Menulis Buku Best Seller Itu Gampang
October 14, 2011 by admin
Filed under Edy Zaqeus, Kolomnis
“Saya kenal dengan banyak orang yang tidak bisa ketika mereka mau, karena mereka tidak melakukannya ketika mereka bisa.” – Francois Rabelais (Pengarang Perancis)
Apa yang pertama membuat saya tergerak menulis buku unik ini? Tak lain adalah sebuah perbincangan hangat di ruang tamu Gedung Kompas-Gramedia lt.4 pada akhir 2003 lalu. Saya bertemu dua teman lama yang berprofesi sebagai peneliti, dan berdiskusi mengenai situasi ekonomi-politik menjelang Pemilu 2004. Sungguh, rasanya tak sejengkal isu pun bakal terlewat jika sedang asyik berdiskusi dengan para intelektual seperti mereka. Kedua rekan saya itu sangat antusias, sambung-menyambung argumentasinya, dan memperdebatkan begitu banyak isu menarik yang hendak dituangkan dalam bentuk tulisan atau buku politik.
Beberapa ide yang sempat mereka kemukakan antara lain adalah membuat buku track record dan janji-janji para politisi kondang, rapor merah partai-partai, catatan pemilu dari tahun ke tahun, humor politik, sampai ide buku tentang pariwisata klenik. “Kalau dibukukan, rasanya tema-tema tadi pasti digemari orang. Bisa-bisa jadi buku best seller…” ujar teman saya bersemangat sekali. Antusiasme diskusi membuat segalanya menjadi menggairahkan dan seolah begitu mudah diwujudkan. Tentu saja saya sambut hangat ide-ide teman-teman saya ini. Maklum, keduanya setiap hari bergelut dengan informasi terbaru, akses datanya tak terbantahkan, penguasaan metodologi penelitian bisa diandalkan, dan menulis sudah merupakan kegiatan keseharian mereka. Jadi, tunggu apa lagi?
Namun beberapa menit setelah antusiasme kami berhasil mengeksplorasi ide-ide itu lebih jauh lagi, mulailah tersembul segala ‘hambatan’. Tampaknya, hambatan itu mereka sendiri yang menciptakan dan akhirnya mengubur sendiri keinginan membuat buku-buku menarik tersebut. Tidak ada waktu, sibuk kuliah lagi, tidak bisa konsentrasi, data kurang, data belum tersedia, bayangan rumitnya menyusun buku, pernah macet saat mencoba, sampai perasaan terlalu berat jika harus menuangkan ide-ide itu dalam bentuk buku. Alhasil, ide membuat buku laris menguap begitu cepatnya, secepat datangnya ide-ide itu pada awalnya. Yang lebih menggemaskan lagi, tak lama kemudian justru ada penulis lain –yang tidak pernah sekalipun bertukar ide dengan mereka– yang berhasil menulis buku best seller dengan tema sama persis dengan ide-ide mereka sebelumnya.
Beragam latar belakang orang pernah menyampaikan kepada saya tentang hasrat mereka untuk menulis buku. Sebut misalnya seorang pemasar properti dan agen asuransi senior, yang sangat sukses dan ingin sekali membukukan kisahnya. Ada pula presiden direktur perusahaan direct selling bermimpi membuat buku penjualan yang sangat lengkap. Ada lagi wakil presiden direktur yang ingin membuat buku marketing. Lalu seorang trainer begitu berhasrat membuat buku-buku tentang kreatifitas. Ada dosen yang ingin membuat diktat-diktat kuliah maupun novel laris. Ada seorang sekretaris senior yang ingin sekali membukukan kisah cintanya yang begitu menghebohkan.
Problem lain –yang sering menghentikan minat penyibuk untuk mulai menulis– adalah bayangan ruwetnya proses penulisan dan penerbitan buku. Bagaimana dan dari mana mulai menulis? Dari mana ide didapat? Tema apa yang menarik? Bagaimana mengorganisasikan gagasan? Bagaimana membuat tulisan yang enak dibaca? Bagaimana mengatasi kemacetan saat menulis? Siapa yang bisa membantu menulis? Penerbit mana yang mau menerbitkan? Siapa yang mau membeli buku saya? Dan masih banyak lagi.
Seorang profesional yang pernah saya wawancarai mengakui bahwa teknik menulis itu bisa dipelajari dan dilatih. Anehnya, ia juga “memvonis” bahwa dirinya benar-benar tidak memiliki bakat menulis. Akibat vonis diri itu, ia merasa ragu untuk belajar menulis, sungguh pun ia sangat ingin bisa membuat buku tentang prospek profesinya. Nah, tampaknya persoalan menulis buku bukan melulu soal teknis, tapi juga soal-soal konstruksi mental..
Buku-buku laris yang ditulis oleh orang-orang super sibuk semacam Hermawan Kartajaya, Renald Kasali, Aa Gym, Bondan Winarno, Andrie Wongso, Ary Ginanjar, Andrias Harefa, dll, sering begitu menggoda dan memprovokasi orang-orang yang saya singgung di atas itu. Tapi ketika ide-ide hendak dituliskan menjadi naskah buku, tiba-tiba muncul banyak hambatan yang sulit mereka pecahkan sendiri. Si penjual sukses itu misalnya, mengaku sulit konsentrasi menulis akibat sering menerima telepon dari pelangganya. Sementara si direktur mengaku urusan rapat dengan manajemen dan mitra bisnis seperti tak ada habisnya. Alhasil, ruang-ruang bebas untuk menuliskan gagasan serasa hampir mustahil didapat.
Dari pengalaman saya, proses menulis buku itu tidak serumit atau sesulit yang dibayangkan banyak orang. Saya setuju dengan Arswendo Atmowiloto yang mengatakan menulis atau mengarang itu gampang. Memang begitulah kenyataannnya dan semua orang bisa membuat buku laris di pasaran. Syaratnya hanyalah:
- Tahu teknik-teknik yang paling efektif untuk menulis buku.
- Mau menyisihkan waktu dan disiplin menulis.
- Dapat menemukan topik-topik yang dibutuhkan atau diminati masyarakat.
- Memiliki motivasi yang kuat untuk menulis buku.
- Dan punya sense of marketing.
Soal teknik-teknik menulis, bagaimana menemukan topik yang bagus dan mengatur waktu menulis, kita akan bahas pada bab-bab berikutnya. Soal motivasi, nah… ini ada sederet penulis buku dari luar maupun dalam negeri yang patut diacungi jempol. Bukankah mengagumkan bila Madonna, si mega bintang yang super sibuk itu, mampu menulis buku anak-anak yang laris manis berjudul The English Roses dan Mr. Peabody’s Apples. Simak kisah seorang sopir taksi dari Inggris bernama Mus Mustafa, yang sukses dengan buku In A Year of A London Cabbie: Everyone Has A Story.
Jangan lupakan, para pemain bola paling top di dunia seperti Maradona, Pele, Ronaldo, David Beckam, dll, membukukan kisah-kisahnya. Dan yang lebih heboh lagi, Joseph Ratzinger alias Paus Benediktus XVI, baru saja dikukuhkan sebagai penulis best seller. Pasalnya, sekitar tiga lusin judul buku yang ditulisnya 25 tahun lalu, edisi cetak ulangnya laris manis di pasar. Hanya dalam waktu dua hari, 300.000 kopi terjual habis dan 300.000 cetak ulang berikutnya sudah dipesan. Salah satu judul yang laris manis adalah Salt of the Earth.
