. Denny menjadi sang pemenang (the winner), Errol sang pecundang (the loser), dan Freddy menjadi “si hanyut yang beruntung” (the lucky) karena ia mengalir saja mengikuti alur permainan pasar.

Jika cerita ini diekstrapolasikan sebagai realita perekonomian sebuah negeri, kira-kira dapat ditarik premis berikut:

Manakala situasi perekonomian negara kondusif, aktivitas perputaran uang di antara warga negara pun meningkat pesat seturut alir psikologi uang/pengharapan. Pertumbuhan tetap dapat berlangsung bahkan ketika negara tak melakukan transaksi antarnegara –-misalnya Iraq ketika diembargo Amerika Serikat– sehingga logika ini mengabaikan faktor utang luar negeri.

Apakah lantas suatu bangsa dapat terbebas dari siklus utang luar negeri? Mengingat bahwa pembobotan aset diperhitungkan cukup berdasarkan pada apa yang terjadi di dalam negeri, maka dalam kondisi ekonomi stabil para pemenang adalah mereka yang mengikuti alur logika cash; para pecundang adalah para lintah darat, pedagang uang, dan tuan tanah yang sangat mengandalkan nilai aset yang bersifat timbul-tenggelam, namun menentukan kemakmuran dan kebangkrutan bangsa.

Teori supply-demand mengasumsikan bahwa pasar sangatlah kompetitif, di mana meski pasar melibatkan banyak penjual dan pembeli, namun mereka tak memiliki kemampuan untuk secara signifikan memengaruhi harga barang dan jasa. Kenyataannya berkata lain, di mana terdapat individu atau pembeli/penjual yang sangat memiliki kemampuan memengaruhi psikologi harapan. Bukankah kemenangan SBY-Boediono berhasil menaikkan sentimen pasar?

Logika ekonomi mainstream tak dapat meremehkan berbagai bentuk gerakan sosial yang terbukti mampu menggagalkan logika pasar dan mengakibatkan alokasi sumber daya yang suboptimal. Kendati pembuat kebijakan ekonomi berusaha untuk menghindari intervensi langsung pemerintah melalui peraturan yang dapat membuat pasar konsisten dengan tujuan kesejahteraan optimal, tampaknya yang tetap berlaku konsisten adalah tindakan kolektif hasil pilihan masyarakat. Hubungan antara harga dan kuantitas akhirnya menjadi rangkaian pilihan yang ditentukan berdasarkan tingkat kesejahteraan tertinggi yang dihayati khalayak warga.

Dalam logika ini, faktor penentu taraf kesejahteraan bukanlah transaksi pasar yang selama ini berada di bawah kendali luar negeri/global, tetapi oleh capaian internal yang mampu membawa kebaikan warga. Dalam logika ini, bukan transaksi mendikte interaksi, sebaliknya interaksilah yang menentukan arah transaksi.

*) Executive Director pada IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Email: iisa@visiwaskita.com. Artikel ini dimuat di Majalah Motivasi LuarBiasa, Oktober 2009.

Telah di baca sebanyak: 340

(De)sain Masa Depan


Desain suatu produk atau layanan adalah penentu yang memengaruhi ragam dan tingkatan kesejahteraan masyarakat di masa depan melalui berbagai cara. Desain berpengaruh dan beredar secara kompetitif, seolah “senjata” yang melekat pada strategi bisnis. Desain menjadi juga semacam jembatan antara perusahaan dan konsumen dalam format interaksi interpersonal seperti: pertemanan, kepercayaan, keterandalan, bahkan pengakuan.

Di sisi lain, kepekaan menangkap efektivitas sebuah desain sangat bergantung pada tingkat kecerdasan interpersonal seseorang, salah satu komponen kecerdasan yang memampukan sang penanggap mempersepsi tingkat kritikalitas suatu kebutuhan, keinginan, gelagat, dan hasrat orang lain dalam rentang waktu tertentu. Makin tak pasti dan makin penting pemenuhan suatu kebutuhan, makin kritis kebutuhan, dan makin tinggi bobot desain yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan itu.

Jadi, desain yang futuristik adalah yang mampu menjawab kebutuhan kritis: kebutuhan yang sangat penting sekaligus sangat tak pasti sebagaimana saya sentilkan melalui cerita berikut.

Bubur Telanjur
Kala mengulang membaca buku “Catatan Seorang Demonstran”, yang tak lain adalah catatan harian mendiang Soe Hok Gie, adik Arief Budiman; saya teringat kejadian sekitar 26 tahun silam. Salah seorang sobat saya, yang juga pendaki gunung seperti Soe Hok Gie, meninggal secara misterius di saat mendaki gunung Sumbing, Jawa Tengah.

Seingat saya, ia berangkat mendaki gunung dalam suasana keputusasaan sejak orangtuanya menolak keras hubungan asmaranya dengan seorang bekas adik kelas SMA, yang tak melanjutkan kuliah dan bekerja mandiri sebagai penjahit pakaian seragam sekolah.

Sobat saya pergi mendaki tanpa pamit sehingga kedua orangtuanya sempat mendatangi tempat indekos saya, menanyakan keberadaannya. Empat jam setelah waktu keberangkatan pendakian, ayahnya berhasil menelepon sobat saya melalui nomor telepon pos SAR terdekat.

“Pak, Bu, saya akan pulang ke rumah setelah pendakian ini, tetapi saya akan memohon sesuatu. Saya akan pulang membawa seorang teman.”

“Kenapa tidak? Boleh… silahkan saja,” ayahnya menjawab, “Tapi, Bapak dan Ibumu mau menemui temanmu lebih dulu sambil menjemputmu seusai kau selesai pendakian.”

“Ada yang Bapak dan Ibu harus tahu tentang teman saya itu,” lanjut sobat saya.

“Apa itu, Nak? Bapak Ibumu boleh tahu?”

“Mungkin karena ketidakhati-hatiannya, ia sempat terpeleset dan terperosok jatuh ke jurang, kepalanya membentur batuan terjal, sehingga sekarang bukan saja ia kehilangan lengan tangan dan kaki kiri, tetapi juga kesadarannya. Kabar terakhir yang saya terima, setengah jam lalu ia mengigau dan mengatakan ingin tinggal bersama saya di rumah kita.”

Hampir semenit tak terdengar kata-kata di telepon, kecuali beberapa kali helaan nafas panjang dari ayahnya.

“Bapak turut sedih sekali mendengar itu. Mungkin kita dapat membantunya untuk menemukan suatu tempat tinggal.”

“Tidak, Pak, Bu, saya ingin dia tinggal bersama kita.”

“Nak,” kata ayahnya, “Kau tak tahu apa yang sedang kau minta. Seseorang dengan cacat seperti itu akan menjadi beban berat bagi kita sekeluarga. Kita punya kehidupan kita sendiri, dan kita tidak dapat membiarkan soal seperti ini mengganggu kehidupan kita. Aku rasa kau harus langsung pulang setelah acara pendakianmu dan lupakan saja temanmu itu. Dia akan menemukan jalan hidupnya sendiri.”

Serta-merta sambungan telepon terputus.

Empat hari kemudian, orangtua sobat saya menerima panggilan dari kepolisian Temanggung. Dikabarkan, anak laki-lakinya telah meninggal setelah jatuh terpeleset masuk jurang saat turun dari pendakian. Polisi mensinyalir, almarhum melakukan bunuh diri.

Dengan hati hancur, kedua orangtua sobat saya bersama saya dan puluhan teman dekat mengambil jenazah dari lokasi, selanjutnya membawanya ke rumah sakit Magelang untuk mengidentifikasi kondisi mayat yang masih terbungkus plastik warna standar SAR.

Ketika jenasah dikeluarkan dari pembungkus, kami masih dapat mengenalinya, tetapi Bapak dan Ibunya tiba-tiba berteriak histeris ketika menemukan suatu keganjilan: jasad anak laki-laki mereka memiliki hanya satu lengan dan satu kaki sebelah kanan.

Saya merasakan, betapa remuk hati kedua orangtua itu. Yang ada tinggal penyesalan. Nasi dambaan mereka telah menjadi bubur telanjur.

(A)sain Versus (De)sain
Tanggapan kebanyakan orangtua atas permintaan anak sebagaimana cerita di atas bukan hanya menjadi gejala umum yang terjadi di kalangan para orangtua jaman ini, tetapi juga mencerminkan pola tanggap kita saat menghadapi perkara yang memiliki efek kritis: SANGAT PENTING tetapi sekaligus SANGAT TIDAK PASTI bagi masa depan.

Penolakan orangtua bersinggungan langsung dengan kadar vested interest dan ketidakpastian menghadapi masa depan. Kedua hal —tingginya bobot kepentingan dan ketakpastian—mengejawantah bukan dalam dalam ketersamaran (de)sain, meski dirancukan seolah sebagai kejelasan (a)sain atau tetapan.

Menurut Dino Dini, kekuatan desain terletak pada sejauh mana ia berkontribusi terhadap pengelolaan dua jenis kendala: kendala yang negotiable dan non-negotiable. Oleh sebab itu, langkah pertama proses mendesain adalah mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan memilih kendala. Mendesain kursi, misal, harus mendukung berat badan tertentu yang merupakan kendala non-negotiable namun kritis: sangat penting namun juga sangat tidak pasti. Mendesain kursi juga harus mendukung tuntutan biaya produksi, bahan baku atau kualitas estetis yang ketiganya negotiable, dalam arti bisa bersifat penting atau tak penting namun sudah jelas pasti.

