Nyaman Menuruti Kata Hati
May 23, 2012 by admin
Filed under Eni Kusuma, Kolomnis
“Jangan abaikan ‘kata hati’.” Kita sering kali mendengar nasihat bijak ini. Memang benar “kata hati” adalah pengendali langkah dan pemberi informasi yang benar. Siapa pun kita, apa pun profesinya, jika selalu mendengarkan ‘kata hati’, maka senantiasa tepat dalam pengambilan keputusan untuk menentukan prioritas.
Dan ‘kata hati’ ini bersifat universal. Karena, dari ‘kata hati’ akan melahirkan kebenaran, keadilan, kasih, sayang, cinta, perdamaian dan sebagainya, yang bersifat universal pula.
Kegelisahan terasakan saat Prita Mulyasari terbelit hukum yang mengharuskan ia membayar denda sebesar ratusan juta rupiah. Apa yang Anda rasakan? Adalah dorongan kata hati untuk menolongnya. Sehingga, terkumpullah “koin untuk Prita”, bahkan lebih jika untuk membayar denda yang dibebankan kepadanya.
Perasaan ingin menolong, rasa kasih, sayang, dan perasaan ingin melindungi adalah sifat-sifat Sang Pencipta yang Maha-Penolong, Maha-Pengasih, Maha-Penyayang, dan Maha-Pelindung yang ditiupkan juga ke dalam jiwa manusia. Sehingga, manusia secara fitrah memiliki sifat-sifat mulia tersebut dari Tuhannya. Jika manusia menyalahi fitrahnya tersebut dengan berbuat keburukan, maka pastilah muncul perasaan tidak nyaman karena terus-menerus dinasihati oleh “kata hati”nya.
Berbagai kalangan dari orang tua sampai anak-anak, laki-laki, dan perempuan merasakan kesamaan rasa terhadap Prita. Rasa ingin menolong. Rasa ini bersifat universal karena semua manusia memiliki fitrah ini. Dan, berbagai kalangan juga merasakan kesamaan rasa “tidak suka atau merasa tidak adil bagi Prita”. Sebentuk rasa universal karena sebuah nilai keadilan tercabik-cabik.
“Kata hati” sering kali terabaikan oleh berbagai kepentingan sehingga ia tidak didengarkan untuk acuan pengambilan keputusan. Bagi orang yang berprinsip pada kepentingan politik, maka keputusannya diprioritaskan untuk keuntungan politik. Bagi orang yang berprinsip pada kepentingan tim suksesnya yang telah mengantarkannya ke singgasana kekuasaan, maka keputusan akan mementingkan tim suksesnya. Mereka yang berprinsip pada persahabatan maka keputusan yang diambil untuk melanggengkan persahabatan, tidak peduli mengorbankan banyak orang.
Kadang orang mengabaikan kata hati dalam pengambilan keputusan, bahkan menyimpang dengan “kata hati” karena banyak hal, antara lain, merasa tidak enak hati apalagi karena pernah ditolong atau takut diancam, dan lain-lain. Jika ini terjadi, maka kita akan mendapatkan keuntungan yang bersifat jangka pendek. Jika suatu saat terbongkar, itu akan menimbulkan kerugian jangka panjang karena krisis kepercayaan yang muncul di mana-mana. Dan pasti terbongkar cepat atau lambat. “Kata hati” adalah keseimbangan karena yang ditimbulkan oleh “kata hati” seperti kebenaran, keadilan, dll, memberikan keseimbangan. Keputusan yang menyimpang dari “kata hati” akan berakhir dengan menyedihkan karena segala sesuatu pasti menuju kepada keseimbangan.
Jika kita mendengarkan “kata hati” dalam pengambilan keputusan untuk menentukan prioritas kejujuran dan keadilan, serta mengesampingkan berbagai kepentingan, maka keuntungan jangka panjanglah yang diperoleh, bukan keuntungan jangka pendek. Mungkin juga kita akan menerima kerugian tetapi kerugian ini bersifat jangka pendek. Karena seperti uraian di atas, semua menuju kepada keseimbangan.
Contoh lain, dalam hubungan majikan terhadap pembantu rumah tangganya. Andai semua majikan dalam memperlakukan pembantunya sesuai dengan “kata hati”-nya, dan para pembantu juga bekerja dengan hatinya, maka akan tercipta kondisi kerja yang baik. Terutama para majikan di luar negeri, andaikan mereka dalam memperlakukan pekerja rumah tangganya sesuai dengan “kata hati”-nya, dengan mengabaikan stigma atau pandangan negatif yang terlanjur melekat pada PRT Indonesia (hal ini dikarenakan oleh kurang siap dan kurang terlatihnya para PRT Indonesia), maka tentu akan tercipta kondisi kerja yang baik. Adapun stigma yang terlanjur melekat pada PRT Indonesia adalah, bahwa PRT Indonesia itu bodoh, tidak becus kerja, lambat, malas, tidak pintar berbahasa Inggris, dan lain-lain. Jika kondisi kerja yang baik tercipta, maka PRT Indonesia tidak akan mengalami kejahatan perdagangan manusia atau trafficking di negeri sendiri oleh bangsa sendiri.
Saya yakin, majikan yang merasa takut penuh kecurigaan terhadap masuknya “orang asing” ke wilayah prifat mereka, sehingga memicu mereka berbuat kejam dan tidaklah nyaman dalam menjalani hidupnya sehari-hari. Tapi apa boleh buat, sering kali mereka dilindungi oleh negaranya.
Apa pun profesi kita, sebagai hakim, bos perusahaan, menteri, gubernur, majikan terhadap pembantunya bahkan sebagai presiden, pengambilan keputusan hendaknya dilandasi dengan “kata hati”. Sehingga, kita merasa nyaman dalam menjalani profesi kita dan nyaman pula dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari.
Demikiankah?
* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati, perempuan kelahiran Banyuwangi, 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia dengan judul Yogya, 5,9 Skala Richter, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratis dan rumah baca di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi (1995). Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Saat ini ia tengah menyelesaikan buku motivasi kedua dan ketiganya. Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus[at]yahoo[dot]co[dot]id atau enikusuma[at]ymail[dot]com , HP: 081 389 641 733.
Telah di baca sebanyak: 897
Kekuatan dari Sifat Hati-hati
August 18, 2009 by admin
Filed under Eni Kusuma
Kerap kali kita mendengar kata “hati-hati” diucapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Seorang ibu yang melepas kepergian anaknya ke sekolah dengan ucapan “hati-hati”. Seorang istri yang melepas sang suami untuk bekerja dengan ucapan “hati-hati” pula. Sepele memang. Kadang kita tidak begitu memperhatikan. Kata “hati-hati” dianggap sebagai pelengkap kalimat perpisahan saja. Padahal “hati-hati” mengandung makna yang sangat dalam. Karena jika ingin hidup kita sukses dan bahagia, sifat berhati-hati adalah juga salah satu faktor penentunya.