Dari negeri sendiri, banyak kisah-kisah penulis muda yang mengundang decak kagum. Simak kisah Rachmania Arunita pengarang novel Eiffel I’m in Love, yang menyelesaikan novel best seller itu saat ia masih duduk di bangku SMU. Lihat prestasi si gadis cilik Sri Izzati, yang berhasil menyelesaikan novel setebal 145 halaman berjudul Powerful Girls saat usianya baru delapan tahun. Ada pula Natasha Alesandra yang meluncurkan novel The Adventure of Molly, sebuah novel berbahasa Inggris setebal 60 halaman, yang juga ditulis saat usianya masih delapan tahun. Ada si Abdurahman Fais, penyair cilik yang juga telah membukukan puisi-puisinya pada usia delapan tahun. Dan yang baru saja saya wawancarai, Arifia Sekar Seroja, cerpenis cilik yang berhasil membukukan kumpulan cerpennya berjudul Gigi Kelinci pada usia 9 tahun. Luar biasa mereka itu!
Dari generasi sepuh, ada Achdiat K. Mihardja (penulis novel klasik Atheis) yang masih mampu menulis novel berjudul Manifesto Khalifatullah pada usia 94 tahun. Dari kalangan akademis, ada Profesor Dr. F.G. Winarno, yang pada usia 64 tahun berhasil menulis 50 judul buku hanya dalam waktu 4 bulan (2,4 hari per judul). Ada pula Mashuri (penulis buku-buku paranormal) yang pada usia 40-an mampu menghasilkan 83 judul buku hanya dalam waktu 92 bulan (33 hari per judul). Begitu mudahnya menulis buku!
Simak pula nama para penulis buku best seller yang saya singgung sebelumnya. Mengherankan, orang-orang sibuk seperti Hermawan Kartajaya, Renald Kasali, atau Aa Gym, itu masih mampu menulis buku-buku bagus dan disukai pembaca. Dari kaca mata saya, rahasianya terletak pada personal branding mereka, pilihan topiknya, serta pilihan teknik penulisan yang tepat. Alhasil, kesibukan bukan lagi menjadi penghalang utama bagi para penulis best seller tersebut.
Tampaknya apa pun profesi, pendidikan, latar belakang, bahkan usia muda sekalipun, tidak menghalangi seseorang untuk menulis buku yang digemari pembaca. Selalu saja ada sisi-sisi kemanusiaan atau hal unik lainnya yang bisa dibagikan kepada orang lain. Buku adalah jembatan untuk berbagi secara lebih utuh. Itulah yang sudah ditunjukkan oleh contoh-contoh mengagumkan di atas.
Nah, untuk mewujudkan impian menulis buku, pertama-tama kita harus menyingkirkan aral mental berupa anggapan bahwa menulis buku itu sulit. Singkirkan pula aral mental bahwa kita butuh bakat khusus untuk menulis. Hilangkan anggapan bahwa ide bagus itu sulit ditemukan. Sebaliknya, sejak awal kita harus yakin, semua orang punya bakat menulis. Kita pasti bisa mengatur waktu untuk menulis jika kita mau melakukannya. Kita juga bisa menggali ide dan banyak teknik untuk itu. Kita pun harus berani memutuskan dan mulai berlatih menulis secara disiplin.
Mengetahui teknik menggali ide, memilih topik atau tema yang menarik, mengatur waktu, membuat outline, tahu dari mana memulai, bisa memilih bentuk buku, serta mau berlatih, itu semua penting peranannya dalam menghasilkan buku-buku laris. Namun memiliki motivasi yang tinggi untuk menghasilkan buku best seller juga sangat penting peranannya dalam dunia penulisan buku.
Tips:
- Yakinkan diri, asal tahu cara dan tekniknya yang cocok, menulis buku tidaklah sesulit yang dibayangkan.
- Yakinkan diri, semua orang pasti memiliki bahan berupa gagasan, pengalaman, kisah, imajinasi, dan keahlian yang layak untuk ditulis menjadi buku.
- Miliki motivasi yang tinggi untuk mewujudkan buku yang anda impi-impikan.
- Jangan puas hanya menulis buku, tapi sejak awal miliki hasrat 100 persen untuk menghasilkan buku best seller.
- Jika bocah usia 8 tahun atau kakek usia 94 tahun mampu menulis buku, anda pun pasti mampu.
*) Anda tertarik menulis buku best-seller? Ikuti workshop MENULIS BUKU BEST-SELLER batch 23 : 15-17 Desember 2011. Info : 021-460 5757
* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku bestseller, editor profesional, writer coach, trainer, dan konsultan kepenulisan dan penerbitan. Dua karya terakhirnya yang laris di pasaran adalah Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller (Fivestar, 2008) dan Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila (Kintamani, 2009). Edy juga menjadi pendiri sekaligus editor website motivasi AndaLuarBiasa.com. Ia dapat dihubungi di nomor: 08159912074/021-59400515 atau pos-el: edzaqeus[at]gmail[dot]com.
Telah di baca sebanyak: 754
Personal Branding Melalui Buku
August 18, 2009 by admin
Filed under Edy Zaqeus

“Awali branding Anda dengan tulisan.”
~ Edy Zaqeus
Suatu kali ada seorang trainer datang kepada saya untuk mendiskusikan strategi membangun personal branding dan debutnya di ranah publik Indonesia. Trainer ini lulusan luar negeri dan mengaku telah berkiprah selama bertahun-tahun di berbagai bidang bisnis. Jaringan atau fondasi internasionalnya sudah terbentuk, namun yang saat itu ingin dia bidik justru jaringan dan fondasi di Tanah Air. Alasannya sederhana, pasar di Indonesia dipandangnya masih “menyilaukan” mata, sangat prospektif, dan sangat sayang bila diabaikan.
Infrastruktur berupa tim kerja sudah dibentuk, termasuk event organizer. Sementara website berciri company profile sebagai sarana mass communication dan wadah jejaring juga sudah disiapkan. Rencana-rencana dan budgeting “penampakan” ke ranah publik juga sudah disusun dan dipersiapkan sedemikian rapinya, baik berupa sejumlah preview seminar, seminar inti, termasuk segala macam marketing tools yang dibutuhkan. Sepintas, semua persiapan tersebut bakal memudahkan si trainer ini untuk menggaet perhatian dalam belantara pelatihan dan permotivasian di Indonesia.
Tetapi, dari kacamata saya pribadi sebagai konsultan kepenulisan dan penerbitan, tampaknya ada satu alat personal branding yang tidak dia prioritaskan. Apa itu? Tak lain adalah branding melalui tulisan, dan lebih khusus lagi melalui buku (baik buku panduan, kajian profesi, atau memoar). Mudah saja bagi saya untuk menyatakan bahwa tulisan atau buku adalah alat personal branding yang luar biasa, terlebih bila dipersiapkan dengan baik dan profesional.
Mengapa saya katakan buku ini ampuh untuk mem-branding seseorang? Bahkan, mengapa bisa menjadi medium yang sungguh-sungguh mampu menjadikan ‘si bukan siapa-siapa’ menjadi ‘si seseorang’ yang diperhitungkan? Ya, jawabannya cukup sederhana, yaitu karena sudah banyak contoh membuktikan hal tersebut. Kita pasti tidak asing nama-nama beken seperti Hermawan Kartajaya, Renald Khasali, Ary Ginanjar, Mario Teguh, Andrie Wongso, Andrias Harefa, Safir Senduk, dan masih banyak lagi.
Mereka ini contoh konkrit para penikmat fungsi dan manfaat buku sebagai alat personal branding. Dan saya bisa pastikan, saat ini buku menjadi pilihan terfavorit bagi para profesional untuk branding dan mengangkat reputasi dan kredibilitas profesi. Para motivator, trainer, coach, sales agent, broker, banker, termasuk para juru dakwah pun sudah memanfaatkan buku sebagai alat meraih populritas.