Kita mudah terpaku pada kebiasaan dan kemapanan yang terkesan menyenangkan di masa kini namun sebenarnya bersifat negotiable, sebaliknya menolak fluktuasi dan ketidaknyamanan karena ketiadaan jaminan masa depan yang justru non-negotiable. Kita berusaha menjauhkan diri dari orang-orang sakit, berpenampilan tak menarik, atau berstatus sosial-ekonomi rendah, semata karena argumentasi bahwa mereka tak produktif dan akan hanya menjadi parasit yang mengancam kehidupan kita.

Padahal, jika kondisi-kondisi tersebut ada dalam diri kita, kita berharap agar orang lain tak memperlakukan diri kita sebagai si sakit, si buruk, atau si miskin. Kita berharap seseorang mau mengasihi kita dengan kasih yang tak bersyarat dan menyambut kita ke dalam keluarga mereka selamanya, tanpa memperhatikan bagaimana kita berterima kasih.

Pemikiran bahwa yang nyaman dan mengenakkan adalah untuk “diri sendiri” sementara kondisi yang sebaliknya untuk “diri lain” merupakan sebuah konklusi logik yang pada dirinya mengandung contradictio in termine tentang hakekat diri. Di sana tak terjadi konsistensi pemikiran tentang “diri”. Inkonsistensi pemikiran ini juga mengandung kesalahan mengidentifikasikan mana kendala yang negotiable dan non-negotiable.

Benar bahwa masa depan kita ditentukan oleh desain yang kita putuskan di bursa pasaran ide. Namun faktor yang lebih menentukan bagi masa depan kita adalah cara kita mendesain: mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan memilih kendala yang sangat penting namun sangat tidak pasti bagi masa depan.

*) Executive Director pada IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Email: iisa@visiwaskita.com. Artikel ini dimuat di Majalah Motivasi LuarBiasa, No. 8, Agustus 2009.

Telah di baca sebanyak: 272

(Mod)èl, Bukan (Mod)al Personal

Para futurists adalah mereka yang berusaha memecahkan masalah sembari mengubah perilaku sesuai dengan perspektif masa depan. Mereka konsisten mengerjakan apa yang mereka katakan, menyadari kebutuhan yang paling relevan dengan perubahan, dan rela berkorban demi mempertajam visi mereka. Tindakan yang mereka ambil didasarkan lebih pada informasi sebab-akibat yang “dapat dan mungkin terjadi” secara acak (random) ketimbang yang “seharusnya terjadi” secara menetap (fixed) selama sejam, sehari, seminggu, atau setahun ke depan.

Kisah Darko Soweno berikut menggambarkan bahwa insan pengusaha tidak hanya membutuhkan modal, tetapi juga model tentang masa depan.

Kisah Biji Jambu
Darko Soweno, pemuda desa asal Semin, Gunung Kidul mendatangi seorang pastor di daerah Pulomas, Jakarta Pusat. Konon, Darko Soweno bermaksud melamar kerja sebagai seorang koster , setelah mendengar kabar dari seorang handai tolan bahwa ada lowongan pekerjaan koster di suatu gereja di Pulomas, Jakarta Pusat.

Tepat jam 08.00, di suatu hari Kamis, Pastor Paulus Winasis mewawancarainya dan mengetes bagaimana ia mengepel lantai dan mengosek toilet pastoran yang kebetulan berdampingan dengan gedung gereja.

“Baiklah, Darko. Melihat hasil pekerjaanmu, saya nyatakan kau diterima.”

Selanjutnya Pastor Paulus Winasis berkata, “Sebagai persyaratan administratif, dan ini sesuai dengan peraturan yang berlaku, kau harus menyerahkan salinan ijazah SD. Setelah salinan ijazahmu saya terima, saya akan memberimu dua lembar blanko yang harus kau isi berkenaan dengan informasi tentang dirimu. Baru setelah itu kau resmi diterima bekerja sebagai koster di gereja ini.”

Muka Darko berubah pucat pasi. Seluruh persendiannya serasa dilolosi satu-satu dan posisi duduknya pun jadi meringkuk lunglai tanpa daya. Dengan suara parau terbata-bata ia berusaha menjawab, “Tetapi Pastor… saya ini kan tidak punya ijazah SD… saya juga tidak mungkin mengisi blanko, sebab saya tak kenal aksara.”

“Sayang sekali, Darko,” kata Pastor Paulus Winasis, “Dengan tak punya ijazah SD, secara administratif-formal kau sama saja tidak pernah ada di dunia kerja. Dan jika kau tidak ada, berarti tidak dapat bekerja.”

Darko Soweno berasa hilang harapan. Ia berdiri tertatih, melangkah gontai, mengulurkan tangan, menyalami Pastor Paulus Winasis sebagai ungkapan pamit tanpa kata. Ia tidak tahu apa yang selanjutnya mau ia kerjakan.

Ia malu kembali ke Semin. Selain karena telanjur mengumumkan diri ke para sanak tetangga bahwa ia baru akan kembali ke kampung paling cepat setahun kemudian, untuk pulang pun ia tinggal mengantongi 180.000 rupiah hasil nyelengi upah kerja sebagai buruh tani selama enam bulan. Di tengah kebuntuannya, terpikir olehnya untuk membeli biji jambu mété yang ia kenal sebagai hasil perkebunan di Semin, kampung halamannya.

Ampun, Tuhan, betapa terperanjat ketika ia tahu harga sekilo biji jambu mété yang di kampungnya hanya seharga 5000 rupiah, di Jakarta Pusat dijual orang dengan harga kulakan 18.000 rupiah per kilo. Apa boleh buat, akhirnya ia membeli 10 kilo biji jambu mété. Tak sepeser pun uang tertinggal di sakunya.

Kemudian ia berkeliling menjual 10 kilo biji jambu mété itu dari pintu ke pintu sembari meyakinkan kepada para calon pembeli bahwa ia sengaja membawa biji jambu mété itu dari tempat asalnya, Semin, Gunung Kidul. Dalam waktu kurang dari tiga jam, ia berhasil menjual dagangannya dengan harga 20.000 rupiah per kilo. Ia mengulangi keberhasilannya tiga kali dalam hari yang sama dan ia mendapatkan keuntungan kotor sebesar 60.000 rupiah, sepertiga dari modalnya!

Darko Soweno yakin, ia dapat bertahan dengan cara itu, dan mulai mengerjakannya setiap hari dengan berangkat lebih pagi dan pulang lebih lebih malam. Modalnya yang semula berlipat dua setiap tiga hari, dalam sebulan pertama telah berlipat setiap hari. Akhirnya Darko Soweno berhasil menyewa sebuah ruko, mengangsur pembelian truk, dan melakukan kulakan langsung dengan mengambil biji jambu mété dari Semin dengan harga yang jauh lebih rendah.

Lima tahun kemudian, Darko Soweno bukan hanya menjadi salah seorang pemasok biji jambu mété terbesar di kawasan Pulomas, tetapi juga berhasil membuka usaha makanan camilan berbahan baku biji jambu mété. Ia mulai mengancangkan masa depannya dengan hidup berkeluarga.

Tujuh tahun kemudian ia memutuskan untuk punya life insurance. Ia menemui seorang broker insurance, dan bermaksud memilih satu di antara beberapa menu proteksi. Ketika percakapan menjelang pengambilan keputusan, entah kenapa si broker sempat menanyakan ijazah dan sertifikat apa saja yang dimiliki Darko Soweno. “Saya tak punya selembar kertas ijazah pun,” tukas Darko Soweno serta-merta.

Si broker penasaran, “Jadi, Anda yang tanpa selembar ijazah pun telah berhasil membangun kerajaan bisnis yang mengesankan ini? Dapatkah Anda membayangkan betapa akan jauh lebih hebat seandainya Anda mempunyai ijazah?!!”

Darko Soweno berpikir sejenak dan menjawab, “Ya, seandainya saya dengan ijazah SD, saya pasti hanya akan menjadi seorang koster gereja!”

Mod(al) dan Mod(el) Personal
Apakah menurut pembaca kunci kesuksesan Darko Soweno terletak pada kemampuannya mengembangkan modal personal yang memang sangat terbatas? Modal adalah salah satu dari sisi keping mata uang, namun sisi keping lain yang tak kalah menentukan adalah model personalnya.
Model Personal Darko Soweno terletak pada kemampuannya untuk membuat perbedaan dalam melakukan apa yang ia kerjakan. Model personalnya tampak dari kemampuannya memproses, memperlakukan, dan mentransformasikan sumber dayanya yang bernilai 180.000 rupiah ke dalam hasil yang ia kehendaki.

Tatkala dirundung bingung ia tak hanya berpikir tentang pemecahan masalahnya saat itu, tetapi juga mendayagunakan jenis energi, karakter, dan pengetahuannya tentang cara; mulai dari mendatangi pembeli secara pintu ke pintu hingga memiliki ruko; mulai dari berjalan kaki menjajakan sekilo demi sekilo hingga memasok dengan truk berkuintal-kuintal biji jambu mété.

Makin mampu Darko Soweno memproses sumber dayanya, makin bermunculan pula fungsi di dalam diri Darko Soweno, yang tak tergantung semata pada seberapa besar sumber daya (modal) yang ia miliki. Nilai dan kualitas Darko Soweno sebagai pribadi bertambah ruah berkat peningkatan kemampuannya melakukan pemrosesan atas sumber daya yang terbatas; sedemikian rupa sehingga ia akhirnya menguasai berbagai kecakapan lebih dari sekadar mengosek toilet atau mengepel lantai pastoran.