Kita tentu mendengar dan melihat berita-berita tentang musibah yang menimpa orang-orang di sekitar kita. Biasanya berawal dari keteledoran atau ketidakhati-hatian. Rumah yang terbakar karena lupa mematikan kompor, anak balita yang tersiram air panas karena lupa tidak menaruhnya di tempat yang aman, remaja yang bersahabat dengan narkoba karena mudah terpengaruh dan tidak hati-hati memilih teman. Demikian juga pejabat yang ditangkap KPK. Ini bukan karena ia tidak hati-hati dalam melakukan korupsi sehingga ketahuan, tapi karena ia teledor terhadap hidupnya sendiri, yaitu tidak berhati-hati untuk menjauhi segala kecurangan. Betapa kehati-hatian adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan kita.
Saya belajar sifat hati-hati ini secara detail ketika saya menjadi pembantu rumah tamgga di Hong Kong. Apalagi saya menjaga anak orang dari bayi sampai tumbuh menjadi seorang anak. Saya harus berhati-hati dari kebersihannya sampai keamanannya. Apapun yang sedang saya kerjakan, hati-hati adalah prioritas utama. Ketika saya memasak, saya harus hati-hati memasukkan garam (takut keasinan, hehe). Demikian juga ketika saya meletakkan sesuatu yang bisa berbahaya bagi anak-anak. Apalagi ketika menjaga anak balita yang sedang giat-giatnya belajar berjalan.
Dengan demikian, bukankah sifat hati-hati akan menyelamatkan kita dari musibah dan malapetaka yang disebabkan oleh keteledoran?
Ada kisah dari timur tengah yang diceritakan oleh Ibnul Jauzi tentang keteledoran ini, yakni seorang laki-laki yang sedang memotong kukunya. Karena tidak hati-hati, maka ia memotong jarinya, dan mati. Juga seseorang yang masuk kandang keledai. Karena tidak hati-hati, ia diseruduk keledai dan langsung meninggal.
Berhati-hati bukan berarti lamban. Justru berhati-hati sering berarti kecepatan. Contohnya, mengendarai mobil dengan tidak hati-hati dan terlalu cepat justru sering akan lebih lambat sampai ke tujuan.
Berhati-hati juga berarti mengontrol diri secara ketat, yaitu meninggalkan kesalahan-kesalahan, keteledoran, dan hal-hal bodoh dan menggantinya dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat, seperti bertindak dengan benar, menciptakan ide-ide brilyan dan lain-lain.
Saya sendiri sedang latihan mengontrol diri, yaitu memaksa diri saya pintar-pintar mencari waktu luang untuk menulis. Karena tidak memanfaatkan waktu dengan baik adalah bagian dari kebodohan saya. Bukankah memberikan kontribusi dengan menulis adalah kebanggaan dan kebahagiaan saya?
Bagaimana dengan Anda?
*) Eni Kusuma adalah mantan TKW di Hongkong, penulis buku laris “Anda Luar Biasa!!!”, dan kini menjadi motivator. Ia dapat dihubungi di: ek_virgeus@yahoo.co.id.
Telah di baca sebanyak: 486Sukses dengan Pelayanan dan “Public Relations” yang Baik
July 27, 2009 by admin
Filed under Eni Kusuma
“Memberi lebih kepada orang lain akan membuatmu kaya dikemudian hari. Memberi kontribusi untuk orang lain, kamu akan mendapatkan balasannya.”
~ Lao Zi
Hidup dengan pelayanan dan pengabdian yang tulus sehingga kita menjadi luar biasa dan keluar sebagai pemenang! Anehnya, kita terlalu terburu-buru ingin menikmati hasil-hasil segera secara instan. Yang terkadang lupa akan keuntungan jangka panjang. Ibarat ingin memetik buah yang pohonnya baru ditanam kemarin.
Banyak diantara kita yang tidak sabar dalam menghadapi segala hal. Mulai dari menghadapi pelanggan, tantangan, atau proses menuju tujuan. Mudah emosi dan bertindak ceroboh adalah hal yang bisa menutup jalur-jalur sukses kita sebagai pemenang.
Ada sebuah kisah dari negeri China yang bisa kita jadikan pelajaran. Wang Mou, pemilik toko sutera dan satin Dong Hua yang terkenal di Hua Dong pada jaman dinasti Qing, dulu hanyalah seorang pedagang kaki lima yang berjualan sutera dan satin di pinggir jalan. Karena pelayanannya kepada para pelanggan baik, maka dagangannya sangat laris. Akibat pelayanan yang baik itu pulalah ia mendapat modal dari salah seorang pelanggan yang kaya untuk membuka toko sutera dan satin. Pelayanan yang baik dan memuaskan telah menjadikan tokonya sangat terkenal.
Sampai akhirnya, kemahsyuran toko Wang Mou sampai ke telinga rajanya. Sehingga sang raja tertarik untuk menawari modal kepada Wang Mou untuk mendirikan pabrik sutera dan satin. Sehingga kini, semakin mahsyur saja Wang Mou dengan pabrik dan tokonya. Sementara itu ada dua orang pegawai kerajaan yang cemburu atas keberuntungan Wang Mou. Mereka merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan Wang Mou. Mereka diam-diam memasukkan kain satin lama diantara satin baru, pesanan seorang pelanggan yang sangat berpengaruh. Akibatnya, pelanggan tersebut merasa ditipu oleh Wang Mou. Tetapi Wang Mou tetap santun dan berkepala dingin. Wang mou meminta maaf atas kesalahan yang tidak ia perbuat. Ia juga memberi ganti rugi untuk melegakan perasaan pelanggannya itu. Pelayanan yang baik Wang Mou tersebar dari mulut ke mulut. Dan itu membuatnya semakin terkenal. Ia mengerti betul keuntungan jangka panjang. Modal tak selamanya berbentuk uang. Ia sudah membuktikan sendiri bahwa modalnya adalah pelayanan dan public relation yang baik. Ini seperti magnet yang membawanya kepada keberuntungan.
So, hidup dengan pelayanan dan pengabdian yang baik dan tulus akan membawa kita kepada kesuksesan. Dan itu bisa dilakukan dengan kesabaran dan kepribadian yang baik. Sifat instan, terburu-buru, ceroboh, gampang emosi,gampang menyerah, justru akan menjegal langkah-langkah kita dan menutupjalur-jalur sukses kita. Mengejar keuntungan jangka pendek akan menjadi bumerang bagi kita di masa yang akan datang.
Formula dari kisah di atas bisa kita adopsi untuk kemudian kita praktekkan dan “Make our businesses a success” di segala bidang!
Bagaimana pendapat Anda? [*]
Telah di baca sebanyak: 405Sukses Dengan Bertindak Cepat
July 7, 2009 by admin
Filed under Eni Kusuma

“Cara, peraturan, dan kemampuan sering dapat mengalahkan musuh. Sebenarnya yang selalu membuat mereka menang karena mereka lebih dulu mengetahui informasi mengenai situasi.”