Nah, apa untungnya memanfaatkan buku sebagai alat personal branding? Mengapa tidak memilih iklan atau advertorial di berbagai media massa? Mengapa tidak memakai jasa konsultan PR saja untuk itu? Saya ada beberapa alasan yang semoga bisa menjadikan preferensi awal untuk melihat potensi buku sebagai pilihan strategi branding Anda. Berikut di antaranya:
Pertama, buku memiliki citra (atau dipersepsi) sebagai “barang intelektual”. Artinya, seorang penulis buku hampir pasti dipersepsi oleh publik sebagai orang yang pandai dan ahli (expert) di bidang yang dia tulis. Sebagai barang intelektual, buku maupun penulisnya akan menuai gengsi tersendiri sebagai bagian dari komunitas terpelajar.
Nah, di belahan dunia dan sistem sosial mana pun, komunitas terpelajar begitu dihormati sehingga kadang seperti mendapatkan priveledge sosial tertentu. Sebut misalnya, kalangan pers pasti lebih menyukai narasumber yang sudah memiliki track record tertentu, yang mana informasi itu bisa mereka rujuk dari buku yang ditulis.
Kedua, persepsi sebagai ahli ini memunculkan efek berupa pengakuan awal atas kredibilitas si penulis. Kredibilitas seseorang menentukan tingkat pengaruh maupun kepercayaan publik terhadapnya. Tokoh atau figur yang memiliki kredibilitas di ranah publik seperti memiliki ‘kartu pas’ untuk masuk ke berbagai lingkungan, sasaran, atau target pengaruh. Mau bukti, simak saja menjelang pemilihan jabatan-jabatan publik, biasanya akan muncul buku-buku profil dari para kandidat.
Nah, buku memang cenderung menghasilkan persepsi automatis. Maka, panjang-pendek usia atau kuat-lemah pengaruh pun tergantung pada isi buku itu sendiri.
Ketiga, buku itu sejatinya bersifat egaliter dan demokratis. Lho, apa maksudnya? Nah, beda dengan persepsi awam selama ini yang memandang buku sebagai perwujudan olah intelektual yang eksklusif. Dalam beberapa kasus bisa jadi demikian, tetapi sesungguhnya buku merupakan salah satu instrumen mobilitas pengaruh yang paling egaliter dan demokratis. Artinya, siapa pun Anda dan dari latar belakang apa pun, tidak ada hambatan struktural untuk mewujudkan sebuah buku, termasuk menggunakannya sebagai bagian dari strategi-strategi branding Anda.
Jadi jangan heran, mulai dari yang SD saja tidak tamat, sopir taksi, pembantu rumah tangga, tukang sol sepatu, pemulung, manta narapidana, sampai para konglomerat maupun pakar bergelar profesor doktor berhak menuliskan pikiran-pikirannya menjadi sebuah buku. Buku adalah instrumen pengaruh yang inklusif sifatnya. Setiap orang yang berhasil menerbitkan buku akan memiliki kesempatan yang sama untuk masuk dalam public discourse, dan ada efek pengaruh di situ.
Keempat, buku adalah instrumen branding yang relatif mudah untuk dikreasikan. Saya katakan begitu karena ada berbagai macam teknik praktis yang bisa digunakan untuk menyusun atau menulis buku. Ada teknik kompilasi tulisan, ada teknik menulis cepat, ada teknik interview, ada juga teknik co-writing dan ghost writing. Berdasarkan pengalaman saya, hampir semua tema maupun problem kepenulisan tetap bisa dicarikan solusinya.
Nah, dari segi waktu misalnya, penulisan buku pun bisa disesuaikan dengan rencana atau target-target tertentu. Percaya atau tidak, ada buku yang bisa ditulis dalam waktu 2,5 jam! Saya pernah mengkreasikan buku jenis ini (Mengukir Kata Menata Kalimat; Gradien, 2007) bersama Andrias Harefa, seorang trainer dan penulis buku-buku bestseller.
Kelima, dari segi efisiensi biaya, tak jarang (atau malah lebih sering) proses penggarapan buku menjadi lebih kompetitif dibanding iklan-iklan di televisi maupun media cetak. Beberapa tokoh atau perusahaan rela menghabiskan ratusan juta rupiah untuk sekali pasang iklan di media massa cetak. Padahal, dengan budget yang sama mereka bisa menghasilkan buku-buku dengan kualitas yang sangat baik serta memiliki efek pengaruh yang relatif lebih lama.
Baik, saya sudah sampaikan beberapa alasan dasar mengapa Anda perlu melirik buku sebagai pilihan membangun personal branding Anda. Barangkali ada di antara pembaca tulisan ini yang mulai terusik perhatiannya dan ingin tahu bagaimana mempraktikkannya. Saya ada saran sederhana yang saya yakin bisa mulai dijalankan oleh siapa saja, khususnya kaum profesional. Apa itu? Mulai saja menulis. Ya, mulailah menulis apa saja, khususnya bidang yang memang menjadi keahlian atau kompetensi Anda.
* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku bestseller, editor profesional, writer coach, trainer, dan konsultan kepenulisan dan penerbitan. Dua karya terakhirnya yang laris di pasaran adalah Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller (Fivestar, 2008) dan Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila (Kintamani, 2009). Edy juga menjadi pendiri sekaligus editor website motivasi AndaLuarBiasa.com. Ia dapat dihubungi di nomor: 08159912074/021-59400515 atau pos-el: edzaqeus[at]gmail[dot]com.
Telah di baca sebanyak: 342
Antara Perkawinan, Berwirausaha, dan Menulis
February 24, 2009 by admin
Filed under Edy Zaqeus

Seorang sahabat lama curhat kepada saya tentang perkawinan. Gara-garanya dia enggak tahan saya tanya terus, “Kapan kamu menyusul kami-kami yang udah married?” Setelah komentar pujian, ucapan terima kasih, pengantar, dan pendahuluan di sana-sini, akhirnya sampai juga ke “isi buku” sebenarnya. Ternyata, sahabat saya ini bukannya tidak ada penggemar berat atau calon pendamping yang serius. Tetapi, hasil bacaan saya lho ya, persoalannya lebih disebabkan oleh beberapa hal yang sepintas tampak sangat sepele.
Rupanya, sahabat ini ragu dengan “dunia rumah tangga” yang tidak dia kenal. Seperti biasa, informasi dari sana-sini begitu memengaruhi. “Ntar kalau sudah punya suami, wah… ribet mengurus anak dan suami,” begitu katanya, sembari membandingkan betapa kenyamanan berlebih yang dia dapat bersama keluarganya. Zona nyaman dan “daerah antah berantah” itu mungkin saja sangat memengaruhi sahabat saya ini, sekalipun saya menduga pastilah ada faktor-faktor lain yang ikut berperan.
Tetapi okelah, apa pun itu faktor-faktor lainnya, saya jadi teringat dengan curhatan teman-teman saya yang lain, namun dalam dimensi yang lain juga hehehe… Maksudnya, ranah wiraswasta dan kepenulisan. Ternyata, saya juga temukan persoalan yang sama. Manakala orang mau memasuki “dunia baru”, persoalan zona nyaman dan medan yang tidak dikenal itu sebegitu mengganggunya. Banyak “hantu” bergentayangan di sekeliling ketiga hal di atas; perkawinan, wiraswasta, dan kepenulisan.
Apa saja itu? Simak hasil duga-duga saya berikut ini.