Adapun Modal Personal Darko Soweno sebagai faktor pengungkit (leverage) tidak ditentukan semata oleh ijazah SD yang dipersyaratkan Pastor Paulus Winasis seperti saat ia melamar menjadi koster. Percontohan yang ia pelajari dan pelatihan lapangan, juga yang ia peroleh dari berbagai pengalaman menjajakan biji jambu mété di jalanan adalah dua di antara gugus cara yang memungkinkan Darko Soweno mendongkrak kemampuannya. Penciptaan produksi baru, berbagi pengetahuan baru yang ia peroleh secara sambil jalan, dan pembelajaran bersama orang lain; kesemuanya bukan hanya menjadi pengumpul tetapi pengumpul yang memperbesar pengaruh Darko Soweno dalam lingkup dunia bisnisnya.
Kebanyakan orang tidak tahu apa yang mereka inginkan atau bagaimana meraih keinginan mereka. Benar bahwa mereka memasuki wahana pembelajaran formal dengan kebutuhan, keinginan, atau pertanyaan, namun mereka lupa melakukan analisis diri dan penjelajahan atas nilai-nilai diri, pemilihan gaya, kekuatan dan kelemahan untuk mengetahui “Siapa Aku”.

Padahal yang diperlukan adalah pengalaman kesuksesan kecil sebagai model personal. Kebanyakan orang yang sukses menurut kata orang tidak selalu merasa benar-benar sukses. Sebab, untuk melihat prestasi, untuk mengakui daya “metabolizing” mereka, mereka harus yakin bahwa yang telah mereka kerjakan dapat diulang. Baru keyakinan ini gilirannya menjadi kunci pemberdayaan personal.

*) Edy Suhardono, Executive Director pada IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Email: iisa@visiwaskita.com. Artikel ini dimuat di Majalah Motivasi LuarBiasa, No. 5, Juli 2009.

Telah di baca sebanyak: 212

Pemimpin dan (Pre)seden

By Edy Suhardonoª

Tiba-tiba saya teringat wajah Pak Herry, guru yang mengajar Ilmu Fisika dan Ilmu Ukur sewaktu saya di kelas tiga SMP dulu.

Segelas Kebijaksanaan

Begitu duduk di kursi, Pak Herry mengeluarkan tujuh gelas kosong dari kantong dan meletakkan sebuah kendi tanah liat berisi air yang ditentengnya. Kemudian, ia menuangkan air kendi ke dalam salah satu gelas. Seraya mengangkat gelas yang hampir penuh terisi air itu, ia bertanya kepada seluruh siswa, “Perhatikan, berapa kira-kira berat gelas berisi air ini?”

Sebagian dari kami, para siswa, menjawab “lima puluh gram”; sebagian lagi menjawab “seratus gram”; dan sebagian sisanya menjawab “seratus dua puluh lima gram”.

“Saya sendiri sama sekali tidak yakin berapa beratnya, kecuali saya menimbangnya,” kata Pak Herry. “Benar juga dia,” kataku dalam hati. “Nah, lantas apa yang bakal terjadi jika saya memegangnya terus seperti ini selama beberapa menit?” Beberapa detik tak ada jawaban.

“Tak terjadi apa-apa,” hampir kami semua menjawab.

“Baiklah. Sekarang, apa yang bakal terjadi jika saya memeganginya terus seperti ini selama satu jam?” tanya Pak Herry.

“Tangan Bapak akan terasa pegal,” salah satu teman saya menjawab sekenanya. Terdengar tawa kecil dari beberapa teman.

“Bagus, bagus, bagus. Lantas apa yang akan terjadi jika saya memegangnya seperti ini selama sehari penuh?” tanya Pak Herry lagi.

“Lengan Bapak akan kram. Sejauh saya tahu dari keterangan Bu Siti Aniati, guru Biologi kami, Bapak akan mengalami stres otot dan paralysis;[1] bahkan mungkin Bapak harus dibawa ke rumah sakit untuk memastikannya!” saya menjawab; diikuti ketawa kompak terbahak teman-teman sekelas saya.

“Bagus. Bagus. Bagus … Tapi, selama waktu sehari itu, apakah berat dari gelas ini akan berubah?” tanya Pak Herry.

“Tidaaak!” Kami kompak menjawab.

“Lantas apa yang menjadi penyebab lengan pegal, stres otot, dan paralysis, dan bagaimana kalian mengira saya akan mengalami seperti itu?”

Kami saling memandang dan melempar kilatan mata, seolah mau menyingkap jawaban tersembunyi di balik mata kami masing-masing.

“Pak, taruh saja gelas itu!” kata Bambang Satriyo Yudiono, teman saya yang selama itu selalu menjadi juara umum setiap kali pengumuman kenaikan kelas.

“Ya. Tepat sekali!” kata Pak Herry. “Persoalan-persoalan hidup, entah politik, ekonomi, sosial, lingkungan, budaya, teknologi adalah sesuatu yang sama dengan gelas berisi air ini, bukan?”

Ia menoleh ke arah Bambang Satriyo Yudiono, sembari melanjutkan kata-katanya, “Bambang, benar sekali jawabanmu tadi. Kalau kau memegang gelas berisi air itu selama beberapa menit saja, gelas itu beres-beres saja.”

Kemudian pandang mata Pak Herry beralih menjelajah ke seluruh siswa. “Bayangkan seperti yang tadi saya lakukan. Coba kalian pikirkan gelas berisi air itu terus-menerus dan selama mungkin. Maka, jangankan tangan kalian, pikiran kalian pun akan mulai pegal, stres, dan paralysis; dan kalian tak akan dapat melakukan apa-apa.”

Preseden, Anteseden, dan Konsekuen

Dari Pak Herry yang secara formal mengajar Fisika dan Ilmu Ukur saya tidak hanya belajar tentang materi pelajaran, tetapi juga esensi kebijakan di balik pelajaran Fisika dan Ilmu Ukur. Dari beliau saya memahami bukan saja struktur dan dimensi konkret-bendawi dari suatu kenyataan amatan, yang gilirannya membuat saya mencintai Fisika dan Ilmu Ukur; tetapi juga tentang struktur dan dimensi pikiran dan kejiwaan manusia yang berhubungan baik dengan kenyataan bendawi maupun manusiawi.

Peragaan Pak Herry membawa saya ke pemahaman bahwa sangatlah penting untuk menjawab tantangan (persoalan) hidup, namun jauh lebih penting untuk “menaruh persoalan” itu pada saatnya, yakni di setiap akhir dari momen kehidupan; di saat sebelum saya “berbaring untuk beristirahat”. Setelah lebih dari 30 tahun peristiwa peragaan itu berlalu, dan seolah mengeram saja di alam bawah sadar saya, mulai menetaslah insight saya untuk memahami gejala klinis kejiwaan seperti: kesulitan kerja, belajar, makan, tidur, dan having fun. Dengan “menaruh pada saatnya” kita terhindar dari rundungan stres dan mampu bangun di pagi hari dengan perasaan segar, lega, siaga; selanjutnya mampu menangani setiap masalah, tantangan, ancaman, dan peluang yang merekah bersama terbitnya fajar pagi.

Tampaknya, apa yang kita temukan dan temukan kembali selama siklus musim kehidupan ialah fakta bahwa kepemimpinan (diri sendiri) bukanlah sesuatu yang hanya dimiliki oleh para pemimpin berkharisma. Kepemimpinan adalah persoalan proses luar biasa pada orang-orang biasa yang memungkinkan mereka mengarahkan diri secara tepat, baik tertuju ke diri sendiri maupun ke diri lain.

Sekurangnya hal ini diyakinkan oleh hasil refleksi Barry Z. Posner, James M. Kouzes, dan Thomas J. Peters (2003) dalam buku mereka, “The Leadership Challenge: How to Keep Getting Extraordinary Things Done in Organizations.” Dengan “menaruh persoalan  pada saatnya”, kita membebaskan diri kita dan membangun kepemimpinan diri sendiri. Dengan membebaskan diri, segala yang luar biasa akan terjadi.

Kosa kata “kepemimpinan” adalah suatu kata kerja (verb), bukan kata benda (noun). Kepemimpinan adalah tindakan, bukan suatu posisi. Kepemimpinan perlu didefinisikan menurut apa yang kita lakukan, bukan menurut peran yang kita mainkan. Jika dicermati, banyak orang nampak cemerlang ketika memainkan “peran kepemimpinan” (leadership roles), yakni sebagai pengemban kursi pemimpin. Sebagian besar dari mereka terdiri dari para bos, “snoopervisor“, teknokrat, birokrat, manajer, komandan, kepala, dan semacamnya.

Sebaliknya, banyak orang tidak menyandang peran kepemimpinan formal, tetapi mereka adalah para pemimpin cemerlang sejati di tengah dunia yang berubah serba cepat ini. Inilah para pemimpin perubahan, pemimpin “presedensial” bukan “presidensial”. Mereka tidak hirau tentang peran formal yang sedang mereka bawakan, tetapi sadar penuh terhadap anteseden diri, lingkungan dan kejadian-kejadian; sadar penuh terhadap konsekuensi masa depan tindakan yang mereka kerjakan dan -yang paling signifikan- mereka senantiasa menciptakan preseden kebaikan.