~ Sun Zi’s Art of War
“Lebih cepat lebih baik”. Kita tentu sangat mengenal jargon tersebut. Ya, jargon yang diusung oleh Jusuf Kalla dalam pilpres Juli 2009 mendatang bisa kita jadikan pegangan dalam melakukan tindakan atau usaha-usaha kita. Saya tidak sedang berkampanye apalagi menyuruh Anda untuk mendukungnya. Sama sekali tidak! Terus terang saya sudah punya pilihan sendiri, hehe.
Sampai di mana tadi? O ya, lebih cepat lebih baik. Bertindak cepat dalam usaha di bidang apapun akan memberikan kita kemenangan. Anehnya, kita sering menutup jalur-jalur sukses kita sendiri dengan bertindak sangat lambat. Lambat berpikir,lambat belajar, lambat mencari, lambat merebut peluang dan sebagainya. Sehingga kita sendiri hanya melongo karena didahului oleh orang lain. Kata-kata “andai saja” pun kerap terucapkan disamping mencari-cari alasan pembenaran untuk tindakannya yang lambat itu sebagai pelipur lara.
Lagi, ada kisah dari negeri tirai bambu yang bisa kita adopsi untuk kita terapkan dalam menjalani usaha-usaha kita di bidang apapun. Konon pada jaman Northern Wei, tersebutlah laki-laki bernama Liu Bao. Dia adalah seorang pedagang daging di pasar tradisional. Usahanya sangat menguntungkan sehingga ia bisa menyimpan uangnya untuk memperluas lagi usahanya. Sadar bahwa kemajuan didapat dengan kecepatan informasi maka suatu hari ia membangun kantor pusat informasi di tengah kota. Sehingga ia akan sangat mudah dan cepat memperoleh informasi pasar yang membutuhkan. Ia akan segera mengetahui dengan cepat daerah mana yang membutuhkan padi karena kekeringan, maka ia mengirim padi. Demikian juga dengan daerah yang membutuhkan peralatan pertanian pasca banjir, ia pun membeli peralatan pertanian dengan harga murah di daerah lain kemudian menjualnya dengan harga tinggi di daerah yang sangat membutuhkan. Demikian seterusnya. Kecepatan informasi bisnis dan efisiensi manajemen sangat membantunya mendapatkan kekayaan dengan sangat cepat. Ia membeli beberapa properti dan menjualnya kembali dengan harga tinggi. Liu Bao pun menjadi sangat kaya raya.
So, kecepatan informasi apalagi kita kini hidup di era informasi akan sangat menentukan berkembang tidaknya usaha kita. Tidak ada kata terlambat. Mungkin selama ini kita terlalu lambat untuk bergerak karena ketakutan kita akan kegagalan atau keragu-raguan kita. Kita boleh saja takut dan ragu-ragu tetapi jangan sampai ketakutan dan keraguan itu membuat kita tidak bertindak sama sekali. Sebenarnya selama kita bertindak, kita tidak bisa disebut gagal meskipun hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Tetapi jika kita tidak bertindak sama sekali, sudah pasti kita gagal.
Selama kita bertindak, jika hasilnya masih nihil, kita tentu akan memperoleh pengalaman yang akan kita jadikan pembelajaran ke depan. Kita tentu akan menganalisa ulang apakah cara yang kita tempuh itu kurang tepat, sehingga kita akan mencari lagi cara lain untuk mencapai tujuan kita. Dengan demikian “kegagalan” akan menjadi kata yang tidak penting dalam kehidupan kita jika kita menganggap kegagalan itu “tidak ada” selama kita bertindak. Dan “kegagalan” akan menjadi kata terpenting dalam kehidupan kita jika kegagalan itu kita jadikan ajang pembelajaran. Tentu, bertindak saja belum cukup jika kita tidak cepat dalam melakukannya. Apalagi informasi akan peluang yang sudah kita dapatkan akan sia-sia jika kita tidak bertindak cepat. Lebih cepat memang lebih baik. Masalah bisa belakangan untuk kita analisa ulang.
Demikiankah?
*) Eni Kusuma adalah mantan TKW di Hongkong, penulis buku laris “Anda Luar Biasa!!!”, dan kini menjadi motivator. Ia dapat dihubungi di: ek_virgeus@yahoo.co.id.
Telah di baca sebanyak: 267Sukses Dengan rekomendasi
June 8, 2009 by admin
Filed under Eni Kusuma
HIDUP dengan kebebasan berpikir dan bertindak cerdik. Sehingga kita menjadi luar biasa dan keluar sebagai pemenang. Anehnya, kita terlalu terpaku pada keterbatasan diri sendiri dan terbelenggu oleh berbagai rintangan yang kita ciptakan sendiri untuk tujuan yang sebenarnya wajar.
Banyak dari kita mengira hambatan terbesar dalam menggapai tujuan berada diluar diri. Sehingga kita sering mendengar “Bagaimana aku bisa menjadi seorang ahli , sedangkan aku tidak mendapat pendidikan tinggi karena orang tuaku sangat miskin. Yah…aku bukan siapa-siapa.” Berpikir dan bertindaklah cerdik untuk itu. Cari akal untuk minta rekomendasi dari orang yang lebih dulu sukses adalah langkah yang jenius.
Ada sebuah kisah dari negeri China. Jujur, kisah ini menginspirasi saya untuk berpikir dan bertindak cerdik. Berpikir bisa menjadi seorang penulis meski saya hanya seorang pembantu saja, kala itu. Sedangkan penulis konon hanya milik orang-orang yang berpendidikan tinggi, bergelar dan orang-orang sukses.
Syahdan, Hu Shiwen yang seorang pelukis, bangkrut dan menutup galeri seninya di Suzhou. Suatu hari ia berjalan-jalan ke pasar, yang khusus berjualan barang-barang antik. Tiba-tiba ia melihat sebuah lukisan terpampang di sana. “Mhm, ini sebuah lukisan masterpiece asli dari dinasti Song. Dan kini lukisan itu pun berpindah tangan seharga 700 tael keping perak. Tetapi Hu Shiwen membelinya bukan untuk dirinya sendiri, melainkan ia akan menjualnya kepada seorang pemuka kerajaan berpengaruh yang sangat menyukai lukisan, yaitu Master Bi.
Setelah mengalami berbagai kesulitan untuk bertemu, akhirnya Hu Shiwen berhasil menawarkan lukisan dinasti Song kepada Master Bi seharga 1.200 tael keping perak ditambah lagi ia mendapatkan peralatan melukis. Tetapi kecerdikan Hu Shiwen tidak berhenti sampai di situ. Ia meminta Master Bi menulis surat rekomendasi serta merekomendasikannya kepada teman-teman Master Bi yang tentu saja menyukai lukisan. “Cha Xiaoshan seorang yang sangat kaya dan tidak pelit. Ia sangat menyukai lukisan dan tidak peduli apakah lukisan-lukisan itu asli ataukah tiruan. Aku akan memperkenalkanmu padanya.” Ujar Master Bi sambil menulis surat rekomendasi.