Pertama, selalu ada hantu modal. Sahabat yang pingin menikah tapi belum juga terlaksana, sering mengeluhkan ini; “Zaman sekarang memang susah cari pasangan yang bisa dipercaya, yang secara materi aman, dan yang tidak memendam masalah lainnya. Modal cinta saja kan enggak cukup, ya toh?”
Yang mau berwiraswasta juga mengeluh, tanpa modal, apa yang bisa dilakukan? “Emang cukup modal dengkul dan niat doang? Berapa banyak sih yang bisa jalan cuman dengan modal niat?” Begitu keluhannya, terutama bagi calon wiraswastawan yang berstatus pegawai atau kebetulan minim modal materi.
Sementara, yang mau menulis (entah artikel, buku, atau materi tertulis apa pun) suka mengeluh, “Wah, saya enggak punya bakat deh!” Yang lain bilang, “Enggak pede kalau tulisan dibaca orang lain!” Jadi, ini soal hantu modal yang jadi penghambat; modal kepercayaan, self-confidence, modal materi, modal bakat, dll.
Kedua, ada hantu perfeksionisme. Tak jarang orang yang hendak memutuskan menempuh perkawinan terhalang oleh kekurangan-kekurangan yang dimiliki sang pasangan. Kurang terbuka, kurang supel, kurang pengertian, kurang tegas, kurang bertanggung jawab, kurang romantis, kurang pendidikan, atau juga kurang modal dan persiapan.
Yang mau berwiraswasta juga sama saja, kadang menghendaki perencanaan yang sesempurna mungkin demi menghilangkan kemungkinan gagal atau merugi. Kadang, kesempurnaan juga ditunjukkan pada posisi menunggu waktu yang paking tepat atau paling pas untuk berwiraswasta.
Nah, yang sedang belajar menulis juga begitu, takut berbuat kesalahan dalam menulis. Oleh sebab itu, orang berusaha menulis sesempurna mungkin dan mencoba menihilkan kekurangan sekecil apa pun. Hasilnya, lebih banyak tulisan yang tidak jadi, atau lebih parah lagi, banyak orang tidak jadi menulis. Dan, asal tahu saja, hantu perfeksionisme inilah yang paling banyak menggagalkan usaha para orang pintar ketika akan menuliskan gagasannya.
Ketiga, cengkeraman hantu risiko. Yang mau menikah takut risiko kehilangan zona nyaman yang didapat dalam keluarga, takut suami atau istrinya nanti menyeleweng, takut dipoligami, takut risiko gagal membangun rumah tangga dan bercerai, termasuk takut tidak bisa merawat dan menghidupi keluarga dengan baik. Intinya, takut ambil risiko dalam perkawinan.
Yang mau berwiraswasta juga takut setengah mati pada kerugian, takut risiko usahanya tidak untung, takut risiko ditipu pegawai atau mitra usaha, takut situasi krisis tidak juga mereda, takut dikejar-kejar petugas pajak, dll.
Sementara yang belajar menulis juga sama takutnya dengan risiko bakal dicela orang, takut tulisannya dinilai jelek atau tidak bermutu, takut kredibilitasnya merosot kalau ketahuan tulisannya kurang bermutu, takut menerima risiko kritikan, termasuk takut dimejahijaukan kalau tulisannya dinilai memfitnah orang.
Nah, kalau masalahnya sudah terpetakan seperti itu, terus bagaimana dong pemecahannya? Ya, sebelumnya saya tegaskan saya memang sudah menikah tetapi bukan konsultan perkawinan. Saya pun sudah coba-coba dan memang berwiraswasta, tetapi belumlah ada apa-apanya dibanding para wiraswastawan hebat lainnya.
Satu-satunya yang saya anggap paling saya kuasai adalah soal kepenulisan, utamanya nonfiksi. Jadi, izinkanlah saya melakukan penyederhanaan-penyederhanaan yang—mohon maaf sebelumnya—apabila tidak bisa dipertanggungjawabkan kualitasnya.
Jadi, kalau menurut analisis saya, ketiga “hantu” di atas sesungguhnya bisa dikristalkan pada masalah risiko. Mau kawin ada risikonya, mau wiraswasta ada risikonya, pun menulis pasti ada risikonya. Ini mengingatkan saya pada statement Bob Sadino, “Orang hidup saja ada risikonya, apalagi berbisnis…” (selengkapnya, baca di buku terbaru saya ya, Bob Sadino: Orang Bilang Saya Gila!). Makanya, apa pun yang kita lakukan maupun apa yang tidak kita lakukan sama saja, selalu mengandung risiko.
Hanya saja, sebaiknya kita cukup fair dalam memandang risiko. Ada risiko gagal, ada risiko berhasil, kan? Ada risiko buruk, ada juga risiko baik, kan? Jadi, ketika menghadapi hantu-hantu dalam perkawinan, wiraswasta, dan kepenulisan, usahakan bisa memiliki perspektif yang seimbang. Nah, bagaimana caranya?
Sahabat saya, Alexandra Dewi, dalam buku ketiganya yang sebentar lagi terbit menyatakan, “Kalau bertanya soal perkawinan, atau curhat soal itu, ya jangan tanya sama orang yang belum pernah menikah, dong!”
Bob Sadino menyatakan, “Kalau mau berwiraswasta, jangan baca buku tentang wiraswasta, dong! Apalagi kalau buku itu ditulis oleh orang yang tidak pernah berwiraswasta.” Intinya, Bob menyarankan supaya orang belajar dengan terjun langsung dan mengalami sendiri semua prosesnya.
Nah, kalau soal kepenulisan, saya sering sampaikan kepada para penanya, “Hehehe… kalau tanya soal cerpen atau novel, lebih baik kepada Gola Gong, Pipiet Senja, Asma Nadia, atau Naning Pranoto. Sebab, saya ini penulis nonfiksi, yang masih saja tergagap-gagap dalam menikmati karya fiksi.”
Anda menangkap maksud saya, bukan? Untuk mendapatkan preferensi terbaik—yang bisa kita jadikan sebagai bahan atau landasan mengambil keputusan dan bertindak—bertanyalah, berdiskusilah, atau belajarlah kepada orang yang menguasai persoalannya. Orang yang kompeten karena memang pernah mengalami, mendalami, belajar dari situ, dan memang hidup di bidang tersebut.
Oke, Anda sudah memahami risikonya, sudah mengambil posisi pada derajat mana risiko siap Anda tanggung, dan juga sudah mendapatkan preferensi darfi sumber yang berkompeten. Selanjutnya, silakan melangkah dengan lebih tenang diiringi dengan doa. Terima saja semua risikonya, dan biarkan Tangan Tuhan ikut campur tangan dalam kehidupan Anda. Dan, lihat saja hasilnya.
Selamat menulis, selamat berwiraswasta, dan selamat menempuh hidup baru hehehe….[ez]
* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku bestseller, trainer dan konsultan penulisan/penerbitan, dan seorang writer coach. Ia dapat dihubungi melalui web: AndaLuarBiasa.com, BukuKenangan.com, atau blog http://ezonwriting.wordpress.com.
Telah di baca sebanyak: 262Book Coaching: Menjadi Pendamping Penulis
February 12, 2009 by admin
Filed under Edy Zaqeus
Dua bulan saya nyaris absen total dari dunia maya. Dua hingga tiga bulan belakangan, saya memang sedang digempur habis oleh kesibukan atau aktivitas penulisan karya terbaru saya sekaligus pendampingan-pendampingan penulisan buku para klien. Dan, seperti kasus-kasus yang selama ini saya tangani, selalu saja ada hal menarik yang bisa dibagikan dan diambil pelajarannya.