Kepemimpinan Presedensial

Memimpin adalah menunjukkan arah jalan sembari tetap berjalan, memandu langkah sembari tetap menuju, mempengaruhi namun tetap mengendalikan diri untuk tidak menggiring pendapat orang lain. Dengan lain ungkap, memimpin adalah membuat presedensi dengan menyadari antesedensi dan mengantisipasikan konsekuensi sekaligus.

Pemahaman ini membuka keniscayaan bahwa kita semua tidak hanya mungkin, tetapi butuh menjadi pemimpin, terlepas dari ada-tidaknya judul atau peran formal. Proses menjadi pemimpin sama dengan proses menjadi manusia efektif. Perkembangan kepemimpinan adalah juga perkembangan personal. Leadership ultimately shows itself in what we do “out there”, but it starts “in here”.

Di tengah Anda sibuk mendamba pemimpin baru, pemahaman ini hendaknya menjadi kriteria keputusan Anda. Anda tak sedang menentukan pribadi mana yang akan menjadi presiden negeri ini, tetapi Anda menentukan siapa mitra yang paling sinergik untuk membuat preseden-preseden kebaikan bagi kecerdasan kehidupan bangsa ini dengan mempertaruhkan keseluruhan kapasitas kepemimpinan Anda. Semoga.

*) Executive Director pada IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Email: iisa@visiwaskita.com. Artikel ini dimuat di Majalah Motivasi LuarBiasa, No. 6, Juni 2009.


ª Executive Director pada IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Email: iisa@visiwaskita.com. Artikel ini dimuat di Majalah Motivasi LuarBiasa, No. 6, Juni 2009.

[1] Ketidakberdayaan atau ketakmampuan menggerakkan otot.

Telah di baca sebanyak: 174

Menghargai (Nilai) Diri

Kejadian yang saya ceritakan berikut mungkin pernah pembaca alami sendiri, entah ketika berperan sebagai anak atau orangtua. Saya tergerak menuliskannya sejak saya kedatangan seorang bapak (klien) yang mendaftarkan diri ke front office dan mengaku bermaksud mengkonsultasikan putrinya yang bermasalah.

Di ruang konsultasi, ternyata yang saya temui adalah pasangan suami istri. Sang istri memulai membuka pembicaraan dengan senyuman khasnya, “Pak Edy, kami harus meminta maaf karena telah berbohong kepada staf Bapak. Sebenarnya bukan anak kami yang bermasalah, tetapi ayahnya, ya suami saya ini…”.
“Begini ceritanya, Pak Edy…” tukas sang suami. “Suatu sore saya ditegur ibu mertua saya yang kebetulan tinggal serumah bersama kami. Beliau menyatakan kesedihannya menyaksikan cucunya, anak perempuan kami, menyerocoskan kata-kata makian. Ibu mertua saya menyebutkan beberapa kosakata makian… dan saya sungguh terkejut, sebab kata-kata itu persis merupakan kata-kata yang pernah keluar dari mulut saya sewaktu kami sekeluarga bermobil dan tiba-tiba “dikepot” sebuah bus Metromini. Serta merta saya gampar sang sopir sambil melontarkan seribu makian setelah saya berhasil memalangkan mobil kami di depan busnya”.

Nilai Sebuah Diri

Kejadian dimaki atau memaki dengan kata-kata kotor mungkin mengejutkan pada kali pertama, namun cenderung menjadi awal kebiasaan pada kali berikutnya.
Suatu malam hari, 35 tahun silam, sesudah makan malam ayah memanggil saya dan enam adik saya. Sembari memegang selembar uang dan dengan tangan terangkat tinggi ayah bertanya: “Siapa yang mau uang Rp 10.000 ini?” Tangannya yang memegang selembar uang itu kian terangkat ke atas disertai pengulangan pertanyaan yang sama hingga tiga kali. Keruan saja, saya dan keenam adik saya sungguh terpana. Entah karena baru kali ini melihat uang bergambar Sudirman senilai itu atau karena baru kali ini menyaksikan ayah saya yang berperilaku seaneh itu.

“Anak-anak, ayah akan memberikan uang Rp 10.000 ini kepada salah satu di antara kalian, tetapi lihatlah yang ayah akan lakukan.” Ayah saya melipat-lipat lembar uang itu hingga menjadi lipatan segi empat seluas ibu jari. “Siapa yang masih menginginkan uang ini?” tanyanya sambil memegang lipatan uang itu di antara ibu jari dan jari telunjuk dengan tangan terangkat di udara. Kami hanya saling memandang.

“Bagus… bagus… sekarang lihat yang akan ayah lakukan…” Lantas ayah saya menjatuhkan uang itu ke lantai tanah dan menggecaknya dengan ibu jari kaki kanannya seolah melumatkannya. Kemudian ia ambil uang yang sudah kotor bercampur debu tanah itu dan kembali berucap lantang: “Siapa yang masih menginginkan uang ini?” sambil memegang lipatan uang kotor itu di antara ibu jari dan jari kelingking; mengesankan betapa rasa jijiknya, sambil tangannya makin terangkat ke udara.
Kami bertujuh masih terbengong melihat permainan akrobat ayah. Kami terhenyak ketika mendengar ayah berkata lirih, namun dengan penggalan patah kata yang diucapkan secara sangat jelas, “Anak-anak, baru saja ayah mengajak kalian mempelajari hal yang sangat sangat bernilai,” katanya. “Apa pun yang ayah lakukan terhadap uang ini, ayah yakin, tak satu pun dari kalian yang tak menginginkannya; sebab semua yang ayah lakukan tidak akan mengurangi nilainya. Nilainya tetap saja Rp 10.000!”.

Ketaksadaran Kata-kata

Menyumpahserapahi, memaki, mengumpati sama sebangun dengan tindakan ayah saya mengangkat, menjatuhkan, melipat-lumatkan, atau menggecak lembar uang Rp 10.000-an itu. Perlakuan ayah saya itu sama identiknya dengan keputusan kita atau lingkungan kita, baik ketika mengumpati, memaki, menyumpahi, melabel, atau memberikan stigmatisasi terhadap suatu obyek atau seorang pribadi.
Bayangkan, jika yang kebetulan menjadi obyek atau orang yang terkena stigmatisasi itu adalah diri Anda, betapa Anda merasa tak bernilai, setidaknya Anda merasa bahwa harga diri Anda direndahkan. Padahal, bukan saja oleh segala caci-maki dan stigmatisasi lantas Anda jadi tak bernilai. Bahkan oleh apa pun yang sudah dan akan terjadi pada Anda, Anda takkan kehilangan nilai diri Anda. Dimaki sebagai kotor atau bersih, dekil atau parlente, berkerut atau rata, adil atau batil; diri Anda tetap dan tak hilang, tak luntur; apalagi bagi orang-orang yang menyayangi Anda.
Otomatisasi makian, mulai dari yang berspesies binatang piaraan, alat vital, hingga adjective words yang berhubungan dengan karakter; tampaknya makin sering kita saksikan di sekitar kita–- tak terkecuali di lingkup keluarga, niaga, bisnis, parlemen, pemerintahan; di wall space virtual macam Facebook; bahkan di institusi keagamaan dan pendidikan. Kekerasan kata menjadi banjir bandang yang kian sulit dibendung.

Hasil salah satu riset kecil saya di sebuah sekolah di Jawa Barat menunjukkan bahwa para siswa SMP, yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana para guru memuntahkan makian, ternyata sampai pada pemahaman bahwa sebenarnya makian itu bukan merupakan sesuatu yang direncanakan. Para siswa ini secara sangat cerdas menyimpulkan: makian, ungkapan sarkas, dan pembunuhan karakter di ruang kelas oleh para guru mereka tidak dimaksudkan untuk mengoreksi kesalahan terkait pelajaran atau disiplin; sebaliknya, merupakan data tentang inkompetensi, ketidakyakinan, bad mood, pelampiasan lain, dan sebagainya, yang kesemuanya bersumber pada kondisi para guru, dan bukan siswa. Guru yang telanjur melakukan agresi kata segera kehilangan otoritas di depan siswa, dan makiannya pun kehilangan efektivitas.

Dari perspektif si pemaki, tampaknya terdapat anggapan tentang restriksi legal yang membuat mereka terbatas menanggapi tindakan yang tidak mereka sukai (aversif). Dan hal ini juga bukan karena mereka sadar tentang masih tersedianya prosedur lain, termasuk yang berlaku di suatu lingkup seperti sekolah atau keluarga, misalnya.

Menyimak penelitian Lovaas dan Favell ( “Protection For Clients Undergoing Aversive/Restrictive Interventions” , 1987), dalam diri para pemaki terdapat dua pandangan tentang tindakan menghukum. Pertama, berupa reaksi tak terduga yang tersampaikan (contingent delivery) terhadap konsekuensi yang tak mereka sukai; dan kedua, berupa penggunaan reaksi tak terduga namun yang tak tersampaikan (contingent nondelivery) terhadap “tindakan positif” yang biasanya ditujukan pada perilaku yang tak diinginkan.

Salah satu contoh yang sangat sering saya jumpai dalam sesi konsultasi: anak sedang asyik mengerjakan PR matematika, tiba-tiba ayahnya masuk ke ruang belajar, mengomel bahwa anak harus lebih rajin belajar seraya menyisipkan kucuran kata makian. Akibatnya, perilaku belajar anak pun menurun drastis. Dilihat dari efeknya, perilaku memaki sang ayah di sini memang jelas bukan tindakan yang “secara sosial positif”. Efek ini terjadi karena makian sang ayah merupakan suatu bentuk “reaksi tak terduga yang sebelumnya pernah tak tersampaikan terhadap hal yang tak ia sukai”. Justru , karena alasan ini maka makian ini menjadi contoh dari “hukuman yang positif”. Kepositifan itu terbukti dari fakta bahwa tindakan memaki sang ayah berefek positif, yakni berupa penurunan daya pembelajaran anak.