Sesampai di rumah, Hu Shiwen segera membuat banyak lukisan. Kemudian lukisan-lukisan tersebut ia tawarkan kepada Master Cha atas rekomendasi dari Master Bi. Master Cha yang percaya kepada Master Bi jika Hu Shiwen seorang pelukis hebat pun memborong lukisan-lukisan tersebut seharga 20.000 tael keping perak Kini Hu Shiwen membuka kembali galerinya, dan ia pun menjadi pelukis yang sangat terkenal dan kaya raya, hanya karena ia cerdik.
Kisah ini adalah kisah favorit saya. Betapa Hu Shiwen yang bukan siapa-siapa telah menjadi orang yang sangat terkenal. Dan saya pun ingin demikian. Jika impian saya menjadi penulis yang dikenal tercapai, berarti saya yang bukan siapa-siapa akan menjadi siapa, hehe. Kita bisa mengadopsi langkah cerdik dari kisah di atas sesuai dengan minat, bakat, atau talenta kita di semua bidang.
Saya sudah membuktikannya. Ketika mulai belajar menulis saya tak henti-hentinya berusaha “pedekate” dengan penulis-penulis yang punya nama. Ini dilakukan agar mereka bisa mengukuhkan saya dan merekomendasikan tulisan-tulisan saya kepada khalayak. Harapan saya pun menjadi kenyataan. Kini, bolehlah saya seperti mereka para penulis buku, hehe.
So, hidup dengan kebebasan berpikir dan bertindak cerdik adalah hak kita dan keharusan kita sebagai manusia yang diciptakan jenius dan luar biasa oleh Tuhan. Janganlah terkungkung dengan berbagai kendala, hambatan dan rintangan yang ada. Karena berbagai kendala tersebut sebenarnya adalah ciptaan dari pikiran kita sendiri yang tidak membebaskan kita untuk berpikir seluas-luasnya dengan berbagai kemungkinan. Sehingga ruang gerak kita menjadi sempit, pengap dan gelap. Dobrak, dan berpikirlah bebas dan cerdik! [ek]
Telah di baca sebanyak: 209Rahasia Dalam Memikat Pembaca
May 11, 2009 by admin
Filed under Eni Kusuma
Ada pepatah kuno yang mengatakan “Kita lebih mudah menangkap lalat dengan madu daripada dengan cuka”. Pepatah ini memang benar adanya. Ini pun berlaku pada manusia. Jika kita menaruh simpati terhadap orang-orang, maka akan lebih mudah mereka menaruh kepercayaan pada kita bahwa pemikiran-pemikiran kita selaras dengan mereka. Inilah yang dimaksud dengan madu. Seperti yang telah saya uraikan pada bab sebelumnya bahwa jika pemikiran kita tidak selaras dengan pemikiran orang lain atau orang banyak pada umumnya, hendaknya kita membuat persamaan pemikiran dengan mereka sebelum kita memasukkan ide-ide kita yang baru. Kebanyakan kita mulai dengan pemikiran-pemikiran kita sendiri dan tidak memperhatikan keinginan-keinginan yang dimiliki oleh orang lain. Kita cenderung tidak berusaha mencari suatu titik persamaan. Ingatlah, tidak ada seorang pun di dunia ini yang suka dikritik. Maka, mengkritiklah dengan elegant.
Ada lagi pepatah yang mengatakan “Manusia itu sangat egois, yang diperhatikan adalah dirinya sendiri”. Dan pepatah ini memang benar adanya. Jika kita memulai menulis suatu hal yang langsung mengarah kepada kepentingan dan pribadi para pembaca, maka kita tidak akan mengalami kegagalan. Buku-buku yang berhasil adalah buku-buku yang sangat memperhatikan kepentingan para pembacanya. Banyak contohnya, mulai dari buku “how to”, pengembangan diri atau motivasi, buku ketrampilan dan lain sebagainya. Demikian juga dengan buku-buku yang menghibur seperti novel. Orang-orang lebih menyukai cerita-cerita mengenai pengalaman orang lain. Cerita atau kisah tentang orang lain akan sangat memikat hati -meskipun hanya sebuah fiksi- daripada tulisan-tulisan yang berisi uraian-uraian yang abstrak.
Jika kita bercerita tentang membaca dan menulis, tanpa mencoba menghubungkan hal tersebut terhadap kepentingan kita para pembacanya, niscaya tulisan tersebut akan ditinggalkan. Ambillah contoh, jika kita menulis “Membaca dan menulis adalah kegiatan yang sangat menguntungkan.” Kemudian ia melanjutkan betapa ruginya seseorang yang tidak mau meluangkan waktu untuk membaca dan menulis karena sibuk bekerja. Apakah keterangan seperti itu sudah jelas? Tentu saja tidak. Keterangan seperti itu terlalu kabur dan terlalu umum. Karena tidak akan mengesankan pembaca. Pendahuluan seperti itu tidak mengesankan secara orang-perorang. Padahal dari pembaca ada yang mahasiswa, pelajar, direktur bahkan batur, penerbit, pemilik percetakan, bankir dan lain-lain.
Berbeda dengan jika kita mulai pendahuluan: “ Soal yang akan saya sampaikan ada hubungannya dengan para pemilik perusahaan-perusahaan, para bankir, para eksekutif, para mahasiswa dan pelajar. Bahkan akan mempengaruhi harga bensin yang kita gunakan, harga makanan yang kita makan, harga sewa. Dan ini tentang kemakmuran dan kesejahteraan kita semua. Hal itu hanya karena dengan membaca dan menulis. Para pemilik perusahaan yang suka membaca akan banyak terinspirasi dalam mengembangkan usahanya. Para eksekutif, misalnya manajer yang suka menulis akan banyak membantu bawahan mereka dengan memberikan ide-ide dan motivasi-motivasi. Dan keuntungan peluang promosi jenjang karier pun akan terbuka. Juga untuk para mahasiswa dan para pelajar, wawasan mereka akan bertambah dengan membaca dan menulis.
Para penerbit akan sangat bergairah dalam menerbitkan buku-buku, karena masyarakatnya yang gemar membaca. Bahkan seorang batur pun akan terbuka pikirannya untuk melongok dunia yang terbentang luas di hadapannya dengan membaca. Lalu hubungan antara membaca dan menulis dengan kesejahteraan dan kemakmuran adalah kita bisa mengetahui jenis-jenis investasi yang menguntungkan, peluang-peluang usaha yang akan menambah penghasilan kita, serta menambah wawasan tentang usaha-usaha untuk meraih sukses. Dengan ketrampilan menulis kita bisa berkomunikasi dengan semua orang tanpa batas, untuk kepentingan bersama yang saling menguntungkan. Apalagi sekarang adalah era informasi. Maka membaca dan menulis adalah sangat vital untuk kesejahteraan kita. Semakin kita sejahtera maka semakin rendah harga makanan yang kita makan, harga bensin dan harga sewa. Bukan karena harga makanan, harga bensin dan harga sewa yang rendah tetapi karena tingkat penghasilan kita yang semakin tinggi. Dan banknya pun akan terkena juga adanya.” Apakah tulisan seperti itu tidak penting untuk disimak?