Saya akan coba ceritakan kasus pendampingan saya dalam penulisan buku berjudul Rahasia Mendapatkan Nilai 100 (Sinotif, 2008) karya Hindra Gunawan. Kasus terakhir yang saya tangani ini terbilang sangat menarik, mengingat dalam waktu kurang dari tiga bulan, Hindra berhasil menuntaskan dan menerbitkan bukunya, sekaligus mendirikan sebuah penerbitan mandiri bernama Sinotif Publishing.
Tambah menarik lagi, mengingat si penulis adalah seorang pengajar sekaligus eksekutif lima perusahaan, yang sehari-hari benar-benar disibukkan oleh urusan bisnisnya, tetapi masih sanggup bagi waktu demi menyelesaikan penulisan buku setebal 200 halaman lebih itu. Dan, menampingi penulis-penulis “gila” semacam ini memang salah satu kegemaran saya he he he….
Baik, ketika menerima tawaran sebagai coach atau pendamping dalam proses penulisan buku ini, saya sempat membayangkan bahwa ini adalah sebuah proyek yang terbilang mudah dikerjakan. Klien atau penulis yang saya dampingi ini adalah seorang pengajar, trainer, hipnoterapis, sekaligus businessman yang sangat menguasai bidang yang hendak dia tulis.
Tetapi, asumsi itu langsung saya koreksi begitu si klien menetapkan target bahwa buku harus bisa diterbitkan dalam kurun dua hingga tiga bulan. Alasannya, ada serentetan acara konfensi atau ekspo yang bisa dimasuki oleh buku tersebut. Celakanya, buku benar-benar digagas, dirancang, dan harus ditulis dari nol sama sekali!
Begitu kontrak pendampingan kami tandatangani, saya langsung ancang-ancang strategi, dan saya komunikasikan dengan sejelas-jelasnya kepada klien ini. Pertama, saya tegaskan bahwa antara coach dan coache (klien) harus sama-sama berkomitmen untuk bekerja keras, tahan banting, bila perlu ‘setengah memaksakan diri’ dalam beberapa langkah nantinya.
Kedua, saya tekankan bahwa sebagai coach atau pendamping, fungsi saya adalah memaksimalkan dan mengaktualkan potensi si klien melalui proses pembelajaran penulisan buku. Wujudnya adalah sebuah karya tulis yang harus benar-benar dirasakan sebagai karya orisinal si penulis, berkualitas, serta memuaskan diri sendiri atau target pembaca.
Ketiga, saya juga tegaskan bahwa dalam beberapa tahapan nantinya, terkadang saya harus bersikap “keras” demi mempertahankan kefokusan klien. Mengapa? Sebab, dari berbagai kasus yang pernah saya tangani, sangat sering muncul sindrom “masterpiece” dalam diri penulis-penulis pemula. Maksudnya, muncul hasrat untuk membuat karya selengkap dan sehebat mungkin pada kesempatan pertama menulis buku, sementara realitasnya mereka dihadang oleh konstrain waktu yang sulit diajak kompromi.
Keempat, saya jelaskan berbagai risiko penulisan dan penerbitan buku dalam tenggat waktu yang sedemikian sempit. Kalau dalam waktu normal saja kita butuh ketelitian yang maksimal agar kita bisa menghasilkan naskah yang berkualitas, rapi, lengkap, dan minim kesalahan. Terlebih kalau konstrain waktunya “abnormal”, pastilah butuh ketelitian dan ketekunan yang hitungannya ekstra maksimal he he he…
Kelima, saya “peringatkan” di awal, bahwa saya akan mendera klien dengan anjuran dan ajakan yang terus-menerus supaya yang bersangkutan lebih percaya diri untuk menggali bahan-bahan penulisan dari pengalaman sendiri. Selebihnya, bolehlah ditambahkan dari berbagai literatur atau teori-teori dari pakar lainnya. Langkah ini, selain mempercepat proses penulisan, ternyata juga ampuh untuk menghadirkan banyak hal atau temuan baru ke dalam naskah buku kita.
Nah, ancang-ancang strategi beserta asumsi atau dugaan-dugaan saya ternyata sungguh-sungguh mewarnai proses pendampingan buku Hindra Gunawan ini. Dari sisi kerja keras, memang ada totalitas, yang mana jadwal pertemuan pendampingan pun bisa bertambah dua kali lipat. Sementara, klien harus menambah alokasi waktu pendampingan, riset, dan penulisan lebih dari yang diduga semula. Hasilnya, proses penulisan bisa sangat cepat, tetapi risikonya sampai membuat gusi si penulis yang vegetarian ini pecah dan berdarah-darah. Untuk semangat yang beginian, tanpa ragu-ragu saya beri nilai 100 he he he….
Dari segi kefokusan penulis, dugaan saya terbukti, bahwa sindrom “masterpiece” akhirnya muncul. Tanda-tandanya? Klien menuntut diri untuk bisa menghasilkan karya yang jauh lebih hebat ketimbang pesaingnya, lebih lengkap, dan itu dilakukan dengan terus-menerus menambah jumlah literatur yang hendak dijadikan referensi. Bahkan, sampai pada detik-detik terakhir, penambahan-penambahan bab masih terus berlangsung, lengkap dengan segala kekuatan dan kelemahannya.
Ini idealisme yang harus dihargai, tetapi saya terus berpegang pada sikap pragmatis-realistis, karena yang dihadapi adalah limit waktu. Pada tahapan inilah, selain memfungsikan diri sebagai motivator kepenulisan, saya juga berubah wujud menjadi mitra pembelajaran yang sangat kritis, bahkan terbilang “keras” kepada klien. Tanpa sikap seperti ini, klien tidak akan fokus dan disiplin dalam mengejar target penyelesaian penulisan seperti yang sudah disepakati bersama. Dan, posisi yang saya pilih itu ternyata memberikan hasil sangat positif.
Dari sisi kebaruan karya, akhirnya tercapailah tujuan kami semula, bahwa buku yang dihasilkan sungguh-sungguh menyajikan banyak hal baru kepada pembaca. Klaim ini dibuktikan dengan banyaknya bab, contoh-contoh, kasus-kasus, kiat-kiat, dan argumentasi-argumentasi yang relatif baru karena digali dan diolah dari hasil riset, observasi langsung, atau dari pengalaman penulis serta orang-orang di sekitarnya.
Pada titik ini, saya dapatkan pernyataan kepuasan dari si penulisnya sendiri. Yang mana, proses pembelajaran tersebut telah mendorong dirinya untuk lebih fokus pada penyajian hal-hal baru dalam bukunya, ketimbang mengulang-ulang isi buku-buku yang pernah dia baca atau yang menjadi referensi penulisan.
Akhirnya, buku Rahasia Mendapatkan Nilai 100 berhasil diterbitkan tepat sesuai jadwal. Lepas dari sisi kekurangansempurnaan produk akibat konstrain waktu, baik saya sebagai pendamping/konsultan maupun si penulis merasakan suatu kepuasan atas hasil sebuah kerja keras bersama. Kepuasan itu bertambah lagi dengan munculnya kebanggaan dan rasa syukur, manakala kami melihat banyak orang tertarik membeli buku itu saat di-display di sejumlah ajang ekspo, pelatihan, dan seminar. Selanjutnya, kita tunggu saja, apakah kombinasi penjualan langsung serta penjualan melalui jaringan toko-toko buku mampu menghantarkan buku tersebut ke tangga buku bestseller.
* Edy Zaqeus adalah seorang penulis buku bestseller, editor profesional, penerbit, trainer, dan konsultan penulisan/penerbitan.