Benar bahwa “Every man stamps his value on himself…man is made great or small by his own will” (J.C.F. von Schiller), sama seperti kata ayah saya bahwa semua yang ia lakukan tidak akan mengurangi nilai uang yang memang Rp 10.000. Sembarangan menghargai nilai diri, apalagi dengan makian, niscaya memerosotkan harga dan nilai sebuah diri.
Yang perlu dicatat, tidak ada tindakan yang terjadi tanpa dimaui. Yang ada adalah kemauan yang tak tersadari. Pokok soalnya ada pada ketaksadaran terhadap kemauan sendiri akibat terlalu banyak menunda merespon hal yang tak disukai. Padahal, merespon adalah cara mengakui (eksistensi) dan menghargai (nilai) diri sendiri tepat pada saatnya.

*) Executive Director pada IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Email: iisa@visiwaskita.com. Artikel ini dimuat di Majalah Motivasi LuarBiasa, No. 5, Mei 2009.

Telah di baca sebanyak: 408

(Bukan) Bernalar, (Tapi) Berakal


Konsep dan pengertian tentang sesuatu adalah hasil penalaran berpikir berbasiskan pengamatan inderawi (observasi empirik). Pola pemahaman berdasarkan pengamatan kejadian sejenis membentuk proposisi–proposisi; dan berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, lantas orang menyimpulkan sebuah “teorema baru” yang sebelumnya tidak diketahui. Siklus ini disebut proses menalar.

Me(makai)-nalar identik dengan memanfaatkan jejak probabilitas kejadian masa lalu, sebaliknya mencari akal adalah mengundang posibilitas masa depan. Kesuksesan selalu hal baru, tak pernah berulang; dan merupakan produk akal. Sedang pengulangan sukses tetaplah pengulangan, mudah disampaikan sebagai cerita tentang “peng-alam-an”; dan merupakan produk nalar. Dua cerita berikut menunjukkan beda antara bernalar dan berakal.

Nalar dan Akal
Suatu hari, Bernasdus, seorang anak berumur empat tahun, bermain vas bunga porselin yang sangat disakralkan oleh kedua orangtuanya, mengingat benda itu warisan kakek buyut Bernasdus. Kejadian dimulai ketika Bernasdus telanjur memasukkan tangan kanannya ke dalam vas dan tidak dapat menarik kembali keluar dari lubang vas. Ayahnya berusaha keras menolongnya, namun sia-sia karena tangan Bernasdus tetap terpasung di lubang vas. Muncullah konflik dalam diri sang ayah, yakni antara keinginan mempertahankan keutuhan vas yang sangat bernilai itu dan menyelamatkan tangan Bernasdus. Terpikir gagasan untuk memecah vas dengan risiko tangan Bernasdus terluka. “Coba, Nak. Masih ada cara. Buka genggaman tanganmu dan luruskan jari-jarimu seperti ayah contohkan; kemudian tarik…”

Di luar dugaan Bernasdus menjawab, “Tidak, Yah, aku tak mau melakukannya. Aku tak akan melepas genggaman tanganku seperti ayah contohkan, karena uang recehku akan tertinggal di sana.”

Mana nalar dan mana akal? Mungkin sebagian besar pembaca berpikir bahwa sang ayah lebih mempercayai dan memakai nalar masa lalunya, sebaliknya Bernasdus sedang menggunakan akal masa depannya. Cerita berikut mungkin membuat Anda berubah pikiran.

Suatu hari, seratus tahun silam, di sebuah kawasan persawahan Delanggu Jawa Tengah hidup suatu keluarga petani yang memiliki harta kekayaan berupa dua ekor sapi. Yang satu sudah berumur dan sering mengalami “dhèngkèlën”,*) yang lain masih muda, kuat, dan memiliki ketahanan fisik untuk membajak sawah. Sapi yang pertama sudah tak mungkin lagi dipasang-jalankan bersama sapi kedua, apalagi untuk membajak.

Ketika pasangan suami-istri petani sedang menghadiri perhelatan pernikahan salah satu tetangga, di luar kebiasaan sapi tua itu mampu berdiri tegak dan berjalan menuju rumpun rerumputan kalanjana yang tumbuh subur di dekat sumur belakang rumah. Karena jalannya yang gontai, di tengah keasyikan melahap makanannya, sapi tua itu terperosok dan secara pelan namun pasti masuk ke lubang sumur. Dengan segala upaya, sapi itu berusaha bertahan agar tak merangsak ke kedalaman sumur.

Tiba dari perhelatan, pasangan petani mendengar gaduh lenguhan sapi yang datang dari arah lubang sumur. Setelah memahami apa yang sedang terjadi, petani lelaki itu memutar akal. Timbul perasaan campur-baur antara rasa simpatinya pada sapinya yang naas itu tapi juga rasa jengkelnya bahwa ia harus menguras isi sumur yang tak seharusnya menjadi kubangan sapi, dan rasa sesal karena kelancangan sapinya yang hampir menghabiskan persediaan rumput untuk berjaga menghadapi tibanya musim kemarau.

Berpikir kecepatan kilat, akhirnya lelaki itu memutuskan untuk tak mempedulikan sama sekali baik sapi tua, rumput kalanjana, maupun sumurnya. Ia justru memanggil para tetangganya, menceritakan apa yang tengah terjadi dan meminta mereka beramai-ramai menguruk lubang sumur itu dengan tanah merah untuk mengubur sapi tuanya agar tak berlama-lama dalam penderitaan.

Begitu menerima hujan bongkahan tanah merah yang bertubi menghantam punggung dan kepalanya, sapi itu melenguh panik dan ketakutan. Namun sang petani dan para tetangganya seolah tak mengacuhkannya dan tetap mengayuhkan cangkul, mencungkil, dan melontarkan bongkahan tanah merah yang terkuak ke dalam lubang sumur. Tanpa disadari sang petani dan para tetangga yang kian getol menguruk lubang sumur, sapi tua itu secara refleks mengibaskan gumpalan tanah merah yang menghantam punggungnya. Gilirannya gumpalan demi gumpalan tanah merah itu bergeser dan jatuh ke samping dan bawah kakinya. Secara refleks pula, dan secara berganti-ganti, keempat kakinya menginjak gundukan tanah yang tumpah berjatuhan dari atas punggungnya.

Bak seorang manusia yang mengalami pencerahan, si sapi melakukan rentetan gerak, mulai dari mengibaskan gumpalan tanah merah yang menghantam punggungnya, menginjakkan keempat kakinya secara bergantian di atas gundukan tanah yang kian bertumpuk; sedemikian rupa sehingga ia seolah sedang menaiki tangga dan secara pelan namun pasti keluar dari keterpurukan dan penderitaan selama berada di dalam sumur. Reaksi refleks kepanikannya telah berubah menjadi solusi yang jenial. Gedebum gumpalan tanah merah yang awalnya bisa jadi sumber malapetaka malahan berubah menjadi berkah keselamatan.

Akal dan Adversitas
Mungkin begitulah kehidupan. Di saat kita berjumpa masalah dan kita bersikap menghadapi, tak menolak atau menyalahkan keadaan, semua potensi malapetaka yang dibayangkan dapat mencerabut hidup kita justru berubah menjadi ruahan berkah. Para spiritualis pun berujar, “Within the adversities that come along to burry us, there are potential to benefit and bless us!”

Sang ayah yang berusaha mengurai kesulitan Bernasdus, anaknya, atau sang petani yang memutuskan mengakhiri penderitaan sapi kesayangannya; keduanya lebih mengedepankan pemakaian nalar berbasis pembelajaran atas masa lalunya. Sang ayah dan sang petani, meski terkesan sama-sama berusaha menghindari pengalaman penderitaan dari diri “yang lain”; galibnya adalah melakukan penghindaran atas penderitaan diri “sendiri”. Bahwa keduanya mengangkat fakta tentang penderitaan diri “yang lain”, hal ini lebih menjadi ornamentalisasi dan penjudulan yang memungkinkan keduanya memperoleh landasan pembenaran tindakan.

Sebaliknya, tokoh yang sedang dalam keterpurukan, Bernasdus pada cerita pertama dan sapi tua pada cerita kedua, keduanya adalah pemantik akal untuk memahami ikhwal spiritualitas. Sejauh saya pahami dari tulisan-tulisan Anthony de Mello, spiritualitas adalah “a journey without distance”, di mana Anda menempuh perjalanan dari titik keberangkatan you are right now menuju titik tujuan you have always been yang memungkinkan Anda bertransformasi dari sikap batin mengabaikan ke “tahu-tahu sudah tahu”. Spiritualitas adalah sebuah kesadaran tentang proses menjadi, a matter of becoming what you already are.

Keinginan Bernasdus mendapatkan uang receh dengan nilai ekonomi jauh jauh lebih rendah dibandingkan vas bunga atau kepasrahan seekor sapi ke dalam gerak refleks tatkala berada di tengah kepanikan; keduanya dapat menjadi evidensi tentang lumpuhnya nalar di satu sisi, dan tegaknya akal, di sisi lain. Akal (budi) di tengah situasi dilematik adalah lahan subur bagi pertumbuhan spiritualitas. Situasi dilematik ala William Shakespeare (1564-1616) dalam Hamlet (1602) tetap aktual hingga detik ini: “To be, or not to be, that is the question: whether ’tis nobler in the mind to suffer the slings and arrows of outrageous fortune; or to take arms against a sea of troubles, and by opposing end them?”