Lagi, jika kita ingin tulisan kita mendapat perhatian dari pembaca, hendaknya disertai dengan contoh-contoh sehingga mudah dicerna. Adalah sangat sulit sekali untuk berlama-lama membaca tulisan-tulisan yang abstrak. Lukisan-lukisan atau contoh-contoh lebih mudah dimengerti daripada uraian-uraian atau teori-teori yang merupakan ciri khas seorang professor (tetapi para professor sekarang udah beda, ya). Dari berbagai testimoni yang saya terima baik sms maupun email, buku saya “Anda Luar Biasa” adalah buku yang mudah dicerna dan dimengerti (saya merasa tersanjung, hehe).
Memulai dengan mengajukan pertanyaan merupakan salah satu hal yang memikat para pembaca. Dengan demikian kita mengajak para pembaca untuk ikut berpikir. Kita bisa mengemukakan fakta-fakta dan penjelasan sementara para pembaca menarik kesimpulan sendiri yang seolah-olah itu adalah hasil dari pemikirannya sendiri. Mereka tentu lebih yakin kepada suatu kebenaran yang dianggap mereka sendirilah yang menemukannya. Banyak para penulis yang membiarkan pembacanya menyimpulkan sendiri. Silahkan baca berbagai artikel yang di tulis oleh para penulis yang telah memiliki brand di Pembelajar.Com. Mereka membuka diskusi terhadap para pembacanya. Salut kepada Andrias Harefa, Sang inisiator dan Edy Zaqeus sang Editor juga para kolumnis.
Dari pembelajaran saya terhadap tulisan-tulisan para penulis, memulai menulis dengan mengutip pepatah atau perkataan orang yang mahsyur adalah salah satu hal yang memikat para pembaca. Kalimat ini akan membangkitkan rasa ingin tahu pembacanya. Para pembaca tentu bertanya-tanya: “Apa kira-kira yang si penulis ini ceritakan?” Dan biasanya para pembaca akan membandingkan pemikirannya dengan pemikiran penulis tersebut berdasarkan kalimat pepatah atau perkataan orang mahsyur tersebut. Ini yang membuat para pembaca tertarik untuk terus mengikuti tulisan kita.
Hal yang paling ingin membangkitkan rasa ingin tahu pembaca adalah sesuatu hal yang menarik untuk disimak. Ketika saya belajar menulis, saya berusaha untuk menarik perhatian para pembaca di milis-milis. Saya menulis hal-hal yang sedang hangat dibicarakan, menanggapi artikel penulis terkenal dan membuat cerpen-cerpen heboh. Cara ini sangatlah jitu untuk membuat para pembaca merasa ingin tahu, tidak saja tulisannya tetapi orangnya. Inilah cara yang sangat efisien untuk membranding diri. Anda bisa mengikuti jejak saya.
Membuat tulisan yang menarik pembaca dan memikatnya, BISA??? PASTI!!! Anda bisa belajar bersama saya yang sedang belajar. Jika ada seseorang yang mengatakan Anda “Tidak Bisa Belajar”, jawablah dengan “Saya Sedang Melakukannya!!!” [ek]
Telah di baca sebanyak: 183Ketika Putus Asa Dalam Menulis
April 13, 2009 by admin
Filed under Eni Kusuma
Mungkin bagi pemula rasa putus asa muncul ketika menemui hambatan dalam memulai menulis. Hambatan yang muncul yaitu kurang percaya diri, takut salah, memvonis diri tidak bisa menulis dan lain-lain. Apa yang akan kita lakukan saat kita putus asa? Teruslah menulis. Kita boleh putus asa tetapi kita tidak boleh berhenti. Seperti halnya nasehat yang mengatakan:”Teruslah berjalan meski kamu dalam keputusasaan.” Tulislah apa yang ada dalam imajinasi, perasaan dan pengetahuan Anda. Meskipun Anda dalam menuliskan itu semua penuh dengan ketakutan akan pendapat orang mengenai ide-ide Anda, takut ditertawakan, takut salah, tidak percaya diri dan sebagainya. Yang penting Anda tulis dulu.Ini hal yang sangat berharga. Sehingga Anda akan lebih mudah dalam melakukan perbaikan-perbaikan seiring dengan bertambahnya pengetahuan Anda. Maka banyak membaca, diskusi dan merenung atau melakukan refleksi diri akan sangat membantu.
Putus asa biasanya bermakna negatif. Putus asa biasanya berhenti dan menyerah dari aktivitas yang membuat kita putus asa. Tetapi bagi saya “putus asa” bermakna positif bahkan sangat dibutuhkan disaat kita tak berdaya mengalahkan hambatan-hambatan di depan kita asalkan dibarengi dengan terus melakukan tindakan. Ada satu lagi nasehat bijak yang mengatakan:”Ketika engkau putus asa, pertolongan akan segera menghampirimu.” Bahkan tak disangka kita akan menemukan jalan keluar atau solusi bagi kesulitan kita dalam menulis disaat kita putus asa, asalkan kita tidak berhenti menulis. Jika putus asa diartikan berhenti, maka berhentilah sampai disini. Jika kita berhenti, kita tidak pernah merasakan bagaimana sulitnya menulis, bagaimana sulitnya mengalahkan berbagai hambatan menulis, dan kita tidak pernah pula merasakan bagaimana bahagianya ketika kita menemukan jalan keluar atau solusi untuk memperbaiki tuklisan-tulisan kita, bagaimana senangnya tulisan kita dibaca dan dikomentari positif oleh orang lain dan merasakan betapa senangnya keberadaan kita diakui oleh masyarakat luas dengan menulis.
Salah pada saat menulis adalah hak kita. Hak kita untuk berbuat salah. Jika tidak, kita tidak akan pernah tahu apakah itu salah atau benar. Salah dalam hal ini adalah salah dalam memaknai sesuatu sehingga kita dalam mengembangkan ide-ide tersebut dengan pandangan yang keliru. Tetapi ini “keliru” menurut siapa? Menurut kita sendiri, menurut orang lain atau menurut kebanyakan orang? Di sinilah kita dituntut untuk terus belajar agar kita bisa peka dalam memahami sesuatu karena belum tentu sesuatu itu benar atau salah menurut kita sendiri , menurut orang lain atau menurut kebanyakan orang. Sebagai contoh, berpikir positif itu menurut tren atau menurut orang lain dan kebanyakan orang adalah sangat menunjang kesuksesan kita. Sedangkan berpikir negatif sangat merugikan dan menghambat. Tetapi benarkah demikian? Justru berpikir negatif yaitu berpikir hal yang terburuk, akan sangat menguntungkan kita sebagai bentuk pertahanan diri dan antisipasi dari rasa sakit karena kegagalan, agar kita tidak depresi. Jadi, jika salah adalah hak kita, ini berarti juga belajar adalah hak kita. Belajar untuk terus memperbaiki dan menyempurnakan.