Telah di baca sebanyak: 247Antara Perkawinan, Berwirausaha, dan Menulis
February 12, 2009 by admin
Filed under Edy Zaqeus

Seorang sahabat lama curhat kepada saya tentang perkawinan. Gara-garanya dia enggak tahan saya tanya terus, “Kapan kamu menyusul kami-kami yang udah married?” Setelah komentar pujian, ucapan terima kasih, pengantar, dan pendahuluan di sana-sini, akhirnya sampai juga ke “isi buku” sebenarnya. Ternyata, sahabat saya ini bukannya tidak ada penggemar berat atau calon pendamping yang serius. Tetapi, hasil bacaan saya lho ya, persoalannya lebih disebabkan oleh beberapa hal yang sepintas tampak sangat sepele.
Rupanya, sahabat ini ragu dengan “dunia rumah tangga” yang tidak dia kenal. Seperti biasa, informasi dari sana-sini begitu memengaruhi. “Ntar kalau sudah punya suami, wah… ribet mengurus anak dan suami,” begitu katanya, sembari membandingkan betapa kenyamanan berlebih yang dia dapat bersama keluarganya. Zona nyaman dan “daerah antah berantah” itu mungkin saja sangat memengaruhi sahabat saya ini, sekalipun saya menduga pastilah ada faktor-faktor lain yang ikut berperan.
Tetapi okelah, apa pun itu faktor-faktor lainnya, saya jadi teringat dengan curhatan teman-teman saya yang lain, namun dalam dimensi yang lain juga hehehe… Maksudnya, ranah wiraswasta dan kepenulisan. Ternyata, saya juga temukan persoalan yang sama. Manakala orang mau memasuki “dunia baru”, persoalan zona nyaman dan medan yang tidak dikenal itu sebegitu mengganggunya. Banyak “hantu” bergentayangan di sekeliling ketiga hal di atas; perkawinan, wiraswasta, dan kepenulisan.
Apa saja itu? Simak hasil duga-duga saya berikut ini.
Pertama, selalu ada hantu modal. Sahabat yang pingin menikah tapi belum juga terlaksana, sering mengeluhkan ini; “Zaman sekarang memang susah cari pasangan yang bisa dipercaya, yang secara materi aman, dan yang tidak memendam masalah lainnya. Modal cinta saja kan enggak cukup, ya toh?”
Yang mau berwiraswasta juga mengeluh, tanpa modal, apa yang bisa dilakukan? “Emang cukup modal dengkul dan niat doang? Berapa banyak sih yang bisa jalan cuman dengan modal niat?” Begitu keluhannya, terutama bagi calon wiraswastawan yang berstatus pegawai atau kebetulan minim modal materi.
Sementara, yang mau menulis (entah artikel, buku, atau materi tertulis apa pun) suka mengeluh, “Wah, saya enggak punya bakat deh!” Yang lain bilang, “Enggak pede kalau tulisan dibaca orang lain!” Jadi, ini soal hantu modal yang jadi penghambat; modal kepercayaan, self-confidence, modal materi, modal bakat, dll.
Kedua, ada hantu perfeksionisme. Tak jarang orang yang hendak memutuskan menempuh perkawinan terhalang oleh kekurangan-kekurangan yang dimiliki sang pasangan. Kurang terbuka, kurang supel, kurang pengertian, kurang tegas, kurang bertanggung jawab, kurang romantis, kurang pendidikan, atau juga kurang modal dan persiapan.
Yang mau berwiraswasta juga sama saja, kadang menghendaki perencanaan yang sesempurna mungkin demi menghilangkan kemungkinan gagal atau merugi. Kadang, kesempurnaan juga ditunjukkan pada posisi menunggu waktu yang paking tepat atau paling pas untuk berwiraswasta.
Nah, yang sedang belajar menulis juga begitu, takut berbuat kesalahan dalam menulis. Oleh sebab itu, orang berusaha menulis sesempurna mungkin dan mencoba menihilkan kekurangan sekecil apa pun. Hasilnya, lebih banyak tulisan yang tidak jadi, atau lebih parah lagi, banyak orang tidak jadi menulis. Dan, asal tahu saja, hantu perfeksionisme inilah yang paling banyak menggagalkan usaha para orang pintar ketika akan menuliskan gagasannya.
Ketiga, cengkeraman hantu risiko. Yang mau menikah takut risiko kehilangan zona nyaman yang didapat dalam keluarga, takut suami atau istrinya nanti menyeleweng, takut dipoligami, takut risiko gagal membangun rumah tangga dan bercerai, termasuk takut tidak bisa merawat dan menghidupi keluarga dengan baik. Intinya, takut ambil risiko dalam perkawinan.
Yang mau berwiraswasta juga takut setengah mati pada kerugian, takut risiko usahanya tidak untung, takut risiko ditipu pegawai atau mitra usaha, takut situasi krisis tidak juga mereda, takut dikejar-kejar petugas pajak, dll.
Sementara yang belajar menulis juga sama takutnya dengan risiko bakal dicela orang, takut tulisannya dinilai jelek atau tidak bermutu, takut kredibilitasnya merosot kalau ketahuan tulisannya kurang bermutu, takut menerima risiko kritikan, termasuk takut dimejahijaukan kalau tulisannya dinilai memfitnah orang.
Nah, kalau masalahnya sudah terpetakan seperti itu, terus bagaimana dong pemecahannya? Ya, sebelumnya saya tegaskan saya memang sudah menikah tetapi bukan konsultan perkawinan. Saya pun sudah coba-coba dan memang berwiraswasta, tetapi belumlah ada apa-apanya dibanding para wiraswastawan hebat lainnya.
Satu-satunya yang saya anggap paling saya kuasai adalah soal kepenulisan, utamanya nonfiksi. Jadi, izinkanlah saya melakukan penyederhanaan-penyederhanaan yang—mohon maaf sebelumnya—apabila tidak bisa dipertanggungjawabkan kualitasnya.
Jadi, kalau menurut analisis saya, ketiga “hantu” di atas sesungguhnya bisa dikristalkan pada masalah risiko. Mau kawin ada risikonya, mau wiraswasta ada risikonya, pun menulis pasti ada risikonya. Ini mengingatkan saya pada statement Bob Sadino, “Orang hidup saja ada risikonya, apalagi berbisnis…” (selengkapnya, baca di buku terbaru saya ya, Bob Sadino: Orang Bilang Saya Gila!). Makanya, apa pun yang kita lakukan maupun apa yang tidak kita lakukan sama saja, selalu mengandung risiko.
Hanya saja, sebaiknya kita cukup fair dalam memandang risiko. Ada risiko gagal, ada risiko berhasil, kan? Ada risiko buruk, ada juga risiko baik, kan? Jadi, ketika menghadapi hantu-hantu dalam perkawinan, wiraswasta, dan kepenulisan, usahakan bisa memiliki perspektif yang seimbang. Nah, bagaimana caranya?
Sahabat saya, Alexandra Dewi, dalam buku ketiganya yang sebentar lagi terbit menyatakan, “Kalau bertanya soal perkawinan, atau curhat soal itu, ya jangan tanya sama orang yang belum pernah menikah, dong!”
Bob Sadino menyatakan, “Kalau mau berwiraswasta, jangan baca buku tentang wiraswasta, dong! Apalagi kalau buku itu ditulis oleh orang yang tidak pernah berwiraswasta.” Intinya, Bob menyarankan supaya orang belajar dengan terjun langsung dan mengalami sendiri semua prosesnya.
Nah, kalau soal kepenulisan, saya sering sampaikan kepada para penanya, “Hehehe… kalau tanya soal cerpen atau novel, lebih baik kepada Gola Gong, Pipiet Senja, Asma Nadia, atau Naning Pranoto. Sebab, saya ini penulis nonfiksi, yang masih saja tergagap-gagap dalam menikmati karya fiksi.”