Di tengah kesulitan, termasuk kesulitan menggunakan nalar, tinggal dua saja senjata kita: kreativitas dan nilai moral, yang selalu berlawanan dengan hasrat memapankan dan merasionalisasikan masa lalu. José Ortega y Gasset (1883-1955) dalam The Revolt of the Masses (1930), mengingatkan kita tentang dua hal ini. Ia menulis: “…those who make great demands on themselves, piling up difficulties and duties; and those who demand nothing special of themselves, but for whom to live is to be every moment what they already are, without imposing on themselves any effort towards perfection; mere buoys that float on the waves.” Saya kembalikan ke para pembaca untuk memutuskan, sejauh mana, dan pada saat mana, Anda mau memakai nalar saja atau mencari akal.***

*) Edy Suhardono, adalah Executive Director pada IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Email: iisa@visiwaskita.com. Artikel ini dimuat di Majalah Motivasi LuarBiasa, Edisi April 2009.

Telah di baca sebanyak: 276

Cerdas, Cerlang (yang) Pedas


Kepolosan anak kadang muncul sebagai pemikiran murni tanpa terdistorsi motif menang-kalah sebagaimana kita yang mengaku dewasa.

Sore itu, di ruang konsultasi saya hadir pasangan suami-isteri, Pak Deddy Kartana dan Bu Normalia, orangtua Bagas Dewantara, anak berusia 5 tahun. Mereka meminta konsultasi tentang hasil pemetaan Multiple Intelligences Bagas yang, menurut mereka, sungguh di luar bayangan. Selama ini keduanya menganggap, Bagas rendah pada kecerdasan Logika Matematika, Interpersonal, dan Intrapersonal; padahal data menunjukkan, selain Bagas memadai pada keempat kecerdasan lainnya −Spasial, Kinestetik, Musik, dan Logika Bahasa− ia justru sangat menonjol pada ketiga kecerdasan.

“Semula kami hampir tak percaya begitu membaca hasil asesmen Bagas. Pasalnya, Bagas kami kenali tak pernah menunjukkan ketertarikan pada dunia angka, tidak terlalu banyak bicara bahkan cenderung pendiam,” tutur Pak Deddy mengawali sesi. “Satu hal yang mungkin lepas dari perhatian kami, Bagas sering menunjukkan keanehan,” lanjut Pak Deddy. Ia terdiam sesaat, terkesan sedang mengingat suatu kejadian dan kebingungan menentukan dari mana ia harus memulai kalimat berikutnya.

“Keanehan? Maksud Pak Deddy?” saya berusaha membantunya merangkai ingatan.

Pak Deddy menatap Bu Normalia, isterinya, seolah meminta ijin menceritakan kejadian yang mereka alami tentang ‘keanehan’ Bagas, anak semata wayang mereka. Bu Normalia mengedipkan matanya dengan anggukan kecil sebagai isyarat mengiakan. Kemudian dengan gaya seorang story-teller Pak Deddy menuturkan salah satu kejadian aneh bersama Bagas.

Keanehan
Suatu petang sekitar pukul tujuh, Pak Deddy pulang kantor. Kali ini, kepulangannya jauh lebih lambat dibandingkan hari biasa, di mana ia sudah berada di rumah sebelum pukul setengah enam. Saat itu ia benar-benar dalam kondisi keletihan akibat stres selama di jalan kemacetan. Mood-nya cenderung naik dan suhu emosinya rentan muntah amarah. Begitu membuka pintu masuk rumahnya, terlihat olehnya Bagas sudah berdiri di depannya, memasang wajah penuh selidik.

“Pa, bolehkan aku menanyakan sesuatu?” Bagas membuka pembicaraan.
“Tentu saja boleh, nak. Tentang apa itu?”, Pak Deddy menunjukkan keingintahuannya.

“Sebenarnya apa saja sih, yang Papa kerjakan selama berjam-jam di kantor?”
“Itu bukan urusanmu. Kenapa kau tanyakan soal itu, Bagas?” suara Pak Deddy meninggi, menunjukkan bahwa ia sedang dibimbing oleh kemarahannya.

“Aku hanya mau tahu. Katakan, Pa, apa saja yang Papa kerjakan selama berjam-jam di kantor?”
“Kalau kau memang mau tahu, ketahuilah, Papamu melakukan apa pun untuk mendapatkan bayaran seratus ribu per jam agar dapat menanggung hidupmu dan Mamamu.” Katanya tandas dan dengan intonasi tinggi.

“Oh..” mata Bagas terbelalak sebentar sembari menundukkan wajahnya. “Pa, kalau begitu, bolehkan aku pinjam dari Papa lima puluh ribu saja?”
Pak Deddy tak dapat menyembunyikan kegusarannya, “Bagas, jika alasan pertanyaanmu tadi CUMA ITU, kau dapat meminjam uang untuk membeli mainan bodoh atau barang tak bermanfaat lainnya; segera masuk ke kamarmu dan tidur. Renungkan, betapa kau hanya memikirkan diri sendiri. Kau tidak paham bagaimana Papamu ini bekerja keras setiap hari hanya, dan hanya, untuk sebuah perilaku kekanak-kanakan macam yang baru saja kau lakukan.”

Menundukkan kepalanya, Bagas ngeloyor berjalan pelan menuju kamarnya tanpa menoleh apalagi bertatapan dengan pandang mata ayahnya yang berkilat penuh amarah. Ia langsung menutup pintu kamarnya.

Pak Deddy menghela nafas panjang, duduk di kursi di dekatnya, dan saling meremaskan jari-jemari tangannya hingga kedengaran suara gemeretak mirip suara keratan tikus. Ia sungguh kesal dan kaget atas pertanyaan Bagas. Apakah pertanyaan tak beperasaan itu hanya berujung dengan proposal pinjam uang?

Sambil masih saling meremaskan kedua telapak tangannya, tanpa sempat melepas sepatu, Pak Deddy memejamkan matanya. Normalia, isterinya, mendekatinya tanpa sepatah katapun dan dengan pelan memijit tengkuk dan lengan suaminya. Emosi Pak Deddy berangsur mereda. Rasionya memulih. Ia mempertanyakan, mungkin Bagas benar-benar membutuhkan uang sejumlah lima puluh ribu itu; lagi pula, bukankah selama ini, selain kepada ibunya, ia tak pernah meminta uang kepadanya. Pak Deddy tepiskan tangan isterinya yang sedang memijit tengkuknya, beranjak berdiri, menuju depan pintu kamar Bagas, dan mengetuknya pelan dengan sudut jari telunjuknya.

“Kau sudah tertidur, Nak?” tanyanya.
“Belum, Pa. Aku masih melek,” jawab Bagas.

“Terpikir oleh Papamu, alangkah sulitnya memaksa diri tidur lebih awal dari biasanya. Dan Papamu sudah kehilangan waktu tak melihatmu seharian tadi, padahal Papamu melakukan semua demi kau. Ambilah lima puluh ribu yang kau minta tadi, Nak.”

Bagas membuka pintu kamarnya, berdiri tegap dengan mata riang senyum dan pekik kegembiraan. “Ohhh, terima kasih, Pa!”

Tiba-tiba ia menggeliatkan badan sembari menguap, menghambur ke arah kasur tempat tidur, menggerayangkan tangannya ke bawah bantal, dan mengeluarkan segenggam uang kertas. Ayahnya jadi tahu, ternyata Bagas sudah punya sejumlah uang. Bagas menghitung uang dalam genggamannya. Tanpa kata ia tatap mata ayahnya.

“Kenapa kau masih menginginkan uang. Bukankah kau sudah memilikinya?” Pak Deddy bertanya pelan bergumam.
“Sebab sebelumnya uangku tak cukup, tetapi sekarang jadi cukup,” jawab Bagas. “Jadi, Pa, sekarang aku punya seratus ribu. Bolehkah aku membeli satu jam dari waktu Papa? Bukankah besok hari Jumat? Pulanglah Papa lebih awal. Akan kuajak Papa makan malam di Bebek Goreng Palupi.”

Pak Deddy tak dapat menahan rasa harunya. Tanpa terasa pipinya berlinang air mata. Ia mendekap Bagas, dan membisikkan permintaan maafnya.

Kecerdasan
Belajar dari cerita Pak Deddy, cukupkah kita sekadar mengklaim bahwa sudah melakukan KERJA KERAS? Fakta bahwa waktu-waktu kita berhamburan lepas dari kuasa jari-jemari tangan kita untuk memanfaatkannya bersama pribadi-pribadi pusat kepedulian kita meyakinkan, betapa di satu sisi, kita sangat berhasil menghitung berapa ribu rupiah harga setiap jam kerja kita; tapi, di sisi lain, kita gagal menemukan makna di balik seratus ribu dari setiap jam kerja guna berbagi dengan orang yang kita sayangi.

Editor kawakan Amerika, Elbert Hubbard pernah menulis, “Di saat-saat sulit, kita gampang mengeluh, menunda, khawatir; dan ini semua tidak mengubah apa pun, kecuali kita mau melakukan KERJA CERDAS. Artinya, membatasi imajinasi kita hanya pada KERJA KERAS membuat kita letih, mati rasa, disorientasi, frustrasi bahkan mentally down; lantaran kita kehilangan focal concern, pusat kepedulian, PER-HATI-AN, dan CINTA.