Ada satu contoh lagi agar kita tidak pernah takut melakukan kesalahan dalam menulis. Di sini Anda akan tahu, betapa buku laris pun bisa direvisi yaitu diperbaiki, disempurnakan bahkan dirombak total. Seorang pensiunan Mayor Jendral Angkatan Udara AS, William A. Cohen, Ph.D., menulis buku “The Art of the Leader” yang edisi pertamanya muncul pada tahun 1990. Buku ini banyak mendapat apresiasi. Tetapi ketika ada masukan dari Senator Barry Goldwater, “Kepemimpinan yang hebat selalu didasarkan pada basic honesty”, katanya. “Tanpa itu, Anda tak akan pernah jadi pemimpin.” Terhenyak oleh kata “kejujuran” itu, ia mengubah arah pemikirannya dan merevisi bukunya. Buku direvisi total dan diberi judul baru “The New Art of the Leader”, yang terbit pada September 2000. Di sana, selain berbagai teknik dan strategi luar biasa kepemimpinan, dia kemukakan juga “8 hukum umum bagi kepemimpinan”, di mana integritas (jujur, berwatak baik) menduduki rangking pertama dan utama. Yang lain boleh dibolak-balik urutannya, tetapi integritas ini tidak.
Jika buku yang sudah terlanjur terbit dan terlanjur laris pun masih bisa direvisi ulang maupun direvisi total, apalagi masih berupa tulisan atau naskah? Jadi, sangat disayangkan jika kita berhenti hanya karena takut salah.
So, teruslah menulis!
*) Eni Kusuma adalah mantan TKW di Hongkong, penulis buku laris “Anda Luar Biasa!!!”, dan kini menjadi motivator. Ia dapat dihubungi di: ek_virgeus@yahoo.co.id.
Telah di baca sebanyak: 286Tulisan yang Menggugah
March 30, 2009 by admin
Filed under Eni Kusuma
Ketika saya menghadiri acara talkshow yang diadakan oleh salah satu perusahaan network marketing terkemuka di Indonesia, saya mendapat pengalaman yang sangat berharga. Yaitu, jika kita hendak membuat orang-orang larut dalam percakapan kita, hendaknya kita harus larut terlebih dahulu. Jika kita hanya setengah-setengah atau tidak begitu memperhatikan apa yang kita bicarakan, maka orang-orang yang mendengar pun tidak begitu memperhatikan juga. Demikian juga dengan menulis, jika kita tidak sungguh-sungguh dengan apa yang kita tulis, maka energi makna yang terkandung di dalamnya tidak akan menghipnotis pembacanya.
Jika kita ingin membuat orang-orang yang mendengar itu mencucurkan airmata atau menangis, hendaknya kita harus bersedih atau cenderung untuk mencucurkan air mata. Ketika saya membacakan puisi –dalam acara tersebut- yang menemani saya ketika berada di Hong Kong sebagai pembantu rumah tangga, saya membaca dengan nada yang begitu menyayat hati sehingga saya sendiri menangis. Ini bukan sebuah rekayasa. Ini murni dari hati. Maka saya menjumpai orang-orang yang mendengarkan ikut menangis, bahkan yang mewawancarai saya dalam talkshow tersebut pun ikut meneteskan air mata. Dan ketika saya tanya kepada mereka “kenapa ikut menangis?”, mereka menjawab: “Karena larut dalam rasa haru yang terpancar dari hati saya”. Jadi, dalam hal ini kita tidak bisa berpura-pura atau merekayasa sebuah kesedihan atau keterharuan. Saya yakin jika hal ini dilakukan akan gagal.
Demikian juga jika kita hendak membuat orang-orang itu tertawa. Hendaknya kita memperhatikan cara kita menyampaikannya atau cara menceritakannya. Karena tidak ada cerita atau dongeng yang dengan sendirinya lucu, tetapi cara menceritakan itulah yang membuatnya lucu atau tidak sama sekali. Jadi, kita tidak perlu menjadi badut atau tiba-tiba harus menjadi seorang yang humoris. Ini akan mendapatkan kegagalan. Apalagi jika lelucon tersebut sudah kuno atau cara penyampaiannya yang kurang tepat. Sulit memang agar bisa membuat orang-orang itu tertawa. Demikian juga dengan pengalaman saya, saya tidak harus berniat melucu. Saya memang ingin membuat orang-orang tertarik pada pembicaraan saya terlebih tertawa. Tetapi saya tidak menghiraukan ini, karena semakin saya berniat melucu maka pasti lelucon saya tidak akan lucu. Justru dengan bercerita apa adanya lah saya tidak menyangka orang-orang tertawa dan bertepuk tangan dengan meriah. Ya, cerita-cerita dan celutukan-celutukan yang mencerdaskan yang bisa membuat orang-orang itu tertawa. Bukan banyolan-banyolan yang konyol.
Bisa membuat orang-orang menangis dan tertawa bahkan termotivasi oleh cerita kita adalah kebanggaan tersendiri. Sebagai penulis, apalagi. Saya merasa bangga dengan buku saya yang pertama yaitu “Anda Luar Biasa”. Karena buku tersebut mampu membuat orang-orang termotivasi. Ini saya ketahui dari email-email dan sms-sms para pembaca buku saya yang dikirimkan untuk saya.
Saya rasa tulisan yang berhasil adalah tulisan yang bisa membuat para pembaca larut dengan apa yang dibacanya. Ketika saya membaca buku “Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller” nya Edy Zaqeus, saya termotivasi untuk menulis buku. Buku tersebut mampu membuat saya ingin tahu sehingga mampu menarik perhatian saya. Demikian juga dengan buku-buku yang berhasil di pasaran. Buku-buku tersebut mampu menimbulkan perasaan ingin tahu sehingga akan segera menarik perhatian.
Ada hal yang hendak saya sampaikan di sini, bahwa jika kita ingin orang lain tertarik terhadap tulisan-tulisan kita, hendaknya kita sendiri harus tertarik dan mengasyikinya lebih dulu terhadap apa yang akan kita sampaikan. Saya akan menulis, jika saya benar-benar tertarik dengan masalah atau topik yang akan saya tulis. Karena hal ini akan memberi saya semangat dan rasa senang. Jika ini yang terjadi, maka keberhasilan kita untuk membuat para pembaca tertarik pun bukan suatu kemustahilan.
Saya ketika itu telah berhasil menulis gagasan yang menggugah orang lain untuk membacanya di milis-milis yang saya ikuti. Dari semua cerpen-cerpen yang saya posting di milis, hampir semua cerpen saya mendapat tanggapan dari para anggota milis yang saya ikuti. Dan yang menggembirakan, tanggapan atau komentar mereka positif dan menyambut baik. Tak disangka, cerpen-cerpen saya dikumpulkan oleh seorang senior di salah satu milis untuk dibukukan pertengahan 2008 mendatang. Untunglah, karena saya tidak pernah menyimpan cerpen-cerpen saya yang tersebar dan yang saya tulis sejak saya masih berada di Hong Kong. Hal ini karena saya masih belajar computer (istilah kerennya : gaptek). Awal dari buku pertama saya “Anda Luar Biasa” juga demikian, tulisan-tulisan motivasi tersebut telah mendapat tangapan positif dari para pembaca baik di milis maupun pengunjung Pembelajar.Com. Apalagi kini dengan menjadi kolumnis tetap di sebuah situs tersebut, maka tulisan-tulisan motivasi saya pun akan tersimpan dengan sendirinya di sana. Siapa tahu di kemudian hari bisa di hubungkan benang merahnya untuk dibukukan.