Anda menangkap maksud saya, bukan? Untuk mendapatkan preferensi terbaik—yang bisa kita jadikan sebagai bahan atau landasan mengambil keputusan dan bertindak—bertanyalah, berdiskusilah, atau belajarlah kepada orang yang menguasai persoalannya. Orang yang kompeten karena memang pernah mengalami, mendalami, belajar dari situ, dan memang hidup di bidang tersebut.
Oke, Anda sudah memahami risikonya, sudah mengambil posisi pada derajat mana risiko siap Anda tanggung, dan juga sudah mendapatkan preferensi darfi sumber yang berkompeten. Selanjutnya, silakan melangkah dengan lebih tenang diiringi dengan doa. Terima saja semua risikonya, dan biarkan Tangan Tuhan ikut campur tangan dalam kehidupan Anda. Dan, lihat saja hasilnya.
Selamat menulis, selamat berwiraswasta, dan selamat menempuh hidup baru hehehe….[ez]
* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku bestseller, trainer dan konsultan penulisan/penerbitan, dan seorang writer coach. Ia dapat dihubungi melalui web: AndaLuarBiasa.com, BukuKenangan.com, atau blog http://ezonwriting.wordpress.com.
Telah di baca sebanyak: 268PILIH MENULIS ATAU MATI?
December 10, 2008 by admin
Filed under Edy Zaqeus
10 Desember 2008 – 18:24 (Diposting oleh: Editor)
Belum lama berselang, saya mengisi pelatihan (workshop) menulis untuk sebuah bank papan atas yang punya slogan “Melayani Negeri, Kebanggan Bangsa”. Para pesertanya datang dari berbagai kota di Indonesia, yang mana mereka adalah jajaran manajerial bank tersebut. Sehari-hari, para staf pilihan ini menangani publikasi, kehumasan, dan media internal perusahaan. Dan, bukan hal mudah mengisi lokakarya—yang idealnya hanya diikuti 10-20 orang itu—namun diikuti oleh 50 orang.
Tampil pada kesempatan pertama (sebelumnya ada sesi internal), saya dipaksa untuk memutar otak, bagaimana menaklukkan minat dan perhatian para peserta? Akhirnya, saya teringat dengan sebuah game penulisan yang saya praktikkan pada workshop SPP sebelumnya. Seingat saya, game ini baru sekali saja saya perkenalkan dan praktikkan, jadi pastilah belum banyak peserta yang tahu. Begini permainannya…
Saya perkenalkan diri dan umpamakan diri saya adalah Sang Malaikat Pencabut Nyawa. Peserta di hadapan saya, saya posisikan sebagai orang-orang yang hanya punya kesempatan sekali saja, untuk membujuk saya supaya tidak “mencabut nyawa” mereka dengan segera. Wah, ngeri ya…
“Saya Malaikat Pencabut Nyawa… Anda semua saya beri kesempatan, yang TERAKHIR kalinya, untuk menyampaikan satu pesan TERPENTING yang mesti Anda sampaikan kepada orang-orang terkasih, atau orang-orang yang paling Anda cintai. Renungkan pesan terakhir itu, tuliskan pesan itu, lalu SMS ke tiga nomor handphone saya ini…. Ingat, waktu Anda hanya 5 menit, tidak lebih, tidak kurang…. Mulai!”
Begitu kata ‘Mulai!’ saya teriakkan, saya lihat para peserta langsung pencat-pencet handphone. Mereka tampak serius sekali menuliskan pesan “terakhirnya”. Sambil mengamati aktivitas mereka itu, saya kembali ngomporin mereka. “Ingat, kita tidak tahu kapan Tuhan akan benar-benar memanggil kita ke pangkuan-Nya. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Jangan sampai pesan terpenting dalam hidup Anda tidak tersampaikan. Dan, jika pesan Anda benar-benar menyentuh, si ‘Malaikat Pencabut Nyawa’ ini pasti akan memberikan ‘sesuatu’ kepada Anda….”
Kurang dari 5 menit, kedua handphone yang saya bawa tak henti-hentinya bergetar. Pesan-pesan singkat masuk satu demi satu, sampai jumlahnya mencapai 50-an SMS. Rupanya, saya dapatkan pesan-pesan terpenting yang sangat bervariasi. Ada yang biasa saja, namun ada yang menurut saya sangat menyentuh. Berikut adalah seperlima dari seluruh yang masuk, dan saya pilih karena saya anggap memang penting dan cukup mengena di hati:
“Tiada kalimat yg paling indah di dunia ini selain doa.” (081234xxxxx)
“Hal yg terbaik dan yg terindah dalam hidup aku adalah mengenal kamu.”(0813494xxxxx)
Telah di baca sebanyak: 537BOOK COACHING: MENJADI PENDAMPING PENULIS
November 3, 2008 by admin
Filed under Edy Zaqeus
03 November 2008 – 08:54 (Diposting oleh: Hendri Bun)
Dua bulan saya nyaris absen total dari dunia maya. Dua hingga tiga bulan belakangan, saya memang sedang digempur habis oleh kesibukan atau aktivitas penulisan karya terbaru saya sekaligus pendampingan-pendampingan penulisan buku para klien. Dan, seperti kasus-kasus yang selama ini saya tangani, selalu saja ada hal menarik yang bisa dibagikan dan diambil pelajarannya.
Saya akan coba ceritakan kasus pendampingan saya dalam penulisan buku berjudul Rahasia Mendapatkan Nilai 100 (Sinotif, 2008) karya Hindra Gunawan. Kasus terakhir yang saya tangani ini terbilang sangat menarik, mengingat dalam waktu kurang dari tiga bulan, Hindra berhasil menuntaskan dan menerbitkan bukunya, sekaligus mendirikan sebuah penerbitan mandiri bernama Sinotif Publishing.
Tambah menarik lagi, mengingat si penulis adalah seorang pengajar sekaligus eksekutif lima perusahaan, yang sehari-hari benar-benar disibukkan oleh urusan bisnisnya, tetapi masih sanggup bagi waktu demi menyelesaikan penulisan buku setebal 200 halaman lebih itu. Dan, menampingi penulis-penulis “gila” semacam ini memang salah satu kegemaran saya he he he….
Baik, ketika menerima tawaran sebagai coach atau pendamping dalam proses penulisan buku ini, saya sempat membayangkan bahwa ini adalah sebuah proyek yang terbilang mudah dikerjakan. Klien atau penulis yang saya dampingi ini adalah seorang pengajar, trainer, hipnoterapis, sekaligus businessman yang sangat menguasai bidang yang hendak dia tulis.
Tetapi, asumsi itu langsung saya koreksi begitu si klien menetapkan target bahwa buku harus bisa diterbitkan dalam kurun dua hingga tiga bulan. Alasannya, ada serentetan acara konfensi atau ekspo yang bisa dimasuki oleh buku tersebut. Celakanya, buku benar-benar digagas, dirancang, dan harus ditulis dari nol sama sekali!
Begitu kontrak pendampingan kami tandatangani, saya langsung ancang-ancang strategi, dan saya komunikasikan dengan sejelas-jelasnya kepada klien ini. Pertama, saya tegaskan bahwa antara coach dan coache (klien) harus sama-sama berkomitmen untuk bekerja keras, tahan banting, bila perlu ‘setengah memaksakan diri’ dalam beberapa langkah nantinya.