Bagas, anak kecil pasangan Deddy-Normalia, adalah sosok fenomenal yang cerdas Logika Matematika, Interpersonal, dan Intrapersonal. Ia tidak hanya mampu berhitung angka, tetapi bernas menghitung hidup; tak hanya berlaku selfish mengurusi diri sendiri, tetapi piawai dan mumpuni menyentuhkan daya kasih sayang; tak mudah terkooptasi ke dalam kepatuhan buta terhadap kebenaran generik yang terkemas dalam dentum amarah dan otoritas ayahnya, tetapi secara cerlang-pedas memilih dan memilahkan kebutuhan batinnya.

Anda dan saya perlu berkesadaran, andai kita dipanggil Sang Pencipta besok pagi, perusahaan di mana kita bekerja akan dengan mudah mencari pengganti dalam hitungan hari. Tetapi, ingat, keluarga dan kawan-kawan yang kita tinggalkan mungkin akan merasa kehilangan sebagian bahkan keseluruhan hidup mereka. Kita perlu bekerja dan bertindak cerdas, sebab kecemerlangan kadang harus ditempuh dengan kesediaan merasakan pedasnya pernyataan dan kenyataan saat ini.

*) Edy Suhardono, adalah Executive Director pada IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Email: iisa@visiwaskita.com. Artikel ini dimuat di Majalah Motivasi LuarBiasa, Edisi Maret 2009.

Telah di baca sebanyak: 267

Momen = (Mo)tivasi (Men)jadi


Pernah suatu saat saya mengajari Dadan, anak laki-laki saya, 4 tahun, melontarkan bola basket ke arah backboard, menemukan sudut pantul yang tepat; agar bola tak membentur ring dan langsung menerobos net.

Berkali-kali ia mencoba melempar, mencapai backboard pun tidak; apalagi memantul. “Ayo, lebih kuat lagi lontaranmu, Nak!,” teriak saya berkali-kali menyemangati. Sekeras apa pun saya berteriak, sekuat apa pun ia berusaha; tetap saja bola tak mencapai backboard. Bola bergerak naik tak lebih dari setengah jarak antara lantai dan ring. Bola tak pernah mengenai sasaran dan selalu terus jatuh ke lantai, diikuti pandangan mata kosong anak saya, tanda kekecewaannya.

Tak sabaran, saya peragakan contoh melempar sesantai mungkin, seolah saya melemparkan tanpa tenaga, sembari berucap: “Lihat! Begini saja kok, Nak, kenapa sulit?” Anak saya berusaha dan berusaha lagi, namun tak pernah lemparan bolanya berhasil membentur backboard.

Akhirnya ia terduduk terengah-engah setengah baring dengan kedua lengan tangan bertelekan di lantai. Katanya lirih: “Buat ayah mudah sekali membikin bola itu naik, memantul ke bawah, dan menerobos net. Ayah tak mau tahu, betapa sulit buatku membikin bola sial itu naik dari bawah ke atas sana…”

Ucapannya membuat saya tersentak. Bukan karena saya merasa terkritik habis, tetapi karena di luar kesadaran nalar saya, ternyata anak saya mampu berpikir dan merasakan sebagaimana orang dewasa umumnya berpikir dan merasakan; sementara saya kehilangan momen —motivasi menjadi— orang dewasa, atau lebih khusus, motivasi menjadi orangtua. Saya dililit perasaan malu lantaran ulah kekanak-kanakan saya.

Saya coba menetralkan galau perasaan saya. Saya ikut-ikutan setengah berbaring di lantai di bawah papan backboard yang terpasang di dinding depan teras rumah kami. Saya mencoba bersanding di sebelahnya sambil mengikuti arah ke mana matanya melayangkan pandangan. Rasanya saya tak sanggup beradu mata dengannya di tengah kecamuk perasaan malu saya.

Sembari memejamkan mata, saya merenungkan lagi kalimat anak saya yang masih terngiang di telinga. Rasanya ia sedang menggugat kata-kata ritual yang selalu saya bisikkan ke telinganya setiap kali mengantarnya ke pembaringan: “Ayah selalu sayang kau, Nak,” Rasanya ia sedang secara tandas mempersoalkan: apakah dirinya benar-benar dihargai, diterima, diurusi, diperhatikan, dicintai oleh orang yang sehari-hari ia panggil sebagai “Ayah”?

Perkataan bahwa “…ayah tak mau tahu…” adalah pernyataan fakta bahwa anak saya mampu membayangkan bagaimana orang lain berpikir dan merasakan di kala menghadapi momen yang sama. Ia sadar tentang kehadiran dan eksistensi orang lain. Bahkan ia dapat menangkap, menganalisis, dan menarik sintesis atas penanda-penanda kenyataan, seperti bahasa tubuh dan tonasi suara; dan akhirnya menarik kesimpulan.

Ia obyektif, karena ia sadar kenyataan —termasuk sadar akan keberadaan dirinya sendiri— dari berbagai sudut pandang. Kebalikannya, saya subyektif. Saya menangkap kenyataan semata dari perspektif saya sendiri, pun telah mengabaikan eksistensinya.

Empati
Sebagai psikolog saya paham, keberhasilan berinteraksi dan berlaku kooperatif dengan orang lain merupakan keterampilan hidup sentral seseorang. Tindakan anak yang merefleksikan kepedulian dan pertimbangan tentang eksistensi orang lain menjadi fundamen bagi pembentukan tanggung jawab sosial. Sebaliknya, berbagai perilaku antisosial, seperti: perilaku agresif, berbohong atau mencuri berkorelasi positif dengan juvenile delinquency dan kriminalitas (Farrington, 1987).

Dari jurnal yang saya baca saya tahu, perilaku agresif dan bohong berawal dari penolakan sosial (Patterson, 1982), yang gilirannya menjadi bibit kriminalitas (Rutter & Garmezy, 1983). Agresi dan penolakan sosial yang dialami seorang anak berkorelasi dengan problem akademik, sosial, problem perilaku di masa remajanya (Coie, Lochman, Terry, dan Hyman, 1992; Dodge, Coie, Pettit, dan Price, 1990; Kupersmidt dan Coie, 1990); dan penjelas dari berbagai kasus dropouts di SMA (Asher dan Gabriel, 1989). Berbagai data ini menyentak kesadaran saya sebagai seorang ayah yang baru saja melakukan penolakan sosial terhadap anaknya sendiri dalam skala tertentu. Artinya, meski saya psikolog, saya harus mengakui telah kehilangan momen —motivasi menjadi— orangtua yang efektif.

Pernyataan “…ayah tak mau tahu…” menyadarkan saya, betapa ia telah memiliki kapasitas berempati dan kecerdasan menafsirkan apa yang sedang berlangsung dalam situasi sosial tertentu. Pernyataan ini juga meyakinkan, ia memiliki kapasitas berbagi respon emosi atau mengalami “feeling with.” Beberapa penelitian yang pernah saya baca menguatkan, empati mencegah perilaku antisosial, baik selama masa kanak-kanak maupun sesudahnya (Eisenberg & Mussen, 1989; Feshbach, 1983).

Sementara itu, kemampuan merespon dengan empati pada orang dewasa menjadi indikator kritis dari keterampilan menjadi orangtua efektif. Salah satu hasil riset, seorang ibu dengan tingkat empati tinggi jarang melakukan children abuse, walau ia sedang mengalami tingkatan stres tinggi (Letourneau, 1981). Para peneliti juga menyimpulkan, kapasitas untuk berempati ini muncul di tengah setting rumah, prasekolah, maupun di laboratorium; dan pada usia dini, yakni antara usia 3 hingga 5 tahun (Dunn & Kendrick, 1979).

Momen
Sayalah psikolog yang pernah kehilangan momen: motivasi menjadi orangtua efektif. Bukan bagi sembarang atau semua anak, tapi bagi anak saya sendiri. Saya pernah gagal memberikan respon empathetic terhadap Dadan, anak saya.

Dari beragam kasus yang saya tangani di bilik konseling/terapi saya pun diyakinkan, betapa yang terjadi diskontinuitas proses pembentukan karakter manusia di hulu dan di pangkal proses, di fase perkembangan paling dini, yakni masa kanak-kanak. Sebagaimana yang saya alami, penyebabnya jelas: kegagalan saya dan para orangtua umumnya menangkap momen keorangtuaan bagi anak sendiri, yakni motivasi menjadi seorang yang berdaya empati tinggi.

Selama ini orang mudah terserap ke dalam cara pemahaman masalah secara myopic dan terdistorsi, lantaran pengambilan jarak yang terlalu dekat dengan masalah yang sedang dialami. Di tempat kerja Anda temui kasus mangkir kerja, apatisme, mogok, demo, pencurian, penggelapan, eksploitasi, otoritarian. Di area publik Anda temui pungli, korupsi, power abuse, inkonsistensi, tebang pilih kebijakan, pembunuhan karakter, politik seks. Tak terkecuali, di lingkup pendidikan pun Anda jumpai berbagai pungutan dana dengan berbagai justifikasi, pendangkalan karakter melalui berbagai perlakuan non-edukatif, berbagai tindak kekerasan yang diatasnamakan pada prinsip-prinsip prematur.

Fokus kita lebih pada hilir, ujung, dan akhir proses; namun secara nalar-logik kita lebih cenderung mengklaimnya sebagai hulu, pangkal, dan awal permasalahan; sehingga secara das sollen kita pun terjebak ke dalam pseudo sense of urgency untuk segera mengeliminasi dan melenyapkannya dari medan pandang realitas kita, tanpa pikir panjang. Seolah semua dapat diselesaikan berkat ortodoksi kita.