Menulis gagasan yang menggugah minat baca sangat penting untuk membranding diri sendiri. Awal saya menulis adalah dari sana. Milis adalah media yang sangat tepat untuk para penulis pemula seperti saya sebagai ajang untuk mengetahui sejauh mana kemampuan saya dalam membuat orang lain tertarik membaca tulisan saya. Jika kita sudah bisa menarik perhatian para pembaca, maka hal ini bisa diibaratkan, kita sudah mempunyai fans. Sehingga menulis buku pun akan sangat ditunggu-tunggu oleh mereka. Ya, kemampuan kita untuk membuat orang lain tertarik terhadap kita (dalam hal ini tulisan-tulisan kita) memanglah sangat penting untuk dijadikan salah satu ukuran berhasil atau tidaknya sebuah buku.
Setelah saya bisa mengeluarkan buku atas bantuan berbagai pihak, terutama untuk mentor saya yang dengan sabar membimbing dan mengumpulkan tulisan-tulisan saya, maka saya pun banyak diminta untuk memberi endorsement buku-buku yang akan diterbitkan. Biasanya saya akan bertanya, “siapa ya, penulis ini?” Jika saya mengenalnya, entah itu telah memiliki brand ataupun mengenal karena tulisan-tulisannya, tidak ada masalah. Tetapi jika saya sama sekali tidak mengenalnya dan tidak ada seseorang -yang telah memiliki personal branding- yang merekomendasikannya, tentu saya akan bertanya-tanya, apalagi jika belum ada yang memberi endorsement sebelumnya.
Dengan demikian untuk para pemula yang ingin menjadi seorang penulis yang berhasil dalam waktu singkat, perkenalkan diri Anda melalui tulisan-tulisan yang menggugah di media yang sangat memungkinkan untuk itu, seperti di milis-milis. Ini akan membranding nama Anda. Namun sebelum orang lain tergugah, Anda haruslah tergugah terlebih dulu dengan apa yang akan Anda bicarakan. Seperti halnya kita membuat kue. Kue yang kita buat haruslah enak dimakan oleh kita terlebih dulu sebelum dimakan oleh orang lain. Apalagi jika kue itu akan di jual.
Membuat tulisan yang menggugah, menarik, bisa melarutkan emosi para pembaca sehingga mereka akan menangis, terharu, tertawa, termotivasi dan lain-lain….BERANI??? Ini akan berhasil jika kita sendiri juga larut di dalamnya dengan hati.
*) Eni Kusuma adalah mantan TKW di Hongkong, penulis buku laris “Anda Luar Biasa!!!”, dan kini menjadi motivator. Ia dapat dihubungi di: ek_virgeus@yahoo.co.id.
Telah di baca sebanyak: 254Independen? Ya, Menulis!
March 16, 2009 by admin
Filed under Eni Kusuma
Baru pertama kali (kecuali Edy Zaqeus) saya bertemu dengan para senior Pembelajar. Com di hotel Peninsula, Jakarta Barat, dalam acara gathering ultahnya yang ke-8, 14 Pebruari 2009 yang lalu. Senang, bangga itu jelas. Grogi, keringat, dingin karena AC ( belakangan saya ketahui bukan karena itu, tapi karena dekat dengan para senior). Hehe, wajar…saya kan manusia yang rumit bukan robot yang diprogram untuk tidak merasakan.
Hal yang saya amati adalah kebersamaan para mentor dan para peserta gathering. Mereka semua sebagai pribadi yang independen. Sejajar dari semua kalangan. Ini tentu berbeda dengan pertemuan antara bos dengan anak buah di sebuah perusahaan. Kadang si anak buah menunduk-nunduk dan terlalu sopan, mungkin takut tidak dipromosikan. Benar-benar bukan pribadi yang independen, iya kan? Tetapi siapapun kita jika menulis, kita menjadi pribadi yang independen. Itu sudah saya rasakan sendiri. Inilah yang benar-benar saya cari, yaitu sebuah kebebasan.
Saya tidak sedang menyuruh semua orang untuk menulis, tetapi memang demikian adanya. Paling tidak menulis untuk blog sendiri yang dikunjungi satu atau banyak orang. Niscaya, Anda akan merasakan kebebasan dalam berpikir, yang mungkin ini sebuah kebutuhan manusia juga. Yang jelas, salah satu bekal kita mati nanti, yaitu ilmu yang bermanfaat bakal tersalurkan dengan menulis. Siapapun kita, tanpa harus kita menjadi kyai, da’i, pastur atau pendeta. Dan kita pun bermanfaat untuk banyak orang dengan mengubah orang untuk menjadi lebih baik tanpa harus kita menjadi presiden.
Menulis sama dengan berbicara. Kita harus berbicara hanya yang baik-baik saja. Demikian juga dengan menulis. Maka hasilnya juga akan baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Ini salah satu bekal kita agar disayang oleh Tuhan yang Maha Baik.
Jika menulis sama dengan berbicara, tentu mudah, bukan? Tetapi sebagian orang kesulitan untuk menulis daripada berbicara. Sebagian lagi lebih mudah menulis daripada berbicara. Jika kita merasa kesulitan untuk menulis, sementara kita ingin sekali menulis, tidak ada salahnya untuk meminta tolong kepada orang yang sudah bisa menulis. Seperti halnya seorang anak kecil yang meminta tolong kepada ayahnya untuk mengambil bola di kolong meja. Meminta tolong kepada yang lebih mampu adalah keputusan yang tepat. Kita bisa ikut workshop kepenulisan dengan membayar atau dengan pamer tulisan seperti saya, yang intinya minta dibantu.
Menulis bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan. Ini tentu bisa jika kita tidak ada rasa takut untuk menulis. Biasanya kita takut dikritik, takut dibilang masih mentah, enggak mutu dan lain-lain. Tetapi yang jelas bagi saya, nulis ya nulis wae. Saya juga tidak takut jika artikel saya kali ini dibilang paling tidak menarik, hehehe. Menulis bisa memberi efek melayang, menerawang, menukik yang luar biasa daripada efek obat terlarang yang mematikan. Dengan menulis, bisa-bisa kita lupa segalanya, benar-benar larut dan freedom. Saya kira hanya menulis yang akan memberikan efek menyenangkan yang mencerdaskan. Memiliki suami supertampan dan superkaya juga akan memiliki efek yang sama. Tetapi bukan konteksnya disini.
Menulis untuk menjadi seorang yang independen, setujukah?
* Eni Kusuma adalah mantan TKW di Hongkong, penulis buku laris “Anda Luar Biasa!!!”, dan kini menjadi motivator. Ia dapat dihubungi di: ek_virgeus@yahoo.co.id.