Kedua, saya tekankan bahwa sebagai coach atau pendamping, fungsi saya adalah memaksimalkan dan mengaktualkan potensi si klien melalui proses pembelajaran penulisan buku. Wujudnya adalah sebuah karya tulis yang harus benar-benar dirasakan sebagai karya orisinal si penulis, berkualitas, serta memuaskan diri sendiri atau target pembaca.
Ketiga, saya juga tegaskan bahwa dalam beberapa tahapan nantinya, terkadang saya harus bersikap “keras” demi mempertahankan kefokusan klien. Mengapa? Sebab, dari berbagai kasus yang pernah saya tangani, sangat sering muncul sindrom “masterpiece” dalam diri penulis-penulis pemula. Maksudnya, muncul hasrat untuk membuat karya selengkap dan sehebat mungkin pada kesempatan pertama menulis buku, sementara realitasnya mereka dihadang oleh konstrain waktu yang sulit diajak kompromi.
Keempat, saya jelaskan berbagai risiko penulisan dan penerbitan buku dalam tenggat waktu yang sedemikian sempit. Kalau dalam waktu normal saja kita butuh ketelitian yang maksimal agar kita bisa menghasilkan naskah yang berkualitas, rapi, lengkap, dan minim kesalahan. Terlebih kalau konstrain waktunya “abnormal”, pastilah butuh ketelitian dan ketekunan yang hitungannya ekstra maksimal he he he…
Read more
POTENSI DAN MANFAAT SELF-PUBLISHING
August 5, 2008 by admin
Filed under Edy Zaqeus
05 Agustus 2008 – 13:29 (Diposting oleh: Editor)
Seri Artikel Write & Grow Rich
Tren penerbitan mandiri (self/independent publishing) sudah tak terbendung lagi. Kini, semakin banyak saja individu atau lembaga dari berbagai strata sosial dan ekonomi memanfaatkannya. Keberadan mereka, di satu sisi sungguh-sungguh semakin menggairahkan dinamika penerbitan nasional. Namun di sisi lain, menjamurnya penerbitan mandiri juga berarti “tercuri”-nya sebagian dari ceruk atau potensi pasar penerbitan-penerbitan umum. Walau begitu, sejauh tren tersebut semakin memperkaya khasanah perbukuan nasional, rasanya patut disambut positif.
Mengapa self/independent publishing menggejala bahkan bisa dikatakan semakin ngetren? Barangkali, itu merupakan pendobrakan atas dominasi cara penerbitan sebelumnya yang masih didominasi oleh penerbitan-penerbitan umum. Begitu kran demokrasi dibuka lebar-lebar, soal penerbitan pun bukan sesuatu yang sakral lagi dan sekarang semua orang bisa melakukannya.
Pada prinsipnya, keuntungan terbesar yang bisa diraih manakala kita menjadi self-publisher adalah pada kebebasan untuk menentukan apa pun bentuk, rupa, dan isi buku yang kita terbitkan nantinya. Namun demikian, ruang bebas itulah yang sejatinya bisa kita tarik-ulur untuk mendapatkan berbagai potensi dan manfaat lainnya. Saya coba ulas secara singkat di bawah ini.
1. Penampung tema-tema buku di luar mainstream penerbitan. Bukan rahasia lagi, salah satu alasan self-publishing adalah kesulitan penulis untuk mendapatkan penerbit yang mau menerbitkan naskahnya. Terlebih bila naskah tersebut tidak memenuhi standar kualitas atau tidak segaris dengan kepentingan, visi, dan misi penerbit. Terkadang, naskah-naskah yang membahas tema sangat spesifik, naskah peka dan bertendensi kontroversi, naskah sangat unik, naskah pembelaan (buku putih), atau naskah propaganda, kurang diminati penerbit umum.
Di sinilah alternatif self-publishing menjadi solusi. Kalau kita menjadi self-publihser, kita bisa menerbitkan naskah jenis apa pun sepanjang itu memenuhi kepentingan dan kebutuhan kita. Soal kualitas isi, format, kemasan, redaksional, dan hal teknis lainnya, kita sendirilah yang menetapkan. Bagi kalangan tertentu, sifat merdeka self-publishing tersebut begitu dinikmati dan dirasa mendatangkan kemanfaatan yang tak terbandingkan.
Telah di baca sebanyak: 2462CARA GAMPANG MENULIS BUKU BEST SELLER
July 18, 2008 by admin
Filed under Edy Zaqeus
18 Juli 2008 – 10:59 (Diposting oleh: Editor)
Salah satu pertanyaan dari para profesional yang paling sering mampir ke saya adalah yang seperti ini: Bagaimana sih cara menulis buku yang mudah itu? Memang, saya termasuk salah satu penulis yang paling demen memprovokasi kalangan tersebut supaya menulis buku. Bukan cuma menulis buku biasa, tapi menulis buku bestseller, lho! Sekalipun itu baru pengalaman menulis buku yang pertama, saya tetap menegaskan, “Beranilah bermimpi menjadi penulis buku bestseller!”
Sementara lupakan saja soal definisi bestseller. Yang penting, cita-citakan dulu buku kita akan laris di pasaran, lalu beranikan mental, niatkan segera, dan mulai sekarang juga dengan menulis apa pun yang menggoda kita untuk menulis. Sengaja saya dorong-dorong supaya para profesional itu berani menggagas buku bestseller. Mengapa? Ya, supaya semangatlah menulisnya. Kalau menulis tanpa semangat, jangan harap ada roh semangat pula dalam karya kita. Kalau hasil tulisan tidak memiliki roh atau gereget tertentu, mana ada orang yang mau beli dan membacanya, kan?
Balik lagi ke soal bagaimana cara menulis buku yang mudah, saya pun berani menyatakan bahwa menulis buku bestseller itu mudah. Sampai-sampai saya bersama Andrias Harefa (penulis 30 buku laris) mengadakan workshop berjudul “Cara Gampang Menulis Buku Bestseller”, yang pada Agustus 2008 nanti memasuki Angkatan Ke-5. Nah, bagaimana kesan para peserta workshop tersebut? Umumnya mereka sadar dan menjadi yakin, ternyata menulis buku bestseller itu memang mudah. Bagaimana itu? Saya akan kupas beberapa di antaranya dalam artikel ini.
Pertama, kalau mau menulis buku bestseller, cobalah yakin sejak awal bahwa kita semua berpeluang dan mampu melakukan hal tersebut. Penulis senior atau bahkan penulis pemula sekalipun, semuanya punya peluang yang sama untuk menggebrak pasar. Kalau sudah punya keyakinan, cobalah terus memeliharanya, lalu tambahkan dengan semangat yang sungguh-sungguh dialirkan dalam setiap langkah penulisan nantinya.
Kedua, miliki perspektif menulis buku itu mudah, yaitu sekadar aktivitas merangkai huruf, kata, kalimat, paragraf, dan tulisan. Caranya, pandanglah buku itu hanya sebagai kumpulan bab atau tulisan pendek. Sementara, bab atau tulisan pendek itu sendiri hanyalah kumpulan dari paragraf (alinea), paragraf itu sendiri hanya kumpulan dari beberapa kalimat, kalimat hanya kumpulan dari beberapa kata, dan kata hanyalah kumpulan dari beberapa huruf.
Jadi, kalau kita bisa merangkai huruf menjadi kata, merangkai kata-kata menjadi kalimat, kemudian membuat kalimat-kalimat tersebut menjadi paragraf, lalu bisa merangkai sejumlah paragraf menjadi sebuah tulisan, dan terakhir menulis beberapa artikel atau tulisan pendek, ya jadilah buku itu. Sesederhana itulah! Makanya, jangan punya persepsi menulis buku itu sulit.
Telah di baca sebanyak: 8324