Kita permiskin daya refleksi dan empati kita dengan ketaksediaan belajar dari kejadian-kejadian dan kemalasan mengidentifikasi mana ujung mana pangkal, mana hilir mana hulu, mana akhir mana awal, mana akibat mana sebab. Kita mudah kehilangan momen —motivasi menjadi— di dalam konteks yang paling konkrit, di tengah hidup keseharian kita. Momen selalu datang. Persoalannya ada pada sensitivitas dan totalitas menanggapinya.

*) Edy Suhardono, adalah Executive Director pada IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Email: iisa@visiwaskita.com. Artikel ini dimuat di Majalah Motivasi LuarBiasa, Edisi Februari 2009.

Telah di baca sebanyak: 506

Pè-Ès-Cé


Sudjono adalah satu nama di antara belasan guru Sekolah Dasar yang menjadi top of mind di benak saya sampai detik ini. Sebuah percakapan terjadi di kelas 5A pada hari Senin pagi minggu pertama bulan Maret 1971. Pak Djono, sebagaimana biasa, selalu memulai pelajaran menggambarnya dengan cerita. Berikut adalah salah satu cerita yang menggurat di ingatan saya:

Seorang lelaki tua tinggal di pusat kota Jakarta. Ia biasa bangun pagi, mengunci pintu, menuju ke arah jalan raya, dan berjalan melewati trotoar menuju Stasiun Gambir; kemudian duduk di pinggiran jalan masuk stasiun, dan meminta-minta kepada para calon penumpang kereta api. Ia selalu melakukannya setiap hari, hampir tanpa sela. Ia kemudian duduk di tempat dan sudut jalan yang sama; dan ia sudah melakukannya selama 20 tahun.

Rumahnya sangat kotor dan jorok. Setiap kali pergi meninggalkan atau kembali ke rumah, ia sendiri mencium bau sangat tak sedap dan kadang menimbulkan sentakan dari arah lambung dan terasa mau memuntahkan cairan lewat mulutnya. Para tetangganya sudah tak tahan mencium bebauan luar biasa itu sehingga bersepakat meminta pihak polisi pamongpraja membersihkan rumah si lelaki tua. Para petugas polisi membuka paksa pintu rumah, meski tak sampai merusaknya; dan membersihkan keseluruhan ruangan. Mereka menemukan tas-tas kecil penuh berisi uang, terhampar dan bertumpuk di hampir semua bentang ruang: uang yang dikumpulkan si lelaki tua selama bertahun-tahun.

Polisi pamongpraja menghitung jumlah uang, dan berkesimpulan bahwa sesungguhnya lelaki tua itu seorang jutawan. Para tetangga pun menanti di luar rumah untuk menunggu salah satu polisi pamongpraja menyampaikan kabar baik kepada si lelaki tua. Tatkala tiba di rumah pada sore harinya, salah seorang polisi pamongpraja menemui si lelaki tua dan menyampaikan bahwa ia tak perlu lagi meminta-minta, karena ia ternyata seorang yang kaya raya, seorang jutawan!

Si lelaki tua tak berkata sepatah kata pun. Ia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Pada pagi harinya ia bangun sebagaimana biasa, pergi ke arah jalan raya, berjalan menyusuri trotoar, dan berakhir di sudut jalan masuk Stasiun Gambir; melanjutkan kebiasaannya: meminta-minta sedekah. Ia tak punya rencana besar, impian, atau apa pun yang ia anggap penting bagi hidupnya. Ia hanya berfokus pada tindakan yang ia kerjakan dengan senang, dengan seluruh komitmennya.

Agenda Terbengkalai
Terinspirasi dari cerita di atas, dapatkah Anda merumuskan, betapa penting pekerjaan yang Anda lakukan? Apa yang krusial di sini ialah pemaknaan Anda tentang personal sense of commitment (PSC), terlepas apa kata orang, atau sejauh mana PSC Anda sesuai dengan pernyataan resmi misi perusahaan/kantor di mana Anda bekerja.

Sekurangnya di dalam PSC terkandung tiga pemicu. Pertama, PSC membuat saya dan Anda menghayati secara nyata kehidupan kerja dari hari ke hari. Kedua, PSC membangun makna dan arah (sense of purpose) dari apa yang sedang saya dan Anda kerjakan. Dan, ketiga, PSC membawa saya dan Anda menuju ke pusat kepedulian dan menemukan “commitment statement” atas karya kerja saya dan Anda.
Terlepas pula dari orang menganggap Anda sekarang sosok macam apa, pertanyaan yang lebih penting adalah pertanyaan, “Saya pikir sekarang saya berada di mana?” Mungkin Anda berusia 25, atau 35, atau bahkan 50 tahun? Bisa saja Anda merasa tidak sedang menjalani pekerjaan yang Anda inginkan…atau tidak tinggal di tempat yang Anda aspirasikan. Boleh jadi Anda belum menuliskan novel yang pernah terlintas ingin Anda tuliskan? Belum sempat mendatangi tempat-tempat yang Anda mimpikan semasa kanak-kanak? Kesehatan Anda tak sebaik yang Anda harapkan? Lantas tercecer di mana mimpi-mimpi Anda itu?

Bukankah pertanyaan-pertanyaan itu yang sering menyengat kesadaran kita? Saya pun sama merasa tersengat oleh pertanyaan-pertanyaan senada begitu membaca suatu hasil survei lima tahun lalu yang melaporkan, di antara para mahasiswa pascasarjana yang sedang menempuh program doktoral di Universitas Harvard, 5% saja yang menuliskan pernyataan tujuan di catatan pribadi. Dan, dari yang melakukan tindakan ini 90% mencapai yang mereka citakan. Kisah lain, di saat usianya menginjak 71, Michelangelo ditunjuk sebagai chief architect Katedral St. Peters di Roma. George Bernard Shaw menulis “Farfetched Fables” di usia 93. Picasso masih melukis di usia 90. Pak Ciputra, sejauh saya baca, memulai membangun kerajaan bisnisnya di usia 57. Jadi, saya yakin, kapan pun, di mana pun, dan bagaimana pun situasi kita, “it’s NEVER TOO LATE FOR STARTING”; asalkan kita punya PSC yang berangkat dari kekinian kita.

PSC dan Kendali Diri
PSC, sejauh saya ketahui dari berbagai penelitian psikologi (Ainslie dan Haslam 1992; Baumeister dan Vohs 2003; O’Donoghue dan Rabin 1999, 2003; Prelec dan Bodner, 2003), berkait erat dengan derajat pengendalian diri yang bervariasi antarpribadi seturut pertimbangan rasional tentang konsekuensi yang kita antipasikan. Kita sering men-set alarm clock dengan maksud agar bangun lebih pagi –hal yang mencerminkan preferensi kita untuk segera berhenti dari kelelapan tidur kita. Sesaat setelah alarm clock berhenti bunyi, kita sering secara spontan memencet tombol snooze, me-reset alarm, atau malahan mematikannya sama sekali, yang merefleksikan preferensi kita yang bertentangan dengan rencana awal. Dalam perkara lain kita sering mencanangkan namun sekaligus menganulir rencana lantaran kelemahan kita yang bersumber pada kendali diri.

Para peneliti dari berbagai disiplin —ilmu politik, ekonomi, dan psikologi— meneliti ikhwal kendali diri tersebut. Selain bervariasi antarpribadi seturut pertimbangan rasional tentang konsekuensi yang diantisipasikan bakal terjadi, kendali diri merupakan ajang pertempuran yang bersifat multiple selves (Elster 1979; Winston 1980; Schelling 1984), di mana terdapat satu diri yang berwawasan jauh ke depan sebagai pembuat keputusan versus diri-diri lain yang menjadi penikmat hasil masa depan. Di sana terjadi konflik perencanaan antarwaktu, yakni antara “sang perencana di malam hari” dan “pelaksana di pagi hari”. Perencana men-set alarm, dan pelaksana me-reset-nya pada pagi harinya. Jika perencana dan pelaksana sepakat seia dalam kata dan tindakan antarwaktu, maka terjadilah yang dinamakan “komitmen”. “Komit” berarti mengikatkan diri sejak pikiran, kata, hingga tindakan dengan konsekuensi yang sudah terbayangkan dan siap diambil risikonya sejak direncanakan.

Jika PCS ini raib dari diri kita, segalanya menjadi tak terukur, termasuk klaim tentang kegagalan dan keberhasilan kita. Salah satu bukti, hasil survei NBRI (National Business Research Institute, Inc.) tentang Employee Engagement berhasil memetakan, PSC berkorelasi dengan pengembangan karier, iklim organisasi, efektivitas komunikasi, besaran kompensasi, budaya organisasi, kepuasan kerja, keseimbangan hidup, dan morale kerja.

Itulah efek dari cerita Pak Djono sebelum memulai pelajaran menggambar yang saya coba maknai secara lebih kini. Cerita itu tidak saja membuat saya dan teman-teman menggambar secara lebih hidup, tetapi juga memperoleh gambaran tentang hidup, hidup dalam komitmen sekaligus komitmen menjalani hidup. Semoga.

*) Edy Suhardono, adalah Executive Director pada IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Email: iisa@visiwaskita.com. Artikel ini dimuat di Majalah Motivasi LuarBiasa, Edisi Perdana, Januari 2009.

Telah di baca sebanyak: 449

Top