Telah di baca sebanyak: 219Tekun, Pasti Berhasil
March 10, 2009 by admin
Filed under Eni Kusuma
Pernah saya menjawab SMS dari seorang pelajar yang bertanya pada saya, bagaimana caranya supaya menjadi seorang penulis. Kata saya (mengadopsi perkataan Lincoln): “Tanyakan pada diri sendiri, jika kamu sudah mengambil keputusan dan bertekad, maka kamu SUDAH memenangkan separuhnya.” Tak heran, Tung Desem Waringin dalam bukunya “Financial Revolution” mengatakan: “Bayangkanlah seolah-olah kamu SUDAH melakukannya, maka alam bawah sadar akan menyimpan memori itu.”
Apakah untuk menjadi seorang penulis itu harus mempunyai banyak buku-buku? Tidak. Saya sendiri hanya pinjam. Koleksi buku-buku saya juga sedikit. Tetapi saya membaca. Apakah harus memiliki waktu luang yang banyak? Tidak. Saya sendiri menyelesaikan buku pertama di sela-sela waktu pekerjaan saya sebagai pembantu rumah tangga. Apakah harus memiliki tingkat intelektual tertentu? Tidak. Kita semua bisa mempelajari. Bahkan bisa mempelajari apa saja. Apakah harus mempunyai komputer atau laptop sendiri? Tidak. Saya sebelumnya tidak punya komputer. Jadi, kita tidak usah merengek minta dibelikan laptop kepada orang tua kita apalagi merengek kepada Negara ketika kita menjadi anggota DPR.
Saya yang pernah membaca kisah tentang Lincoln, Presiden Amerika Serikat yang paling masyur itu, semasa kanak-kanak adalah sangat miskin. Ia harus tidur di atas tempat tidur dari daun-daun kering. Ia seumur hidupnya hanya masuk sekolah satu tahun lamanya, namun akhirnya ia menjadi pengacara. Ia tidak mempunyai buku-buku, ia hanya meminjam dan telah membaca setiap buku yang ada di lingkungan tempat ia tinggal, yang jauhnya 70 kilometer.
Dalam gubuknya ia menyalakan api yang digunakan untuk membaca sekaligus sebagai penerangan. Jika pagi hari datang, ia pergi menunggang kuda 40 hingga 50 kilometer untuk mendengarkan seorang ahli pidato berbicara. Ia masuk menjadi anggota debating club dan perkumpulan sastra, dan melatih diri berbicara di depan umum dengan menceritakan berita-berita hangat. Padahal ia seorang yang pemalu dan rendah diri.
Dari semangat Lincoln, saya pun percaya bahwa kepandaian bisa diraih, jika saya menginginkannya. Jika saya ingin pandai, saya pasti menjadi pandai. Asal saya bertindak untuk meraihnya. Jika saya mendapatkan gambar Lincoln pasti akan saya gantung di dinding kamar saya. Berhubung saya tidak mendapatkannya, sekarang hanya foto saya yang saya pampang di dekat buku-buku saya. Hal ini untuk mengingatkan saya, ketika saya menghadapi banyak masalah. Saya membayangkan saya dulu yang berhasil menghadapi kesulitan-kesulitan, yang tak kenal menyerah dan maju terus.
Selama enam tahun menjadi pembantu rumah tangga di Hongkong, saya bertekun dan terus tekun. Saya ingat betul masa-masa itu. Saya terus mencuci, saya terus mengepel, dan saya pun terus bersabar mendengar omelan-omelan majikan. Sampai akhirnya saya bertekad untuk menjadi pandai. Saya membaca buku pada malam hari dengan penerangan “senter” di bawah selimut. Karena lampu kamar harus dimatikan. Saya mencuci piring dan menyapu sambil menghafal sesuatu. Hampir sama dengan yang dilakukan oleh Lincoln yang ikut debating club dengan menceritakan berita-berita hangat (nyama-nyamain ah, biar tambah pede, hehe). Saya pun ikut milis café de kossta, milis kepenulisan untuk para TKW di Hongkong dan milis penulis bestseller untuk berdebat dan menceritakan berita-berita hangat.
Saya juga pernah ditanya oleh peserta ketika saya berkesempatan memberikan ceramah lepas di pelatihan Manajemen Perum Pegadaian ; “Apakah menulis itu disebabkan oleh bakat?” Jawab saya: “Jika saya percaya menulis itu disebabkan oleh bakat, pasti saya tidak akan berani menulis. Karena saya tahu, saya tidak pernah menulis sebelumnya selain tugas sekolah. Saya juga tidak pernah menulis di mading sekolah. Saya hanya pernah menulis diary. Saya juga tidak ada garis keturunan seorang penulis, jurnalis dan lain-lain. Untunglah saya tidak percaya bahwa menulis itu memerlukan sebuah bakat. Yang saya percaya menulis adalah sebuah tekad dan keinginan serta ketekunan dan semangat untuk terus belajar. Seperti halnya seseorang yang bertekad untuk menjadi kaya, maka ia akan kaya. Dan seseorang yang bertekad untuk menjadi pandai maka ia akan pandai. Demikian juga seseorang yang bertekad untuk menjadi seorang penulis, maka ia akan menjadi apa yang diinginkannya itu. Asalkan sungguh-sungguh menginginkannya dan sungguh-sungguh berjuang untuk itu.
Saya banyak belajar dari guru-guru saya ternyata memang benar bahwa menulis itu membutuhkan ketekunan yang luar biasa. Tidak hanya mereka yang berprofesi sebagai penjual, guru, pegawai, pembicara dan sebagainya. Dan kebanyakan untuk semua pekerjaan memang membutuhkan ketekunan jika ingin berhasil. Dan semua orang sukses yang bercerita tentang kesuksesannya pun semua karena mereka bertekun. Saya menulis buku pertama saya pun karena saya bertekun dan tidak berputus asa. Saya tekun bekerja, tekun belajar, tekun berpikir dan tekun menulis. Demikian juga jika kita bertekun dalam berinvestasi, maka kita akan mendapat hasilnya.
Seperti seorang pembicara yang bertekun, terus melatih kemampuan bicaranya dengan bertekun mengumpulkan bahan-bahan, menganalisanya dan menulis di potongan-potongan kertas juga bertekun mengedit dan terus menerus tekun menyempurnakannya agar menjadi teks pidato yang benar-benar menarik dan menggugah. Demikian juga dengan seorang penulis. Dia harus tekun mengumpulkan bahan, menganalisa dan berpikir serta terus menulis dan terus menyempurnakannya agar menjadi tulisan-tulisan yang menarik dan menggugah.
Jadi tidak berlebihan jika saya katakan “Tekun, Pasti Berhasil” dalam judul diatas. Teruslah tekun menulis, pasti berhasil.
* Eni Kusuma adalah mantan TKW di Hongkong, penulis buku laris “Anda Luar Biasa!!!”, dan kini menjadi motivator. Ia dapat dihubungi di: ek_virgeus@yahoo.co.id.
Telah di baca sebanyak: 351











